> Hey Sahabat Bolehkah Kita Berciuman Lagi Hari Ini

Hey Sahabat Bolehkah Kita Berciuman Lagi Hari Ini

 Kamu saat ini sedang membaca   Hey Sahabat Bolehkah Kita Berciuman Lagi Hari Ini?  Selingan. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw

Chapter 21 Bagaimana kalo……kita bolos saja?

 

Ini adalah kali kedua aku ditarik keluar dari kelas oleh Sagiri dengan nektai.

 

Yang pertama kali terjadi saat sepulang sekolah, tapi kali ini adalah sebelum homeroom pagi. 


Saat kami menaiki tangga, bunyi bel terdengar, tapi teman masa kecilku tidak berhenti.

 

Sambil menahan rasa tercekik di leherku, akhirnya kami tiba di tempat yang sama seperti sebelumnya, titik akhir di ujung tangga. 


Sebuah ruang sempit dan redup dengan pintu menuju atap yang tidak pernah bisa dibuka.


".........."


"Sa-Sagiri…?"

 

Ketika aku mengira Sagiri akhirnya akan melepaskan dasiku, dia justru terang-terangan mengalihkan pandangan.


"Be-benarkan…bukan hanya aku saja…"

 

Jari-jarinya memainkan rambut panjang putihnya, memutar-mutarnya.


"Ki-kita kan sahabat……sahabat juga ingin, bukan…?"

 

Rambut sampingnya bergoyang, memperlihatkan telinga putih bersihnya yang sudah merah sampai ke ujung.


"Ja-jadi…"

 

Mata pucat yang melirik padaku itu tak henti-hentinya bergerak gelisah.


"A-apa…mau…?"

 

Suara yang mengucapkan pertanyaan singkat itu pecah dengan aneh.

 

Sial, jantungku berdetak kencang lebih dari sebelumnya.


"Tu-tunggu Sagiri! Aku sama sekali tidak bilang begitu!?"


"…Eh?"

 

Itu lain hal. Yang ini lain lagi.

 

Rasanya benar-benar gawat kalo aku tidak menghentikan teman masa kecilku yang sedang melaju tanpa kendali sampai-sampai ingin membolos homeroom pagi.

 

Walau mungkin sudah terlambat, tapi itu bukan alasan untuk menyerah.


"Ta-tapi, Renji…"

 

Wajah Sagiri yang jelas-jelas gelisah itu tetap terlihat memerah walau ruangan ini redup.

 

Diam saja dia cantik, berbicara pun tetap cantik. 


Teman masa kecilku yang bisa kubanggakan. 


Dan, ekspresinya yang malu itu benar-benar manis, membuatku tak henti ingin melihatnya.


"Kau…ingin ciuman, kan?"

 

Kalo saja aku bukan pihak yang terlibat.


"…Tidak."


"Eh!?"

 

Kalo ditanya ingin atau tidak, tentu saja aku ingin.

 

Tapi tetap saja, itu lain hal, ini lain hal.


Aku dan Sagiri jelas memiliki perbedaan cara pandang. 


Siapa pun bisa menyadarinya, aku pun menyadarinya.


"Ka-kalo begitu kenapa kau melakukan itu di kelas tadi!?"


"Itu…aku hanya ingin membalas apa yang biasanya kau lakukan…"

 

Gadis tercantik di sekolah itu mencengkeram bahuku dengan wajah penuh kesungguhan. 


Bagaimana pun wajahnya tetap cantik, dan meski tadi aku merasa unggul, entah sejak kapan posisiku justru terdesak.


"Ti-tidak mungkin…"

 

Sagiri menundukkan kepala dengan bahu terjatuh lemas.

 

Itu berbahaya. Kalo kami terus saling menatap dari jarak sedekat itu, bisa saja sesuatu yang aneh kembali terjadi. 


Jujur saja, hanya dengan menatap wajahnya dari dekat, jantungku sudah berdebar kencang.

 

Padahal dia teman masa kecilku, wajah yang sudah kulihat bertahun-tahun lamanya... 


"........."


"Sa-Sagiri…?"

 

Aku kembali memanggil namanya yang lagi-lagi terdiam. 


Meski tampak tak berdaya menunduk, tangannya yang menggenggam bahuku tidak dilepaskan.

 

Yang terlihat di pandanganku hanyalah puncak kepala teman masa kecilku dengan rambut putih indah yang terurai. 


Aroma harum darinya membuat kesadaranku semakin kacau.


"..........."


"Hmm? He-hey, Sagiri!"?

 

Gii, gii, gii.

 

Tubuhku terdorong mundur tanpa daya oleh kedua tangannya yang masih mencengkeram bahuku, sampai akhirnya punggungku menabrak pintu besi.


"…Hei, sahabat."


"Hii!?"

 

Sagiri tidak mengangkat wajahnya.

 

Tapi sebagai teman masa kecilnya, aku tahu hanya dari suaranya saja…dia sedang marah. 


Itu jelas-jelas suara Sagiri saat dia sedang marah.


"…Kau mau?"

 

Sagiri mengangkat wajahnya.

 

Senyum. Senyum penuh dari gadis tercantik di sekolah. 


Tapi, hanya matanya yang sama sekali tidak tersenyum.


"…Kau mau, kan?"

 

Kedua tangannya kini menekan bahuku dengan tubuhnya.

 

Tekanan fisik sekaligus mental. 


Tubuhku merosot perlahan, mengikuti dorongan, hingga akhirnya duduk bersandar di pintu, dengan lutut tertekuk seperti posisi duduk santai yang agak berantakan.

 

Di atasku, Sagiri menaiki tubuhku seakan-akan menindihku.

 

Siapa pun yang melihat pasti tahu ini adalah posisi yang gawat.


"…Kau mau, kan?"

 

Tangan yang mencengkeram bahuku kini berpindah memegang pipiku. 


Tangan halus, lembut, dan hangat itu mencengkeram wajahku tanpa ampun.

 

Tepat di depan mataku, wajah teman masa kecilku yang memerah, matanya berkaca-kaca karena rasa malu, dengan ekspresi putus asa yang begitu menggemaskan.

 

Ditambah lagi, tubuh mungilnya yang menekan perutku dengan berat dan hangatannya membuat semua indraku kini penuh hanya oleh Sagiri.


"…Ciuman."

 

Tubuhnya makin menekan, hingga dada kami pun saling bertemu.


"Tu-tunggu dulu Sagiri! I-ini benar-benar ───"

 

Bahkan melalui kemeja, aku bisa merasakan kehangatan yang besar, kelembutan luar biasa, membuat pikiranku kacau.


"───Nngh."

 

Semuanya langsung terhapus oleh sebuah ciuman.

 

Dengan tubuh yang hampir sepenuhnya menempel, ciuman itu terasa seolah aku dan Sagiri sedang melebur menjadi satu.


『Kiin koon kaan koon, kiin koon kaan koon, kiin koon kaan koon, kiin koon kaan koon……』

 

Bunyi bel tanda dimulainya pelajaran pertama yang begitu akrab, entah mengapa terdengar jauh sekali.


"Hei, sahabat?"

 

Teman masa kecilku melepaskan bibirnya, lalu dia menatapku sambil tersenyum nakal.


"Bagaimana kalau…kita bolos saja?"

 

Jarak yang jelas-jelas bukan jarak seorang sahabat, membuatku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun di hadapan senyumnya itu.


 


Sebelumnya    Daftar isi    Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال