> HARI MASUK SEKOLAH

HARI MASUK SEKOLAH


 


 




"Kenapa sih harus dilakukan di hari yang nanggung begini? Hari masuk sekolah kita."


Dari kursi depan, Akito melontarkan pertanyaan dengan nada malas. Aku pun setuju dengan pendapat itu.


Liburan musim panas masih di awal. Mengumpulkan kita di saat seperti ini terasa seperti sebuah bentuk penggangguan tanpa tujuan lain yang jelas...


"Kalau kita ikut kegiatan klub sih oke oke aja, tiap hari juga datang ke sekolah, jadi rasanya tidak ada yang beda."


"Benarkah? Bagiku, cuma bisa datang pakai baju olahraga atau harus pakai seragam aja sudah beda."


Hayato dan Makoto ikut bergabung secara alami dalam percakapanku dengan Akito.


"Bagi kami, anak-anak yang tidak ikut klub, ini sangat menyiksa..."


Sementara itu, Akito tampak tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.


Begitulah, kami pun akhirnya duduk melingkar di sekitar meja dengan anggota yang jarang berkumpul. 


Meski beberapa orang di sekitar tampak merasa aneh, sepertinya mereka tidak terlalu mempermasalahkan.


Yah, mau bagaimana lagi ini brbeda dari saat berinteraksi dengan idol seperti  Aisha, jadi meskipun kami terlihat mencolok, setidaknya kami tidak menimbulkan permusuhan.


"Lalu, bagaimana dengan paruh pertama liburan musim panas? Apa kau sudah berkencan dengan Takanishi?"


"Benar, kami ingin mendengar cerita soal itu."


Kalian...


Sepertinya Akito dan Hayato punya kesamaan dalam hal ini dan mereka terlihat kompak. 


Aku berusaha meminta bantuan pada Makoto, tapi di wajahnya terlihat jelas kalo dia juga penasaran.


Aku benar-benar terkepung...


"Tidak ada yang berubah, kok."


"Jadi, menurutmu pergi ke pantai dengan  Takanishi bersaudara itu bukan hal besar?"


"Kau ini..."



Aku menatap Hayato yang tersenyum licik, tapi dia hanya mengabaikannya seolah tidak terjadi apa-apa. 


Mengingat hari itu dia sedikit membantuku, sulit untuk menyalahkannya, jadi aku tidak bisa berkata lebih banyak lagi.


"Kau hebat juga, Kouki."


"Ayo, ungkapkan semuanya tanpa sisa! Selain itu, ke mana lagi kau pergi dan apa yang kau lakukan!?"


Akito dan Hayato semakin bersemangat dengan lelucon mereka, dan suara mereka mulai semakin keras. Untuk menenangkan suasana, aku hanya bisa mengatakan ini:


"Setidaknya tolong jangan di kelas..."


Waktu istirahat siang.


Aku dikelilingi oleh 3 orang di balkon yang dibuka sebagai tempat makan siang.


Ngomong-ngomong, tempat ini secara tidak tertulis sudah menjadi area khusus bagi siswa-siswa yang berada di peringkat atas dalam hierarki sosial sekolah.


Tentu saja, aku belum pernah menginjakkan kaki di sini sebelumnya, jadi hanya dengan masuk saja aku sudah merasa canggung.


"Ngomong-ngomong, kalian belum pacaran kan?"


"Memangnya ada tanda-tanda kita pacaran selama ini?"


Aku menoleh ke arah Makoto yang baru saja bicara, dan memang benar, aku baru mulai berbicara dengan Aisha akhir-akhir ini. 


Sebelum itu, hubunganku dengannya hanya sebatas saling bertatapan dan dia menatapku dengan sinis.


"Tidak, dari sudut pandang kami, kami sangat terkejut." 

 

Saat aku berpikir, kenapa sampai Hayato pun berkata begitu, Akito menambah tekanan.


"Iya kan? Mataku ternyata tidak salah lihat."


"Rasanya matamu sering salah deh, Akito..."


Meski begitu, aku pun sadar kalau hubungan kami sudah jauh berbeda dari sekadar saling tatap dengan sinis. 


Akhirnya, aku menyerah dan mulai menceritakan hal-hal yang bisa kuceritakan sejauh ini.


Tapi, kalo kujelaskan kepada teman-temanku tentang interaksiku dengan Aisha akhir-akhir ini, bisa dibilang kami memang pasangan yang cukup dekat─


"Entah kenapa, semakin lama rasanya lebih seperti keluarga."


"Itu memang benar..."


"Dia punya aura istri yang sah."


"Dan sudah disetujui oleh keluarga."


Ini dia. Meskipun rasanya ada sesuatu yang berbeda, tapi bagaimanapun juga, hal ini membuatku merasa aneh dan kehilangan arah.


Tapi, jika ini adalah jenis hubungan yang diinginkan Aisha, jujur saja, aku tidak ingin mengutak-atiknya.


"Yang perlu diperjelas itu satu hal.  Kouki, apa kau suka Takanishi atau tidak."


"Itu..."


Bagaimana ya...


Tentu saja Aisha itu cantik. Siapa pun yang kau tanya pasti akan bilang begitu.


Perasaanku terhadap Aisha saat ini jelas bukan perasaan negatif. Tidak sama sekali. Tapi entah kenapa, ini terasa begitu alami, seperti perasaan yang wajar dalam keluarga.


Pada akhirnya, aku juga jadi tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.


Yang kutahu hanyalah aku tidak ingin kembali ke hubungan seperti saat SMP. Hanya itu.


Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir, Hayato malah salah paham.


"Atau mungkin kau lebih suka adiknya?"


"Benar juga..."


"Berhenti, berhenti."


Aku tidak punya waktu untuk memikirkan tentang Manami juga!


"Sudahlah, mending kita makan. Nanti waktunya habis."


"Kau selalu menghindar begitu..."


"Ya sudahlah, kita anggap saja ini sebagai kesenangan setelah liburan."


"Atau malah kita bicarakan beberapa kali selama liburan."


Akhirnya, karena waktu yang sudah semakin mepet, kami berhasil menghindari pembicaraan itu untuk sementara. 


Tapi kami juga sepakat untuk berkumpul beberapa kali selama liburan musim panas.


Meskipun begitu, karena mereka adalah teman-teman yang seru, aku juga agak menantikan pertemuan ini, selama bukan untuk pertanyaan yang terlalu menyudutkan.



Posting Komentar

نموذج الاتصال