Chapter 6: Pulang ke Rumah
Toko koran lokal yang berada di perbatasan antara kawasan pertokoan dan pemukiman.
Beberapa Super Cub diparkir hingga melampaui batas jalan.
Di dalam toko yang tampak seperti toko biasa yang bisa ditemukan di kota mana pun, saat ini suasananya sedang gaduh.
Di waktu setelah tengah hari seperti ini, biasanya para pengantar koran sore baru akan mulai masuk kerja, dan suasana yang mengalir pun seharusnya santai.
Tapi, tiba-tiba sebuah limusin putih panjang berhenti di depan toko, dan yang turun darinya adalah seorang wanita cantik seperti model yang mengenakan setelan jas bisnis, serta seorang anak laki-laki berpenampilan seperti anak SD yang sangat disayangi dan diperhatikan oleh seluruh pegawai, termasuk sang pemilik toko.
Para pegawai yang kebetulan ada di tempat, mengelilingi anak laki-laki itu dengan wajah khawatir melihat suasana yang tidak biasa dari dirinya.
Awalnya, Ayane berniat untuk berbicara dengan pemilik toko yang juga atasan Haruto secara terpisah, tapi Haruto berkata, "Karena aku juga telah banyak merepotkan semua orang," sehingga akhirnya memutuskan untuk menjelaskan situasinya dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang.
Akibatnya, para pegawai yang mendengar cerita tersebut menjadi sangat marah terhadap wanita yang selama ini mereka kira sebagai ibu Haruto, dan merasa khawatir terhadap pria yang mengaku sebagai kakek Haruto. Suasananya pun menjadi agak aneh.
"Begitu ya, aku mengerti ceritanya. Shibusawa-san, maaf, tapi bolehkah aku berbicara langsung dengan Tatsubou—eh, maksud ku Seirenji Haruto-kun? Aku ingin bicara secara pribadi, apa kau bersedia menunggu sebentar?"
Pemilik toko yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan dengan seksama seolah sedang mengamati Ayane, akhirnya buka suara.
"...Aku mengerti. Aku akan menunggu di sini."
Setelah berpikir sejenak, Ayane mengangguk.
"Terima kasih. Ayo, kalian semua segera siapkan edisi sore! Jangan sampai membuat kesalahan karena memikirkan hal yang tidak perlu!"
"Ara, kau tega sekali, Pak Bos!"
Mengabaikan protes tidak puas dari para pegawai, pemilik toko menggiring Haruto ke ruang administrasi di belakang.
Meski Haruto sudah sering masuk ke ruangan itu dan bahkan sering meminjam meja untuk belajar, karena situasinya yang berbeda kali ini, dia pun merasa sedikit gugup saat mengikuti bosnya masuk ke dalam.
"Duduklah di mana saja. Ah, kai tidak perlu tegang. Aku bukan mau memarahi mu kok."
Haruto duduk di salah satu kursi sederhana yang merupakan satu set dengan tiga meja kantor yang ada di ruang administrasi kecil itu. Tempat yang biasa dia gunakan untuk belajar atau mengerjakan PR.
Sang pemilik toko duduk di meja yang biasa dia pakai, yang berada di seberang Haruto.
"Jadi begini, apa penjelasan dari pengacara bernama Shibusawa itu sesuai dengan apa yang kau dengar, Tatsubou? Bagiku, ceritanya terlalu luar biasa, jadi sulit untuk langsung dipahami."
"Ah, ya, a-aku juga baru mendengarnya tadi..."
"Kurasa begitu. Tapi yah, satu hal yang pasti, wanita yang selama ini kau disebut sebagai ibumu itu memang bukan orang baik. Kalo kau bisa lepas dari dia, itu bukan hal buruk… Tapi bagaimana dengan perasaanmu sendiri, Tatsubou? Aku tahu kau pernah bilang ingin keluar dari rumah itu dan masuk universitas suatu hari nanti. Kalo kau diambil alih oleh wali baru, mungkin keinginan itu bisa terwujud. Tapi bukan tak mungkin juga kau malah masuk ke situasi yang lebih buruk. Dan kalo kau sampai keluar dari kota ini, kami pun tidak bisa banyak membantumu lagi."
Itu adalah kata-kata penuh perhatian yang benar-benar memikirkan masa depan Haruto.
Hal itu membuat Haruto sangat senang, dan sekaligus bangga.
"Aku ingin mencoba mempercayai orang itu. Kalo memang ada keluarga kandungku, aku ingin bertemu dengan mereka. Tapi, aku juga tidak ingin merepotkan Bos dan yang lainnya..."
"Yang itu tidak usah dikhawatirkan. Kalo cuma satu orang berhenti, kami masih bisa saling bantu menutupi. Toh, kita juga bisa merekrut orang baru. Untuk sementara waktu, semuanya akan baik-baik saja.
Lagipula, kalo penjelasan dari pengacara itu benar dan kau punya wali baru, tanpa persetujuan dari mereka kami tidak boleh mempekerjakanmu lagi."
Sebenarnya, mempekerjakan anak di bawah umur yang masih berada di masa wajib belajar tidak diperbolehkan.
Hanya dalam kondisi khusus seperti membantu usaha keluarga atau karena alasan ekonomi dengan persetujuan wali, maka boleh diberikan pengecualian.
Kalo wanita yang selama ini dianggap sebagai wali Haruto ternyata adalah pelaku penculikan, maka persetujuannya tidak sah dan Haruto tidak bisa lagi bekerja di toko itu.
"Yah, kau ini entah kenapa selalu disukai oleh orang-orang baik. Aku yakin kau akan baik-baik saja di mana pun. Tapi tunggu sebentar."
Sambil berkata begitu, pemilik toko membuka laci meja dan mengambil sebuah kotak serta kantong kecil.
Lalu dia mengeluarkan Hp baru beserta perlengkapannya dari kotak itu, dan dari kantong kecil dia mengeluarkan casing Ho dan power bank kecil, lalu meletakkannya di depan Haruto.
"Bawa ini. Cara pakainya sama dengan yang biasa kau bawa saat mengantar koran, jadi kau pasti sudah paham. Ini dari penyedia murah, jadi internetnya mungkin tidak terlalu cepat. Tapi di buku telepon sudah aku masukkan nomor toko, nomorku, dan nomor istriku. Kalo terjadi sesuatu, kau boleh langsung menghubungi kami kapanpun. Bukan hanya itu, untuk sementara waktu, kau harus menghubungi kami minimal seminggu sekali. Jangan lewat email. Harus lewat telepon. Mengerti?"
Haruto yang mendadak diberi Hp itu hanya bisa menatap wajah pemilik toko sambil kebingungan.
Memang, selama ini karena Haruto tidak punya HP, pemilik toko meminjamkan Hp atas nama toko saat ia melakukan pengantaran atau penagihan.
Tapi, setiap kali pekerjaan selesai, Hp itu selalu dikembalikan.
Berbeda dengan yang sekarang, jelas ini adalah miliknya sendiri. Bagaimana seharusnya dia menggunakannya? Toh, akan ada biaya bulanan juga.
"Ta-tapi..."
"Awalnya aku memang berencana memberikannya sebagai hadiah kalo kau lulus dan kerja di sini. Atau kalo kau bisa masuk SMA, akan kuberikan ini sebagai hadiah kelulusan. Ini bukan dari operator besar, jadi biayanya juga tak seberapa. Setidaknya sampai kau bisa tenang, tak masalah. Lagipula aku tahu kau bukan tipe yang akan menyalahgunakan benda itu.
Yang lebih penting adalah, kami semua lebih khawatir kau diambil oleh orang yang bahkan belum pernah kau temui. Teman-temanmu di sini pun pasti merasakan hal yang sama. Kalo kami bisa terus berkomunikasi dengan mu, kami akan merasa lebih tenang."
Tanpa memperdulikan Haruto yang masih terlihat bingung, pemilik toko kemudian membuka brankas kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah amplop, lalu kembali.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa, dia menggenggam tangan Haruto dan menyerahkan amplop itu.
"Ini bukan gaji, tapi... anggap saja bonus. Maaf, isinya tidak seberapa, tapi simpanlah untuk berjaga-jaga. Dan jangan beri tahu pengacara atau pria yang mengaku sebagai kakekmu itu. Mengerti? Kalo ada masalah, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Kau punya banyak sekutu di sini."
"Bos... te-terima kasih banyak..."
Saat membuka amplop sesuai arahan, Haruto menemukan beberapa lembar uang 10 ribu yen di dalamnya. Mungkin itu adalah jumlah yang diberikan agar Haruto bisa pulang kapan pun kalo terjadi sesuatu.
Haruto begitu terharu hingga meneteskan air mata.
Sambil tetap memasang wajah datar namun menggaruk pipinya karena malu, pemilik toko menunggu Haruto tenang dari tangisannya, lalu memastikan Hp dan amplop sudah disimpan ke dalam jaketnya sebelum keluar dari ruang administrasi.
"Apa pembicaraannya sudah selesai?"
"Ya. …Terakhir, aku ingin memastikan. Tatsubou, maksudku, Seirenji Haruto ini benar-benar akan dijaga dengan baik oleh kalian, kan? Tidak, bukan itu. Maksudku, kalian akan menghormati keinginannya, dan memastikan ia bisa hidup bahagia, bukan?"
"Ya. Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan keinginan Haruto-san. Dan bila setelah bertemu dengan kakeknya, Haruto-san tetap ingin tinggal di kota ini, meskipun dia masih di bawah umur dan perlu wali hukum, kami akan mengembalikannya dengan penuh tanggung jawab."
Ayane menerima tatapan tajam pemilik toko dengan tegas dan menjawab dengan jelas.
"Kalo begitu, tak ada lagi yang perlu aku katakan lagu. Meski kami akan merasa sepi karena Haruto-kun akan kalian rawat untuk sementara waktu..."
"Meskipun nanti kau akan tinggal bersama kakekmu, kita masih bisa saling menghubungi kapan saja. Lagi pula, kau juga harus mengurus administrasi sekolah, jadi kamu pasti akan kembali ke sini setidaknya sekali, kan?"
"Kalo begitu, ini bukan perpisahan selamanya! Tatsubou, semangat terus ya! Kaloada masalah, jangan ragu untuk hubungi kami!"
"Benar itu! Kalo perlu, kau boleh jadi anak kami saja!"
"Kalo kau datang lagi, akan aku mengajakmu makan makanan enak lagi!"
Para pegawai itu satu per satu mengatakan hal-hal semacam itu sambil memberikan secarik kertas berisi kontak mereka kepada Haruto.
"Terima kasih banyak atas semuanya. Aku sangat senang bisa bertemu kalian semua. Aku pasti akan datang lagi!"
Haruto berkata begitu sambil menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Presiden perusahaan dan seluruh pegawai mengantarnya sampai ke luar toko, dan bahkan setelah limusin yang ditumpanginya menghilang dari pandangan, mereka tetap melambaikan tangan.
"……Haruto-san, kau benar-benar diberkahi dengan lingkungan kerja yang luar biasa, ya."
"Ya. Aku bisa bertahan sampai sekarang berkat mereka. Suatu hari nanti, aku ingin membalas budi mereka……"
Haruto terus menoleh ke belakang, tak menyembunyikan ekspresi sedihnya, hingga tempat kerja yang dicintainya itu benar-benar tak terlihat lagi.
Limusin itu sempat kembali ke rumah Haruto untuk mengambil barang-barang pribadi Haruto, yang kemudian dimasukkan secara singkat ke dalam tas usang miliknya.
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, mereka tiba di sebuah bandara regional yang terletak di bagian utara prefektur tempat Haruto tinggal.
Bandara itu kecil, hanya memiliki satu landasan pacu dan satu terminal.
Tapi entah kenapa, limusin tidak berhenti di depan terminal, melainkan terus melaju hingga berhenti di depan pagar di bagian belakang.
Seorang petugas yang melihat limusin itu segera membuka gerbang pagar, dan mereka langsung masuk ke dalam bandara.
Haruto belum pernah naik pesawat sebelumnya, tapi ia pernah naik kereta dari stasiun.
Dia sempat membayangkan kalo menaiki pesawat itu serupa, membeli tiket dan memilih tempat duduk. Maka dari itu, dia tidak pernah menyangka bahwa mobil bisa langsung masuk hingga mendekati landasan.
Manusia cenderung merasa cemas saat menghadapi situasi yang berbeda dari harapan mereka.
Haruto pun begitu. Saat limusin masuk ke dalam area bandara, dia merasa tidak tenang dan terus menengok ke luar jendela dengan gelisah.
Tak lama kemudian, limusin berhenti di depan sebuah pesawat yang terparkir di area beraspal yang cukup luas di samping landasan.
"Kita sudah sampai. Selanjutnya kita akan melanjutkan perjalanan dengan pesawat ini."
Ayane berbicara dengan nada lembut, seolah ingin menenangkan Haruto, lalu turun dari mobil lebih dahulu.
Melihat itu, Haruto pun buru-buru keluar, dan benar saja, pesawat itu berada tepat di hadapannya.
Melihat pesawat dari dekat untuk pertama kalinya, bukan dari foto atau dari kejauhan di langit, membuat Haruto tidak bisa melepaskan pandangannya.
Pesawat itu lebih kecil dari pesawat penumpang komersial berjenis jumbo jet.
Mesin jet-nya tidak berada di bawah sayap, melainkan di sisi kiri dan kanan bagian bawah ekor pesawat. Ujung sayapnya pun melengkung ke atas, memberikan kesan menyerupai pesawat tempur.
"Waaah…… keren sekali."
Haruto terpesona, melupakan situasinya saat ini.
Meskipun usianya lebih tua, dia terlihat seperti anak SD yang terobsesi dengan pesawat. Dalam konteks ini, penampilannya yang kekanak-kanakan justru terasa cocok.
"Senang mendengarnya. Kalo begitu, ayo kita naik. Kau akan punya banyak waktu lain untuk melihat-lihat pesawat ini nanti."
"Ah, ma-maaf!"
Karena terlalu terpukau, Haruto sempat berhenti melangkah. Mendengar perkataan Ayane, ia pun sadar dan menunduk minta maaf.
Ayane hanya menggeleng pelan, menyiratkan bahwa tak perlu khawatir, lalu naik lebih dulu ke tangga pesawat.
Haruto yang mengikuti dari belakang, tanpa sengaja melihat dari dekat rok Ayane yang menaiki tangga curam itu. Ia buru-buru menunduk.
Meskipun rok Ayane model pensil dan tidak sampai menampakkan bagian dalam, kaki jenjangnya yang terlihat sampai mendekati paha cukup membuat Haruto tersipu. Ia menaiki tangga dengan langkah sangat pelan, wajahnya merah padam.
Meski anak tangganya tak lebih dari belasan, ia tetap berusaha tidak mengangkat wajah hingga sampai di atas.
"Apa ada sesuatu yang salah?"
Ayane bertanya, melihat Haruto terus menunduk. Tapi Haruto hanya menggeleng cepat, tak mungkin berkata jujur.
『Selamat datang, Haruto-sama.』
Begitu masuk ke dalam pesawat, Haruto kembali dibuat terkejut.
Area pertama yang dia lewati ditutupi karpet lembut, dan hanya terdapat dua kursi cadangan di dekat dinding. Tidak ada yang terlalu mencolok.
Saat dia melangkah ke koridor di sisi kanan, sesuai petunjuk Ayane, dia langsung disambut oleh 4 orang wanita.
Mereka memakai seragam yang sama, tersenyum ramah, dan membungkuk hormat padanya.
Dipanggil namanya oleh para pramugari itu sudah cukup membuat Haruto terkejut. Tapi yang membuatnya terdiam adalah pemandangan di balik mereka.
Ruangan kabin itu hanya memiliki beberapa kursi yang menyerupai sofa mewah. Sekilas hanya ada sekitar sepuluh kursi dan satu sofa besar yang cukup untuk tiga orang. Di depannya ada televisi besar seperti yang biasa terlihat di toko elektronik.
Ruangan itu sama sekali tidak terlihat seperti interior pesawat, melainkan seperti kamar hotel mewah atau lokasi syuting film.
"Silakan duduk di kursi mana pun yang Anda suka. Kami akan menyiapkan minuman. Anda ingin minum apa?"
Salah satu pramugari mendekat, mempersilakan Haruto duduk dan menanyakan pesanannya.
"U-uh, a-anu, to-tolong teh saja……"
Haruto duduk rapi di kursi kedua dari depan dengan kedua lutut dirapatkan. Dia berhasil menjawab dengan suara kecil.
Anehnya, dua dari pramugari itu membalikkan badan dan menunduk.
(Eh? A-aku... barusan ngelakuin sesuatu yang aneh, ya?)
Haruto merasa cemas, padahal sebenarnya kedua pramugari itu terlalu gemas melihat tingkahnya hingga tak bisa menahan diri dan harus membalik badan sambil menahan tawa.
Tak lama kemudian, Ayane masuk ke kabin dan memutar kursi di depan Haruto agar mereka bisa saling berhadapan.
"Fufu, masih belum terbiasa ya?"
"Iya… ternyata di dalam pesawat seperti ini ya…"
"Di pesawat komersial biasa, tempat duduknya lebih sempit dan jumlah penumpangnya banyak. Tapi pesawat ini—"
"Mohon maaf mengganggu percakapan kalian."
Dua pria datang dari lorong pintu masuk dan menyapa mereka.
"Terima kasih atas kepercayaannya untuk terbang bersama kami hari ini. Saya adalah kapten dari pesawat ini, Okochi."
"Saya Kōna, kopilot hari ini. Mohon kerja samanya."
Dua pria yang mengenakan setelan jas dan topi hitam itu membungkuk dalam-dalam kepada Haruto.
Haruto, yang belum pernah naik pesawat sebelumnya, tidak tahu apakah hal ini lazim. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa aneh—kedua pria itu tidak membungkuk pada Ayane sama sekali.
"Semua persiapan telah selesai. Kita akan segera lepas landas. Apa ada hal yang ingin Anda tanyakan?"
Kapten Okochi bertanya dengan senyum hangat, dan Haruto terkejut dengan pertanyaannya.
"Eh? U-uhm… bukankah ada penumpang lain juga?"
Kapten Okochi menoleh sebentar ke arah Ayane.
"Haruto-san, pesawat ini adalah jet pribadi milik kakek Anda. Jadi hari ini, hanya Anda yang akan menaikinya."
"Perjalanan akan memakan waktu kurang dari dua jam. Mohon bersantai dan nikmati penerbangan Anda."
Setelah berkata demikian, kedua pilot itu pun kembali ke kokpit.
"U-uh, apakah kakekku itu orang yang luar biasa?"
Haruto belum bisa membayangkan betapa luar biasanya memiliki jet pribadi. Tapi dia tahu pasti itu butuh biaya besar.
Terlebih, ketika Haruto dicari, seluruh siswa SD, SMP, hingga SMA di Jepang harus menjalani tes DNA.
Kalo semua biaya itu ditanggung oleh sang kakek, tak terbayangkan berapa banyak uang yang telah dikeluarkan.
Mengingat hal itu, Haruto merasa semakin gugup.
"Ya… Bisa dikatakan beliau adalah seorang konglomerat. Tapi lebih dari itu, beliau hanyalah seorang kakek tua yang sangat menantikan pertemuan dengan cucunya. Jadi, jangan terlalu tegang. Lebih baik pikirkan hal-hal seperti… apa yang ingin kamu lakukan bersama beliau nanti, atau… kado Natal apa yang kamu inginkan."
Tapi meski begitu, Haruto tetap tidak bisa mengusir rasa cemas terhadap hal-hal yang masih asing baginya…
[TL\n: mewek gua cok nge tl chapter 1 ampe 6 ini, tau tau aja air mata gua langsung keluar, tapi untung chapter yg bikin mewek udah kelewat, chapter selanjutnya mulai chapter komedi.]

0 Komentar