> ABSOLUT ROMANCE

Tanpa judul


 


CERITA 2


ISTRIKU YANG MANIS MEMBUATKAN MAKANAN HANGAT DAN MENYAMBUTKU




Setelah menyelesaikan shift di bioskop, aku biasanya pulang ke rumah sekitar pukul 21:00. 


Saat aku naik lift di apartemen yang berjarak lima menit berjalan kaki dari Stasiun Ofuna dan turun di lantai tujuh, perasaan gugup yang luar biasa selalu menyerangku. 


Sudah sebulan sejak aku memulai hidup baruku, tapi aku masih belum bisa terbiasa dengan perasaan ini. Karena rasanya ini seperti tidak nyata.


"Aku ingin tau apa orang yang menang lotre juga merasa hal yang sama seperti ini?"


Aku bergumam pada diriku sendiri sambil berjalan menyusuri lorong panjang yang menuju ke pintu kamar paling ujung.


Tak lama kemudian, aku sampai di depan pintu kamar 707. 


Setelah menarik napas dalam-dalam, aku menekan bel yang hingga sebulan yang lalu selalu kubuka sendiri dengan kunci.


Segera terdengar suara manis yang berkata, 'Ya, tunggu sebentar.'


Pintu lalu terbuka dengan suara berderit. Kemudian  Hanae Riko, yang mengenakan sweter panjang berwarna pink lembut dengan celemek, muncul di hadapanku dan tersenyum malu-malu saat melihatku.


Keimutannya yang luar biasa membuat detak jantungku semakin cepat.


Disambut oleh seseorang yang menungguku di rumah.


Kebahagiaan dan rasa malu ini membuatku sangat gugup.


"Selamat datang di rumah, Minato-kun!"


"Ta-tadaima."


"Ah… kamu masih malu-malu ya dengan sapaan ini..."


"I-iya. Benar."


Hanae Riko mengambil tas dari tanganku saat aku menjawab dengan canggung. 


Meski aku bukan tipe suami Kanpaku di era Showa, aku sering mencoba untuk membawa tas sendiri, tapi dia selalu dengan senang hati mengambilnya dan membawanya ke sofa di ruang tamu, memeluknya dengan kedua tangannya.


[TL\n:Pada era Showa (1926–1989) di Jepang, posisi "Kanpaku" tidak digunakan dalam praktik politik atau pemerintahan. Kanpaku adalah gelar yang digunakan pada zaman feodal Jepang, khususnya pada periode Heian (794–1185) hingga periode Azuchi-Momoyama (1568–1600). Ini adalah posisi regent atau wali bagi kaisar yang masih di bawah umur atau tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya.]


Aku merasa tidak enak membiarkannya membawa tasku, tapi gerakannya yang imut membuatku tidak bisa menolak.


"Makan malamnya baru saja selesai. Aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi. Apa kau mau mandi dulu?"


Lampu di dalam rumah menyala.


Aroma makanan gorengan yang lezat tercium.


Dan yang paling penting, senyum manis Hanae Riko dengan pipi yang sedikit merah merona.


Saat diberikan 'kehidupan pengantin baru’ yang begitu bahagia, rasanya sulit untuk percaya ini adalah kenyataan.


"Minato-kun?"


"Ah, maaf, aku melamun. Terima kasih atas makanannya. Aku makan dulu. Apakah ini aroma karaage?"


"Ya! Ini makanan kesukaanmu, jadi aku pikir kamu akan senang!"


Hanae Riko berkata sambil memain-mainkan ujung celemeknya dengan jari-jarinya.


Sifat menggoda dari gerakan itu merupakan sentuhan yang luar biasa bagiku, dan itu membuat dadaku sakit.


Terlebih lagi, dia berkata, 'Ku pikir kamu mungkin akan senang dengan itu'...!








Adakah pria yang tidak terpesona ketika seorang gadis cantik mengatakan hal seperti ini padanya?


Tidak, tentu saja tidak ada pria yang bisa menolaknya.


...Tunggu, tapi ini aneh.


"Apa aku pernah cerita kalau aku suka karaage?"


"...! A-aku, pernah mendengarnya...kurasa!"


Hanae Riko tiba-tiba terlihat canggung dan mengalihkan pandangannya dengan cepat.


Bagi seseorang yang jarang membicarakan dirinya sendiri seperti ku, menjelaskan tentang kesukaan dan ketidaksukaan adalah hal yang cukup sulit.

 

Tapi fakta kalo Hanae Riko tahu tentang itu, mungkin aku pernah mengatakannya secara tidak sengaja pada suatu kesempatan. 


Selama sebulan terakhir ini, aku beberapa kali berbicara dengan lancar hanya untuk mengisi waktu, jadi mungkin saat itulah aku menyebutkan makanan favoritku. 


Jujur saja aku merasa sangat senang kalo dia benar-benar mengingat apa yang kusukai dari obrolan kecil tersebut.


Dengan perasaan gelisah, aku melirik Hanae Riko.


Dia berjalan setengah langkah di belakangku menuju ruang tamu, dia tetap diam, dan dengan suara pelan dari sandal rumahnya yang menunjukkan langkah-langkah kecilnya. 


Meskipun aku tidak pernah bisa mengatakannya secara langsung, cara dia berusaha mengikuti langkahku dari belakang sangat mengingatkanku pada anjing kecil seperti Chihuahua atau Toy Poodle.


Saat aku membuka pintu ruang tamu, aroma yang hangat dan mengundang nafsu makan menyambutku, bahkan lebih lembut daripada saat membuka pintu depan. 


Ini sangat berbeda dari saat aku tinggal sendirian. Kehangatan yang penuh cinta dan kebahagiaan yang menandakan tidak ada lagi kesepian hadir di sini. 


Kehidupan yang penuh berkah ini terasa terlalu luar biasa bagi seorang siswa SMA yang pendiam dan tidak populer sepertiku. 


Apakah aku masih bermimpi?


Saat aku berdiri diam di ambang pintu ruang tamu sambil memikirkan hal itu, Hanae Riko yang sedang memegang tas menatapku dengan bingung.


"Mungkin kamu berpikir, 'Apakah aku masih bermimpi'?"


Aku mengangguk karena merasa tidak perlu berbohong, dan Hanae Riko sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Astaga. Kapan suamiku akan benar-benar menganggapku sebagai istrinya?"


Melihat wajah  Hanae Riko yang manis saat merajuk membuatku tersentak. 


Bahkan jika dia mengatakan itu, mau bagaimana lagi karena semua yang telah terjadi sejak hari aku menerima lamaran terbalik yang luar biasa itu hingga hari ini, semua yang terjadi terasa seperti mimpi. 


Saat aku memikirkan hal itu, kenangan hari dimana semuanya dimulai datang kembali dalam ingatanku.


Hari dimana aku menerima lamaran terbalik dari  Hanae Riko adalah pada bulan Februari tahun ini.






Posting Komentar

نموذج الاتصال