Kamu saat ini sedang membaca  Nazotoki Yuusha no Seirei Musou volume 1 chapter 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw

DI KEDALAMAN PERPUSTAKAAN BESAR




Doroon, bersama dengan dentuman meriam, bunga besar memenuhi langit cerah.


Di Kerajaan Miliue yang terletak di pusat benua, kembang api adalah sinonim dari festival. 


Asalnya berasal dari lebih 100 tahun lalu ketika ditemukan sebuah harta Hihou〈Cahaya Bayangan yang Menghias Langit Malam〉, dan sejak produksi massal barang serupa dimungkinkan, kembang api diadopsi dalam setiap perayaan.


Tapi hari ini bukanlah hari di mana sebuah upacara telah dijadwalkan.


Meski begitu, ada satu-satunya alasan kenapa kembang api diluncurkan.


"Uooooooo! Ini prestasi besar, prestasi besar! Luar biasa sekali!" "Tim peraih harta karun setelah sekian puluh pekan akhirnya kembali!" "Seperti yang diharapkan dari Tim An! Tim peringkat pertama di dalam negeri memang bukan sekadar nama!" "Aku selalu percaya pada An-nyaaaa!" "Yo, pahlawan legendaris!!"


Parade kemenangan para petualang yang membawa pulang harta karun baru──.


Sejak kabar itu masuk, ibu kota kerajaan Miliue berubah menjadi hiruk pikuk festival. 


Untuk menghormati para pahlawan, pesta diadakan di berbagai tempat, daging bertulang maupun alkohol dibagikan nyaris gratis.


Dan itu memang wajar──karena Hihou tidak diragukan lagi adalah harta berharga.


Bukan hanya kembang api. Palu yang memungkinkan hubungan dengan negeri asing, bahan bakar yang digunakan untuk penerangan jalan dan lampu dalam ruangan yang membuat angka kejahatan malam hari menurun drastis, maupun fasilitas penyulingan yang mengubah air hujan dan air laut menjadi air minum. 


Lebih dari 90% penemuan penting yang menopang dunia ini diyakini berasal dari Hihou. 


Dari peninggalan generasi lama yang memiliki kekuatan misterius, hanya satu item terbaik di tiap dungeon yang disebut 'Hihou'.


Oleh karenanya, tidak mengherankan bila terjadi hiruk pikuk besar.


Di jalan besar yang menuju ke kastil kerajaan, karpet bunga dadakan digelar untuk menyambut para pahlawan, bahkan anak kecil yang belum memahami kata-kata pun ikut meloncat keluar rumah dengan riang karena suasana meriah itu.


Di salah satu sudut ibu kota, pada kursi teras sebuah rumah makan yang untuk sehari penuh menyediakan seluruh menu secara 'gratis'.


Terbawa panasnya semangat yang menyelimuti ibu kota──


"Ini...sebuah kesalahan."


──Sama sekali tidak, gumam seorang pemuda dengan wajah masam.


Usianya 17 belas tahun. Wajahnya sedikit lebih dewasa dari usianya, tubuhnya kurus dengan postur tinggi.


Namanya adalah Calum Revere.

Di depan Calum terdapat tumpukan sisa daging bertulang, yaitu setumpuk besar tulang, serta sebuah buku. 


Yang pertama adalah alasan dia keluar rumah, dan yang kedua adalah alasan dia menghela napas. 


Dia memang keluar untuk ikut menikmati makanan gratis, tapi suasananya terlalu ramai hingga membaca sama sekali tidak bisa berjalan.


".....Lebih baik aku Pindah saja."


Mengambil buku yang telah ditutup, Calum pun dengan terpaksa berdiri.


"Terima kasih atas makanannya."


"Ya, sama-sama! Tidak perlu membayar! Bersulang untuk para pahlawan!"


Suara ceria sang pemilik rumah makan terdengar di belakangnya, saat ia melangkah masuk ke dalam hiruk pikuk ibu kota.


(.....Baiklah)


Yang terbentang di hadapannya adalah suasana festival penuh keceriaan, tapi hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengannya, Callum hanya mendorong kacamatanya dengan jarinya. 


Bisa makan dan minum gratis memang tidak buruk, tapi hari ini ibu kota terlalu berisik. Kebisingan adalah halangan besar untuk membaca.


...Lebih daripada makanan lezat, lebih daripada gegap gempita Hihou, lebih daripada apapun.


Bagi Calum, 'lingkungan yang tenang untuk membaca buku' jauh lebih penting ratusan kali lipat.


(Sepertinya, hanya perpustakaan yang jadi pilihan...)


Dia menggelengkan kepalanya setelah menentukan tujuannya.


Perpustakaan Kerajaan Miliue adalah tempat favorit Calum, bukan hanya karena jumlah koleksinya yang luar biasa, melainkan juga karena letaknya berada di pinggiran ibu kota. 


Biasanya jarak yang jauh membuatnya mengernyit, tapi khusus hari ini, menjauh dari keramaian adalah sebuah nilai yang sangat berharga.


Dan ketika dia hendak menyeberang jalan besar di depan kastil kerajaan, saat itulah───────


"Hm...?"


Dia berhenti melangkah karena mendengar sorak sorai yang berbeda dari sebelumnya.


Yang terlihat dari balik lensa kacamatanya adalah kerumunan besar yang luar biasa─────dan itu wajar saja. 


Karena di sana, ada rombongan tim petualang yang dimaksud. Empat orang dari 'Tim Ann', tim terkuat di Miliue yang memiliki kemampuan dan ketenaran luar biasa. 


Para pahlawan yang seharusnya berdesakan dengan kerumunan kini ada di tempat itu, maka tidak salah bila pusat hiruk pikuk memang berasal dari sini.


Dan ada satu orang lagi.


"──Terima kasih telah kembali."


Rambut pirang pucat yang berkilauan memantulkan cahaya matahari.


Hiasan rambut berbentuk lambang kerajaan.


Mengenakan gaun pastel yang anggun, putri muda Kerajaan Miliue.


"Itu Richesse-sama...!"


Putri Kerajaan Richesse Orliere───────.


Bukan hanya parasnya yang menawan, melainkan juga kepiawaiannya dalam mendukung aktivitas para petualang di berbagai bidang, kepribadian dan wibawa yang memancar dari setiap gerak-geriknya, serta sikap elegan yang penuh dengan kehalusan. 


Bunga Kerajaan Miliue yang mengumpulkan popularitas besar dari dalam dan luar negeri itu kini menyapa para pahlawan yang membawa pulang harta karun.


"Berkat kalian, kerajaan kita Miliue──dan dunia ini, akan mencapai perkembangan yang lebih pesat. Atas nama rakyat, izinkan saya menyampaikan penghormatan dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya."


Dengan senyum yang menawan siapa pun, sambil mengibaskan lembut benang emas yang indah, sang putri menundukkan kepalanya.


" " "Uooooooooooooooooo!!!!" " "


Teriakan para pria yang terpanah oleh senyuman itu bergema dari segala arah. ...Tidak, sepertinya bukan hanya para pria saja. 


Terdapat pula gadis-gadis yang menjerit kecil dengan suara melengking lalu jatuh terkulai. 


Begitu besarnya daya tarik yang terpancar dari setiap gerak-gerik Putri Richesse.


(Seorang putri pun turun tangan, ini memang urusan besar...Yah, itu bukan urusank.)


Dari kejauhan menyaksikan pemandangan itu, Calum hanya menyimpan kesan yang cukup dingin.


Kalo ditanya apakah dia sempat terpikat pada Putri Richesse, jawabannya tentu tidak sama sekali. 


Sebab Calum sudah bersusah payah hanya untuk dapat bergerak menembus kerumunan. 


Itu benar-benar sebuah perjuangan, karena dengan tubuhnya yang rapuh, dia bisa saja terhimpit sewaktu-waktu.


─────Dan.


Pada saat itulah──────mata zamrud sang putri menatap lurus ke arah Calum.


(Hmm...?)


Mungkin hanya imajinasinya saja. Bisa jadi itu hanya sekadar salah paham.


Tapi walaupun begitu, setidaknya menurut penglihatan Calum, Putri Kerajaan Miliue benar-benar sedang menatap dirinya di tengah kerumunan. 


Ekspresinya adalah senyum lembut nan ramah. 


Tidak ada sepatah kata pun diucapkan, tidak pula ada gerak tubuh yang menyertainya.


"........"


10% pikirannya mencoba mencari arti dari pandangan itu.


Sementara 90% lainnya melayang membayangkan kelanjutan isi buku di tangan kanannya.


Walau tidak diragukan lagi dia adalah seorang 'hunter', Calum yang sudah bertahun-tahun tidak lagi menantang dungeon itu, tetap berjalan seorang diri menuju perpustakaan hari ini.


★★★


(Kepulan debu tipis beterbangan dari buku saat buku itu tertutup.)


──Patun, terdengar suara pelan dari buku yang ditutup, menebarkan debu tipis.


Rasa lelah yang menyenangkan serta kepuasan yang menyelimuti seluruh tubuh. 


Setelah menamatkan sebuah novel petualangan, Calum mendorong kacamatanya dengan tangan kanan, masih dengan wajah tanpa ekspresi.


Wajah datar itu sama sekali bukan karena buku yang dibacanya membosankan.


Justru sebaliknya.『The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel』vol 7──petualangan yang dituturkan dengan gaya penulisan begitu memikat telah menjerat Calum. 


Tanpa dia sadari, dia sudah lebih dari tiga jam terus membalikkan halaman tanpa henti. 


Wajah tanpa ekspresi itu semata-mata karena otot-otot wajah yang lama tidak digunakan sudah tidak terbiasa lagi bekerja.


(Saat sang protagonis Noel diserang monster kelas bencana dan terpisah dari rekan-rekannya, kupikir sudah tamatlah petualangannya. Tapi ternyata, seorang bocah penakut yang dulu pernah dia selamatkan di sebuah dungeon tiba-tiba muncul menolongnya. Sungguh, pemanfaatan foreshadowing yang mengagumkan.)


Calum menghela napas panjang penuh kekaguman.


Lokasinya saat ini adalah lantai dua perpustakaan yang terletak di pinggiran ibu kota, tepat di kursi istimewa dekat jendela.


Sejak penemuan harta karun〈Api Pencipta〉yang memicu perkembangan bahan bakar khusus, pencahayaan di dunia ini meningkat pesat. 


Dengan sentuhan saja, lampu bisa dinyalakan dan dipadamkan dengan sempurna, serta berkat kaca pelindungnya, nyala api tidak mudah menyebar. 


Cahaya lampu dalam ruangan pun cukup untuk membaca buku.


...Tapi, menurut Calum, sinar matahari tetap tidak terkalahkan.


"Fuu..."


Untuk merilekskan ototnya yang kaku setelah membaca lama, dia menghela napas sambil meregangkan tubuh──────dan pada saat itu, pemandangan 'luar' perpustakaan terlihat dari balik jendela.


(....Oh. Sepertinya mereka berlatih lagi, rajin sekali.)


Di belakang perpustakaan ini terdapat salah satu fasilitas pelatihan yang dijalankan oleh guild petualang.


Karena letaknya di pinggiran ibu kota, peminatnya memang tidak banyak. 


Tapi Calum tahu ada seseorang yang hampir setiap hari menggunakan tempat itu. Dia bahkan mengetahui namanya. 


...Meski begitu, diam-diam mengamati orang lain tentu bukanlah hal yang menyenangkan. 


Maka dia segera mengalihkan pandangan dari jendela.


──Saat itulah.


"Oh, bukankah itu...Calum si 'Tak Berguna'?"


Karena ketenangan perpustakaan, suara itu terdengar jelas, berasal dari arah tangga.


Pemilik suara itu ada dua orang. Seorang membawa pedang besar di pinggang, dan seorang lainnya mengenakan jubah dengan tongkat terselip di punggung. 


Entah mereka baru pulang dari dungeon atau hendak rapat persiapan. 


Bagaimanapun juga, perpustakaan ini menyimpan banyak arsip majalah informasi yang diterbitkan oleh guild petualang.


"Calum...? Hei hei, seriusan?"


Melihat jelas sosok Calum yang duduk di pojok lantai dua, pemuda yang membawa pedang itu dengan sengaja mengangkat bahu pura-pura terkejut.


"Bahkan di hari semeriah ini masih saja mengurung diri di perpustakaan, seperti yang diharapkan dari si《Pemecah Teka-teki》. Rajin sekali belajar, ya? Yah, entah apa gunanya juga."


"Oi oi, jangan keras-keras, nanti dia dengar!"


"Kalau pun dia dengar, lalu kenapa? Aku sudah bilang kan? Perannya bukan《Pendekar Pedang》atau《Penyihir》, melainkan si tak berguna terlemah《Pemecah Teka-teki》. Dia bahkan tidak bisa berkelahi."


".....Benar juga, kau ada benarnya. Toh dia hanya punya bakat di jalur 【Pengetahuan】saja."


Cemoohan, bahkan kata-kata yang mengandung sedikit belas kasihan, terlontar dari mulut mereka.


Itu adalah──kalo boleh dikatakan, sebuah 'hal yang sudah lumrah' di antara mereka yang menantang dungeon yang keras.


Di setiap dungeon hanya ada satu Hihou yang mampu mengubah dunia. 


Selain itu, terdapat pula peninggalan generasi lama yang memiliki kekuatan aneh dalam jumlah besar. 


Yang terakhir nilainya bervariasi, sedangkan yang pertama sudah pasti memiliki nilai luar biasa besar... Tapi, di dalam dungeon bersemayam monster-monster buas, dan kalo mereka tidak dikalahkan, Hihou maupun peninggalan itu tidak akan pernah diperoleh. 


Dengan kata lain, inti dari tugas seorang petualang adalah pertempuran, di atas segalanya.


"..........."


Petualang di era sekarang telah membangun teknik khusus dalam pertempuran yang disebut 'skill'.


Ada 7 jenis sistem senjata, seperti 【Pedang】, 【Tombak】, atau 【Meriam】.


Ada pula 7 jenis sistem sihir, termasuk 【Sihir Api】, 【Sihir Angin】, dan juga 【Sihir Cahaya】.


Skill yang digunakan oleh para petualang dikategorikan menjadi total 15 sistem, dan yang tersisa adalah satu jenis 'sistem pendukung', yakni 【Pengetahuan】.


Skill dari sistem 【Pengetahuan】 dapat menyingkap ekologi monster──tapi informasi yang dimiliki para petualang adalah kumpulan pengetahuan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. 


Tidak ada kebutuhan untuk mengungkapnya sendiri.


Skill dari sistem 【Pengetahuan】 dapat membaca struktur dungeon──tapi petualang sudah memiliki peta.


Skill dari sistem 【Pengetahuan】 dapat menemukan dan menghadapi jebakan atau mekanisme di dalam dungeon──tapi musuh utama dalam dungeon adalah monster, dan mekanisme yang rumit jarang sekali ada.


──Dengan kata lain,


"【Pengetahuan】itu sistem kelas rendahan."


Begitu kesimpulan yang diucapkan oleh sang pendekar pedang yang menjatuhkan diri ke kursi dengan bunyi keras. 


Di kerah bajunya terjahit dengan rapi lambang tim tempatnya bernaung.


"Tim yang dibentuk para petualang hanya boleh beranggotakan maksimal 5 orang. Kalo salah satunya memiliki 【Pengetahuan】 di samping sistem utama, itu masih bisa dimengerti. Tapi apa nilai dari profesi khusus 【Pengetahuan】──yakni 《Pemecah Teka-teki》? Petualang mempertaruhkan nyawanya pada rekan setim, tidak ada gunanya membawa orang tak berguna yang bahkan tidak bisa mengalahkan monster dengan kekuatannya sendiri."


"Jangan begitu keras juga."


"Hah? Memangnya si tidak berguna itu ada nilainya?"


"Bukan soal nilai atau tidak, tapi bukankah begini? Syarat diberikan profesi 《Pemecah Teka-teki》 adalah karena di semua 14 sistem selain 【Pengetahuan】, tingkat pencapaiannya ada di bawah standar... Jadi kan sering dibilang begitu. Kalo setiap pahlawan, pada awalnya, ketika baru lahir, mereka semua adalah 《Pemecah Teka-teki》 yang lemah!"


"Benar juga! Aku tarik kata-kataku, aku tidak bisa menjadikan bayi-bayi sebagai musuh."


Saling melontarkan lelucon yang biasa dipakai di kalangan petualang, keduanya pun merasa puas.


Mendengarkan tanpa benar-benar mendengar, seakan-akan, Calum tampak begitu murung──


(Memang, 『The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel』 adalah seri yang luar biasa. Aku tidak bisa tenang kalo tidak menulis surat pujian dan dukungan. Uuuh, tapi besok sudah terbit karya besar terbaru 『Optimist Chance Never Sleeps』...) 


──────tapi, sama sekali tidak.


Yang memenuhi pikiran Calum hanyalah tentang buku. Dia sangat ingin menyampaikan rasa kagumnya itu kepada penulis, tapi di sisi lain masih ada buku lain yang ingin dibacanya. Singkatnya, ia sedang sibuk.


(.....Tunda dulu itu. Untuk sekarang, lanjutkan dulu buku ini──) 


"Nah, ini dia. ...Seperti biasa kau cepat sekali, ya? Sudah selesai membaca, padahal setebal itu."


Lalu.


Dengan waktu yang tepat, gerakan Calum yang hendak berdiri sedikit terhenti oleh sebuah buku yang diletakkan di atas meja. 


Itu adalah 『The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel』 vol 8. 


Tepatnya, kelanjutan dari novel petualangan yang baru saja ingin ia cari.


"Hm...kau sangat tahu, ya, Sucre?"


"Tentu saja. Aku kan bagaimanapun seorang pustakawan. Bisa dibilang aku punya mata batin, tahu?"


Dengan nada santai yang penuh alasan, seorang wanita pun duduk di samping Calum.──


Dia adalah pustakawan yang bekerja di Perpustakaan Kerajaan Milieu ini.


Rambut emasnya terpotong bob pendek dengan ujung melengkung ke dalam, wajahnya manis dan polos. 


Pada apron yang menjadi seragam kerjanya, tergantung sebuah papan nama bertuliskan 'Sucre'. 


Usianya tidak jelas, tapi dari penampilan dia terlihat satu atau dua tahun lebih tua dari Calum.


Mereka sudah saling mengenal sejak Callum mulai rutin datang ke sini, dan Sucre bisa dibilang adalah staf yang paling akrab dengannya.


"Yosh...haaah."


Segera setelah Calum meraih buku, Sucre menarik kursi di sampingnya, dia duduk dengan gerakan mengalir, lalu menjatuhkan kedua tangannya ke meja sambil meregangkan badan, mengeluarkan suara "Uuuuh".


Dia benar-benar seperti sedang bersantai di rumahnya sendiri.


Dia sama sekali tidak terlihat seperti pustakawan yang sedang bekerja.


"......Kenapa kau duduk?"


"Kenapa, ya? Tentu saja──karena aku sedang bolos, Megane-kun."


Dengan salah satu pipinya menempel di meja, pustakawan yang malas itu menatap Calum.


"Aku ini pustakawan yang hebat, jadi aku bisa langsung menemukan buku yang kau cari. Artinya aku berhasil menghemat waktu. Kalo waktu ku sudah luang, terserah aku mau memakainya bagaimana, kan? Jadi meskipun aku bolos, itu tetap boleh. Menurutmu juga begitu, kan?"


"? Yah, kalo menurutku, lakukan saja sesukamu..."


"Benar, benar. Kau bisa mengerti juga, ya, Megane-kun."


Dia dengan puas mengangguk, lalu sang pustakawan─────atau lebih tepatnya Sucre yang sedang bolos──────kembali merebahkan diri di meja. 


Terlihat jelas bagaimana payudaranya yang besar, terbungkus apron, menekan dan berubah bentuk di antara tubuhnya dan meja.


"Hmmm..."


Sejauh yang Calum ketahui, pustakawan ini menghabiskan sebagian besar waktu kerjanya dengan cara seperti ini.

 

..Tapi, seperti yang sudah dia katakan. Dia tidak berniat mengeluh agar pustakawan itu bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan sejak awal pun tidak terpikir olehnya. 


Secara harfiah, dia pikir lebih baik membiarkannya melakukan sesukanya.


"Oh, ngomong-ngomong..."


Begitu Calum hendak membuka sampul buku, seketika Scure bersuara.


"Sepertinya kau kembali dibicarakan dengan buruk, tapi...apa tidak apa-apa kalo dibiarkan begitu saja, Megane-kun?"


"......Dibicarakan dengan buruk?"


"Apa sih, tidak usah berpura-pura. Itu yang tadi lho, itu tadi."


Scure membuat gestur dengan menggerakkan dagunya ke depan.


Di arah yang ditunjukkannya, kini sudah tidak ada siapa-siapa──tapi, di situlah tadi dua orang petualang sempat duduk. 


Kalo begitu, isi dari 'Dibicarakan dengan buruk' itu pun bisa ditebak.


"Etto, mereka tadi bilang kan? Kalo tidak salah, 【Pengetahuan】 yang kau miliki itu tipe terlemah, posisi 《Pemecah Teka-teki》 itu tidak berguna, dan juga bahwa Callum-kun itu Megane."


Tapi mereka tidak mengatakan bagian terakhir itu, kan?"


"Oh, benarkah? Oh, mungkin itu cuma yang aku pikirkan dalam hati."


Sucre menambahkan dengan enteng. Meski begitu, fakta kalo Callum memakai kacamata bukanlah kesalahan, setidaknya hal itu tidak bisa disebut sebagai hinaan.

Atau lebih tepatnya─────


"Memang mungkin aku direndahkan, tapi aku tidak punya alasan untuk membalasnya."


Sambil mengusap sampul buku yang ada di tangannya, Calum menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Seorang petualang adalah orang yang menaklukkan monster. Misalnya, protagonis dari 'The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel' adalah pengguna aliran 【Tombak】. Dengan tombak raksasa, ia bisa menusuk monster apa pun. Dalam 'Optimist Chance Never Sleeps', sang protagonis menyembunyikan kenyataan kalo dia sebenarnya memiliki bakat tinggi dalam aliran 【Sihir Kegelapan】, dengan kelas 《Pendeta Iblis》. Dia menyebarkan pelemahan pada monster, lalu memusnahkan mereka dalam sekejap."


"Keren sih. Katanya monster ada yang sebesar perpustakaan ini juga, kan?"


"Benar. Kalo mengincar Hihou, itu tidak bisa dihindari. ...Dari sudut pandang itu, anggapan kalo 'aliran 【Pengetahuan】 lemah' atau 'kelas 《Pemecah Teka-teki》 adalah sinonim dari tak berguna' memang itu benar adanya. Kalo aku dilemparkan ke dalam dungeon, jangankan menjelajahinya, aku pasti akan terbunuh oleh monster pertama yang kutemui."


Karena─────《Pemecah Teka-teki》tidak bisa bertarung.


Calum Levere memang tercatat sebagai petualang resmi di cabang ibu kota kerajaan pusat dari Guild Petualang Bersatu se-benua. 


Tapi, seperti yang baru saja dikatakan oleh orang-orang tadi, aliran 【Pengetahuan】 yang dia miliki hanyalah keterampilan penunjang. 


Tidak peduli seberapa keras dia berlatih, dia sama sekali tidak memiliki cara untuk mengalahkan monster.


Itulah kenyataannya.


Kalo Calum yang tak berguna menghindari dungeon dan mengurung diri di perpustakaan adalah fakta yang tak terbantahkan.


"Hmmm?"


Suara yang terdengar agak tidak puas itu tentu saja milik Sucre.


"Aku sudah pernah dengar cerita itu sebelumnya, tapi...bukannya itu tidak ada hubungannya? Hinaan tetaplah hinaan, dan itu tidak bagus. Menurutku, Magane-kun kau punya hak untuk membalas."


"Kenapa begitu? Kalo itu fitnah tanpa dasar, mungkin memang harus diluruskan. Tapi kalo itu kenyataan, tidak ada yang bisa diluruskan. ...Selain itu."


"? Selain itu, kenapa?"


"Kalo yang mengatakan itu orang yang dekat denganku mungkin lain cerita, tapi kalo itu hanya orang asing yang tidak kukenal, direndahkan pun tidak akan berpengaruh apa-apa padaku. Dengan kata lain, itu tidak penting."


"Uwah.. Teater ngelesnya Megane-kun mulai lagi."


Sucre menghela napas dengan nada kesal.


"Kau ini tidak imut sekali. Seharusnya kau bilang, 'Berani-beraninya kau menghinaku! Aku akan menggunakan seluruh hukum Kerajaan Milieu untuk memenjarakanmu seumur hidup!' begitu."


"Bukankah di perpustakaan dilarang berbicara keras dan mengobrol? Kalo Sucre bukan pustakawan di sini, atau kalo ada satu saja pengunjung lain di lantai dua, aku bahkan tidak akan meladeni percakapan ini.'


'Eh~? Ayolah, temani aku ngobrol sebentar aja. Lagian, aku ini sering disebut pustakawan cantik, lho. Bukannya kau harusnya merasa beruntung?"


Sambil menelungkupkan tubuh, Sucre memiringkan wajahnya ke arah Calum, bibirnya melengkung nakal. 


Dia mencolek lengan Calum (yang jelas tidak terlatih) dengan ujung telunjuknya.


"Pustakawan cantik...?"


Calum tahu betul kalo Sucre, dengan wajah cantik yang menawan dan sikap ramah pada siapa pun, cukup populer diam-diam di kalangan pengguna perpustakaan. 


Tapi disebut beruntung, dia sama sekali tidak paham maksudnya. 


Apa dicolek di lengan harus dianggap sebagai hadiah, begitu?


"Untuk sekarang, aku berterima kasih karena sudah membawakan buku ini. ...Tapi, jadi pustakawan tidak ada hubungannya dengan penampilan. Bahkan kalo Sucre adalah monster buruk rupa sekalipun, selama tetap menjalankan pekerjaan ini, aku akan sama-sama berterima kasih.'


".....Apa itu pujian? Atau hinaan?"


"Bukan keduanya."


Menghindari topik itu, Callum semakin larut ke dunia bukunya.


"Hmph, Megane-kun kau dingin sekali. Baiklah, aku akan kembali kerja saja."


Melihat sikap Calum, pustakawan yang selesai beristirahat itu berdiri sambil sedikit manyun. 


Saat dia meregangkan tubuhnya, rambut bob tipis berwarna emas pucat bergoyang halus. 


Humming kecil keluar dari bibirnya saat dia hendak pergi, tapi di tengah jalan dia tiba-tiba berkata "Ah" dan membalikkan tubuh bagian atasnya.

 

"Ada satu hal yang lupa kukatakan, Megane-kun."


Sepasang mata hijau bening──atau lebih tepatnya, seperti giok──menatap Calum.


"Tentang pembicaraan tadi. Memang benar, mungkin saat ini kau sama sekali tidak bisa bertarung, tapi...lemah, tak berguna, atau hal semacam itu. Bisa jadi semua itu hanya perasaanmu saja, kau tahu?"


"......? Apa maksudmu itu──"


"Tidak akan kuberitahu. ...Karena, kau sendiri yang bilang kalo di perpustakaan dilarang berbicara, Megane-kun."


Dengan telunjuk terangkat di depan bibirnya, satu mata dipejamkan dan Sucre memberikan kedipan nakal.


".....yah, sudahlah."


Setelah mengantar kepergian sang pustakawan dengan tatapan, Callum kembali membuka buku di hadapannya.



 ───《POV:SUCRE》───


"~~~♪"


Jumlah pustakawan yang bekerja di Perpustakaan Kerajaan Milieu sebenarnya tidak banyak.


Itu semata-mata karena jumlah penggunanya sedikit. 


Biasanya, dalam satu shift hanya ada satu atau dua orang yang bertugas, dan sekalipun begitu, suasana tetap tidak terlalu ramai sehingga Sucre bisa dengan tenang mengambil waktu istirahat──bukan, maksudnya, waktu istirahat yang sah. 


Untuk perpustakaan yang dikatakan terbesar di seluruh benua, memang terasa agak sepi.


"Yosh."


Sucre, gadis yang melepas celemek penanda keanggotaannya dalam sekali gerakan.


Saat itu malam hari─────tepatnya sudah hampir lewat tengah malam───────dan Perpustakaan Kerajaan Milieu akhirnya mencapai waktu tutupnya. 


Para pengunjung sudah semua keluar (kecuali anak laki-laki berkacamata yang diberinya kunci cadangan), dan pembersihan setelah tutup juga baru saja selesai.


Dengan kata lain, pekerjaannya selesai.


"Kalo begitu, aku pulang duluan ya~! Jangan bikin onar walaupun merasa sepi~?"


──Shin, hanya keheningan tebal yang menjawab seruannya.


Muu, Sucre melipat tangannya dengan wajah tidak puas. ...Aku, yang kabarnya pustakawan tercantik di Milieu, sampai repot-repot menyapanya, tapi dia tidak juga menjawab, itu maksudnya bagaimana? 


Yah, kemungkinan besar dia terlalu tenggelam dalam bukunya sampai tidak mendengar.


Bagaimanapun juga, dengan sebuah lentera kecil di tangannya, dia melangkah keluar.


Malam hari di ibu kota Milieu cukup terang. Bahan bakar khusus yang berasal dari Hihou〈Api Pencipta〉menerangi kegelapan malam dalam bentuk lampu jalan, menjadikan keamanan kota termasuk yang terbaik di seluruh benua. 


Meski begitu, bukan berarti kejahatan sama sekali tidak ada, jadi tetap butuh sedikit keberanian bagi seorang gadis untuk berjalan sendirian.


Lalu, saat itu─────


"──Aku sudah menunggumu, Sucre-sama."


Sebuah suara jernih, seperti semilir malam, membelah temaram dengan indah.


Yang menyambut Sucre setelah keluar dari perpustakaan adalah seorang wanita bertubuh tinggi dan ramping. 


Usianya terlihat sedikit lebih tua daripada Sucre. 


Rambut pendek biru tua, wajah cantik sampai membuat orang tak sadar menarik napas, dan busana pelayan berupa rok panjang yang memadukan kepraktisan dengan kesan manis.


"Iya. Maaf sudah membuatmu menunggu, Daphne"


Daphne Etrangère─────


Dialah pelayan pribadi yang telah melayani Sucre sejak kecil, dan pada momen ini, dia juga berperan sebagai pengawal yang memastikan sang majikan bisa pulang dengan selamat.


"Apa kau tidak kedinginan? Maaf ya, pekerjaan penutupan jadi lebih lama dari biasanya."


"Tidak ada masalah soal dingin."


Daphne menggelengkan kepalanya singkat.


"Tapi, alasan itu terdengar aneh. Seolah-olah majikanku benar-benar menunaikan pekerjaan pustakawan dengan sungguh-sungguh..."


"Bukankah itu kejam sekali!? A-aku juga sesekali bekerja dengan benar, tahu! ...Yah, meski agak lama tadi karena aku terlalu banyak bersantai di tengah jalan, sih."


"........."


"Itu wajah 'sudah kuduga' ya! Uuh, biarkanlah sekali-sekali!"


"Tentu saja tidak masalah, Sucre-sama. Bagaimanapun juga, aku sama sekali tidak pernah berpikir kalo majikanku mampu mengerjakan pekerjaan normal dengan baik."


"Itu namanya menyamarkan ejekan dengan kedok menyanjung, kan!?"


Puff, Sucre menggembungkan pipinya sambil menggigit (tentu saja secara kiasan), sementara pelayannya, Daphne, menanggapi dengan tenang dan santai. 


Bagi orang yang tidak mengenal hubungan keduanya, percakapan itu mungkin terlihat seperti interaksi hangat antar saudari. ...Sebaliknya, bagi yang mengetahui kedudukan Sucre, keberanian Daphne bisa saja membuat mereka bergidik.


Tapi, bagi tuan dan pelayan ini, semua itu hanyalah rutinitas biasa.


"Meski begitu... Tuan putri."


──Lalu, seolah sudah bosan, gadis pelayan itu mengganti topik. 


Rambut pendek biru tua miliknya yang menyerupai langit malam bergoyang halus saat dia menatap ke arah pinggiran ibu kota─────tepatnya ke bangunan besar perpustakaan yang menjulang di depan mata.


"Lagi, ya."


"Eh? Ah, iya. ...Kau cepat sekali menyadarinya, Daphne?"


"Karena aku sudah berkali-kali menyaksikannya."


Dengan tenang Daphne menyipitkan matanya.


Yang ditatap oleh mata biru tuanya bukanlah dinding luar perpustakaan. 


Melainkan cahaya lampu samar yang bocor dari jendela lantai dua. 


Perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak itu sangat berhati-hati soal penggunaan api. 


Tidak mungkin lampu menyala tanpa ada orang di dalamnya.


"Sungguh..."


Siapa yang masih tertinggal, bagi Daphne tidak perlu dipertanyakan lagi.


Calum Revere──petualang yang lebih sering berkunjung ke perpustakaan ini daripada siapa pun. 


Dia mencintai membaca lebih dari makan tiga kali sehari, bahkan lebih dari tidur. 


Karena enggan membuang waktu untuk bolak-balik ke rumah, dia sudah tak terhitung jumlahnya bermalam di perpustakaan.


...Yah, semua itu mungkin karena kunci cadangan yang diberikan oleh majikannya.


Walaupun begitu, Daphne tidak berniat mempersoalkannya. 


Sulit membayangkan anak laki-laki seperti Calum akan keliru dalam menangani api, dan setelah lebih dari 7 tahun datang ke sini tanpa ada masalah, jelas dia bukan tipe yang berniat melakukan kejahatan.


Hanya saja, ada satu hal yang tetap perlu dipastikan.


"Sucre-sama. ...Apa itu tidak masalah? Membiarkan dia begitu saja di tempat berbahaya seperti itu."


Di dunia ini ada banyak dungeon─────Reruntuhan peninggalan generasi lampau yang menyimpan 'relik' berkekuatan aneh, serta 'Hihou' yang mampu mendorong peradaban melompat jauh ke depan. 


Puluhan ribu petualang di seluruh benua mempertaruhkan nyawa mereka untuk membasmi monster dalam dungeon demi membawa pulang Hihou tersebut.


Dan,


"Sekalipun tidak perlu lagi kusebutkan, di sini, Perpustakaan Kerajaan Pusat, juga dikenal sebagai Perpustakaan Pemurni Iblis──ini merupakan salah satu dari 7 dungeon tingkat khusus di dunia."


...Dungeon tingkat khusus.


Itu adalah sebutan bagi reruntuhan yang 'paling misterius' di antara sekian banyak dungeon. 


Catatan di guild petualang hanya menyebutkan 3〈Kuil Suci Dasar Laut〉,〈Puncak Langit Jauh Nan Agung〉, serta〈Mimpi Buruk yang Berkeliaran.〉 


Tapi ketiganya pun hanya berdasar kasus orang yang tersesat masuk, tanpa metode masuk yang bisa diulang ataupun pemahaman jelas soal strukturnya.


Sedangkan〈Perpustakaan Pemurni Iblis〉ini bahkan tidak memiliki informasi selain namanya──


Kalo bukan karena kisah yang diwariskan di keluarga Sucre, dia sendiri pun tidak akan mengira kalo tempat ini adalah dungeon. 


Sebuah dungeon tingkat khusus yang eksistensinya saja tidak dikenal, benar-benar mustahil ditaklukkan.


"Mou, Daphne kau memang terlalu khawatiran."


Di sisi sang pelayan yang berwajah tegang, Sucre dengan riang memutar-mutar telunjuknya.


"Tidak apa-apa kok. Di bagian 'sisi yang terlihat'〈Perpustakaan Pemurni Iblis〉tidak ada satu pun monster. Lagi pula, pemakaian di luar jam sudah jadi hal biasa."


"Begitu ya. ...Dengan kata lain, kalo besok pagi Calum-sama ditemukan tewas mengenaskan seperti kain pel usang, Master sudah siap menanggung seluruh tanggung jawabnya."


"A-aku tidak sampai bilang sejauh itu, tapi...eh, apa dia benar-benar tidak apa-apa? Megane-kun, apa dia akan mati?"


"Aku tidak tahu."


Daphne menghela napas panjang, seakan pasrah.


Sehari-hari dia sudah terbiasa dipusingkan oleh kemauan sang majikan, Sucre─────meski, pada kenyataannya, kemungkinan sesuatu benar-benar terjadi hampir nol. 


Hanya saja, mustahil juga dikatakan sama sekali tidak mungkin.


"...Biasanya, kekhawatiran seperti ini sudah lama kubuang jauh."


Daphne menggeleng pelan dengan wajah sedikit bingung.


"Tapi kalo yang terlibat adalah 'sisi tersembunyi' dari dungeon, maka yang diperlukan bukanlah kemampuan bertarung. Dan menurut penuturan tuan putri...bukankah anak itu, setidaknya dalam ranah 【Pengetahuan】, mencapai tingkat yang abnormal tinggi?"


"Betul. ...Apa kau mau melihat hasil penilaiannya? Aku sudah meminjamnya dari guild, kok."


Dengan cekatan Sucre mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya.


Melihat tulisan yang tertera di sana, Daphne terbelalak, "Eh."


"Melebihi standar...? Dan itu hanya di ranah 【Pengetahuan】 saja?"


"Iya. Karena dia tidak punya bakat baik dalam senjata maupun sihir, peran resminya dianggap 'tak berguna', yaitu 《Penanggung Jawab Teka-teki》...tapi aku tahu sesuatu. Guild punya harta karun〈Lingkaran yang Menyingkap Kekuatan Tersembunyi〉, tapi itu hanya bisa mengukur kemampuan seorang petualang sampai level 'kelas terkuat di dalam guild'. Karena selebihnya sudah masuk ranah dongeng."


"......Jadi, dia sudah mencapai ranah itu?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, tapi tetap saja..."


Sucre, pustakawan yang sudah lebih dari 7 tahun menyaksikan Callum, tahu betul.


Kalo dia memahami seluruh bahasa di benua ini, bahkan juga aksara kuno yang telah lama hilang. 


Kalo dia melahap habis semua bentuk tulisan─────mulai dari makalah, ensiklopedia, buku referensi, hingga buku bergambar───────dan terutama dalam hal kisah, dia sudah membaca sebagian besar koleksi luar biasa Perpustakaan Kerajaan Milieu. 


Bahkan『The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel』, yang bahkan tidak beredar resmi di dalam negeri Millieu dan hanya masuk sebagai barang impor hasil penerbitan mandiri, pun sudah dilahapnya.


".......Cara terbaik untuk mengasah kekuatan ranah 【Pengetahuan】, adalah dengan membaca buku."


Suara Sucre bergema pelan di kegelapan malam ibu kota.


"Tingkat pencapaian sebuah kemampuan tidak hanya ditentukan oleh bakat, melainkan juga 'pengalaman'─────misalnya, untuk ranah 【Pedang】, akan naik seiring seberapa banyak pertempuran dengan monster yang dialami menggunakan pedang. Hasil akhirnya adalah perkalian dua hal itu, dan itulah cara semua petualang menjadi kuat. ...Kalo begitu, sekarang soal!"


Masih dengan suara rendah, Sucre mengangkat satu tangannya dengan semangat.


"Seorang petualang berperan 《Pendekar Pedang Utama》 yang menantang dungeon 3 kali seminggu, dalam sebulan bisa mengumpulkan berapa banyak pengalaman? Dengan latihan mandiri sekitar dua jam setiap hari!"


"......Eii."


"Ihii!? Kenapa pipiku malah diremas-remas begitu, nyah!?"


"Karena waga-Hime terlihat sangat imut barusan. ...Baiklah. Kalo satu kali penjelajahan diperkirakan sekitar 6 jam, maka totalnya kira-kira seratus 30 jam."


"Ehh~? Daphne, kau terlalu cepat menghitungnya. Aku bahkan belum tahu jawabannya..."


"Kalo ingin memberi soal, sebaiknya majikanku menyiapkan jawabannya lebih dulu. ...Lalu? Apa sebenarnya maksud dari tanya jawab ini──"


"Megane-kun membaca buku dari pagi sampai malam setiap hari. Dalam sebulan, lebih dari 500 jam, mungkin?"


"........na."


Yang membuat Daphne terdiam bukanlah rasa heran terhadap obsesinya Calum──melainkan kesadarannya akan sesuatu yang mengerikan.


Kalo 'latihan' dalam sistem kemampuan lain setara dengan 'membaca' bagi 【Pengetahuan】, maka Calum Levere mungkin sedang menaikkan level pencapaian 【Pengetahuan】 hampir 4 kali lebih cepat dari petualang biasa. 


Kemungkinan besar sia memang sudah mencapai wilayah yang belum pernah dicapai siapa pun.


Tentu saja, 【Pengetahuan】 tidak ada gunanya di dungeon...setidaknya menurut pemahaman umum.


"『Di dalam dungeon bersemayam kunci yang mampu menumbangkan Raja Iblis, dan pahlawan berikutnya akan mendapatkan kunci itu』..."


Dengan nada seakan bernyanyi, Sucre mengucapkan sepotong 'legenda'. 


Dia memutar tubuhnya sambil menyilangkan tangan ke belakang, membiarkan helai-helai emas berkilau bergoyang, lalu menatap mata Daphne.


"Siapa tahu, mungkin saja hal itu benar, kan? 


"......Haa."


Melihat sorot mata majikannya yang berkilauan penuh harapan, sang pelayan tidak bisa menahan diri untuk menghela napas berat.


"Kalo begitu, akan kusimpan sedikit saja harapan itu. ...Wahai Tuan Putri."


Kepada majikannya──bunga kerajaan Milieu, Yang Mulia Putri Richesse Orliel, yang saat bepergian menyamar dengan nama 'Scray' serta mengubah penampilan melalui tata rias dan keterampilannya──Daphne memberikan jawaban demikian.


──《KILASAN MASA LALU》──


...Telinganya berdenging begitu keras.


Untuk Calum, itu adalah kenangan yang tidak ingin sekalipun dia ingat. 


Kenangan menjijikkan yang ingin dia kunci rapat-rapat dan lenyapkan untuk selamanya.


"Haa...haa...!"


Di dalam dungeon yang remang, hanya napas terengah yang terdengar berulang-ulang.


Calum Revere saat itu hanyalah seorang petualang baru yang baru saja mendaftarkan diri ke guild. 


Dia mengagumi Hihou, mengagumi petualangan, mengagumi dunia yang belum dikenal. 


Dia tahu kalo dungeon penuh dengan bahaya, tapi dia percaya kalo semua itu bisa diatasi dengan keberanian.


Sampai saat dia bertemu 'mimpi buruk' itu.


"Lari...lari, Calum!!"


Yang menyentuh telinganya adalah teriakan penuh putus asa.


Suara itu milik satu-satunya rekan tim yang dia miliki, seorang gadis teman masa kecil yang bersumpah akan selalu bersamanya, bila kelak menjadi petualang, mereka akan membentuk tim bersama dan menaklukkan banyak dungeon.


Tapi kini──gadis itu sedang berada di ambang ditelan oleh bayangan hitam nan jahat.


"Fi...le...?"

 

Suara yang parau saja yang bergema.

 

Calum, yang baru saja menjadi seorang petualang, masih belum mengetahui apa pun. 


Kalo 'bayangan' itu adalah dungeon kelas khusus bernama 〈Mimpi Buruk yang Merata〉, sebuah bencana alam yang bisa muncul secara kebetulan di dungeon mana pun. 


Kalo seorang petualang yang tersentuh bayangan itu akan dibawa paksa tanpa banyak tanya, dan tidak akan pernah kembali lagi.


".....aha."


Fille, yang tertelan oleh bayangan, memaksakan diri untuk tersenyum.


"Tidak apa-apa, Calum. Aku adalah barisan depan dari 'Tim Callum'...aku tidak akan kalah di tempat seperti ini!."


Sambil berkata begitu, Fille menunjuk dada mantel kesayangannya. 


Di sana, tersemat lencana tim yang baru dibuat beberapa hari lalu─────'Bukti Keberanian' berupa pedang dan pena bulu yang bersilang.


"Jadi tenanglah, Calum."


Tapi Calum menyadarinya. Fille memang berusaha bersikap ceria seperti biasanya...tapi itu hanyalah bentuk kepedulian terbaiknya untuk Calum. 


Itu bukan berarti dia optimis, ataupun memiliki siasat rahasia.


Buktinya, mata Fille yang menatap Calum─────sudah bengkak merah sejak tadi.


"Fi...Fille!"


"Maaf ya. ...Selamat tinggal, Calum."


Ucapan perpisahan itu hanya sekejap.


Saat Calum kembali berdiri, bayangan hitam itu sudah menyeret Fille entah ke mana.


...Sejak saat itulah. Calum Revere mulai menjaga jarak dari dungeon.




◆〈perpustakaan besar pengusiran iblis・sisi tersembunyi〉──awal penaklukan◆



"Apa ini, tempat apa ini?"


Tengah malam, lantai dua Perpustakaan Kerajaan Milieu.


Dari tenggorokan Calum yang mengernyitkan kening, terlontar keraguan seperti itu.

Pertama-tama, mari kita rapikan situasi──seperti biasa, Calum mendapat izin khusus untuk menggunakan perpustakaan di luar jam buka dengan bantuan pustakawan kenalannya, Sucre. 


Dengan santai, dia berencana menetap sampai pagi demi terus membaca seri 『The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel』.


Calum tertidur setelah beberapa lama lewat dari pergantian hari.


Untuk Calum, yang lebih mementingkan membaca daripada tidur, ketiduran bukanlah hal yang aneh. 


Dia memang harus berhati-hati agar tidak lalai dengan api, tapi selain itu dia bahkan menganggap ketiduran sebagai kenikmatan tertinggi. Karena begitu dia bangun, dia bisa langsung melanjutkan membaca.


...Tapi.


(Aku kehilangan buku yang tadi kubaca...atau lebih tepatnya, apa ini benar-benar perpustakaan?)


Ada yang jelas-jelas janggal. Bukan hanya keadaannya, melainkan juga suasananya.


"Hmm..."


Lewat lensa kacamatanya, Calum menyapu pandangan ke sekeliling──dari struktur bangunannya, memang masih seperti perpustakaan yang dikenalnya. 


Rak-rak buku tersusun rapi, ada ruang baca yang luas, jendela besar untuk menangkap cahaya dari luar, dan juga tangga yang menghubungkan ke lantai satu.


Tapi, kenyataan kalo semua itu terlihat jelas sudah merupakan hal yang aneh.


Sekarang adalah tengah malam. Cahaya matahari tentu tidak ada, dan sumber penerangan hanyalah sebuah lampu kecil di atas meja. Cahanya itu hanya cukup untuk membaca buku di hadapannya, tapi tidak mungkin cahaya itu mampu menerangi seluruh ruangan.


".....Apa ini sedang memancarkan cahaya?"

 

Di menyipitkan matanya.


Itu mungkin sumber dari suasana ganjil ini──bukan berasal dari suatu tempat tertentu, melainkan seluruh ruang ini memancarkan cahaya kebiruan pucat. Sebuah kilau aneh yang mengandung sekaligus keindahan dan kelembutan.


"Cahaya ini... Seberapa jauh cahaya ini menjangkau."


Mengutarakan pertanyaan yang muncul di benaknya, Calum pun mencoba mengulurkan tangannya. 


Kursi yang dia sukai adalah kursi dekat jendela, yang berarti jendela itu berada dalam jangkauannya.


Dia memutar kait pengunci bagian dalam, lalu jendela──


"Hmm. ...Tidak bisa dibuka."


──jendela itu sama sekali tidak bergerak.


Sebuah perpustakaan besar yang membanggakan koleksi sekitar 1,99 juta buku tentu tidak mungkin hanya memiliki satu jendela, dan di lantai pertama pun ada pintu megah. 


Tapi pada tahap ini, Calum sudah memiliki keyakinan aneh.


...Pasti, baik pintu maupun jendela, semuanya tidak akan bisa dibuka.


...Karena, tempat ini adalah.


"Dungeon...itu pun, yang sangat istimewa."


Ada sebuah rasa yang jatuh begitu saja ke dalam perutnya.


Dia teringat sebuah kenangan masa lalu yang dia lihat dalam mimpinya. 


Dungeon kelas spesi 《Mimpi Buruk yang Merajalela》 yang telah merenggut sahabat masa kecilnya. 


Mungkinkah mimpi itu semacam pemicu? 


Atau mungkin itu sama sekali tidak ada kaitannya, dan dengan alasan yang sama sekali tidak dia ketahui, Calum telah terperangkap di tempat ini?


Tapi, bagaimanapun juga.


(Ini gawat...kalo ini adalah dungeon, artinya ini sarang para monster.) 


Dengan tenang dia menggeser kursinya, lalu berdiri di tempat itu sambil bersiaga.


...Yah, meskipun begitu.


Bahkan kalo disebut bersiaga, para petualang lain pasti akan tertawa terbahak-bahak kalo mereka melihatnya─────karena Calum memiliki nilai kesesuaian 0 pada semua keterampilan selain yang terkait 【Pengetahuan】, bahkan dia tidak bisa menggunakan dasar-dasar seni bela diri yang menjadi fondasi senjata maupun sihir. 


Dilihat sekilas pun, gerakannya lebih mirip tarian kikuk atau sekadar gestur belaka.


"..........."


Calum yang tidak peduli dengan hinaan bukan hanya karena sifatnya, tapi juga karena itu tidak salah. 


Tubuhnya yang kurus kering sama sekali tidak memiliki otot. Bahkan ketika memegang sebuah buku terlalu lama, lengan­nya akan bergetar karena kelelahan.


(Kalo aku melawan monster paling lemah pun, aku bisa saja babak belur...)


Calum mendorong naik kacamatanya sambil menelan penilaian putus asa itu.


Tapi, setelah dia menahan napas satu menit, 2 menit...hingga 5 menit berlalu, berlawanan dengan kewaspadaannya, monster tidak juga muncul. 


Bahkan ketika dia mencoba berjalan dengan langkah pelan, atau turun ke lantai pertama sekalipun, hasilnya tetap sama. Yang ada hanyalah ruang yang sunyi, damai, dan penuh misteri.


─────Andai ini seorang petualang kelas atas.


Nah, kalo saja yang menjelajah dungeon ini adalah 4 anggota tim Ann yang sebelumnya telah membuat ibu kota Kerajaan Milieu gempar karena berhasil mendapatkan Hihou, pastilah mereka akan memanfaatkan berbagai keahlian mereka masing-masing untuk menjelajah. 


Bahkan seandainya ada monster yang mengintai, pasti monster itu akan mereka kalahkan dengan kombinasi yang gemilang.


Tapi, dalam hal ini.


(...Ya ampun, tidak ada pilihan lain.) 


Kalau soal Calum─────dia justru mendekati rak buku, berniat memilih sebuah buku untuk mengisi waktu luangnya.


Bagaimanapun juga, dia sama sekali tidak memahami situasinya, dia tidak bisa keluar, dan karena toh sudah terbangun, tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain membaca. 


Entah melanjutkan 『The Heroic Chronicles of Spearmaster Noel』, atau kalo itu tidak ada, buku lain pun tidak masalah. 


Dalam benaknya sama sekali tidak terpikir soal penaklukan atau penjelajahan.


"Hmm..."


Rak buku Perpustakaan Kerajaan Milieu tersusun rapi.


Pertama, pengelompokan terbesar didasarkan pada bahasa. Sebagian besar dalam bahasa resmi Milieu, lalu dikategorikan lagi berdasarkan genre. 


Bagian yang paling sering digunakan Calum adalah sudut 'kisah'. Di rak paling depan berjajar buku-buku yang baru masuk, lalu setelah itu diurutkan berdasarkan nama pengarang.


Menyusuri jalan yang sudah biasa ditempuhnya di antara rak-rak buku.


Dia sampai di rak yang dituju─────saat itulah.


"....Apa ini..."


Suara berat penuh keterkejutan keluar dari bibirnya.


Di sana jelas ada sesuatu yang aneh. Tepatnya, sebuah buku sedang bersinar. 


Memang seluruh ruangan sudah dipenuhi cahaya kebiruan, tapi di antara itu, cahaya dari satu titik ini jauh lebih terang. Bahkan lebih terang daripada lampu khusus yang dinyalakan dengan bahan bakar istimewa, itu hanya sebuah buku yang memancarkan kilau menyilaukan.


Judulnya adalah 『Catatan Penjelajahan Reruntuhan Marsh』.


Berbeda dengan kenyataan, dalam karya fiksi bukanlah hal langka kalo jebakan atau mekanisme muncul di dalam dungeon, tapi karya ini secara khusus menjadikan 'jebakan' sebagai tema utama. 


Tokoh utama, Marsh, tersesat dalam reruntuhan yang penuh jebakan, lalu mengandalkan kecerdikan, akal, dan kekuatan untuk menghadapi segala kesulitan.


Tapi, lalu kenapa?


"..........."


Di mengerti. Dia mengerti, tapi──untuk mengabaikannya, rasa penasarannya terlalu mengganggu.


Dengan tenang dia mengatur napasnya, lalu memantapkan tekadnya.


Begitu tangan kanannya terulur menyentuh buku bercahaya itu, tubuh Calum seketika terpindah ke suatu tempat... 


"────Apa."


Sesaat kemudian, dari atas kepalanya sebilah pedang raksasa jatuh.


Sebuah jebakan instan yang akan merenggut nyawanya dalam sekali tebas. 


Dengan suara berderit keras menggores dinding, bilah berbahaya itu meluncur turun dalam kecepatan luar biasa. 


Itulah satu-satunya hal yang sempat dia pahami. 


Apa yang terjadi, bagaimana bisa demikian, situasi apa yang sedang berlangsung──dia tidak punya sedikit pun kesempatan untuk mengatur pikirannya.


Yang ada hanya kematian yang mendekat tanpa ampun.


Melihat itu melalui lensa, Calum menutup matanya perlahan, lalu membuka mulutnya.


"【Pengetahuan】Sistem keterampilan・Pelepasan Kedua──【Berkedip】"


──Seketika berhenti.

 

Pedang yang seharusnya jatuh dengan percepatan melebihi gravitasi itu berhenti tanpa suara tepat di atas kepala Calum.


"Fuu..."


Menghela napas dalam, Calum perlahan mulai menggerakkan kakinya. 


Dia keluar dari bawah pedang yang terhenti di posisi tidak wajar itu, lalu untuk berjaga-jaga dia mengambil jarak yang cukup jauh.

Kemudian, dia berkata,


"Kau boleh bergerak lagi──【Meimetsu】"


Begitu Calum menurunkan lengannya bak seorang dirigen, jebakan mematikan alias guillotine itu kembali meluncur jatuh, menyayat angin dengan kecepatan luar biasa, lalu dengan suara keras zudon yang menggema hingga ke perut, bilah itu membelah tanah dalam-dalam. 


Pecahan puing pun berguling hingga ke kaki Calum.


(.....Baiklah.) 


Sekarang, ayo coba kuatur kembali situasinya.


Calum menyentuh 'buku bercahaya' yang ada di rak Perpustakaan Kerajaan Milieu, dan tepat setelah itu dia diserang guillotine yang jatuh dari atas kepalanya.


Dia bisa menghindar berkat keterampilan untuk mengendalikan 'jebakan'.──Keterampilan dari sistem 【Pengetahuan】, Pembebasan Kedua 【Meimetsu】. 


Mengoperasikan mekanisme adalah salah satu dari sedikit bidang khusus milik peran 《Penanggung Jawab Teka-teki》.  


Dia pernah mendengar kalo di dalam dungeon hampir tidak ada jebakan...tapi, mungkin tempat ini memang pengecualian?


"..........."


Keadaan sekitar sekarang sangat berbeda dari sebelumnya.


Sebuah ruangan kecil yang dikelilingi dinding di keempat sisinya. 


Pada salah satu sisi ada pintu, tapi terkunci dengan gembok besar. 


Di lantai ada lubang besar yang baru saja tercipta. 


Sedangkan guillotine yang membuat lubang itu, begitu berhenti bergerak langsung lenyap bagai asap. 


Di atas kepalanya, hanya kegelapan tanpa apa pun yang terlihat.


Tapi, tidak mungkin itu adalah akhir dari bilah kematian tadi.


(Guillotine itu jatuh tepat saat aku muncul. Tapi sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan aktif...berarti, pemicunya adalah suara.) 


Dia menyimpulkan begitu... Tepatnya, suara dengan tingkat tertentu. 


Sekarang pun pasti tidak benar-benar sunyi, tapi saat momen teleportasi tadi, Calum memang sempat mengucapkan sesuatu.


Dengan kata lain─────di ruangan ini, kalo membuat suara dengan intensitas tertentu, bilah akan jatuh dari atas kepala.


Dan, ada satu hal lagi yang mengganggu pikirannya.


(Aku...pernah membaca adegan ini di sebuah buku.) 


─────『Catatan Penjelajahan Reruntuhan Marusche』 Bab 3.


Sang protagonis, yang memiliki naluri dan intuisi luar biasa namun juga berwatak ceroboh, terpisah dari rekan-rekannya karena bertindak gegabah dan tersesat ke dalam kuil penuh jebakan. 


Di sanalah dia sampai pada 'ruangan hujan bilah pedang'. 


Termasuk kondisi sekitar, keadaannya hampir sepenuhnya sama dengan apa yang dialami Calum sekarang.


Bedanya, Marusche memiliki bakat tinggi pada sistem 【Palu】, sehingga dia bisa membuat jalan keluar dengan mengandalkan kekuatannya.


Tapi, meskipun begitu.


(Sama saja. ...Kalo tidak ada jalan keluar, maka harus dibuat.) 


Keterampilan dari sistem 【Pengetahuan】・Pembebasan Keempat──【Eimin】.

 

Karena berada dalam situasi di mana dia tifak bisa mengeluarkan suara, yang Calum lepaskan tanpa sepatah kata pun adalah sebuah keterampilan yang meningkatkan kelima indranya hingga batas tertinggi. 


Umumnya, 'Pelepasan Keempat' dari setiap sistem keterampilan adalah kelas jurus pamungkas. 


Itu berarti tingkat pencapaian di mana seseorang menjadi kekuatan utama tim dan berkontribusi besar dalam penaklukan dungeon.


...Tentu saja, 【Pengetahuan】 tidak memiliki kemampuan untuk mengalahkan monster.


(Ketemu.)


Dengan penglihatan yang ditingkatkan oleh keterampilan tingkat keempat, Calum seketika menemukan kunci untuk memecahkan ruang tertutup ini─────yaitu goresan besar yang terukir di dinding. 


Guillotine itu, saat jatuh, menimbulkan suara sumbang yang berderit-derit. 


Singkatnya, ukurannya terlalu besar. Tidak sesuai dengan ruangan ini. Mau tidak mau, pasti ada 'kelebihan ruang'.


(...Dengan kata lain.)


Mendadak, dia meraih puing yang berserakan di kakinya.


Lalu dia melemparkannya ke arah satu-satunya pintu di ruangan ini. 


Meski lemparannya tidak terlalu terarah, puing itu mengenai pintu dan menimbulkan suara gonn yang tumpul.


Sebagai reaksinya, dari langit-langit turunlah guillotine.


Pedang yang berderit-derit itu, bukannya menebas seperti sebelumnya, malah dengan mudah membelah pintu dan gemboknya, lalu kembali menghujam lantai. 


Dalam celah itu, Calum menghentikan mekanisme bilah pedang menggunakan 【Berkedip】, kemudian melangkah santai menuju pintu.


Dan tentu saja.


".....Strategi melawan gimmick, sudah selesai."


Pintu yang kehilangan gemboknya pun terbuka dengan mudah, tanpa perlawanan sedikit pun.


★★★


─────Pintu yang terbelah oleh guillotine dan dipaksa terbuka.


Dengan mempertimbangkan kejadiannya, tidak heran kalo di balik pintu itu tersambunglah jalan menuju Perpustakaan Kerajaan Milieu.


Tapi, atmosfer anehnya tetap tak berubah. 


Seluruh ruang dipenuhi cahaya kebiruan, pintu dan jendela tetap tertutup rapat, dan kini giliran buku lain yang memancarkan cahaya menyilaukan.


"Jadi begitu...Jadi kau mencoba menyuruhku menaklukkan gimmick teka-teki ini satu per satu, ya."


"Baiklah," Calum mengangkat bahu.


Barusan, dia menyentuh sebuah buku bercahaya, lalu terlempar ke dalam salah satu adegan di dalamnya. Dengan kata lain, 'terhisap ke dalam buku'. 


Kalo perpustakaan ini dianggap sebagai sebuah dungeon, maka jebakan maut yang barusan dilewatinya hanyalah salam pembuka belaka. 


Misi berikutnya tentu saja adalah menyeberangi berbagai novel petualangan satu demi satu, dan menemukan cara yang tepat untuk melewati tiap bahaya...kurang lebih begitu.


Tingkat niat membunuhnya cukup tinggi, memang.


"......Tapi itu masih lebih baik daripada dipaksa melawan monster."


Kalo hanya gimmick seperti ini. Atau jebakan. Atau teka-teki.


Tidak ada alasan sedikit pun untuk Calum Revere untuk merasa terintimidasi.




Sejak saat itu, penaklukan dungeon berlangsung dengan kecepatan yang pantas disebut sebagai serangan kilat.


Contohnya, di buku kedua.

Instruksi yang diberikan pada Calum adalah, menyeberangi jembatan gantung yang terbentang di atas jurang dan mencapai tepi seberang. 


Ada dua jembatan, yang satu 'tak beratap tapi sangat kokoh', dan yang lain 'ditutupi kain lusuh tapi sangat rapuh'. 


Di langit dan di sungai, monster-monster tangguh sudah menunggu.


Jembatan kokoh itu mustahil runtuh, tapi akan membuatnya diserang monster udara. 


Sebaliknya, jembatan rapuh tak akan membuatnya jadi sasaran monster udara, tapi kemungkinan besar dia akan jadi santapan monster sungai.


"...【Keterampilan Pengetahuan・Pelepasan Pertama《Analisis》】"


Tapi, dengan keterampilan dasar dari sistem 【Pengetahuan】, Calum seketika menyingkap sifat keduanya.


Karena naluri teritorial yang kuat pada monster-monster tersebut, ia segera menggunakan batu di dekatnya untuk menjatuhkan jembatan rapuh ke sungai. 


Hal ini memicu amarah monster sungai, yang langsung menyerang monster udara. 


Pertarungan sengit pun meletus, dengan raja angkasa terseret ke arus deras.


(Tolonglah, jangan sampai mereka sadar keberadaanku...?)


Dia memandang ke atas dan dengan santai─────tidak, dengan takut-takut─────menyeberangi jembatan yang kokoh itu..



Misalnya di buku kelima.


Panggung ceritanya adalah sebuah labirin raksasa di dalam reruntuhan. 


Pada titik awal hanya ada satu pintu, dan dengan membukanya, bisa melanjutkan ke ruangan kecil berikutnya. 


Di ruangan itu terdapat 3 pintu, dan setelahnya jalurnya dibangun secara rumit ke segala arah...sebuah konstruksi yang kompleks.


Tugasnya adalah mengikuti labirin ini dan mencapai tujuan, yang merupakan langkah 'pertama' dari penyelesaiannya.


Sebenarnya, di lantai setiap ruangan kecil terukir tulisan-tulisan yang mencurigakan, dan kalo dilacak dari awal sampai tujuan secara berurutan, akan terbentuk sebuah instruksi. 


Melaksanakan instruksi itulah yang menjadi langkah kedua, tapi kecuali ditempuh lewat rute terpendek, tidak akan terbentuk sebuah kalimat, dan lagi pula notasi itu adalah huruf kuno yang sudah lama hilang.


"【Pengetahuan】Kategori keterampilan・Pembukaan kelima【Kenangan】───────"


Tapi bagi Calum, ini bukanlah hal yang sulit.


Dengan keterampilan untuk menelusuri kembali ingatannya secara akurat─────kebetulan 'pembukaan kelima' adalah batas tertinggi yang ditetapkan oleh guild petualang untuk setiap kategori───────dia berhasil memulihkan semua tulisan di dalam labirin, lalu membentuk satu rangkaian instruksi. 


Adapun huruf kuno yang penting itu, sia sudah menguasainya dengan sempurna sejak awal. 


Sebab, tanpa mengingat huruf tersebut, dia tidak akan bisa membaca dokumen atau katalog kuno.


Dengan begitu, dia menyentuh huruf yang berarti 'jawaban' dan dengan mudah meloloskan diri dari labirin.



Misalnya, buku ketujuh.


Di lantai paling atas menara itu konon tinggal seekor monster tingkat kehancuran.


Di lantai satu sebelum puncak, terdapat senjata tak terhitung banyaknya sejauh mata memandang, dan pemandu memberi instruksi untuk 'membawa hanya satu saja'. 


Semua senjata itu adalah karya yang sangat luar biasa, bahkan bisa dibilang sesuatu yang mustahil ada di dunia nyata. 


Tongkat yang bisa melenyapkan keberadaan lawan dalam sekejap, kurungan yang memberikan ikatan abadi, sepatu yang membuat tubuh membesar...dan banyak pilihan lainnya.


Tapi, ini sebenarnya sebuah jebakan.


Monster yang tinggal di sana dijuluki 'Cermin Bayangan', yang membaca kekuatan petualang yang menantangnya dan berubah menjadi sosok yang sesuai. 


Singkatnya, semakin kuat senjata yang dibawa, semakin tak terkendali wujudnya, sebuah musuh yang menjerat dengan kejutan pertama. 


Dalam cerita, hanya disebutkan kalo 'kemudian seorang pemuda ceroboh berhasil mengalahkannya dengan mudah', tanpa penjelasan lebih jauh.


Tapi.


"【Pengetahuan】Kategori keterampilan・Pembukaan keenam──────【Pandangan Awal】"


Calum menggunakan keterampilan yang belum pernah diamati, yang memungkinkan 'latihan awal', untuk membaca situasi ini, lalu dengan sengaja memilih senjata yang justru menjadi beban baginya, kemudian menuju lantai paling atas. 


Hasilnya, yang muncul di hadapan Calum bukanlah monster, melainkan sekadar hewan kecil yang sangat mengundang rasa ingin melindungi karena kelucuannya.


".........."


Yah, memang itu yang dia maksudkan.


"Apa aku dianggap selemah ini...?"


Dengan perasaan yang campur aduk, dia meraih kemenangan tanpa perlu bertarung.


Dengan terus melanjutkan penyelesaian gimmick seperti itu hingga lebih dari 10 buku.


"......Hmm?"

 

Di depan sebuah rak buku tertentu, Callum berhenti sejenak.


Seperti biasa, suasana di dalam perpustakaan itu terasa penuh misteri. 


Sama seperti sebelumnya, dia sedang mencari buku yang memancarkan cahaya, tapi kali ini sepertinya ada sedikit perbedaan. 


Pertama-tama, rak buku itu terletak cukup jauh di sudut. 


Buku-buku yang tersimpan di sana semuanya terlihat kuno, dengan sampul yang cukup megah.


Dan di antara semuanya, yang bercahaya adalah, 'Kisah Kebangkitan Bangsa Nombre' edisi asli, ya...?"


Sebelum menyentuhnya, dia menelusuri kembali ingatannya.


Kisah Kebangkitan Bangsa Nombre adalah sebuah seri besar yang ditulis secara berkesinambungan oleh banyak penulis. 


Tidak hanya para penulis, para tokohnya pun terus mengalami pergantian generasi, menggambarkan kejayaan suatu negeri. 


Tapi, karena perkembangan umat manusia tidak bisa dilepaskan dari Hihou, panggung utamanya tetaplah dungeon.


".........."


Meski dia pernah membaca versi terjemahan modern yang terbaru, edisi aslinya memiliki sampul yang sudah tua, dengan tulisan yang banyak hilang sehingga nyaris mustahil untuk dibaca dengan baik. 


Dengan kata lain, bahkan Callum sendiri tidak benar-benar mengetahui isi pastinya. 


Dia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi begitu dia tersedot masuk.


Tapi, sudah terlambat untuk mundur sekarang─────atau lebih tepatnya, memang tidak ada cara untuk kembali.


"Hmm..."


──Dia pun menyentuh cahaya itu.


Seperti yang sudah dia alami berkali-kali, tubuhnya berpindah masuk ke dalam buku. 


Tempat Calum berpindah kali ini sepertinua adalah sebuah lorong di dalam reruntuhan. 


Sebuah jalan lurus, dan di depannya terlihat sebuah ruangan.


".......Kurasa aku harus memeriksanya dulu, untuk berjaga-jaga."


Dia berbalik dengan cepat.


Calum lalu menuju ke arah belakang, ke dalam kegelapan─────dugaannya, mungkin ini adalah mekanisme yang menggunakan dua ruangan yang terpisah. 


Kalopun tidak, mungkin saja ada sesuatu yang tersembunyi di tempat lain yang diperlukan untuk menyelesaikan tantangan ini.


Tapi, tempat yang Calum capai setelah melewati kegelapan itu adalah...perpustakaan.


"Heh. ...Begitu rupanya, jadi bisa kembali."


Untuk pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini, dan pikirannya pun berputar.


Selama ini, dia tidak pernah bisa kembali ke perpustakaan sebelum berhasil menuntaskan mekanisme misterius di dalam buku. 


Kalo begitu, apakah melewati kegelapan itu jawabannya? 


Sayangnya, sepertinua bukan begitu. 


Soalnya, Kisah Kebangkitan Bangsa Nombre itu masih tetap bercahaya.


...Sepertinya memang agak berbeda dari sebelumnya.


(Mungkin ini adalah teka-teki terakhir──)


Dengan keyakinan itu, Calum kembali mengulurkan tangannya pada buku tua itu. 


Kali ini ria melangkah maju mengikuti jalan, hingga akhirnya sampai pada sebuah ruangan buntu.


Tempat itu adalah sebuah ruangan kecil.


Suasananya agak mirip dengan ruangan pertama yang dulu dipenuhi jebakan maut.

 

Membelakangi lorong, di depannya dan di sisi kiri hanyalah dinding, sementara di sisi kanan terdapat sebuah pintu. ...Tapi pintu itu nyaris tidak berfungsi sebagai pintu. 


Karena itu terikat rapat oleh rantai dan sulur-sulur yang melilitinya. 


Dan kali ini, tidak terlihat adanya guillotine besar yang bisa memotongnya.


Lalu, di samping pintu itu, ada tulisan merah. 


"'Jangan menoleh ke belakang'....."


Calum dengan tenang membaca kembali huruf-huruf kuno yang hilang itu.


'Jangan menoleh ke belakang'...kalo diartikan secara harfiah, maka Calum sudah melanggar larangan dengan berbalik arah di koridor dan keluar dari buku. 


Bahkan barusan, karena penasaran dia sempat melirik ke belakang. Itu adalah pelanggaran kedua.


Tapi, tidak ada gunanya terlalu mengkhawatirkan itu.


"Untuk saat ini aku butuh informasi───────【Pengetahuan】Keterampilan Sistem・Pelepasan Pertama."


───────【Analisis】.


Keterampilan yang mengungkap sifat-sifat monster maupun gimmick, dan menjadi dasar dalam menaklukkannya. 


Dengan itu, rincian segel yang ditempatkan pada pintu pun menjadi jelas.


Menurut keterangannya─────ini adalah teknik penyegelan ketat dari kekuatan yang tidak diketahui asal-usulnya. 


Itu memiliki sifat meniadakan semua keterampilan jenis sihir maupun senjata, dan mustahil dihancurkan dengan kekuatan dari luar. 


Durasi efeknya juga sangat panjang, setidaknya 100 tahun tidak akan rusak.


"Hmm...itu cukup merepotkan."


Komentar jujur itu lolos dari bibirnya.


Calum memang tidak memiliki keterampilan selain 【Pengetahuan】, tapi sekalipun dia memiliki kekuatan tempur setingkat terkuat di dalam guild, segel ini tetap tidak akan bisa dibuka.


Saat dia meneliti ruangan sekitar, bahkan ketika dia menggunakan 【Kepekaan】 untuk memeriksa dengan teliti, tetap tidak ada metode untuk melewati pintu itu.


Satu-satunya petunjuk─────tetaplah frasa 'jangan menoleh ke belakang' itu.


"Kalo ini benar-benar aturan larangan, dan aku sudah melanggarnya, maka bisa jadi statusnya 'tidak dapat diselesaikan'...tapi sepertinya bukan begitu."


Dia menepis kekhawatiran wajar itu.


Sejak Calum memasuki ruangan ini, pintu sudah terikat rapat. 


Kalo benar pelanggarannya adalah saat pertama kali berbalik arah, maka seharusnya peringatan itu dituliskan di dinding koridor. ...Bisa dibilang ini semacam intuisi, tapi cukup untuk menjadi keyakinan. 


Jebakan dalam dungeon ini memang tidak memberi ampun, tapi tidak pernah tidak adil. Selalu ada jalan untuk menembusnya.


Calum mengetuk-ngetukkan jarinya ke dinding terdekat.


Itu kebiasaannya ketika dia sedang berpikir. 


Meski dia tidak punya pena, tapi berpura-pura menulis saja sudah membantu pikirannya lebih teratur.


"Jangan menoleh ke belakang...dengan kata lain, jangan menghadap ke belakang. Belakang, punggung, sisi belakang, arah belakang...tidak, semuanya tidak jauh berbeda maknanya. Kalo begitu, mungkinkah porosnya berbeda?"


Jari-jarinya, yang tadinya bergerak bebas ke segala arah, tiba-tiba terhenti..


──────Lalu,


"Begitu rupanya. ...Sepertinya aku sempat terjebak dalam satu anggapan."


Calum yang telah menemukan jawabannya, menyesuaikan letak kacamatanya dengan rasa puas.


"'Jangan menoleh ke belakang' berarti 'jangan menghadap ke belakang'. Dan belakang tidak hanya dapat dimaknai secara ruang, tapi juga secara waktu──belakang adalah masa lalu. Jangan menoleh ke belakang, dengan kata lain berarti 'majulah dalam waktu'."


Sekilas terdengar seperti sesuatu yang mustahil bagi manusia...tapi sebenarnya tidak begitu.


Seperti yang sudah berkali-kali dialami Calum, dungeon ini berstruktur 'masuk ke dalam buku dan mengalami kembali situasi yang dialami tokoh di dalamnya'. 


Dengan kata lain, ruangan ini, segel ini, jebakan ini muncul dalam 『Nomble Koukoku Monogatari』.

Dan 『Nomble Koukoku Monogatari』 adalah serial panjang yang berlangsung lintas generasi tokoh, sedangkan yang ada di sini adalah volume pertamanya, bahkan naskah aslinya. 


Baik tahun penerbitan maupun waktu di dalam cerita, keduanya sangat kuno. 


Hingga karya terbarunya, waktu yang berlalu sudah mencapai 200, bahkan 300 tahun.


Waktu yang berlalu itulah yang menjadi kunci untuk memecahkan misteri.


"Segel mutlak itu, setidaknya 100 tahun pun tidak akan rusak...begitu."


Calum berbisik pelan sambil membelakangi pintu.


Memang, adanya mekanisme untuk kembali ke perpustakaan melalui ujung lorong memiliki arti tersendiri. 


Segel pintu itu takkan pernah bisa dilepaskan. 


Tapi, karena Nomble Koukoku Monogatari memiliki karya lanjutan dengan dunia yang sama yang terus muncul selama ratusan tahun, di antaranya pasti ada adegan yang menampilkan dungeon yang sama persis. 


Dengan kata lain, dengan mengganti buku, seseorang dapat secara semu 'memajukan waktu'.


─────Lalu.


Saat Calum kembali ke perpustakaan dan menjelajahi ruangan sekali lagi, Calum menemukan satu buku lain yang bersinar terang, terpisah dari naskah asli. 


Itu adalah volume terbaru dari Nomble Koukoku Monogatari. Saat dia menyentuh buku itu, dua kembali berpindah ke lorong yang sama seperti sebelumnya, dan di ujung sana terdapat sebuah ruangan kecil.


Dan kemudian,


"......Oh."


Segel pintu itu──telah sepenuhnya hancur total.


Menyaksikan keadaan itu, dada Calum diliputi ketegangan samar. 


...Memang, tidak ada yang megatakan kalo mekanisme ini adalah yang terakhir. 


Tapi, justru karena itulah mekanisme ini terasa paling pantas dijadikan penutup. 


Besar kemungkinan inilah tanda kalo 'penaklukan gimmick' telah selesai.


(Seandainya begitu...lalu apa yang akan terjadi?)


Wujud dungeon ini sungguh berbeda jauh dari 'dungeon' yang dikenal Calum.


Karena itu, dia tidak tahu apa yang akan terjadi ketika pintu itu dibuka. 


Apakah dia akan memperoleh harta karun? Apa dia bisa keluar dari dungeon? Ataukah justru meledak berkeping-keping? 


[TL\n: sekarang gua bakanlan make kata 'harta karun' alih alih 'Hihou' yah walupun dua kata ini sebenarnya sama wkwkw.] 


Semua kemungkinan masih terbuka.


Tapi,


".....Tidak ada gunanya ragu-ragu, ya."


Perlahan, Calum menyentuhkan tangannya pada pintu itu.


Meski dia nyaris tidak mengerahkan tenaganya─────segel yang telah terlepas membuat pintu itu terbuka tanpa perlawanan. 


Bersama bunyi gesekan samar, pandangannya perlahan melebar.


"I-ini..."


Di balik pintu itu terbentang pemandangan yang begitu fantastis dan penuh misteri.


Dengan satu kata, itu adalah 'cahaya'.


Kilauan gemerlap yang memantulkan cahaya di sekelilingnya.

 

Padahal tempat ini ada di dalam bangunan, lebih-lebih di kedalaman dungeon, di mana sinar matahari seharusnya tidak pernah sampai, tapi cahaya lembut dan indah itu tetap ada di sana.


Dan di pusat cahaya itu, terbaring seorang gadis.


Rambut transparan yang memancarkan kilau rumit bagaikan berlian, begitu indah hingga tidak ada warna di dunia ini yang bisa dijadikan perumpamaan. 


Kata 'rambut panjang' pun terasa tidak cukup untuk menggambarkan volume rambutnya, dan seolah-olah sama sekali tifak terikat oleh gravitasi, helaian rambutnya itu melayang ringan. 


Dia memejamkan mata bagaikan sedang tertidur, dengan wajah yang begitu cantik hingga membuat siapa pun yang melihatnya tertegun dan tanpa sadar menahan napas.


Bukan sekadar paras yang sempurna.


Ada aura di dalam dirinya. Daya tarik yang luar biasa kuat. Bahkan, hingga terasa seperti wibawa yang tidak tertahankan.


(...Malaikat... Dewi...tidak, roh?)


Berbagai kata yang biasa digunakan untuk melukiskan kecantikan berputar-putar dalam kepala Calum.


Lalu, pachiri, sebuah suara kecil.


Sebuah permata terindah─────tidak, sepasang mata biru safir miliknya───────muncul dari balik kelopak yang perlahan terbuka, hadir di dunia ini.


" 『...........』 "


Seakan waktu berhenti, untuk sesaat, Calum dan gadis itu saling bertatapan.


Yang pertama membuka mulut adalah gadis itu.


『Satu hal ingin kutanyakan─────apa kaulah yang membangunkanku?』


"──────"


Singkatnya, itu membuat seluruh sel tubuh Calum bergetar.


Hal ini sejatinya tidak perlu dia pastikan lagi, tapi Calum adalah pembaca terbesar di seluruh benua. 


Karena itu, di banyak novel petualangan, dia pernah menemui tokoh-tokoh seperti malaikat atau dewi, dan setiap kali, suara mereka digambarkan dengan perumpamaan yang sangat berlebihan, seperti 'alunan surgawi' atau 'firman suci.' 


Kalo ditanya apakah dia pernah benar-benar merasakan hal itu, jawabannya tentu saja tidak.


Tapi,


(Jadi begini...maksudnya...)


Mungkin karena tegang, Calum merasa tenggorokannya kering.


Suara gadis itu begitu indah─────lembut, jernih, mempesona. 


Sekaligus penuh wibawa, agung, hingga secara alami membuatnya duduk lebih tegak. 


Sama halnya dia tidak bisa mengalihkan pandangan darinya, telinganya pun tidak mampu lepas dari suara itu. 


Seakan dirinya terjerat oleh sihir yang aneh.


"......Fuu."


Dia menghela napas, memaksa pikirannya untuk kembali tenang.


Lalu Calum pun menyapa gadis yang mengenakan pakaian tipis menyerupai kain sutra.


"Maaf kalo terdengar seperti membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Tapi...apa maksudmu dengan membangunkanmu? Kalo ditafsirkan apa adanya, menurutku kau hanya terbangun secara alami."


『──Begitu rupanya, legenda 1000 tahun yang lalu sepertinya memang sudah terputus.』


Dengan nada sedikit sendu, gadis itu menurunkan suaranya yang bak nyanyian surgawi.


Dibalut cahaya dan melayang sedikit di atas tanah, dia kembali menatap Calum dengan mata biru safirnya, lalu menyatukan kedua tangan di dada dan berkata. 


『Kalo begitu, ayo kita mulai dengan perkenalan─────namaku adalah Meiyur. Aku adalah roh yang menguasai atribut 【Pengusir Iblis】, roh bernama Meilleur. Panggillah aku Mea.』


".....Roh, katamu?"


Calum membutuhkan waktu sejenak untuk memahami ucapannya.


Sebab, itu adalah keberadaan yang hanya ada dalam dongeng.


Sekitar 1000 tahun yang lalu. Kini memang sudah menjadi pengetahuan umum kalo 'monster tinggal di dungeon', tapi sepertinya dulu tidak ada batasan semacam itu. 


Pasukan iblis yang dipimpin oleh puncaknya, sosok yang disebut Raja Iblis, menyerang manusia demi menguasai benua.


Dan saat itu, yang bertempur bersama manusia adalah para 'roh'.


Sebuah ras lain yang sejak dahulu sudah ada di benua ini. 


Para roh dulunya hidup berdampingan dengan manusia, dan ketika mereka bekerja sama, mereka dapat melepaskan kekuatan yang luar biasa. 


Bahkan, dikatakan kalo seluruh artefak dan harta yang tersimpan di dungeon sebenarnya adalah 'warisan manusia dari generasi terdahulu yang mendapat berkah roh'. 


Dalam perang besar melawan Raja Iblis 1000 tahun lalu, kemenangan manusia pun diyakini berkat perlindungan roh.


Tapi───────setidaknya pada zaman sekarang, roh sudah tidak ada lagi.


Perlawanan terakhir Raja Iblis yang kalah, membuat hubungan antara manusia dan roh benar-benar terputus. 


Dengan kata lain, roh sudah lama punah. 


Yang ada hanya 'sisa-sisa' kekuatan mereka yang masih tersisa, itulah yang kini menjadi sumber energi bagi para petualang untuk menggunakan keterampilan mereka.


Semua itu hanyalah kisah sejarah yang biasanya diceritakan dalam pertunjukan gambar untuk anak-anak... 


"Roh yang kau maksud...apa itu, roh yang itu?"


『Aku tidak tahu roh mana yang sedang kau bayangkan, tapi kemungkinan besar itu benar. Roh yang dulu tinggal di benua ini bersama manusia, dan bersama-sama menaklukkan pasukan Raja Iblis──ya roh itu.』


"......Tapi, roh sudah dikatakan tidak ada lagi."


『Secara umum itu benar. Karena perlawanan pasukan Raja Iblis, manusia tidak lagi mampu merasakan keberadaan kami para roh, dan roh yang lemah pun tidak mampu mempertahankan eksistensinya. Sementara roh lainnya memilih bersembunyi di kedalaman dungeon, seperti diriku ini.』


Gadis itu─────Mea──────mengangguk, gaun putihnya yang berlapis-lapis bergoyang lembut mengikuti gerakannya.


"Hmm..."


Calum pun mendorong kacamatanya ke atas dengan suara kecil kacari.


Rinciannya memang sulit dia pahami─────tepatnya, hampir semuanya tak masuk akal. 


Bahkan dungeon saja sudah terasa di luar nalar, apalagi kini dia harus menerima keberadaan roh dan Raja Iblis. 


Perlu waktu lama baginya untuk mencerna hal itu.


Tapi, bahkan setelah mengabaikan upaya untuk memahami semuanya sekaligus, ada satu ungkapan yang mengusik pikirannya.


(Bersembunyi di kedalaman dungeon...? Selama 1000 tahun penuh?)


Dia merenungkan situasi itu dengan saksama. 


Itu bukanlah sekadar pelarian. Pasti ada alasan kenapa dia harus bersembunyi, alasan kenapa dia harus tetap hidup meski harus menyamarkan diri. Dan alasan itu, kalo mengingat perang besar di masa lalu, mudah untuk dibayangkan.


『Seperti yang kau duga.』


Dengan tatapan lurus pada Calum, Mea mengangguk lembut.


『Raja Iblis masih hidup. ...Lebih tepatnya, sia telah bangkit kembali di era ini. Dengan menggunakan tubuh seorang manusia sebagai wadah, jiwa Raja Iblis dipindahkan melalui 'Rahasia Reinkarnasi'... Kalo Raja iblis tidak segera disingkirkan, benua ini akan segera dikuasai oleh Raja Iblis.』


"A..."


『Tapi, tenanglah. Aku adalah Roh Agung Pemurni Iblis, Meiyur─────Kepada dirimu yang berhasil sampai sejauh ini, aku akan menganugerahkan kekuatan untuk memurnikan Raja Iblis.』


Dengan gerakan seolah berenang di udara, Mea mendekati Calum, lalu perlahan mengulurkan kedua tangannya. 


Sikapnya memancarkan aura ritual, pengabdian yang penuh kasih, sekaligus kewibawaan yang suci.


"Raja Iblis...aku yang...?"


Tapi Calum hanya menatap tangan itu dan bergumam dengan linglung.


Bukan berarti dia tidak memahami maksud Mea. 


Kalo Raja Iblis yang dari 1000 tahun lalu telah bangkit kembali di zaman sekarang, dan kalo dia memiliki kekuatan untuk memurnikannya. 


Dan entah bagaimana, Calum yang tersesat kedalam dungeon ini memiliki hak untuk menerima kekuatan tersebut.


(Tapi...)


Tanggung jawab sebesar itu bukanlah sesuatu yang pantas dipikul oleh seorang 'pemecah teka-teki' yang dicap 'tidak berguna'.


Sama halnya dengan menaklukkan dungeon. Bagi Calum yang bahkan tidak mampu menghadapi seekor monster pun, membayangkan dirinya melawan Raja Iblis terasa lebih mustahil daripada membayangkan dewi atau malaikat. 


Lebih jauh lagi, masalah mendasarnya adalah, Calum tidak memiliki alasan ataupun tujuan untuk mempertaruhkan nyawanya dalam menantang dungeon.


(Lebih tepatnya...itu sudah lama hilang dariku.)


Karena itu─────


"......Maafkan aku, Mea."


Kata yang keluar dari bibir Calum yang menunduk hanyalah permintaan maaf.


Dari gadis di hadapannya, dia tidak merasakan kebencian atau emosi buruk apa pun. 


Yang terpantul di mata biru safir itu hanyalah kepercayaan penuh─────Tapi sayangnya, Calum sendiri tidak memiliki kualitas yang bisa menanggungnya.


"Aku setuju kalo kebangkitan Raja Iblis adalah masalah besar.Memang dia harus segera disingkirkan. Tapi...pahlawan yang melakukannya tidak harus aku. Aku tidak bisa bertarung, dan aku tidak memiliki keinginan untuk bertarung. Masih banyak orang lain yang lebih cocok dariku."


『Tidak, itu tidak benar.』


".....? Apa maksudmu?"


『Tidak ada orang lain yang lebih cocok selain dirimu.』


Dengan suara indah yang tak bisa ditandingi alat musik mana pun, Mea menyatakan dengan tegas.


『Aku─────Meiyur, dulu pernah membuat kontrak dengan sang Pahlawan. Meskipun terdengar seperti memuji diri sendiri, aku adalah keberadaan yang sedikit istimewa. Karena itu, <Perpustakaan Agung Pemurni Iblis> dibuat dengan metode masuk dan syarat penaklukan yang sangat sulit, dungeon ini hanya bisa ditembus oleh seseorang yang memiliki bakat, kemampuan, dan kualitas yang lengkap. Dan kau, berhasil menemukanku.』


"............"


『Yang kutunggu selama 1000 tahun─────pasti adalah dirimu.』


"Ta-tapi...meski begitu..."


『...Apa kau masih belum mau mempercayaiku?』


Alis Mea sedikit berkerut dengan ekspresi sendu. ...Entah karena parasnya yang rupawan atau sifatnya yang murni, hati Calum langsung diliputi rasa bersalah.


"Bukan berarti aku tidak percaya, tapi─────"


Dia sedang berusaha mencari alasan, seolah didesak─────pada saat itu.


"!?"


『────』


Mendadak, pakaian putih Mea membungkus Calum.


Dengan kekuatan aneh, Mea maju ke depan, lalu kedua tangannya yang lembut menyentuh pipi Calum, dan keningnya menempel pada kening Calum. 


Kedekatan itu membuat keduanya seakan menyatu. 


Aroma manis seperti buah dan kelembutan kulit Mea membuat Calum tanpa sadar menahan napas. 


Dan pada detik itu, melalui titik yang bersentuhan, sebuah pemandangan tertentu mengalir masuk ke dalam kepada Calum.


─────Seorang gadis dengan tudung yang ditarik dalam-dalam, menghancurkan dungeon dengan pedang besar yang penuh aura jahat, lalu dengan mudah menghabisi nyawa roh yang rapuh dan bergetar.


Sekilas saja sudah jelas. Dialah Raja Iblis. Simbol bencana yang telah bangkit kembali di zaman ini.


Dari balik tudungnya terlihat senyum kejam dan sorot mata yang penuh pertanda buruk.


Dan di dada mantel hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya, tersemat sebuah sulaman.


Sulaman itu memperlihatkan pena bulu dan pedang yang bersilangan...sebuah lambang pasukan yang sangat familiar bagi Calum.


"Fiille...!?"


Akhirnya dia menyadarinya.


Inilah yang dimaksud Mea dengan kualitas dan 'kelayakan'. Sudah sekitar 7 tahun Calum rutin mengunjungi Perpustakaan Kerajaan Milieu, tapi baru kali ini dia mengalami mimpi itu. 


Karena itulah, dia memenuhi syarat untuk bisa masuk ke yang disebut <Perpustakaan Agung Pemurni Iblis>.


Bagaimanapun juga... Raja Iblis yang hendak menguasai dunia────


Wadah reinkarnasinya, yang dipilih sebagai tubuh barunya─────tidak lain adalah Fiille.


"............"


Calum menggenggam erat tinju kanannya.


Fakta kalo sahabat masa kecilnya dimanfaatkan oleh Raja Iblis jelas merupakan kenyataan yang sulit diterima. 


Kehilangan Fille dan pada saat yang sama Raja Iblis bangkit kembali. 


Sebuah bencana yang menindih bencana lain.


Tapi, meskipun begitu─────


(Ada kabar baik. ...Fille masih hidup.)


Pola pikir Calum tidaklah biasa.


Sahabat masa kecilnya yang dia kira sudah tidak mungkin dia temui lagi──Fille, ternyata masih hidup di suatu tempat di dunia ini. 


Dan ada kemungkinan kekuatan untuk menyelamatkannya──ada tepat di hadapannya.


".......Mea, aku ingin menanyakan satu hal padamu."


Dia menelan ludah.


"Roh Agung Pemurni Iblis, Meiyur...atributmu pasti berarti memurnikan iblis. Bukan sekadar membunuh Raja Iblis, tapi apakah mungkin menghancurkan hanya jiwanya saja?"


『Itu mungkin. Kalo tidak, aku tidak akan bisa memilih dirimu.』


"....Begitu, ya."


Pertanyaan terakhir telah terjawab. ...Lebih tepatnya, dia hanya butuh waktu untuk meneguhkan tekadnya. 


Begitu dia mengetahui kondisi Fille, jawabannya sudah jelas sejak awal.


Karena itu──────


Menatap lurus ke dalam mata biru safir Mea, Calum menyatakan dengan jelas atas kehendaknya sendiri.


"Kalo begitu...maukah kau meminjamkan kekuatanmu padaku, Mea."


『Ya, tentu saja. Karena─────aku telah menantikanmu datang ke sini selama 1000 tahun.』


Senyum yang murni tanpa cela. 


Yang terasa hanyalah kepercayaan dan tekad yang penuh harapan. 


Sebuah niat yang nyata untuk melangkah maju bersama Calum. 


Kilau itu──────membuat kaki seorang pemuda yang sebelumnya terikat di perpustakaan karena kehilangan sahabatnya, kini kembali bergerak.


"『.........』"


Tanpa disadari, keduanya saling meraih tangan.


Dalam dongeng yang pernah Calum baca, tak pernah ada catatan tentang kontrak dengan roh. 


Tapi dia tidak perlu diberi tahu apa yang harus dilakukan dengan gadis cantik yang menggenggam tangannya itu.


Gadis yang mempercayainya menutup mata.


Calum mendekat, roh itu sedikit berjinjit─────dan mereka saling bertukar ciuman singkat.


『Nn...』


(...Manis.)


Dengan kepala yang terasa melayang, Calum mengulang kembali sensasi itu dalam benaknya.


──Hal ini, Calum saat ini sama sekali belum mengetahuinya.


Menaklukkan dungeon sejatinya berarti menembus seluruh mekanisme tersembunyi yang dimiliki dungeon itu dan mendapatkan kekuatan roh. 


Membaca hati roh yang menjaga dungeon, menaklukkannya, lalu membuat kontrak. 


Itulah makna sejati keberadaan dungeon.


Dengan kata lain──dengan menaklukkan mekanisme, dengan memecahkan teka-teki, seseorang akan menjadi kuat.


Calum Revere─────dia hanyalah seorang 'pemecah teka-teki' yang tidak dikenal.


Sebuah peran yang dianggap 'tidak berguna' di permukaan dungeon, tapi menunjukkan bakat tertinggi dalam penaklukan tersembunyi. 


Satu-satunya peran yang tiada duanya.


◆ <Perpustakaan Agung Pemurni Iblis・Sisi Tersembunyi>──Lantai Pertama・Berhasil Ditaklukkan ◆



──《POV:RAJA IBLIS》──


"Ma-ma-ma-ma-ma-ma-Maou-sama!!"


─────Tengah malam, di suatu tempat di benua.


Seorang pria berwujud kerangka yang mengenakan setelan jas mewah, berlari panik menembus masuk ke ruang kediaman tuannya.


"Maaf mengganggu tidur nyenyak Anda! Tapi, ada laporan darurat…!!"


".......Sampaikan."


"Lapisan pertama dari Dungeon Tingkat Spesial〈Perpustakaan Besar Pengusir Iblis〉telah berhasil ditaklukkan oleh manusia!!"


Klak! Seluruh tulang berderak bersamaan.


"Tak bisa dipercaya...mustahil! Penaklukan Dungeon Tingkat Spesial adalah peristiwa pertama dalam 1000 tahun! Bahkan aku, yang hanya terdiri dari tulang belulang, sampai merinding karenanya!"


"............"


"Meilleur, roh terkutuk yang 1000 tahun lalu membinasakan Yang Mulia Maou-sama...tidak kusangka dia kembali menjalin kontrak dengan manusia! Perutku rasanya terbakar! Itu bisa saja menghalangi jalan kebesaran Maou-sama!"


Sang pria menghentakkan tongkat sihirnya dengan keras ke lantai.


"Jangan gelisah, Jilwett."


Kepada pria itu──bawahan yang pernah menyandang gelar salah satu dari 4 Raja Langit pasukan Raja Iblis, Raja Mayat Hidup, gadis itu...tidak, sang Raja Iblis sendiri, yang duduk bangkit dari atas ranjang, menegur singkat.


"Ritual reinkarnasi yang kau terapkan padaku mengandung sihir rekursi untuk memulihkan kembali kekuatan yang hilang dari masa lalu. Memang butuh waktu lama karena sudah 1000 tahun berlalu...tapi untungnya, di mana-mana masih berserakan 'persembahan'."


──Roh penjaga dungeon.


Sang Raja Iblis sudah tahu. Sang pahlawan dahulu menyiapkan dungeon demi menyimpan kekuatan roh untuk menghadapi kebangkitannya kembali. 


Hidung tajam serta tindakan cepatnya patut dipuji, tapi dengan menyerap kekuatan roh, kebangkitan penuh Raja Iblis sendiri juga akan semakin dekat. 


Memang dibutuhkan sedikit waktu istirahat untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan asing itu, tapi dibanding harus memindahkan kekuatan dari 1000 tahun lalu setahap demi setahap, ini jauh lebih cepat.


Di antara semuanya, yang terpenting adalah 7 Dungeon Tingkat Spesial, termasuk〈Perpustakaan Besar Pengusir Iblis〉.


Di sanalah disegel roh-roh kontrak milik kelompok pahlawan yang dahulu membuat pasukan Raja Iblis menderita. 


1000 tahun lalu, kekuatan mereka dan pasukan Raja Iblis nyaris seimbang.


...Kalo begitu.


Bagaimana kalo Raja Iblis sendiri berhasil merebut bahkan satu saja roh yang bersemayam dalam Dungeon Tingkat Spesial itu?


Sejak perang besar 1000 tahun lalu, tidak ada roh baru yang lahir. 


Kalo roh-roh itu memang kekuatan terbesar pihak manusia, maka mustahil lagi bagi mereka untuk menghancurkan Raja Iblis.


Dengan kata lain.


"Mulai dari sini, ini akan menjadi perebutan. ...Istirahatlah, Jilwett. Sebentar lagi kau akan sibuk."


"Baik! Kebaikan hati Maou-sama meresap hingga ke 5 jeroan tubuhku...!"


Sang pria bertulang itu pergi meninggalkan ruangan sambil tersedu haru.


".........."


Setelah mengantarnya pergi, sang Raja Iblis kembali memejamkan mata untuk membiasakan diri dengan kekuatan roh yang baru diserapnya. ...Ritual reinkarnasi yang dilakukan sekitar 7 tahun lalu kini sudah sepenuhnya menetap. 


Suara dari 'wadah tubuh'-nya yang dulu terdengar begitu bising, kini hampir tidak terdengar lagi.


...Justru karena itulah.


(Kuharap kau cepat datang, Calum──untuk membunuh Raja Iblis.)


Doa pilu gadis itu...tak pernah sampai kepada siapa pun.




Sebelumnya    Daftar isi