Kamu saat ini sedang membaca Hatsukoidatta Dōkyūsei Ga Kazoku Ni Natte Kara, Osananajimi Ga Yakeni Amaete Kuru volume 1 chapter 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
DEWI BUNGA MATAHARI\ HIDUP BERDUA\ SUDAH LAMA AKU MENYUKAIMU
Hanya ada satu hari dalam seminggu yang diisi dengan kegiatan OSIS.
Saat aku tiba di ruang OSIS, aku memiliki kebiasaan mencari sosok seorang gadis tertentu.
Apa Hinata sudah datang?
Begitulah pikiranku saat memandang sekeliling ruang OSIS.
"Selamat datang. Terima kasih sudah datang ke OSIS lagi hari ini."
Dari belakangku, terdengar suara lembut dan jernih.
Karena terkejut, aku segera berbalik, dan di sana berdiri seorang siswi.
Rambutnya yang lembut berwarna cokelat kemerahan seperti karamel tergerai hingga hampir mencapai pinggang. Matanya yang besar memancarkan keceriaan polos khas seorang gadis muda, dan senyum manis yang ia tunjukkan hampir membuatku merasa nyaman seketika.
Dia adalah Asahina Hinata-san, ketua OSIS sekolah ini.
"Ah, iya. Yah, karena aku sudah menjadi sekretaris, aku harus sebisa mungkin hadir di kegiatan OSIS."
"Bagus, bagus. Kalo begitu, ayo kita lakukan yang terbaik untuk OSIS, ya?"
Saat Hinata memasuki ruang OSIS, seorang siswi langsung berseru, "Ah, Ketua OSIS!" dengan wajah yang tiba-tiba berseri-seri.
Seolah-olah menjadi isyarat, satu per satu anggota lain mulai bergabung.
Sambil memandang pemandangan yang biasa di ruang OSIS, begitu aku duduk di kursi sekretaris, seorang Kouhai perempuan yang duduk di sampingku menyapaku.
"Nene, Yuuto-paisen, dengarkan, ada berita besar, loh!"
Siswi yang penampilannya modis dengan seragam yang agak longgar—Yarihara—terlihat sangat ingin membagikan sesuatu.
"Apa itu, sampai kau nyengir gitu? Apa ceritanya sangat menarik?"
"Menarik sih, lebih tepatnya mengejutkan. Begini, ada siswa tahun ke-3 bernama Sagawa-senpai. Dia kapten klub basket, dan dia juga tampan, pokoknya seorang yang menarik."
"Oh, gadis-gadis di kelasku sering membicarakannya. Lalu, kenapa?"
"Ternyata, Sagawa-senpai katanya mengungkapkan perasaannya pada Ketua Hinata kita!"
Bum!
"Ada apa, paisen? Kenapa kau tiba-tiba kepalamu memukul meja begitu?"
"...Ah, tidak ada, tidak apa-apa. Aku cuma kaget, karena itu berkaitan dengan Hinata."
Apa? Jangan-jangan ini bohong. Hinata di tembak oleh Sagawa-senpai!?
"Begitu, ya? Lalu, bagaimana jawab Hinata?"
"Sebenarnya, aku juga tidak tahu. Aku hanya mendengar rumornya saja, katanya ketua OSIS kita Hinata menerima pengakuan dari Sagawa-senpai."
"Ha? Jangan-jangan itu hanya rumor belaka! Kenapa kau membicarakan topik seperti itu, tapi tidak tahu?"
"Ya, kalo kau penasaran, tanya saja langsung pada orangnya. Kan dia ada di sini."
"Ah..."
Itu tidak mungkin terjadi.
Karena kalo itu benar, seolah-olah Hinata dan Sagawa-senpai sedang berpacaran, dan aku terlihat seperti orang yang sangat peduli dengan hal itu.
"Hei, hei, kenapa begitu? Bukankah seharusnya kau bertanya dengan percaya diri, seperti seorang kakak yang lebih tua?"
"Diam saja, aku tidak peduli dengan siapa Hinata berpacaran."
"Ah, lagi-lagi berpura-pura tidak peduli. Paisen memang imut."
Seperti biasa Kouhai ini selalu tidak sopan... Yah, aku sudah terbiasa sih.
"Yah, aku mengerti kenapa Sagawa-senpai tertarik. Hinata memang menjadi idola bagi semua siswa. Dia seimut artis idol, dan selain itu, dia pandai dalam belajar dan olahraga, dia selalu menduduki peringkat atas, ditambah lagi tubuhnya yang sempurna, terutama bagian payudaranya. Pasti ukuran E, deh."
"Jangan...! Hei, berhenti bicara begitu! Jangan sembarangan mengatakan hal seperti itu."
Aku buru-buru melihat Hinata. Syukurlah, sepertinya dia tidak mendengar percakapan kami.
"Yang lebih penting lagi, meskipun Hinata-senpai memiliki semua kualitas tersebut, dia tetap tidak terkesan sombong. Dia sangat baik hati."
Itulah alasan kenapa Hinata begitu dicintai.
Karena dia lebih baik hati daripada orang lain, Hinata memperlakukan semua orang dengan senyuman, tidak peduli apakah dia populer di kelas atau seseorang yang tidak memiliki banyak teman. Aku telah melihat pemandangan seperti itu berkali-kali.
"Yah, karena itulah kebanyakan pria berpikir, 'Ah, mungkin aku juga punya peluang,' lalu mereka salah paham. Kemudian, mereka menyadari kalo sebenarnya Hinata bukanlah seseorang yang bisa mereka jangkau, dan akhirnya mereka merasa kecewa. Ketua OSIS yang sangat 'berbahaya', ya?"
Gak!
Seolah-olah aku pingsan, kepalaku terbentur lagi, dan Yarihara menyeringai padaku.
"Eh? Ada apa, Paisen? Kok sepertinya kau hampir pingsan?"
"Hei, Yarihara. Kau sedang mengolok-olokku, kan...!"
Dengan tawa kecil, Yarihara menurunkan suaranya, hanya cukup keras untuk aku dengar.
"Semua orang di OSIS tahu kalo paisen tertarik pada Hinata-senpai. Aku pribadi mendukung Paisen, jauh lebih dari Sagawa-senpai, lho."
"...Terima kasih atas dukungan hangat mu Kouhai, meskipun itu sama sekali tidak terasa menyenangkan."
"Serius, lho! Kalo aku jujur, aku rasa ada kemungkinan. Kalau dilihat-lihat, Hinata-senpai sepertinya tertarik pada Paisen."
Itu tidak benar, Hinata hanya sangat baik hati sehingga membuat orang merasa begitu.
Aku terus meyakinkan diriku sendiri seperti itu, ketika Yarihara berkata,
"Tapi, seperti bunga liar yang indah, ternyata dia adalah bunga yang sulit dijangkau, ya. Sesuai dengan julukan 'Dewi Bunga Matahari'."
"Dewi Bunga Matahari, ya. Sepertinya, Hinata memang mulai dipanggil seperti itu."
Panggilan itu mungkin mengacu pada senyum cerahnya yang seperti bunga matahari, dan sikapnya yang selalu baik kepada siapa saja.
Itu pasti terkait dengan nama Hinata dan bunga matahari, dan sepertinya julukan itu cukup kreatif.
"Benar, rasanya seperti berada di surga dengan adanya dewi dan malaikat di OSIS ini."
"...Malaikat?"
"Eh, paisen kau tidak tahu? Baru-baru ini ada seorang gadis cantik di OSIS yang dipanggil 'Malaikat Bulan'. Sebenarnya, dia..."
Saat Yarihara baru hendak melanjutkan, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Pada saat itu, semua orang mengalihkan perhatian mereka ke siswi yang membuka pintu.
Rambutnya yang cantik tampak seperti transparan, hampir mencapai bahu. Mata berkilau seperti permata, memancarkan cahaya misterius, dan ekspresinya yang datar membuat sulit untuk menebak perasaannya.
Seorang gadis yang terlihat seperti boneka Barat yang detail— Tsukino Saya.
".........."
Tsukino, dengan ekspresi datar, memberi salam dengan membungkukkan kepala kepada semua anggota OSIS.
Meskipun dia terlihat tidak ramah, tidak ada yang mempermasalahkannya. Mereka semua memahami kalo minimnya ekspresi emosional adalah hal biasa bagi Tsukino.
"Eh, painsen. Kalo kita berbicara tentang rumor, begini kan? Malaikat Bulan akhirnya muncul."
"Eh, jadi malaikat bulan itu adalah Tsukino?"
"Benar, kan, Tsukino-senpai itu punya aura yang begitu transparan dan misterius. Seperti bulan, sangat fantastis dan imut seperti malaikat."
...Hmm, apa begitu? Aku tidak keberatan soal dia yang di sebut imut, tapi aku tidak begitu merasakan kesan 'fantastis'. Tsukino justru lebih terasa seperti gadis yang bisa didekati.
Mungkin aku berpikir begitu karena kami sudah kenal lama.
Karena, Tsukino adalah teman masa kecilku.
Saat kami pernapasan, aku menyapanya dengan ringan.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Tsukino. Aku juga berharap dapat bekerja sama denganmu hari ini."
"...Ya, kerja bagus Yuto juga. Dan Yarihara-san juga. Ayo lakukan yang terbaik bersama-sama?"
Dengan ekspresi datar, Tsukino duduk di kursinya. Seorang siswi Kouhai di sebelahnya terlihat malu-malu sambil sesekali mencuri pandang ke arah Tsukino.
"lihat deh, gadis itu mungkin penggemar Tsukino-senpai, ya? Tsukino-senpai itu terkenal bukan hanya di kalangan anak laki-laki, tapi juga di kalangan anak perempuan. Seperti boneka, atau bisa dibilang punya kecantikan yang membuat orang ingin terus melihatnya."
Memang, sejak SMP, aku sering mendengar teman-temanki berkata, "Aku iri dengan orang yang jadi teman masa kecil Tsukino." Sepertinya, bagi anak laki-laki, gadis seusia mereka terlihat masih kekanak-kanakan, dan mereka sepertinya lebih menyukai gadis pendiam dan anggun seperti Tsukino.
"Tsukino-senpai itu sangat populer, loh. Aku pernah bertanya ke teman-teman laki-laki yang ku kenal, siapa saja di anggota OSIS yang mereka ingin pacari, dia urutan ke-2 setelah Ketua OSIS Hinata, lho."
"Benarkah itu? Kau sampai melakukan hal seperti itu...? Dan, survei itu juga bermasalah. Katanya teman laki-laki yang kau kenal, tapi aku tidak ingat pernah ditanya soal itu oleh Yarihara."
"...? Kau tdak perlu ditanya, kan? Pasti paisen akan memilih Hinata-senpai sebagai yang pertama..."
"....Ah iya, hari ini kan ada diskon di supermarket? Jangan sampai lupa beli telur!"
Aku benar-benar tidak suka dengan sikap Kouhai ku ini, dia terus mengolok-olok ketulusan hatiku.
"Baiklah, waktunya sudah tiba, ayo kita mulai rapat OSIS. Semua, harap duduk di tempat masing-masing."
Dengan seruan dari Hinata, semua anggota OSIS mulai duduk di tempat mereka.
Semua orang memandang ke arah Hinata yang duduk di kursi ketua, dan Tsukino yang duduk di kursi wakil ketua.
"Baiklah, rapat OSIS tanggal 10 Oktober dimulai. Tsukino-san, silakan."
"Ya. Pada waktu seperti ini, virus flu dan penyakit menular lainnya mulai menyebar, jadi setiap tahun OSIS membuat poster untuk mempromosikan pencegahan. Oleh karena itu, aku akan membuat poster berdasarkan format dari tahun lalu..."
Penjelasan Tsukino yang terperinci, serta pengarahan yang lancar dari Hinata, membuat rapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Meskipun begitu, karena acara besar masih cukup jauh, rapat OSIS pun selesai dengan cepat.
"Baiklah, kita akan mulai memasang poster yang telah dibuat minggu depan. Terima kasih semuanya hari ini."
Setelah sapaan terakhir Hinata, ruang OSIS menjadi berisik.
Saat itu, aku berpikir untuk bertanya pada orang lain tentang kejadian dengan Sagawa-senpai.
"Hey, Yuuto-kun. Bisa bicara sebentar?"
Sebentar, jantungku terasa berdegup kencang.
Tenang, tetap tenang. Seperti biasa.
"Ah, ada apa?"
"Untuk poster promosi pencegahan penyakit, aku pikir aku akan sedikit mengubah isinya dibandingkan dengan tahun lalu. Karena kau adalah sekretaris, apa kau bisa memberikan saran?"
"Eh, aku? Baiklah, aku akan membantu. Permintaan langsung dari ketua OSIS, kan."
"Benarkah? Terima kasih, aku merasa beruntung punya sekretaris yang hebat seperti kamu."
Hinata tersenyum dan mulai menyalakan laptop yang terpasang di ruang OSIS.
Saat aku terpaku memperhatikan pemandangan itu, Yarihara diam-diam menyenggol sisi tubuhku dan berbicara dengan suara pelan.
"Hei, Paisen sepertinya kau ada kesempatan, kan?”?"
"...Aku hanya dipanggil karena aku sekretaris, tidak ada makna khusus."
"Kau terlalu pesimis. Ya sudah, semoga beruntung."
Ketika Yarihara pergi setelah mengucapkan selamat tinggal, hanya aku dan Hinata yang tersisa di ruang OSIS. Sepertinya semua orang sudah pulang.
Aku melihat laptopnsambil berpura-pura tenang. Melihat layout poster yang tertera di layar, aku tak sengaja membelalakkan mataku.
"Tentang prosedur subsidi vaksinasi flu...?? Rasanya ini tidak ada di poster tahun lalu. Apa ini yang dimaksud Hinata?"
"Ya, itu perubahan. Kalo mendaftar, vaksin bisa lebih murah, jadi aku berharap jumlah orang yang lupa vaksin bisa berkurang. Terutama, bagi para Senpai yang sedang mempersiapkan ujian, kalo mereka sakit di waktu yang penting, itu akan sangat sulit."
Apa dia sampai mencari informasi untuk itu? Padahal tidak ada yang meminta.
"....Entahlah, Hinata memang masih saja terlalu peduli dengan segala hal."
"Mmm, rasanya aku agak merasa dilecehkan sedikit."
"Aku hanya terkesan dengan usahamu. Meskipun formatnya sama seperti tahun lalu, tidak ada yang mengeluh, tapi kau tetap berusaha untuk memperbaikinya."
"Haha... Mungkin karena aku adalah ketua OSIS, ya. Aku merasa harus berusaha lebih."
Karena sifat Hinata seperti itulah, dia bisa menjadi ketua OSIS.
Gadis yang cerah seperti bunga matahari, seperti yang sering dikatakan orang. Hinata sangat baik kepada siapa saja, itulah sebabnya banyak orang di sekitarnya, dan semua orang mempercayainya.
Itulah sebabnya—aku juga jatuh cinta pada Hinata.
Tapi, aku bukan satu-satunya yang tertarik padanya. Baru-baru ini, ternyata Hinata di tembak oleh Sagawa-senpai.
............
"Ngomong-ngomong, aku dengar kabar kalo Hinata ternyata ditembak oleh Sagawa-senpai."
"Eh—benarkah!? Y-Yuuto, kau tahu tentang itu...?"
"Ya, ada Kouhai yang suka menyebarkan rumor. Jadi, aku penasaran apa jawaban Hinata?"
"....Apa kau benar-benar penasaran apa aku dan Sagawa-senpai sedang berpacaran?"
Suasana tiba-tiba menjadi sangat kaku, seperti sebuah patung batu.
Tapu, itu hanya berlangsung sesaat. Sambil berpura-pura sibuk dengan pekerjaan di komputer, aku mencoba membuat percakapan biasa,
"Tidak juga, sih. Hanya saja, Yarihara sangat ingin tahu, jadi mungkin aku akan memberitahunya nanti. Kalo kau tidak ingin mengatakannya, aku tidak akan memaksamu."
"O-oh, begitu. Ehm..."
Mendengarkan suara Hinata yang sedikit malu, aku terus mengetik di keyboard.
Ketika aku mendengar suara ketukan itu, tiba-tiba Hinata melanjutkan,
"Aku menolak dan meminta maaf. Jadi, tidak ada apa-apa antara aku dan Sagawa-senpai."
"Ah, begitu ya."
Kalo aku sedikit saja lengah, aku pasti akan langsung melakukan gerakan kemenangan.
Aku merasa sangat lega. Syukurlah, Hinata menolak pengakuan dari Sagawa-senpai.
"Apa kau kira aku akan berpacaran dengan Sagawa-senpai?"
"...Sebenarnya sedikit. Karena Sagawa-senpai itu populer, dan aku pikir kalian ber-2 mungkin cocok. Lagipula, kalo Hinata punya pacar, itu tidak terlalu mengejutkan."
"...Ti-tidak, tidak mungkin aku semudah itu untuk berpacaran."
Hinata mengalihkan pandangannya, mencoba menyembunyikan rasa malunya, dan perlahan-lahan dia berkata.
"Aku tidak bisa berpacaran dengan seseorang yang tidak aku sukai. Kalo aku pacaran untuk pertama kalinya, aku ingin dengan seseorang yang aku cinta i, aku merasa aku tidak bisa tidak mencintai."
"...Oh, begitu ya."
Ah, dia benar-benar imut sekali...
"Eh, itu hanya bercanda! Topik ini sudah selesai! Ayo lanjutkan pekerjaan kita, ya?"
"Seharusnya kau tidak mengatakannya, daripada mempermalukan dirimu sendiri..."
"Ma-Maksudku, Yuuto-kun mengatakan itu, kan? Tidak aneh kalau aku setidaknya punya pacar. Itu sebabnya kupikir aku harus menjelaskannya dengan benar..."
Itukah sebabnya kau berbicara kepadaku dengan wajahmu yang merah padam? Sejujurnya, Ketua OSIS kami ini terlalu serius.
"Selain itu, aku hanya berbicara karena kau, lho. Aku sangat mempercayaimu lebih dari siapa pun."
"Itu terlalu berlebihan. Aku ini tidak sehebat itu."
"Itu tidak benar. Aku sudah bersama mu sejak kita masih kelas satu. Sekarang, sebagai sekretaris, aku sangat mengandalkanmu. Kau adalah orang yang sangat penting bagiku."
"...A-aku mengerti. Yah, aku akan senang kalo Hinata berkata begitu.."
Ini tidak bagus, aku tidak bisa menatap Hinata dengan baik. Jantungku berdebar kencang.
"Kalo begitu, aku harus berusaha keras untuk bisa mendukung Hinata. Meskipun aku hanya teman sekelas yang tidak berbuat banyak, tapi tolong jaga aku."
"...Iya, benar."
Dengan begitu, semuanya selesai. Kegaduhan kecil tentang Hinata yang dikatakan telah mengungkapkan perasaannya kini telah berakhir, dan kehidupan kami akan kembali seperti biasa.
Tapi, meskipun begitu, saat aku mengatakan, "Meskipun aku teman sekelas yang tidak berguna, tapi tolong jaga aku", aku tidak bisa melupakan ekspresi Hinata yang tiba-tiba menunduk dengan wajah murung.
Telur yang aku beli dalam promo satu paket seharga 99 yen akhirnya akan aku masak menjadi omelet.
Sebagai seseorang yang tinggal sendiri di apartemen, memasak adalah salah satu pekerjaan rumah yang tidak bisa dihindari.
Tapi, berkat tetangga ku, aku tidak merasa hidup sendirian.
"Baiklah, kali ini aku berhasil memasaknya dengan baik."
Ternyata, trik untuk membuat telur yang lembut adalah dengan menambahkan susu.
Aku rasa aku melakukannya cukup baik kali ini. Tinggal tambahkan saus demi-glace dan hidangannya pun selesai.
Setelah omelet selesai dan salad kentang yang ku beli di supermarket dipindahkan ke piring, aku keluar.
Saat aku berdiri di depan pintu apartemen tetangga dan seperti biasa, aku memanggilnya dari balik pintu.
"Hei, aku bawa makan malam!"
Pintu terbuka dengan suara berderit, dan muncul seorang gadis mengenakan sweater kebesaran.
Dia adalah tetanggaku dan juga teman masa kecilku, Tsukino.
"Terima kasih. Menu hari ini apa?"
"Omelet dan salad kentang. Saladnya ku beli di supermarket sih."
"Oh..."
Begitu menerima piring omelet, Tsukino langsung berseri-seri seperti anak kecil.
"Telurnya lembut dan kenyal. Meskipun aku belum memakannya, aku sudah tahu ini pasti enak."
"Aku sudah tahu kalo kau akan bilang begitu. Memang kau suka dengan cara pemanggangan seperti ini, ya, seperti biasanya."
Karena kami tetangga, hubungan kami sudah sangat dekat sejak kecil. Keluarga kami saling mengenal sejak kami di TK.
Aku yang tinggal bersama ayahku, sudah banyak dibantu oleh keluarga Tsukino sejak kecil.
Taou, itu adalah cerita yang terjadi hingga setengah tahun yang lalu.
Tsukino tinggal bersama orang tua dan kakaknya yang telah lulus dari kuliah dan sekarang tinggal di luar kota untuk bekerja.
Orang tuanya kini kembali ke kampung halaman untuk merawat anggota keluarga yang sakit. Oleh karena itu, Tsukino sekarang tinggal sendirian, sama seperti ku.
Taoi, ada sebuah masalah besar yang harus kami hadapi.
Tidak ada yang tahu di sekolah, tapi kenyataannya Tsukino tidak memiliki kemampuan hidup yang baik.
Kalo urusannya hanya membersihkan rumah atau mencuci pakaian, itu masih bisa dipelajari dengan mudah, dan meskipun kadang lupa, kehidupan tetap bisa berjalan.
Masalahnya adalah soal makanan. Tsukino belum pernah memasak makanan yang layak, dan sangat mustahil baginya untuk memasak setiap hari.
Jadi, kalo dia harus tinggal sendiri, siapa yang akan memasakkan makanan untuk Tsukino?
Itulah sebabnya aku yang dipilih untuk membantu.
"Beruntung sekali punya tetangga seperti mu, Yuuto. Kalo kau tidak ada, mungkin aku hanya akan hidup dengan roti panggang 3 kali sehari."
"Ya ampun, itu seperti pola makan burung merpati... Seharusnya kau belajar memasak sebelum itu terjadi."
"Kalo hanya menambahkan air panas ke dalam sup instan, sih, aku bisa melakukannya."
"Aku malah terkejut dengan keberanian Tsukino yang menganggap itu sebagai masakan."
Karena begitulah, aku bisa memahami kenapa ibu Tsukino datang kepadaku dan berkata, "Hanya kau, Yuuto, yang bisa membantu", untuk meminta bantuanku.
Aku juga tidak ingin Tsukino makan dengan pola makan yang tidak sehat, jadi sekarang hampir setiap hari aku memasakkan makan malam untuk Tsukino.
Meskipun awalnya aku menolak, tapi aku menerima uang sebesar 30 ribu yen setiap bulan dari orang tua Tsukino untuk biaya bahan makanan dan memasak, jadi aku rasa aku sudah memberikan makanan yang layak untuknya.
Begitulah, aku akhirnya ditunjuk sebagai pengurus "Malaikat Bulan."
Setelah Tsukino pergi ke kamar belakang, dia kembali dengan piring makan malam yang aku berikan kemarin.
Kami memiliki aturan untuk mencuci dan mengembalikan piring yang sudah digunakan keesokan harinya.
"Terima kasih untuk hamburger kemarin. Dan, untuk omelet hari ini, aku akan makan, ya."
"Sama-sama. Kalo kau ingin makan sesuatu, jangan ragu untuk bilang padaku ya."
"Apapun juga tidak masalah. Semua masakan Yuuto selalu enak."
"Kalimat seperti itu sih yang paling membuatku bingung, tapi tetap saja, itu yang paling membuatku senang."
Nah, sekarang, sepertinya aku harus kembali ke kamarku.
Saat aku hendak mengucapkan selamat tinggal pada Tsukino, mulut Tsukino bergerak lebih dulu, "Hei, Yuuto."
"Apa kau baik-baik saja dengan Hinata-san? Aku dengar dia di tembak, kan?"
"Tsukino juga tahu soal rumor itu? Lagipula, 'baik-baik saja' itu maksudnya apa?"
Tsukino menampilkan ekspresi wajah yang hampir tidak menunjukkan emosi, seperti kaca bening.
"Karena, Yuuto kan menyukai Hinata-san."
"...Aku tidak begitu, kok. Jangan mulai menggoda ku juga, Tsukino."
"Aku benar-benar khawatir, lho. Setelah rapat OSIS selesai, Hinata-san memanggilmu, kan? Saat itu, aku melihat sedikit ekspresi sedih di wajahmu."
Inilah yang menyulitkan, menjadi teman masa kecil.
Tsukino bisa dengan mudah menangkap perubahan sekecil apa pun yang bahkan orang lain tidak menyadari.
"Entahlah. Itu urusan imajinasimu saja. Tapi, satu hal yang pasti, sepertinya Hinata tidak pacaran dengan Sagawa-senpai. Katanya, dia menolak pengakuan cintanya."
"Begitu, ya?"
"Kau tidak terlalu terkejut, ya?"
"Sepertinya memang begitu. Hinata-san itu orang yang serius."
Ya, aku sangat setuju dengan itu.
"Tapi, setidaknya masih baik kalo Hinata-san belum punya pacar, kan?"
"Makanya, itu tidak seperti yang kau pikir... Tapi ya, aku memang sempat cemas juga soal Hinata yang di tembak Sagawa-senpai. Terima kasih sudah berusaha menghiburku."
"...? Kenapa kau berterima kasih padaku?"
Di wajah Tsukino muncul senyum lembut yang begitu manis, hampir seperti malaikat.
"Karena aku kan teman masa kecil Yuuto. Kalo kau sedang sedih, sudah pasti aku akan menghiburmu, kan?"
"...Iya, mungkin begitu."
Kata teman sekelas laki-lakiku dan Yarihara. Tsukino luar biasa dan misterius - itu mungkin benar, tapi menurut itu hanya karena orang-orang belum mengenalnya.
Tsukino mampu tersenyum dengan begitu lembut untuk orang lain, itu lah Tsukino.
Setelah kembali ke kamar, aku makan malam. Setelah itu, waktu bebas, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan.
Tapi, ada sesuatu yang harus aku lakukan.
Aku duduk di depan meja belajar di kamarku, membuka buku referensi matematika tingkat 3. Pada ujian akhir semester lalu, nilaiku sangat buruk, jadi kalo ada ruang untuk berkembang, itu pasti di sini.
Hinata menduduki peringkat ke-6 di kelas, jadi tujuanku adalah untuk masuk dalam peringkat 5 besar.
Aku ingin menjadi seseorang yang bisa menarik perhatian Hinata.
"Baiklah, aku akan mulai."
Mungkin, aku sedang jatuh cinta dengan cara yang tidak sesuai dengan kemampuanku.
Sagawa-senpai, yang tampan, pandai berolahraga, dan disukai banyak orang saja ditolak. Mungkin, pria biasa sepertiku bahkan tidak seharusnya berharap untuk bisa membuat seseorang seperti Hinata jatuh cinta.
Tapi, ini adalah cinta pertamaku.
Meskipun rasionalitasku berusaha untuk menyerah, hatiku tidak bisa memahami itu sama sekali.
Meskipun bagi Hinata, aku mungkin hanya teman sekelas yang dekat denganyya atau seorang sekretaris yang mudah diajak bekerja sama, saat ini aku hanya ingin melangkah maju untuk mewujudkan impian tersebut.
...Huff, setidaknya ada kemajuan sedikit.
Aku melihat jam, ternyata sudah satu setengah jam aku belajar matematika.
Aku lalu memutuskan untuk berhenti belajar untuk sementara dan mengambil Hp-ku untuk istirahat sejenak.
Aku begitu fokus pada belajarku sehingga aku tidak menyadari kalo aku menerima panggilan telepon meskipun saat itu tengah malam.
Pihak lain adalah...
"Dari Ayah?"
Ayah ku saat ini tinggal di Antartika untuk bekerja. Rasanya tidak mungkin dia menelponku hanya untuk berbicara biasa, jadi apa urusannya ya?
Ketika aku meneleponnya kembali, ayah ku langsung menjawab.
『Sudah lama tidak bertemu, Yuuto.』
“Jarang sekali kau menelponku begini. Apa terjadi sesuatu?"
『Ya, ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu.』
Dia berbicara dengan nada yang biasa, seolah-olah dia sedang membicarakan cuaca besok.
『Aku diam saja sampai sekarang, tapi kau punya seorang kakak perempuan beda ibu.』
"Oh, begitu. Seorang kakak perempuan, ya."
...........
Apa?
『Dan saudara perempuanmu itu, dia ingin tinggal bersama mu. Jadi, aku berniat untuk mempertemukan kalian.』
"Ya, aku sudah menunggu. Sangat menunggu. Kenapa semuanya dibicarakan begitu saja? Aku bahkan belum bisa menerima kenyataan kalo aku punya kakak perempuan. Lagipula, kenapa dia ingin tinggal denganku?"
Oh tidak, fakta yang mengejutkan ini hampir membuat kepalaku meledak.
Maksudnya, aku punya kakak perempuan? Jangan-jangan Ayah sedang bercanda?
『Ya, aku tahu Yuuto pasti akan terkejut. Apa kau ingat, waktu kau masih kecil, aku pernah bilang kalo aku punya tunangan sebelum kau lahir?』
Aku mendengar tentang ini dari ayah ku ketika aku masih kecil. Saat itu dia sudah bertunagana dengan seseorang, tapi dia kawin lari dengan ibu ku, jadi itu cukup berantakan.
『Aku menyembunyikannya ini dari Yuuto, tapi, aku punya anak dari perpisahan itu. Itu adalah kakak perempuanmu—orang yang akan menjadi saudara tiri Yuuto.』
"...Jadi begitu, ya. Tapi kenapa baru sekarang Ayah memberitahuku?"
『Karena anak itu ingin bertemu denganmu. Dia bilang kalo dia ingin tinggal bersamamu sebagai keluarga. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti menyembunyikan ini darimu.』
Tinggal bersama orang yang bahkan belum aku kenal sebagai keluarga di bawah atap yang sama.
Ini rasanya seperti adegan dalam film atau drama. Sungguh ini sulit untuk dipercaya.
『Aku rasa ini bukan hal yang buruk. Sejak dulu, kau memang selalu peduli pada orang lain, tapi kau seringkali ceroboh terhadap dirimu sendiri. Ini kesempatan baik, biarkan dia yang merawatmu.』
"Itu urusanmu, bukan urusanku. Lagipula, aku masih siswa SMA, jadi tidak mungkin kami langsung tinggal bersama..."
『Begitulah, jadi sabtu depan, pukul 13.00, kosongkan jadwalmu. Anak itu akan datang ke rumah. Sampai jumpa.』
"Eh, tunggu──"
Telepon terputus... Banyak hal yang ingin aku tanyakan.
Lagipula, bertemu langsung pada sabtu depan? Tunggu dulu, sabtu depan?
"Itu besok, kan!?"
Bagaimana ini, aku belum mempersiapkan apa-apa. Ayah memang selalu mendadak!
...Ngomong-ngomong, setelah itu, pikiranku penuh dengan kakakku, jadi aku sama sekali tidak bisa fokus belajar.
Hari yang dijanjikan pun tiba begitu cepat.
Oh iya, aku sama sekali tidak tahu tentang wanita yang katanya kakakku itu. Setidaknya aku ingin tahu namanya atau usianya, tapi ayahku cuma bilang, 『Kau akan tahu itu saat kau bertemu dengannya.』 Wah, ayah benar-benar tidak peduli!
Setelah menyiapkan camilan untuk tamu, tiba-tiba terdengar suara bel di pintu.
"Y-ya, iya! Aku datang!"
Aku berdiri di depan pintu, dengan hati-hati mendekati lubang pintu──"Eh?" sebuah suara terlepas dari mulutku.
Di depan pintu, ada seorang gadis yang seusiaku yang mengenakan gaun sederhana dan tampak gelisah.
Itu adalah Hinata.
Kenapa Hinata ada di sini...?
Dengan panik, aku segera membuka pintu, dan Hinata terlihat sangat tegang,
"Ah, Yuuto-kun. Eh, halo. Sudah lama ya, kita bertemu di luar sekolah?"
"Ah, iya... Benar juga. Tapi, kenapa Hinata ada di rumahku? Apa ada urusan mendesak dari OSIS?"
Seingatku, sudah lama sekali aku tidak melihat Hinata mengenakan pakaian kasual seperti ini. Aku merasa sedikit canggung dengan penampilannya yang tidak biasa.
"Ah, maaf sudah membuatmu berbicara di luar. Kalo ada urusan, kita bisa masuk ke dalam... oh, tapi aku ingat, ada tamu yang akan datang segera. Maaf ya, aku tidak bisa mengundangmu masuk."
"...Tidak, tidak masalah kok. Ini tidak ada kaitanya dengan urusan OSIS. Sebenarnya, aku datang ke sini karena ingin berbicara dengan Yuuto-kun."
"Berbicara denganku?"
"Kan, kamu sudah diberitahu oleh Tetsuya-san, kan? Kalo kau memiliki seorang kakak perempuan?"
"──Eh?"
Tunggu dulu. Kenapa Hinata bisa tahu nama ayahku? Dan yang lebih aneh lagi, bagaimana dia tahu kalo aku punya kakak perempuan?
Sebenarnya, hanya aku dan ayahku yang tahu rahasia ini──mungkin hanya kakakku yang tahu juga.
...Jangan-jangan.
"Hinata, apa... Mungkin──"
"......Ternyata, kau tidak menyadarinya ya?"
Hinata tersenyum kecil, dan senyumnya itu menampilkan ekspresi yang begitu memikat, seakan mampu mencuri hati semua orang.
"Aku teman sekelas Yuuto-kun, ketua OSIS, dan juga Onee-chan mu, Asahina Hinata. Mulai sekarang, senang bertemu denganmu"
Aku rasa aku sedang bermimpi buruk. Tidak mungkin kakak perempuan ku yang darahnya mengalir sama denganku──aku pernah jatuh cinta pada 'Dewi Matahari' yang selama ini kukagumi.
"......? ??"
"Eh, sebenarnya aku dan Yuuto-kun itu berbeda ibu, tapi ayah kita sama, jadi kita adalah saudara tiri. Oke?"
Tentu saja itu tidak oke. Sama sekali tidak oke.
Sejak tadi aku tidak bisa berpikir jernih. Hinata cinta pertamaku──dan kini, dia adalah keluarga yang memiliki hubungan setengah darah.
"Ha──haha, begitu ya. Ini kebetulan sekali, aku tidak menyangka teman sekelaski bisa jadi kakakku yang ada hubungan darah. Sementara itu, apa kau mau masuk ke rumah? Ada banyak hal yang harus kutanyakan."
"......Yu-Yuuto-kun? Apa kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat..."
"U, uhm, aku baik-baik saja. Jangan khawatir?"
Tentu saja, aku merasa sedikit pusing hingga dunia terasa berputar, tapi aku mencoba untuk tetap tenang.
"Ah, benar. Apa kau ingin minum kopi? Sebaiknya kita sedikit menenangkan diri dulu."
"Terima kasih. Aku merasa sedikit malu diperlakukan dengan baik oleh Yuuto-kun."
Aku berdiri dengan goyah di dapur dan mulai menyiapkan kopi instan.
Apa ini semacam lelucon? Mungkin Hinata sedang menyembunyikan kamera, dan anggota OSIS yang lain sedang memonitor reaksiku saat aku panik. Lalu, ketika aku berbalik, Hinata dan semua anggota OSIS akan mengangkat papan bertuliskan "Prank Sukses!"──.
"Yu-Yuuto-kun!? Kopi ini... ada yang salah, kan...!?"
"Eh... wah!"
Saat aku menyerahkan kopi kepada Hinata, aku baru menyadari kesalahanku. Ternyata aku telah memasukkan terlalu banyak bubuk kopi, sehingga kopi yang terbuat sangat hitam dan pasti sangat pahit.
Apa ini, minuman yang bisa membuat mata terjaga hanya dengan satu tegukan...!?
"Ma... maaf! Aku teralihkan, jadi aku sedikit melamun. Aku akan segera membuatnya lagi."
"...U... tidak apa-apa! Aku tidak masalah sama sekali, kok? Aku akan meminumnya."
"Eh──tidak, tidak! Ini jelas tidak bisa! Kalo tidak hati-hati, kau bisa sakit karena terlalu banyak kafein!"
"Tapi, Yuuto-kun yang membuatkan ini untukku, kan! Apapun yang diberikan, aku harus menghargainya dan meminumnya, itu aturan, kan?"
"Mulia sekali sampai aku merasa bersalah!"
"Dan... aku lebih suka yang agak pahit, jadi ini tidak masalah."
"Itu bukan lagi soal pahit, mungkin itu sudah melewati batas! Bahkan, aku mulai meragukan apakah ini masih bisa disebut kopi! Hei, kenapa kau mau memegang cangkir itu...!?"
Aku dengan sekuat tenaga mencoba menghentikan Hinata yang hendak membawa cangkir itu ke bibirnya.
Bahaya, tatapan Hinata sangat serius. Kalau dibiarkan, dia pasti akan meminumnya.
"Maaf, Hinata. Aku sangat senang dengan perhatianmu, tapi tolong berhenti. Aku yang salah karena melamun dan membuat kesalahan."
"............Iya."
Akhirnya, Hinata meletakkan cangkir di meja.
"Maaf,. Aku tahu, Yuuto-kun pasti juga terkejut mengetahui kalo teman sekelasmu adalah kakak perempuanmu. Tidak perlu khawatir tentang aku, sebaiknya kau sedikit waktu untuk diri sendiri."
"Tapi aku berencana untuk berbicara sambil makan di suatu tempat setelah ini..."
"Yuuto-kun, Yuto-kun, kau tidak mampu untuk keluar sekarang kan? Aku akan menyiapkan makanan untukmu, jadi tidak perlu khawatir."
".........Maaf, aku akan menerima tawaran itu. Terima kasih atas bantuannya."
"Tidak perlu merasa khawatir. Mungkin kau akan tenang setelah perutmu kenyang."
Aku bertanya-tanya apa dia akan membelikanku makanan di suatu tempat... Aku merasa sudah merepotkannya terlalu banyak.
Begitu keluar ke balkon untuk mengambil udara segar, seluruh tubuhku terasa lemas.
"............Hinata adalah kakakku..."
Meskipun aku mengucapkannya, rasanya sama sekali tidak nyata.
Tidak, pikiranku sepertinya menolak kenyataan ini. Ketika fakta kalo Hinata adalah kakakku dipaksakan untuk diterima, perasaan pertama yang aku rasakan bukanlah keheranan atau kebingungannya.
Melainkan, keputusasaan.
Itu adalah kegagalan pertama dan terburuk dalam hidupku, sebuah cinta pertama yang pasti tidak akan pernah terwujud.
"Uh, apa ini mungkin...?"
Aku merasa seperti ingin menangis.
Seandainya saja aku mengungkapkan perasaanku kepada Hinata dan ditolak secara jelas, mungkin itu masih terasa lebih baik.
Tentu saja, itu pasti menyakitkan, tapi setidaknya aku bisa menerima kenyataan.
Tapi, kalo Hinata adalah saudara tiriku, maka aku bahkan tidak diperbolehkan untuk mengungkapkan perasaanku padanya.
Meskipun sebelumnya kami adalah teman sekelas yang dekat.
"Yuuto, ada apa?"
Tiba-tiba, suara Tsukino terdengar.
Saat aku melihat, aku melihat Tsukino membungkuk dari balkon di sebelahku dan menatapku.
Kamar Tsukino dan kamarku berdampingan, jadi balkon kami hanya dipisahkan oleh sebuah papan pembatas. Sejak dulu, kami sering berbicara seperti ini.
"Ah... Tsukino, tidak ada apa-apa kok."
"Kau bohong. Soalnya Yuuto tadi mengeluarkan suara seperti 'aah', 'uuh'. Suara seperti zombie yang baru bangkit dari kubur!"
Aku mengeluarkan suara seperti itu... Biasanya aku bisa mengatakannya, tapi sekarang rasanya mustahil. Aku hanya bisa menjawab dengan suara lemah,
"Ya..."
"Hei, Yuuto. Ini benar-benar aneh, kan? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"...Iya, sedikit. Tapi, tidak apa-apa kok. Tsukino, jangan khawatir."
"Tunggu sebentar. Aku akan ke sana. Ceritakan semuanya dengan perlahan."
"Ya, aku menunggu mu—tunggu. Apa tadi kau bilang kalo kau akan datang ke kamarku?"
"Iya, karena di sana aku bisa melihat wajah Yuuto dengan jelas."
"...Aku menghargai perasaanmu, tapi sekarang agak sulit. Ada tamu yang sedang datang."
Saat ini, Hinata ada di kamarku. Ini tidak boleh diketahui oleh Tsukino.
"Apa, alasan Yuuto merasa tertekan itu karena tamu yang datang?"
"...Ya, mungkin. Bukan orangnya yang salah, tapi banyak hal yang sangat menyedihkan yang terjadi sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Begitu ya... Banyak hal menyedihkan yang terjadi... Hey, Yuuto. Ayo ke sini?"
"...? Oke, tapi apa seperti ini?"
Aku dan Tsukino hanya dipisahkan oleh sebuah papan pembatas, jaraknya sangat dekat.
Tsukino kemudian berjinjit dan dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menggenggam pagar balkon, sambil gemetar perlahan dia lalu mengulurkan tangannya ke arahku.
"Ng~..."
"...Aku tahu kau sedang berusaha keras, tapi sebenarnya kau sedang melakukan apa?"
"Aku ingin mengelus kepala Yuuto... Karena Yuuto kelihatannya sedang sedih, tapi aku tidak boleh masuk ke kamarmu..."
Saat itu, akhirnya aku mengerti.
Ah, begitu. Tsukino berusaha menghiburku. Dia tidak tahu apa pun tentang situasi ini, tapi hanya karena aku terlihat sedih, itu sudah cukup alasan baginya.
Tapi, Tsukino, dengan tinggi badanmu, rasanya sepertinya sulit untuk mencapaiku, kan?
Aku menahan kata-kata itu, lalu sedikit tersenyum dan mencondongkan tubuhku dari balkon.
Dengan lembut, ujung jarinya menyentuh bagian atas kepalaku.
"Yosh yosh...! Anak yang baik, anak yang baik..."
Itu lebih terasa seperti jari-jarinya menekan kepalaku dengan kuat, bukan benar-benar mengelusnya.
Sejujurnya, rasanya tidak senyaman dibelai.
Tapi, meskipun begitu, aku sangat tersentuh oleh perhatian Tsukino yang berusaha menghiburku.
"Terima kasih. Aku merasa sedikit lebih baik."
"Benarkah? ...Aku senang mendengarnya. Sudah lama aku tidak melihat Yuuto sesedih itu."
"Begitu ya? Aku juga kadang merasa terpuruk."
"Tapi, Yuuto, kau merasa harus bersikap tegar saat berada di depan orang lain, kan? Kalo Yuuto seperti biasanya, aku yakin pasti setidaknya ada senyuman di wajahmu begitu kau sadar aku ada di sini."
"...Oh, mungkin memang begitu."
Memang, seperti yang Tsukino katakan. Kalo aku sedikit lebih tenang, mungkin aku akan mencoba tersenyum palsu agar Tsukino tidak khawatir.
"Kalo begitu, aku pergi dulu. Ada orang yang sedang menunggu di kamarku."
"Ya, aku mengerti. Kalo kau merasa kesepian, panggil saja aku kapan saja. Aku akan mengelus kepalamu lagi."
"Aku menghargai penghiburanmu, tapi bisakah kita coba cara lain? Kita kan bukan anak SD lagi."
"Muu... Kalo begitu, aku akan pikirkan cara lain."
Aku menjauh dari balkon dan dengan keras menepuk pipiku sendiri.
Konsentrasilah. Meratapi patah hati bisa dilakukan nanti.
Saat aku kembali ke ruang tamu, hal pertama yang terlintas di hidungku adalah bau harum.
Saat aku melihat, aku melihat Hinata berdiri di dapur sambil mengocok penggorengan.
"Hinata... apa kau sedang memasak?"
"Ini masakan sederhana. Apa kau tidak suka kalo orang lain memasak di dapur?"
"Tidak, bukan itu. Hanya saja aku terkejut."
Aku kira dia akan membeli makanan dari restoran dan membawanya pulang, tapi ternyata dia memasaknya sendiri.
Beberapa menit kemudian, dia menyajikan sebuah piring pasta carbonara di depanku.
Setelah mengucap 'Bismillah', aku mencapit pasta dengan garpu dan memakannya.
"──────Enak."
Rasa lembut susu dan keju serta pedasnya lada hitam berpadu sempurna. Sampai sekarang, aku sudah puas dengan saus yang dibeli di toko, tapi aku tidak percaya saus buatan sendiri bisa begitu lezat.
"Benarkah? Syukurlah, ini pertama kalinya Yuuto-kun mencoba masakanku, jadi aku sedikit gugup apa kau akan bilang enak atau tidak. Ah, maaf, aku menggunakan bahan-bahan tanpa izin, apa tidak masalah? Kalo seharusnya bahan itu untuk makan malammu, aku minta maaf."
"Tidak masalah sama sekali. Aku bahkan tidak bisa membuat masakan seenak ini. Justru aku sangat berterima kasih. Ternyata kau pandai memasak, Hinata."
"Karena ibu sering pulang larut karena pekerjaannya, jadi sejak SMP aku sudah mulai memasak sendiri. ...Oh, dan kebetulan, ini juga untuk memberi tahu mu, kalo kita tinggal bersama, kau tidak akan kesulitan soal masakan, lho? Menurutku, tinggal bersamaku itu sangat menguntungkan."
Tanpa sadar, tanganku berhenti mengangkat garpu.
"...Itu memang keuntungan yang sangat menarik."
"Betul kan? Sekarang, aku juga akan memberikan beras dan deterjen."
"Seperti iklan berlangganan koran."
Tanpa sadar, aku tersenyum.
Memang, Hinata sangat pandai memperhatikan orang lain. Dia bahkan mengucapkan lelucon seperti ini untuk menghiburku.
"Hinata benar-benar saudara kandungku ian?"
Hinata mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah lembaran kertas dari tasnya—salinan akta kelahiran milik Hinata sendiri.
Memang di kolom yang mencantum nama orang tuanya tertulis "Ayah: Minato Tetsuya".
"Jadi ini memang benar... Aku memang adik tiri, ya... Hinata, sejak kapan kau menyadari hal ini?"
"Sebenarnya, sejak pertama kali kita bertemu di OSIS. Waktu aku masih SMP, ibuku menikah lagi, dan saat itu dia bercerita tentang Tetsuya-san dan anaknya. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di SMA."
Jadi, hanya aku yang tidak tahu... Memang sulit untuk mengungkapkan kalo kami adalah saudara tiri, dan pastinya Hinata juga pasti merasa bingung dan ragu.
"Berarti, ayahku punya anak dengan wanita lain, ya... Hmm, rasanya agak rumit. Aku menyukai ayah, jadi aku tidak ingin terlalu menyalahkannya."
"Ngomong-ngomong, Tetsuya-san sekarang bekerja di luar negeri, kan? Jadi, berarti kau tinggal sendiri, Ya?"
"Ya, memang begitu... Hmm? Tunggu dulu. Memang benar aku tidak tinggal dengan ibuku, tapi bagaimana kau tahu tentang ibuku? Hanya Tsukino yang tahu soal ibuku."
"──Ah!"
Hinata terlihat panik, lalu berkata,
"Eh, maksudku... Itu, Tetsuya-san yang memberitahuku! Dia bilang kalo aku akan tinggal bersama mu, dia ingin aku tahu."
"Jadi, kau tahu kalo ibuku meninggal karena sakit, ya?"
"....Ya."
Pernah suatu kali, ayah menceritakannya padaku.
Saat ayah dan ibu saling mencintai, ibu sudah terkena penyakit yang sulit disembuhkan.
Itulah sebabnya, ayah memutuskan untuk menikah dan tetap di sisi ibu sampai akhir, dan aku lahir.
Ibu ku meninggal saat aku masih berusia 5 tahun. Ibu berjuang sekuat tenaga untuk tetap hidup agar bisa tinggal bersamaku pebih lama, dan aku ingat dia selalu berada di sisiku.
Meskipun aku tahu umur ibuku tidak panjang, aku yang masih anak-anak tidak bisa merasakannya.
Tapi, ibuku tidak pernah merasa putus asa dengan keadaannya.
Ibuku selalu bersyukur pada ayahku, dan dia selalu berusaha menjadi ibu yang baik untukku.
Meski itu pasti sangat sulit dan menakutkan baginya, ibuku selalu lembut, dan hingga saat-saat terakhirnya, dia tetap tersenyum padaku.
Karena itu, dalam ingatanku, ibu selalu tersenyum.
Aku ingin menjadi seperti ibuku.
Hingga sekarang, ibuku adalah tujuan hidupku dan juga orang yang sangat aku kagumi.
[TL\n: gua nangis cok, gak nyadar air mata gua ngalir kelaur.]
"Tapi itu semua sudah lama, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan. Oh iya, ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Apa kau masih marah pada ayah karena perselingkuhannya?"
"Hmmm... Secara jujur, aku rasa aku tidak bisa menganggapnya sebagai ayah. Kami jarang berbicara, dan aku lebih banyak mengingatnya sebagai pria baik hati. Tapi dia terus memberikan nafkah sampai aku dewasa, jadi aku tidak merasa terlalu buruk tentangnya."
Kata-kata itu seolah-olah memberi aku sedikit ketenangan. Ayah adalah orang yang merawat ibuku, yang tidak punya banyak waktu lagi untuk hidup, dan dia membesarkan ku sendirian hingga sejauh ini, dia adalah orang yang sangat berharga bagiku.
Meski dunia mengkritik ayah, aku tidak bisa menyalahkannya sedikit pun.
"Tapi, meskipun aku tidak percaya, ternyata kau benar-benar saudara perempuanku. Tapi ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan—kenapa sekarang kau ingin tinggal dengan ku?"
"......Mungkin karena aku ingin memiliki hubungan yang lebih spesial dengan Yuuto-kun."
Suara itu sangat pelan, seolah akan hilang diterpa angin.
"Kalo aku terus menyembunyikan statusku sebagai kakak dan hidup sebagai teman sekelasmu, suatu saat kita pasti akan terpisah. Jadi, aku ingin tetap terhubung denganmu."
"Eh──jadi, maksudnya kau ingin tetap bersamaku sebagai keluarga?"
"......I-ya."
Hinata sedikit menunduk, berusaha menahan rasa malunya.
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Hinata ingin tetap bersamaku.
"Sejujurnya, aku menghormati mu lebih dari yang kau kira, lho? Aku sudah melihat bagaimana kau berusaha di OSIS sejak tahun pertama. Kau tahu kan Yarihara-san selalu mengatakan kalo kau itu senpai yang sangat peduli, dan kau sangat membantu."
"Dia hanya menganggapku sebagai senpai yang bisa dijaili."
"Itulah salah satu alasan kenapa kau begitu dihormati olehnya."
"Dan sebenarnya, aku agak kesulitan kalo aku tidak bisa tinggal bersama mu. Soalnya, aku tidak punya tempat untuk pulang lagi."
"Tidak punya tempat untuk pulang...?"
"Ketika aku bilang kalo aku ingin tinggal bersama mu, aku malah bertengkar hebat dengan ibuku. Aku lari keluar rumah seperti melarikan diri."
Ah, jadi begitu. Memang wajar kalo ibu Hinata membenci ayahku yang berubah pikiran. Seorang ibu pasti merasa khawatir kalk anaknya tinggal bersama ayah yang pernah meninggalkan mereka.
Tapu, meski harus bertengkar dengan ibunya, dia tetap ingin tinggal bersamaku.
"Ah, tapi ini tidak akan selamanya kok. Aku tidak enak tinggal terus-menerus, jadi kalk kau mengizinkanku tinggal sampai lulus SMA, aku akan berusaha mandiri setelahnya. Jadi... tolong,"
Hinata menundukkan kepala dengan dalam, hampir terlihat seperti sikap formal.
"Jadi, tolong izinkan aku tinggal di sini. Aku akan memasak untuk mu setiap hari. Pekerjaan rumah seperti membersihkan dan mencuci pun akan aku lakukan. Kalo tidak ada kamar, aku akan tidur di ruang penyimpanan pun tidak masalah──bisakah aku tinggal di rumah ini?"
"......"
Ini adalah pertama kalinya aku melihat Hinata seperti ini.
Melihat begitu serius dan tulusnya permohonan Hinata, aku merasa tersentuh.
"Maaf, itu tidak bisa. Aku tidak bisa tinggal bersama Hinata."
Bahunya sedikit bergetar, tanda kalo dia sangat terkejut dan mungkin juga kecewa.
"Aku tidak ingin tinggal bersama Hinata dengan syarat-syarat seperti itu. Kalo Hinata dan aku adalah keluarga, maka kita seharusnya setara, kan?"
"Eh?"
"Tolong berhenti mengunakan bahasa yang formal, jangan merasa harus melakukan semua pekerjaan rumah, atau merasa kalo dirimu diperlakukan dengan cara yang buruk. Semua itu harus berhenti. Selain itu, aku ingin kau menjelaskan situasinya kepada ibu Hinata dan mendapatkan izin untuk tinggal bersamaku. Aku tidak ingin hubunganmu dengan ibumu memburuk."
Aku tersenyum sekuat tenaga, berusaha meyakinkan Hinata.
"Kalo itu bisa diterima, meskipun ini hanya apartemen kecil 2LDK, aku setuju untuk tinggal bersamamu."
[TL\n: 2LDK singkatan dari
2: jumlah kamar tidur (bisa digunakan sebagai ruang tidur atau ruang lainnya). L: Singkatan dari Living room (ruang keluarga). D: Singkatan dari Dining room (ruang makan). K: Singkatan dari Kitchen (dapur).]
Meski aku masih bingung dengan tawaran tinggal bersama yang tiba-tiba ini.
Tapi, gadis di depanku menundukkan kepalanya dan berkata kalo dia ingin menjadi satu keluarga denganku.
Kalo itu masalahnya, aku kira aku harus menghadapi tekad itu dan mengulurkan tangan aku.
Aku yakin ibu ku, yang aku kagumi, pasti akan melakukan hal yang sama.
Saat itulah, Hinata yang semula terkejut, tiba-tiba memegang tanganku dengan kedua tangan.
"Hi-Hinata...?"
"Itu bagus – itu sangat bagus...!"
Hinata bergumam dengan suara yang bergetar, sepertinya dia sangat emosional hingga hampir menangis.
"Sebenarnya, aku sangat khawatir. Aku takut kalo kau akan mengatakan 'kenapa baru sekarang?' atau semacamnya. Tapi ternyata, kau tetap seperti yang aku kenal, Yuuto-kun. Kau tetap menjadi anak laki-laki yang baik seperti yang aku kenal."
"...Tidak, itu tidak masalah. Tidak perlu terima kasih atau semacamnya."
Hinata mengerutkan kening mendengar jawabanku yang agak canggung. Kemudian, dia menyadari kalo dia telah memegang tanganku, dan dia lalu dengan panik menarik tangannya kembali.
"Ah...! Ma-maaf. Aku terlalu terbawa suasana. Memang, kemarin kita masih teman sekelas, jadi mungkin aku agak terlalu dekat ya."
Hinata tersenyum malu, kemudian berkata,
"Tapi, kita tidak akan kembali seperti teman sekelas biasa, kan? Mulai hari ini kita adalah saudara, jadi aku berharap kita bisa sedikit demi sedikit menjadi seperti keluarga."
"...Keluarga, ya."
Mulai sekarang, Hinata bukan lagi teman sekelas atau ketua OSIS, tetapi saudara yang akan tinggal bersama aku.
Kalo begitu──aku harus berbicara pada Hinata.
Bukan sebagai teman sekelas seperti dulu, tapi sebagai keluarga, untuk berada di samping Hinata.
"Hinata, ada sesuatu yang sudah lama aku sembunyikan darimu."
"....Yuuto-kun?"
Sepertinya ketegangan yang kurasakan ikut terasa pada Hinata, yang menatapku dengan kebingungan.
Ah, ini benar-benar pertama kalinya aku menembak perempuan, dan ternyata aku harus mengatakannya pada seseorang yang takkan bisa aku jalin hubungan dengannya.
Aku menarik napas dalam-dalam sekali.
Selamat tinggal, cinta pertamaku.
"Sebenarnya, aku... suka padamu, Hinata──ini adalah cinta pertamaku."
"────"
Seakan-akan dunia berhenti sejenak.
Hinata menatapku seperti terhipnotis, menahan napas, dan kemudian wajahnya berubah memerah.
"Eh──Eh!? Y-Yuuto-kun!? Aku... aku disukai...!? "
"Sudah lama sekali aku merasa seperti ini. Aku sudah sangat mencintaimu hingga aku tidak bisa memikirkan yang lain. Kalo bisa, aku ingin berpacaran denganmu sekarang, dengan sungguh-sungguh."
"F-feh!? K-kau ingin berpacaran...!? "
Hinata terlihat seolah tidak bisa menahan rasa malu dan langsung mengalihkan pandangannya.
Ternyata, aku memang tidak bisa menghindarinya. Aku merasa Hinata itu sangat menggemaskan.
"Maafkan aku. Meskipun sekarang aku mengatakannya, mungkin takkan ada artinya. Tapi, aku merasa kalo aku terus menyembunyikan perasaanku padamu, aku tidak bisa melanjutkan hidup ini seperti dulu, sebagai teman sekelas. Aku yakin, aku akan selalu melihatmu sebagai seorang wanita."
"....U-um."
"Jadi, untuk bisa menjadi satu keluarga dengan Hinata, kupikir aku harus melepaskan cintaku yang tak berbalas. Sampai saat itu tiba, aku ingin kau menunggu lebih lama lagi."
Bagiku, gadis bernama Hinata itu adalah teman sekelasku sampai kemarin, dan mulai hari ini dia sudah menjadi keluargaku.
Tapi, di manakah garis pemisah itu? Teman sekelas, ketua OSIS, saudara perempuan—semuanya hanya sebutan belaka. Esensi dari Hinata tidak akan berubah.
Dia seorang yang pekerja keras, dengan senyum yang manis, pandai bergaul dengan orang lain, mahir dalam pekerjaan rumah, dengan payudara besar, keras kepala, serius, sangat jujur, dan yang paling penting, sangat baik hati.
Gadis seperti itu lah yang aku sukai.
Tidak masalah kalo dia hanya setengah saudara kandung. Kalo Hinata tetap menjadi Hinata, aku akan terus menyukai dirinya.
"Oleh karena itu, ini adalah kali terakhir aku mengucapkan 'aku mencintaimu.' Aku akan berusaha untuk menerima perasaanku agar bisa menjadi adikmu. Tapi, mungkin perasaanku padamu tidak akan mudah hilang, jadi aku harap kau bisa memahaminya."
"....Jadi, kau benar-benar mencintai ku begitu banyak, ya?"
"Karena kau adalah cinta pertamaku."
"Fuh, fuh... begitu, ya..."
Hinata terlihat canggung dan gelisah,
"Ya, aku mengerti. Jadi, sampai Yuuto-kun mengakui aku sebagai kakaknya, aku akan terus ada di sampingmu. Ehm, terima kasih ya, adikku."
"Sama-sama, Onee-chan. Kita akan hidup dengan baik sebagai keluarga."
"U-uh, iya... Jadi, Yuuto-kun memang mencintai ku, ya?"
".....Hinata?"
"Ah, jangan terlalu sering menatapku. Mungkin wajahku sudah sangat merah."
"....Oh, begitu."
...Begitulah.
Aku akhirnya tinggal dengan cinta pertamaku yang tak berbalas, dia juga teman sekelasku, dan saudara perempuanku, Hinata.


