Selama jam makan siang, aku dipanggil ke belakang gedung olahraga. Jika ini adalah undangan dari seorang gadis, aku pasti akan bersemangat dan gugup, tapi sayangnya, orang yang memanggilku adalah teman sekelasku, seorang laki-laki.
"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?"
Meskipun kami berada di kelas yang sama, aku tak bisa menahan diri untuk mendongak demi menatap matanya. Namanya Seiya Sakuraba.
Dia adalah rivalku dalam takdir.
Dia adalah campuran dari negara Nordik atau semacamnya dan, meskipun dia seorang siswa tahun pertama SMP, tingginya lebih dari 190 cm. Meski tubuhnya terlihat ramping, dia penuh dengan otot-otot kuat dan lentur, seolah-olah terbuat dari serat logam.
Selain itu, dia memiliki wajah tampan, dengan bulu mata yang panjang dan hidung yang tegas, dan dia selalu berada di antara siswa terbaik di ujian.
Orang ini adalah alasan kenapa aku keluar dari klub basket. Begitu aku bergabung dengan klub, aku kalah telak dalam pertandingan satu lawan satu melawan jenius ini. Padahal dia belum pernah bermain basket selain di kelas pendidikan jasmani.
Sakuraba menatapku dalam diam dari posisinya yang tinggi.
(Jujur saja, hanya berdiri di depannya sudah membuatku mengingat saat itu dan membuatku merasa kesal. Jika dia punya sesuatu untuk dikatakan, aku berharap dia segera mengatakannya...)
"Ito-kun."
Akhirnya, Sakuraba berbicara. Sangat mengesalkan bahwa suaranya pun terdengar begitu menarik.
Posisinya yang tinggi turun ke level yang sama denganku, dan kemudian terus turun lebih rendah lagi.
Lalu, dia membungkuk dan menempelkan dahinya ke tanah.
"Biarkan aku memanggilmu master!"
Dia telah melakukan penghormatan yang begitu dalam hingga menunjukkan posisi membungkuk yang luar biasa di tanah.
"Eh?..."
Aku masih mengingatnya. Saat di SMP, aku adalah pemain yang cukup terkenal. Tapi, setelah masuk SMA, aku segera menyadari perbedaan kemampuan yang sangat mencolok.
Tidak ada satu pun dari kemampuanku bermain basket yang berhasil melawan seorang pria yang bahkan belum pernah bermain dengan serius sebelumnya.
Dia berlutut di tanah, menopang tubuh dengan tangan dan lutut, hanya bisa memandang ke atas, aku hanya bisa memandang ke arah si jenius yang memandangku dari bawah...
(Kenapa si jenius ini sedang menggosokkan dahinya ke tanah tepat di depanku?)
Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain kebingungan.
"Tidak, tidak, kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Sakuraba?"
"Maaf, master!"
"Tolong, angkat wajahmu."
"Kalo itu yang kau inginkan, master!"
"Kalau kau akan memperlakukanku sebagai master, setidaknya dengarkan apa yang kukatakan..."
"Maaf, maaf, maaf! Ampuni aku!"
Sakuraba menggosokkan dahinya ke tanah dengan begitu kuat, seolah-olah dia sedang menggali.
"Iya, aku memaafkanmu! Aku tidak menyalahkanmu atau apa pun!"
Aku tidak tahu master seperti apa yang dia pikirkan tentang diriku, tapi ini sudah mulai sedikit menggangguku...
"Terima kasih! Seperti yang kuduga, master, hatimu sungguh besar!"
Sakuraba tiba-tiba bangkit dari tanah. Sial, wajah tampannya semakin membuatku kesal.
"Jadi, apa yang ingin kau pelajari dariku?"
Aku merasa tidak punya apa-apa yang bisa dia pelajari, baik soal basket maupun pelajaran.
Tapi, apa yang Sakuraba katakan benar-benar tak terduga:
"Wanita!!"
Sakuraba mengatakannya dengan lantang.
"Apa? Wanita?"
Untik sesaat aku berpikir telingaku bermasalah, tapi tampaknya masih berfungsi dengan baik.
"Kau, yang setiap hari menerima surat cinta dan pengakuan dari para perempuan?"
"Ya."
"Dan aku, yang belum pernah punya pacar seumur hidup dan seorang pria perjaka yang tak diinginkan? ...Apa yang kau bicarakan?"
"Maaf, maaf, maaf!"
Sakuraba kembali menggosokkan wajahnya ke tanah.
"Tidak, tidak, kau tidak perlu membungkuk."
"Terima kasih!"
Saat aku mengatakannya, Sakuraba langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum.
(...Apa pria ini benar-benar tidak tahu malu?)
Aku berpikir sambil meletakkan tangan di dagu.
"Tapi, sungguh, aku tidak mengerti. Bagaimanapun, kau punya banyak pengalaman dengan perempuan."
"Tidak, aku masih perjaka."
"Hah? Benarkah?"
"Ya. Dan parahnya lagi, aku belum pernah punya pacar."
"Hah?"
Aku mengungkapkan keterkejutanku dan kebingunganku.
"Padahal kau begitu populer. Terakhir kali kudengar, perempuan paling cantik di kelas dua mengakui perasaannya padamu."
"Ya, begitulah... Sampai saat ini, aku menolak semua pengakuan itu."
"Apa mungkin kau menyukai sesama jenis atau ada perempuan lain yang kau suka?"
"Tidak, aku suka perempuan."
"Lalu, kenapa?"
"Aku suka perempuan, tapi aku merasa tidak nyaman. Aku tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan mereka. Selain itu, ayahku tidak ada dan aku hanya punya saudara laki-laki."
"Oh, begitu."
Aku mengerti maksudnya. Sebagian besar anak laki-laki seusia kami, termasuk aku, tidak tahu bagaimana berurusan dengan perempuan.
"...Aku tidak suka dibenci orang. Ketika aku berada di depan seorang perempuan, aku khawatir mengatakan sesuatu yang salah atau melakukan sesuatu yang aneh sehingga membuatku dibenci. Aku merasa mual hanya memikirkannya."
"Aku mengerti. Sebagai pria, aku juga bisa memahami perasaanmu. Selain itu... Hanya saja, dengan tampangmu yang tampan, kurasa bahkan jika kau melakukan hal seperti itu, kau mungkin bisa lolos dengan pesonamu."
"Benarkah, bahkan jika aku berbicara dengan seorang perempuan lebih dari dua menit dan akhirnya muntah?"
"Apa kau akan benar-benar muntah atau hanya mengatakannya sebagai kiasan?"
Ini sungguh mengesankan. Meskipun aku bukan ahli dalam hal wanita, aku tidak sampai di titik itu.
"Ngomong-ngomong, kalo kau tidak suka dibenci, apa kau tidak berpikir kalo kau menolak undangan kencan juga bisa membuatmu dibenci?"
Atas pertanyaanku yang langsung, Sakuraba menggelengkan tangan.
"Apa yang kau katakan? Hanya memikirkan ‘mungkin dibenci’ saja sudah membuatku seperti ini. Jika aku benar-benar harus pergi kencan atau menjalin hubungan dan kemudian dibenci, mungkin aku akan mati. Jadi aku lebih memilih menolak dengan sopan untuk meminimalkan kerugian."
"Apa yang kau katakan?"
Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut pengecut atau berani... Yah, setidaknya dia tidak ragu-ragu dan langsung menolak, itu sesuatu yang positif.
"Selain itu, kenapa kau memilihku?"
Ada anggota lain di tim basket yang pasti punya pacar.
"Seorang teman sekelasku bilang kalo kau adalah master yang ideal. Dia bilang kalo setiap hari kau dikelilingi oleh gadis-gadis paling seksi di sekolah, dan kau ngentod dengan mereka!"
"Itu tidak benar! Aku masih perjaka!"
Apa itu rumor? Dari mana asalnya?
"Benarkah? Jadi itu juga bohong kalau kau mengubur wajahmu di payudara gadis-gadis setiap hari di kelas dan memasukkan tanganmu ke dalam pakaian mereka di depan semua orang?"
"Tentu saja..."
Aku mencoba menyangkalnya, tapi kemudian aku teringat Latina, yang memelukku setiap hari, dan Katagiri Fumiko, yang pernah menyuruhku memasukkan tanganku ke dalam pakainya.
(Dia benar...)
Begitu ya...keduanya benar-benar punya payudara nomor satu atau dua di sekolah.
Saat itu...
"Makoto! Aku di sini, Koto!"
Sepertinya Latina mencariku sejak aku menghilang dari kelas tepat setelah waktu istirahat makan siang dimulai, dan dia menemukanku lalu melompat ke arahku.
"Wah!"
Seperti biasa, aku tidak sempat menghindar, dan dia mendorongku, lalu duduk di atasku.
"Aku kenyang setelah makan siang. Ayo kita berolahraga setelah makan siang untuk membantu proses reproduksi."
"Apa kau berencana untuk memiliki bayi seperti itu?"
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghindari tangannya yang berusaha meraih seragamku. Pertukaran ini sudah menjadi rutinitas sehingga terasa terlalu akrab bagiku.
"Wow... itu luar biasa..."
Mata Sakuraba bersinar.
"Bagaimanapun, master adalah satu-satunya orang yang tepat. Tolong! Tolong bantu aku untuk berkencan dengan seorang gadis yang baik!"
Sakuraba menggesekkan wajah cantiknya ke lantai lagi.
"Ya. Mulai sekarang, kita akan memulai 'Sesi Pertama Kursus Mengatasi Aversi Terhadap Wanita oleh Sakuraba Seiya.'"
"Bagus! Master! Yang terbaik di Jepang!"
Setelah pelajaran, kami pergi ke ruang kelas kosong. Aku berdiri di depan panggung, sementara Sakuraba duduk di kelas sambil bertepuk tangan.
"Oh! Tepuk tangan~!"
"Kenapa aku juga harus ada di sini...?"
Latina dan Katagiri, yang ku undang karena aku berpikir kali lebih baik melibatkan gadis-gadis.
"Yah, pikirkanlah ini sebagai cara membantu remaja yang memiliki masalah."
Aku berkata kepada Katagiri yang terlihat tidak senang, untuk menenangkannya.
"Ngomong-ngomong, Ito-kun, kau cukup bersemangat. Bahkan mengundang kami."
"Eh? Tidak, tidak seperti itu. Yah, ini karena kami pernah satu tim di basket."
Itu bohong. Lagipula, Sakuraba yang telah mengalahkan ku hingga tidak ada peluang menang di basket, sekarang memanggil ku 'master' dan bahkan berlutut di depan saya.
Sebenarnya, aku merasa cukup senang. Aku tidak bisa menyangkal kalo aku merasa sedikit sombong, berpikir kalo aki melakukan ini karena tidak ada pilihan lain.
Yah, tidak masalah. Aku bisa merasa senang dan juga membantu seseorang.
"Jadi, apakah kau akan berkencan besok?"
Aku bertanya kepada Sakuraba.
"Ya."
"Dan kenapa, jika biasanya kau membenci ide gadis-gadis yang tidak suka padamu, kali ini kau menerimanya? Apa itu seseorang yang benar-benar kau sukai?"
"Yah, dia memang wanita menarik, tapi dia bilang sesuatu seperti 'kalo kau tidak bilang ya, aku akan membunuhmu.'"
"Apa tidak lebih baik menolak wanita itu?"
Yah, karena dia sudah berjanji untuk berkencan, membatalkannya sekarang akan cukup sulit bagi Sakuraba, mengingat dia tidak suka dibenci. Itu sebabnya dia meminta bantuan.
"Jadi, mari kita rencanakan kencan itu seolah-olah itu akan terjadi. Lati, bisakah kau mengurusnya?"
"Ya, itu terdengar menarik!"
Latina mengangkat tangan, berdiri penuh semangat, dan menuju ke depan kelas.
"Pertama, mari kita mulai dengan kencan. Sakuraba, keluar dari ruangan sekali dan berpura-puralah pergi ke lokasi kencan, lalu coba mulai percakapan."
"Dimengerti!"
Dengan semangat, Sakuraba berdiri dan keluar dari kelas.
(... Baiklah, dengan format ini, meskipun aku tidak memiliki pengalaman sendiri, aku bisa memberikan saran dengan membandingkannya dengan pengetahuan yang ku dapatkan dari internet.)
Kalo aku mengajarkannya secara tradisional di kelas, pasti akan terlihat kurangnya pengalaman dan kedalaman dalam pengetahuanku, jadi ini adalah ide yang baik, jika saya boleh bilang.
"Jadi, mulai."
Ketika aaku mengatakannya, pintu kelas terbuka dan Sakuraba masuk.
"Di sini, di sini!"
Latina, dalam perannya sebagai gadis kencan, berakting seolah-olah sudah melihat Sakuraba dan tersenyum sambil melambai.
Pada saat itu, aku merasakan sedikit sakit di dadaku.
Melihat Sakuraba lagi, dia jelas seorang pria menarik dengan tubuh dan penampilan yang sangat baik.
Apa yang terjadi jika, saat mengikuti kencan simulasi ini, Latina mulai berpikir kalo Sakuraba adalah orang yang baik?
Tidak, tidak, aku yang telah menolak untuk bertanggung jawab berkencan dengan Latina. Aku tidak berada dalam posisi untuk khawatir seperti itu.
Sakuraba berjalan dengan langkah mantap dan elegan hingga berhenti di depan Latina.
"Selamat pagi! Cuacanya bagus, kan?"
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!"
Sakuraba muntah dengan kekuatan seperti bendungan yang jebol.
"Kenapa tiba-tiba seperti itu!?"
Aku berlari menuju Sakuraba.
"Apa... apa begini baik, master... gag?"
Sakuraba tampak sama sekali tidak baik.
"Tunggu, tunggu, apa ini tidak terlalu cepat? Seharusnya kau bisa bertahan setidaknya dua menit!"
"Itu... itu karena... ketika dia melihat mataku..."
"Hanya karena itu!? Bahkan saat kau berbicara, ada kontak mata!"
"Aku tidak bisa menatap mata saat berbicara dengan gadis... Biasanya aku hanya melihat langit-langit atau lantai..."
[TL\n: asli kaya gua, gua kalo bicara ama cewek gak bisa fokus kemata mereka, gua pasti selalu ngeliat ke bawah atau gak kesamping.]
"Attitude yang sangat buruk! Jika kau tidak ganteng, gadis-gadis akan membencimu seperti kecoa!"
"Aku tidak suka dibenci... gag gag gag."
Yah, bagaimanapun, kita tidak bisa melanjutkan seperti ini.
"Pertama, kamu harus terbiasa. Mari kita mulai lagi dari awal."
"Y-Ya..."
Meskipun terhuyung, Sakuraba bangkit dengan patuh dan bersiap lagi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Tapi, Latina, yang khawatir, meletakkan tangannya di bahu Sakuraba.
"!! U-U-U-U-Serangga menyentuhku... aaaaaaaaahhh!!"
Sakuraba sekali lagi muntah di lantai.
(... Sepertinya ini akan menjadi proses yang panjang.)
"Selamat pagi, Sakuraba-kun."
"Tarik napas...tar-...selamat pagi."
Setelah yang 20, Sakuraba akhirnya bisa mempertahankan kontak mata dan menyapa dengan sukses. Ngomong-ngomong, peran gadis dalam kencan ini berganti setiap kali, dan kali ini, Katagiri yang berperan.
"Baik... sepertinya Sakuraba juga mulai terbiasa."
Aku menghela napas lega, tapi...
"Tidak, aku sudah tidak ada lagi yang ingin dimuntahkan."
Sakuraba mengatakannya dengan ekspresi kelelahan, tapi dengan tatapan bangga karena berhasil melakukan sesuatu.
"Ah, begitu..."
Yah, setidaknya kita bisa maju. Itu yang penting.
"Jadi, langkah selanjutnya adalah percakapan."
"Per-percakapan? Mengerti."
Yah...
Setelah berpikir sejenak, Sakuraba berkata.
"Cuaca hari ini bagus, ya?"
"Ya."
"....."
"...."
Keheningan yang canggung pun terjadi.
Sakuraba tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
"...Maaf, master. Aku akan melompat dari atap."
"Tunggu, tunggu! Jangan terburu-buru!"
Aku menahannya dengan tegas. Sialan, ukuran tubuhnya memberinya kekuatan yang tidak perlu.
"Aku takut dengan keheningan...suasana yang canggung...aku takut..."
Sakuraba membisikkan itu dengan mata melotot.
"Untuk sementara, mari kita tinggalkan topik cuaca, karena sulit untuk mengembangkan percakapan dari situ. Dalam situasi seperti ini, baiklah..."
Sebenarnya, aku juga tidak punya pengalaman berkencan, jadi aku tidak begitu yakin, tapi aku mencoba berdasarkan pengetahuan yang kuteliti di Hp-ku.
"Pertama, puji orang yang akan kau ajak berkencan hari ini. Jika kau mulai dengan memujinya, dia akan merasa lebih santai."
"Ah, mengerti... Jadi, apa aku harus memuji orang lain?"
"Ya, itu dia. Ayo kita coba."
"Siap!"
Sakuraba menjawab dengan semangat dan menghadap Katagiri.
"Katagiri-san."
"Ada apa?"
"Pada hari ini, kau juga memiliki payudara yang besar!"
"Apa!?"
Saat dia membuat komentar itu, Katagiri langsung menampar Sakuraba di wajahnya tanpa ragu.
"Itu tamparan yang kejam?!"
Sakuraba, yang sudah kelelahan karena muntah-muntah, terpental ke belakang dan jatuh ke tanah.
"Matilah, kau tikus kotor."
Katagiri menatap Sakuraba dengan ekspresi penuh penghinaan.
Yah, itu bisa diprediksi.
Aku berkata pada Sakuraba yang tergeletak di lantai:
"Dan itu apa? Kenapa tiba-tiba kau memuji hal itu?"
"Eh? Apa ada hal lain yang bisa dipuji pada seorang gadis?"
Sakuraba, dengan ekspresi terkejut, mengeluarkan pernyataan yang absurd.
"Ya, ada banyak hal. Seperti pakaian, gaya rambut, kondisi kulit, atau bahkan jika dia memakai cat kuku, kau juga bisa menyebutkan tentang kuku."
"Wow, master, kau benar-benar ahli dalam hal ini."
Sakuraba menatapku dengan kekaguman, matanya bersinar.
Yah, bahkan siswa SMA sekarang bisa tahu semua ini lewat internet.
"Tapi, misalnya, mengenai pakaian, Katagiri-san mengenakan seragam, kan?"
"Kau selalu bisa menemukan sesuatu untuk dikatakan. Misalnya, 'Melihatnya lagi, seragam itu sangat cocok denganmu dan kau terlihat cantik.' Di dalam sekolah, semua orang mengenakan seragam, jadi kau tidak terlalu memperhatikannya, tapi di luar sekolah, seragam terlihat seperti bagian dari mode, kan?"
"Ah, aku mengerti... Aku belajar banyak."
"Ito-kun, kau benar-benar memiliki kemampuan yang hebat untuk memuji gadis-gadis."
Katagiri menatapku dengan ekspresi agak curiga.
"Yah, aku cukup baik dalam bahasa. Kosakataku bagus, haha."
Aku hanya akan mengatakan apa yang kupikirkan saat melihat Latina dengan seragam ketika dia datang ke rumahku pada hari istirahat adalah sesuatu yang akan kusimpan sebagai rahasia.
"Baik, ayo kita lanjutkan."
Aku bertepuk tangan.
"Jadi, sekarang giliranku, kan?"
"Ah, pada titik ini, mungkin lebih baik jika Katagiri yang menangani berikutnya."
"Apa ada alasan untuk itu?"
Sakuraba menundukkan kepala, bingung.
"Karena jika kau mengatakan sesuatu yang kasar, seperti sebelumnya, kau bisa mendapatkan tamparan, kan? Aku rasa itu akan membuatmu menyadari dan lebih berhati-hati."
"Master, kau cukup kejam."
Tamparan sebelumnya juga cukup keras, dan itu pasti menyakitkan, aku tau itu. Tapi, aku merasa Sakuraba butuh tekanan seperti ini untuk memperbaiki dirinya.
"Jadi, anggaplah kita masuk ke sebuah kafe. Kita akan berlatih duduk berhadapan dan bercakap-cakap."
Aku memindahkan kursi agar terlihat seperti meja kafe, dan mereka bisa duduk berhadapan.
Meskipun kita tidak bisa menyajikan kopi sungguhan, setidaknya kita memiliki pengaturan yang mirip dengan kafe.
Sakuraba bersandar pada dagunya dan mulai bergumam:
"Duduk berhadapan dan berbicara...aku rasa kita hanya bisa membicarakan cuaca..."
"Apa kau baru saja melalui neraka dengan itu?"
Sakuraba tampaknya memiliki ingatan yang sangat buruk untuk seseorang yang terbiasa berada di peringkat teratas.
"Dasarnya adalah apa yang kukatakan sebelumnya. Cobalah memilih topik yang memudahkan orang lain untuk berbicara tentang dirinya sendiri. Ayo, coba."
"Siap!"
Sakuraba, seperti biasa, menjawab dengan baik, setidaknya dalam kata-kata.
Katagiri, meskipun dengan enggan, menyesuaikan diri di sampingnya.
"Baiklah, ayo kita mulai."
Sakuraba berakting membuka pintu kafe. Kemudian, dia menuju meja yang disiapkan secara simulasi. Dengan cara yang alami, Sakuraba menggeser kursi agar Katagiri bisa duduk.
"Terima kasih."
Katagiri berterima kasih dan duduk di kursi yang digeser Sakuraba.
Sakuraba menjawab dengan senyum yang natural.
(Wah, tidak buruk.)
Apa yang baru saja kita lihat adalah apa yang dikenal sebagai 'perilaku kesatria' yang ada di internet.
Sepertinya itu tergantung pada orangnya dan, secara pribadi, aku tidak terlalu merasakannya, tapi bagi gadis-gadis, itu tampak seperti sesuatu yang cukup menyenangkan.
Jika dia melakukannya dengan alami, mungkin dia benar-benar seorang kesatria di hati.
Melihat Katagiri sudah duduk, Sakuraba juga menarik kursi di depannya dan duduk.
(Setelah kesalahan besar sebelumnya, mungkin sekarang dalam percakapan...)
"Ngomong-ngomong, Katagiri-san..."
Sakuraba berbicara pada Katagiri dengan santai dan natural.
"Ya?"
"Apa Katagiri-san masih perawan?"
"Kenapa itu!? Apa-apaan ini!?"
BAM! Pukulan langsung dari Katagiri menghantam wajah Sakuraba.
"Gah!?"
Sakuraba terlempar ke belakang, jatuh ke lantai bersama kursinya.
"Ito-kun... Dengan nama keadilan, bolehkah aku memotong tangan dan kaki orang ini?"
"Apa!? Tenanglah!"
Katagiri menatap Sakuraba dengan ekspresi yang bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Yah, aku mengerti bagaimana perasaannya...
Aku berkata kepada Sakuraba yang sedang mengusap darah dari hidungnya dengan saputangan setelah terkena pukulan itu.
"Dan kenapa kau selalu memilih opsi seperti itu?"
"Yah, aku pikir mungkin percakapan yang sedikit lebih berani bisa membantu mengurangi jarak di antara kami..."
"Kau sebelumnya ketakutan, tapi saat saatnya tiba, kau melakukan sesuatu yang ekstrem! Apa kau bukan kasus yang aneh!?"
(... Yah, mudah untuk membayangkan jika aku mengirimnya berkencan dalam keadaan seperti ini, itu akan menjadi bencana total.)
Jadi aku memutuskan untuk terus berlatih sampai dia bisa menangani setidaknya percakapan dasar.
30 menit kemudian.
"Ini cukup tak terduga,"
Setelah melihat Sakuraba setelah berlatih kencan dengan Katagiri. Wajahnya bengkak seolah-olah dia baru saja bertarung tinju.
"Aku tidak menyangka akan jadi separah ini..."
Selama 30 menit ini, setiap kali Sakuraba membuka mulut, dia mengucapkan sesuatu yang membuat Katagiri merasa tidak nyaman, dan setiap kali itu berakhir dengan tamparan darinya.
"Dengan apa yang kau capai, kau bisa jadi jenius dalam membuat gadis merasa canggung..."
"Aku merasa terhormat!"
"Aku tidak mengucapkan sepatah kata pujian pun."
Aku akan memperbaiki ini. Ternyata dia juga tahu cara menyebalkan pria.
"Tapi, apa yang akan kau lakukan dengan kencan besok dalam keadaan seperti ini?"
"Yah...sejujurnya, aku sama sekali tidak percaya diri."
Kami, aku dan Sakuraba, berpikir dengan tangan disilangkan.
"Oh, aku tahu."
Sakuraba bertepuk tangan.
"Aku punya ide bagus."
"Serius?"
"Ya, ide itu adalah..."
"Ya, sudah hampir saatnya untuk pertemuan..."
Seiya Sakuraba telah tiba di tempat kencan. Dia datang dengan 30 menit lebih awal untuk memastikan tidak terlambat, dan pakaiannya merupakan kombinasi warna monokrom yang seimbang dengan baik antara santai dan formal.
"Hari ini aku akan membuatmu bangga, master!"
"Eh, kenapa!?"
Ya. Sakuraba bersamaku di tempat kencan. Ketika Sakuraba bilang dia punya ide bagus dan harus datang ke tempat ini besok, ternyata ini adalah tempat kencan Sakuraba.
"Jika kau bersamaku selama kencan, aku akan merasa lebih percaya diri."
"Kau berpikir untuk membuatku menemanimu selama seluruh kencan!?"
Aku tidak bisa terus bersama dengan orang ini. Ini benar-benar buruk bagi gadis yang akan dia ajak berkencan.
"Aku akan pergi..."
"Eh, tunggu, master!"
Sakuraba merangkul pinggangku saat aku berbalik untuk pergi.
"Aku tidak bisa menghadapi ini sendirian, aku akan gugup dan mati! Apa kau ingin aku mati sendirian!?"
"Sejujurnya, saat ini, aku rasa wajar jika kau mati."
"Kejam sekali!"
Dan saat itu:
"Oh, kau datang tepat waktu. Selamat."
Suara wanita yang familiar terdengar.
Itu adalah sosok ramping, seperti model, dengan wajah yang terdefinisi dengan baik dan tatapan menantang.
Rambutnya yang semi-panjang dicat pirang dan keriting, dan dia mengenakan pakaian yang jelas-jelas lebih pendek daripada seragam, ditambah beberapa anting-anting.
Dia adalah Asuka Kijouin, ratu tahun kami.
Jadi, kau adalah partner kencannya?


