> CHAPTER 2

CHAPTER 2

 Kamu saat ini sedang membaca   Hatsukoidatta Dōkyūsei Ga Kazoku Ni Natte Kara, Osananajimi Ga Yakeni Amaete Kuru  volume 1 chapter 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw

ANGEL BULAN / MAUKAH KAMU MEMAKAN INI? / DAN TEMAN MASA KECIL YANG MELAKUKAN ○○



Pagi berikutnya setelah Hinata selesai pindah ke rumahku.


Dengan kepala yang masih setengah mengantuk, aku masuk ke ruang tamu dan mencium aroma lezat dari sup miso.


Padahal aku belum membuat sarapan, kenapa ada aroma harum seperti ini?


"Ah, Yuto-kun kau sudah bangun ya. Sarapannya hampir siap, kok!"


Suara seorang gadis...? Saat itu, aku akhirnya tersadar.


Di dapurku berdiri seorang gadis dengan seragam sekolahnya, mengenakan celemek—Hinata.


"Oh, uh, terima kasih untuk sarapannya. Dan, selamat pagi."


"Iya, selamat pagi... Ehehe."


Hinata tersenyum ceria, mengaduk isi panci dengan sendok besar.


Sesaat, aku terkejut melihat gadis yang kusukai berdiri di dapurku. 


Rasanya seperti mimpi yang akan dilihat oleh seorang siswa SMA yang sedang jatuh cinta sepihak. 


Ya, itu aku.


Saat sarapan siap dan kami duduk di meja, aku tak bisa menahan suara kagum, "Wah..."


Nasi putih yang mengepul hangat, sup miso yang mengeluarkan uap harum, potongan salmon panggang yang matang sempurna, serta salad sayur yang menemani semuanya.


Menu sarapan ala Jepang yang sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya, terasa begitu mewah.


"Bagaimana? Menurutmu, Yuto-kun, kira-kira layak mendapatkan nilai cukup?"


"Bukan cukup, ini nilai sempurna tanpa cela. Sarapan seperti ini, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali menikmatinya. Selain itu, sudah lama aku tidak makan dengan menggunakan peralatan makan yang benar-benar layak."


"...Hah? Maksudmu, peralatan makan yang layak itu apa?"


"Kalo aku makan di rumah, biasanya aku menggunakan piring kertas dari toko serba 100 yen. Setelah makan, aku langsung membuangnya, jadi tidak perlu repot mencucinya."


"Apa──"


Hinata membeku seolah sedang mengalami culture shock.


"...Ngomong-ngomong, Tetsuya-san pernah mengatakan hal ini. Katanya, Yuto-kun memang sangat perhatian terhadap orang lain, tapi terhadap dirimu sendiri, kau cenderung kurang peduli."


"Serius? Ayah bahkan menceritakan hal seperti itu kepadamu..."


"Ya, aku sudah memutuskan. Mulai sekarang, aku yang akan memasak setiap hari. Sarapan, makan siang, hingga makan malam, semuanya. Oh, aku juga sudah menyiapkan bekal, jadi kalau bisa, gunakan itu untuk makan siangmu hari ini."


"Benarkah? Terima kasih... Eh, tapi tunggu. Memasak setiap hari itu terlalu merepotkan untukmu. Bukankah kita baru saja sepakat untuk berbagi tugas rumah?"


"Tidak boleh. Tetsuya-san sudah memintaku untuk menjaga Yuto dengan baik. Selain itu, aku tinggal di rumah ini, jadi urusan rumah tangga biar aku yang mengurus semuanya."


"Tapi, bukankah itu akan merepotkanmu, Hinata?"


"Saat aku tinggal bersama ibuku, hampir semua pekerjaan rumah tangga juga aku yang mengerjakan, jadi tidak terlalu berbeda dengan sekarang. Atau, Yuto-kun punya kepercayaan diri untuk memasak lebih enak dariku? Kalo begitu, aku bisa menyerahkan tugas ini kepadamu."


Jawabannya langsung jelas—tidak mungkin. 


Dari segi rasa, efisiensi memasak, hingga variasi resep, Hinata jauh lebih unggul dariku.


"Jadi, jangan khawatir, ya? Aku justru senang kalo Yuto-kun mau memakan masakanku dengan senang hati."


"...Baiklah. Tapi, kalo suatu saat kau merasa tidak ingin memasak, tolong beri tahu aku, ya. Aku memang bukan ahli, tapi aku tidak sepenuhnya tidak bisa memasak."


Aku mengatupkan kedua tangan sambil mengucapkan itadakimasu, lalu mencicipi sup miso itu. 


Seperti yang kuduga, rasanya luar biasa, hingga terasa menyentuh seluruh tubuhku.


Aku biasanya menghindari memasak yang memerlukan banyak usaha, seperti membuat kaldu, tapi rasa sup miso ini begitu mendalam. 


Rasanya sangat khas masakan rumahan—sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.


"Ini sungguh enak. Sejujurnya, bisa makan sesuatu yang selezat ini di pagi hari membuatku terharu."


"Be-Benarkah? ...Syukurlah kalo masakanku sesuai seleramu. Karena mulai sekarang, kau akan memakannya setiap hari."


"Aku harus berterima kasih kepada Hinata. Sejak mulai tinggal sendiri, ini pertama kalinya aku sarapan dengan sesuatu selain roti panggang. Makan malam memang berbeda, tapi untuk sarapan, aku biasanya hanya memasak untuk seseorang, jadi seringkali aku tidak terlalu serius."


"....? Yuto-kun, kau memasak untuk seseorang?"


"Ah, itu—ah!"


Saat melihat Hinata mengenakan celemek, aku sempat terkejut hingga melupakan rutinitas pentingku.


Tapi, masih ada cukup waktu, dan terlebih lagi, rasanya tidak sopan kalo meninggalkan masakan Hinata yang sudah dibuat dengan susah payah. 


Aku memutuskan untuk melakukannya setelah selesai menikmati sarapan.


10 menit kemudian, seperti biasa, aku mengatupkan tanganku di depan foto ibuku yang ada dalam bingkai sebelum meninggalkan rumah untuk menjalankan rutinitasku. 


Saat itu, Hinata bertanya dengan bingung,


"Yuto-kun, kau mau pergi ke mana?"


"Hanya sebentar. Jangan khawatir, aku akan segera kembali."


Aku keluar ke lorong apartemen, lalu mengambil sebuah kunci dari dompetku. 


Itu adalah kunci cadangan rumah Tsukino.


Setelah menekan bel, aku membuka pintu rumah Tsukino dengan kunci tersebut. 


Suasana di dalam sangat sunyi, seolah tidak ada seorang pun. 


Mungkin dia masih tidur, seperti biasanya. 


Ya, ini adalah pagi yang biasa bagiku.


Membangunkan Tsukino setiap pagi—itulah rutinitas harianku di hari kerja.


Mungkin ada yang menganggap aneh kenapa aku sampai harus masuk ke rumah orang lain, tapi Tsukino benar-benar tidak memiliki kemampuan mengurus dirinya sendiri. 


Kalo aku tidak melakukannya, dia pasti akan terlambat ke sekolah. 


Ini adalah salah satu tugas penting sebagai 'penjaga'nya.


Aku berdiri di depan pintu kamar Tsukino dan memanggilnya dari luar.


"Apa kau sudah bangun? Ayo bersiap-siap, nanti kau terlambat."


"...Nngh..."


Terdengar suara pelan, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan keluar dari kamar.


"Hey, bangunlah. Kalo kau terlambat, ibumu akan marah, dan kakakmu juga tidak akan tinggal diam. Aku akan menunggumu untuk pergi ke sekolah bersama."


"......."


"Oh ya, ada kucing liar sedang berjemur di balkon. Imut sekali."


Graaak!


Beberapa detik kemudian, Tsukino muncul dengan wajah mengantuk, dia masih mengenakan piyama.


Dia langsung melihat ke arah balkon, tapi tentu saja, tidak ada kucing di sana. 


Sejak awal, kucing itu memang tidak pernah ada.


"...Kucingnya di mana?"


"Oh, kau sudah bangun. Selamat pagi, pagi yang indah, bukan?"


"Kucingnya di mana?"


"Ini sedikit terlambat, tapi kita masih punya cukup waktu. Ayo semangat untuk hari ini."


"Ya, semangat..."


Baiklah, misi hari ini selesai dengan sukses.


"Bagaimana kalau kau mandi dulu? Mungkin itu bisa membantu menghilangkan kantukmu."


".....( menggerakkan tangan)"


"Kalo kau mau berganti pakaian, lakukan di ruang ganti."


Tsukino menghentikan usahanya untuk berganti pakaian, menguap pelan, lalu berjalan menuju ruang ganti.


Karena pagi hari di hari kerja selalu terburu-buru, kami memutuskan untuk menyiapkan sarapan masing-masing. 


Tsukino hanya makan sedikit di pagi hari, biasanya dia hanya yogurt atau pisang.


Jadi, tugasku hanyalah membuatkan secangkir kopi instan untuk membantunya melawan kantuk. 


Karena Tsukino tidak suka rasa pahit, aku menambahkan gula dan susu dalam jumlah banyak.


"Ngomong-ngomong, bagaimana aku harus menjelaskan tentang Hinata pada Tsukino?"


Aku dan Hinata sudah sepakat untuk tidak menyembunyikan kenyataan kali kami adalah saudara tiri yang memiliki hubungan darah setengah. 


Kami tahu, lebih baik jujur daripada membiarkan gosip yang aneh beredar.


Tapi, kami sepakat untuk merahasiakan fakta kalk kami tinggal bersama. 


Meskipun sekarang Hinata adalah keluargaku, beberapa hari yang lalu dia hanyalah teman sekelas. 


Tinggal bersama hingga lulus sekolah adalah sesuatu yang sebisa mungkin ingin kami sembunyikan.


Lalu, siapa yang sebaiknya pertama kali diberi tahu tentang hubungan saudara tiri ini?


Ketika memikirkannya, wajah Tsukino langsung terlintas di pikiranku.


Tapi, pagi ini terlalu sibuk untuk membahasnya. 


Akan lebih baik kalo aku mengungkapkannya setelah sekolah selesai. "Sebenarnya, Hinata adalah kakakku sekarang"—aku penasaran apakah Tsukino yang selalu berwajah datar akan menunjukkan ekspresi terkejut mendengar hal itu.




Saat istirahat makan siang di hari yang sama.


Seperti biasa, aku masuk ke ruang OSIS sambil membawa bekal yang dibuatkan Hinata. 


Tapu, begitu aku membuka pintu, aku langsung mendengar suara,


"Ah, Yuto-paisen!”


Di antara beberapa anggota OSIS, Yarihara adalah yang pertama kali menyadari kehadiranku dan segera menghampiri.


"Paisen, aku sudah mendengarnya! Katanya Hinata-senpai adalah kakak mu, ya?"


"Apa…!? Yarihara, dari mana kau tahu soal itu!?"


"Rumor ini sedang jadi topik paling hangat, lho! Ketua OSIS yang sempurna ternyata kakak dari siswa laki-laki biasa. Paisen, hati-hati kalo kai berjalan di malam hari tanpa bulan, ya. Fans Hinata-senpai bisa saja menusukmu dari belakang!"


Apa-apaan ini? Aku belum memberitahu siapa pun!


Mungkin Hinata yang secara tidak langsung menceritakannya kepada orang lain. 


Kalo rumor ini sudah menyebar luas, berarti hal itu cukup mengejutkan banyak orang.


"Paisen, sungguh disayangkan, ya... Aki yakin, kau benar-benar serius terhadap Hinata-senpai, bukan?"


"...Ah, jadi maksudmu begitu."


Karena pada dasarnya, selama aku adalah adik dari Hinata, kekecewaan adalah hal yang sudah pasti.


"Terima kasih sudah khawatir, tapi aku baik-baik saja kok. Sebenarnya, aku tidak pernah bilang kalo aku tertarik dengan Hinata, kan? Yarihara, kau terlalu banyak berpikir."


"...Kalo kau mau, bagaimana kalo aku memijat punggungmu? Itu yang bisa aku bantu."


"Aku tidak mau. Lagipula, seorang anggota OSIS seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu."


"Ah, sayang sekali. Aku benar-benar berharap kau bisa jadi pasangan Hinata-senpai. Ya sudah, ayo kita move on saja. Lagipula, bisa dibilang Hinata-senpai itu cukup sulit didekati, kan?"


Yarihara berbicara dengan nada yang begitu ringan, seolah dia berusaha untuk menghiburku.


"Makanya, jangan khawatir. Semua anggota OSIS juga mendukungmu kok."


Saat aku menoleh ke arah mereka, anggota OSIS lainnya terlihat canggung dan serempak menundukkan kepala mereka. 


Mungkin mereka berusaha menghargai situasi, tapi kalo aku terlalu banyak dikasihani seperti itu justru membuatku merasa lebih tertekan.


Tapi, di antara mereka, hanya Tsukino yang terlihat bingung dan sedikit memiringkan kepala, seolah tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Apa mungkin Tsukino belum tahu soal rumor tentangku?


Tapi kalo aku ingin memberitahunya tentang hubungan kami sebagai saudara tiri, sebaiknya aku mencari tempat yang lebih tenang untuk berbicara. 


Mungkin aku bisa membawanya keluar dari ruang OSIS.


Saat aku sedang memikirkan hal itu, mataku tertuju pada Tsukino yang mulai membuka buku dan membaca.


"Yah, mari kita pikirkan dengan positif, Paisen. Hinata-senpai itu kakakmu, kan? Sepertinya dia pandai dalam hal urusan rumah tangga, itu kan keberuntungan. Bahkan sebagai seorang wanita, dia adalah sosok yang ideal untuk dijadikan istri, loh."


Tiba-tiba,


Di sudut pandangku, aku melihat Tsukino berhenti membalik halaman bukunya, seolah dia terhenti seketika.


Ada apa dengannya? Sepertinya ada yang aneh dengan reaksinya.


Saat aku terkejut, Tsukino berjalan perlahan dan duduk di sebelahku, tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.


"Yuto, apa kata-kata Yarihara tadi benar? Maksudnya, Hinata-senpai benar-benar kakakmu?"


Oh, ternyata dia mendengar percakapan ku dengan Yarihara.


Tentu saja dia akan terkejut. 


Ketua OSIS yang hebat ternyata adalah kakak dari teman masa kecilnya.


"Iya, itu benar. Aku baru tahu belakangan ini, tapi sepertinya Hinata dan aku hanya berbagi sebagian darah. Karena beberapa alasan, kami tidak pernah tinggal bersama sebelumnya."


"Hmm, begitu ya. Begitu..."


Eh, reaksinya agak datar, ya?


Tsukino kemudian menutup bukunya dengan cepat, berdiri, dan kembali ke kursinya. 


Dia mengambil sandwich yang dia beli di kantin, yang masih belum disentuh, dan menuju pintu keluar ruang OSIS.


"Jadi kau pergi begitu saja tanpa makan? Padahal aku masih banyak hal yang ingin dibicarakan denganmu."


"Maaf, aku baru ingat ada urusan. Kalo soal Hinata-senpai, aku akan tanya lagi lain kali."


Setelah berkata begitu, Tsukino segera keluar dari ruangan.


Yarihara, yang selama ini diam dan mengamati situasi, kini terkejut dan berkata dengan heran,


"Wow, ternyata Tsukino memang 'angel' ya. Aku saja teriak-teriak kaget pertama kali dengar itu, tapi Tsukino-senpai malah tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun."


... Entah kenapa, aku merasa sedikit kesepian. 


Tsukino dan aku sudah berteman sejak kecil, hampir seperti keluarga. 


Aku pikir dia akan lebih tertarik setelah tahu kalo aku punya kakak, tapi reaksinya yang dingin seperti itu membuatku merasa sedikit kecewa.


Saat aku merasa sedikit murung, seorang Kouhai dari anggota OSIS masuk ke dalam ruangan. 


Dia terlihat terkejut melihat kami, lalu berkata,


"Eh, tadi aku melihat Tsukino-senpai keluar dari ruang OSIS, tapi... Tsukino-senpai terlihat berbeda. Ada apa dengan dia?"


Kami berdua saling berpandangan bingung. 


Kouhai itu melanjutkan dengan nada yang sulit dipercaya,


"Tsukino-senpai sedang tersenyum lebar, loh! Aku benar-benar terkejut! Tsukino-senpai yang semangat dan tersenyum seperti itu, aku belum pernah melihatnya sebelumnya."


"Eh...?"


Tersenyum lebar? Tsukino yang begitu?


Saat itu, seluruh ruangan OSIS mulai gempar. 


Yarihara, yang terkejut, berkata dengan nada tidak percaya,


"Ah, itu pasti tidak mungkin! Bukankah dia itu Tsukino, si 'angel bulan'? Bahkan senyum kecil saja jarang terlihat darinya, apalagi yang seperti itu. Mungkin kau hanya salah lihat. Mungkin dia cuma membuat wajah seperti akan bersin atau semacamnya."


"Ya, aku rasa itu tidak mungkin juga sih! Tapi dia benar-benar tersenyum kok! Seharusnya aku tadi memotretnya dengan Hp-ku."


Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar mempercayai kata-kata Kouhai itu, dan percakapan pun berlanjut begitu saja. 


Bahkan aku, yang sudah lama mengenal Tsukino, tidak bisa memahami alasan kenapa dia tiba-tiba bisa tersenyum ceria seperti itu. 


Kupikir pasti ada kesalahan dalam pengamatannya.


Tapi, saat itu, aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.




Setelah sekolah selesai dan aku pulang ke rumah, sepertinya Hinata belum pulang. Di depan pintu, tidak ada sepatu yang terlihat.


"Apa dia sedang pergi berbelanja untuk makan malam?"  


Ngomong-ngomong, kalo Hinata mulai bertanggung jawab untuk memasak, bagaimana dengan makan malam Tsukino? 


Tentu saja, aku tidak bisa meminta Hinata untuk memasakkan makanan untuk Tsukino juga.


Dengan pikiran itu, aku melemparkan tas dan seragam sekolah ke atas sofa. 


Aku baru saja selesai sekolah, jadi aku ingin sedikit membersihkan badanku. 


Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka pintu kamar mandi dan...


Tiba-tiba, bau harum yang menyenangkan menusuk hidungku.


Hinata baru saja keluar dari kamar mandi, berdiri di sana.


Kami berdua terdiam, bahkan seolah-olah lupa untuk bernapas.


Tidak sempat berpikir kenapa Hinata ada di sana, aku hanya terpesona oleh penampilannya yang tanpa sehelai pakaian pun, gambarannya seolah terbakar dalam pikiranku. 


Rambutnya yang basah, kulit putih yang tampak lembut. 


Tanpa sadar, pandanganku tertuju pada payudara Hinata yang montok, dan pikiranku kembali teringat pada kata-kata Yarihara.


──Ditambah lagi, payudara besar. Ini pasti ukuran E.


Oh, jadi ukuran E itu sebesar ini... Begitu pikiranku melayang, aku dan Hinata akhirnya tersadar hampir bersamaan.


"Fuh...!"


"Wah──tu-tu-gunggu! Maaf!"


Aku segera keluar dari ruang ganti, dan bersandar pada pintu, duduk terjatuh di tempat itu.


Hanya dalam hitungan detik, kejadian itu terjadi, tapi jantungku berdetak dengan sangat kencang seolah-olah ingin berhenti. 


Nafasku terengah-engah, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan mereda.


Hal yang paling aku takuti akhirnya terjadi.


Sebagai saudara kandung, tentu saja akan ada momen-momen di mana kita saling mengganggu waktu pribadi satu sama lain. 


Tapi, meskipun begitu, aku berusaha untuk selalu berhati-hati agar tidak melukai perasaan lawan jenis, bahkan dalam situasi seperti ini.


"Eh, eh... Yuto-kun?"


Pintu di belakangku terbuka, dan aku langsung menundukkan kepala, seolah-olah ingin meminta maaf dengan sangat dalam.


"Aku sangat maaf! Aku benar-benar mengira Hinata belum pulang... Aku tidak tahu harus meminta maaf seperti apa, tapi aku benar-benar minta maaf!"


"Ti-tidak, tidak apa-apa kok? Yuto-kun, kau pasti bingung karena tidak melihat sepatu ku. Maaf ya, aku terbiasa menyimpan sepatuku di tempat tertentu saat tinggal bersama ibuku. Jadi, itu bukan salahmu kok."


Sambil merasa sangat bersalah dan berterima kasih atas pengertian Hinata, aku hendak mengungkapkan rasa terima kasihku. 


Tapi, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.


Entah kenapa, Hinata terlihat tersenyum lebar, dengan wajah yang terlihat ceria.


Sebenarnya, ekspresinya seperti menikmati situasi ini.


Sepertinya, Hinata juga baru sadar kalo dirinya telah memperlihatkan ekspresi yang tidak terjaga.


"Ah─ jadi, begitu! Jadi kau tidak perlu khawatir, Yuto-kun, ya?"


Dengan itu, Hinata langsung menutup pintu dengan keras.


Ah, ini tidak bisa aku biarkan. 


Aku masih saja memandang Hinata sebagai lawan jenis, meskipun dia adalah saudara perempuanku.


Nyatanya, hingga saat ini pun, detak jantungku masih belum reda. 


Mungkin karena yang aku lihat tadi bukanlah 'saudara perempuan', melainkan 'gadis cinta pertama ku.'


Mungkin, aku memang masih belum bisa melihat Hinata hanya sebagai keluarga.


Secara umum, seorang adik laki-laki biasanya tidak melihat kakak perempuannya sebagai lawan jenis karena mereka telah bersama sejak kecil. 


Sebenarnya, ada fenomena psikologis yang membuat seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan yang sama sejak masa kecil akan semakin sulit melihat orang tersebut sebagai lawan jenis. 


Namanya aku lupa, tetapi sepertinya ada penelitian tentang itu.


Intinya, dalam membangun hubungan keluarga, waktu yang telah dilalui bersama sangat penting.


Kalo dipikirkan lagi, aku dan Hinata belum memiliki banyak waktu sebagai keluarga.


(Mungkin itu wajar saja, karena kami baru beberapa hari yang lalu masih sebaya di sekolah...)


Saat aku merasa sedikit tertekan, bel pintu di kamarku berbunyi.


Aku memaksakan diri untuk menenangkan pikiranku, lalu melihat melalui lubang pintu. 


Ternyata yang ada di sana adalah Tsukino.


(...Akhirnya datang juga.)


Aku tidak tahu pasti apa keperluannya, tapi aku sudah khawatir tentang situasi ini sejak awal.


Fakta kalo aku dan Hinata tinggal bersama adalah rahasia yang ingin aku sembunyikan. 


Tapi, yang paling berisiko untuk mengetahui hal itu bukanlah siapa-siapa selain tetangga kami, Tsukino.


Dengan harapan semoga tidak ada yang ketahuan, aku membuka pintu.


"Ada apa? Kalo soal makan malam, sebenarnya aku belum memutuskan menu hari ini." 


"Benarkah? Kalo begitu, kebetulan sekali. Hari ini kau tidak perlu memasakkan makan malam untuk, kok. Aku ingin mencoba memasak sendiri."  


Aku sempat berpikir aku salah dengar.


Membuatkan makan malam untuk Tsukino adalah tanggung jawabku, karena dia memang tidak terlalu mahir dalam memasak. 


Tsukino pernah memiliki pengalaman buruk dengan memasak di masa lalu, dan seingatku dia bahkan belum pernah memegang pisau dapur sebelumnya.


Lalu, kenapa sekarang dia ingin memasak sendiri?


"Apa kau yakin? Kau kan tidak terbiasa memasak, Tsukino. Mau aku temani dan bantu?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Pertama-tama aku ingin mencoba melakukannya sendiri. Tapi, aku lupa membeli beberapa bumbu. Kalo boleh, aku ingin meminjam selai stroberi."


"Oh, itu tidak masalah sama sekali." 


Saat aku hendak menuju ke dapur, Tsukino mulai melepas sepatunya. Aku buru-buru berkata,


"Tunggu dulu. Jangan-jangan, kau ingin masuk ke dalam rumah?"


"...? Apa, tidak boleh?"


"Sepertinya agak sulit. Ruanganku berantakan, dan aku merasa malu kalo kau melihatnya."


"Aku tidak masalah, kok. Ini rumahmu, kan? Tidak ada yang perlu disembunyikan."


Meskipun begitu, ada hal yang harus disembunyikan, terutama tentang kakakku.


"Aku juga seorang pemuda yang sehat, jadi meskipun kita teman dekat, ada hal-hal yang tidak bisa aku tunjukkan. Bisa tunggu di sini saja?"


Aku mengambil selai stroberi dari dapur dan memberikannya pada Tsukino.


"Terima kasih. Sebagai balasannya, suatu saat aku pasti akan membalas budi ini."


"Tidak perlu repot-repot. Kita kan tetangga sejak dulu, kalau ada yang membutuhkan bantuan, itu saling membantu. Kalo kau bilang terima kasih, itu sudah cukup bagiku."


"...Iya. Hei, Yuto. Boleh aku minta satu hal lagi?"


Dengan tatapan memohon dan sedikit menunduk, Tsukino berbicara pelan.


"Kalo malam ini aku memasak, kau mau memakannya, kan?"


"Apa kau yakin? Aku belum pernah makan masakanmu sebelumnya, jadi itu pasti menyenangkan. Tentu saja aku akan memakannya dengan senang hati."


"...Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin."


Saat Tsukino hendak menutup pintu, aku tanpa sengaja bertanya.


"Ngomong-ngomong, karena ini sudah lama, apa yang akan kau masak? Karena kau menggunakan selai, apa itu dessert atau semacamnya?"


"Terong atau daging dan kentang, kok?"


Itu...apa itu ada hubungannya dengan selai stroberi?


Tapi, aku harus menahan pikiran negatif. 


Mungkin ada cara memasak seperti itu yang diperkenalkan di Tv. 


Tapi, bagi pemula untuk mencoba sesuatu yang tidak biasa... itu agak aneh.


Saat aku ragu untuk menghentikannya, Tsukino sudah pergi dengan berkata, "Sampai nanti."


Tapi, aku terkejut mendengar dia ingin memasak. 


Apa yang membuatnya berubah pikiran? 


Saat itulah aku teringat.


"Jangan-jangan dia sudah bosan dengan masakanku dan berniat untuk memasak sendiri?"


Itu benar-benar membuatku merasa kecewa. Sangat kecewa.


Memasak untuk Tsukino sudah menjadi bagian dari rutinitasku. 


Kalo dia tidak menginginkannya, itu cukup menyedihkan bagiku.


Aku yang memasak, dan Tsukino memakannya dengan lahap. Itu sudah cukup bagiku.


"...Semoga aku masih bisa memasak untuk Tsukino ke depannya. Mungkin nanti aku bisa bicara dengan Hinata."


Tapi itu tentu saja, kalo Tsukino belum bosan dengan masakanku.


...Semoga itu bukan masalah, pikirku.




Beberapa jam kemudian, seperti yang dijanjikan, aku akhirnya berada di rumah Tsukino.


Karena ini rumah teman masa kecilku, jadi rasanya sangat nyaman, seperti di rumahku sendiri. 


Barang-barang kecil yang lucu dan tirai yang elegan semuanya masih sama seperti dulu. 


Dulu kami sering mengadakan acara menginap bersama.


Sekarang, mengenai masakan Tsukino.


Sayangnya, seperti yang sudah kuperkirakan, daging kentang Tsukino tidak bisa dibilang enak.


Mungkin Tsukino juga sudah merasakannya. 


Dia terlihat sedikit kecewa, dengan bahunya yang merosot.


"...Apa memang rasanya tidak enak?"


"Tidak, tidak begitu. Jangan terlalu kecewa. Mengingat ini masakan pertamamu, kau sudah berusaha dengan baik, dan sebenarnya, rasanya masih bisa dimakan."


Sejujurnya, sejak pertama kali aku melihat daging kentang yang kuperkirakan kurang matang itu, aku sudah punya firasat buruk. 


Rasa bumbunya terlalu kuat, kentangnya keras, dan rasanya sangat manis.


Tapi walaupun begitu, aku tetap melanjutkan makan daging kentang buatannya.


"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk memakannya, kok. Aku tahu masakannya tidak enak."


"Aku tidak memaksakan diri. Aku memakannya karena aku ingin makan. Ini masakan Tsukino, kan? Sayang sekali kalo itu tidak dimakan."


"...Yuto."


Memang, daging kentang ini mungkin tidak terlalu enak, tapi apa itu masalahnya?


Ini pertama kalinya Tsukino memasak. 


Aku, sebagai teman masa kecilnya, tidak akan membiarkan masakannya terbuang begitu saja.


"Terima kasih untuk makanannya."


Aku berhasil menghabiskan semuanya dan menaruh kedua tanganku bersama. 


Hmm, aku kenyang.


"Kau benar-benar menghabiskan semuanya... Apa...perutmu baik-baik saja?"


"Tidak masalah sama sekali. Sebenarnya, aku sangat menghargai kalo kau membuat daging kentang ini untukku. Tapi, kalo kau merasa tidak yakin, kau seharusnya tidak memberiku makan saja."


"...Karena aku sudah berjanji pada Yuto. Kalo aku memasak lagi, kau akan memakannya, kan?"


Oh, jadi dia sudah sadar kalo masakannya tidak begitu bagus, tapi dia tetap mengizinkanku memakannya.


"Tapi, kau sudah berhasil memasaknya sampai selesai. Terima kasih, lain kali kalo kau memasak lagi, tolong izinkan aku memakannya lagi, ya?"


"...Apa kau mau memakannya lagi? Tapi, bisa jadi masakanku tidak enak juga, lho."


"Kalo begitu, aku harus terus menemanimu sampai kau bisa masak makan yang enak. Biasanya kan aku yang masak makan malam, tapi sesekali aku ingin mencoba makan masakan andalanmu."


"Yuto── iya, terima kasih."


Lalu, Tsukino tersenyum.




Keesokan harinya, setelah makan daging sukiyaki buatan Tsukino, aku berniat pulang setelah sekolah, tapi dipanggil oleh Hinata dan kami berjalan bersama ke supermarket dekat rumah. 


Ternyata, dia ingin membeli bahan untuk makan malam.


"Hei, Yuto-kun, bagaimana kalo malam ini kita makan hamburger?"


"Ah, itu enak! Apa kau bisa masak hamburger?"


"Tidak juga sih, hanya saja daging cincangnya lagi diskon 20%. Jadi, kenapa kita tidak membelinya saja?"


"Berarti kau memilih menu setelah melihat bahan yang di diskon, ya. Hebat juga..."


Hinata tertawa kecil.


"Rasanya aneh juga, bisa belanja makan malam bersama Yuto-kun seperti ini. Padahal, Kita masih sekelas beberapa waktu yang lalu."


Sambil berkata begitu, Hinata mengambil minyak salad dari rak. Di labelnya tertulis, 'Harga super diskon, hanya 1 per orang!'


Untungnya, hanya ada satu botol minyak salad yang tersisa. 


Hinata hendak mengambil botol kedua, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti.


Seorang pelanggan lain hendak mengambil minyak salad dan secara tidak sengaja menyentuh tangan Hinata. 


Gadis pelanggan itu segera menundukkan kepalanya dan berkata,


"Ah... maafkan aku. Silakan."


"Tidak, kau duluan. Kami hanya ingin membeli satu botol lagi── eh, Tsukino-chan?"


Ternyata, orang yang tangannya bersentuhan dengan Hinata adalah Tsukino. 


Mungkin Tsukino tidak mengira akan bertemu kami di sini, sehingga dia terkejut dan matanya terbelalak.


"Yuto. Dan, Hinata-san...?"


"Ini benar-benar kebetulan. Tsukino-chan juga sering belanja di supermarket ini, ya?"


"Iya. Karena ini yang paling dekat dari apartemenku. Tapi, kenapa Yuto dan Hinata-san bisa ada bersama di sini? Ah, benar, kalian kan saudara."


Perbincangan ringan antara Hinata dan Tsukino berlangsung dengan lancar. 


Wajah Tsukino terlihat lebih lembut dari biasanya.


Mungkin karena mereka berdua adalah ketua dan wakil ketua OSIS, tapi sangat jarang Tsukino yang pendiam bisa berbicara dengan begitu terbuka. 


Biasanya, Tsukino lebih pemalu dengan orang yang belum begitu dekat dengan nya.


Hal ini tentunya berkat kepribadian Hinata. 


Bagaimanapun, hanya Hinata yang bisa memanggil Tsukino dengan 'Tsukino-chan' di antara para siswa. 


Kemampuan komunikasi Hinata yang luar biasa mampu mengatasi rasa pemalu Tsukino.


Tapi, melihat Tsukino membeli bahan makanan sendirian, rasanya ini adalah pemandangan yang langka.


"Tsukino, kau lagi mencoba masak lagi?"


"....Iya. Karena Nikujaga yang kemarin gagal. Jadi, aku merasa kalo aku sudah mengecewakan Yuto."


"Ah, jangan bilang begitu. Aku tidak merasa kecewa kok. Malah, aku lebih menantikan masakanmu yang berikutnya."


"....? Ah, jadi Tsukino-chan kemarin mencoba masak Nikujaga?"


Sepertinya Hinata memahami alur percakapan tersebut, lalu dia menepukkan tangannya dengan ringan.


"Tapi, sebenarnya memasak Nikujaga itu cukup sulit, kan?"


"....Benarkah?"


"Iya, bahan-bahannya bisa Rangiri, yang sebenarnya cukup mudah, tapi tanpa menggunakan Otoshibuta, rasa masakan bisa tidak merata. Saat pertama kali aku kencoba membuatnya, aku juga gagal."


"Rangiri? Otoshibuta??... ...Ehm, apa itu semacam nama teknik khusus?"


[TL\n:Rangiri (乱切り) adalah teknik memotong bahan, seperti sayuran, dengan cara menyerong dan memutar bahan tersebut setelah setiap potongan. Otoshibuta (落し蓋) adalah penutup kecil berbentuk bundar, biasanya terbuat dari kayu, logam, atau silikon, yang diletakkan langsung di atas makanan di dalam panci.]


Ah, ekspresi Tsukino menunjukkan kebingungan. 


Mungkin ini adalah pertama kalinya dia mendengar istilah tersebut.


"Tsukino, bagaimana kalo aku yang mengajarkanmu memasak?"


Tsukino terkejut dan membuka matanya lebar-lebar.


"Sepertinya, kau bilang ingin melakukannya sendiri, tapi aku rasa lebih baik kalk ada seseorang yang mengajarimu, karena itu akan membuatmu lebih cepat menguasainya. Aku cukup bisa memasak, jadi aku rasa aku bisa membantu sedikit."


Kalo Tsukino merasa tidak ingin makan masakanku, tentu itu akan sangat menyedihkan bagi diriku.


Tapi, saat ini Tsukino sedang berusaha keras. 


Jadi, aku ingin membantu sedikit agar Tsukino bisa belajar lebih cepat.


"Benarkah? Tapi, aku mungkin akan banyak merepotkanmu."


"Tidak masalah sama sekali. Tapi, aku agak bingung kalo nantinya Tsukino menjadi terlalu mahir memasak."


".....Kenapa?"


"Karena kalo Tsukino lebih mahir dariku, aku jadi tidak perlu memasak lagi untuk mu, kan? Mungkin saja Tsukino akan bosan dengan masakanku, dan akhirnya Tsukino memutuskan untuk memasak sendiri..."


Tsukino tiba-tiba menggenggam lenganku dengan kuat, seolah ingin menghentikan kata-kataku.


Di wajahnya terlihat ekspresi yang sangat serius, yang membuatku terdiam, hampir seperti tidak bisa melanjutkan kalimat.


"Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Aku suka sekali masakanmu, Yuto. Kalo kau memasak untukku, aku pasti akan memakannya dengan senang hati."


"....Oh, begitu ya. Kalo begitu, aku senang mendengarnya. Aku juga senang melihatmu makan masakanku dengan senang."


Aku merasa lega, lebih dari yang kuharapkan. 


Jadi, itu berarti dia tidak benci dengan masakanku,kan?


...Tunggu, kalo begitu kenapa Tsukino ingin bisa memasak dengan lebih baik?


"Yuto-kun dan Tsukino-chan, kalian berdua adalah teman baik, kan?. Oh ya, aku dengar belakangan ini Yuto-kun memasak untuk Tsukino-chan, kan?"


"Ya, Yuto sering membantu ku. Waktu aku tahu kalo Hinata-san adalah kakak perempuannya Yuto, aku benar-benar terkejut."


"Benar juga, meskipun aku sendiri juga merasa masih aneh menganggap Yuto-kun sebagai adikku."


Di samping mereka yang melanjutkan obrolan sambil berbelanja, aku sedang berpikir tentang masakan apa yang akan aku buat bersama Tsukino. 


Aku harus menghindari resep yang terlalu sulit, jadi yang mana ya yang sebaiknya kupilih?


Setelah selesai berbelanja, kami mulai memasukkan barang-barang ke dalam tas belanjaan. 


Hinata menaruh daging dan ikan segar ke dalam kantong plastik gratis, mungkin agar tas belanjaan tetap bersih. 


Sepertinya dia memang sangat teliti.


Saat aku mengambil tas belanjaan, Hinata tersenyum padaku.


"Kau mau membawa barang belanjaan? Terima kasih banyak."


"Ya, lagipula yang memasak nanti kan Hinata. Kalo begitu, aku harus membantumu membawa barang-barang ini."


"Eh... Jadi, makan Yuto itu dimasak oleh Hinata-san?"


"Memang, kami baru saja menjadi keluarga, jadi kami berusaha untuk lebih saling mengenal. Itulah sebabnya kami makan malam bersama."


Jadi, meskipun aku harus menjelaskan seperti itu.


Aku ingin merahasiakan fakta kalo kami hidup bersama, tapi aku mungkin tidak akan bisa membodohi Tsukino dengan makan bersama.


Pada saat itu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.


Entah kenapa, Tsukino membeku seolah dia berubah menjadi batu.


"Tsukino...? Kenapa kau tiba-tiba diam saja?"


"Eh? Oh, tidak, tidak ada apa-apa, tidak ada yg istimewa. Begitu, Hinata-san memasakkan makanan Yuto..."


Memang, belakangan ini, Tsukino terlihat berbeda dari biasanya.


Setelah kami sampai di apartemen, aku berpisah dengan Tsukino dan kembali ke kamarku bersama Hinata.


"Jadi, aku akan pergi ke tempat Tsukino sekarang. Mungkin kami akan makan malam bersama juga. Maaf, aku akan makan masakan Hinata besok."


Kami membuat aturan di rumah bahwa 'kau harus memberi tahu kalo kau tidak akan makan malam dirumah, paling lambat jam 6 sore.' Meskipun aku sebelumnya tinggal sendirian, sekarang terasa aneh dengan aturan keluarga seperti ini.


"Ya, aku mengerti. Kamu tidak perlu khawatir sama sekali, oke? Lagipula itu bagus, kau bisa makan dengan Tsukino-chan."


...Hmm?


"Hinata, apa ada yang ingin kau katakan?"


"Eh!? Apa maksudmu? Aku tidak mengatakan apa-apa loh."


"Tapi kenapa matamu terlihat gelisah? Kalo aku tidak salah dengar, tadi kamu bilang, 'itu bagus, kau bisa makan dengan Tsukino-chan.'"


"...Eh, hehe."


Hinata tersenyum malu-malu.


"Yah, karena Yuto-kun dan Tsukino-chan kan teman masa kecil, kan? Kalo aku melihat kalian berdua mengobrol, aku bisa merasakan kalo kalian sudah lama bersama. Jadi aku merasa iri deh."


Oh, jadi begitu.


Aku dan Tsukino sudah berteman sejak kecil, kami tetangga dan sangat dekat seperti keluarga. 


Sejujurnya, orang pertama yang aku pikirkan untuk diajak menghabiskan waktu bersama adalah Tsukino.


"Yah, Tsukino teman masa kecilku. Tapi, Hinata adalah kakakku, kan? Ke depannya, kita akan tinggal bersama, jadi lama kelamaan, akan terasa biasa saja kalo kita selalu bersama."


"...Ya, semoga saja begitu."

Hinata pun tersenyum dengan ragu.




Segera setelah itu, aku menekan bel kamar Tsukino, dan dia langsung menyambutku dengan senyuman.


Mungkin karena termotivasi penuh, Tsukino mengenakan celemek ibunya di atas seragam sekolahnya. 


Kalo dipikirkan, meskipun kami sudah lama berteman, ini adalah pemandangan yang cukup langka bagiku.


"Tsukino memakai celemek seperti itu, sepertinya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya. Hmm, itu terlihat cocok sekali untuk mu."


"Benarkah? Terima kasih."


Tapu, aku merasakan ada yang aneh dan mulai merasa bingung.


Tsukino menghindari menatapku, seolah-olah dia enggan melihatku.


"Daripada itu, lebih baik kita segera memulai persiapan memasak. Ayo, ikut ke sini!"


Dengan cepat, Tsukino bergegas menuju dapur.


Di dapur, aku menggulung lengan bajuku dan berkata,


"Baiklah, mari kita mulai memasak. Hari ini aku akan membuat pasta dengan saus daging, sebuah hidangan yang mudah dikuasai bahkan oleh pemula seperti mu."


Berdasarkan pengalamanku, memasak pasta merupakan salah satu masakan yang mudah dibuat.


Saus daging, khususnya, kalo tidak terlalu memperhatikan bahan-bahannya, kita hanya perlu menumis beberapa bahan dan merebusnya, yang sangat sederhana. 


Bahkan, aku diam-diam berpikir kalo hidangan ini bisa dibuat dengan sangat baik oleh siapa pun.


"Taoi, sayangnya, pisau tetap harus digunakan. Kalo kau merasa kesulitan, aku bisa membantu."


"Tidak, aku akan mencobanya sendiri."


Dengan tatapan yang penuh kecemasan dan tekad, Tsukino memegang pisau.


Pisau yang diletakkan di atas bawang bombay itu terlihat sedikit gemetar, dan tangannya juga bergetar halus. 


Yah, hal ini wajar, karena Tsukino memang masih kurang pengalaman dalam memasak dan dia memiliki rasa cemas.


Apa dia juga merasa takut seperti ini ketika membuat nikujaga kemarin?


Aku ingin sedikit membantunya, jadi dengan hati-hati, aku meraih tangannya dari belakang.


"Ah──"


"Tenang saja, kalo kau memotong dengan tenang, kau tidak akan terluka. Lihat, begini caranya..."


Kami bekerja bersama-sama, dan bersama-sama menurunkan pisau. 


Akhirnya, bawang bombay itu terpotong menjadi setengah lingkaran.


"Mudah kan memotongnya?"


Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.


Tsukino yang dikatakan sebagai angel bulan yang selalu tanpa ekspresi, tersipu malu.


Aku bahkan belum pernah melihat Tsukino seperti ini, meskipun kami sudah berteman sejak kecil.


Aku pun terdiam, dan Tsukino, dengan wajah tertunduk, mulai membuka mulutnya.


"Jangan terlalu dekat, Yuto. Mundur sedikit."


"Ah, maaf. Benar juga, kalo begini sulit untuk memasak, kan?"


Sepertinya aku terlalu mendekat tadi. 


Ini memang kebiasaan buruk kami sebagai teman masa kecil, kami sering salah mengatur jarak.


Tsukino menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu dengan perlahan, dia menurunkan pisau. 


Meskipun tangannya masih agak kikuk, akhirnya bawang bombay itu terpotong.


"Hebat! Kau berhasil, Tsukino!"


Aku sendiri merasa terkejut bisa begitu terkesan hanya karena melihat Tsukino memotong bawang bombay. 


Mungkin tidak banyak pria yang bisa merasakan hal yang sama.


Tapi, Tsukino terlihat sangat fokus, sampai-sampai dia tidak menjawab dan terus melanjutkan memasaknya. 


Ketika dia mulai mencincang bawang bombay, tiba-tiba dia berhenti.


"Yuto..."


Tsukino berbalik, pipinya memerah.


"Aku tidak begitu mengerti cara memotong bawang bombay menjadi halus. Jadi, aku ingin kau mengajari seperti yang tadi."


"Ehh, tapi kan Tsukino bilang tadi untuk menjauh..."


"Itu hanya karena aku kaget saja. ...Tidak boleh?"


Melihat Tsukino memiringkan kepalanya seolah minta perhatian dariku, mau tak mau aku merilekskan pipiku.


Oh, jadi tadi bukan berarti dia tidak suka, ya.


"Ah, tidak masalah sama sekali. Memotong bawang bombay halus itu begini caranya──... Eh, Tsukino, kenapa kau malah tersenyum-senyum?"


"A-aku cuma... jangan terlalu banyak menatapku. Aku cuma hampir menangis karena bawang bombay ini."


──Setelah itu, Tsukino melanjutkan memasak sambil mendengarkan nasihatku, dan akhirnya kami hanya perlu merebus saus daging untuk menyelesaikan masakan.


"Sepertinya sudah hampir selesai. Kalo begini, Tsukino pasti bisa melakukannya sendirian, kan?"


"Ya, mungkin benar. Aku jadi sedikit lebih percaya diri. Tapi, meskipun tinggal bersama Hinata-san, Yuto tetap akan membuatkanku makanan seperti biasa, kan?"


"Tentu saja. Aku diminta oleh orang tuamu juga, dan aku tidak keberatan membuatkan makanan untukmu."


"Begitu ya... Hei, apa kau terkejut mengetahui kalo Hinata-san adalah kakak perempuanmu?"


"Ya, tentu saja. Aku dan Hinata sudah bekerja sama di OSIS sejak kelas satu."


Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku benar-benar berbicara dengan Tsukino tentang hubungan ku dengan Hinata sebagai saudara kandung.


"Yuto, kau baik-baik saja kan? Apa kau bisa beradaptasi dengan hidup bersama Hinata-san?"


"Sejauh ini tidak ada masalah sih. Sebenarnya, aku dan Hinata sudah cocok kok. Dia juga sering membuatkan makanan untukku, jadi aku sangat berterima kasih padanya."


"Bukan begitu, yang aku khawatirkan adalah hal lain... Yuto, kan pernah menyukai Hinata-san. Aku hanya khawatir apa kau baik-baik saja dengan itu."


Aku terdiam, tidak bisa memberikan jawaban.


...Ah, kenapa aku harus merasa cemas seperti ini.


"Baiklah, maksudmu apa ya? Aku sama sekali tidak mengerti."


"...Begitu ya. Kalo begitu, mungkin itu hanya perasaanku saja. Jadi, Yuto dan Hinata-san itu hanya teman biasa, kan?"


"Benar, seperti itu. Aku tidak punya perasaan khusus terhadap Hinata. Lagipula, meskipun...kalo dalam kemungkinan yang sangat kecil aku menyukai Hinata, itu sudah tidak bisa diubah lagi."


Aku berusaha berbicara dengan santai, seolah sedang membicarakan hal yang biasa saja.


"Kami ini saudara, jadi aku tinggal bersama Hinata hanya sebagai adik."


"...Iya."


Mungkin itu hanya perasaanku saja.


Tapu, melihat sisi wajah Tsukino yang sedang memasak, ada ekspresi yang terlihat agak sedih.




Beberapa menit kemudian, saat kami duduk di meja dengan pasta saus daging di depan kami, Tsukino terlihat gelisah, hal yang jarang kulihat darinya.


Aku membayangkan bagaimana teman-teman OSIS akan terkejut melihat pemandangan ini.


"...Haruskah aku menyiapkan kantong etik?"


[TL\n:Kantong etik adalah kantong khusus yang dirancang untuk mengamankan atau menyimpan barang bukti yang berkaitan dengan investigasi atau proses hukum. Biasanya, kantong ini digunakan oleh pihak berwenang, seperti polisi, jaksa, atau penyidik, untuk memastikan integritas barang bukti tetap terjaga.]


"Kenapa kau khawatir begitu? Tidak perlu terlalu cemas. Coba saja."


"Ah...!"


Tanpa ragu, aku menyantap pasta yang sudah aku gulung dengan garpu, dan menikmati setiap suapannya.


Melihat ekspresi terkejut di wajah Tsukino, aku tersenyum padanya.


"Enak. Pasta yang kau buat benar-benar lezat."


"...Apa...kau yakin? Perutmu tidak sakit kan?"


"Tidak sama sekali. Aku rasa kau sudah membuatnya dengan baik. Kalo kau tidak percaya, coba saja. Mungkin kau akan terkejut dengan hasilnya."


"...I-ya."


Dengan hati-hati, Tsukino mencoba makan pasta tersebut.


Pada saat itu, wajah Tsukino berubah, seolah-olah dia sangat senang. 


Meski begitu, karena aku adalah teman masa kecilnya, aku bisa merasakannya melalui suasana hatinya, tapi bagi orang lain, mungkin ekspresinya tetap terlihat datar seperti biasanya.


"Enak... Apa ini benar-benar yang aku buat?"


"Jadi, sekarang keahlianmu bukan cuma memasak sup instan dengan menambahkan air panas kan?"


"...Mungkin aku akan menyimpan ini sebagai kenang-kenangan di freezer."


Tanpa berlebihan, pasta yang dibuat oleh Tsukino memang enak. 


Mungkin hasilnya hampir setara dengan masakanku.


"Sepertinya, memasak sesuatu yang sederhana seperti pasta memang lebih cocok untukmu. Ngomong-ngomong, kenapa awalnya Tsukino memilih mencoba membuat nikujaga? Apa ada alasan khusus?"


"...Karena aku ingin bisa membuat masakan yang bisa dibilang 'rumahan'. Kalo aku melakukan itu, kupikir mungkin Yuto akan melihatku lagi."


Aku terdiam sejenak, dan tanganku yang memegang garpu berhenti.


"Melihatmu lagi? Maksudmu, aku menghargai Tsukino?"


"Karena Yuto selalu merawatku, jadi setidaknya aku ingin bisa melakukan sesuatu, seperti memasak, agar aku bisa diakui sedikit."


Mungkin itu alasan kenapa Tsukino tiba-tiba ingin belajar memasak.


"Jujur, aku tidak mengerti. Aku tidak pernah merasa kalo Tsukino merepotkan. Kita sudah lama bersama, dan kalo ada masalah, kita saling membantu."


"Tapi, sejak kecil, Yuto selalu melindungiku."


Dengan tatapan lembut dan sedikit nostalgia, Tsukino memandangku.


"Apa kau ingat? Waktu masih SD, aku bilang ingin mencoba memasak. Aku ingin mengejutkan Mama dan Papa, jadi kita berdua diam-diam mencoba memasak bersama."


"Ah, aku masih ingat dengan jelas itu. Karena itu, Tsukino jadi kesulitan memasak."


Aku pasti tidak akan pernah melupakan itu. 


Sekarang, rasanya lucu kalo dipikirkan lagi, tapi saat itu benar-benar kacau.


Tsukino yang mencoba menggunakan pisau secara tidak sengaja memotong jarinya dan menangis dengan keras. 


Mendengar itu, ayah Tsukino buru-buru pulang lebih awal dari kantor, sementara aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku karena membiarkan kami berdua melakukan hal berbahaya sendirian.


"Waktu itu, aku terus menangis karena luka itu terasa sakit... Tapi yang paling aku ingat adalah, Yuto selalu ada di sampingku."


"...Aku?"


"Yuto yang menempelkan plester di lukaku. Yuto juga yang menghubungi keluargaku dan memegang tanganku sampai aku berhenti menangis."


"Itu sudah seharusnya, kan? Tsukino kan yang terluka."


"Itu tidak benar. Karena Yuto ada di sana, aku bisa bertahan waktu itu. Meskipun masih SD, Yuto jauh lebih dewasa daripada aku."


Tsukino menunjukkan senyuman lembut.


"Yuto waktu itu selalu bilang, suatu hari nanti dia ingin menjadi orang yang lebih baik dan lebih penyayang, seperti ibumu."


Mungkin begitu. Aku yang baru saja kehilangan ibuku, selalu berusaha meniru beliau, aku ingin menjadi seperti dia, dan selalu berusaha lebih baik dari yang aku bisa.


Karena itu, aku tidak bisa membiarkan Tsukino begitu saja. 


Tsukino yang bebas dan ceroboh seperti kucing, selalu terlihat sangat rapuh dan bisa pergi jauh kalo aku tidak berhati-hati.


"Yuto selalu bisa diandalkan sejak kecil, dan hanya dengan berada di sampingmu aku merasa tenang... Tapi, belakangan ini, aku merasa tidak ingin tetap berada dalam hubungan yang seperti itu."


"Apa maksudmu, kau tidak ingin terus bergantung padaku atau sesuatu seperti itu...?"


"Bukan begitu. Aku ingin terus bergantung pada Yuto. Orang yang mengurusku hanya boleh Yuto."


Begitu, ya. Mendengar ucapannya yang begitu tegas membuatku sedikit merasa canggung.


"Tapi, meskipun sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, aku benar-benar ingin berubah. Karena itu, dengan bantuan Yuto, aku bisa memasak seperti ini. ...Jadi, aku punya satu permintaan."


Tsukino menatapku dengan mata indahnya yang penuh tekad.


"Aku ingin Yuto memuji hasil masakanku ini. ...Bukan orang lain, hanya Yuto."


Suara itu terdengar begitu serius hingga membuatku menahan napas.


Aku tahu Tsukino sangat tidak pandai memasak sejak kecil. Dan aku juga bisa memahami alasan di balik keinginannya untuk berubah.


Kalo Tsukino meminta untuk dipuji, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolak.


Aku adalah teman masa kecil Tsukino. 


Usaha dan kerja kerasnya adalah sesuatu yang pantas aku hargai.


Aku meletakkan garpu ke atas piring, berdiri, lalu duduk di sebelah Tsukino.


"....Yu-Yuto?"


Sepertinya dia tidak menduga aku akan duduk di sampingnya, sehingga suaranya terdengar sedikit bingung.


Dengan lembut, aku menepuk kepalanya.


"Kau sudah berusaha keras, Tsukino."


Ironis, beberapa hari yang lalu aku sempat berkata padanya untuk berhenti memperlakukan ku seperti anak kecil, tapi sekarang aku malah ingin menepuk kepalanya seperti ini.


Mungkin, ini adalah jarak yang selalu ada di antara aku dan Tsukino. 


Hubungan yang hanya dimiliki oleh kami berdua sejak kecil.


Tapi, kalo aku memperlakukannya seperti anak kecil begini, mungkin Tsukino akan marah.


Tsukino hanya menatapku dengan mata yang terlihat sedikit bergetar. 


Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya diam di tempatnya.


Lalu, bibirnya mulai bergerak perlahan.


"──────"


"...Apa?"


Suara itu begitu pelan hingga aku tidak dapat mendengar dengan jelas.


Tapi, kalo mataku tidak salah menangkap, Tsukino sepertinya mengatakan sesuatu.


Suka.


"...Aku suka. Dari dulu, aku selalu menyukaimu."


Kali ini, aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Seketika, pikiranku menjadi kosong, terisi hanya dengan pernyataan itu. 


Pada saat itu, kepalaku dipenuhi warna putih dan aku tidak dapat memikirkan apa pun.


Kami ber-2 hanya terdiam. Aku tidak mengatakan apa-apa, begitu juga Tsukino. Dia menatapku dengan ekspresi seperti sedang bermimpi...dan aku bertanya-tanya entah sudah berapa lama waktu telah berlalu.


Rasanya seperti waktu berhenti. Tapi, perlahan, wajah Tsukino berubah merah padam, seolah-olah dia baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya.


"~~~!"


Tsukino panik, dengan tergesa-gesa dia berlari ke arah sofa, lalu dia membenamkan wajahnya ke bantal.


"Tsukino...?"


"Ja-jangan katakan apa-apa! Suaramu saja sudah membuatku semakin gugup... Ini tidak seperti yang aku rencanakan. Aku hanya ingin memasak bersamamu."


Jadi, ucapan barusan memang sungguh-sungguh...?


Tiba-tiba aku merasa wajahku sendiri memanas. 


Apa Tsukino benar-benar baru saja mengungkapkan perasaannya? 


Pada ku, teman masa kecilnya?


"E-ehem, maaf. Tapi, aku ingin memastikan satu hal...barusan, kau bilang...kalo kau menyukaiku kan?"


"Kokuri," Tsukino mengangguk.

 

"Yuto, itu tidak adil. Kau tersenyum dengan lembut sambil mengusap kepalaku seperti itu. Rasanya pikiranku kosong, dan tanpa sadar aku mengucapkan kata suka."


".....Be-begitu ya."


Aku tidak bisa menatap Tsukino secara langsung. 


Wajahku terasa panas, dan aku yakin seluruh ekspresiku kacau.


Aku tidak pernah membayangkan kalo Tsukino, yang selama ini adalah tetangga sekaligus teman masa kecilku, memiliki perasaan seperti itu terhadapku. 


Bagiku, kami selalu berada dalam hubungan yang sederhana—tidak lebih dari sekadar teman dekat yang sudah saling mengenal sejak kecil.


Keheningan yang tidak biasa di antara kami berlangsung cukup lama hingga Tsukino akhirnya berbicara lagi.


"Sejak kecil, aku selalu bersama Yuto. Kau selalu ada untukku, kau membuatku merasa tenang hanya dengan berada di sisimu. Tapi, tanpa kusadari, setiap kali aku memikirkanmu, ada rasa aneh di dadaku—rasanya seperti sesak. Dan kemudian, aku menyadari sesuatu. Aku tidak ingin hanya menjadi teman masa kecilmu. Aku ingin hubungan kita menjadi lebih dari itu. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih spesial bagimu."


"...Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak pernah menyadari kalo kau memandangku seperti itu."


"Aku juga. Aku mencoba sebaik mungkin menyembunyikan perasaanku ini. Karena aku tahu, bahkan kalo aku mengungkapkannya, Yuto tidak akan pernah membalasnya."


Tsukino menegakkan tubuhnya, memeluk erat bantal di pangkuannya. 


Ekspresinya terlihat penuh rasa sakit.


"Karena aku tahu, orang yang disukai Yuto bukanlah aku, tapi Hinata-san."


Kalimat itu seperti petir yang menyambar kepalaku. 


Rasanya seperti semua udara di ruangan ini tiba-tiba menghilang.


"....Hah? Apa maksudmu? Aku menyukai Hinata?"


"Makanya, saat aku tahu kalo Hinata-san adalah kakak perempuanmu, aku merasa sangat lega hingga aku tidak bisa menahan senyuman ku. Karena itu, aku memutuskan untuk belajar memasak. Aku berpikir, mungkin dengan begitu Yuto akan melihatku."


"Itulah sebabnya aku bilang, aku tidak punya perasaan khusus untuk Hinata... Yah, lagipula itu sudah tidak penting. Bahkan jika itu hanya cinta sepihak, toh hasil akhirnya adalah aku patah hati. Jadi, aku sudah tidak punya perasaan apa pun terhadap Hinata."


"Jangan bohong. Yuto, kau masih menyukai Hinata-san, kan?"


Kalimat Tsukino itu menghujam hatiku seperti senjata tajam.


"Ah?! Apa yang...?!"


"Aku tahu. Aku ini teman masa kecilmu selama lebih dari 10 tahun, Yuto. Jadi, aku paham. Kau masih belum bisa melupakan Hinata-san, kan? Kau orang yang setia."


Keringat dingin mengalir di punggungku. 


Tsukino benar-benar mampu membaca diriku dengan jelas.


"Aku bisa mengerti perasaanmu, Yuto. Beberapa hari yang lalu, Hinata-san hanyalah teman sekelas mu, dan tiba-tiba dia dikatakan sebagai kakak perempuanmu. Tentu saja kau tidak bisa langsung menerima itu, kan? Rasanya pasti menyakitkan—tidak bisa lagi mencintainya, bahkan untuk sekadar cinta sepihak."


Tsukino menyentuh luka di hatiku yang selama ini kusembunyikan. 


Kata-katanya seperti balsam yang menenangkan, menyentuh dan menyusup jauh ke dalam diriku.


"Yuto...bagaimana kalo aku saja?"


Kata-kata itu terdengar begitu lembut, seperti malaikat yang berbicara.


Aku yang masih bingung, hanya bisa terpaku pada senyum lembut Tsukino.


"Aku tahu, Yuto menyukai Hinata-san. Karena itu, aku ingin kau melupakannya. Aku ingin kau menjadi pacarku. Kalo kau punya kekasih, mungkin perasaanmu terhadap Hinata-san akan memudar, kan?"


"Apa?! Itu...!"


"Atau...apa Yuto membenciku?"


"Tidak mungkin! Tidak mungkin aku membencimu, tapi—"


Apa ini benar-benar keputusan yang tepat?


Keinginanku yang mendalam adalah bisa melihat Hinata bukan sebagai seorang gadis, tapi sebagai kakak. 


Untuk itu, menjalin hubungan dengan gadis lain mungkin terdengar masuk akal. 


Tapi, apa itu berarti aku benar-benar menghadapi perasaan Tsukino dengan tulus?


Tsukino berdiri dari sofa dan mendekatiku dengan langkah mantap, menarik jarak di antara kami hingga nyaris tidak ada.


Dengan wajah yang sedikit memerah, dia menatapku lekat-lekat dan berkata, "Yuto, aku mencintaimu."


"Tsukino...!"


"Aku mencintaimu."


"..........."


Jarak di antara kami begitu dekat, hingga aku hampir bisa merasakan napasnya. 


Jantungku berdegup kencang, seolah ingin berhenti.


Bagi diriku, Tsukino adalah seseorang yang sangat berharga. Dia adalah teman masa kecilku yang tidak tergantikan.


Mendengar seorang gadis sepertinya mengatakan 'aku mencintaimu', tidak mungkin aku tidak merasa bahagia.


Tapi... tetap saja.


"Maaf, Tsukino... Aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu."


Tsukino menahan napas, terlihat terkejut.


Dadaku terasa sesak dengan rasa bersalah. 


Tapi aku tahu, aku tidak boleh membohongi perasaanku ini.


Tsukino adalah teman masa kecilku. 


Aku tidak ingin menyakitinya dengan kata-kata kosong yang hanya terlihat manis di permukaan.


"Seperti yang kau bilang, aku masih menyukai Hinata. Karena itu, aku tidak bisa membalas perasaanmu, Tsukino."


"Tapi... Yuto ingin melupakan Hinata-san, kan? Kalo begitu, kau bisa bersamaku—"


"Itu tidak mungkin. Tidak adil bagimu kalo aku memaksakan diriku untuk bersamamu sementara aku masih menyukai orang lain. Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?"


"Aku tidak peduli. Selama aku bisa bersama Yuto, kau boleh memanfaatkan aku sesukamu."


Kata-kata Tsukino yang penuh keyakinan membuatku tanpa sadar menahan napas.


"Aku ingin menjadi seseorang yang spesial bagi Yuto. Kalo itu bisa terjadi, aku tidak peduli kalo ada orang lain yang kau sukai. Aku...aku akan melakukan apa pun yang Yuto inginkan."


Ucapan itu terdengar seperti bisikan iblis.


Kalo aku membiarkan diriku terbuai oleh kebaikan Tsukino, mungkin aku bisa mengakhiri perasaanku pada Hinata. 


Mungkin aku bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman masa kecil dengan Tsukino.


Tapi, keputusan di hatiku tidak berubah.


"Tadi, Tsukino bilang kalo kau khawatir padaku, kan? Tentang bagaimana aku menghadapi kenyataan kalo Hinata sekarang menjadi keluargaku. Memang, Tsukino, aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu. Tapi, kalo aku menjalin hubungan denganmu, aku pasti tetap akan terus memikirkan Hinata."


Aku menatap mata Tsukino yang sedang memandangku dengan serius. 


Aku balas menatapnya dengan penuh keyakinan. 


Aku tidak akan lari. Tidak kali ini.


"Justru karena Tsukino adalah teman masa kecilku yang begitu berharga, aku tidak ingin hubungan kita didasari perasaan setengah hati."


"Jadi...kau benar-benar mencintai Hinata-san, ya?"


"Maaf, Tsukino. Seperti yang kau bilang, aku tahu aku harus melupakannya. Tapi... Hinata adalah cinta pertamaku. Dia adalah gadis pertama yang membuatku merasakan apa artinya menyukai seseorang."


Menurutku cinta pertama itu seperti sihir. 


Sebelum aku menyadarinya, aku telah jatuh cinta pada seorang gadis, dan hanya memikirkannya membuatku merasa tidak terkalahkan. 


Rasanya, aku bisa melakukan apa saja kalo itu berarti Hinata akan menoleh ke arahku.


Tapi dunia ini tidak memiliki penyihir. Dan sihir itu...tidak ada yang tahu cara untuk memutuskannya, bahkan aku sendiri atau Hinata.


"Memang menyedihkan, kan? Sejak hari pertama aku tinggal bersama Hinata, aku sudah memutuskan untuk menyerah pada cinta pertamaku. Tapi begitu aku melihat wajahnya, semua kenangan itu kembali lagi. Meski aku benar-benar menghargai perasaanmu, Tsukino...aku...aku..."


Pada saat itu juga, kata-kataku terhenti.


Dengan lembut, Tsukino memeluk tubuhku, seolah ingin menenangkanku sepenuhnya.


"Sudah cukup. Terima kasih karena sudah berbicara dengan jujur padaku. ...Yuto, pasti itu berat, kan? Karena kau sangat menyukai Hinata-san."


".....Maaf, Tsukino."


"Kau tidak perlu minta maaf. Jadi, jangan pasang wajah seperti mau menangis, ya? Nih, aku akan mengelus kepalamu."


Pop-pop. 


Seperti sedang menenangkan seorang anak kecil, Tsukino mengusap kepalaku dengan lembut.


"....Bukannya aku pernah bilang, aku bukan anak kecil lagi, jadi berhenti mengelus kepalaku. "


"Tapi tadi Yuto juga melakukan hal yang sama padaku, kan? Jadi, ini balasannya."


Tsukino benar-benar baik hati. Rasanya aku hampir menangis.


"Tapi, aku ditolak, ya? Sayang sekali, padahal aku sudah lama mencintaimu."


"....Maaf."


"Tidak apa-apa kok. Lagi pula, aku belum menyerah pada Yuto."


"Eh...?"


"Jujur, aku sendiri terkejut. Aku sempat berpikir Yuto itu terlalu keras kepala karena terus-terusan menyukai Hinata-san, tapi ternyata aku juga sama saja."


Tsukino melepaskan pelukannya. 


Taou, ekspresinya tidak menunjukkan kesedihan seseorang yang baru saja ditolak. 


Sebaliknya, dia tersenyum dengan lembut dan malu-malu.


"Soalnya, Yuto bilang kalo kau ingin melupakan cinta pertamamu pada Hinata-san dan melihatnya sebagai keluarga, kan? Kalau perasaanmu pada Hinata-san sudah pudar, berarti aku masih punya kesempatan, kan?"


Tsukino tersenyum kecil, hampir seperti menertawakan dirinya sendiri.


"Sekarang memang aku belum bisa menjadi pacarmu. Tapi, kalo saatnya tiba, bolehkah aku mencoba mengungkapkan perasaanku lagi? ...Aku tidak mau membayangkan Yuto berpacaran dengan gadis lain."


Mendengar kata-katanya yang penuh ketegasan itu, aku hanya bisa terdiam dan memandanginya.


Ternyata kami berdua memang mirip.


Menyadari kalo kami berdua sama-sama memahami kalo cinta kami tidak akan terwujud, tapi tetap tidak bisa melupakan orang yang kami cintai. 


Bedanya, aku berusaha keras untuk melupakan, sementara Tsukino berusaha keras untuk memperjuangkan.


Mungkin, perasaan cinta yang mendalam itu bisa mendorong seseorang hingga batas terjauh kemampuannya.


"Hei, Tsukino. Boleh aku meminta satu hal darimu?"


Aku menarik napas dalam-dalam sekali saja, lalu menyuarakan isi hatiku dengan tegas.


"Aku akan berusaha agar bisa hidup bersama Hinata sebagai keluarga. Tapi, aku tahu saat aku bersama Hinata, kau mungkin akan merasa khawatir. Jadi, aku ingin kau mengizinkanku berjanji satu hal: sampai aku bisa melupakan cinta pertamaku, aku akan memenuhi semua permintaanmu."


Itu adalah caraku menebus rasa bersalahku.


Karena aku tahu, Tsukino pasti merasa sedih karena diriku yang tidak bisa melupakan Hinata. 


Maka, aku ingin melakukan apa pun yang bisa membuat Tsukino sedikit lebih bahagia.


"Semua permintaan, ya? Kalau begitu, cium aku."


"....A-apa?! Maaf, soal memenuhi semua permintaanmu tadi, sepertinya aku harus menariknya kembali."


"Menarik kembali janji 5 detik setelah mengucapkannya? Itu cukup buruk, menurutku."


"Ta-tapi, apa boleh buat! Aku tidak menyangka kau akan meminta sesuatu yang sulit seperti itu. Aku pikir permintaannya hanya sebatas ingin makan makanan enak atau yang semacam itu..."


"Tenang saja, aku bercanda. Aku tidak benar-benar ingin Yuto menciumku, kok. Lagipula, kau masih mencintai Hinata-san. Mana mungkin kau bisa mencium orang lain dengan perasaan seperti itu."


Guh... Kenapa rasanya aku baru saja dipermainkan?


"Ta-tapi, aku benar-benar berniat untuk memenuhi permintaanmu sebisa mungkin."


"Hmm, kalau begitu... Peluk aku."


Dengan lembut, Tsukino menyandarkan tubuhnya padaku.


Sepertinya, dia ingin aku memeluknya dari belakang, memberikan rasa aman yang dia butuhkan.


"Selama ini, aku sudah lama mengidamkan dipeluk seperti ini oleh Yuto. Atau, apa ini juga tidak boleh?"


...Benarkah, ini tidak aneh, kan? 


Lagipula, kita kan sudah lama jadi teman masa kecil.


"Ti-tidak, itu tidak masalah. Eh, seperti ini, kan...?"


Dengan canggung, aku memeluk tubuh Tsukino dengan hati-hati, berusaha tidak melukai harta yang sangat berharga ini.


Aroma manis yang tercium samar, kehangatan yang terasa di telapak tanganku.


Aneh sekali. Meski aku sudah mengenalnya sejak kecil, kenapa sekarang detak jantungku menjadi begitu cepat?


Mungkin ini karena Tsukino mengungkapkan perasaannya padaku.


"Terima kasih. Kalo kau bisa memenuhi semua permintaanku seperti ini, mungkin tidak begitu buruk kalo aku ditolak. Ini adalah hak istimewa yang hanya aku punya di dunia ini."


"...Aku rasa, tidak ada yang akan senang mendengar orang biasa sepertiku, seorang pelajar SMA, mengatakan kalk aku akan memenuhi semua permintaan mereka."


"Itu tidak benar. Setidaknya, untukku, itu sangat istimewa. Sejak dulu, Yuto hanya melihatku sebagai teman masa kecil. Aku bahkan tidak pernah membayangkan bisa melakukan hal-hal seperti pasangan kekasih denganmu."


Mungkin itu benar. Aku memang jarang melihat Tsukino sebagai seorang gadis, aku malah lebih sering memandangnya sebagai teman masa kecil. Kami sudah terlalu lama bersama sejak kecil.


"Persiapkan dirimu, ya? Aku akan banyak bersikap manja sampai Yuto melupakan Hinata-san."


Sambil merasakan kehangatan tubuh Tsukino, aku merenung sejenak.


Suatu hari nanti, Tsukino pasti akan mengungkapkan perasaannya lagi padaku.


Dan jika saat itu aku sudah benar-benar melupakan perasaanku pada Hinata—apakah aku akan menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman masa kecil dengan Tsukino?




Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال