> ABSOLUT ROMANCE

Tanpa judul

 



CERITA 2


KAMU   MENUNGGUKU DI TENGAH SALJU YANG MEMBEKUKAN INI





'Aku terlalu konyol...maafkan aku,' dengan ditemani permintaan maaf dari Sawa dan teman-temannya yang merasa bersalah karena bercanda berlebihan, serta tatapan khawatir dari Hanae Riko, aku keluar dari sekolah dan dibawa ke rumah sakit terdekat oleh wali kelasku.


Oh ya, karena seragamku basah kuyup, aku berganti ke baju olahraga. Tentu saja, aku tidak punya celana dalam cadangan, jadi bagian bawahanku dalam keadaan yang memalukan.


Di rumah sakit, dokter berkata, 'Ini bukan flu, tapi sepertinya demammu akan naik lagi malam ini. Aku akan memberimu obat penurun demam.'


Aku pun harus menerima infus selama satu jam, jadi aku menghubungi tempat kerjaku di bioskop untuk memberitahukan kalo aku tidak bisa masuk kerja untuk sementara waktu.


"Shinyama, obatnya sudah kuambil," 


Ketika aku mendengar suara itu dan mendongak, aku melihat wali kelasku berjalan dengan membawa kantong obat.


"Aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Ayo, kita pergi."


"Ah, ya. Terima kasih banyak, sensei."


Berkat infus, sekarang aku merasa kalo aku bisa bergerak sedikit lebih baik, tapi karena aku masih demam, kakiku masih terasa lemah.


Wali kelasku, seorang guru laki-laki, mengantarku pulang ke apartemenku.


"Terima kasih. Ini sangat membantu."


Setelah keluar dari mobil, aku mengucapkan terima kasih dari balik masker yang diberikan oleh rumah sakit padaku, dan wali kelasku tersenyum sambil berkata, 'Kamu benar-benar sial, ya.'


"Kamu yakin bisa sendirian? Mau aku temani sampai ke kamar?"


"Tidak, tidak apa-apa. Ada lift, jadi aku bisa naik sendiri."


"Yakin? Nah, istirahatlah dengan baik akhir pekan ini. Kalo ada masalah, hubungi aku, ya."


"Oke."


Wali kelasku mengusap pipinya yang berjanggut tipis, lalu dia mengulurkan tangannya, menutup pintu penumpang depan dan pergi dengan mobilnya.


Setelah melihat mobil kecilnya perlahan menjauh, aku menuju ke pintu masuk apartemenku dan melihat ada seorang siswi yang meringkuk kedinginan di depan pintu kaca. 


Hah...? Kenapa dia di sini...?


"Hanae-san...?"


Ya. Entah kenapa, Hanae Riko ada di depan apartemenku.


"Shinyama-kun...! Selamat datang kembali! Um, bagaimana keadaan di rumah sakit?"


Mendengar suaraku, Hanae Riko mendongak dengan cepat dan berlari ke arahku seperti anjing yang menunggu tuannya di depan supermarket.


"Kenapa kamu di sini...?"


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Hanae Riko bukanlah penghuni apartemen ini.


Apa dia menunggu kepulanganku di sini?


Tidak, itu tidak mungkin. Siapa yang akan menunggu seseorang sepertiku? Apalagi dia adalah Hanae Riko.


"Maaf, aku menunggumu. Tapi, aku benar-benar khawatir..."


"...!"


Dia dengan mudah mengakui pikiran yang baru saja kotolak.


Serius?


"Shinyama-kun, orang tuamu di luar negeri dan kamu tinggal sendirian, kan? Jadi, aku berpikir apakah kamu akan baik-baik saja kalo kamu sendirian."


"Hah? Bagaimana kamu tahu kalo aku tinggal sendirian?"


"Eh...! Umm, aku mendengarnya dari kabar angin...!?"


Entah kenapa dia terlihat gugup dan memainkan rambut poninya.


Fakta bahwa aku tinggal sendirian bukanlah rahasia, jadi mungkin itu benar seperti yang dia katakan.


Tapi aku terkejut bahwa Hanae Riko tahu tentang keberadaanku.


Bagiku, dia mungkin hanya melihatku sebagai salah satu laki-laki biasa dalam hidupnya.


"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Ah, ya. Aku sudah diberi infus, jadi rasanya jauh lebih baik daripada saat di sekolah."


"Syukurlah..."


Hanae Riko terlihat lega dan menghela napas.


Aku masih tidak bisa mempercayai situasi ini dan aku hanya bisa berkedip berkali-kali.


Dia menungguku dengan khawatir... Untukku? Jika itu untuk seseorang yang tampan, mungkin aku bisa mengerti, tapi untuk seseorang sepertiku?


Dan di cuaca yang sedingin ini. Meski dia memakai mantel, tetap saja suhu di luar sangat dingin.


Ketika aku melihat Hanae Riko dengan lebih seksama, ujung hidungnya memerah dan matanya berair karena kedinginan.


Sejak kapan dia berada di sini!?


Berbeda dengan ku yang pergi ke rumah sakit dengan wali kelasku, seharusnya teman sekelasku, termasuk Hanae Riko, sudah pulang setelah waktu pembersihan selesai.


Sekarang adalah waktu sebelum ujian. Selama waktu ini, tidak hanya pekerjaan paruh waktu tapi juga aktivitas klub dilarang. Para siswa didorong untuk segera pulang ke rumah dan belajar, dan setelah pembersihan selesai, para siswa diusir dari gedung sekolah, disuruh pulang dan belajar.


Jarak dari sekolah ke rumah sakit sekitar 10 menit dengan mobil. Waktu di ruang tunggu, waktu pemeriksaan, dan waktu selama satu jam untuk infus—.


Karena cedera, aku tidak bisa berjalan dengan baik dan semuanya memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya dan pada akhirnya, butuh waktu hampir dua jam dari keluar sekolah hingga aku sampai ke apartemen ku.


Jika  Hanae Riko datang langsung dari sekolah ke apartemenku, dia akan menunggu cukup lama.


Tentu saja, itu tidak mungkin, kan?


Menunggu di luar selama satu jam di hari yang sedingin ini, sampai turun salju, akan terasa seperti siksaan. Menunggu seseorang dalam kondisi seperti itu hanya bisa dilakukan oleh Hachiko, anjing setia itu. Setidaknya aku tidak akan bertahan lima menit.


[TL\n: Hachiko adalah anjing Akita yang terkenal di Jepang karena kesetiaannya yang luar biasa kepada pemiliknya. Hachiko dilahirkan pada tahun 1923 dan dikenal karena rutinitasnya menunggu pemiliknya, Hidesaburo Ueno, di stasiun Shibuya setiap hari, bahkan setelah Ueno meninggal dunia pada tahun 1925. Hachiko terus menunggu di stasiun selama hampir 10 tahun sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1935.Kisah kesetiaan Hachiko menyentuh hati banyak orang dan ia menjadi simbol kesetiaan dan pengabdian di Jepang.]


Jadi kupikir, tidak mungkin Hanae Riko menunggu di sini sepanjang waktu.


"Hanae-san, kau menungguku di tempat lain, kan?"


Hanya untuk memastikan, aku bertanya. Tapi Riko Hanae memiringkan kepalanya dengan senyum manis di wajahnya.


"Kalo aku melakukan itu, mungkin kita akan saling melewatkan. Jadi aku datang langsung ke sini setelah sekolah selesai."


Ada anak yang benar-benar seperti Hachiko!


Apalagi entah kenapa Hanae Riko terlihat sedikit bangga. Perlahan-lahan, dia mulai terlihat seperti Hachiko yang mengharapkan pujian dari pemiliknya. Mungkin ini hanya karena aku sedang demam.


Apa yang kupikirkan, menyamakan gadis tercantik di sekolah dengan Hachiko...?


Saat aku berusaha keras dalam pikiranku, tiba-tiba wajah Riko Hanae berubah menjadi khawatir.


"Apa aku membuatmu merasa tidak nyaman?"


"Eh!?"


"Aku bertanya pada Sawa-kun di mana alamat rumahmu. Maafkan aku karena menanyakannya tanpa izin."


"Tidak, itu tidak papa."


Jadi Sawa apa kau berbicara dengan Hanae Riko? Dia pasti akan membanggakannya saat libur berakhir.


"Aku hanya khawatir dengan keadaanmu Shinyama-kun... Jadi aku tidak bisa pulang begitu saja."


"Uh, iya."


Aku tidak percaya dia sangat mengkhawatirkanku...


Hanae Riko, sebaik apa sih gadis ini? Dia tidak hanya cantik, tapi kepribadiannya juga luar biasa. Apa yang terjadi dengan gadis ini?


"Um, a-aku minta maaf. A-aku membuatmu khawatir tentang berbagai hal. Aku pasti membuatmu menunggu begitu lama."


"Tidak...! Jangan minta maaf. Aku yang memutuskan untuk melakukannya sendiri."


"Tapi."


Ada keheningan yang aneh ketika kami berdua kehilangan kata-kata.

 

"Ah! Shinyama-kun, kamu sekarang tidak enak, jadi  bukanlah ide yang baik untuk berdiri di sini dan berbicara...!"


"Tidak..."


Diam lagi.


Ini sepertinya saatnya untuk mengakhiri ini.


Aku benar-benar ingin melepaskan  Hanae Riko dari cuaca dingin ini.


"Pokoknya, hasil diagnosanya seperti yang aku katakan tadi. Terima kasih banyak karena sudah menunggu di tengah cuaca dingin ini. Yah, sampai jumpa!"


Dengan rasa canggung, aku mencoba bergegas melewati Hanae Riko. Tapi, karena itu, aku terhuyung lagi dan bahuku terbentur ringan ke dinding apartemen..


"Apa kamu baik-baik saja...!?"


Hanae Riko dengan cepat berlari ke arahku dan mengulurkan tangannya.


Setelah insiden jatuh sebelumnya, sekali lagi aku menunjukkan sisi memalukan diriku di depannya.


Karena merasa sangat malu, aku tidak bisa menatap matanya langsung. Aku menundukkan kepalaku dan mengucapkan terima kasih dengan cepat.


Sejujurnya, aku ingin segera kabur dari tempat ini sekarang.


Saat aku berpikir untuk benar-benar pergi, Hanae Riko, dia menghentikanku karena suatu alasan..


"Tunggu, Shinyama-kun...!"


Hanae Riko terlihat ragu sejenak, lalu mengigit bibirnya dengan sedikit kekuatan, seolah mengumpulkan keberanian.


Aku tidak tahu kenapa dia menahanku, tapi aku menunggu kata-kata berikutnya dari Hanae Riko.


"A-anu... Sebenarnya, kalau tidak merepotkan, bolehkah aku merawatmu...?"


"Apa?"


Merawatku? Hanae Riko yang akan merawatku?


"Tapi aku tidak ingin membuatmu merasa harus bertanggung jawab..."


"Tidak, bukan begitu! Bukan itu maksudku! Aku hanya... Aku hanya ingin tahu apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantumu, jadi jangan menganggapnya terlalu serius...!"


"Tidak, bisa gawat kalo aku tidak sengaja menulari mu."


"Aku tidak pernah kena flu, jadi tidak apa-apa!"


"Tapi kamarku berantakan sekali."


Aku teringat betapa berantakannya kamar itu, dengan botol plastik bekas karena aku terlalu malas untuk membuangnya dan cucian yang menumpuk.


"Aku bisa merapikannya juga."


"Apa..."


"Anggap saja seperti 'versi uji coba robot pembantu yang tiba-tiba datang ke rumahmu suatu hari!' Kamu akan mencoba jika seseorang menawarkan bantuannya untuk memperkenalkan produk itu, kan...? Kan...!"


Apa-apan perumpamaan itu? Iti terlihat masuk akal, tapi juga tidak.


Sehari tiba-tiba robot pembantu serbaguna (dan cantik) datang ke rumah, adalah masa depan yang belum juga tiba, bahkan setelah era Heisei berakhir.


Dan juga, aku selalu berpikir  Hanae Riko adalah gadis yang pendiam, jadi aku agak terkejut melihat dia ternyata cukup banyak bicara.


Saat dia gugup, dia jadi bicara dengan agak cepat dan nafasnya agak tidak teratur. Bukan hanya karena dia seorang gadis cantik, tapi setiap detil dari dirinya terasa sangat imut.


Selain itu, dia sangat baik hati.


Jika tidak, dia tidak akan mungkin menawarkan untuk membantu seseorang seperti ku.


Tapi, aku merasa bimbang. Karena apa pun yang kulakukan, aku akan menahan diri. 


Tidak mungkin aku menerima perawatan dari gadis tercantik di sekolah...


"Hanae-san. Terima kasih atas perhatiannya, tapi tetap saja..."


"..."


Saat aku hendak menolak, alis  Hanae Riko yang indah menjadi mengkerut.


Saat dia melihatku seperti itu, aku merasa seperti, aku  seolah-olah sedang menyakitinya. Karena itu, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata penolakan.


Meskipun aku masih mempunyai keraguan di pikiranku apakah itu benar-benar baik-baik saja, aku akhirnya  berkata,


"Kalau begitu, bolehkah aku minta tolong padamu?"


Aku masih ingat jelas senyum Riko Hanae saat dia mendengar jawabanku.


Pada saat itu, aku begitu terpesona dengan senyumnya hingga suara di sekitarku terasa jauh, sehingga tidak mungkin aku  bisa melupakan senyumanya itu.


Aku tidak tahu kenapa Hanae Riko menunjukkan ekspresi seperti itu padaku.


Tapi yang aku tahu, senyum seperti itu adalah yang disebut dengan 'senyum seperti bunga yang mekar'.



Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال