Kamu saat ini sedang membaca Hatsukoidatta Dōkyūsei Ga Kazoku Ni Natte Kara, Osananajimi Ga Yakeni Amaete Kuru volume 1 chapter 3. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
GRATIN JAMUR / PERGI BERSAMA / GADIS KENANGAN
Sudah sekitar satu minggu berlalu sejak hari aku menerima pengakuan dari Tsukino.
Aku membuat janji yang agak berlebihan, seperti "Aku akan berusaha semampuku untuk memenuhi permintaan Tsukino", tapi hidupku tidak banyak berubah sejak saat itu.
Kalo ada perubahan, mungkin itu adalah kenyataan kalo akhir-akhir ini aku memasak makan malam di rumah Tsukino setiap hari.
Jadi, setelah pulang sekolah, waktu yang paling sering aku bertemu Hinata adalah setelah selesai memasak makan malam untuk Tsukino dan pulang ke rumah.
"Aku pulang~"
"Ah, selamat datang. Kau sudah bekerja keras memasak untuk Tsukino-chan."
Begitu aku tiba di rumah, Hinata yang mengenakan apron muncul dan menyambutku.
... Entah kenapa, aku masih merasa tidak biasa diberi ucapan 'Selamat datang.'
Sebelum aku mulai hidup sendiri, aku selalu yang mengucapkan 'Selamat datang' kepada ayahku.
Di sisi lain, setiap kali Hinata mengucapkan 'Selamat datang', dia selalu tersenyum lembut dengan wajah yang riang.
Seolah-olah dia sangat senang bisa mengucapkan kata-kata itu.
"Setelah pulang sekolah, kau langsung memasak untuk Tsukino-chan, pasti melelahkan, ya? Kalo kau mau, aku bisa membantu memasak untuk Tsukino-chan juga."
"Tidak, tidak perlu. Aku memasak karena aku ingin Tsukino makan masakanku."
"Oh, aku mengerti perasaan itu. Yuto-kun memang seperti 'pengurus' Tsukino-chan. ... Oh ya, makanannya masih butuh waktu sebentar lagi. Apa kau mau mandi dulu sambil menunggu?"
"Eh, kau sudah menyiapkan air mandi? Padahal kamu sedang memasak, Hinata...?"
"Aku sudah terbiasa hidup seperti ini sejak SMP. Kalo sudah terbiasa, semuanya menjadi mudah."
"O-oh, begitu. Kalo begitu, aku mandi dulu saja..."
Begitu aku masuk ke kamar mandi dan berendam di bak mandi, kehangatan langsung menyebar hingga ke tulang sumsum, dan aku mengeluarkan napas lega.
Musim dingin sudah hampir tiba, dan ternyata tubuhku lebih kedinginan dari yang kuduga.
Aku hampir merasa seperti meleleh.
(Pulang ke rumah, air mandi sudah siap, dan langsung bisa bersantai di bak mandi...)
Ini yang disebut surga, bukan?
Kalo membandingkannya dengan hidup sebelumnya, di mana aku harus mengisi bak mandi sendiri setiap kali ingin mandi, kemewahan seperti ini terasa hampir menakutkan.
Sebenarnya, sejak tinggal bersama Hinata, tingkat kualitas hidupku meningkat drastis.
Dulu, saat aku masih hidup sendiri, kalo aku sibuk dengan urusan OSIS atau PR, aku sering malas menyiapkan air mandi dan hanya mandi dari shower.
Aku juga sering menunda-nunda mencuci pakaian.
Tapi, sejak Hinata datang, aku bisa berendam di bak mandi setiap hari, dan mesin cuci pun selalu dijalankan setiap hari.
Sejujurnya, hidup bersama Hinata terlalu nyaman.
Aku bahkan mulai merasa khawatir kalo tubuhku akan menjadi tidak bisa hidup tanpa Hinata.
"Tadi Hinata bilang aku adalah 'pengurus' Tsukino, tapi sepertinya aku malah yang diurus oleh Hinata,..."
Setelah selesai mandi, di meja makan sudah terhidang makan malam yang siap disantap.
Menu utamanya adalah gratin jamur yang lembut dan penuh dengan jamur.
"Wah, hari ini menunya gratin. Kau benar-benar serius, ya."
"Memang, saat musim gugur, harga jamur shiitake dan jamur enoki turun. Selain itu, cuaca mulai dingin, jadi aku pikir makanan hangat seperti ini lebih cocok."
Menu yang disajikan benar-benar sempurna, bahkan menggunakan bahan-bahan musiman.
"...Hei, apa sebaiknya aku juga membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Aku merasa agak bersalah karena semua ini hanya dibebankan padamu, Hinata."
"Tidak apa-apa, kok. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Justru, aku senang kalo aku bisa membuat seseorang tersenyum berkat usahaku. Bahkan, aku ingin kau membiarkan dirimu diurus dengan baik."
Memang, Hinata adalah tipe gadis seperti itu.
Dia adalah sosok yang tulus ingin berguna bagi orang lain.
Karena itulah, sekarang dia menjadi ketua OSIS yang mendukung seluruh siswa di sekolah.
...Hmm.
Tapi, aku juga ingin melakukan sesuatu untuk Hinata.
Sambil merenung, aku menyelesaikan makan malam (gratinnya sangat lezat), dan Hinata berdiri di dapur untuk mencuci piring.
Sepertinya Hinata sangat serius dalam hal yang berkaitan dengan memasak, dan meskipun aku menawarkan diri untuk mencuci piring, dia tetap tidak mengizinkannya.
Melihat punggungnya, tiba-tiba aku mendapat ide.
Ya, ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk Hinata.
"Hei, Hinata. Bagaimana kalo kita membeli mesin pencuci piring?"
Hinata menoleh ke arahku dengan wajah bingung.
"Kau sudah memasak untuk kita, jadi menurutku mencuci piring bisa diserahkan pada mesin. Itu akan menghemat waktu, kan?"
"Mesin pencuci piring...? Umm, itu tidak perlu, kok. Kau tidak perlu mengeluarkan uang hanya untukku."
"Hinata, kau mencuci piring sebelum berangkat sekolah, kan? Coba bayangkan, kalo ada mesin pencuci piring, kau hanya perlu memasukkan piring, dan saat pulang, semuanya sudah bersih mengkilap."
"Memasukkan saja, lalu semuanya bersih mengkilap...!?"
Bagus, dia mulai tertarik.
"Selain itu, aku punya sedikit tabungan, jadi aku bisa membeli peralatan rumah tangga seperti ini."
Aku menerima 30 ribu yen setiap bulan dari orang tua Tsukino sebagai imbalan karena memasak untuknya.
Setelah digunakan untuk belanja bahan makanan, masih ada sisa yang kusimpan selama 6 bulan terakhir.
Ini bukanlah pembelian yang sembrono.
"Sebenarnya, aku sempat memikirkan untuk apa uang ini akan aku gunakan, tapi...kalo uang itu bisa digunakan untuk Hinata, rasanya itu tidak buruk juga. Kalo itu bisa membuat hidupmu sedikit lebih mudah, aku akan sangat senang."
"...Untukku?"
Hinata mengucapkan kata-kata itu dengan suara pelan, lalu tersenyum malu-malu.
"Begitu, ya. Kalo begitu, aku akan menerima tawaranmu dengan senang hati. Ehehe, mesin pencuci piring..."
"Kalo begitu, kita harus pergi membelinya akhir pekan ini. Sepertinya untuk membeli peralatan sebesar mesin pencuci piring, kita harus naik kereta ke pusat perbelanjaan—"
Sampai di situ, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.
Selama ini, aku hanya pernah pergi berbelanja bahan makanan bersama Hinata sepulang sekolah.
Tapi pergi berdua dengan Hinata di hari libur, itu benar-benar pertama kalinya.
Kemudian, hari liburpun tiba.
Kami pergi ke toko elektronik terbesar di prefektur, yang berjarak sekitar 20 menit dengan kereta dari rumah kami.
Toko itu ramai dikunjungi pelanggan, terutama keluarga.
Hari ini, Hinata mengenakan kemeja putih dengan blus yang dilapiskan di atasnya, serta rok panjang hitam.
Meskipun terlihat kasual, pakaian itu sangat cocok dengan citra Hinata.
Sejujurnya, dia terlihat sangat imut, sampai-sampai aku bisa menatapnya selamanya.
"Yuto-kun...? Ada apa? Wajahmu terlihat agak menyeramkan..."
"Eh!? Ah, tidak, tidak ada apa-apa, kok?"
Aku hanya berusaha menahan diri agar tidak tersenyum lebar, tapi ternyata wajahku terlihat seperti itu...
Sementara itu, pakaianku hanya ku pilih secara asal.
Aku sengaja tidak berusaha terlalu keras dalam berpakaian karena aku tidak ingin terlalu memikirkan Hinata sebagai lawan jenis.
Kami ber-w berjalan di dalam toko untuk mencari mesin pencuci piring yang kami inginkan.
Di tengah perjalanan, Hinata memandang wajan dan penggiling daging dengan mata yang penuh perhatian, seperti seorang ahli.
Sungguh, dia sangat serius dalam hal memasak, berbeda denganku yang hanya sekadar menikmati.
Saat kami tiba di area yang dipenuhi mesin pencuci piring, mata Hinata bersinar seperti anak kecil yang sedang mencari hadiah.
"Mesin impian yang bisa mencuci piring secara otomatis, ada begitu banyak...! Yuto-kun, aku benar-benar terkesan dengan kemajuan teknologi manusia saat ini!"
"Aku justru terkesan dengan reaksimu yang begitu antusias terhadap mesin pencuci piring, Hinata."
Sekarang, masalahnya adalah memilih mesin pencuci piring yang mana.
Bukannya sombong, tapi ini adalah pertama kalinya dalam hidupku membeli mesin pencuci piring.
Baik aku maupun Hinata sama-sama melihat dengan serius deskripsi produk yang tertera.
"Yang akan menggunakannya hanya aku dan Hinata, jadi ukuran kecil seharusnya sudah cukup, kan?"
"Meski begitu, pilihannya banyak sekali. ... Wah, luar biasa. Mesin pencuci piring ini bisa melakukan sterilisasi lengkap dengan suhu tinggi."
Hinata dengan ekspresi serius mulai mengevaluasi satu per satu.
Setelah beberapa saat, dia mengangguk kecil dan menunjuk mesin pencuci piring di depannya.
"Ya, aku sudah memutuskan. Aku rasa ini yang terbaik."
"...Hmm?"
Yang dipilih Hinata adalah mesin terkecil dan model paling lama di antara semua produk yang ada.
"Kau yakin dengan yang itu? Ada banyak model lain dengan fitur yang lebih canggih, lho."
"Tidak perlu yang seperti itu. Aku kan masih pelajar SMA, mesin pencuci piring yang terlalu mewah tidak cocok untukku."
Ada apa ini? Tadi dia terlihat sangat bersemangat memilih, tapi sekarang...
Dengan perasaan penasaran, aku menatap mesin pencuci piring itu...
Ah, begitu rupanya.
Mungkin, alasan Hinata memilih ini adalah karena harganya.
Mesin ini adalah yang termurah di antara semua produk yang ada.
"Mungkin ini hanya perasaanku, tapi sepertinya Hinata tidak benar-benar menyukai mesin ini, kan? Kau hanya memilih yang termurah karena tidak ingin merepotkanku, ya?"
"Eh!? Ti-Tidak seperti itu, kok!"
"Reaksimu sangat mudah terbaca. Tidak perlu terlalu khawatir. Aku yang mengusulkan untuk membelinya, kan?"
"...Tapi, aku merasa tidak enak karena membuatmu mengeluarkan uang untukku. Aku kan tinggal di rumahmu, Yuto-kun."
Begitu, ya. Itu sangat seperti Hinata.
Hinata adalah orang yang selalu baik kepada siapa pun, dan karena itu, dia selalu mengutamakan orang lain di atas dirinya sendiri.
Dia adalah tipe orang yang tidak ragu berkorban demi orang lain.
Itulah esensi dari Hinata.
Aku bahkan mengaguminya karena itu...tapi, sejujurnya, aku ingin dia sedikit lebih memanjakan diri dan bersikap egois.
Kita adalah keluarga, bukan?
"Sekadar bertanya, apa kau benar-benar tidak menginginkan mesin pencuci piring yang lebih bagus?"
"Ada sih, tapi aku merasa tidak enak memintamu untuk membelikannya..."
"Tidak apa-apa, bagaimana kalo kita lihat-lihat dulu.?"
"...Yang ini."
Hinata menunjuk mesin pencuci piring yang sedikit lebih besar dari yang sebelumnya.
Sekilas, desainnya terlihat lebih modern dan elegan.
Itu adalah kesan pertama yang muncul di benakku.
"Wah, sepertinya ada banyak fitur yang ditawarkan."
"Iya! Fitur utamanya adalah pembersihan dengan aktivasi enzim dan sterilisasi suhu tinggi, jadi hasilnya sangat bersih. Selain itu, mesin ini juga sangat senyap, jadi tidak terlalu berisik! Dan, ada lagi—"
Dengan ekspresi serius yang seolah-olah sedang mengungkapkan sesuatu yang penting, Hinata melanjutkan:
"Tidak hanya piring—panci kari pun bisa dicuci dengan mesin ini!"
"Itu luar biasa!"
Ini benar-benar kata-kata yang penuh kekuatan.
Siapa pun yang pernah membuat kari pasti tahu betapa sulitnya membersihkan noda membandel dari panci.
Apalagi Hinata, yang sangat menyukai memasak, pasti sangat menginginkan mesin seperti ini.
Sambil memikirkan hal itu, mataku tertuju pada label harga.
Harganya benar-benar jauh lebih tinggi daripada mesin-mesin lainnya.
"Ugh...!?"
"Makanya aku bilang, kan? Aku merasa tidak enak memintamu untuk membelikannya."
Hinata tersenyum kecut, sementara aku masih terpaku melihat harga tersebut.
Aku lupa. Semakin bagus performa sebuah peralatan elektronik, semakin tinggi harganya. Itu adalah hukum alam.
Tapi, aku tidak menyangka harganya akan sebesar ini...!
Jujur saja, harganya lebih dari 2 kali lipat anggaran yang kusiapkan.
"Aku senang dengan niatmu, Yuto-kun, tapi sepertinya ini terlalu berat. Lebih baik kita pilih yang tadi saja, ya?"
Hinata tersenyum tanpa sedikit pun rasa penyesalan.
Pasti dia tidak pernah membayangkan bisa memiliki barang semahal ini.
Tapi Hinata mengatakan kalk inilah yang paling dia inginkan.
Kalo begitu—
"Maaf, aku perlu pergi sebentar. Tunggu di sini, ya?"
Meninggalkan Hinata yang terlihat bingung, aku pergi dari area elektronik dan menelepon.
Aku menelepon ayahku.
Untungnya, teleponnya langsung tersambung.
『Apa yang terjadi? Kau tiba-tiba menelponku, pasti ada masalah, ya?』
"Ada sesuatu yang ingin kuminta. Aku ingin membeli mesin pencuci piring yang agak mahal, tapi uangku tidak cukup. Maaf, tapi bisakah aku meminjam setengahnya darimu?"
『Mesin pencuci piring? Kenapa tiba-tiba kau butuh itu... Ah, tunggu. Apa itu karena Hinata yang menginginkannya?』
"Ya, benar."
Ayahku mengangguk pelan di ujung telepon, lalu berkata,
『Anakku, jangan bilang hanya meminjam setengah. Untuk peralatan rumah tangga seperti ini, biar aku yang bayar semuanya.』
"Tidak, aku menghargai niatmu, tapi kali ini aku ingin memberikannya sebagai hadiah. Hinata tidak hanya memasak, tapi juga mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku merasa harus membalas kebaikannya."
『Begitu ya... Aku lega mendengar kalian ber-2 rukun.』
Yah, meskipun hidup bersama Hinata masih membuatku gugup kadang-kadang.
『Kalo begitu, anggap saja setengah dari jumlah itu sebagai pinjaman tanpa batas waktu. Kau bisa mengembalikannya kapan saja, atau tidak sama sekali.』
Setelah mengatakan itu, telepon pun terputus.
Aku harus berterima kasih kepada ayahku secara langsung saat dia kembali ke Jepang.
Ketika aku kembali ke area elektronik, Hinata masih menatap mesin pencuci piring itu dengan penuh perhatian.
Sepertinya dia begitu terpaku sehingga tidak menyadari kehadiranku.
"Jadi, sebenarnya kau sangat menginginkannya, tapi hanya menahan diri karena aku ada di sini, ya...?"
"Hya!? Yu-Yuto-kun!? Bu-Bukan begitu! Aku hanya berpikir kalo bentuk mesin ini sangat indah, itu saja!"
"Kalo begitu, mulai sekarang kau bisa menikmati keindahan mesin ini setiap hari. Aku baru saja berbicara dengan ayahku, dan dia setuju untuk membayar setengahnya."
"Eh...? Be-Benarkah?"
Bibir Hinata mengendur dengan senang, tapi segera setelah itu dia menundukkan wajahnya dengan ekspresi bersalah.
"Tapi, apa tidak apa-apa menerima sesuatu yang semahal ini?"
"Kenapa tidak? Menurutku, ini justru investasi yang bagus. Karena, siapa tahu kita akan terus hidup bersama untuk waktu yang lama."
Hinata mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut.
"Bahkan setelah Hinata lulus SMA, mungkin kau akan tetap tinggal di rumahku, kan? Kalo begitu, lebih baik kita membeli mesin pencuci piring yang bagus agar hidupmu sedikit lebih mudah."
Dengan rasa malu yang tersembunyi, aku tersenyum kecut dan berkata,
"Hinata sudah seperti keluarga bagiku. Jadi, membeli ini tidak terasa seperti pemborosan sama sekali."
Hinata tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar.
"Begitu ya. Iya, kau benar... Terima kasih. Aku pasti akan merawat mesin pencuci piring ini dengan baik."
"...Ka-kau tidak perlu berterima kasih. Aku selalu menikmati masakanmu, kok."
Meskipun Hinata sudah seperti keluarga, aku masih merasa gugup melihat senyumannya.
Tapi, biarkan aku berdalih, sebenarnya ini sudah jauh lebih baik.
Kalo ini terjadi saat aku masih jatuh cinta padanya, mungkin tubuhku akan terasa lebih panas.
"Hei, bagaimana kalo kita berkeliling toko sebentar sebelum membeli mesin pencuci piring ini?"
Itu akan sangat membantu.
Aku perlu mengambil uang nanti, dan aku juga ingin menikmati waktu berbelanja bersama Hinata sedikit lebih lama.
Setelah meminta toko untuk menyimpan mesin itu dan mengambil uang, kami memutuskan untuk berkeliling toko.
Ternyata toko ini tidak hanya fokus pada elektronik, tetapi juga memiliki koleksi furnitur yang tidak kalah dengan toko khusus.
"Karena kita baru mulai hidup bersama, mungkin kita bisa mengganti beberapa barang. Misalnya, tirai."
"Eh... Boleh?"
"Rumahku sebelumnya hanya dihuni oleh pria, jadi mungkin tidak sesuai dengan seleramu, kan? Karena kita akan melihatnya setiap hari, ini kesempatan yang bagus. Apa kau punya warna favorit?"
"Begitu ya... Ah! Warna biru muda ini mungkin bagus. Seperti sedang berada di dalam laut."
Sambil membelai tirai, Hinata tersenyum riang ke arahku.
"Kalo begitu, bagaimana kalo kita membelinya bersama-sama? Kan kita akan menggunakannya berdua."
Mungkin karena kita baru mulai hidup bersama, rasanya menyenangkan memilih dekorasi bersama Hinata.
Seperti menambahkan warna pada kanvas putih bersih bersama-sama.
"Yuto-kun, bagaimana kalo kita menaruh tanaman hias di kamar? Kau tidak masalah, kan?"
"Ah, bagaimana ya? Aku tidak membencinya, tapi yang terlalu besar mungkin agak merepotkan. Kalo yang kecil dan bisa ditaruh di rak, kita bisa merawatnya bersama, bagaimana?"
"Itu bagus! Aku selalu menginginkan hal seperti ini. Kalo begitu, bagaimana kalo kita bergantian menyiramnya setiap hari? Aku bisa melakukannya sendiri, tapi aku ingin merawatnya bersama Yuto-kun—"
Tiba-tiba, Hinata yang sebelumnya bersemangat, mendadak diam.
Ada apa? Wajahnya terlihat agak memerah.
"Ma-Maaf. Aku tiba-tiba merasa malu."
"Malu...?"
"I-Iya. Entah bagaimana, saat membicarakan kehidupan baru bersama Yuto-kun seperti ini, aku merasa...seperti pasangan yang tinggal bersama."
"Eh?"
"Ti-Tidak apa-apa! Lebih baik kita pergi ke sana, bagaimana!?"
"...??"
Aku bingung. Hinata terlihat sangat aneh.
Dengan gerakan kaku seperti robot, kami meninggalkan area furnitur.
Tapi, toko elektronik saat ini memang luar biasa.
Ada begitu banyak barang yang tersedia.
Tiba-tiba, Hinata berhenti di suatu area.
Itu adalah sudut boneka di area mainan.
"Hinata, apa kau punya hobi mengoleksi boneka?"
"Tidak sampai segitunya. Tapi, ada satu karakter favoritku, jadi setiap kali ke tempat seperti ini, aku selalu mencari apakah dia ada di sini. ...Ah, ada!"
Hinata mengambil boneka berbentuk Shiba Inu yang bulunya halus seperti bulu dandelion.
...Eh? Aku merasa pernah melihat karakter ini—.
"Apakah ini... Fuwashiba?"
"Yuto-kun, kau ingat? Karakter ini sangat populer saat kita masih kecil."
"Ah, iya! Nostalgia sekali. Semua gadis di kelas dulu punya barang-barang bergambar Fuwashiba."
Dulu, anime Fuwashiba sangat populer.
Kesetiaan anjing ini kepada majikan perempuannya sangat menghangatkan hati, terutama di kalangan gadis-gadis.
Dengan slogan 'Peluk aku kapan pun kau merasa kesepian', banyak gadis yang memeluk boneka Fuwashiba.
Tapi, seperti semua tren, pasti ada akhirnya.
Setiap kali karakter baru muncul, Fuwashiba semakin jarang terlihat, dan akhirnya dilupakan oleh banyak orang.
Industri ini memang tidak pernah benar-benar tenang, meskipun karakter-karakternya terlihat santai.
"Tapi, bisa tetap menjadi boneka seperti ini sampai sekarang, hebat ya, Fuwashiba."
"Dari dulu aku sudah menyukainya, dan sampai sekarang aku masih mendukungnya. Aku juga dulu sangat menyukai anime Fuwashiba saat masih kecil. Karena aku selalu sendirian, Fuwashiba adalah satu-satunya hiburan yang kumiliki."
".....Selalu sendirian?"
"Ah—umm, itu cerita masa lalu, tahu? Saat masih kecil, aku tidak punya banyak teman."
Aku terkejut. Hinata, yang dipanggil sebagai dewi matahari dan dikagumi oleh semua orang, ternyata dulu memiliki sedikit teman saat kecil.
Dengan senyum ceria yang tetap terpancar, Hinata mengelus boneka itu.
Mungkin dia ingin memeluknya, tapi karena ini barang dagangan, dia menahan diri.
"Fuwashiba itu, meski dia kecil, dia sangat gigih. Dia bahkan melakukan petualangan besar ke kota sebelah hanya untuk menemukan barang yang hilang milik seorang gadis. Sebagai anak kecil, aku sangat terkesan dengan usahanya."
"Kalo aku men dengar cerita itu, rasanya itu mirip dengan Hinata."
"...Dengan ku?"
"Hinata juga selalu memikirkan orang lain, kan? Kau menjadi ketua OSIS untuk semua orang, atau melakukan pekerjaan rumah untukku, kau bisa melakukan hal-hal seperti itu dengan mudah. Menurutku, kau tidak kalah gigih dari Fuwashiba."
"Ahaha, benarkah? Ini pertama kalinya ada yang bilang begitu. Jadi, aku seperti Fuwashiba, ya? Kalo begitu—"
Ekspresi Hinata berubah menjadi senyum nakal, seperti kakak perempuan yang sedang bercanda.
"Kalo Yuto-kun merasa kesepian, mau mencoba memelukku seperti Fuwashiba?"
"Eh—"
Seketika, pikiranku kosong.
Aku memeluk Hinata—.
Hanya ada keheningan selama beberapa detik.
Tak lama kemudian, pipi Hinata memerah dengan cepat.
"N-nanti dulu! Ini hanya sebagai kakak dan adik, oke!? Bukan seperti pasangan kekasih atau apa, tapi lebih seperti keluarga yang saling bercanda, begitu!"
"Ah...ya, ya, tentu saja."
Tidak, kalo dipikir, itu wajar.
Tidak mungkin kami bisa melakukan hal seperti itu sebagai lawan jenis, jadi seharusnya aku juga membalasnya dengan candaan seperti, "Haha, dasar kau ini."
...Tapi tetap saja, aku tidak bisa tidak melihat Hinata sebagai teman sekelas.
Tapi, Fuwashiba, ya.
Harga boneka itu 2000 yen.
Ya, aku punya cukup uang untuk itu.
"Kalo tidak merepotkan, maukah kau menerima boneka itu? Aku ingin Hinata menerimanya."
"....Boneka ini, untukku?"
Hinata terlihat bingung sejenak, lalu wajahnya memerah dan dia melambaikan tangannya dengan cepat.
"Eh—ehhh!? Ti-tidak usah repot-repot seperti itu! Aku merasa tidak enak padamu, Yuto-kun, dan juga aku agak malu...!"
"Kau tidak perlu khawatir. Ini hal yang biasa, kan?"
Aku mencoba tersenyum secara alami kepada Hinata.
"Kalo ini antara teman sekelas, mungkin ada makna khusus. Tapi kita sudah seperti keluarga. Jadi, terimalah hadiah kecil ini dari adikmu dengan lapang dada."
Hinata membuka matanya lebar-lebar, terlihat terkejut.
Ya, Hinata bukan lagi cinta pertamaku.
Dia adalah kakak perempuanku yang sangat baik dan manja terhadap keluarga.
Jadi, memberikannya boneka seperti ini tidak masalah, kan?
"Selain itu, banyak gadis yang suka boneka. Jadi, ini hadiah yang mudah diberikan."
"....Hmm. Rasanya ini bukan pertama kalinya, ya? Apa ini berdasarkan pengalamanmu kalo boneka efektif untuk membuat gadis senang?"
"Ti-tidak, bukan seperti itu."
Tapi, kata-kata Hinata juga tidak sepenuhnya salah.
Aku masih ingat, dulu ada seorang gadis yang sangat senang ketika aku memberikannya boneka.
Kalo dipikir-pikir, boneka yang kuberikan saat itu juga adalah Fuwashiba.
Sepertinya hidupku memang ada hubungannya dengan Fuwashiba.
"Terima kasih, ya. Aku memang sedang berpikir untuk membeli boneka ini, jadi aku senang menerimanya."
"Oh, bagus kalo begitu. Fuwashiba memang cukup lucu."
"Eh, apa Yuto-kun juga tertarik?"
“Ya, sedikit sih. Karakternya mengingatkanku pada masa lalu, dan aku berpikir mungkin satu boneka di kamar tidak masalah. Tapi, sebagai laki-laki, aku agak malu membawanya ke kasir. Jadi, kali ini aku urungkan saja."
"Tapi, kalo ini hadiah dari orang lain, Yuto-kun tidak perlu malu, kan?"
Setelah mengatakan itu, Hinata memberikan satu boneka Fuwashiba lagi padaku.
"Ini hadiah dariku."
"Eh? Dari Hinata, untukku...?"
“Aku melihat Yuto-kun sedikit tertarik. ...Apa itu merepotkan?"
"Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya terkejut. Tapi, aku merasa agak bersalah karena membuatmu membeli boneka yang sama."
