Kamu saat ini sedang membaca Apakah persahabatan antara pria dan wanita bisa terjadi? (Tidak, tidak bisa!!) volume 1 chapter 3 ①. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
PENGAKUAN CINTA
Pada pagi hari, aku memarkir sepedaku di tempat parkir sepeda sekolah.
Hari Sabtu itu telah berakhir, hari Minggu telah berlalu, dan kini hari Senin telah tiba.
...Astaga.
2 hari ini, aku sama sekali tidak bisa tidur. Alhasil, aku tidak berhenti menguap.
...Tidak mungkin aku bisa menyusun pikiranku dengan baik.
Apa yang sedang terjadi dalam hidup ku?
Di Aeon, aku terlalu terkejut, dan sejak itu aku hampir tidak berbicara dengan Enomoto-san.
Perjalanan pulang bersama taksi berdua benar-benar canggung.
Saat sedang menuju ke gedung sekolah, suara Himari terdengar dari belakang.
"Yuu. Ohayo────!!"
Kepala ku terasa pusing. Dia benar-benar bersemangat.
Bahkan di Aeon, dia bilang kalo dia mau pergi membeli minuman dan pulang duluan sendiri.
Sudah berkali-kali aku mengirim pesan LINE padanya, tapi dia hanya membaca tanpa membalas.
...Tapi, sekarang aku bersyukur. Setidaknya dia bisa sedikit mengalihkan perhatianku.
"Oi, Himari. Oha...yo?"
Himari melambaikan tangannya dengan senyumannya yang biasa.
...Dia berdiri sekitar 3 meter di depan ku.
Eh, apa ini? Kenapa dia begitu jauh? Kenapa dia tidak mendekat, dia hanya berdiri tegak dan melambaikan tangannya? Dia seperti manekin di bagian pakaian Aeon.
"Himari. Ada apa?"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Yah, kemarilah."
"......"
Himari tetap tersenyum dan melakukan tos di tempatnya.
...Ke arah udara kosong.
"Hei, Yuu. Kau kelihatan kurang bersemangat, ya?"
Dia melanjutkan seolah tidak ada yang salah.
Apa ini? Ini seperti game online yang mengalami bug. Sungguh ini menakutkan. Dia normal pada hari Sabtu, kan?
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Yah, itu tidak mungkin. Kalo aku melakukan sesuatu..."
Aku lalu mendekati Himari.
Tapi, dia segera menjaga jarak.
Ketika aku maju, Himari mundur. Ketika aku mundur, Himari maju.
Dengan dia y4 menjaga jarak tepat 3 meter, kami saling menatap.
"Eh, seriusan kau kenapa!? Kau hari ini aneh sekali!"
"Gyaa—! Yuu, jangan mendekat! Jangan lebih dekat lagi!"
"Jadi, kenapa sih!?"
Lagipula, tolong jangan lakukan ini di depan siswa-siswa lain.
Karena Himari imut, jadi ini sangat mencolok.
"Apa aku melakukan sesuatu? Kalo aku melakukan sesuatu yang mengganggumu..."
"Ah~. Bukan seperti itu sih. Aku hanya merasa ingin menjaga jarak sekitar 3 meter dari Yuu, gitu deh~"
Perasaan apa itu? Cobalah merasakan posisiku yang seperti satelit yang terus diikuti.
Tiba-tiba, ada suara yang memanggil dari belakang.
"Yuu-kun. Ohayo."
Aku menoleh dan kaget.
Itu Enomoto-san. Dengan ekspresi dinginnya yang biasa, dia menatapku tajam.
"........."
Aku belum siap mental.
Ketika aku membuka mulut seperti ikan, dia mengerutkan alisnya dengan kesal. Dia mencubit lengan seraganku dan menariknya.
Kemudian, dia mengucapkan salam dengan jelas.
"O·ha·yo"
"...O, ohayou"
Dengan tekanan yang tidak bisa ditolak, aku pun membalas salamnya.
Lalu, Enomoto-san mengalihkan pandangannya dengan malu-malu dan tersenyum "Ehe". Gerakan manisnya itu menusuk hatiku.
...Eh, apa ini? Gadis ini tiba-tiba jadi sangat dekat?
Itu berbeda sekali dengan saat kami saling menyapa di Aeon hari Sabtu lalu.
Apa dia bukan seperti penduduk desa dalam game yang dialognya kembali normal setelah semalam?
Tanpa peduli dengan kebingunganku, Enomoto-san memiringkan kepalanya.
"Yu-kun. Kau lagi melakukan apa?"
...Yu-kun. Itu panggilan untukku.
Sepertinya hari Sabtu lalu, saat kami berpisah, dia memutuskan untuk memanggilku seperti itu mulai sekarang.
Kami juga sempat bertukar LINE... Tapi itu saja batasnya.
"Yah, Himari dia..."
"Hii-chan?"
Enomoto-san menatap ke arahnya.
Kearah Himari, yang berada 3 meter jauhnya dan gemetar.
"......."
"......."
Keheningan yang misterius.
Himari dengan wajah tegang perlahan mundur.
Mungkin dia berencana melarikan diri ke belakang... Eh, tapi bagaimana dengan kelas nanti?
"Yuu-kun. Aku yang akan menanganinya."
Kemudian, Enomoto-san bergerak.
Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam tas yang digantung di bahunya.
Yang dia keluarkan adalah... sekotak kue yang dibungkus dengan rapi.
"Hii-chan. Aku bawa kue."
"Eh, sungguh!? Yey!"
Himari mendekat.
Dan tepat sebelum dia menerima kue itu—leher belakangnya digenggam dengan erat.
"Gyaa—!? Enocchi, kau menipuku!"
"Hii-chan. Ada apa?"
"Jangan berbicara dengan santai sambil memegang leher orang! Aku ini manusia, bukan kucing, tahu!?"
"Sama aja, kok. Ayo, jangan main-main di sini, kita ke kelas."
"Oke! Oke, jadi lepaskan aku!"
...Luar biasa.
Himari yang biasanya begitu bersemangat, sekarang benar-benar dikendalikan.
Pasti ini hasil dari keterampilan yang diasah sejak masa SD mereka.
Kami melepas sepatu di rak sepatu dan berjalan menuju kelas bertiga.
Jarak Himari sudah kembali normal, tapi dia terus mengeluh sejak tadi.
"Enocchi, kau selalu memaksa, ya."
"Ini salah Hii-chan. Kau selalu membuat orang lain kesulitan."
"Aku cuma membuat Yuu yang kesulitan, kok~"
"Hah. Kenapa teman Yuu-kun harus Hii-chan, ya..."
Enomoto-san benar-benar terlihat kesal. Dinamika antara ke-2 ini agak sulit dipahami, dan itu membuatku bingung.
Saat kami menaiki tangga, Enomoto-san mengeluarkan kantong kecil berisi kue dari tasnya.
Dia memegangnya erat-erat, seolah memasang tekad. Dia lalu melirik ke arahku sebentar.
Saat pandangan kami bertemu, dia buru-buru memalingkan wajahnya.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menatapku langsung.
...Apa yang dia lakukan?
Aku benar-benar penasaran.
Kemudian, dengan wajah tegang, Enomoto-san mengulurkan kantong kecil itu padaku.
"Untuk Yuu-kun juga..."
"Serius? Ah, terima kasih..."
Tanpa sadar, aku menerimanya dengan penuh hormat.
Eh...? Apa biasa orang se-malu ini sampai pipinya memerah hanya karena memberikan kue?
Imut sekali... Ah, tidak, mungkin tidak baik menatap wajah Enomoto-san terlalu lama.
Ini dia. Kue dengan adonan susu dan cokelat, dihias dengan pola.
