> CHAPTER 3

CHAPTER 3

Kamu saat ini sedang membaca   Tobioriyō to shiteiru joshikōsei o tasuketara dō naru no ka? volume 1  chapter 3. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw

 

MEMPERKENALKAN SEORANG TEMAN



"Omong-omong, Hatsushiro..."


"Ya?"


Saat mereka sarapan, Yusuke memutuskan untuk membahas topik yang sudah lama ada di kepalanya.


"Apa ada sesuatu yang kau mau? Maksudku hal-hal yang kau butuhkan. Untuk saat ini kau menggunakan apa yang tersimpan di sana, barang cadangan dan semacamnya."


Di tasnya───────yang dia bawa hari dia menolongnya───────ada beberapa barang penting, seperti perlengkapan kebersihan wanita dan celana olahraga sekolah wajib.


Jadi, setidaknya yang paling minim, sudah terpenuhi.


"Umm...aku tidak tahu. Aku tidak merasa kekurangan sesuatu yang istimewa."


"Apa benar?"


Kotori adalah seorang gadis.


Meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, Yusuke berpikir kalo mungkin ada sesuatu yang dia butuhkan. Itu wajar.


"Ya. Ah, Yuuki-san, mau nasi lagi?"


"Ah, ya, tolong."


"Hmm..."



"Hei, Ootani, menurutmu bagaimana?"


"Menurutku itu tidak normal."


Ketika dia berkonsultasi dengan Shouko setelah kelas, dia menjawab tanpa ragu-ragu.


"Seorang perempuan yang usianya hampir sama dengan kita, yang cuma punya satu seragam sekolah dan satu hoodie, yang sama sekali tidak pakai make-up, dan satu-satunya hobinya adalah game yang kau belikan. Dan dia tidak merasa sedikit pun ketidaknyamanan dengan itu? Pasti ada yang tidak beres. Sungguh, itu aneh."


"Sebegitu anehnya?"


"Ya. Sama anehnya dengan kalo ada laki-laki yang bisa hidup tanpa colly dan tidak merasa frustrasi. Sereceh itu anehnya."


Itu memang tingkat yang sangat abnormal.


"Tapi, dia benar-benar tidak terlihat tidak puas. Dia juga tidak terlihat seperti berpura-pura. Meskipun aku sendiri tidak menganggap diriku jago dalam memahami hal-hal itu..."


"......Mungkin iya. Ini cuma asumsi, tapi dia mungkin tidak akur sama perempuan lain seusianya sebelum datang padamu. Dari apa yang kau ceritakan, perempuan itu sama sekali tidak punya keinginan."


Shouko mengeluarkan kotak bundar pipih berwarna biru safir dari tasnya.


"Apa itu?"


"Krim perawatan kulit. Itu salah satu yang all-in-one yang mengandung semua yang dibutuhkan untuk perawatan wajah. Harganya terjangkau dan tidak terasa lengket kalo dipakai. Beberapa perempuan yang kurekomendasikan masih menggunakannya."


"Wah. Aku tidak tahu soal hal-hal itu, jadi menarik. Ah, punya aroma yang menenangkan."


"Itu juga salah satu kelebihannya. Aroma yang terlalu kuat susah direkomendasikan karena memecah pendapat... Obrolan kayak gini, perempuan seusia kita sering banget ngobrolinnya. Dan, pada akhirnya, kau jadi ingin punya barang-barang itu juga, kau tahu?"


Yusuke mengangguk, mengatakan "Aku mengerti."


Yah, mungkin juga karena sampe belum lama ini Yusuke terlalu fokus pada sesuatu sampe dia tidak mampu tertarik pada hal-hal lain, dia jadi tidak mengembangkan keinginan itu.


Dia sendiri sadar kalo sulit menemukan seseorang seusianya dengan mentalitas yang sama.


"Tapi sebaliknya, kalo dia tidak mulai menunjukkan minat pada hal-hal ini, dia akan ketinggalan dalam percakapan. Alangkah baiknya kalo dia setidaknya punya teman yang bisa mengajarinya hal-hal semacam itu... hal-hal 'duniawi', katakanlah."


"Aku mengerti. Seorang teman yang mengajarinya hal-hal 'duniawi', ya..."


Dalam situasi saat ini, itu terdengar tidak mungkin.


Kotori adalah perempuan yang baik, tapi sangat sensitif. 


Dia takut pada orang, dan dia selalu terlalu khawatir untuk tidak membuat orang lain marah. 


Selain itu, meskipun antara dia dan Yusuke tidak ada niat yang tidak pantas, fakta kalo mereka tinggal bersama mungkin akan menimbulkan kecurigaan pada lebih dari satu orang.


Memikirkan semua itu, sepertinya tidak mudah menemukan perempuan yang dapat dipercaya yang mau mendekati Kotori.


"Mm... eh?"


Yusuke melihat ke depan meja, tempat Shouko duduk.


Dia segera mengalihkan pandangannya dan bangkit dari tempat duduknya.


"Yah, waktunya pulang dan melanjutkan 'Fragmen Merah Tua'.


Yusuke menghentikannya dengan memegang erat ujung jaketnya.


"Kau mau apa?"


"...Ootani, aku menganggapmu perempuan 'duniawi', jadi aku punya permintaan."


"Enam bulan makan siang."


"Itu terlalu banyak sekaligus! Permintaan seperti ini dinegosiasikan paling banyak, dua minggu."


"Sayang sekali. Sepertinya kita tidak punya kesepakatan."


"Ah, tunggu, tunggu! Bagaimana kalo dua bulan? Dua bulan tidak apa-apa, kan?"


Mendengar tawaran putus asa Yusuke, Shouko tersenyum manis.


"Laki-laki yang masuk akal itu menawan, Yuuki."



"Jadi, yah... Besok aku mengundang seorang teman ke rumah."


"Ah, aku mengerti."


Setelah kembali dari sekolah dan pekerjaan paruh waktu, Yusuke selesai makan malam dan belajar, dan sekarang dia duduk di samping Kotori, bersandar di tempat tidur.


Duduk berdampingan, berbagi kehangatan tubuh mereka sambil membicarakan hal-hal sepele sebelum tidur, telah menjadi kebiasaan di antara mereka berdua.


"......Kalo begitu, apa dia mau aku keluar sebentar kalo dia datang?"


"Ah, tidak perlu berusaha keras. Dia sudah tahu situasi kita. Faktanya, aku sudah konsultasi beberapa hal denganmu sebagai topik."


Ketika Yusuke mengatakan itu, Kotori sedikit mengernyit, entah kenapa.


"...Orang itu, Ootani-san, perempuan, kan?"


"Ya, benar. Dia teman sekelas. Yah, secara teknis dia duduk tepat di belakangku."


"Dan seperti apa perempuan itu?"


Yusuke mengambil waktu sejenak untuk berpikir dan kemudian menjawab. 


"Dia orang yang bertanggung jawab dan mudah diajak bicara. Pada dasarnya dia serius, tapi dia juga punya selera humor. Dia sangat perhatian. Dia selalu terlihat seperti membaca manga atau novel, tapi dia juga belajar dengan baik dan punya nilai yang bagus."


"...Kau memujinya tanpa ragu-ragu, ya?"


"Yah, dia satu-satunya teman perempuanku. Kalo aku harus mengatakan sesuatu yang negatif... Kurasa, meskipun dia masih cukup populer, kalo dia sedikit menurunkan berat badan, dia akan luar biasa cantik. Tentu saja, itu keputusannya. Tapi melihatnya dari luar, terasa agak sia-sia."


"...Ahaha. Hmmm. Aku mengerti, aku mengerti."


Mengatakan itu, Kotori tiba-tiba menjauh dari tubuh Yusuke dan berbalik.


Bahu kanannya, sekarang tanpa kehangatannya, terasa dingin dan sepi.


"Ada apa, Hatsushiro?"


"Tidak tahu."


Dia menjawab dengan isyarat cemberut, sedikit menggembungkan pipinya. 


Yusuke tidak bisa menahan diri untuk tidak bingung.


Ada apa dengannya tiba-tiba? 


Dia cuma membicarakan betapa baiknya Shouko...


(...Ja-jangan-jangan... ini...?)


Dengan kepala istimewa yang mendapat peringkat pertama dalam ujian reguler, Yusuke sampai pada suatu kesimpulan. 


(Cemburu?!)


Dia merasakan dampaknya seolah disambar petir.


Tentu saja, itu masuk akal. Tidak ada perempuan yang suka kalo pacarnya memuji perempuan lain begitu banyak tepat di depannya.


Tapi masih...cemburu!


Nghh! Meskipun dia merasa bersalah, dia tidak bisa menahan senyumnya. 


Bagaimanapun juga, itu hanya berarti kalo Kotori memikirkannya. 


Dia tidak bisa menahan rasa senangnya.


Meskipun tentu saja, itu bukan sesuatu yang bisa dia katakan dengan lantang...


"...Kenapa kau tersenyum, Yuuki-san?"


"Soalnya... aku jadi senang melihatmu cemburu. Itu membuatku merasa kalo kau benar-benar peduli padaku... Ah, aku mengatakannya."


Dia mengatakannya. Begitu saja, tanpa filter.


Kotori tersipu malu, menggembungkan pipinya lebih jauh karena jengkel.


"...Dasar bodoh, Yuuki-san... ambil ini!"


"¡Oof! Hei, jangan menusuk sisiku dengan jarimu, itu geli! Oof..."


Dan begitulah, Yusuke menjadi korban serangkaian tusukan di sisi oleh Kotori selama beberapa saat.



Keesokan harinya.


Setelah hari sekolah yang dipersingkat karena masalah staf pengajar, Yusuke dan Shouko berada di depan pintu apartemen Yusuke.


"Sekarang aku memikirkannya, ini pertama kalinya aku masuk. Waktu aku membawa monitor, aku sampai di sini, tapi aku tidak melewati pintu masuk."


"Ah, ya, benar."


Shouko telah kembali ke rumah setelah kelas dan sekarang berada di depan pintu lagi, masih mengenakan seragam, tapi membawa tas yang berbeda dari tas sekolahnya. Apa yang ada di dalamnya?


"Yah, sudah waktunya akhirnya bertemu dengan Hatsushiro-chan yang sering kau bicarakan, yang sering kau sebut-sebut. Dengan seberapa ngototnya kau bilang 'dia sangat imut, sangat imut', aku jadi penasaran."


"Heh, aku sama sekali tidak melebih-lebihkan... Hatsushiro adalah perempuan paling imut di dunia───────"


Klak.


"Dengan izin〜!"


"Setidaknya dengarkan aku!?"


Mungkin mengantisipasi kalo Yusuke akan bertingkah manis, Shouko membuka pintu tanpa menunggunya dan masuk tanpa basa-basi.


Begitu dia melewati ambang pintu, Kotori muncul dari ruang tamu dengan seragamnya yang biasa.


"Sela...selamat datang kembali, Yuuki-san."


"Ya, aku pulang. Um, aku perkenalkan, dia Shouko Ootani, dia sekelas denganku."


Kotori terlihat jelas tegang. 


Meskipun dia sudah mendengar tentang Shouko dari Yusuke, masih menakutkan baginya untuk berbicara tatap muka dengan seseorang selain dia.


"Se...senang bertemu denganmu... Aku... Kotori... Hatsushiro..."


───────Ah, aku tahu. Suaranya semakin meredup.


Dan di sisi lain, reaksi Shouko adalah...


"..........."


Dia berdiri diam sepenuhnya, matanya terbelalak seolah dia baru saja melihat sesuatu yang tidak mungkin dipercaya.


"Eh? Ada apa?"


"...Tidak mungkin...bagaimana..."


Shouko menggumamkan itu dengan suara pelan, sambil perlahan menggelengkan kepalanya.


Reaksi macam apa itu...? Tidak, tunggu...


Sebuah pikiran melintas di benak Yusuke.


(Apa... Ootani mengenal Hatsushiro?)


Dia ingat kalo pada suatu saat Shouko pernah menyebutkan punya kenalan di sekolah tempat Kotori bersekolah. 


Mungkin melalui koneksi itu dia pernah mendengar tentang dia atau bahkan mengenalnya secara langsung.


Tapi lalu, hubungan macam apa yang harus mereka miliki sampe menyebabkan reaksi seperti itu?


"Soalnya...ini...benar-benar tidak masuk akal..."


Shouko sedikit terhuyung, meletakkan tangan di pintu seolah dia baru saja melihat hantu.


Mungkinkah wajah Kotori identik dengan teman masa kecilnya yang hilang? 


Dia ingat pernah membaca manga dengan alur cerita seperti itu yang pernah dipinjamkan Shouko padanya sebelumnya.


Apa pun itu, Kotori juga terlihat khawatir. 


Yusuke berpikir kalo yang terbaik adalah membawa Shouko keluar sebentar dan menanyakan langsung apa yang terjadi...


"Bagaimana..."


"Hei, Ootani. Kenapa kita tidak bicara sebentar di luar───────?"


"Bagaimana mungkin pacar si bodoh ini adalah seorang cantik berambut hitam panjang yang sangat mengesankan?! Lelucon kejam macam apa ini dari alam semesta?!"


Zas!


Yusuke tersandung dengan canggung.


"Itu yang mengganggumu?!?!?! Jangan menakutiku seperti itu!!"


Shouko menatapnya dari atas dengan ekspresi jijik yang mendalam.


"...Kenapa kau bereaksi begitu konyol?"


"Itu datang langsung darimu, kau tahu...?"


Tapi melihat reaksi yang begitu kuat pada orang lain, Yusuke tidak bisa tidak menegaskannya sekali lagi:


Kotori benar-benar kecantikan yang luar biasa.


Shouko berbalik ke arah Kotori dan, dengan nada tegas dan langsung yang menjadi ciri khasnya, dia menyapanya:


"Senang bertemu denganmu, Hatsushiro-san. Aku Shouko Ootani. Dan sayangnya, aku teman sekelas badut kelas tiga ini."


Deskripsi yang cukup kejam.


"Ya...senang bertemu denganmu, Ootani-san."


"Hmmm."