"Aku justru ingin kau menerimanya. Aku selalu ingin memiliki barang yang sama denganmu, Yuto-kun. Kau tahu, seperti pakaian atau aksesori yang dipasangkan dalam keluarga, kan? Aku selalu merasa itu menyenangkan."
Ah, begitu rupanya. Itulah alasan Hinata ingin memberikanku boneka Fuwashiba ini.
Bagi Hinata, ini seperti bukti kalo kami adalah keluarga.
"Oh, begitu. Kalo begitu, aku harus merawat boneka ini dengan baik."
".....Apa kau mau menerimanya?"
"Ya, aku memang tertarik dengan Fuwashiba. Selain itu, kalo Hinata ingin kita memiliki barang yang sama, aku tidak masalah. Menuruti keinginan kakak perempuan adalah tugas adik, kan?"
Hinata terlihat terkejut sejenak, lalu tak bisa menahan perasaan senangnya dan memeluk boneka Fuwashiba itu erat.
"Terima kasih, Yuto-kun. ...Ehehe, kita punya barang yang sama~"
Senyumnya polos dan ceria, seperti gadis kecil yang tak berdosa.
Aku baru menyadari kalo Hinata bisa tersenyum seperti ini.
Bukan sebagai teman sekelas, bukan juga sebagai ketua OSIS—mungkin ini adalah senyum seorang kakak yang memendam kerinduan akan keberadaan keluarga.
Untungnya, pemasangannya mudah, dan mesin cuci piring yang dipesan hari itu bisa langsung dipasang di rumah kami.
Meski awalnya Hinata bilang yang paling sederhana saja sudah cukup, dia dengan gembira menatap mesin cuci piring yang sedang membersihkan peralatan masak dan piring.
"~~♪"
"Hinata, kau sudah menatapnya lebih dari 10 menit. Kita membeli ini untuk menghemat waktu mencuci piring, tapi malah menghabiskan waktu menatapnya. Itu agak kontradiktif."
"Ini pertama kalinya aku melihat mesin yang bisa mencuci piring, jadi aku merasa senang. Kita akan sering menggunakannya mulai sekarang, kan? Hei, nama apa yang harus kita berikan untuk mesin ini?"
"Kau sudah begitu terikat sampai ingin kau ingin memberinya nama... Tapi, aku senang kau menyukainya. Kalo begitu, aku akan mandi dulu."
Aku tersenyum kecut melihat Hinata yang masih menatap mesin cuci piring, lalu kembali ke kamarku untuk mengambil pakaian ganti.
Saat aki mengambil pakaian dalam dan piyama, mataku tertuju pada sesuatu yang tidak biasa.
Boneka Fuwashiba yang diletakkan di samping bantal.
Memang, untuk kamar anak SMA laki-laki, boneka itu terlalu imut dan terasa tidak cocok.
"Aku tidak menyangka kalo aku akan memberikan boneka Fuwashiba lagi kepada seorang gadis."
Yah, meskipun saat itu gadisnya masih seorang anak SD.
Aku masih ingat. Gadis itu pendiam, pemalu, dan selalu menunduk.
Aku tidak tega melihatnya seperti itu, dan aku sangat ingin berteman dengannya.
Aku selalu berada di sisinya meskipun dia gugup, dan mencoba mengajaknya bicara agar kami bisa menjadi teman.
Saat aku memberikannya boneka Fuwashiba yang dia sukai, dia sangat senang.
Aku juga masih ingat betapa imut senyumannya yang pertama kali kulihat saat itu.
...Sungguh, itu adalah kenangan indah yang sangat berkesan.
Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi.
Tapi, siapa sangka hari ini. Aku memberikan boneka Fuwashiba untuk kedua kalinya dalam hidupku.
"....Kalo dipikir-pikir lagi, ini pertama kalinya aku memberikan hadiah kepada Hinata."
Sebelumnya, aku tidak punya keberanian untuk melakukan hal seperti itu.
Tapi, begitu kami menjadi keluarga, tiba-tiba saja aku bisa melakukannya dengan mudah.
Sungguh hal yang aneh.

