Kamu saat ini sedang membaca Hatsukoidatta Dōkyūsei Ga Kazoku Ni Natte Kara, Osananajimi Ga Yakeni Amaete Kuru volume 1 chapter 5. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
PERUBAHAN PADA HINATA / KARENA KITA KELUARGA / MINGGU INI
Sudah sekitar satu bulan sejak aku mulai tinggal bersama Hinata, dan ini terjadi saat istirahat siang di sekolah.
Saat itu, kami sedang makan siang di ruang OSIS.
Hari itu, semua anggota OSIS yang sedang makan terlihat gelisah. Alasannya hanya satu. Yang mengejutkan, hari ini Hinata datang ke ruang OSIS.
Pada dasarnya, Hinata jarang memiliki waktu untuk datang ke ruang OSIS karena hampir setiap hari dia diajak makan siang oleh teman-temannya.
Jadi, pada hari-hari langka ketika dia datang ke sini untuk makan, semua anggota OSIS sangat senang bisa makan bersama Hinata.
Tapi, hari itu, Hinata hampir tidak makan dan sibuk menulis di dokumen dengan penuh konsentrasi.
"Ketua Hinata, kelihatannya sangat sibuk ya~. Mungkin dia buru-buru belajar untuk ujian kecil siang ini?"
Yarihara, yang mengucapkan itu, menggigit sandwich yang dia pegang.
Biasanya, aku makan siang bersama Tsukino atau Yarihara, tapi hari ini Tsukino sedang makan di tempat lain bersama teman-temannya.
"Sepertinya tidak. Yang dilakukan Hinata adalah persiapan untuk Festival Malam Suci."
"...Festival Malam Suci?"
"Yah, itu semacam festival budaya di sekolah kita. Diadakan setiap tahun pada hari Natal, dan OSIS bertanggung jawab untuk mengelolanya."
"Oh, iya! Namanya memang begitu ya! Festival Malam Suci, ya? Aku sangat menantikannya!"
Kemudian, Yarihara tiba-tiba menyadari sesuatu,
"Tapi, ini masih awal November, kan? Masih ada lebih dari sebulan lagi..."
"Itu karena Festival Malam Suci adalah acara besar di sekolah ini."
"Hmm. Tapi, dia kan dewi matahari kita. Pasti semuanya akan berjalan lancar, kan?"
"...Semoga saja."
Festival Malam Suci adalah acara terbesar di sekolah ini.
Sebagai ketua OSIS, tanggung jawab besar ada di pundak Hinata.
Aku sudah melihat betapa beratnya tahun lalu.
Kuharap Hinata tidak sampai jatuh sakit...
"Tapi, ketua Hinata juga terlihat sangat sibuk. Dia bahkan tidak sempat makan siangnya. .........?"
Yarihara menatap kotak makan Hinata dengan penasaran.
Hinata sedang mencoba makan sambil bekerja, jadi kotak makannya terbuka.
"Eh, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi...bento ketua Hinata dan Yuto Senpai, isinya terlalu mirip, ya?"
...Jir.
Aku berhenti sejenak, lalu mulai makan dengan kecepatan tinggi!
"Eh! Senpai, kenapa tiba-tiba makan dengan cepat sekali? Kamu pasti mencoba menghilangkan bukti, kan? Berhenti dulu!"
"Guk...! Oke, oke, berhenti dorong sandwichmu ke mulutku!"
Biasa saja, dia mendorong makanannya ke mulutku hanya karena tidak ingin aku makan siang.
"Sebenarnya agak sulit untuk mengatakannya, tapi Hinata yang membuatkan bekal untukku. Aku tinggal sendiri, dan Hinata sudah membuat bekal untuk dirinya sendiri setiap hari, jadi dia sekalian membuatkanku juga."
Sepertinya mereka mendengar pembicaraanku, karena hampir semua anggota OSIS di ruangan itu membeku.
Hanya Hinata yang masih asyik menulis di dokumen, seolah tidak peduli dengan sekitarnya.
Aku sempat berpikir, tapi ya itu dia. Mirip sekali dengan hyena di savana.
Dengan sengaja, aku mengatakannya dengan suara yang cukup terdengar oleh orang sekitar, seolah-olah itu hal biasa.
"Yah, aku tidak berniat untuk bertukar lauk dengan siapa pun. Bento ini dibuat oleh Hinata untukku, jadi kalau kalian mau, minta izin dulu sama Hinata."
Mendengar kata-kataku, beberapa siswa yang sudah berdiri untuk pergi langsung duduk kembali.
Eh, kenapa kalian memandangku dengan tatapan penuh kebencian seperti itu?
Tapi, untuk hal ini, aku tidak bisa mengalah.
Hinata sudah bangun pagi-pagi untuk membuatkan bento ini untukku.
Memberikannya kepada orang lain tanpa izin darinya adalah hal yang tidak adil untuk Hinata.
Saat aku melihat sekeliling, Yukihara menepuk-nepuk bahuku.
"Kenapa bisa begitu? Aku sudah bilang, aku tidak akan bertukar lauk. Lagipula, aku tidak menerima apa pun darimu. Itu perdagangan gratis, kan?"
"Ini bukan gratis, lho~. Kan, Senpai sudah makan nasiku."
Aku makan... Eh, jangan bercanda.
Jangan-jangan, dia sedang membicarakan sandwich yang dia masukkan ke mulutku tadi...!?
"Itu kan yang terakhir, lho. Aduh, gara-gara Senpai, perutku jadi lapar~. Tapi kalau ada lauk dari Ketua Hinata, aku mungkin bisa bertahan~."
"...Aku menolak."
"Eh~. Senpai pelit~. Darah Senpai warna apa sih~?"
"Aku sudah bilang aku tidak akan bertukar dengan siapa pun, jadi aku tidak akan mengubah keputusanku. Tapi memang benar aku sudah makan makanan siang Yukihara, jadi aku akan membelikanmu sesuatu di kantin sekarang."
"Eh, beneran? Asyik, Senpai baik banget, aku suka♪"
"Hanya di saat-saat seperti ini kau jadi manis... Tapi ini sudah sore, jadi jangan komplain kalo cuma ada roti kopte yang tersisa, ya."
Sambil melihat Yukihara yang melambai-lambai dengan gerakan melempar ciuman, aku keluar dari ruang OSIS.
Saat itu, aku sempat melihat Hinata sekali, tapi dia terlihat seperti sedang sendirian, menatap dokumen dengan kosong.
...Beberapa hari telah berlalu sejak itu, dan Hinata tampaknya tidak terlalu sibuk dengan persiapan Festival Malam Suci.
Melihat dokumen di ruang OSIS saat istirahat siang sudah menjadi pemandangan biasa, dan setelah pulang dan menyelesaikan pekerjaan rumah, dia tetap mengurung diri di kamarnya. Mungkin itu terkait Festival Malam Suci.
Aku juga mencoba menawarkan bantuan karena aku adalah sekretaris, tapi Hinata selalu menolak dengan tegas. Katanya, karena ini bukan sesuatu yang secara resmi diurus oleh OSIS, dia tidak ingin melibatkan orang lain.
Ini adalah hal yang dia lakukan sendiri, begitu katanya.
Dan hari ini. Sepertinya Hinata bekerja sampai tepat sebelum gerbang sekolah ditutup, dan dia pulang dengan terburu-buru setelah aku selesai memasak untuk Tsukino.
Ini adalah pertama kalinya terjadi.
"Ma-maaf, ya. Besok ada rapat OSIS, jadi aku benar-benar ingin menyelesaikan ini hari ini. Aku akan segera memasak makan malam, jadi tunggu sebentar lagi, ya?"
"Tidak perlu minta maaf. Lagipula, untuk makan malam hari ini, biar aku yang masak."
"...Aku senang dengan niatmu, tapi biarkan aku yang melakukannya. Memasak untuk Yuuto-kun adalah semacam penyegaran bagiku. Seperti, ini adalah alasan mengapa aku bekerja keras sepanjang hari."
"Jangan berlebihan lah."
"Ah... Ahaha. Bahaya juga. Mungkin aku sedikit lelah. Tapi untuk masak—"
Sebelum Hinata menyelesaikan kalimatnya, aku sudah berdiri menghalanginya.
Tanpa peduli dengan kebingungan Hinata, aku tanpa berkata apa-apa langsung meletakkan tanganku di dahinya.
"Eh!? Yu-Yuto-kun...!?"
"Ternyata demam."
Aku mencoba merasakan dahiku sendiri, tapi jelas kalo Hinata lebih panas.
Aku tidak menyadarinya karena dia terlihat biasa saja, tapi ternyata kondisinya cukup buruk.
Setelah meminta Hinata mengukur suhunya dengan termometer, layar menunjukkan 37,4°C.
"Ini jelas awal-awal terkena flu. Hari ini kau tidak usah memasak. Istirahat yang cukup semalaman, dan kita lihat perkembangannya."
"Ti-tidak apa-apa. Ini cuma demam ringan, aku masih bisa masak makan malam, kok."
"Kau benar-benar ingin memasak, ya? ...Begitu rupanya."
Setelah mengucapkan itu, tanpa ragu-ragu, aku mengangkat tubuh Hinata.
"Eh!? Yu-Yuto-kun, apa yang kau lakukan tiba-tiba...!?"
"Kalo Hinata tidak mau istirahat, aku akan membawamu ke tempat tidur dengan paksa. Tapi, Hinata juga tidak ingin aku melihat kamarmu, kan? Kau bisa memilih, dibawa olehku atau berjalan sendiri. Pilih yang mana?"
"Oh, ya, ya, aku mengerti, aku akan melakukan apa yang kau katakan!"
Mendengar kata-kata yang kutunggu-tunggu itu, aku merasa lega.
Setelah aku menurunkan Hinata, dia memperbaiki rambutnya sambil menutupi rasa malunya dengan pipi yang memerah.
...Ah. Aku terlalu khawatir dengan kondisi Hinata sampai lupa, mungkin yang kulakukan tadi cukup memalukan...
"Ma-Makan malamnya nanti aku yang bawa. Jadi, Hinata kau istirahat saja."
"...Oke, aku mengerti. Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf. Kita tinggal di bawah satu atap yang sama, jadi saling membantu adalah hal yang wajar, bukan?"
Hinata mengangguk kecil lalu pergi ke kamarnya.
Semoga saja flu Hinata sudah membaik besok...
Keesokan harinya, aku menyadari bahwa Hinata belum bangun, jadi aku mengetuk kamarnya.
"Hinata, apa kau baik-baik saja? Apa kondisi tubuhmu masih buruk?"
"...Tunggu sebentar. Aku akan segera keluar."
Pintu terbuka, dan aku terkejut.
Tanpa perlu mengukur suhu tubuh, jelas sekali kondisinya semakin memburuk.
Ekspresinya terlihat kosong, dan keringat mengucur di dahinya.
Tapi, Hinata terlihat seperti tidak ada masalah, bahkan dia sudah berganti ke seragam sekolah.
"Sarapan sudah terlambat, ya. Maaf, apa boleh aku buatkan makanan sederhana saja...?"
"Tidak perlu. Tunggu di sini, aku akan memanggil taksi. Kita harus segera pergi ke rumah sakit."
"...Iya, kau benar. Kalo hanya flu biasa, aku pasti bisa bertahan dan pergi ke sekolah."
"Eh── apa kamu serius? Dalam kondisi seperti ini, apa kau masih berniat pergi ke sekolah?"
"...? Tapi, hari ini ada rapat siswa, kan? Sebagai ketua OSIS, aku tidak bisa membuat yang lain kerepotan kalo aku tidak hadir."
Aku terdiam melihat senyum lemah Hinata.
Dia serius── Hinata benar-benar menganggap rapat siswa lebih penting daripada dirinya sendiri.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi memaksakan diri itu tidak baik. Bahkan kalo itu hanya flu, kalo dokter melarang, lebih baik kau istirahat di rumah."
"Tapi..."
Hinata mulai berjalan tapi dia tersandung hanya satu langkah,. Aku buru-buru menyangga tubuhnya.
"Lihat, kau bahkan tidak bisa berjalan dengan stabil. Serahkan rapat siswa kepada wakil ketua, Tsukino. Hari ini lebih baik kau istirahat."
".........."
Hinata tidak membantah lagi. Dia hanya menutup matanya dengan wajah yang kesakitan.
Setelah itu, aku menemani Hinata ke rumah sakit, dan untungnya, dokter mengatakan itu hanya flu biasa.
Tapi, gejalanya cukup parah, dengan suhu tubuh hampir mencapai 39℃.
Sakit kepala dan batuknya juga cukup berat, dan dokter menyarankannya untuk beristirahat di rumah.
Setelah pulang, aku menyiapkan handuk basah dan minuman, lalu berkata, "Hinata, aku masuk, ya" sebelum memasuki kamarnya.
Di atas tempat tidur, Hinata yang mengenakan piyama terbaring dengan napas yang terengah-engah.
Aku mengusap keringat di dahinya dengan handuk dingin, dan Hinata pun berbicara pelan.
"...Rasanya, enak."
"Begitu ya, baguslah. Aku juga membawa minuman, mau minum sekarang?"
Hinata mengangguk perlahan, dan aku memberikan cangkir dengan sedotan.
Mungkin karena kehilangan banyak cairan akibat demam, dia langsung menghabiskannya dalam sekejap.
"...Maaf, Yuto-kun. Sungguh, maaf."
Dengan suara yang terdengar kesakitan, Hinata mencoba merangkai kata-kata.
"Karena aku, kau harus bolos sekolah..."
"Kalo aku tidak ada, siapa yang akan merawatmu? Kalo kondisimu tiba-tiba memburuk, itu akan berbahaya. Jadi, wajar saja aku berada di sisimu."
"Tapi──"
"Yang paling menderita adalah dirimu, jadi lupakan dulu kekhawatiran tentang orang lain. Oh ya, bagaimana dengan makanan? Kau belum sarapan, kan?"
"...Sekarang, kurasa aku tidak bisa makan apa pun."
"Begitu ya. Kalo kau sudah lapar, bilang saja kapan pun. Kalo kau sulit bicara, kau bisa memanggilku lewat Hp. Semoga cepat sembuh, ya."
Setelah mengatakan itu, aku meninggalkan kamar Hinata.
Aku menjelaskan kepada wali kelas, "Aku satu-satunya keluarga yang bisa merawat Hinata, jadi izinkan aku untuk tidak masuk hari ini." Dan Sensei itu dengan mudah menyetujuinya.
Hubunganku dan Hinata sebagai keluarga sudah diketahui, dan Sensei itu yakin kalo sebagai ketua OSIS yang serius, Hinata pasti tidak akan bolos tanpa alasan.
Aku bersyukur memiliki guru yang baik hati.
Selain itu, Sensei juga menghubungi ibu Hinata, yang merupakan wali Hinata.
Beberapa jam kemudian, pesan masuk ke Hp-ku. Pengirimnya adalah Hinata.
『Mungkin sekarang aku bisa makan sedikit.』
Begitu membaca pesan itu, tanpa sadar aku langsung membuat bubur.
Kecepatanku kali ini mungkin memecahkan rekor pribadi dalam hal memasak.
"Maaf, Yuto-kum. Terima kasih atas makanannya."
"Tidak, biar aku yang menyuapimu. Kau tidak perlu bergerak, Hinata."
"Eh? Tapi..."
"Memaksakan diri itu tidak baik. Kau pasti kesakitan kalo harus bergerak, kan?"
"...Iya. Kalo begitu, aku mengandalkanmu."
Aku menyuapkan sendok ke mulut Hinata, dan dia mulai makan perlahan.
Aku merasa lega. Sepertinya kondisinya sudah membaik sampai bisa makan.
"...Enak."
"Aku senang. Kalo dipikir-pikir, ini pertama kalinya kau mencoba masakanku. Aku tidak pernah menyangka akan terjadi dalam situasi seperti ini."
Tapi, Hinata hanya mengunyah perlahan, seolah berada di antara mimpi dan kenyataan.
Mungkin kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih. Demamnya memang cukup tinggi.
Faktanya, Hinata hanya bisa menghabiskan sekitar setengah dari makanannya.
"Iya, kau sudah makan dengan baik. Apa ada hal lain yang kau inginkan? Aku akan melakukan apa pun yang bisa aku lakukan."
"...Kalo begitu, ada satu permintaan, boleh?"
"Tentu, apa saja."
"Bisakah kau membersihkan tubuhku? Aku merasa tidak nyaman karena keringat yang menempel."
Membersihkan tubuhnya.
Seketika, pikiranku berhenti sejenak mendengar permintaan itu.
"Eh, maksudmu bagian seperti dahi atau lengan, kan? Tempat-tempat yang tidak masalah meskipun aku yang melakukannya...?"
"...Bagian punggungku saja. Aku tidak bisa menjangkaunya sendiri."
Apa kau serius?
Aku membersihkan tubuh Hinata.
Bahkan saat aku mencoba membayangkannya dalam hati, rasanya sama sekali tidak nyata.
Apa boleh seorang laki-laki sepertiku, yang bahkan bukan pacarnya, melakukan hal seperti ini?
Tapi, sementara aku masih bingung, Hinata sudah mulai membuka kancing piyamanya.
"Tunggu dulu! Apa kau yakin? Aku laki-laki, lho...!"
"...?"
Tapi Hinata hanya terlihat bingung dan tidak mengerti.
Tidak bisa, mungkin karena demamnya yang tinggi, dia tidak bisa berpikir jernih.
Mungkin satu-satunya hal yang bisa dipikirkannya saat ini adalah ingin membersihkan keringatnya.
Tanpa memperhatikan kegelisahanku, Hinata terus membuka kancingnya satu per satu... dan akhirnya.
Kulit putihnya terlihat, dan Hinata hanya mengenakan pakaian dalam.
"...~~~!"
"...Tolong, Yuto-kun."
Hinata membalikkan punggungnya ke arahku.
Punggungnya yang indah, seperti sutra halus.
Ini untuk Hinata.
Buang semua pikiran kotor, sekarang fokuslah merawatnya dengan tulus.
"Baiklah, aku akan membersihkannya, ya?"
Aku mengusapkan handuk dingin yang kubawa dengan lembut ke punggung Hinata.
Kulit Hinata terasa lembut, tapi juga sangat panas.
Begitu pikiranku melayang, Hinata mengeluarkan kata-kata manis.
"Hmm── terima kasih. Dingin dan nyaman."
"...Iya, baiklah."
Detak jantungku terdengar begitu keras, seolah-olah Hinata bisa mendengarnya.
Meski begitu, aku berusaha mati-matian untuk tetap tenang dan dengan lembut membersihkan bagian-bagian yang tidak bisa dijangkau oleh Hinata.
Setiap kali aku melakukannya, Hinata mengeluarkan napas lega, seolah-olah dia benar-benar rileks.
Untuk aku, waktu terasa sangat lama dan membuatku sesak, padahal sebenarnya hanya sebentar.
Setelah selesai membersihkan punggung Hinata, akhirnya aku bisa menarik napas lega.
"Bagaimana? Kalo bisa, bagian lainnya kau bisa membersihkannya sendiri..."
"...Iya, aku mengerti."
Mungkin Hinata bermaksud membersihkan area payudaranya.
Hinata mulai melepas kait bra-nya, dan aku langsung berteriak kaget.
"Tunggu dulu! Itu sebaiknya kau lakukan setelah aku keluar dari kamar!"
Sekarang aku menyadari betapa rendahnya kemampuan berpikir Hinata saat ini... Bagaimanapun, kalo Hinata ingin membersihkan tubuhnya, aku harus keluar dari kamar.
Oh ya, benar. Sebelum itu, aku harus mencuci piyama yang Hinata pakai semalam.
Aku mengambil piyama yang basah oleh keringat dan tergeletak di lantai──piyama itu sudah mengeras seperti batu.
Di balik piyama itu, ada pakaian dalam yang juga basah oleh keringat.
Kami sudah tinggal bersama selama lebih dari sebulan, tapi ini pertama kalinya aku melihatnya dengan jelas seperti ini.
"Eh, um, aku berniat mencuci piyamamu, tapi apa pakaian dalamnya juga perlu dicuci...?"
"...Iya, tolong."
Tentu saja, Hinata akan menjawab seperti itu dalam kondisinya sekarang... Entah kenapa, hari ini aku terus merasa gugup.
Tapi, aku harus melakukannya. Karena hanya aku yang ada di samping Hinata saat ini.
"Maaf, Yuto-kun. Kau tidak perlu lagi merawatku. Aku bisa melakukannya sendiri setelah ini."
"Tidak mungkin. Melihat kondisimu seperti ini, aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja."
"Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu lebih dari ini."
...Merepotkan, kah.
"Selain itu, kau bisa tertular flu, lho? Kalo karena aku kau sampai jatuh sakit..."
"Aku tidak masalah. Karena kalo itu terjadi, pasti kau yang akan merawatku, kan?"
Hinata menatapku dengan ekspresi seperti sedang bermimpi.
"Aku yakin kalo aku yang sakit, kau akan merawatku, dan aku akan sangat berterima kasih padamu. Jadi, aku sama sekali tidak merasa terganggu meskipun kau sakit flu. Kita adalah keluarga."
Aku mencoba tersenyum dengan lembut, berharap Hinata bisa merasa tenang.
Apa kata-kataku benar-benar sampai padanya?
"...Terima kasih."
Ekspresi Hinata yang masih terlihat bingung sedikit tersenyum.
Tapi, beberapa jam kemudian. Tubuh Hinata kembali basah oleh keringat.
Sepertinya demamnya belum turun, dan Hinata terus terbaring dalam keadaan demam tinggi.
"...Yuto-kun. Ada satu hal lagi yang ingin kuminta, boleh?"
"A-ah. Tentu saja. Apa kau ingin aku membersihkan tubuhmu lagi, atau...?"
"...Aku ingin mandi."
Krak.
Suara retakan dalam rasionalitasku benar-benar terdengar.
"Aku tidak tahan dengan bau keringatku... Tidak boleh, ya?"
"...Baiklah. Aku akan memikirkan cara untuk melakukannya."
Kalo Hinata dalam kondisinya sekarang mandi sendiri, dia mungkin akan terlalu lama di dalam dan akhirnya kedinginan. Itu pasti tidak baik.
Setidaknya aku ingin menemaninya sampai ke ruang ganti, tapi sebagai laki-laki, apa itu...
"Tidak, sebelum itu, aku harus mengambil cucian Hinata dulu."
Piyama dan pakaian dalam Hinata sudah selesai dicuci, dan sekarang sedang di dalam pengering bersama di apartemen agar cepat kering. Seharusnya sudah hampir selesai.
"Tapi, bagaimana dengan masalah mandi Hinata..."
Sambil terus memikirkan hal itu, aku tiba di lantai satu tempat mesin cuci bersama berada.
Aku mencoba memasukkan piyama dan pakaian dalam Hinata ke dalam tas eco.
Tepat saat itu.
"Yuto? Kenapa kau di sini?"
"Hah!? A-ah. Oh, Tsukino, ya."
Aku menyembunyikan cucian yang sedang kubawa dan menoleh ke belakang.
Di sana, Tsukino berdiri dengan seragam sekolahnya.
Mesin cuci bersama ini aoan sedikit terlihat kalo seseorang naik tangga.
Mungkin Tsukino, yang sedang pulang, kebetulan melihatku.
"Kau bilang kalo kau akan merawat Hinata-san dan tidak masuk sekolah, kan? Apa Hinata-san sudah baikkan? Semua orang di OSIS khawatir, lho."
"...E, eh, sebenarnya tidak seperti itu──"
Ini buruk. Buruk, buruk, buruk...!
Kalo aku mengatakan kalo aku sedang mengambil cucian Hinata, hubungan tinggal serumahku dengan Hinata akan terbongkar.
Itu juga tidak baik, tapi situasi ini lebih buruk lagi.
Bagaimanapun, saat ini aku menyembunyikan piyama Hinata di belakang punggungku.
Dan di dalam pengering masih ada pakaian dalam Hinata.
Kalo Tsukino melihat ini, aku akan mati. Secara sosial, aku akan mati.
"Ngo-ngomong-ngomong, aku sedang sibuk sekarang. Bagaimana kalo kita bicara lagi nanti?"
"Begitu? Oke, baiklah."
Aku merasa lega. Syukurlah, aku selamat dari situasi yang hampir mustahil...
"Yuto, kau sedang sibuk mengambil cucian, kan? Kalo begitu, biar aku membantumu. Setelah itu, kau bisa ceritakan tentang Hinata-san dengan tenang, oke?"
Ya, sekali lagi, aku berada dalam situasi yang sangat sulit.
"Ti-tidak, tidak, aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu, Tsukino! Urusan rumah tangga adalah tanggung jawabku! Aku tidak perlu meminta bantuanmu!"
"Aku juga bisa membantu mu, kok? Kalo hanya membawa cucian seperti ini, aku juga bisa melakukannya."
Kata-katanya, kalo bukan dalam situasi ini, pasti akan membuatku tersentuh.
Tapi, untuk menjaga agar hubungan tinggal serumahku dengan Hinata tidak terbongkar, dan juga agar hubungan persahabatan kami tidak rusak, aku harus mencari cara.
Aku berpikir keras──tunggu, sebentar.
Mungkin justru situasi ini adalah keberuntungan.
"Tsukino, bisakah kau mendengarku tanpa terkejut?"
"...? Ada apa?"
"Pertama-tama, lihat ini dulu."
Dengan ekspresi serius, aku mengulurkan piyama Hinata yang imut.
Tsukino menatap piyama itu dengan ekspresi bingung. Ya, wajar saja dia membuat ekspresi seperti itu.
"...Eh, apa kau punya hobi seperti ini, Yuto?"
"Bukan begitu. Sebenarnya, ini adalah piyama Hinata. Karena hanya aku yang bisa merawat Hinata, aku sedang mencuci pakaiannya."
"Eh, benarkah?"
"Dan, ada satu hal yang hanya bisa kuminta bantuan darimu. Kondisi Hinata cukup parah, demamnya tidak kunjung turun, dan dia kesulitan untuk bergerak. Dia ingin mandi, tapi sulit bagiku sebagai laki-laki untuk membantunya sendirian. Tsukino, maukah kau membantuku?"
"Aku...? U-um. Oke, aku akan mencobanya."
Suara Tsukino terdengar gugup.
Mungkin dia bingung karena ini adalah situasi yang baru baginya.
"Kalo begitu, kita harus segera pergi. Di mana rumah Hinata-san? Kalo terlalu jauh, Hinata-san akan menunggu terlalu lama."
"Ah... kalo begitu, tidak masalah. Hanya sekitar 30 detik berjalan kaki dari sini."
".........?"
Kemudian, demi Hinata, aku membuka rahasia yang belum pernah kusampaikan kepada siapa pun.
"Hinata adalah tetanggamu, Tsukino. ...Sebenarnya, kami tinggal bersama."
Tsukino tiba di kamarku benar-benar 30 detik kemudian.
Melihat Hinata yang terbaring di tempat tidur dengan napas tersengal-sengal, Tsukino langsung membeku.
"Hinata-san, apa kau baik-baik saja...?"
"...Tsukino-chan. Kenapa kau...?"
"Aku yang menjelaskan situasinya. Aku tidak bisa membantu Hinata mandi sendirian."
"...Tapi, aku merasa tidak enak merepotkan Tsukino-chan."
"Aku tidak masalah, kok? Kondisi Hinata-san jauh lebih penting."
Kami ber-2, aku dan Tsukino, saling membantu menopang tubuh Hinata dan membawanya ke ruang ganti.
Setelah itu, giliran Tsukino yang bertindak.
"Aku serahkan padamu. Pastikan Hinata tidak sampai pingsan, ya."
"Oke, aku mengerti. Serahkan padaku."
"...Tsukino-san. Maaf tentang rapat siswa tadi..."
Mendengar kata-kata Hinata yang diucapkan pelan, aku dan Tsukino sama-sama terkejut.
Hinata sedang tidak dalam kondisi yang baik, tapi dia masih memikirkan hal itu.
Dia begitu khawatir karena telah menyerahkan rapat siswa kepada Tsukino.
"Tidak apa-apa, kan? Kau sedang sakit. Sekarang, lebih baik fokus untuk sembuh agar bisa cepat kembali ke sekolah, ya?"
"..........."
Hinata mengangguk pelan, dan pintu ruang ganti pun tertutup.
...Beberapa saat kemudian, Hinata muncul dengan piyama baru, ditemani oleh Tsukino.
Mungkin dengan bantuan Tsukino, dia sudah mandi, dan aroma sampo yang lembut tercium darinya.
Aku dan Tsukino membawanya kembali ke tempat tidur, dan Hinata menutup matanya seperti hendak tidur.
Mungkin karena merasa nyaman setelah mandi, ekspresinya terlihat jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Saat kami keluar dari kamar Hinata, Tsukino berkata,
"Hinata-san benar-benar ingin pergi ke sekolah, ya. Meskipun aku bilang tidak apa-apa, dia terus meminta maaf. Dia bilang, 'Aku tidak pantas menjadi ketua OSIS karena harus bolos rapat siswa.'"
"Apa dia bilang begitu...? Kalo dipikir-pikir, dia memang sempat ingin memaksakan diri untuk pergi ke sekolah. Aku mengerti dia sibuk karena festival Natal, tapi dia terlalu memaksakan diri."
"Selain itu, dia bahkan mengirim foto dokumen festival Natal melalui Hp agar aku bisa menggunakannya sebagai referensi saat memimpin rapat siswa. Padahal, Hinata-san seharusnya sedang terbaring karena demam, lho?"
Aku tidak bisa berkata-kata.
Meskipun demam tinggi, dia masih memikirkan hal-hal seperti itu.
"Hei, Yuto. Selama ini, aku selalu menganggap Hinata-san sebagai ketua OSIS yang baik hati. Tapi, melihat Hinata-san hari ini...aku merasa sedikit takut."
Aku mengerti perasaan Tsukino.
Tindakan Hinata hari ini memang agak aneh.
Seolah-olah dia rela mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain──.
"...Tapi, pasti tidak apa-apa, kan? Hinata-san hanya tidak berpikir jernih karena demam, kan?"
"A-ah. Ya, pasti begitu. ...Oh ya, maaf, tapi bisakah kita menunda rencana makan malam di rumahmu hari ini? Aku tidak tega meninggalkan Hinata sendirian dalam kondisi seperti ini."
"Tentu saja tidak masalah. Kalo kau mau, aku juga bisa membantu merawat Hinata-san, lho? Seperti tadi saat mandi, mungkin akan sulit kalo hanya kau sendiri, kan?"
"Benarkah? Terima kasih, aku memang butuh bantuan karena ada beberapa hal yang tidak bisa kuhandle sendirian."
"Sama-sama. Tapi, sebelum itu, boleh aku bertanya satu hal? ...Yuto, kau menyembunyikan fakta kalo kau tinggal bersama Hinata-san dariku, ya?"
Aku merasa hawa dingin mendengar pertanyaannya.
Sebagai teman masa kecil, aku tahu. Meskipun wajahnya biasa saja, Tsukino jelas sedang marah...!
"Tidak, ini ada alasan yang mendalam...!"
"Yuuto, kau licik. Meskipun Hinata-san adalah Onee-chan-mi, tinggal bersamanya tetap membuatku tidak nyaman. Hinata-san dan kau, sampai beberapa waktu lalu masih sekelas, kan?"
"...Maaf. Aku tidak ingin orang lain di sekolah tahu kalo aku tinggal bersama Hinata, jadi aku merahasiakannya darimu juga."
"Kalo begitu, kau seharusnya bilang saja padaku. Kalo kau memintaku untuk merahasiakannya, aku tidak akan memberitahu siapa pun. Apa kau pikir aku akan melakukan hal yang tidak kau sukai?"
"...Kau benar. Tsukino, maafkan aku."
"Tapi, kau akan tetap tinggal bersama Hinata-san setelah ini, kan? ...Hei, Yuto. Mungkin kau harus bekerja lebih keras sebagai perawatnya, tapi tidak apa-apa, kan?"
"Eh!?"
"Soalnya, kau akan tinggal di bawah satu atap dengan gadis yang kau sukai. Wajar saja aku sedikit egois, kan?"
Tsukino mengembungkan pipinya dengan ekspresi kesal.
Dia memang sedang tidak senang...
Tapi tidak ada yang bisa ku lakukan tentang ini.
Aku dan Tsukino dipanggil kembali oleh Hinata setelah kami selesai makan malam.
Dia bilang dia haus dan akan senang kalo aku membawakannya minuman.
Setelah membaca pesan itu, aku dan Tsukino segera menuju kamar Hinata.
Sepertinya demam dan sakit kepalanya sudah mereda, karena wajahnya terlihat lebih baik dibandingkan pagi ini.
Hinata terkejut melihat Tsukino masih ada di sini,
"Tsu-Tsukino-chan...? Apa kau tinggal di sini untukku?"
"Aku pikir Yuto akan kesulitan kalo sendirian. Aku bahkan mencuci piyama Hinata-san, lho."
"Tidak, kau sudah cukup baik datang menjengukku. Aku tidak ingin merepotkanmu, Tsukino-chan. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk merawatku."
"...? Bukankah wajar kalo kita khawatir saat teman kita sakit? Selain itu, Hinata-san selalu bekerja keras di OSIS. Jadi, aku ingin membantumu saat seperti ini."
"...Tsukino-chan."
"Jadi, aku akan banyak membantumu, ya? Hinata-san, piyamamu basah karena keringat. Kalo dibiarkan begitu, kau bisa kedinginan. Mau aku bantu melepasnya?"
"Se-sekarang di sini!? Tu-tunggu dulu. Yuto-kun sedang melihat ke sini...!"
"Ti-tidak apa-apa. Aku akan menghadap ke arah lain."
Melihat Tsukino mulai membuka kancing piyama Hinata, aku buru-buru memalingkan wajahku.
Tsukino benar-benar bersemangat.
Dia pasti sangat ingin melakukan sesuatu untuk Hinata.
"Bagaimana kondisi tubuhmu? Semoga sudah membaik sedikit."
"Dibandingkan pagi tadi, demamku sudah turun sedikit. Pagi tadi kepalaku sangat pusing, dan aku terus merasa tidak sadar."
"Seserius itu?"
"Yang aku ingat hanyalah bermimpi."
"Mimpi?"
"Aku bermimpi sedang mandi di danau, lalu tiba-tiba seekor tupai datang dari semak-semak dan mengusap punggungku. Saat itu rasanya dingin dan nyaman."
Hinata-san, itu bukan sepenuhnya mimpi. Yang mengusap punggungmu bukan tupai, tapi aku.
Sepertinya karena demam, dia bingung antara mimpi dan kenyataan... Entah bagaimana, aku merasa lega.
Setelah Hinata selesai berganti pakaian, kami mengukur suhu tubuhnya, dan hasilnya 38,5°C.
Sepertinya dia masih perlu istirahat total.
Tiba-tiba, aku melihat jam dan menyadari sudah lewat pukul 8 malam.
"Sudah larut malam. Tsukino, kau masih harus sekolah besok, jadi lebih baik kau pulang sekarang, kan?"
"Yuto, apa kau yakin bisa merawat Hinata-san sendirian?"
"Untuk satu malam, aku bisa mengatasinya sendiri. Terima kasih banyak untuk hari ini. Kau sudah mencuci pakaian Hinata dan menungguinya saat aku pergi berbelanja. Kau sungguh sangat membantu."
"Tidak apa-apa. Ini untuk Hinata-san. ...Oh ya, benar. Aku akan merahasiakan fakta kalo kalian tinggal bersama, jadi Hinata-san kau tidak perlu khawatir, oke?"
Kemudian, Tsukino tersenyum pada Hinata.
Senyum yang tidak biasa, seperti malaikat bulan yang misterius, yang tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain selain aku.
"Mulai sekarang, kita adalah tetangga. Kalo ada masalah seperti hari ini, jangan ragu untuk memanggilku, ya?"
"...Iya. Terima kasih, Tsukino-chan."
Aku mengantar Tsukino sampai ke pintu depan dan mengucapkan selamat tinggal, "Mungkin besok aku akan merepotkanmu lagi, tapi tolong bantu aku, ya."
Kemudian, aku kembali ke kamar Hinata.
"Kalo kau lapar, apa kai mau makan sesuatu? Aku bisa membuat bubur seperti siang tadi, atau ada jeruk dan yogurt."
"Ah, aku mau jeruk saja. Sekarang aku sedang ingin makan buah."
Mendengar kata-kata Hinata, aku mengangguk dan mengambil beberapa jeruk, lalu mulai mengupasnya.
Hinata terlihat terkejut,
"Apa kamu akan menyuapiku?"
"Kau masih demam tinggi, dan aku pikir mungkin sulit bagimu untuk bergerak. Apa kau tipe yang tidak peduli dengan serat putih pada jeruk?"
"Kalo bisa, aku lebih suka seratnya dibuang. Aku ingin menikmatinya dengan enak."
"Oke, tunggu sebentar."
Dengan hati-hati, aku membuang serat putihnya, lalu menusuk jeruk dengan garpu dan membawanya ke mulut Hinata.
Hinata langsung menggigitnya,
"Manis dan enak."
"Syukurlah, jeruk sedang musim sekarang. Aku sudah membeli banyak, jadi makanlah sebanyak yang kamu mau."
"Kamu sudah menyiapkan sebanyak itu?"
"Aku pikir kau mungkin menginginkannya. Selain itu, ada juga apel dan yogurt. Aku ingin kau cepat sembuh, jadi jangan ragu untuk memakannya."
Setiap kali aku menyodorkan jeruk, Hinata terus memakannya dengan lahap.
Tapi tiba-tiba, Hinata berhenti memakan jeruk.
"Ada apa? Apa nafsu makanmu belum kembali...?"
"...Bukan itu masalahnya."
Dengan pipi yang memerah, Hinata berbicara dengan malu-malu.
"Ini pertama kalinya aku disuapi oleh seseorang. Rasanya agak memalukan."
"...Aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama saat kau yang menyuapiku. Sekarang aku mengerti betapa memalukannya berada di posisi yang disuapi, kan?"
"Ta-tapi, itu hukuman karena kau terlambat makan malam."
"Kalo begitu, apa aku harus berhenti menyuapimu jeruk?"
"...Jangan. Aku masih ingin makan yang manis-manis."
"Kalau begitu, tahan rasa malumu sedikit."
"Hmm..."
Dengan ekspresi tidak puas, tapi tetap lahap, Hinata terus memakan jeruk.
Kemudian, Hinata tersenyum kecil.
"Maaf sudah merepotkan Tsukino-chan dan mu, Yuuto-kun. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku dirawat seperti ini."
"Sudah lama...? Kau pasti pernah dirawat oleh keluargamu, kan?"
"Saat aku masih sangat kecil, iya. Tapi sejak SD, aku selalu berusaha mengatasinya sendiri. ...Aku tidak ingin merepotkan ibuku, jadi aku tidak pernah bilang saat aku sakit."
Tanpa sadar, tanganku berhenti menyuapi jeruk.
Lagi. Sama seperti saat dia berusaha pergi ke rapat siswa meskipun demam tinggi, Hinata lagi-lagi mencoba menanggung semuanya sendiri.
"Aku tidak masalah, kok. Aku sudah terbiasa merawat orang lain, seperti Tsukino."
"Iya, aku tahu. Kau orang yang baik, Yuto-kun. Kau selalu ada untuk orang lain tanpa menunjukkan wajah kesal, bahkan jika itu untuk kepentingan orang lain."
Kemudian, Hinata menunjukkan senyuman samar.
"Tapi, aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku padamu, Yuto-kun. ...Aku tidak ingin kau membenciku."
"Aku tidak akan membencimu hanya karena hal seperti itu. Bagiku, Hinata adalah──"
Orang yang pertama yang kau aku sukai.
Aku hampir mengatakannya.
Tapi aku tidak bisa.
Karena kalo aku mengucapkan kata-kata itu, aku merasa hubungan kami sebagai keluarga akan berubah.
Setelah Hinata selesai memakan beberapa jeruk, aku mengganti handuknya dan──
"Mungkin lebih baik kau tidur cepat malam ini. Kalo ada sesuatu, hubungi aku lewat Hp, aku akan segera datang. ...Semoga besok flu mu sudah membaik."
Saat aku hendak berdiri, tiba-tiba Hinata menggenggam tanganku dengan erat, seolah ingin menahanku.
"...Kalo tidak merepotkan."
Dengan ekspresi yang kesakitan, seolah terbawa oleh demamnya, Hinata berbisik.
"Hinata...?"
"Tolong, jangan pergi. ...Jangan tinggalkan aku sendirian."
"...Oke, aku mengerti. Aku tidak akan ke mana-mana."
Dengan wajah memohon seperti itu, tidak mungkin aku bisa menolaknya.
Baiklah, malam ini aku akan menemani Hinata sampai akhir.
"Maaf untuk hari ini. ...Aku sudah merepotkanmu, Yuto-kun."
"Tidak apa-apa. Aku tidak tega meninggalkan Onee-chan yang sedang lemah karena flu. Aku akan menemanimu untuk hal kecil seperti ini."
"...Terima kasih."
Lambat laun, Hinata menutup matanya... Pasti karena demam tinggi, dia tidak menyadarinya.
Dari kelopak matanya yang terlihat seperti sedang tidur, air mata mengalir.
"──────"
Melihat pemandangan itu, aku bahkan lupa untuk bernapas.
Hinata selalu berkata kalo dia harus berusaha keras karena dia adalah ketua OSIS. Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Dia tidak ingin menyusahkan aku atau Tsukino-chan.
Tapi, aku berpikir.
Mungkin itu──hanya caranya untuk menyembunyikan kelemahannya dengan mati-matian.
"Kenapa kau menangis hanya karena aku ada di sampingmu? Aku adalah keluargamu. ...Tidak masalah kalo kau sedikit manja padaku."
Hinata adalah gadis yang kuat. Dia lebih baik hati, pekerja keras, dan bertanggung jawab daripada siapa pun.
Itulah kenapa aku mengaguminya dan tanpa sadar jatuh cinta padanya lebih dari siapa pun.
Tapi, itu hanya dari sudut pandang sebagai teman sekelas.
Sekarang, sebagai keluarganya.
Gadis yang dijuluki dewi matahari ini... terlihat sangat rapuh, seperti bisa hancur kapan saja.
"...Hinata."
Kalo besok, Hinata bangun seperti biasa. Apa aku bisa berpura-pura tidak melihat air matanya ini dan melanjutkan hidup seperti biasa?
Jadi, aku berpikir sebentar.
Apa yang bisa kulakukan untuk Hinata.
Flu Hinata benar-benar sembuh tiga hari setelah itu.
"Aku ingin berterima kasih lagi pada Tsukino-chan──atas permintaan Hinata, kami mengajak Tsukino untuk makan bersama bertiga. Aku juga berhutang budi pada Tsukino, dan aku ingin Hinata kembali bersemangat, jadi tidak ada keberatan."
Sebenarnya, kalo harus jujur, aku merasa sedikit cemas.
Bagaimanapun, Tsukino tahu kalo Hinata adalah orang yang pertama kali aku sukai.
Aku khawatir suasana bisa menjadi tegang karena hal-hal kecil... Tapi, Tsukino bukan tipe orang seperti itu, kan?
Di atas meja, ada berbagai macam sushi.
Karena Tsukino akan datang, aku dan Hinata memutuskan untuk membuatnya sedikit lebih mewah dengan membeli sushi bersama.
Tsukino, dengan ekspresi tenangnya yang biasa, namun matanya bersinar,
"Aku jarang makan sushi karena biasanya makan di rumah. Hei, Yuto, kalo aku bilang ingin makan sushi seperti ini, maukah kau membuatkannya?"
"Hmm, sushi yang segini bagusnya mungkin harus belajar dulu dari ahli sushi."
"Begitu ya. Semangat, aku akan mendukungmu."
Entah kenapa, aku malah diberi semangat. Eh, apa aku harus jadi ahli sushi?
Tapi, aku kembali menyadari betapa anehnya pemandangan ini.
Satu adalah dewi matahari yang sangat populer di sekolah, orang yang pertama kali aku sukai.
Yang lainnya adalah malaikat bulan dengan aura misterius yang menjadi teman masa kecilku.
Aku tidak pernah menyangka akan ada hari di mana aku bisa duduk makan bersama mereka berdua.
Tiba-tiba, aku melihat Hinata yang terlihat murung dan menundukkan pandangannya. Dia terlihat tidak bersemangat, berbeda dari biasanya.
Melihat Hinata seperti itu, Tsukino pun berbicara.
"Hinata-san, senang melihatmu sudah pulih. Semua orang di OSIS juga senang, lho."
"...Iya, benar."
Hinata menatap karangan bunga berbentuk keranjang yang menghiasi ruangan.
Ini adalah hadiah dari anggota OSIS yang mengumpulkan uang bersama sebagai ucapan selamat atas kesembuhannya.
Tapi, Hinata menatap karangan bunga itu dengan penuh penyesalan.
Seolah-olah dia merasa telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan padanya.
"Hinata-san, ada apa? Ini kan sushi yang enak, tapi kau terlihat sedih."
"...Aku ingin mengatakan sesuatu pada Yuuto-kun dan Tsukino-chan."
Hinata meletakkan sumpitnya dan membungkuk dalam-dalam, sampai ekspresinya tidak terlihat.
"Maaf sudah merepotkan kalian berdua. Seharusnya, aku bisa mengatasi flu ini sendiri. Aku merasa malu karena telah menyusahkan kalian. Mulai sekarang, aku akan berusaha agar hal seperti ini tidak terjadi lagi."
Tsukino terlihat bingung.
Tapi aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku dan Tsukino sama sekali tidak keberatan. Jadi, aku tidak mengerti kenapa kau terus meminta maaf."
"Tidak seperti itu. Tsukino-chan sudah menggantikanku di rapat siswa, dan Yuto-kun sudah mengerjakan pekerjaan rumah. Semua itu seharusnya adalah tanggung jawabku."
Sejak tadi, kegelisahan di dadaku tidak kunjung hilang.
Hinata terus meminta maaf secara berlebihan hanya karena kami merawatnya.
Sikapnya jauh berbeda dari dewi matahari yang selalu dicintai oleh semua orang yang aku kenal.
Lalu, aku memutuskan untuk menanyakan sesuatu yang sudah lama mengganggu pikiranku pada Hinata.
"Ada satu hal yang membuatku penasaran. Kau terkena flu saat sedang sibuk mempersiapkan festival Natal, kan?"
Dengan ragu, aku mengatakannya.
"Mungkin Hinata sebenarnya menyadari kalo kondisi tubuhmu tidak baik-baik saja, tapi tetap memaksakan diri untuk melanjutkan kegiatan OSIS, bukan?"
"......Tidak seperti itu."
Mata Hinata jelas menghindari kontak mata.
Ternyata, Hinata memang terlalu serius sampai-sampai terlihat lucu.
Dia sangat buruk dalam berbohong.
Pasti Hinata juga menyadari kalo dia seharusnya beristirahat.
Tapi dia tetap memaksakan diri, dan akhirnya jatuh sakit karena flu.
"Baik persiapan festival Natal maupun flu ini. Kenapa kau mencoba menanganinya sendiri? Aku tahu kamu punya rasa tanggung jawab yang besar, tapi bagiku, itu terlihat seperti memaksakan diri."
"...Iya, mungkin. Aku mungkin terlalu memaksakan diri."
Dengan nada seperti menyerah, Hinata berbicara.
"Ah, sungguh mengecewakan. Aku tidak ingin Tsukino-chan, anggota OSIS, atau bahkan Yuto-kun melihat sisi lemahku. Aku sudah berusaha keras untuk menyembunyikannya."
"...Hinata-san?"
Melihat Tsukino yang terkejut, Hinata tersenyum dengan ekspresi yang tertekan.
"Ini cerita lama. Ada seorang gadis kecil. Sejak lahir, dia tidak memiliki ayah. Mungkin karena itu, dia berpikir kalo dia adalah anak yang tidak dicintai oleh siapa pun."
Dengan tiba-tiba, Hinata mulai bercerita seperti dongeng, membuatku dan Tsukino kehilangan kata-kata.
Aku teringat pada kata-kata Hinata suatu hari, saat dia memegang boneka.
──Ini cerita lama. Saat kecil, aku tidak punya banyak teman.
Apa gadis kecil itu... adalah Hinata?
"Tapi suatu hari, gadis kecil itu menyadari sesuatu. Kalo tidak ada yang mencintaiku, maka aku harus berusaha keras agar dicintai oleh seseorang. Jadi, dia berusaha. Dia belajar melakukan pekerjaan rumah agar ibunya senang. Dia belajar keras agar dipuji oleh guru. Dia berlatih tersenyum agar bisa berteman dengan orang lain."
Di ruangan yang hanya diisi oleh kami bertiga, hanya suara Hinata yang terdengar.
"Tapi suatu hari, gadis kecil itu tiba-tiba berpikir. Kalo aku tidak lagi menjadi siswa teladan yang ideal bagi orang lain──"
Dan aku benar-benar melihatnya.
Senyum yang terlihat sangat sedih, tidak seperti dewi matahari yang biasa aku kenal.
"──Apa semua orang akan membenciku?"
──Ah, begitu rupanya. Itu alasannya.
Aku selalu menganggap Hinata sebagai seseorang yang istimewa.
Aku berpikir kalo dia dilahirkan sebagai orang yang serius, pintar, dan baik hati. Karena itulah, dia menjadi siswa teladan.
Tapi, ternyata tidak.
Hinata berusaha keras agar dicintai oleh semua orang, dan akhirnya menjadi siswa teladan──karena itulah, dia lebih takut kehilangan daripada siapa pun.
Tunggu. Jadi, apa alasan Hinata bergabung dengan OSIS dan bercita-cita menjadi ketua OSIS adalah──untuk menjadi sosok yang dibutuhkan banyak orang, demi mencapai idealnya?
"Ah, ini hanya contoh cerita saja. Ada gadis seperti itu di dunia ini, jadi mungkin aku juga terlalu memaksakan diri. Tapi, ini bukan hal yang serius. Jadi, jangan terlalu dipikirkan, ya?"
"...Aku tidak akan membenci Hinata-san, lho?"
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Tsukino berbicara.
Ekspresinya terlihat sedih, seolah-olah tidak ada yang pernah melihatnya seperti ini di sekolah.
"Aku tidak bersama Hinata-san karena dia adalah siswa teladan atau alasan seperti itu. Aku ingin berteman dengan Hinata-san karena aku menyukainya. Apa itu tidak boleh?"
"...Terima kasih, Tsukino-chan. Aku tidak berpikir kata-katamu adalah bohong, dan itu sangat membuatku senang."
Tapi, senyum Hinata yang terlihat bingung tidak berubah.
"Tapi, mungkin gadis kecil itu akan berkata seperti ini. ...Aku berusaha keras selama ini agar dicintai oleh seseorang. Kalo aku berhenti berusaha dan mulai bergantung pada orang lain, itu berarti aku menyangkal diriku sendiri."
"...Begitu ya."
"Maaf, Tsukino-chan. Aku membuat suasana menjadi berat. Lebih baik kita makan saja, ya? Kita jarang bisa makan sushi seperti ini."
Tapi, suara Hinata terdengar sangat hampa bagiku.
Saat aku masih hanya teman sekelas, aku mengagumi Hinata sebagai siswa teladan yang sempurna.
Tapi sekarang, sebagai keluarganya, aku menghadapi sisi gelap hati Hinata yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun.
Sejak aku melihat air mata Hinata saat dia jatuh sakit karena flu dan memintaku untuk menemaninya malam itu, ada satu hal yang selalu kupikirkan.
Apa yang bisa kulakukan untuk Hinata.
Bukan sebagai teman sekelas atau rekan OSIS──tapi sebagai keluarganya, hal yang hanya bisa kulakukan.
"Hei, Hinata. Ada sesuatu yang ingin kuminta."
"...? Ada apa?"
"Yuto...?"
Hinata dan Tsukino menatapku dengan penuh keheranan.
Aku tidak tahu apa ini jawaban yang benar atau salah, tapi aku sudah memutuskan jawabanku sendiri.
Cara untuk mengakhiri kegelisahan dan kesepian Hinata.
Cara agar aku dan Hinata benar-benar menjadi keluarga.
Dan, seperti sedang mengungkapkan perasaan, aku memberitahu Hinata.
"──Minggu ini, maukah kau pergi berkencan denganku?"