"Um...ada apa? Kau menatap mataku... Apa ada sesuatu yang menarik perhatianmu?"


"Hmmm, bukan berarti matamu bergambar hati atau semacamnya...juga tidak berarti warna pupilmu menghilang, kan?"


"E-eh...?"


Kotori memiliki ekspresi kebingungan total.


"Yuuki, tunjukkan Hp-mu. Aku akan memeriksa apa kau memasang aplikasi hipnosis."


"Tentu saja aku tidak punya yang seperti itu!"


"Aku bercanda. Yah, sekitar 30%."


Itu jauh lebih banyak persentase keseriusan daripada yang Yusuke harapkan.


"Yah, mengesampingkan itu... Hatsushiro-san."


"Y-ya."


"Kau pasti sudah sadar tanpa aku mengatakannya, tapi laki-laki ini tidak mudah dimengerti, meskipun jauh di lubuk hati dia orang baik. Meskipun tidak terlihat. Sama seperti kereta jalur Shōnan-Shinjuku."


"Aku sudah pernah mendengar itu."


Betapa sulitnya dia dipahami kalo mereka menggunakan analogi itu dua kali.


"Dan yah, kalo kau tahu mengenali sisi baiknya itu... Itu memberitahuku kalo kau punya mata yang baik untuk orang. Dan aku suka orang yang punya mata yang baik. Jadi, kalo kau tidak keberatan...bisakah aku berteman baik denganmu?"


Sambil mengatakan itu, Shouko mengulurkan tangan kanannya.


"Umm, itu..."


Kotori sedikit ragu dan menatap Yusuke. Dia hanya mengangguk dalam diam.


Melihatnya, Kotori akhirnya memberanikan diri dan, dengan sedikit malu-malu, meraih tangan Shouko dan menjabatnya.


"...Senang bertemu denganmu, aku harap kita bisa berteman baik."


"Ya. Sama-sama."


Sepertinya kontak pertama sukses.


Yusuke merasa lega...meskipun jauh di lubuk hati dia merasa sedikit cemburu, butuh waktu lebih lama baginya untuk mendapatkan jabat tangan itu.


"...Umm, Yuuki-san, apa ada masalah?"


Sepertinya ekspresinya telah mengungkapkannya, dan Kotori khawatir.


"...Tidak, tidak ada. Cuma, kau tahu, aku pikir antara perempuan lebih cepat akrab, itu saja."


Kotori mendengarnya dan, tanpa membuang waktu, menatapnya dengan mata terbelalak.


"...Yuuki-san. Apa kau...cemburu?"


"Eh? Ti-tidak, sama sekali tidak! Aku hanya..."


"Hehe, aku mengerti... hehe."


Kotori tersenyum manis, jelas senang.


Nghh. Itu menyakitkan. Meskipun itu benar, dia tidak bisa menyangkal kalo itu menyebabkan rasa tidak berdaya tertentu.


"Apa-apaan ini...? Apa aku harus terus menyaksikan pertunjukan gula meleleh ini untuk sementara waktu lagi?"


Shouko, jelas kesal, melontarkan keluhannya dengan nada jengkel.



Setelah perkenalan, Yusuke dan para perempuan naik ke area ruang tamu.


"Wah, barangnya sedikit sekali."


Itu adalah komentar pertama Shouko.


Meskipun Kotori tidak mengatakan apa-apa tentang itu, Yusuke kembali menyadari betapa minimnya dekorasi apartemennya. Tampaknya, bagi kebanyakan orang itu aneh.


"Ootani-san, ini tehmu. Silakan."


"Wah, perhatian sekali kau. Kau benar-benar pacar yang hebat."


"Benar!? Hatsushiro adalah pacar yang luar biasa. Dia terorganisir, perhatian, masakannya enak..."


"...Pfft!"


"...Boleh saja memamerkan pacarmu, tapi kasihan dia jadi merah seperti tomat, kau tahu?"


Seperti yang dikatakan Shouko, Kotori berusaha menyembunyikan pipinya yang benar-benar memerah di balik nampan yang dia gunakan untuk membawa teh.


Tentu saja, siapa pun akan malu kalo dipuji sebanyak itu di depan orang lain.


"Maaf, maaf, Hatsushiro. Aku terlalu bersemangat dan tidak bisa menahan diri untuk memamerkanmu."


"...Sungguh, Yuuki-san..."


Meskipun kata-katanya, senyum tipis di wajahnya menunjukkan kalo, jauh di lubuk hati, dia tidak terlalu keberatan. 


Mungkin itu hanya persepsi Yusuke, tapi dia merasa kalo dia senang.


Dan itu membuatnya tersenyum juga, tak terhindarkan.


"......"


Shouko, melihat pemandangan itu, memiliki ekspresi yang sama seolah dia baru saja meminum segelas penuh sirup gula.


"Ada apa?"


"Begitu tidak sadar... Bukan apa-apa. Hanya saja, berada di dekat kalian membuatku merasa seperti akan mengembangkan penyakit metabolik."


"Eh?"


Baik Yusuke maupun Kotori memiringkan kepala tidak mengerti maksudnya.


"Yah, sudahlah."


Mengatakan itu, Shouko mulai mengobrak-abrik tasnya. 


Yang dia keluarkan adalah, coklat, snack, permen soda, permen kenyal... Singkatnya, koleksi permen.


Yusuke, melihat itu, berkomentar. 


"Oh? Apa itu hadiah?"


"Lebih seperti kebiasaan. Aku selalu membawa permen kalo berkunjung ke rumah teman."


"Dan karena itu kau tidak kurus───────"


PAM!


"Agh!"


Tendangan depan dari bawah meja menghantam tepat tulang kering Yusuke.


"......"


"Hmm? Ada apa, Hatsushiro-san? Kau menatap permen itu terus."


"Ah, itu..."


Yusuke, saat mengamati ekspresi Kotori, menyadari sesuatu.


"Apa kau belum pernah mencobanya sebelumnya?"


"Yah...aku ingat pernah memakannya waktu aku kecil, tapi..."


Setelah masalah Hp, ini juga cukup mengejutkan.


Bahkan Shouko melebarkan matanya, dengan tatapan terkejut.


"Aku mengerti."


Hanya itu yang dia gumamkan sebelum merobek bungkus keripik rasa kuah kaldu di bagian belakang, meletakkannya di atas meja dengan gaya pesta, agar semua orang bisa mengambil.


"Ambil, Hatsushiro-san."


Menerima undangan Shouko, Kotori mengulurkan tangan dengan sangat hati-hati seolah dia akan mencoba racun. Dia mengambil keripik.


"Se-selamat...makan..."


Dia membawa keripik ke mulut dan menggigit sedikit di tepinya.


Shouko mengamatinya dengan saksama.


"...Ah. Enak."


Dengan ekspresi sedikit terkejut, Kotori menggumamkan kata-kata sederhana tapi tulus. 


"Enak..."


Shouko, melihatnya, mengangguk puas.


"Ayo, ambil lagi."


"Eh...tidak apa-apa?"


"Tentu saja."


Mengatakan itu, Shouko juga mengambil keripik dari bungkusnya dan membawanya ke mulut.


"Dalam hal seperti ini, bersikap terlalu sopan itu tidak berlaku. Yang benar adalah jangan menahan diri."


"...Ka-kalo begitu..."


Kotori kembali mengucapkan "itadakimasu" yang sopan dan mengambil keripik lain, membawanya dengan hati-hati ke mulut.


Kali ini, pipinya melunak. Ekspresi murni yang menunjukkan betapa bahagianya dia makan sesuatu yang enak begitu jujur sampe meluluhkan hati siapa pun.


Seiring Shouko terus makan satu demi satu dengan sangat santai, Kotori juga mulai mengambil lebih banyak, seolah dia merasa terdorong oleh contohnya.


Dia menggerakkan mulut kecilnya mengunyah dengan tenang, sambil tersenyum bahagia hanya dengan camilan seharga 100 yen. 


Melihatnya begitu, Shouko tidak bisa menahan senyum.


"Aku mengerti bagaimana ini..."


Mengatakan itu, Shouko membungkuk di atas meja dan dengan lembut membelai kepala Kotori.


Kotori membuka matanya, terkejut.


"I-ini... Ootani-san..."


"Ahh, aku akhirnya mengerti. Yusuke, kurasa aku akhirnya mengerti kenapa kau tidak berhenti mengatakan kalo Hatsushiro-san imut."


"...Si-siapa aku untuk menerima begitu banyak pujian. Ootani-san juga cantik dan elegan..."


"Kalo perempuan cantik sepertimu mengatakan itu tanpa banyak berdandan terdengar menyinggung bagi seluruh dunia! ...Tapi kau begitu cantik sampe aku maafkan!"


Sambil mengatakan itu, dia terus membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. 


Meskipun bingung, Kotori sepertinya tidak merasa takut pada Shouko, yang merupakan pertanda baik.


Pada saat itu, bel pintu masuk berbunyi.


"Ah, biar aku yang ke sana."


Membiarkan para perempuan itu akur dengan kecepatan mereka sendiri, Yusuke bangkit untuk membuka pintu.


"Penjualan langganan koran pasti neraka..."


Yusuke telah menghabiskan lebih dari 10 menit mengobrol di pintu.


Penjualnya terlihat seperti mahasiswi yang berpenampilan baik. 


Meskipun dia menolak dengan mengatakan kalo dia tidak membutuhkannya, dia bersikeras menawarkan deterjen, tiket ke taman hiburan, dan insentif lainnya. 


Seseorang dengan karakter yang kurang kuat mungkin akan menandatangani kontrak.


Akhirnya, Yusuke menutup pintu dan kembali ke dalam apartemen.


(Tapi baguslah aku membawa Ootani.)


Menilai dari adegan sebelumnya, daripada teman, mereka terlihat seperti kakak perempuan dan adik perempuan, tapi setidaknya mereka akur. 


Dan yang paling penting, Kotori terlihat bahagia. 


Dengan ini, dia pasti bisa belajar hal-hal normal dari perempuan seusianya secara alami melalui Shouko.


Memikirkan itu, Yusuke kembali ke ruang tamu.


"Maaf, maaf. Penjualnya terus mendesak."


"Dan bagaimana, Hatsushiro-san? Pasangan ini, Shuusuke dan Akira, tidakkah mereka pasangan yang panas?!"


"Hei, apa yang kau lakukan!?"


Shouko menunjukkan manga kepada Kotori yang sampulnya menampilkan dua laki-laki tampan, berdekatan tubuh dan wajah mereka sangat dekat.


"Apa? Ini cocok untuk semua kalangan, oke? Tidak ada adegan yang tidak senonoh."


"Bukan itu masalahnya! Boleh saja kau mengajarinya hal-hal dunia, tapi aku tidak bilang kau harus menularkannya dengan seleramu!"


"Dan apa yang kau tahu? Ini adalah bagian dari selera yang baik dari setiap wanita terhormat. Tidak ada perempuan yang tidak menyukai BL."


"Itu sudah terlalu berprasangka."


"Lalu... Bagaimana menurutmu, Hatsushiro-san?"


"Eh...yah, kurasa aku tidak sepenuhnya mengerti..."


Jawab Kotori sambil membaca dengan saksama manga yang diberikan Shouko. Dia selalu begitu patuh.


Yusuke menatap Shouko dengan ekspresi yang mengatakan, 'Lihat? Sudah kubilang'.


Shouko, kecewa, menjatuhkan bahunya.


"Tapi..."


Kotori bergumam, dengan wajah yang menunjukkan kebingungan bahkan untuk dirinya sendiri.


"Aku tidak tahu kenapa...tapi kalo aku melihat dua laki-laki begitu dekat satu sama lain...aku merasa seolah ada sesuatu yang muncul dari lubuk hati..."


Sepertinya ada sesuatu yang muncul darinya.


Shouko menatapnya dengan mata berbinar seolah dia sedang menyaksikan kelahiran bentuk kehidupan baru.


"...Kau luar biasa, Hatsushiro-san. Aku yakin kau akan menjadi seorang wanita terhormat. Ah, omong-omong, ada game Hp bernama FBO yang sangat populer sekarang───────"


"Hei, tunggu! Itu termasuk yang menghabiskan banyak uang!"


"Tidak terlalu. Paling banyak, satu atau dua lembar uang Yukichi sebulan dikorbankan ke Holy Grail."


"Itu persis seperti menjadi ATM gelap pengorbanan bulanan!"


Yusuke mulai berpikir kalo mungkin, hanya mungkin, membawa Shouko bukanlah ide yang bagus.


Omong-omong, Kotori tidak punya Hp, jadi dia tidak bisa bermain FBO.



Setelah beberapa saat mengobrol dan makan permen di antara ketiganya, Shouko melihat jam dan berdiri.


"Ups, sudah jam segini. Ayo kita pergi, oke?"


"Kita pergi? Ke mana?"


Tanya Yusuke, yang dijawab Shouko. 


"Ke mana lagi? Ke pusat perbelanjaan terdekat. Kita akan membelikan pakaian untuk Hatsushiro-san."


Ah, benar. Sekarang masuk akal.


Tapi, Kotori membuka matanya terkejut.


"Pakaianku...?"


"Tentu saja. Kita tidak bisa membiarkanmu hanya dengan satu seragam dan satu hoodie selamanya, kan?"


"Bukan berarti itu menggangguku... Meskipun ya, punya baju ganti akan membuat mencuci lebih mudah..."


"Tidak, bukan karena itu. Yusuke sudah cerita sedikit padaku, tapi kau benar-benar tidak punya keinginan materi, ya?"


Shouko menghela napas panjang.


Bahkan Yusuke, yang menganggap dirinya seseorang yang tidak terlalu terikat pada materi, terkejut dengan betapa tidak tertariknya Kotori.


Dan dia pasti akan khawatir lagi tentang pengeluaran, pikir Yusuke. Selalu begitu.


"Lagipula... Karena aku tinggal di sini, aku tidak mau menuntut atau menjadi beban..."


Sama seperti yang diharapkan. Persis seperti yang Yusuke pikirkan akan dia katakan.


Meskipun perhatian terhadap situasi orang lain itu adalah salah satu hal yang paling membuatnya gemas, dia tidak bisa menahan diri untuk berharap kalo kadang-kadang dia membiarkan dirinya sedikit lebih egois.


"Aduh, kasihan sekali, Yuuki... Sayang sekali, ya?"


Kata Shouko dengan nada yang dilebih-lebihkan netral, seperti sedang membacakan naskah.


"Baru hari yang lalu, Yuuki bilang di kelas kalo dia ingin melihat pacarnya dengan pakaian imut dan modis〜"


Eh!? Yusuke berpikir "Apa-apaan yang dia katakan", tapi kemudian dia menyadari tatapan mendesak yang dilontarkan Shouko padanya.


"Ikuti saja alurnya."


Memintanya untuk tidak mengatakan kalo dia mengatakannya "Di kelas" sudah terlalu banyak, tapi kalo itu demi kebaikan Kotori, dia tidak punya pilihan.


Kotori juga menatapnya dengan rasa ingin tahu, mencari konfirmasi.


"Ah, ya. Aku ingin melihat versi dirimu yang berbeda dari biasanya."


Kata Yusuke dengan ekspresi serius.


Mendengar kata-kata itu, Kotori tersipu dengan hebat.


"...Eh, ya. Kalo begitu...aku akan senang kalo dibelikan baju baru."


"Bagus! Kalo begitu, ayo pergi."


Kata Shouko dengan senyum puas sambil berjalan dengan langkah mantap menuju pintu masuk.


"Baiklah, kita juga pergi."


"Ya."


Tapi sebelum keluar, Yusuke merasa dia harus menanyakan sesuatu yang penting.


"Hei, Hatsushiro...apa kau yakin bisa?"


"...Ya. Aku baik-baik saja."


"Ayo cepat〜! Sore kita akan habis!"


Terdengar suara Shouko memanggil dari pintu masuk. Yusuke dan Kotori berjalan ke sana.


Yusuke, dengan kealamian yang didapat setelah ratusan kali mengulangi gerakan yang sama sejak dia tinggal di sana, mengenakan sepatunya dan membuka pintu.


Kotori, di sisi lain, berhenti di depan sepatu sekolahnya ───────loafers peraturan yang sama yang dia pakai hari dia tiba─────── dan menatapnya lekat-lekat.


Melihat itu, Shouko, yang sudah berada di luar, bertanya padanya:


"Ada apa, Hatsushiro-san?"


"Tidak, bukan apa-apa. Maaf...aku datang."


"...Hatsushiro."


"...Aku baik-baik saja... Aku baik-baik saja."


Mengulanginya pada dirinya sendiri seolah meyakinkan diri, Kotori mengenakan sepatunya dan berdiri.


Dan tepat saat dia mencoba melewati ambang pintu...


Tubuhnya terhuyung.


"Hatsushiro-san?"


Kata Shouko, terkejut dengan hal yang tidak terduga.


"Hei!"


Yusuke, yang berdiri tepat di sebelahnya, bereaksi cepat dan menahannya dengan kedua tangan.


"...Sepertinya, masih sulit untukmu, ya?"


"...Terima kasih, Yuuki-san."


"Yuuki? Apa maksudmu dengan 'masih'?"


Mendengar pertanyaan Shouko, Kotori menjawab dengan suara bergetar:


"...Maaf sudah membuatmu khawatir. Ini agak memalukan, tapi...saat aku mencoba keluar, semacam kecemasan menyerangku..."


"Ayo kita duduk sebentar, Hatsushiro."


Sejak dia tiba di apartemen, Kotori tidak berhasil keluar. 


Sesuatu yang terjadi padanya sebelum tiba telah meninggalkannya dengan luka yang mendalam. 


Setiap kali dia memakai sepatu dan mencoba keluar melalui pintu, tubuhnya lemas begitu saja.


Tidak peduli berapa kali dia mencoba, selalu terjadi hal yang sama. 


Tempat terjauh yang pernah dia capai adalah balkon untuk menjemur pakaian.


Oleh karena itu, ketika mereka membutuhkan bahan makanan, Kotori memberikan Yusuke daftar barang yang dibutuhkan dan dia yang bertanggung jawab untuk berbelanja di supermarket terdekat.


Yusuke, tentu saja, tahu kalo dia tidak bisa membiarkan ini berlanjut selamanya, tapi dia juga tidak mau memaksanya. 


Dia telah memutuskan kalo yang terbaik adalah memberinya waktu, dan membiarkannya beristirahat sebanyak yang dia butuhkan.


Sudah hampir setengah bulan berlalu, dan dia berpikir kalo mungkin hari ini dia bisa mengambil langkah itu. Tapi mungkin masih terlalu cepat.


Dia menjelaskan semua ini secara singkat kepada Shouko.


Setelah mendengar, dia melebarkan matanya dan kemudian memasang ekspresi penuh rasa bersalah.


"...Maaf, Hatsushiro-san."


"Tidak... Kau tidak perlu meminta maaf, Ootani-san."


Yusuke memahaminya dengan kuat sekali lagi. 


Dalam beberapa hari terakhir, karena Kotori mulai sering tersenyum, dia hampir lupa kalo dia membawa sesuatu yang sangat menyakitkan. 


Sesuatu yang begitu mendalam sehingga mencegahnya melakukan apa yang bagi orang lain begitu sederhana seperti keluar rumah.


Meskipun begitu, itu tidak mengubah fakta kalo dia adalah pacarnya yang tersayang, dan dipuja, dan berharga.


"Untuk saat ini, bagaimana kalo kita mengobrol sebentar lagi di sini? Kita bisa bermain game. Hanya menerima dua pemain, tapi seru."


Mendengar kata-kata Yusuke, Shouko juga mengangguk segera.


"Ya. Kita bisa pergi berbelanja di lain waktu."


Kotori menundukkan pandangannya dan terdiam sejenak.


Mungkin, seperti biasa, dia merasa terbebani oleh rasa bersalah. Itu sangat khas dia.


Tapi.


Kata-kata yang dia ucapkan saat mengangkat wajahnya tidak terduga.


"...Tidak. Aku akan pergi."


Yusuke terkejut mendengar kata-kata itu keluar dengan susah payah dari bibir Kotori.


Dia khawatir, tapi ekspresinya serius. Tidak ada keraguan padanya.


"Hatsushiro..."


"Aku tidak bisa terus bergantung padamu, Yuuki-san, selamanya."


Dan dengan senyum tipis───────senyum yang dipaksakan, lahir di antara rasa sakit dan keberanian─────── dia menambahkan:


"...Dan lagi, kalo itu membuatmu senang, aku ingin kau melihat bagaimana aku berdandan."


Di matanya bercampur rasa takut dan tekad.


Kotori menarik dan menghembuskan napas dalam-dalam sekitar lima kali, dan meskipun sedikit terhuyung, dia berdiri.


"Yuuki-san... bisakah kau memegang tanganku?"


"Tentu. Aku tidak akan melepaskannya, apa pun yang terjadi."


"...Terima kasih. Aku baru saja bilang kalo aku tidak bisa selalu bergantung padamu, dan aku sudah meminta ini... sungguh kontradiksi."


"Aku senang kau memintaku sesuatu, Hatsushiro. Kau tidak perlu menahan diri begitu banyak."


Yusuke menjawab dengan senyum, dan Kotori menyandarkan dahinya sebentar ke bahunya.


"...Aku sangat mencintaimu, Yuuki-san."


Mendengar kata-kata itu, Yusuke tertegun sejenak.


───────Ah...benar. Ini pertama kalinya dia mengatakannya padaku. Pertama kalinya Hatsushiro mengatakan padaku kalo dia mencintaiku.


Tubuhnya langsung menghangat. Gelombang kebahagiaan bahkan mencegahnya untuk menjawab.


Kotori menjauh dari bahu Yusuke dan kembali menarik napas dalam-dalam.


Dan kemudian...


Dia melangkah. Dengan langkah yang tidak stabil.


Masih dengan tangan yang tergenggam. Dia melangkah lagi.


Dan jari-jarinya, yang biasanya hanya terjalin di telapak tangan, kini terjalin sepenuhnya. 


Yang disebut 'ikatan sepasang kekasih'. Cara untuk merasa lebih dekat dengan orang lain.


Satu langkah lagi.


Garis yang memisahkan bagian dalam rumah dari dunia luar berada tepat di depan mereka.


Kotori menggenggam tangan dengan kuat. Itu memancarkan kecemasan, mungkin rasa takut.


Karena itu Yusuke juga menggenggamnya dengan kuat. ───────Aku bersamamu. Kau tidak sendirian.


Kotori kembali bernapas dalam-dalam...


Dan dia mengambil langkah terakhir.


"...Fuu."


Sekitar dua minggu telah berlalu.


Saat menginjakkan kaki di luar apartemen setelah sekian lama, Kotori menghela napas kecil.


Dan kemudian, melihat Yusuke, yang menggenggam erat tangannya...


"...Terima kasih."


"Ya. Kau berhasil───────"


"Hatsushiro-san!"


Sebelum Yusuke bisa menyelesaikannya, Shouko berlari ke arahnya dan mulai membelai kepalanya dengan antusias.


"Kau berhasil! Aku bangga padamu!"


"Tu-tunggu... Ootani-san!"


Meskipun sedikit bingung dengan elusan yang agak kasar, wajah Kotori menunjukkan senyum yang berseri-seri.






Sebelumnya     Daftar isi    Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال