"Ah, sudah cukup! Apa yang sedang aku katakan? Itu hanya reaksi berlebihan!"
Keesokan harinya, aku menggaruk kepalaku dengan frustasi di kamarku.
Aku hanya melampiaskan rasa benciku pada diri sendiri karena tidak melakukan apa yang aku katakan tentang Lati.
Apa aku anak kecil?
"...Ini sudah siang."
Hari ini hari Minggu. Hari libur.
"Lati tidak datang..."
Tapi, Lati belum juga datang.
Dia selalu datang segera setelah dia mengatakan kalo dia akan datang, dan kemarin dia tiba pagi-pagi sekali.
(Itu artinya, dia kecewa... Itu yang terjadi.)
Yah, itu masuk akal. Sebenarnya, kalo aku jadi dia, aku juga akan meninggalkan seseorang yang tidak punya keberanian maupun bakat, dan yang merespons kebaikan dengan marah.
Ini adalah akhir yang cukup wajar...
Semua ini dimulai dengan kesalahpahaman besar kalk aku adalah orang hebat...
Kesalahpahaman itu akhirnya terungkap. Itu saja.
Jadi jangan terlalu terpuruk, Makoto Ito. Kau tidak dalam posisi untuk melakukan itu sekarang.
Krisis tinggal kelas masih menjadi kenyataan!
Berikan seluruh perhatianmu pada belajar!
Meski begitu, meskipun aku mencoba berpura-pura berkonsentrasi pada belajar, pikiranku terus kembali ke Lati dan aku sama sekali tidak bisa maju.
"...Ah, sialan! Tentu saja itu sulit, tapi menikmati waktu bersama Lati adalah yang terbaik! Sekarang aku sangat menyesal karena telah menyuruhnya untuk tidak datang! Betapa bodohnya aku, benar-benar bodoh!"
Saat aku berteriak sendirian, aku mendengar suara gagang pintu berputar.
(Hah? Ibuku sedang di luar, aku seharusnya sendirian di rumah...)
Apa mungkin ada penyusup?
Tapi kemudian...
"Ah, maaf aku terlambat... Makoto..."
Yang kulihat adalah Lati yang terlihat sangat kelelahan, berjalan masuk ke kamarku.
"Lati!? Ada apa!? Kau pucat sekali!"
Aku segera menghampiri Lati. Biasanya dia begitu energik, tapi hari ini wajahnya benar-benar pucat.
"P-pokoknya, ayo ke dokter..."
Lati menghentikanku dengan menggenggam lenganku saat aku mencoba menelepon taksi.
"...Tidak, ini hal yang biasa bagiku."
"Hal yang biasa? Apa kau punya penyakit kronis atau semacamnya?"
Aku terkejut... Kupikir dia orang yang sepenuhnya sehat...
Tapi kemudian...
"Ini haidku..."
"Maaf?"
Bagi seseorang seperti ku, yang hampir tidak pernah punya teman perempuan, jawaban ini benar-benar tidak terduga.
"Apa menstruasi bisa menyebabkan rasa tidak nyaman seperti itu?"
"...Aku mengalami menstruasi yang sangat berat... Aduh, aduh!"
Lati mulai meringis sambil memegangi perutnya.
"Lati, apa kau baik-baik saja!? Apa kau baik-baik saja?!"
"Aku baik-baik saja... Meski rasanya seperti CR7 sedang latihan tendangan bebas di dalam perutku, aku baik-baik saja..."
"Itu terdengar sangat buruk! Pokoknya, berbaring lah dulu! Kau bisa menggunakan tempat tidur!"
Aku menggendong Lati dan membaringkannya di tempat tidurku, lalu menyelimutinya dengan selimut. Setelah itu, aku berlari ke apotek terdekat dan membeli apa yang kutemukan di internet sebagai cara yang berguna untuk meredakan gejala menstruasi.
(Tampaknya ada perbedaan pada setiap orang, tapi yang paling penting adalah sesuatu yang membantu menghangatkan tubuh dan zat besi...)
Aku menempelkan plester penghangat di perut dan punggung Lati di atas pakaiannya.
"Maaf... Aku tidak bisa membantumu belajar..."
"Jangan khawatir soal itu."
Lalu, aku memasukkan sedotan ke dalam jus kaya zat besi dan menyodorkannya kepada Lati.
"Ini."
"...Terima kasih."
Lati, yang masih terbaring, mengambil sedotan dan mulai meminum jus zat besi itu.
"Enak..."
Meskipun dia masih terlihat agak tidak nyaman, warna wajahnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Aku merasa lega... Apa ini sudah benar?
"Wow, ini benar-benar mengejutkan..."
Bagi seseorang sepertiku, yang tidak punya saudara perempuan dan tidak pernah berpengalaman dengan perempuan, semua ini benar-benar hal baru dan membuatku sangat gugup.
Aku lalu menggunakan Hp-ku untuk mencari informasi.
Sepertinya apa yang dialami Lati ini disebut 'Sindrom Dismenore Berat.'
"Gejala utamanya adalah nyeri hebat di perut bagian bawah dan sakit pinggang. Selain itu, bisa terjadi perut kembung, mual, sakit kepala, hilang nafsu makan, diare, mudah marah, dan depresi..."
"Apa ini terjadi setiap bulan? Pasti benar-benar berat untuk orang yang mengalami menstruasi yang sangat berat..."
Lati, yang masih berbaring di tempat tidur, berkata.
"... Kadang-kadang bisa disebabkan oleh penyakit rahim..."
"Serius!?"
Bagi seseorang seperti Lati, yang ingin punya banyak anak, ini sangat serius.
"...Aku sudah menjalani pemeriksaan... Sepertinya tidak ditemukan adanya penyakit... Malah, mereka bilang aku dalam kondisi kesehatan yang sangat baik."
"Syukurlah, itu bagus."
Aku menghela napas lega.
Tapi...
"...Aku khawatir. ...Setiap kali aku mengalami menstruasi yang berat seperti ini, aku takut memikirkan apakah tubuhku tidak bisa punya anak... Aku takut memikirkan hal itu..."
Seorang gadis yang selalu positif dan ceria, sekarang tampak sangat muram saat mengatakan hal itu.
"Lati..."
Aku...melihat Lati seperti ini…
"Apa ada yang bisa aku lakukan untukmu lagi?"
"Aku ingin kau mengelus perutku..."
"Ah, tentu."
Aku duduk di samping tempat tidur tempat Lati berbaring dan mulai mengelus perutnya di atas selimut.
Ketika aku memikirkannya kembali, sekarang aku sedang menyentuh tubuh Lati, meskipun melalui selimut...
Tapi sekarang itu tidak masalah.
Aku hanya ingin Lati merasa sedikit lebih baik. Itu saja.
"...Hangat."
Lati tersenyum dengan ekspresi lembut dan manis, dia terlihat memiliki kehangatan yang berbeda dari biasanya.
Setelah aku mengelus perutnya selama sekitar 10 menit, Lati mulai bernapas dengan tenang, seolah-olah dia sedang tidur.
"...Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Setelah mengelus perut Lati selama sekitar satu jam, aku merapikan selimut yang menutupi tubuhnya.
Aku lalu menatapnya lagi, dia masih terbaring dan terlihat agak tidak nyaman.
Gambaran itu membuatku menyadari sesuatu yang jelas.
(Tidak peduli seberapa energik dan cerianya dia, Lati juga baru berusia 16 tahun, sama seperti ku.)
Terkadang, seseorang bisa merasa cemas memikirkan masa depan. Terutama ketika tubuh sedang lemah.
Dan para gadis...memiliki masalah kesehatan ini sebagai bagian dari kodrat mereka.
"...Yah, karena itu. Di saat-saat seperti ini, aku harus menjadi pria yang lebih perhatiaan, kan?"
Meskipun untuk saat ini aku tinggalkan dulu gagasan membentuk keluarga besar dengan Lati... Kalo suatu hari nanti aku akan mencintai seseorang dan berjalan bersama orang itu di masa depan.
"Ah, aku tidak mau melakukannya."
Aku mengatakannya sambil membawa buku pelajaran dan buku referensi dari meja ke meja bundar dan membukanya.
"Aku masih merasakan penolakan yang kuat."
Aku belajar hal ini dalam seminggu terakhir. Meskipun sudah melakukannya beberapa kali, rasanya menyakitkan melihat bagian-bagian yang tidak ku mengerti.
Meskipun aku tahu itu perlu, aku ingin menyerah pada 'hal-hal yang tidak bisa aku lakukan'.
Aku mulai membaca buku pelajaran.
"Sial, aku tidak mengerti. Kalo begitu, aku harus mulai dari awal lagi."
Aku memeriksa buku pelajaran dari awal, membacanya kembali sejak sebelum rentang ujian.
Kemudian...
"Eh, sepertinya sekarang aku mengerti ini."
Bagian-bagian di awal buku, yang tidak aku mengerti saat membacanya dulu, sekarang terasa jelas.
Meskipun bukan tempat yang sama dengan yang sudah kubaca hampir 10 kali, memang benar bahwa penerapan bagian-bagian awal ini diperlukan untuk rentang ujian saat ini.
Tanpa sengaja, pemahamanku tampaknya telah mendalam secara berkaitan.
Dan bukan hanya di bagian itu, tapi saat aku meninjau seluruh buku pelajaran, beberapa bagian mulai muncul yang tampaknya dapat kupahami.
...Yah, tetap saja, masih ada banyak bagian yang sama sekali tidak aku mengerti.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Setidaknya, sampai aku melakukan 50 kali seperti yang dilakukan Lati...sampai aku mencapai itu."
Aku bisa memikirkan alasan setelah itu.
Agar tidak membangunkan Lati, aku memaksakan diri untuk terus membaca buku pelajaran dengan suara pelan, membisikkan untuk diriku sendiri, memaksa pikiranku untuk terus bekerja dan memeriksa buku itu berulang kali.
Hangat...
Apa yang dirasakan Latina Olavomiwa saat tidur adalah perasaan itu.
Meskipun sakit kepala dan mualnya tetap sama, dan nyeri di perutnya terasa seperti dipukul, tetap saja, kehangatan yang lembut dan hangat menyelimuti dirinya.
Dalam keadaan mengantuknya, Latina melihat... punggung ayahnya.
Latina terbaring, melihat punggung besar ayahnya yang duduk di depan api unggun di sebuah rumah atap dari alang-alang.
"Apa kau sudah bangun, Latina?"
Ayahnya, dengan tubuh berotot dan kuat yang mencerminkan kehidupannya yang selaras dengan alam, berbicara dengan suara dalam yang bergema di paru-paru.
Wajahnya tampak seperti binatang liar yang bijaksana dan garang, tapi tatapannya ketika melihatnya adalah penuh kasih.
"Apa kau masih bekerja?"
Ayahnya sedang mencampur ramuan herbal untuk membuat obat.
"Hari ini ibu tidak merasa baik. Di saat-saat seperti ini, giliran para pria yang mengurus semuanya."
Hari ini, ayahnya keluar berburu sejak pagi, ikut dalam pertemuan suku, memasak menggantikan ibu, dan mengurus keluarganya.
Di suku Latina, umumnya perempuan bekerja lebih banyak, kecuali dalam acara-acara penting seperti berburu atau konflik.
Ayahnya bukan pengecualian dan biasanya menghabiskan waktu bernyanyi, menari, dan melantunkan puisi dalam bahasa suku.
Tapi, di saat-saat seperti hari ini, ketika ibu sakit, dia benar-benar menunjukkan diri sebagai sosok yang dapat diandalkan.
Latina mengagumi ayahnya.
"Di masa depan, aku ingin menikah dengan seseorang seperti papa."
Ketika Latina mengucapkan itu, ayahnya sedikit tersenyum, terlihat puas.
"Jadi...Pilihlah seorang pria yang bisa berjuang untuk seseorang."
Sambil terus menyiapkan obat, ayahnya berkata begitu.
"Jika di masa depan kau berada dalam situasi sulit, jika pria yang bersamamu adalah tipe seperti itu... akan tiba saatnya kau memahami betapa menawannya itu."
Kenangan bersama ayah yang sudah meninggal. Sayangnya, saat ini dia berada di Jepang dan berusia 16 tahun. Meskipun dia tidak bisa bertemu ayahnya lagi, mengingat momen-momen itu membuatnya merasakan kehangatan di hatinya.
(...Nostalgia.)
Latina terbangun di tempat tidur. Hangat dari pemanas yang dipasang Makoto dan pijatan lembut di perutnya membuatnya merasa hangat.
Dia membuka matanya sedikit. Di sana ada Makoto, duduk di sampingnya, berjuang dengan buku pelajaran dan buku panduan.
"Ah, aku lupa lagi... Aku harus membaca penjelasannya lagi... Ugh, seandainya aku punya ingatan seperti Sakuraba..."
Meskipun dia mengeluh, Makoto terus belajar.
Latina merasa bahwa punggung Makoto sedikit mirip dengan punggung ayahnya.
(...Tidak apa-apa. Ini adalah punggung yang dapat diandalkan dan terhormat, seperti seorang pria yang patut dicontoh.)
Agar tidak mengganggu Makoto, dia membisikkan kata-kata itu dengan pelan dan terus mengamati punggungnya.