Aku hanya tahu pola kotak-kotak, tapi yang ini ada gambar kucing yang imut.
...Kerja yang sangat detail.
"Ini dari rumah Enomoto-san?"
"Aduh!" Entah kenapa, Himari mencubit pantatku dari samping.
Kau ini, kalo aku sampai berteriak kencang, begimana?
"Yuu, kau ini sebenernya bodoh ya? Dalam situasi seperti gini, kenapa kau megataoan hal yang tidak penting seperti itu?"
"Eh. Jadi, ini buatan Enomoto-san... atau bagaimana?"
Enomoto-san mengangguk dengan cepat dan penuh semangat.
Kalo diperhatikan dengan baik, tidak ada label toko atau sejenisnya yang ditempel.
"Aku hanya bisa melakukan hal-hal seperti ini..."
Apa ini sikap rendah hati?
Kue seindah ini, aku hanya pernah melihatnya di toko kue Eropa di Tokyo yang diperkenalkan di televisi.
Nanti aku akan memakannya sendiri. Pasti Aoi akan mencoba merebutnya, tapi sungguh, aku tidak akan memberikannya.
"Kalo begitu, Yuu-kun. Sampai jumpa setelah sekolah."
"Ah, ya."
Di atas tangga, Enomoto-san melambaikan tangan dan pergi.
...Saat dia pergi, dia terlihat keren dan imut.
"Yuu. Hidungmu terlihat panjang sekali, lho?"
"...!?"
Aku menutupi hidungku dengan telapak tanganku.
Himari menyeringai sambil mengintip wajahku. Sial. Lebih baik kita tetap berjarak tiga meter.
"Tidak panjang."
"Bohong. Kau benar-benar tergila-gila pada Enocchi, kan?"
"Tergila-gila..."
Kau lahir di era Showa, ya?
Sekarang, bahkan pria tua yang berkumpul di izakaya tidak akan mengatakan itu.
Himari menutupi mulutnya sambil mencolekku dengan siku.
"Kamu dipanggil Yuu-kun. Jangan terlalu mesra di depanku."
"Tidak, aku tidak bermesraan dengannya."
"Ah, atau mungkin aku mengganggu? Hm-hm. Bagaimana kalo sore ini aku memberi kalian waktu berdua saja? Bagaimana apa kau mau?"
"Sebagai gantinya, apa yang kau rencanakan untuk penggaliannya?"
"Kau tidak percaya padaku. Aku hanya berharap kebahagiaan untuk teman baikku."
"Ugh. Mencurigakan sekali..."
Kalo aku lengah, semua barang-barang rumahku mungkin akan dibawa pergi.
Aku menghela napas.
"Lagipula, kami tidak berpacaran atau semacamnya."
"Hah!? Kenapa!?"
"Kenapa...?"
"Karena kan, Sabtu lalu dia sudah megaku!"
"Bwah!?"
Apa yang dia bicarakan dengan suara keras di koridor ini?
Pandangan siswa-siswa di sekitar langsung tertuju pada kami.
"Himari, kemarilah!"
"Uwah! Yuu, hati-hati, kau akan jatuh!"
Aku menggantung tas Himari dan membawanya ke bagian belakang yang sepi.
Dengan Himari bersandar di dinding, aku menjelaskan situasinya.
"Jangan salah paham. Aku tidak di tembak atau semacamnya."
"Eh... Tapi kan, di toko bunga, dia bilang itu cinta pertamanya?"
"Ah! Kau benar-benar menguping pembicaraan kami, ya!?"
Ah, sial... begitu pikirku, Himari memalingkan wajahnya.
Dia mencoba melarikan diri ke samping sambil bersiul, tapi aku menghalanginya dengan kedua lenganku.
"Jangan lari."
"Uuu..."
Kehilangan jalan untuk melarikan diri, Himari berhenti bergerak seolah dia sudah pasrah.
Kepalaku sakit...
"Pantas saja kau pulang tanpa mengatakan apa-apa. Kau terlalu banyak berpikir. Kalo diingat lagi... sejak memperbaiki aksesori Enomoto-san, kau selalu bertingkah aneh. Kau sering menyebut nama Enomoto-san dan mencoba melakukan hal-hal yang aneh..."
Mendengar kata-kataku, Himari bereaksi dengan kaget.
"Ha, sesuatu yang aneh...?"
"Kau bilang ingin mencoba berciuman, kan? Itu... hmm?"
Ekspresi Himari terlihat aneh.
Dia meringkuk di antara ke-2 lenganku, wajahnya memerah seolah-olah akan mengeluarkan uap.
Dia mengangkat ke-2 lengannya yang ramping di depan wajahnya, gemetar seolah berusaha menghindari pandanganku.
"...Hah?"
Apa reaksi ini?
Kenapa telinganya sampai memerah? Apa ini iklan pizza? Apa telinganya juga penuh keju seperti adonan crispy? Lagipula, kau yang seharusnya memakannya, kan?
"Ada apa? Kau membuatku bingung..."
"Ti-tidak, tapi, Yuu mengatakan hal-hal yang aneh..."
"Aku tidak mengatakan hal aneh. Aku hanya mengulangi apa yang kau katakan!"
"Itu yang aku bilang aneh!"
"Tapi kau sendiri yang mengatakannya, kan!?"
Ini benar-benar pencemaran nama baik.
Kalo ini adalah pengadilan, aku pasti akan menang dengan mudah dan bahkan mendapatkan kupon untuk set kentang dan cola sebagai bonus... tapi sudah kubilang, cukup dengan pizza!
"Pokoknya, tidak ada apa-apa antara aku dan Enomoto-san. Ya, aku terkejut saat tahu dia adalah gadis yang dari waktu itu. Tapi, tidak ada pembicaraan lebih lanjut tentang itu. Baginya juga, itu hanya kenangan indah, kan?"
Kenapa aku harus memberikan penjelasan seperti ini seolah-olah aku berselingkuh di depan Himari?
Bagaimana kalo seseorang melihat ini dan menyebarkan rumor aneh?
"Lagipula, bagiku itu adalah cinta pertama. Tapi bagi Enomoto-san, belum tentu begitu. Malah, aku merasa terganggu kalo ada yang berprasangka buruk. Kalo kau mengerti, bisakah kau berhenti menggodaku, Himari?"
"........."
Himari mengeluarkan Yogurppe dari tasnya. Dia menyeruputnya sambil menatapku dengan tajam.
Apa, apa ini?
Aku bisa merasakan kalo aku sedang dinilai. Berbeda dengan sebelumnya, wajahnya terlihat sangat dingin.
Ketika kertas kemasan Yogurppe itu kempes, dia melipatnya dengan rapi dan menyimpannya kembali ke tasnya.
Karena dia meminumnya sekaligus, dia bersendawa kecil.
Kemudian, dia kembali menatapku dengan tajam.
"Hmm...?"
"Eh, ada apa? Kau hari ini terlihat tidak stabil, ya?"
"Tidak ada apa-apa. Mungkin Yuu yang bodoh?"
"Kenapa!? Semua percakapan ini terjadi karena kau... Aduh!?"
Himari mengeluarkan Yogurppe lagi.
Seperti biasa, dia menyodorkan sedotannya ke mulutku, dan saat aku kaget, dia berhasil melarikan diri dari pelukanku.
"Yuu. Minum itu dan tenanglah, lalu datanglah ke kelas, oke?"
"Eh!? Kau mengerti, kan!?"
Dia melambaikan tangannya dengan santai dan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Aku yang tertinggal hanya bisa menghabiskan Yogurppe itu dengan menyeruputnya.
"Dia kenapa sih...?"
Jelas-jelas ada yang tidak beres.
Dia mengolok-olokku seperti biasa, tapi reaksinya kali ini begitu... begitu... begitu... ah, sudahlah, tidak perlu diingat lagi.
Kemasan Yogurppe mengeluarkan suara 'zugu-' saat aku menghabiskannya.
Proses pendinginan selesai. Memang benar, bakteri asam laktat itu luar biasa.
"Aku yang mengantuk, malah dibuat lelah sejak pagi..."
Ini benar-benar tidak perlu.
...Aku tidak bisa mengelak, tapi tadi aku sempat merasa Himari agak imut.
★★★
Setelah sekolah, kami mengadakan uji coba aksesori baru di ruang sains.
Aku menyusun bunga-bunga yang sudah dipersiapkan sejak Minggu di depan Himari dan Enomoto-san.
Bayangan tulip terlihat di dalam larutan.
Bunga tulip yang direndam semalaman dalam larutan etanol yang telah dicampur dengan berbagai bahan.
Aku mengeluarkannya dengan hati-hati dari wadah tertutup.
Melihat itu, Enomoto-san terkejut.
"Waah, putih..."
Tulip-tulip yang sebelumnya berwarna-warni kini telah kehilangan semua pigmennya.
Sambil menyusunnya di atas peralatan, aku menjelaskan.
"Bunga dipercaya layu karena pengaruh komponen tertentu dalam pigmennya. Jadi, kami mengekstraknya dengan larutan etanol. Proses ini juga menghilangkan pigmen, sehingga warnanya menjadi putih seperti ini."
"Lalu, bagaimana dengan warnanya?"
"Kami akan mewarnainya setelah ini."
"Jadi, pertama-tama warnanya dihilangkan, lalu diberi warna lagi?"
"Ya, mungkin terlihat seperti pekerjaan ganda. Tapi kalo itu tidak dilakukan, bunga akan cepat layu meskipun sudah diolah menjadi aksesori bunga."
Teknik pengawet bunga, atau preserved flower, pada dasarnya adalah cara untuk mempertahankan bunga dalam keadaan seperti mati suri agar tahan lama.
Kalo proses ini dilewatkan, tidak peduli seindah apa warnanya, semuanya akan sia-sia.
Tulip-tulip yang telah disusun di atas peralatan harus ditangani dengan hati-hati.
Komponen yang diekstrak oleh etanol juga berperan dalam menjaga kesegaran bunga. Tanpanya, bunga menjadi sangat rapuh.
Aku mencampurkan larutan gliserin untuk menjaga kelembapan dengan tinta untuk pewarnaan.
Setelah proses selesai, batang bunga akan ditusukkan dan dibiarkan menyerap tinta sendiri, tapi...
"Himari. Jangan dorong punggungku, oke?"
Saat aku menoleh sambil tersenyum, Himari membalas dengan senyum manis.
Rasanya seperti dia berkata, "Apa kau pikir aku yang imut ini sangat ingin memperhatikan Yuu? Kau terlalu percaya diri, menjijikkan!"
Memang dia imut, lalu apa maksudnya dia mencoba mengendap-endap di belakangku sambil menggerakkan tangannya seperti itu!?
"Enomoto-san. Tolong ya."
"...Siap."
Himari langsung digagalkan oleh Enomoto-san yang menangkap tengkuknya.
"Hii-chan. Jangan menganggu."
"Gyaaah! Yuu, ini curang kau minta bantuan Enocchi!"
Tidak, itu bukan curang.
Sementara Enomoto-san menahan Himari, aku dengan cepat menyiapkan peralatan.
Aku mencelupkan ujung batang tulip ke dalam beberapa larutan gliserin yang telah diwarnai dengan berbagai warna hangat.
"Besok sekitar waktu ini, warnanya seharusnya sudah meresap."
"Prosesnya cukup panjang, ya..."
Enomoto-san berkomentar dengan nada kagum.
Sebenarnya, mengolah bunga memang memakan waktu.
Ini pun hanya prototipe, jadi banyak langkah yang dilewati.
Untuk produk yang benar-benar akan dikirim sebagai barang dagangan, prosesnya jauh lebih detail dan rumit.
"Yah, biasanya Himari yang suka mengganggu, jadi waktunya jadi lebih lama lagi..."
Aku melirik Himari seperti tadi.
Himari, yang terhalang oleh 'penjagaan' Enomoto-san, meregangkan tubuhnya di meja sebelah.
Dia menghela napas dan menyeruput Yogurppe-nya.
"Haa. Yuu sudah berubah, ya. Dulu kau bilang, 'Kalo sudah 30 tahun, aku akan menikahi Himari nee-chan!' dengan megemasoan..."
"Kapan kau menjadi kakak perempuanku?"
"Kalo hanya berdua, kau selalu manja padaku..."
"Eh, bisakah kau berhenti bicara serius seperti itu? Enomoto-san ada di sini, lho."
"Hmm...?"
Kemasan Yogurppe Himari mengeluarkan suara 'zuzu-'. Aku melirik Enomoto-san.
Dia terlihat bingung, memiringkan kepalanya.
Melihat itu, mulut Himari melengkung dengan senyum licik. ...Aku punya firasat buruk.
"Kalo Enocchi tidak ada, kita bisa bermain 'ciuman percobaan' seperti minggu lalu, kan?"
Darahku langsung terasa dingin.
Tanpa sadar, aku meraih kerah bajunya.
"Apa yang kau bicarakan!?"
Himari tertawa terbahak-bahak.
"Ehh. Tapi kan Yuu bilang itu tidak aneh?"
"Jangan memutar-balikkan maksudku!? Aku bilang itu aneh karena kau yang mengajak 'ciuman percobaan'..."
"Ah, kau baru saja mengakuinya, kan? Minggu lalu, kau bermain 'ciuman percobaan' denganku, kan?"
"JANGAN AMBIL ITU SAJA!!"
Aku tersentak.
Punggungku terasa dingin... seperti ditusuk oleh tatapan tajam yang menusuk.
Saat aku menoleh pelan, Enomoto-san menatapku dengan tatapan tajam.
Ekspresinya datar.
Dia menatapku dengan mata yang sulit dibaca.
Saat aku membuka dan menutup mulut seperti ikan yang terdampar, dia perlahan berdiri.
Dia menggendong tasnya dan menyisir rambut di dekat telinganya.
"Ah, su-sudah waktunya untuk pertemuan. A-aku harus pergi ke klub. ...sa-sampai jumpa."
"Enomoto-san!? Kenapa kau tiba-tiba bicara patah-patah... uwaah!?"
BANG!
Pintu ruang sains ditutup dengan kasar.
Suara sandal yang seperti dipukul-pukul semakin menjauh.
Ah, dia pergi...
Haruskah aku menjelaskan? Tidak, kenapa?
Ini bukan seperti aku ketahuan selingkuh atau semacamnya.
Lagipula, hubungan kami tidak seperti itu.
Jadi, kenapa dia marah?
Ah, itu karena Himari yang iseng... Ah.
"Eh, Himari!?"
"Pfft—haa!! Yuu, kau sangat populer ya!"
Himari yang sedang tertawa terbahak-bahak itu berbaring di atas meja besar yang bisa menampung 6 orang.
Kakinya yang bergerak-gerak membuat sandalnya terbang dan menabrak rak baja.
"Kau pasti balas dendam karena pagi tadi, ya?"
"Benar, ada masalah?"
"Jangan sok santai!"
"Ahaha. Tapi, sungguh, aku tidak menyangka ini akan berjalan sesuai yang aku rencanakan. Ini adalah mahakaryaku sepanjang sejarah. Ah, seharusnya aku merekamnya... pfft!"
Tentu saja itu tidak boleh direkam.
Kalo ini sampai tersebar, aku tidak akan bisa menampakkan wajahku di depan Enomoto-san lagi... eh, tapi Himari terlihat kesakitan sambil memegang perutnya dan gemetar.
"Himari, sampai kapan kau mau tertawa?"
"Tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa berhenti. Perutku sakit..."
"Seberapa parah? Hei, seberapa parah sih?"
"Ini akan lama. Yuu, tolong bantu aku. Ah, aku benar-benar tidak bisa..."
"...Sungguh."
Aku meraih tangannya untuk menariknya dari atas meja.
Lalu, tiba-tiba aku membeku.
Himari yang berbaring telentang di atas meja memegang lenganku.
Dari bibirnya yang indah, terhembus napas hangat dengan aura yang berbeda dari sebelumnya.
Napas Himari terengah-engah, dan kulit putihnya memerah.
Dari kerah seragamnya yang terbuka lebar, terlihat lekukan yang lembut namun jelas. ...Dan juga kain renda halus yang membungkusnya.
"Apa kau mau melihatnya?"
"Eh, eh...?"
Aku menatap wajah Himari dengan tajam.
Matanya yang besar seperti almond dan indah seperti permata berwarna biru laut. Sedikit basah. Tapi wajar, mengingat dia tertawa terbahak-bahak tadi.
Himari menghembuskan napas. Rambut depanku bergerak sedikit.
Aroma manis Yogurppe yang baru saja dia minum tercium.
"Lagipula, Enocchi pasti sudah mengira kita melakukannya, kan? Jadi, bukankah lebih baik kita melakukannya saja?"
"Le-lebih baik? Itu bukan masalah seperti itu."
"Kenapa? Kita kan akan melakukannya juga ketika berusia 30 tahun, kan? Atau kau hanya akan menjadi tamengku untuk perjodohan? Apa kau baik-baik saja dengan itu?"
"Ja-jadi, itu hanya bercanda..."
"Apa kau benar-benar berpikir begitu? ...Padahal kau tidak pernah bercanda seperti itu dengan orang lain."
"Eh..."
Himari menutup matanya dengan lembut.
Dia terlihat tidak berdaya.
Seolah-olah dia menyerahkan semua keputusannya padaku.
Dan seolah-olah ingin memberikan pukulan terakhir, dia berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Kau kan sedang membuat aksesori 'cinta'? Apa kau mau mencobanya denganku?"
"...!?"
Tangannya yang menggenggam lenganku semakin erat.
Aku tidak bisa melepaskan diri dan tanpa sadar membungkuk.
...Tunggu, tunggu. Aku sedang apa? Kenapa aku seperti menundukkan tubuhku seolah-olah ingin menutupinya?
Ini benar-benar terlihat seperti aku serius.
Tapi, aku tidak sedang berpacaran dengan Enomoto-san. Jadi, tidak ada masalah kalo aku melakukannya.
Lagipula, tidak ada yang akan tahu. Ruangan ini hanya berisi kami berdua.
Gedung sekolah ini sendiri sepi pada jam-jam seperti ini. Kalo aku benar-benar ingin, aku bisa... bisa apa?
Ah, aku tahu maksudnya. Tapi, lawan bicaraku adalah Himari, kan?
Kami sahabat, kan?
Selama ini, kami selalu seperti itu.
Kalo hanya mencari pengalaman di saat-saat yang nyaman, itu bukan sahabat, tapi teman dengan manfaat.
Aku tidak pernah menganggap Himari sebagai orang yang sembarangan... Ah, sial! Dia memang imut! Kenapa wajahnya secantik ini!? Tentu saja dia populer! Malah, kenapa selama ini aku memperlakukan Himari seperti teman laki-laki biasa...
Bzzz—, suara getar terdengar.
Mungkin itu Hp. Mungkin notifikasi LINE atau semacamnya.
Itu tidak masalah. Di sekolah ini, membawa Hp diperbolehkan.
Di ruang sains yang sunyi ini, suara itu terdengar sangat keras dan itu wajar.
Masalahnya adalah, suara itu entah kenapa berasal dari antara Himari dan meja.
Tangan kiri Himari. Berbeda dengan tangan kanannya yang menggenggam lenganku, tangan kirinya tersembunyi di balik roknya. ...Eh, tapi sejak tadi Himari terlihat seperti sedang menahan sesuatu dengan ekspresi wajah yang aneh.
"Hei, Himari. Buka matamu."
"Hmm? Ada apa?"
"Tunjukkan tangan kirimu yang kau sembunyikan tadi."
"Waah, apa kau mau mengunci kedua tanganku agar aku tidak bisa bergerak? Ternyata Yuu punya selera seperti itu, ya? Sadis banget~"
Aoi tersenyum manis.
...Pada saat itu juga, suasana panas yang tadi terasa menghilang.
"Oi!"
"Eh!?"
Aku meraih tangan kiri Himari.
Di tangannya ada Hp. Kamer sedang aktif dan menangkap wajah konyolku.
Teriakan keras sekali lagi menggema di ruang sains hari ini.
"HIMARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII"
"Pfft—haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!"
Seberapa parah sih!?
Kau benar-benar tidak berniat merekam video, kan!?
"Himari, apa yang kau inginkan!? Apa rencanamu setelah memegang kelemahanku!?"
"Ahaha. Aku cuma iseng mengganggu Enocchi, tapi ternyata lebih menyenangkan dari yang kuduga. Yuu itu polos, dan selalu memberikan bahan lelucon yang bagus~"
"Terserah aku, tapi jangan main-main dengan Enomoto-san!"
"Yuu terlalu lembut pada Enocchi, ya? Pantas saja laki-laki, makhluk yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya, ya?"
"Diam! Aku tidak mau mendengarnya dari perempuan yang hanya mengandalkan suasana!"
Aku menarik tangan Himari dan mengangkatnya dari atas meja.
Himari berkata, "Ah~, Yuu benar-benar luar biasa...", sambil mengipasi kerah bajunya.
Tiba-tiba aku menyadari kalo sandalnya hilang.
Ketika melihat sekeliling, aku melihatnya itu terjatuh di depan rak.
"Yo, ho!"
Himari melompat dengan satu kaki untuk mengambil sandalnya.
Sementara jantungku masih berdebar kencang, aku membereskan peralatan yang berserakan di meja.
Aku menyimpan tulip yang sedang dalam proses pewarnaan ke rak baja.
Aku memastikannya diamankan dengan peralatan agar tidak goyah jika terjadi gempa atau ada siswa yang tidak sengaja menabraknya.
"...Aku bilang tidak apa-apa, jadi cepatlah lakukan. Bodoh."
Aku hampir menjatuhkan peralatan karena kaget.
Aku menoleh, tapi Himari sedang asyik bermain dengan sandalnya yang terjatuh. Dia bahkan tidak melihat ke arahku.
"...Himari, apa kau bilang sesuatu?"
"Apa~?"
"Ti-tidak, tadi, kau..."
"Hmm? Yuu, kau terlalu memikirkan Enocchi sampai mendengar suara aneh, ya?"
Dia tersenyum manis.
Senyumnya memiliki tekanan aneh, dan aku tanpa sadar terbata-bata.
Ya, mungkin itu hanya halusinasi.
Karena jika itu bukan salah dengar...
"Penakut. Tidak punya nyali. Bodoh bunga."
"Himari, kamu pasti mengataiku, kan!?"
"Kyaa. Histeria pria itu menjijikkan~"
Dia memeluk tasnya dan segera pergi dari ruang sains.
"Kau pulang naik apa hari ini!?"
"Hari ini aku naik bus~"
Dia melambaikan tangannya dengan riang dan menghilang ke arah loker sepatu.
Aku yang tertinggal sendirian duduk di meja dan memegangi kepalaku dengan lelah.
...Dia benar-benar ingin apa sih?


