> CHAPTER 3

CHAPTER 3

 Kamu saat ini sedang membaca   Tobioriyō to shiteiru joshikōsei o tasuketara dō naru no ka? volume 2, chapter 3. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw


KOJIMA DAN YUI



(...Eh?)


Kojima Shimizu menyadari hal itu saat dia pulang sekolah.


Dia baru saja mengantar Yusuke Yuuki, yang berangkat kerja seperti biasa, lalu dia kembali sendirian ke apartemen sedikit lebih awal dari Yusuke.


Saat itulah dia berpapasan langsung dengan Yui, yang menghabiskan waktu bersamanya dua hari lalu.


"Halo, Yui-chan."


"............."


Yui mengangguk pelan sebagai balasan.


(Sungguh gadis yang cantik...)


Dia terlihat seperti seorang putri yang keluar langsung dari buku cerita bergambar.


Tapi, bukan itu yang menarik perhatian Kojima.


Sapaan... dan apa yang dia bawa di tangannya.


Di tangannya, Yui memegang tas dari konbini lingkungan itu.


Tidak seperti Yusuke, yang jadwalnya sering berubah-ubah, Kojima sudah pernah melihatnya pulang ke rumah di jam yang sama pada kesempatan lain, dan di semua kesempatan itu, Yui membawa tas yang sama.


Kadang-kadang, dia melihat seorang wanita yang lebih tua yang tampaknya adalah pengurus rumah tangga keluar masuk. 


Tapi, kalo dia menilai dari bagaimana dia melihatnya hari yang lalu, sepertinya hampir tidak ada anggota keluarganya yang pulang.


(Ini sedikit...menyedihkan, ya?)


Tentu, mungkin ada orang yang tidak peduli. Mungkin Yui adalah salah satunya. Tapi setidaknya untuk Kojima, situasi itu terasa sepi.


───────Betul...kenapa tidak aku ajak dia ke rumah?


Mereka sudah menghabiskan waktu bersama hanya dua hari yang lalu.


(Tapi apa ini terlalu ikut campur?)


Kojima tidak bisa tidak berpikir begitu. 


Tapi, itu adalah perasaan yang dia rasakan sejak kecil, meskipun ibunya selalu ada, kalo ayahnya terus-menerus bepergian untuk bekerja, rumah terasa kosong. Sedih. Sepi.


Dia membayangkan kalo, secara umum, itu adalah hal yang biasa terjadi pada anak-anak.


Dan kalo menghabiskan waktu bersamanya bisa sedikit mengurangi kesepian itu, meskipun hanya sedikit...


"...Kalo kau tidak ada urusan, apa aku boleh ikut denganmu?"


Yui tiba-tiba berbicara, melihat Kojima tenggelam dalam pikirannya.


"Ah, itu...tapi..."


"..........?"


Yui memiringkan kepalanya sedikit, bingung.


"Begini, soalnya..."


Di kepala Kojima, kata-kata 'apa dia akan terganggu?' berputar tanpa henti.


Dia merasa menyedihkan karna tidak bisa mengatakannya dengan pasti. 


Kalo itu Yusuke, dia pasti akan mengatakannya tanpa ragu-ragu.


Dan tepat saat dia mengingatnya, kata-kata Yusuke kembali terngiang di benaknya. 


《Terkadang, kalo kau memberanikan diri untuk berbicara dengan seseorang, itu bisa membuat orang lain sangat bahagia.》 


(...Dia benar.)


Hal yang sama terjadi saat mereka bertemu Yoshida. Terlalu memikirkan apa akan mengganggu atau tidak...tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. 


Dia sendiri diselamatkan berkat Yusuke berani mendekat.


Dan itu membuatnya sangat bahagia. Jadi, meskipun terlihat ikut campur, kalo dengan itu dia bisa membuat seseorang bahagia...


"Yui-chan."


Dia menatap mata Yui, dan Yui membalas tatapannya, seolah bertanya 'Apa?'


"Apa kau mau datang ke rumahku untuk mengobrol sebentar?"


"...Kenapa?"


"Ah, itu..."


Dia tidak menyangka akan ditanya alasannya.


(Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa mengatakan 'karena aku pikir kau kesepian', kan...?)


Tapi ini bukan soal membenarkannya dengan situasi Yui, kan? 


Di saat seperti ini, yang terbaik adalah jujur dengan apa yang aku inginkan.


"Soalnya... aku ingin mengobrol lebih banyak denganmu. Apa itu tidak boleh?"


Yui terus menatap lekat-lekat wajah Kojima.


Gadis ini biasa menatap langsung ke mata Kojima saat dia berbicara, dan melihat mata biru indahnya tertuju padanya, Kojima merasa seolah-olah dia membaca jiwanya.


"...Boleh. Ayo."


"Be-benarkah?"


Kojima menghela napas lega.


"Tunggu sebentar..."


Yui mengeluarkan Hp-nya dan, dengan jari-jarinya yang bahkan lebih kecil dari orang dewasa, mulai mengoperasikan layar.


"...Kojima."


Yui menunjukkan layar Hp-nya.


"Eh? Ah, ya...ada apa, Yui-chan?"


Kojima merasakan sedikit kegembiraan saat menyadari kalo Yui mengingat namanya, meskipun dia baru mengatakannya sekali dua hari yang lalu.


"Hiidou-san bilang, 'tolong jaga dia'."


Di layar muncul pesan yang sangat formal, seolah-olah itu adalah surat bisnis. 


Seperti yang dijelaskan Yui, isinya pada dasarnya mengatakan, 『Aku mohon kau urus Yui-sama, maaf atas ketidaknyamanan ini』.


Jelas, orang itu persis seperti yang dibayangkan Kojima.


"Dari pihakku juga, senang bertemu denganmu, Yui-chan. Aku akan menjagamu."


"...Ya."


Setelah mengatakan itu, Kojima mengeluarkan kunci kamarnya, membukanya, dan meletakkan barang-barangnya di dalamnya.


Lalu, dengan kunci cadangan, dia membuka pintu apartemen Yusuke.


"Selamat datang, Yui-chan."


Yui mengangguk pelan dan masuk ke dalam kamar Yusuke.



(...Aku mengundangnya, tapi... aku harusnya melakukan apa sekarang?)


Dia berhasil membuat Yui datang ke rumahnya, dan itu bagus, tapi kalo dipikir-pikir, Kojima tidak terlalu pandai memulai percakapan atas inisiatifnya sendiri.


Sementara itu, Yui duduk di meja dan diam-diam memakan bento hamburger yang dia beli di konbini.


Ngomong-ngomong, Kojima, yang tidak mempertimbangkan kekurangannya dalam memulai percakapan, tahu kalo dia tidak bisa berharap seseorang seperti Yui mengambil inisiatif.


(Aku harus...mengatakan sesuatu...sesuatu...)


"I-itu... Yui-chan."


"Apa?"


"Ada puding di kulkas yang tersisa...apa kau mau memakannya sebagai makanan penutup?"


"...Aku tidak suka yang manis-manis."


"Eh? Ah...aku mengerti... Ti-tidak apa-apa."


Itu sama sekali tidak dia duga. Kojima, seperti banyak orang, berasumsi kalo semua gadis, terutama yang lebih muda, menyukai makanan penutup manis.


"Maksudku... kau tidak suka yang manis?"


"...Ya."


"........."


"......(mengunyah)"


"........."


"......(mengunyah, mengunyah)"


(Yuuukii-saaan, toloooonggg!)


Kojima, yang bahkan tidak meminta bantuan ketika dia dianiaya di masa lalu, kali ini tidak bisa menahan diri untuk berteriak putus asa dalam hatinya.


Sekarang dia memikirkannya, dia menyadari betapa Yusuke membantunya dengan menjadi orang yang memulai percakapan sehari-hari.


Bahkan Yoshida, yang akhir-akhir ini dia ajak bicara di kelas, adalah orang yang mengambil inisiatif.


Kojima mengerti betapa bergantungnya dia pada mereka.


Dan begitu saja, tanpa obrolan yang mengalir sama sekali, Yui selesai makan dan mulai bermain di ponselnya.


(Aku harus...mengatakan... sesuatu...apa pun...)


Selama sekitar dua jam, Kojima melakukan pekerjaan rumah sambil mencoba mencari topik untuk memulai percakapan, mengamati Yui tanpa hasil apa pun. Hanya waktu yang berlalu.


Akhirnya, Yui mengangkat pandangan dari ponselnya.


"...Aku pergi sekarang."


Setelah mengatakan itu, dia berdiri.


"Ah...ya."


Kojima hampir mengatakan 'Bisakah kita mengobrol sedikit lagi...?', tapi dia menelan kata-kata itu.


Mengobrol sedikit lagi? Padahal mereka bahkan tidak mengobrol sedikit pun selama waktu itu.


Kojima menemani Yui sampai ke pintu masuk.


"Yui-chan...um..."


"...Maaf."


"Eh?"


"...Aku tidak pandai bicara."


Yui memakai sepatunya dan mengetuk-ngetukkan ujungnya ke lantai saat dia berbicara.


"Itu tidak..."


".....Maaf karna tidak bisa bicara dengan kau secara menyenangkan."


Setelah mengatakan itu, Yui keluar dari apartemen Yusuke.



"Tapi kalo gajiku juga dinaikkan pada saat yang sama...sungguh kejutan."


Yusuke menggumamkan itu pada dirinya sendiri saat berjalan di jalanan malam.


Saat ini, Yusuke punya dua pekerjaan. Satu di perusahaan pindahan. Satunya lagi pekerjaan perakitan di pabrik dekat sekolah.


Keduanya membutuhkan cukup banyak tenaga fisik, tapi dia memilihnya justru karna itu. 


Ketika dia memutuskan untuk bekerja, dia berpikir, "Kalo sisa waktunya aku akan gunakan untuk belajar, maka setidaknya pekerjaan itu membuatku tetap aktif." Berkat itu, lengannya bahkan lebih kuat daripada saat dia berolahraga di SMP.


Dan begitu, setelah berkeringat setiap hari, hari ini dia diberitahu kenaikan gaji di kedua pekerjaan itu. Katanya, itu karna sikapnya yang berdedikasi dan pekerja keras.


(Kalo aku menceritakan ini pada Kojima, pasti dia akan sangat senang.)


Dia selalu senang untuk Yusuke seolah-olah itu adalah pencapaiannya sendiri...atau lebih dari itu, Kojima bahkan lebih bahagia dari dia. 


Dulu, ketika gajinya naik, Yusuke hampir tidak bereaksi. Dia hanya melanjutkan rutinitasnya seperti biasa.


Tapi sekarang...sekarang dia bisa benar-benar merasakan kegembiraan akan hal-hal itu.


Sejak Kojima datang, hidupnya terasa jauh lebih lengkap.


"Ya, besok aku harus membelikannya sesuatu yang enak."


Itu adalah cara untuk berterima kasih atas segalanya. 


Meskipun Kojima biasanya merasa tidak nyaman kalo menerima sesuatu yang mahal atau benda yang tidak perlu, mungkin kali ini dia akan menerimanya tanpa masalah.


Hanya dengan memikirkannya, Yusuke mulai berjalan lebih cepat, dia ingin melihat pacarnya secepat mungkin.


Dia tiba di apartemen, menaiki tangga, mengeluarkan kunci, membuka pintu masuk dan langsung menuju kekasihnya.


"Aku pulang! Oh, Kojima, dengarkan ini! Hari ini, kau tahu apa yang terjadi...?"


"Uuuh...aku sangat malu..."


Kekasihnya meringkuk seperti ulat di futon, terpuruk di lantai kamar.


"Eh? Ada apa sekarang?"



"...Aku mengerti."


Yusuke mengangguk sambil makan malam yang disiapkan Kojima, mendengarkan apa yang terjadi sebelum dia pulang.


"Dan pada akhirnya, Yui pergi tanpa kalian sempat punya percakapan yang layak, ya?"


"...Ya."


Kojima mengangguk tanpa tenaga.


Ngomong-ngomong, menurut apa yang dia ceritakan, interaksi paling koheren yang mereka punya adalah ini. 


《Yui-chan, apa kau suka hamburger?》 


《...Biasa saja.》 


《Dan makanan apa yang kau suka?》 


《Umm...karaage.》 


《Aku mengerti. Enak, kan, karaage.》 


《...Ya.》 


《Ah, ehm...apa kau mau teh?》 


《Terima kasih...》


《...........》


《...........》


Hanya itu.


Empat interaksi secara total. Jelas, menyebutnya percakapan itu terlalu memaksakan konsepnya.


"Aku yang mengundangnya...dan pada akhirnya, malah aku yang menerima permintaan maaf..."


Kojima menundukkan pandangannya saat mengatakan itu.


Jarang melihatnya begitu jelas putus asa. Dia pasti benar-benar merasa bersalah pada Yui.


"Ah. Ma-maaf. Bicara hal-hal menyedihkan tepat di tengah makan malam..."


Meskipun begitu, fakta kalo dia khawatir tidak membuat Yusuke tidak nyaman bahkan sekarang, sementara dia terus melakukan pekerjaan rumah tanpa lalai, sangat khas darinya.


"Ah, jangan khawatir."


Justru, Kojima adalah tipe yang selalu terlalu mengkhawatirkan orang lain.


Dan itu adalah sesuatu yang Yusuke syukuri dengan tulus. 


Berkat dia, dia bisa fokus pada belajar dan bekerja setiap hari. 


Meskipun begitu, Yusuke berpikir kalo tidak ada salahnya kalo, sesekali, dia juga lebih memikirkan dirinya sendiri.


"Mungkin...itu adalah ikut campur yang tidak perlu. Yui-chan sepertinya gadis yang bisa mengurus dirinya sendiri. Ah, apa kau mau nasi lagi, Yuuki-san?"


"Ya, tolong. Tapi..."


Sambil memberikan mangkuknya, Yusuke berkomentar. 


"Kau tidak akan mengundangnya kalo kau tidak merasa kalo anak itu tidak baik-baik saja, kan?"


Mendengar itu, tangan Kojima, yang hendak mengambil mangkuk, berhenti mendadak.


"Yah...ya. Bukannya dia menangis atau hal yang jelas begitu, tapi...ini hanya perkiraanku, mungkin ini salah, tapi..."


Kojima menundukkan pandangannya saat berbicara.


"Aku tidak tahu orang seperti apa orang tuanya...tapi setidaknya kalo itu anak kecil, sendirian dan tidak bisa melihat mereka pasti sangat menyedihkan..."


"Kau benar...anak-anak, bagaimanapun juga, biasanya seperti itu."


Ketika seseorang sudah cukup dewasa, dia mulai mengerti kalo dunia tidak hanya terbatas pada keluarga. 


Bahkan ada yang sampai menganggap orang tua mereka sebagai gangguan.


Tapi Yui baru berumur sepuluh tahun. Terlalu dini untuk berpikir seperti itu.


Pasti, Kojima berpikir kalo, kalo dia bisa menjadi sedikit pengganti, itu sudah cukup.


"Ya. Kalo begitu, kenapa tidak kau undang dia lagi?"


"Eh?"


Kojima mengangkat pandangannya, terkejut dengan kata-kata Yusuke.


"Setelah semuanya...kau khawatir padanya, kan? Anak itu."


"Yah...ya. Tapi aku...tidak tahu cara bicara dengan Yui-chan."


"Ah, soal itu."


"Ya?"


"Kau tidak perlu banyak bicara."


Kata-kata Yusuke yang tak terduga membuat Kotori terdiam dengan ekspresi bingung.


"Be-benarkah...?"


"Ya. Aku rasa begitu. Karna───────"


Yusuke meletakkan sumpit di atas meja, dan meraih tangan Kojima yang bebas dengan lembut.


"Aku juga suka menghabiskan waktu denganmu seperti ini, berpegangan tangan dan dalam diam."


"I-itu...terima kasih."


Kotori sedikit tersipu.


"Yang penting adalah bersama. Misalnya, aku bersyukur atas semua yang kau lakukan setiap hari untukku, pekerjaan rumah, kau yang mendengarkanku...tapi bahkan kalo suatu hari kau terluka, dan tidak bisa lagi memasak atau berbicara, selama kau ada di sisiku dan aku bisa memegang tanganmu seperti ini...itu sudah cukup bagiku. Dan apa yang akan kau lakukan, Kojima? Kalo aku tidak bisa lagi bekerja, kalo aku kehilangan suara, apa kau akan berhenti melihatku?"


Kojima menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Meskipun itu kau, Yuuki-san, aku akan marah. Itu tidak penting. Aku tidak peduli apa yang terjadi denganmu, selama kau bersamaku, itu sudah cukup bagiku."


Mendengar kata-kata itu, sudut bibir Yusuke melengkung menjadi senyum lembut.


"Terima kasih, Kojima. Itu maksudku...betapa berharganya memiliki seseorang di sisimu."


Saat berbicara, Yusuke mengelus rambut Kojima dengan lembut.


"Kau tidak perlu memaksakan diri. Kalo kau tetap menjadi dirimu, Kojima, bahkan kalo kau tidak bisa mengobrol dengan baik, kau adalah orang yang menyenangkan untuk ditemani. Setidaknya bagiku, itu lebih dari cukup. Jadi kau bisa percaya diri."


"............."


Kojima menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, membiarkan Yusuke mengelus kepalanya sesuai keinginannya.


Lalu, tiba-tiba───────


Gyu.


Dia menggenggam tangan Yusuke dengan kedua tangannya, dengan kuat.


"....Yuuki-san. Aku sangat senang kau adalah pacarku."


Matanya sedikit berkaca-kaca karna air mata.


Yusuke kembali mengelus kepalanya dengan kelembutan.


"Ya. Aku senang kalo aku juga bisa membantumu."


Dia akhirnya tidak memberitahu kalo gajinya naik, tapi yah...itu sudah tidak penting hari ini.


"Aku akan mengundang Yui-chan lagi."


"Ya. Lakukan. Semangat."


Dan begitu, Yusuke terus mengelus kepala Kojima dalam diam selama beberapa waktu lagi.



Keesokan harinya. 


Ketika sekolah usai, Kojima kembali ke apartemen dengan langkah sedikit tergesa-gesa.


Dan kemudian, dia menunggu di depan pintu masuk...


Dia ada di sana.


Pada jam yang sama dengan hari sebelumnya, Yui muncul. Dia membawa...tas konbini yang sama seperti biasanya.


"Selamat datang, Yui-chan."


Kojima mendekatinya, sedikit membungkuk agar mata mereka sejajar, dan berbicara padanya dengan lembut.


"........(mengangguk)"


Yui tidak menjawab dengan kata-kata, tapi mengangguk pelan sebagai salam.


"Apa kau sendirian lagi hari ini?"


Kojima menunjuk tas konbini sambil bertanya.


"Ya."


Jawab Yui dengan satu kata, singkat dan langsung.


"Aku mengerti..."


Yui lalu memasukkan tangannya ke saku, seolah-olah hendak mengeluarkan kunci apartemennya...


"Kalo begitu, kenapa kau tidak mampir ke kamar Yuuki-san lagi hari ini juga?"


Kata Kojima sambil tersenyum.


".............?"


Yui menatapnya dengan aneh.


"...Aku tidak pandai bicara, kau tahu?"


Tapi Kojima menggelengkan kepalanya dengan tegas.


"Itu tidak penting. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, Yui-chan...apa tidak boleh?"


Kali ini Kojima yang mempertahankan tatapannya, menatap langsung ke mata Yui.


".............."


Yui juga menatapnya, dalam diam. Keduanya saling tatap selama beberapa detik yang terasa jauh lebih lama...


"Baiklah... Aku mengerti."


Yui mengangguk lembut.


Melihat itu, Kojima tersenyum manis padanya.


"Terima kasih."


Setelah mengatakan itu, dia membuka pintu kamar Yusuke.



Dan begitulah, sama seperti hari sebelumnya, Kojima kembali menghabiskan waktu bersama Yui.


".............."


Sama seperti hari sebelumnya, Yui diam-diam memakan bento hamburger-nya, mengunyah dengan tenang.


Kojima, di sisi lain, juga melakukan pekerjaan rumah, sama seperti sebelumnya.


Dan sama seperti kemarin...tidak ada percakapan yang terlalu berarti di antara mereka.


Tapi───────


"〜〜〜♪"


Tidak seperti kemarin, Kojima bersenandung riang saat membersihkan.


Suasana itu menarik perhatian Yui, yang mengangkat pandangannya untuk mengamatinya.


Kojima, menyadari tatapan itu, berbalik ke arahnya.


"Ada apa, Yui-chan?"


"...Eh, tidak, tidak ada."


"Ah, benar. Aku punya puding susu spesial. Apa kau mau mencobanya?"


"...Aku tidak suka yang manis-manis."


"Aku tahu? Tapi ini punya rasa manis yang sangat lembut. Cuma untuk mencoba...apa kau mau?"


"...Kalo begitu...terima kasih."


Kojima tersenyum senang mendengar itu. 


Dia pergi ke kulkas, mengambil puding susu, menyajikannya di gelas kecil, dan meletakkan sendok kecil di sampingnya sebelum menaruhnya di depan Yui.


"Silakan. Kalo kau tidak suka, jangan khawatir untuk menyisakannya."


"Ya. Terima kasih atas makanannya."


Yui mengangguk dan mengambil sendok dengan tenang.


Dia mengambil sedikit puding, membawanya ke mulutnya yang kecil, dan...


"...Ah, ini enak."


Dia bergumam pelan, seolah untuk dirinya sendiri.


Mendengarnya, Kojima tersenyum manis, benar-benar bahagia.


"Aku senang."


"........(mengunyah)"


"........."


"...Hei."


"Ya? Ada apa, Yui-chan?"


Yui, yang sampai saat itu sedang makan makanan penutupnya, mengangkat pandangannya.


"Kenapa kau melihatku terus?"


Kojima sedang duduk tepat di depannya, mengamatinya dengan senyum riang saat dia makan.


"Karna aku senang melihat Yui-chan menikmati sesuatu yang aku siapkan."


"...Apa kau tidak bosan?"


"Aku tidak bosan sama sekali. Aku merasa senang hanya dengan kau ada di sini, Yui-chan. Tapi...apa kau tidak nyaman makan dengan seseorang mengamatimu? Kalo kau mau, aku bisa kembali melakukan pekerjaan rumah."


Ketika Kojima mengatakan itu, Yui menggelengkan kepalanya cepat.


"Bukan itu."


"Ya? Terima kasih."


"...Meskipun kau yang memberiku puding, Kojima, kau aneh."


Komentar Yui, sambil kembali menyuapkan sendok kecil ke mulutnya.



Setelah selesai makan, Yui mulai bersantai di ruang tamu.


Dia duduk di tempat tidur, bermain dengan Hp-nya.


Sementara itu, Kojima, yang sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, memutuskan untuk mengejar tugas sekolahnya.


Dia duduk di meja, dengan stabilo di tangan, dan mulai membaca buku teksnya.


Tidak ada percakapan di antara mereka saat itu juga.


Tapi, suasana jelas berbeda dari hari sebelumnya. Bagaimana mengatakannya...? Keheningan itu tidak terasa canggung.


Kojima berpikir kalo, sebenarnya, kemarin dia mungkin terlalu memaksakan diri untuk mencoba mendekati Yui. 


Baik dia maupun Yui tidak pandai memulai percakapan atas inisiatif sendiri.


Dan kalo memang begitu, maka itu tidak masalah. Tidak ada aturan yang mengatakan kalo dua orang harus berbicara hanya karna mereka bersama.


Yang penting adalah berada di dekat. Merasakan kehadiran satu sama lain.


Meskipun Yui jarang menunjukkan banyak ekspresi, hari ini wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya.


Tidak, dia mungkin benar-benar merasa santai.


Setelah semua───────


".............."


Kepalanya bergoyang sedikit dari satu sisi ke sisi lain, seolah-olah dia mulai tertidur.


Matanya menyipit.


Kojima merasa kalo, untuk pertama kalinya, dia melihat sisi yang lebih sesuai dengan usia Yui, dan dia tidak bisa menahan senyum tipis.


"Kalo kau mengantuk, kau boleh berbaring tanpa masalah."


Kojima mendekati tempat tidur dan duduk di samping Yui. Lalu, dia menepuk-nepuk kakinya dengan lembut.


"...Aku...tidak apa-apa."


Kata Yui, meskipun dia sudah terlihat setengah tertidur.


Kojima lalu dengan lembut menaruh tangannya di kepala gadis itu, dan dengan hati-hati membimbingnya sampai kepalanya bersandar di pangkuannya.


"...Aku...tidak apa-apa, sungguh..."


"Tapi aku ingin melakukannya. Apa tidak boleh?"


"Tidak...salah..."


Setelah mengatakan itu, Yui membiarkan seluruh tubuhnya rileks dan menutup matanya sepenuhnya.


"Semua baik-baik saja. Aku ada di sini bersamamu. Aku akan membangunkanmu kalo sudah malam."


"...Ya."


Kojima mengelus lembut rambut Yui.


Dia merasa bagaimana helai tipis keemasan meluncur di antara jari-jarinya dengan kelembutan yang menenangkan.


"Jelas...berada seperti ini membuat hati terasa hangat."


Dia bergumam dengan tulus, menghela napas yang tenang.


"...Hangat?"


Yui bertanya dari posisinya, bersandar di kaki Kotori.


"Ya, hangat."


"...Suhu tubuhku memang agak tinggi, kurasa."


"Fufu, benar. Tubuh Yui-chan hangat. Tapi aku tidak hanya merujuk itu. Kalo berada di dekat seseorang seperti ini...hati terasa hangat. Apa kau tidak merasakan hal yang sama, Yui-chan?"


"Aku tidak tahu...aku selalu sendirian, dan itu tidak pernah menggangguku."


Kojima melihat wajah Yui. Meskipun ekspresinya tetap netral, bentuk mulutnya yang tegas mengungkapkan keteguhan di dalam.


Seorang anak yang bisa tinggal sendirian di rumah pada usia itu, tanpa terganggu...tidak diragukan lagi, dia kuat.


"Aku mengerti. Kau sangat kuat, kalo begitu. Tidak seperti kau, Yui-chan, aku adalah seorang penakut. Kalo Yuuki-san tidak ada di rumah, aku merasa sendirian. Karna itu, kalo aku merasa begitu, aku senang punya seseorang di dekatku."


"Aku mengerti...tapi aku baik-baik saja sendirian. Selalu begitu..."


Suara Yui saat mengatakan itu tidak terdengar dipaksakan atau palsu. 


Itu bukan jawaban untuk berpura-pura kuat, tapi pernyataan sederhana dan alami, seperti orang yang menyatakan fakta biasa.


Dan itu membuat Kojima melihat dirinya tercermin dalam Yui.


Pada bagian dari dirinya yang, sampai saat ini, juga menerima ketidakadilan dan kesendirian sebagai sesuatu yang "biasa".


(Aku berharap anak ini...setidaknya kalo dia bersamaku, bisa benar-benar beristirahat.)


Pikiran itu muncul dari lubuk hati terdalamnya.


...Dan kemudian.


".........Zzz...zzz..."


Yui mulai bernapas dengan perlahan dan dalam, tertidur.


Kojima, dengan sangat hati-hati, mengambil selimut dari tempat tidur dan menutupi tubuh kecil anak itu.


Dan begitulah, menemani naik turun lembut punggungnya mengikuti irama napasnya, dia terus mengelusnya dengan lembut.



"...Uff. Hari ini juga hari yang melelahkan."


Berdiri di depan pintu apartemennya, Yusuke memutar bahunya sambil bergumam pada dirinya sendiri.


Mungkin dia terlalu memaksakan diri hari ini, termotivasi oleh kenaikan gaji baru-baru ini.


"Fufufu, hari ini aku bawa oleh-oleh."


Di tangannya dia membawa ichigo daifuku dari toko kue Jepang tradisional. Itu adalah favorit Kojima.


Itu adalah caranya merayakan kenaikan gaji dan pada saat yang sama berterima kasih atas segalanya.


"Yah, aku sudah tidak sabar melihat wajah bahagia Kojima."


Yusuke memasukkan kunci ke lubang kunci dan memutarnya.


Clack!, kunci berbunyi saat terbuka.


Kecuali yang kemarin, biasanya saat ini dia akan mendengar langkah kaki Kotori mendekat dari dalam... tapi───────


"Eh? Hari ini juga tidak terdengar."


Apa yang terjadi? Dengan keraguan itu di benaknya, Yusuke membuka pintu.


"Ah...aku mengerti, Yui ada di sini."


Saat membungkuk untuk melepas sepatunya, dia melihat sepasang sepatu kecil yang jelas bukan milik Kojima.


Dia naik ke apartemen dan menuju ruang tamu.


"Kojima, aku pul───────... Ah."


Begitu dia masuk ke ruang tamu dan melihat pemandangan di depannya, dia langsung mengerti segalanya.


Kojima, melihatnya, meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


『...Aku pulang, Kojima.』


Yusuke menjawabnya dengan suara rendah sambil membuat gerakan 'OK' dengan tangannya.


『Selamat datang kembali, Yuuki-san.』 


Juga dengan suara rendah, Kojima membalas salamnya.


Di atas kakinya, tertidur pulas, beristirahatlah gadis kecil berambut emas, bernapas dengan tenang.


『...Ah, Kojima jelas adalah gadis yang kuat...dan sangat menggemaskan.』 


Melihat wajah Yui yang tenang dan percaya diri saat tidur, Yusuke kembali meyakini hal itu.


『Ah...aku harus menyiapkan makan malam untuk Yuuki-san.』


『Jangan khawatir, biarkan saja. Hanya perlu dipanaskan dan disajikan, kan? Hari ini aku yang melakukannya.』 


『Tapi...kau pasti lelah karna kerja.』 


『Tidak apa-apa, sungguh. Justru, terima kasih untukmu atas segalanya, selalu. Ah, dan lihat ini. Ini makanan manis Jepang favoritmu. Aku semangat karna kenaikan gajiku dan aku membeli ini. Aku akan meninggalkannya di kulkas.』 


Mengatakan itu, Yusuke menyimpan makanan manis di kulkas dan menaruh panci berisi tonjiru yang sudah disiapkan Kojima di atas api.


"...Hmm?"


Saat menyajikan makanannya, dia merasakan tatapan Kojima jelas tertuju padanya dari belakang.


(Ada apa?)


Dia sedikit memutar lehernya dan melihat ke arahnya, bertanya dengan isyarat.


Tapi dia menggelengkan kepalanya seolah berkata 'tidak ada apa-apa, jangan khawatir'.


(Apa yang tadi itu? Yah, sudahlah───────)


Sambil sibuk di dapur, dia melirik ke ruang tamu.


Di sana ada Yui, tertidur, dan Kojima mengelus kepalanya dengan lembut dengan ekspresi yang sangat tenang.


Itu adalah pemandangan yang, entah bagaimana, menyampaikan sesuatu yang sakral, tapi juga dekat dan sangat menenangkan. 


Seolah-olah kenangan hangat dan lama menyelimuti mereka.


(...Hahaha. Mereka hampir terlihat seperti ibu dan anak sungguhan.)


Yusuke tidak bisa menahan senyum hanya dengan melihat pemandangan itu. Dia juga merasa hangat di dalam.



Sementara Yusuke makan malamnya dalam diam dan mandi, Yui terus tertidur pulas.


Meskipun hari ini dia kembali sedikit lebih awal dari biasanya, hari sudah cukup larut.


(Mungkin aku harus membangunkannya sekarang...)


Kalo dia tidur terlalu lama di sini, dia mungkin kesulitan tidur begitu kembali ke rumahnya. Itu juga tidak akan baik.


Dengan pikiran itu di benaknya, Yusuke membungkuk untuk melihat wajah Yui.


"...Nn."


Alis Yui sedikit bergetar, dan matanya terbuka sedikit.


"...Ayah?"


"Tidak, tapi terima kasih atas promosinya."


"Fufu."


Kojima hampir tertawa kecil.


Yui perlahan-lahan bangkit dari pangkuan Kojima, masih setengah tertidur, dan melihat wajah Yusuke dengan pandangan yang tidak fokus.


"...Kau bukan ayahku."


"Itu benar."


"...Kenapa kau di sini?"


"Karna ini rumahku, mungkin."


Dia jelas masih cukup mengantuk.


Yui berkedip beberapa kali, lalu mulai melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu, dan akhirnya kembali menatap Kojima.


"Selamat pagi, Yui-chan."


Kata Kojima dengan senyum tenang.


"...Selamat pagi."


"Kau tidur nyenyak, kan?"


"Ya..."


Yui mengambil Hp-nya dan memeriksa layar.


"Sudah waktunya kembali. Terima kasih, Kojima."


Setelah mengatakan itu, dia turun dari tempat tidur dan menuju pintu masuk.


Yusuke dan Kojima menemaninya sampai ke pintu untuk mengantarnya pergi.


Dia memakai sepatunya, mengetuk-ngetukkan ujungnya ke lantai, dan kemudian berbalik untuk melihat keduanya.


"........."


"Ada apa, Yui-chan?"


"Apa kau melupakan sesuatu?"


Tanya Yusuke, melihat ke dalam rumah.


"...Apa aku boleh..."


Tatapan Yui mengarah ke Kojima.


"Apa aku boleh datang lagi?"


"............"


Kojima sempat terpaku sesaat. Sesaat, dia tidak terlihat mengerti apa yang Yui katakan padanya.


Tapi kemudian, setelah mencernanya, dia tersenyum manis.


"Ya. Kau boleh datang kapan saja... Ah, tapi───────"


Kojima melihat ke arah Yusuke.


"Hmm? Ah..."


Tentu, ini adalah apartemen Yusuke. 


Kadang mereka lupa, karna Kojima menghabiskan begitu banyak waktu di sana sehingga terasa seperti miliknya. 


Mengatakan 'kapan saja' tentu saja membutuhkan persetujuan pemilik rumah.


Yui juga memalingkan tatapannya ke arahnya, penuh harap.


"Tentu saja. Kau boleh datang kapan saja."


Ketika Yusuke mengatakan itu, Yui membungkuk sedikit untuk berterima kasih dan pergi dari apartemen.


Clack!, terdengar suara pintu tertutup.


"............"


"............"


Keheningan menguasai ruangan.


Yusuke berpikir kalo, hanya dengan satu orang yang kurang, tempat itu terasa jauh lebih luas.


"...Yah. Kojima, kau belum makan malam, kan? Mumpung ada kesempatan, aku bisa menyajikan untukmu hari ini."


Dia mengatakan itu sambil berbalik untuk melihatnya.


"Nn───────!"


Kojima punya kedua tangan yang saling menggenggam di depan dadanya, merasakan dengan kuat emosi yang meluap-luap.


"...Kojima?"


"Yuuki-san!"


Dia berbalik tiba-tiba dengan energi seperti udara yang bergetar.


"Apa kau dengar apa yang Yui-chan katakan barusan?!"


"E-eh? Ya?"


"Dia bilang apa dia boleh kembali! Dia meminta izin kita untuk datang lagi!"


Wajahnya hampir meledak karna bahagia. Jarang dia terlihat begitu bersemangat.


Dan, entah bagaimana, itu membuat Yusuke juga merasa senang.


"Pesan itu sampai padamu, ya, Kojima?"


"Yuuki-san!"


Kojima menerjang dan memeluk pinggangnya.


"Aku berhasil! Dan semuanya berkat kau memberiku dorongan itu!"


"Yang berusaha adalah kau. Kau melakukannya dengan sangat baik."


Saat ini, Kojima punya keimutan yang berbeda...hampir seperti anak kecil, pikir Yusuke.


Tanpa bisa menahan diri, dia mengelus kepalanya.


Setelah beberapa saat, napas dan detak jantung mereka mulai tenang.


Meskipun mereka sudah tenang, mereka tetap berpelukan sebentar lagi, menikmati kehangatan satu sama lain.


"Kita harus kembali sekarang."


Ketika Yusuke mencoba melepaskan diri darinya saat mengatakan itu───────


Gyu.


Kojima memeluk lebih erat di punggungnya, seolah berkata dalam diam 'belum'. Jarang Kojima bertindak seperti itu.


"Ada apa? Hari ini kau lebih manja dari biasanya."


Kata Yusuke dengan nada bercanda.


"Soalnya, begini..."


Masih memeluknya, Kojima mulai berbicara.


"Ketika kau kembali tadi...kau melihatku menjaga Yui-chan yang tertidur, tanpa bisa bergerak. Tapi meski begitu kau menyiapkan makan malam tanpa mengatakan apa-apa, dengan senyum."


"Yah, itu yang akan dilakukan siapa pun."


"Tidak hanya itu. Kau membawakanku makanan manis favoritku dan bilang 'terima kasih untuk semuanya'. Dan kemudian, sepanjang waktu kau berusaha keras untuk tidak membuat suara agar tidak membangunkan Yui-chan..."


"............"


"Dan kemudian, ah, maaf...aku sedikit malu."


"Tidak, tidak! Kau sudah sampai sana! Sekarang aku harus tahu."


"Ehm, tapi berjanjilah padaku kalo kau tidak akan tertawa..."


Kojima sedikit ragu, tapi pada akhirnya dia mengatakannya.


"...Ketika aku melihat semua itu, aku berpikir kalo saat kita punya anak, kau akan merawatnya...dan juga aku. Kita berdua bersama-sama."


Dan dia tersenyum malu-malu.


"Dan kemudian, aku tidak mau berpisah darimu. Maaf...aku tahu aneh membayangkan punya anak dengan kau sekarang..."


Kojima mencoba melepaskan diri saat mengatakan itu, tapi───────


Guuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh.


Kali ini Yusuke yang memeluknya dengan erat dan menariknya ke dirinya.


"Yu-Yuuki-san?"


"Kojima...kau benar-benar menggemaskan."


(Makhluk menggemaskan apa ini? Aku jadi ingin merawatmu seumur hidupku, serius.)


"Sudah. Hari ini, aku tidak akan melepaskanmu sampai kita tidur."


"Eeeh? E-itu terlalu berlebihan!"


"...Kau tidak mau?"


Ketika Yusuke bertanya itu, Kojima menggelengkan kepalanya dengan lembut di pelukannya.


"...Tidak. Itu membuatku senang."


Dan dia merapat lebih erat dengannya.


Sayangnya, ketika Kojima harus mandi mereka berpisah sebentar. 


Tapi selain itu, sisa malam mereka habiskan dengan berpelukan atau berpegangan tangan.


Dan begitulah, berbagi tempat tidur tunggal yang terasa sedikit sempit untuk dua orang, keduanya tertidur bersebelahan.


Itu adalah pertama kalinya dalam waktu lama mereka tidur bersama sejak mereka berpisah ke kamar yang berbeda.


Dan malam itu... Mungkin itu adalah malam paling damai dan nyenyak yang pernah Yusuke miliki seumur hidupnya.



Sebelumnya     Daftar isi             

Posting Komentar

نموذج الاتصال