Kamu saat ini sedang membaca Man'nen o ikiru heiwa shugi vu~anpaia, itsunomanika sekai saikyō ni ~ ore ga maō-gun shiten'nō de aratana shiso? Dare to machigatten no?~, chapter 10. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
Dalam rekaman itu, setengah kota lenyap.
Itu akibat bentrokan antara kelompok Pahlawan dan George.
Pertarungan macam apa yang mereka lakukan sampai bisa menghancurkan segitu banyaknya…… mengerikan.
Aku hanya bisa berharap orang-orang di sekitar sempat menyelamatkan diri.
"George, semangat!" ujar Rozanna.
"Hmph, ternyata meski disebut salah satu Jendral surgawi, kalk dibandingkan dengan Alto-sama, kekuatannya hanya sebatas ini saja……"
Eleanor bergumam pelan.
「Eh? Apa?」 tanya Rozanna.
"Ti-t-iti-tidak! Itu hanya bicara sendiri!"
"Oh, begitu."
Rozanna agak dingin terhadap Eleanor.
Kasihan juga, bisalah sedikit lebih lembut padanya.
Sambil memikirkan itu, aku kembali menatap pertarungan George.
George, sesuai sifat werewolf, mengandalkan kecepatan, kekuatan, serta cakar tajam sebagai serangan utama.
Tentu saja tubuhnya sudah diperkuat.
Dua orang, ksatria dan seniman bela diri, berusaha menekannya bersama, namun tetap tidak mampu menjinakkannya.
George memang kuat.
Meskipun berfokus pada jarak dekat, sesekali ia menyelipkan sihir ledakan.
Sejauh ini ia hanya menggunakan jenis ledakan untuk menyerang, jadi mungkin itu saja yang bisa ia lakukan.
Ah, benar, dia juga menyebutkan bisa memakai 【Gate】, jadi kemungkinan punya sedikit kemampuan ruang.
"Minggir, minggir!"
Nina menerobos di antara ksatria dan seniman bela diri, lalu menebaskan pedangnya ke arah George.
George menangkis tebasan itu dengan cakar.
Nina menyeringai.
Sesaat kemudian, sambaran petir luar biasa menghantam George.
Dia meraung, terhuyung mundur.
Nina tidak mengejarnya, melainkan mengangkat pedangnya ke langit.
Seketika, lingkaran sihir muncul di angkasa.
George menatapnya dengan wajah terkejut.
"Rasakan ini! Bacchi-bacchi!"
Ketika Nina menurunkan pedangnya, beberapa kilat jatuh dari lingkaran sihir, menghancurkan sekitarnya.
Satu di antaranya mengenai George.
……Bacchi-bacchi? Apa itu nama jurusnya?
Kenapa kau tidak memberi nama yang lebih serius sedikit, Nina.
Kau memang selalu hidup seenaknya.
"Su-sungguh pedang iblis yang mengerikan!" Eleanor membungkuk maju.
"Mustahil……" Rozanna melotot. "Seorang Pahlawan menggunakan pedang iblis? Dan itu pun pedang iblis legendaris……"
Apa?
Keringat dingin kembali mengucur deras di punggungku.
Dalam rekaman, penyihir dan saint menyibakkan sihir dari belakang.
Ksatria dan seniman bela diri berjaga dekat mereka berdua, seakan melindungi.
"Pedang itu……apa memang sehebat itu?"
"Jarang sekali ada pedang iblis yang mampu melepaskan sihir sebesar itu, Alto-sama" jawab Eleanor dengan serius. "Tentu saja, bagi Alto-sama, pedang tingkat itu sama sekali bukan tandingan."
"'Hebat' bukan sekadar hebat" sambung Rozanna. "Itu adalah pedang iblis legendaris Lightning. Setahuku, pedang selevel itu tak lebih dari lima buah……"
He-heh……
Keringatku semakin deras.
Lima buah itu, sepertinya semuanya tersimpan di gudang hartaku.
Aneh sekali, aku ingat Lightning jelas berada satu tingkat di bawah senjata seperti Habakiri.
"Di mana Pahlawan menemukan pedang semacam itu……" gumam Eleanor.
"Itu jauh lebih kuat daripada kebanyakan pedang suci. Benar-benar misteri, dari mana dia mendapatkannya."
Ti-tidak bisa.
Tidak boleh kukatakan.
Kalo akulah yang memberikannya.
Itu rahasia yang harus kubawa sampai mati.
Karena……!
Nina tiba-tiba bilang kalo dia ingin pergi bertualang!
Jadi aku, dengan enteng, memberinya itu untuk penjagaan diri……
Kupikir dia cukup mahir berpedang, Lightning levelnya pas lah…… hanya itu maksudku!
"Hahaha, iya…… benar-benar, entah di mana dia menemukannya ya?"
Aku berusaha ikut bicara, tapi suaraku bergetar.
Sial, jangan sampai pasukan Raja Iblis tahu!
Lebih baik hubunganku dengan Nina pun ku sembunyikan.
Tidak, aku harus bicara dengannya langsung.
Misalnya, agar dia menghentikan dulu aktivitas Pahlawan sampai aku keluar dari Jendral Raja Surgawi.
Kalau aku sudah tidak ada, terserah dia mau apa.
Ah, Eleanor dan Rozanna harus kubawa pulang kalo begitu.
Aku tidak bisa mereka mereka tetap di pihak pasukan Raja Iblis lalu melawan Nina…… nanti aku bingung harus mendukung siapa.
"George memang bertahan hebat……" ucap Rozanna.
Aku kembali fokus pada rekaman.
George benar-benar melawan lima orang sendirian.
Tapi luka akibat petir membuatnya melambat.
Dia kena tebasan ksatria, hantaman seniman bela diri.
"Tapi sepertinya dia akan kalah" ujarku.
"……Sudah kusuruh mundur" balas Rozanna.
Dalam rekaman, George tersenyum.
"Kalian memang kuat. Bisa memaksa diriku sejauh ini……"
Dia membuka 【Gate】.
Kelompok Pahlawan berteriak, "Apa kau mau kabur!?" "Jangan biarkan dia lolos!"
Nina justru melambaikan tangannya.
Hei, kau satu-satunya yang santai!
"Selanjutnya, Jenderal Raja Surgawi terkuat yang akan datang. Bersiaplah."
George melangkah ke dalam gate.
Sekaligus, rekaman berpindah ke depan kota benteng ini.
Rozanna menutup 【Jendela Penglihatan Jarak Jauh】 lalu menghela panjang.
"Kali ini, dengan pedang iblis Lightning, aku rasa Pahlawan lebih kuat daripada yang sebelumnya" katanya. "Meski anggota lainnya kualitasnya tidak jauh berbeda."
Semua gara-gara Lightning!
Tapi aneh…… kurasa dulu itu bukan senjata sekuat ini.
Mungkin Pahlawan yang sekarang berhasil menggali potensi terdalam pedang itu?
Hmm…… tapi Lightning memang dari dulu bisa memanggil petir.
"Teknik pedangnya pun cukup baik, Alto-sama" ujar Eleanor.
Sebagai gantinya, aku ingat sesuatu yang buruk.
Yang mengajarinya dasar-dasar pedang…… akulah orangnya!
Dia pernah bilang ingin jadi kuat, jadi kupikir kuberikan pelajaran dasar hasil pengalaman hidup panjangku.
Ya, hanya dasar…… karena aku memang hanya bisa dasar.
Aku hanya mencicipi semua hal, seperti vampir yang menggigit semua…… ahaha…… sama sekali tidak lucu.
Kenapa aku sampai melatih seorang Pahlawan, lalu memberinya pedang pula……?
Padahal aku Jendral Raja Surgawi pasukan Raja Iblis!
Meskipun ya, sebenarnya aku tidak memilih jadi Jendral Raja Surgawi……
Tapi tetap saja, kalo ketahuan, aku pasti dianggap pengkhianat.
Bisa-bisa aku dihukum mati.
Surat panggilan rapat saja pernah mengancam akan mengeksekusi kalau aku tidak hadir……
"Alto-sama?" "Alto?”
Karena aku diam, Eleanor dan Rozanna bersuara bersamaan.
Eleanor tersentak, sementara Rozanna terlihat agak jengkel.
"Ya, memang Pahlawan terlihat kuat" kataku sambil menahan deras keringat. "Tapi bagiku, tentu itu bukan masalah……"
Karena kami akan bicara baik-baik!
Karena kami teman!
"Oooh!"
"Seperti yang diharapkan dari Alto-sama!"
Keduanya menatapku dengan penuh hormat.
Aduh…… rasanya seperti menipu mereka.
Ya, memang menipu.
"Kalo begitu, apa kau mau langsung kukirim dengan 【Gate】? Aku tahu kota itu. Seru sekali kalo aku bisa melihat langsung pertarungan Alto melawan Pahlawan!" Rozanna berdiri penuh semangat.
Ah, Rozanna sungguh-sungguh percaya aku vampir terkuat.
Sayang sekali!
Kenyataannya, aku malah sedikit di bawah rata-rata!
Selain itu, 【Gate】 hanya bisa menuju tempat yang pernah dikunjungi.
"Eh, tidak…… hari ini sebaiknya istirahat saja."
"Oh, begitu ya!" Eleanor bertepuk tangan. "Memberi Pahlawan waktu beristirahat, lalu mengalahkan mereka saat kondisi prima! Strategi yang luar biasa!"
"Y-ya, benar."
Aku malas membantah, jadi hanya mengangguk.
Lagipula, kalo Rozanna ikut, aku tidak bisa berbicara dengan Nina.
Registrasi 【Jendela Penglihatan Jarak Jauh】 pun tak kuberikan.
"Begitu…… kalo begitu aku juga tidur lebih awal" kata Rozanna, lalu menuju ke ranjangku.
"Hei, tunggu dulu."
Aku meraih pundaknya dari belakang.
Rozanna menoleh dengan wajah polos.
"Tidak, kau kembali ke kamarmu sendiri."
Aku berkata begitu, wajah Rozanna terlihat sangat terkejut.
"Jangan coba-coba. Kembalilah. Kau juga, Eleanor."
Aku melirik Eleanor, dia masih duduk di sofa, sama-sama kaget.
Kenapa kalian berdua berkeras ingin bermalam di kamarku sih.
Serius, pulanglah.
Biarkan aku sendiri.
Aku harus menimbang baik-baik apa yang akan kubicarakan dengan Nina.
Kalo nanti waktuku terbatas, aku butuh kalimat yang sudah kupersiapkan.
Aku memang penganut damai, tapi di mata teman-teman Nina, aku hanyalah iblis biasa.


0 Komentar