Kamu saat ini sedang membaca Ore no 'unmei no akai ito' ni tsunagatteta no wa, tenteki no yōna joshidatta kudanvolume 1 chapter 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
BENANG MERAH TAKDIR
Akhirnya, aku tidak bisa tidur sama sekali.
Di tangan kiriku, ada benang merah yang bersinar.
Ketika aku mencoba mengikuti benang itu, benang tersebut menembus dinding kamarku dan memanjang lurus ke satu arah.
Tempat yang terhubung dengan ujungnya... sudah jelas, itu dia.
Gadis yang sejak SMP selalu menjadi musuh bebuyutanku, seseorang yang terus saja mencari masalah denganku.
Menyebalkan. Sangat mengganggu. Membuatku kesal.
Tapi yah, harusku akui kalo dia memang cantik.
Bisa dibilang, kalo dia adalah kecantikan blasteran yang bahkan bisa mengalahkan para selebritas.
Tapi... perempuan seperti itu adalah takdirku?
"Hah... bagaimana aku harus bertemu dengannya sekarang?"
Saat ini sudah lewat jam 5 pagi.
Tubuhku terasa lelah, tapi otakku terlalu gelisah untuk tidur.
Aku berbaring di tempat tidurku dan menatap langit-langit dalam diam.
Bagaimanapun aku harus memaksa diriku untuk tidur, walau hanya sebentar.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan apa pun, tidak merasakan apa pun. Hanya menatap noda kecil yang ada di langit-langit kamar.
Kali seperti ini, pasti rasa kantuk akan datang. Ya, rasa kantuk... ayo datang. Jangan menyerah, kantukku──.
"Hei, Akito, lihat aku lebih banyak lagi!"
"Akito, bagaimana menurutmu? Apa ini cocok untukku?"
"Akito... aku ingin... mencium...mu."
"~~~!!"
Ja-jangan tiba-tiba muncul di kepalaku seperti itu!
Sial, kenapa harus dia, dari semua orang yang ada di dunia ini?
Berapa banyak gadis seumuranku di dunia ini? Apa maksudnya ini, ya Allah?
"Hah... mungkin aku perlu berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiranku."
Aku sudah menyerah untuk tidur. Lebih baik aku mendinginkan kepalaku.
Aku mengganti piyamaku dengan pakaian yang lebih nyaman untuk bergerak, aku mengenakan jaket, dan melangkah keluar rumah.
Udara terasa sejuk. Ini tidak biasa untuk musim ini, tapi mungkin memang begini rasanya di pagi buta.
Aku berjalan perlahan di sepanjang tanggul di tepi sungai.
Angin sepoi-sepoi membelai pipiku, tapi saat ini angin itu terasa menyenangkan.
Di tanggul itu, hanya ada beberapa orang—mereka yang sedang berjalan dengan anjingnya, loper koran, atau otang yang sedang joging.
Tidak ada satu pun yang seumuran denganku.
Yah itu wajar saja, mana mungkin ada siswa SMA yang bangun di waktu seperti ini.
Aku menyeberangi jembatan panjang dan berhenti di bagian tengahnya.
Di sana, aku mengangkat tangan kiriku ke arah langit.
Benang merah yang terulur dari jari manisku hanya dapat dilihat oleh mereka yang terhubung olehnya.
Benang abadi yang menembus benda maupun manusia, menghubungkan 2 jiwa yang telah ditakdirkan.
Itulah yang disebut 'benang merah takdir'.
Konon, satu-satunya saat benang itu berubah adalah ketika pasangan takdir itu meninggal dunia.
"Hah... kenapa semuanya bisa jadi seperti ini?"
"Itu adalah pertanyaanku juga."
"Eh? Bukankah itu—"
Aku menoleh ke arah suara itu.
Seperti biasa, wajahnya terlihat masam dan menyebalkan.
Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang memudahkanya untuk bergerak, dan itu mempertegas lekuk tubuhnya.
Rambut pirang indahnya berkilau yang memantulkan sinar matahari pagi.
Biasanya aku tidak memperhatikan, tapi hanya dengan berada di dekatnya, kali ini bisa mencium aroma segar jeruk yang samar-samar darinya.
Matanya yang menatap tajam ke arahku tetap tidak berubah, tapi pipinya kemerahan, seperti dedaunan musim gugur yang berguguran.
Ya, dia adalah musuh bebuyutanku sekaligus orang yang terhubung denganku oleh takdir—Kuonji Riran. Dan kini, dia ada di hadapanku.
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan—kenapa dia ada di sini, betapa buruknya waktu pertemuan ini—tapi aku mencoba tetap tenang.
Aku berusaha terlihat biasa saja, aku lalu membuka mulut dengan nada datar.
"....Kenapa kau ada di sini?"
"Aku biasa jalan pagi. Itu rutinitasku."
Berhentilah melakukan rutinitas jalan pagi.
" "......" "
Kami ber-2 terdiam. Aku melirik tangan kiriku. Seperti yang kuduga, benang merah itu terhubung padanya.
"....Kalo ini mimpi, semoga aku segera bangun."
"Apa?! Kurang ajar sekali kau!"
"Kau juga pasti berpikir hal yang sama, kan?"
"Ten-tentu saja! Siapa juga yang mau takdirnya terhubung denganmu!"
Dia menyilangkan tangan dan mengalihkan pandangannya.
Tapi, dengan pose seperti itu (atau karena pakaian yang dikenakannya?), bentuk tubuhnya, terutama bagian payudaranyay, terlihat semakin menonjol.
Aku sudah sering memperhatikannya sebelumnya, tapi memang tidak bisa dipungkiri, dia memiliki postur tubuh yang luar biasa.
Perkembangan fisiknya tidak seperti seorang siswi SMA pada umumnya... Tunggu, apa yang sebenarnya sedang kupikirkan?!
Tenang, kendalikan dirimu. Memang benar dia cantik, punya postur tubuh yang sempurna, dan aroma tubuhnya menyenangkan.
Tapi dia adalah Kuonji Riran—seseorang yang selalu memandangku sebagai musuh, musuh bebuyutanku.
Hanya itu. Tidak lebih, tidak kurang.
...Yah, meskipun dia adalah orang yang telah ditakdirkan untukku.
"Sungguh...bertemu denganmu di pagi hari seperti ini membuat hariku terasa buruk."
"......"
"....Kenapa kau diam saja?"
"Entah kenapa, aku merasa sedikit lega melihat mu tetap seperti biasanya."
Yah, itulah kenyataannya.
Hubungan kami tidak akan berubah hanya karena ada benang merah takdir ini.
Aku tidak tahu kenapa dia selalu memusuhiku, dan aku juga memilih untuk mengimbanginya dengan menjadikannya musuh.
Jadi semuanya akan baik-baik saja...
Seharusnya baik-baik saja.
Setelah mendengar ucapanku, dia terlihat terkejut sesaat, lalu dia buru-buru mengalihkan pandangannya dengan wajah merah.
"Ten-tentu saja! Hubungan kita tidak akan berubah semudah itu. Jangan terlalu percaya diri hanya karena kau terhubung oleh 'benang merah takdir' dengan gadis secantik, anggun, dan mempesona sepertiku!"
Ketika aku mengangkat tangan kiriku, Kuonji dengan patuh melakukan hal yang sama.
Benang merah yang menghubungkan kami terlihat begitu mencolok.
Bukan hanya merah biasa, melainkan mendekati warna merah tua—hampir seperti merah darah.
"....Jadi, ini kenyataannya, ya."
"Aku akan memukulmu!"
Dia marah. Aku tidak tahu apakah dia marah karena terhubung denganku, atau karena reaksiku yang terlalu datar.
Tapi, yah, tidak apa-apa. Menurut orang tuaku, pasangan yang dihubungkan oleh 'benang merah takdir' akan langsung jatuh cinta tanpa syarat begitu mereka bertemu.
Tapi, aku tidak merasakan hal semacam itu terhadap Kuonji...kurasa.
Maksudku, aku memang menganggap dia cantik, tapi kalo ditanya apakah itu cinta, rasanya bukan.
Lagi pula, Kuonji juga tidak menunjukkan perubahan apa pun.
Dia tetap seperti biasanya.
Mungkin kami adalah pengecualian.
Aku sempat berpikir, bagaimana jadinya kalo Kuonji tiba-tiba bersikap seperti yang sering aku bayangkan dalam kepalaku—bersikap lembut atau menunjukkan perhatian yang aneh.
...Ti-tidak, aku tidak merasa kecewa sama sekali. Serius, tidak.
"Ngomong-ngomong, Sanada."
"Uh. A-apa?"
Dia tiba-tiba memulai pembicaraan, membuatku sedikit tergagap.
Memalukan.
"Ketika benang merah ini muncul, pasti aku muncul di pikiranmu, kan? Apa yang kau pikirkan waktu itu?"
Sejujurnya, aku tidak merasa itu adalah hal yang buruk.
Malah, saat menyadari kalk aku terhubung dengannya dan bukan orang asing, ada sedikit perasaan lega...dan mungkin sedikit rasa senang.
Tentu saja, aku tidak akan mengatakan hal itu.
Kalo aku bilang sesuatu seperti itu pada Kuonji, dia pasti akan langsung menyerangku dengan kata-katanya.
"....Biasa saja. Aku hanya berpikir, 'Oh, jadi dia, ya.'"
"Be-begitu..."
...Tunggu, kenapa dia terlihat jelas kecewa seperti itu?
".....Aku juga merasakan hal yang sama. Baka."
"Kenapa kau jadi kesal begitu?"
"Entahlah. Hmph."
Sungguh, perasaan seorang gadis itu terlalu rumit untuk dimengerti.
Meskipun begitu...semuanya benar-benar berjalan seperti biasanya.
Meskipun kami bisa melihat benang merah ini, rasanya tidak ada yang berubah.
Entah kenapa, itu membuatku merasa lega.
Kuonji membalikkan badannya dan membelakangiku.
Tapi sebelum dia berjalan pergi, dia menoleh sedikit dan berkata,
"Aku pergi dulu. Kau kan piket hari ini, jadi jangan sampai terlambat!"
Hanya itu yang dia katakan, sebelum dia berlari menjauh.
Hah...aku tidak menyangka bisa merasa begitu lega melihat dia tetap seperti biasanya.
Rasanya aku ingin menjalani hari-hariku tanpa ada perubahan berarti seperti ini selamanya.
...Tunggu. Ini aneh. Benang merah ini menghubungkan ku dan Kuonji.
Artinya, di mana pun kami berada, kami bisa saling menemukan hanya dengan mengikuti benang ini.
Seharusnya, kalo dia tidak ingin bertemu denganku, dia bisa saja menghindar.
Tapi...kenapa tadi dia berada tepat di belakangku?
...Tidak, sepertinya aku terlalu banyak berpikir.
Dia sendiri yang mengatakan kalo jalan pagi adalah hobinya, jadi mungkin saja tempat ini memang merupakan rute biasa yang sering dia lalui.
Meskipun aku ada di sini, dia tetap berjalan di rute yang sama seperti biasanya...sungguh di gadis yang teratur dan konsisten.
★★★
Setelah kembali dari jalan pagi, aku berganti pakaian ke seragam sekolah dan sarapan.
Meskipun begitu, waktu baru menunjukkan sekitar pukul 7.
Ayah sudah berangkat ke kantor, dan Ibu yang bekerja paruh waktu pagi ini juga tidak ada di rumah.
Saat ini, di ruang keluarga hanya ada adikku, Kotono.
Kotono mengenakan camisole longgar dan celana pendek ketat.
Aku mengerti itu pakaian yang nyaman untuk bergerak, tapi adikku yang terhormat, bukankah itu terlalu terbuka?
Ayah pasti akan sedih kalo dia melihatmu seperti ini.
Di depanku, Kotono memakan roti panggang sambil menunjukkan semangat tinggi sejak pagi.
Dia condong ke arahku di atas meja, dengan napas penuh antusiasme, melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Onii, hari ini kan hari takdirmu! Siapa yang jadi pasangan takdirmu?!"
Kotono, tolong, dengan pakaian seperti itu jangan terlalu mencondongkan tubuhmu di atas meja.
Namanya adalah Sanada Kotono. Siswi kelas 3 SMP.
Dia adalah adikku.
Meskipun dia masih SMP, tubuhnya telah berkembang hingga terlihat seperti mahasiswa, dengan penampilan yang dewasa.
Tapi, sikapnya benar-benar penuh energi, seperti anak SD.
Dia masih sangat bergantung padaku sebagai kakaknya, meskipun terkadang itu merepotkan.
Tapi sebagai kakak, aku tidak bisa memungkiri kalo aku merasa senang.
Penampilannya dewasa dari luar, tapi jiwanya masih seperti anak kecil. Begitulah adikku.
Dan kini, Kotono dengan mata cokelatnya yang bersinar penuh rasa ingin tahu, mengayunkan rambutnya yang diikat ponytail, yang telah dicat cokelat, sambil terus bertanya kepadaku.
"Hei, Onii, beri tahu aku, dong! Tidak ada ruginya, kan?"
"Memangnya kenapa? Siapa pun itu tidak ada bedanya."
"Tentu saja ada bedanya! Dia akan menjadi kakak iparku nanti!"
"Belum tentu kami akan menikah, kan..."
"Ts-ts-ts. Onii benar-benar tidak mengerti, ya~."
Gaya bicaranya seperti orang asing yang berlebihan.
Rasanya aku ingun sekali memukulnya.
"Di zaman sekarang, orang yang tidak menikah dengan pasangan takdirnya itu benar-benar kuno!"
"Kuno, maksudmu?"
"Itu sama saja!"
Tidak sama sekali, dasar bodoh.
Kotono duduk di kursi dengan posisi bersila sambil menggigit roti panggangnya.
Sebagai seorang perempuan, sebaiknya jaga sikapmu. Jangan duduk dengan cara seperti itu.
"Menurutku...gulp. Secara pribadi, aku ingin Riran-tan saja. Kalian terlihat cocok sekali!"
"Uhuk...!"
Kenapa intuisi adik perempuanku ini begitu tajam?
"Ah, sungguh... Apa yang Onii lakukan? Ini, minumlah air."
Aku meneguk air yang diberikan padaku dengan cepat dan menghela napas.
...Aku tidak bisa mengatakannya.
Aku tidak mungkin mengatakan kalo Riran adalah orang takdirku.
Itu terjadi ketika aku di kelas 3 SMP dan Kotono di kelas 2 SMP.
Suatu hari, saat Ibu menyuruhku untuk berbelanja, aku secara tidak sengaja bertemu dengan Kuonji di supermarket. Secara kebetulan.
Di sana, terjadilah pertukaran kata-kata yang biasa antara kami.
Kotono, yang melihat kejadian itu, sepertinya tertarik pada penampilan Kuonji yang cantik, dan menganggap kami ber-2 sangat dekat berdasarkan interaksi kami.
Bayangkan kalo Kotono tahu kalk aku dan Kuonji terhubung dengan 'benang merah takdir' ini.
Pasti itu akan sangat merepotkan.
Aku berusaha tetap tenang dan menyeruput kopiku.
"Mana mungkin. Seperti yang diajarkan di pelajaran, 'benang merah takdir' menghubungkan kita dengan seseorang di seluruh dunia, meskipun usianya sama. Seberapa besar kemungkinan kalo satu kelas dengan perempuan itu? Itu pasti kebetulan yang sangat langka."
"Eh, jadi Riran-tan satu kelas denganmu!? Itu kan berarti sudah takdir!"
...Sial, aku malah menggali kuburanku sendiri.
Sepertinya aku harus segera pergi dari sini.
"Aku bilang tidak kan? Terima kasih atas makanannya."
"Apa kau sudah mau pergi? Beri aku tumpangan dengan sepedamu hari ini juga."
"Aku jadi petugas piket hari ini. Jadi hari ini aku tidak bisa mengantarmu."
"Kenapa kenapa kau berbicara seperti itu... Ya sudah, aku paham. Hati-hati ya."
"Ya. Kotono, jangan terlambat juga."
Saat aku mengelus kepala Kotono, dia tersenyum ceria.
Kalk saja Kuonji punya setengah dari sikap ramah Kotono, pasti itu akan lebih mudah.
...Aku kembali memikirkan tentang Kuonji.
Benar-benar menjengkelkan, benang merah takdir ini.
Waktu aku meninggalkan rumah adalah pukul 7:30 pagi.
Sebenarnya, kalo aku berangkat pukul 8, aku akan masih sampai dengan tepat waktu, tapi karena aku menjadi petugas piket, aku harus pergi lebih awal ke sekolah.
Sebelum kelas dimulai, aku harus membawa lembaran yang dibagikan oleh guru, membersihkan papan tulis... sungguh aturan yang merepotkan.
Aku mengayuh sepeda dengan cepat, melewati kawasan perumahan, dan keluar ke jalan utama yang disebut Jalan Ginkgo.
Pada jam segini, ini masih terlalu pagi, jadi biasanya tidak ada siswa yang menuju ke sekolah.
Kalo ada, pasti itu hanya anggota klub olahraga yang memiliki latihan pagi...tapi hari ini ada banyak orang.
Bahkan mereka semua mengenakan warna seragam yang sama (merah).
"Orang yang menjadi takdirku super tampan!"
"Orang yang menjadi takdirku orang Amerika loh."
"Orang yang menjadi takdirku sih agak biasa, tapi begitu nama itu muncul di pikiranku, aku langsung berpikir, 'Ah, hanya orang ini yang bisa jadi takdirku.'"
Ah... ternyata mereka sedang membicarakan tentang siapa yang menjadi takdir mereka.
...Semakin sulit rasanya untuk mengungkapkan hal itu.
Aku mengayuh sepedaku melewati teman-teman sekelasku yang sedang berbicara dan menuju ke jalan menanjak yang menuju ke SMA Ginkgo Prefektur.
Jalan menanjak ini agak curam, tapi cukup pas untukku. Pelan-pelan, namun pasti.
"Heii hei hei! Akhirnya datang juga, Akito!"
"Akki, pagi!"
"Hmm? Oh, kalian ya."
Salah satu dari mereka memiliki rambut coklat yang berdiri tegak, tubuh tinggi besar, dengan tinggi badan lebih dari 190 cm, dia adalah Kurashiki Tatsuya.
Yang satunya lagi memiliki ciri khas rambut twin tail dan mata yang tampak mengantuk, tubuh loli dengan tinggi sekitar 140 cm, dia adalah Jummonji Neka.
Keduanya adalah temanku sejak SMP, dan mereka sangat tahu tentang hubungan burukku dengan Kuonji.
Aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir, kemudian berjalan bersama mereka menuju gedung sekolah.
"Ada apa dengan kalian? Hari ini kok kalian datang lebih cepat dari biasanya?"
"Sudah, Akito yang jahat~. Kami tahu kok, se...ni♪"
Aku ingin sekali memukulnya.
"Hari ini adalah hari takdir, Akki. Ayo kita bicara."
Tentu saja mereka akan mengatakan itu. ...Aku tidak bisa mengatakannya.
Karena itu adalah Kuonji dan aku.
Dia selalu menantangku, musuh bebuyutan yang tidak bisa dipisahkan. Kami seperti air dan minyak. Seperti musuh besar.
Bayangkan kalo mereka tahu kalk aku dan dia terhubung dengan 'benang merah takdir'.
『Serius? Serius!? Menarik sekali! Ayo kita sebarkan berita ini ke teman sekelas!』
『Hehehe, aku akan menyebarkanya!』
Itu yang akan terjadi. Aku harus mencegah itu. Demi dia juga.
...Tunggu, kenapa aku harus khawatir tentang dia?
"Bahkan kalo kau mengatakan ayo kita bicara tentang orang yg di takdirksn, kau mungkin tidak tahu banyak tentang orang itu."
"Ya sudah, ayo kita sebutkan ciri-ciri orang yang ada di pikiran."
"Bagaimana dengan orang yang menjadi takdirmu, Akki?"
Ciri-cirinya muncul—cantik.
Tidak! Itu salah!
"Eh, Akito, tenang!"
"Akki, kalo sampai kepalamu terbentur loker sepatu, nanti kasihan loker sepatu itu loh."
"Neka, sedikit lebih peduli pada Akito..."
Sial, kenapa aku harus terlalu emosional tentang Kuonji seperti ini...
"Ada apa denganmu, Akito? Hari ini kau terlihat sangat aneh. Ayo, kita semangat! Hei hei hei!"
"Hei hei hei, Akki!"
"Sepain Tatsuya, Neka sama sekali tidak terlihat semangat."
"Ya, karena begitulah diriku."
Aku tahu.
Melihat keduanya yang tidak berubah membuatku merasa lebih tenang.
Seandainya Neka adalah takdirku, tentu itu akan menyenangkan.
...Tunggu, itu tidak mungkin.
Saat aku berbicara dengan keduanya, 2 siswi memasuki gedung melalui pintu utama.
"Hei, Riran-chan. Sepertinya sudah saatnya kau memberi tahuki siapa takdirmu."
"Y-ya, seperti yang aku katakan, orang itu biasa saja... aa..."
Ah... Kuonji.
Dia juga menyadari keberadaanku, dan mata kami bertemu.
Sekilas dia terlihat canggung, tapi dia segera menaikkan alisnya.
"...Apa ada masalah? Ada yang ingin kau katakan?"
"Tidak ada."
"Ngomong-ngomong, aku hanya datang lebih pagi karena aku sudah berjanji dengan Rion."
"Yah, aku juga tidak bertanya."
" "Fuh!" "
Aku pun berbalik dan menjauh dari situ, berusaha menghindari Kuonji.
"Tunggu, Akito!"
"Selamat tinggal. Rira, Rion."
2 orang lanya mengikutiku di belakang.
Aku menutup mulutku dengan tanganku dan berpura-pura menguap agar mereka tidak menyadarinya.
Kalo tidak begitu... aku merasa wajahku yang tersenyum lebar karena interaksi sederhana dengan dia tidak bisa kubendung.
"Eh? Riran-chan, wajahmu kelihatan tersenyum, loh?"
"Ti-ti-tidak mungkin! Itu tidak benar!"
★★★
"Tapi, Akito dan Kuonji benar-benar tidak akur, ya?"
"Iya, sepertinya mereka sudah tidak akur sejak sebelum kita mulai berteman dengan mereka."
Tatsuya dan Neka yang mengikuti di belakangku membicarakan hubungan ku dan Kuonji dengan wajah heran.
Memang begitulah. Hubungan buruk antara aku dan Kuonji sudah dimulai sejak kelas satu SMP.
Aku mulai berteman dengan ke-2 orang ini pada kelas 2.
Alasan kenapa kami tidak akur... sejujurnya aku tidak tahu.
Itu terjadi saat pertengahan Juli, menjelang liburan musim panas pertama di SMP.
Tiba-tiba, Kuonji dari kelas lain masuk ke kelas satu kami.
Begitu dia melihatku, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi wajahnya merah padam dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia terlihat panik.
Beberapa waktu kemudian, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah ini:
『Ka-ka-kau itu! Aku tidak mengakui itu, loh!』
Kalian pasti bingung, kan? Tenang, aku juga bingung.
Teman-teman yang ada saat itu juga hanya bisa menatap bingung.
Memang, pada waktu itu aku tidak bisa dibilang seseorang yang serius.
Aku punya sifat yang sangat sembarangan, bahkan kalo dibilang tidak teratur, rasanya itu bisa dibilang benar.
Meskipun begitu, aku tetap berusaha keras dalam belajar dan berolahraga agar hal tersebut bisa diterima.
Berkat itu, hingga saat ini aku masih bisa mendapatkan nilai yang cukup baik.
Tapi, tiba-tiba saja dia mengatakan hal seperti itu... Begitu mengingat kembali kejadian itu, aku jadi sedikit kesal.
Sepertinya otakku masih menganggapnya sebagai musuh bebuyutan.
...Tapi, kalo aku marah karena hal seperti ini, itu hanya akan menjadi pemborosan energi. Aku harus move on.
Tanpa ada halangan, aku tiba di kelas 5. Beberapa siswi terlihat sedang asyik mengobrol dengan ceria.
Mereka adalah kelompok gadis populer di kelas.
Meskipun baru setengah bulan sejak dimulainya kehidupan SMA, mereka sudah berhasil menduduki posisi tertinggi dalam hierarki sosial.
[TL\n: hierarki tu, tingkatan status dalam kehidupan bermasyarakat.]
Lalu, salah satu gadis dari kelompok itu tersenyum cerah saat dia melihatku.
"Ah, Sanada, pagi!"
Dengan rambut panjang berwarna merah muda pucat yang dibiarkan bergelombang, kemeja yang dibiarkan terbuka hingga kancing ketiga dan rok yang cukup pendek.
Dia adalah apa yang kalia sebut sebagai gadis gal.
Make-up-nya natural dan tidak berlebihan. Dengan wajah baby face dan suaranya yang yang manis membuatnya terlihat lebih muda dari usianya yang sebenarnya.
Namanya adalah Himemiya Hiyori. Kami berteman karena ada hubungan tertentu.
"Pagi, Himemiya."
"Muu, panggil aku Hiyori! Nama belakangku itu terdengar kaku dan aku tidak suka."
"Kenapa? Nama Himemiya keren, kan?"
"Hi-yor-i~"
Dia seperti anak kecil.
Saat itu, gadis gal berkulit gelap (sepertinya namanya Kuroseya) yang melihat interaksi kami, mengalihkan pandangannya antara aku dan Himemiya, lalu dengan penuh rasa ingin tahu bertanya.
"Eh, apa-apaan ini? Hiyori dan Sanada saling mengenal?"
"Ya. Dia adalah orang yang ditakdirkan untukku."
" " Hah?" "
Apa yang dia katakan ini?
"Aki, serius?"
"Aku tidak menyangkanya. Jadi, itu kenapa tadi kau terlihat kesulitan untuk mengatakannya?"
"Tunggu, Neka, Tatsuya. Itu tidak benar. Himemiya, tolong jangan mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman."
Aku menjentikkan dahinya yang indah, yang terbelah di tengah, dan dia mengusapnya dengan senang hati sambil berkata. "Aitaa" (sakit), dengan senyum kecil.
Aku menghela napas pelan.
Kemudian, Kuroseya yang berdiri di samping kami mulai berbicara dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.
"Jadi? Kenapa Hiyori bilang Sanada itu orang yang ditakdirkan untuknya?"
"Hmm. Begini, saat hari ujian masuk, Hiyori mengalami pelecehan yang cukup parah. Aku sangat takut dan tidak bisa bersuara. Saat itulah, Sana-tan lah yang menolongku."
Hiyori menatapku dengan pandangan penuh perasaan.
Aku merasa sedikit tidak nyaman dan mengalihkan pandangan ke koridor—eh!?
"......."
Hah? Itu... Kuonji sedang menatapku dengan ekspresi marah...!?
"Riran-chan, kau terlihat lebih menakutkan dari biasanya."
"Aku tidak kok, tidak menakutkan!"
Tapi, aku tetap merasa itu cukup menakutkan.
Tapi, Himemiya yang tidak menyadari kedatangan Kuonji terus melanjutkan ceritanya.
"Waktu itu, karena ketegangan ujian, aku menangis terisak-isak. Make-up ku hancur, kepala dan hatiku berantakan, rasanya... ah, aku benar-benar ingin berhenti. Semuanya jadi terasa tidak berarti."
Memang, saat itu Himemiya menangis dengan sangat keras sampai-sampai rasanya tidak bisa diabaikan.
"Tapi, Sana-tan yang menolongku. Dia membelikanku cokelat manis dan coklat panas di toko serba ada, dan dia terus memberiku semangat hingga batas waktu pendaftaran hampir berakhir. Jadi, aku bisa ada di sini sekarang, semua karena bantuan Sana-tan."
Himemiya tersenyum ceria, dan semua orang yang ada di sana ikut terpesona dan berdecak kagum.
"Akito, ternyata kau hebat juga, ya."
"Seperti yang diharapkan dari, Akki. Kau pria yang keren."
"Hentikan, itu memalukan."
Padahal, aku tidak berniat untuk membantu dengan sengaja.
Aku menolong Himemiya karena aku tahu dia juga akan mengikuti ujian di SMA Ginkgo.
Kalo dia dari sekolah lain, mungkin aku akan menyerahkannya kepada petugas stasiun dan langsung menuju ruang ujian.
Tapi, setelah memikirkan upaya yang kami lakukan untuk bisa bersama-sama mendaftar di sekolah yang sama, aku merasa tidak bisa membiarkannya begitu saja. Itu saja alasannya.
"Itu sebabnya aku agak kecewa. Hiyori, aku benar-benar pikir kalo Sanatan adalah orang yang ditakdirkan untukmu."
"Ya, ya, Hiyori. Tidak ada yang namanya keajaiban seperti itu."
"Buuhhh."
Himemiya minum jus kemasan sambil mendapat hiburan dari teman-temannya.
Kalo Himemiya adalah orang yang ditakdirkan untukku... aku rasa aku akan dimanjakan sepanjang hidup dan menjadi orang yang tidak berguna.
"Jadi, bagaimana dengan orang yang ditakdirkan untuk Himemiya?"
"Orangnya biasa saja. Begitu muncul di pikiranku, aku langsung berpikir, oh, begitu ya."
...? Kenapa reaksinya terasa datar?
"Bagaimana dengan Sanada? Orang yang ditakdirkan untukmu seperti apa?"
"Yah, mari kita duduk dulu."
Tiba-tiba, ke-2 bahuku ditahan oleh Tatsuya, Nika memegang tangan kiriku, dan tangan kananku di pengan oleh Himemiya.
"Hei, hei, jangan lari, Akito."
"Lebih baik muntah saja, lebih mudah."
"Sanada, ayo beri tahu kami."
Bukankah orang-orang ini terlalu kampak di saat seperti ini?
Aku melirik ke arah Kuonji dengan hati-hati. Memang, dia sedang berbicara dengan Ryuya, tapi jelas sekali kalo dia sedang mendengarkan percakapan kami.
Sebenarnya, aku ingin mengatakan itu padanya.
Aku benci, sangat benci.
Dia adalah musuh bebuyutanku, dan aku ingin berteriak mengatakan kalo kami selalu bertengkar.
Tapi... di sudut hatiku, aku juga tidak ingin dia terluka...
"...Biasa saja, mungkin?"
"Kalo begitu, siapa yang lebih imut, Himemiya atau dia?"
"Sulit untuk memilih, tapi keduanya memang imut. Tapi karena pengaruh orang yang ditakdirkan... huh!?"
Aku... aku tanpa sengaja menjawab pertanyaan tentang siapa yang lebih imut!
Untungnya, Kuonji sepertinya tidak mendengarnya karena dia sedang terlalu fokus berbicara dengan Ryuguin.
"Apa? Kau bilang dia lebih imut dari Himemiya?"
"Tentu saja Himemiya lebih imut!"
"Ugh... ehhehe."
Dengan puas, Himemiya dikelilingi oleh para gadis dari kiri dan kanan.
Aku... sebaiknya tidak membahas topik ini lebih lanjut.
"Yah, aku ada tugas sebagai piket kelas, jadi aku harus pergi."
"Akito, nanti kita bicarakan lagi ya?"
"Jangan lari, Akito."
Menjengkelkan.
"Riran-chan, kenapa kau menutupi wajahmu dengan tangan?"
"Tidak, tidak ada apa-apa kok."
★★★
Setelah menyelesaikan tugas piketku, waktu untuk homeroom pagi sudah hampir tiba.
Akhirnya, aku bisa kembali ke tempat dudukku.
Entah kenapa aku merasa kalo aku membawa banyak barang dalam jumlah yang luar biasa besar hari ini.
Untuk informasi, tempat duduk diatur berdasarkan nomor absen, dan di barisan tempat dudukku ada Kuonji, Kurashiki, aku, dan Jummonji.
Tapi, karena Neka terlalu kecil dan Tatsuya terlalu besar, susunan tempat duduk pun berubah.
Sebagai pengecualian, posisi kami menjadi Jummonji, Kuonji, aku, dan Kurashiki.
Tentu saja, ini bukanlah permintaan kami, melainkan kebaikan hati wali kelas kami.
Terima kasih, sensei (dengan perasaan membunuh).
"Hah..."
"Jangan mengeluh begitu di belakang. Suasana surammu itu membuatku merasa terpengaruh."
"...Ah, ternya ada kau juga."
"Tentu saja ada!"
Jangan mulai pertengkalan pagi-pagi begini. Karena itu melelahkan.
Kuonji menoleh dengan ekspresi seolah ingin mengeluh.
Hm? Apa maksudmu? Apa kau mau berkelahi, ya?
Tapi, begitu Kuonji melihat 'benang merah takdir' yang menghubungkan kami, dia tiba-tiba menundukkan kepalanya dengan wajah merah dan langsung menghadap ke depan.
Melihat itu, Tatsuya yang ada di belakang kami terkejut dan bersuara.
"Heh... Kuonji bisa mundur juga. Jarang sekali ada kejadian seperti ini."
"Y-ya, benar juga."
"Akito, ada apa denganmu? Apa kau akhirnya kehabisan cinta?"
Seharusnya aku memang lebih baik kalo kau akhirnya kehabisan cinta.
Tapi, kalo aku bilang begitu, mereka pasti akan mulai curiga, jadi aku memilih untuk tidak mengatakannya.
"Aduh, aku jadi semakin menikmati melihat pertengkaran suami istri ini setiap hari."
" "Kami bukan suami istri! ...Hmph!" "
"Ah, pasangan yang serasi."
Aku sudah bilang, kami bukan suami istri... ah, sudahlah.
Sigh... kemarin, aku hanya menganggapnya sebagai perempuan yang aku benci dan tidak cocok denganku.
Sekarang, aku tidak bisa berhenti memikirkan Kuonji... sungguh menakutkan, 'benang merah takdir'.
Aku melihat jari manisku di tangan kiri.
Benang merah yang tidak dapat disentuh meskipun aku mencoba menyentuhnya, bahkan itu menembus materi dan terus membentang.
Benang kita hanya bisa dilihat oleh kedua orang yang terhubung.
Sungguh, apa ini sebenarnya?
"Heh, Akito~. Aku bosan, perhatikan aku~."
"Jangan tarik bajuku. Sensei akan datang dalam 5 menit lagi."
"Ada kok yang bisa kita kerjakan."
"Apa itu?"
"Orang yang menjadi takdirmu."
Cih, dia tidak lupa, ya. Atau lebih tepatnya, Kuonji bereaksi terhadap hal ini. Jangan lakukan itu, mereka akan mengetahuinya..
"Bagaimana kalo waktu makan siang? Sekarang Neka juga tidak ada."
"Oh, kau tertarik ya. Baiklah, jadi kita sepakat."
Sungguh. Apa dia benar-benar tertarik pada takdir orang lain seperti ini...?
Saat kami sedang berbicara tentang hal-hal sepele yang tidak ada hubungannya dengan benang merah, sensei masuk ke dalam kelas.
Seorang guru wanita muda yang mengenakan kacamata.
Tingginya ramping dan setiap kali dia berjalan, ekor kuda serta payudara besarnnya bergoyang saat dia berjalan.
Dia memiliki aura yang tegas dan populer di kalangan siswa, baik pria maupun wanita.
Dia adalah guru kami di kelas 5 tahun pertama, Sanjouin Maya sensei.
Begitu Sanjouin-sensei berdiri di depan kelas, dia menatap seluruh kelas dengan mata ungu tajamnya.
"....Baiklah, Ketua Suwabe, perintahmu."
"Ya. Berdiri, perhatian, salam. Selamat pagi."
" "Selamat pagi." "
Dengan perintah dari Ketua Kelas Suwabe, seluruh kelas memberikan salam.
Kelas ini, meskipun ada beberapa siswa yang terlihat seperti gal atau siswa yang terlihat nakal, tapi ternyata mereka cukup disiplin dalam hal-hal seperti ini.
"Selamat pagi. Nah, seperti yang kalian semua ketahui, hari ini adalah hari takdir. Jadi, pelajaran Bahasa Jepang pada jam pertama hari ini akan diganti, dan kita akan mempelajari tentang 'Hari Takdir' dan 'Benang Merah Takdir'."
Kelas menjadi gaduh. Tapi itu wajar. Mengenai 'Hari Takdir' dan 'Benang Merah Takdir', kami sudah mempelajarinya sejak kecil.
Meskipun rasanya agak terlambat... yah, kalau sensei sudah bilang begitu, ya harus diikuti.
Setelah homeroom selesai, pelajaran pertama pun dimulai.
Sanjouin-sensei membagikan beberapa lembaran print dan menulis di papan tulis.
Topiknya adalah, 'Tentang Hari Takdir.'
"Hari ini, 22 April, adalah Hari Takdir. Dan seharusnya kalian semua bisa melihat 'Benang Merah Takdir' di jari manis tangan kiri kalian."
Seluruh kelas melihat jari manis kiri mereka.
Benar saja, aku terhubung... dengan Kuonji.
"Sebenarnya, warna benang merah ini memiliki arti tersendiri. Silakan lihat lembaran yang ada di tangan kalian."
Oh... ternyata itu hal yang belum aku ketahui. Seperti apa ya artinya?
★★★
Warna merah (90% dari keseluruhan): Warna benang merah yang umum.
Warna peach (4-5% dari keseluruhan): Kecocokan fisik yang luar biasa. Orang yang terlintas dalam pikiran akan langsung disukai dalam sekejap.
Warna merah tua (4-5% dari keseluruhan): Kecocokan ekonomi yang luar biasa. Tidak akan ada ketidakstabilan ekonomi jika bersama dengan orang yang ditakdirkan.
Warna merah cerah (1% dari keseluruhan): Warna yang memiliki keunggulan dari warna peach dan merah tua. Kecocokan yang sangat luar biasa, bisa disebut sebagai keajaiban.
★★★
Ternyata ada begitu banyak jenis warna. Warna apa yang menghubungkan kami?
Aku memeriksa ketebalan warna benang menggunakan tabel identifikasi yang ada di lembar terpisah.
Tentu saja, itu bukan warna peach. Bukan juga warna merah. Itu lebih gelap dari merah. Bukan warna merah tua. Benang kami lebih gelap dari itu. Warna merah cerah...
Hmm? Bukankah ini lebih gelap dari warna merah cerah?
...Ah, ada tulisan kecil di bawah lembaran printout ini.
★★★
Selain itu, ada warna yang lebih gelap dari warna merah cerah, yang disebut 【Merah Cerah Tua】.
Warna ini hanya ditemukan dalam beberapa kasus di seluruh dunia, itu merupakan keajaiban dari keajaiban.
Kesesuaian fisik: Beberapa puluh kali lebih kuat daripada warna peach. Hanya dengan berinteraksi, perasaan terhadap pasangan akan sulit dihentikan.
Kesesuaian ekonomi: Beberapa puluh kali lebih kuat daripada warna merah tua. Jika memulai sebuah usaha, dipastikan akan menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.
Berikut ini adalah petunjuk identifikasi untuk warna Merah Cerah Tua↓↓↓
★★★
Oh, begitu ya... Warna tali kami hampir mendekati warna merah cerah tua.
... Tunggu, serius?
Sepertinya Kuonji juga menyadari hal itu, tubuhnya gemetar. Telinganya dan lehernya juga terlohat merah.
Ini jelas menunjukkan kalo dia sedang marah. Jadi, kalo benah kami berwarna merah cerah tua meski dia membenci ku, reaksinya seperti ini...aku jadi takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa kalian sudah mengetahui warna benag kalian? Sekarang, mari kita lihat ke arah mana tali tersebut mengarah. Di sana, akan ada orang yang merupakan takdir kalian."
Ugh... arah yang dimaksud...
Kuonji terlihat terkejut, tubuhnya bergetar, dan perlahan-lahan dia menoleh dengan ragu.
Aku mengerti dia panik karena disuruh menoleh ke arah yang ditunjukkan benag, tapi kai tidak perlu melihat kearahku, kan? Kenapa kau begitu patuh?
Matanya yang berwarna merah cerah terlihat berkaca-kaca.
Bibirnya bergerak terbata-bata, wajah dan bahkan lehernya merah padam.
Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, jelas itu bukan ekspresinya kemarahan, melainkan rasa malu, kebingungan, dan bahkan sedikit kebahagiaan yang tak terlukiskan... Mau tak mau aku melebarkan mataku.
Kenapa dia... membuat ekspresi seperti ini? Kenapa dia tidak terlihat cemberut seperti biasanya?
"Kalo begitu ayo kita berdoa ke arah ke arah yang ditunjukkan benag itu. Impikan hari dimana kalian bisa bertemu dengan orang yang jadi takdir kalian."
Maaf, aku sudah bertemu dengannya.
Tapi, aku juga sepertinya panik.
Aku seharusnya menoleh ke arah lain, tapi aku malah tetap melihat Kuonji sambil menyatukan tangan ku.
Melihat ku yang seperti itu, Kuonji pun buru-buru menyatukan tangannya dan menutup matanya rapat-rapat.
Aku dan Kuonji saling berhadapan, menutup mata, dan berdoa dengan khusyuk.
Dan pada saat yang sama, kami berpikir dalam hati.──Kenapa bisa seperti ini?
★★★
Doa selesai, dan pelajaran pun berlanjut.
"Selanjutnya, mari kita bicarakan sesuatu yang lebih realistis. Tentang 'Red String Syndrome of Fate'."
Sesuatu yang realistis?
Sensei menulis lebih lanjut di papan tulis. Itu adalah:
"Eh... bagaimana kalo, orang yang menjadi takdirmu, meninggal...?"
Bisikan Kuonji terdengar di kelas yang mendadak sunyi. Tapi, pelajaran dari Sanjouin-sensei tidak berhenti.
"Ini adalah hal yang bisa terjadi dalam kenyataan. Karena penyakit, kecelakaan, atau insiden lainnya. Pada saat itu, kita akan membahas apa yang bisa terjadi."
Udara di kelas menjadi tegang.
Orang yang sedang aku pikirkan di dalam kepala, mungkin akan berubah dalam sekejap.
Tidak ada cara untuk tidak merasa cemas.
"Saat ini, di dunia, diperkirakan sekitar 60 juta orang meninggal setiap tahunnya. Itu berarti sekitar 164 ribu orang per hari. Angka yang tidak bisa dianggap tidak mungkin. Meskipun ini adalah angka total dari semua usia, tentu saja kematian seseorang yang seumuran dengan kalian, dan lebih lagi, orang yang menjadi takdir kalian, adalah sesuatu yang sangat kecil kemungkinannya."
Kalo kita meringkas pembicaraan Sanjouin-sensei, inilah inti dari penjelasannya.
Setelah 'Red String Syndrome of Fate' terjadi di seluruh dunia, tingkat bunuh diri di kalangan anak-anak dilaporkan menurun.
Lebih lanjut, bullying dan tingkat kejahatan juga mengalami penurunan drastis.
Ada banyak alasan untuk hal ini, tapi salah satu kemungkinan yang diungkapkan adalah.
Itu terjadi karena『Cinta.』
Seseorang tidak ingin menyebabkan rasa sedih pada orang lain karena perbuatannya.
Seseorang tidak ingin dibenci karena perbuatannya yang menyakitkan orang lain.
Oleh karena itu, meskipun takdir seseorang berubah, kemungkinan besar itu hampir nol.
Tapi, ada kemungkinan itu tetap bisa berubah, yaitu melalui penyakit, kecelakaan, atau cedera.
"Kalo perubahan itu terjadi, maka takdirmu akan terhubung dengan orang yang memiliki kecocokan terbaik dalam rentang usia plus-minus 5 tahun. Kalo orang tersebut belum berusia 16 tahun, kau tidak akan terhubung dengan siapa pun hingga orang itu mencapai usia 16 tahun. Ini adalah kenyataan."
"Sensei, kenapa harus dalam rentang 5 tahun plus-minus?"
Sebuah pertanyaan meluncur dari Kuroseya, memotong penjelasan Sanjouin-sensei.
"Ini adalah berbagai pendapat, tapi teori yang paling kuat adalah berkaitan dengan harapan hidup seseorang. Kalo selisih usia terlalu besar, kemungkinan orang yang lebih tua akan meninggal lebih dulu menjadi lebih tinggi."
"Jadi, itu berarti kalian akan bersama sampai mati?"
"Itu benar."
"Wah, sangat romantis!"
Kata-kata Kuroseya membuat kegaduhan di kalangan teman sekelas (terutama para perempuan).
Selamanya bersama sampai mati, kah... Aku penasaran seperti apa Kuonji yang terus menghadap papan tulis. Bagaimana ekspresi wajahnya ya?
"Selanjutnya, kita akan membahas tentang kau nama Luth (gey). Dalam hal ini, takdir orang tersebut tetap berlaku, asalkan orang tersebut adalah takdir hidupmu meskipun berjenis kelamin sama. Meskipun objek cinta adalah sesama jenis, benag takdir tetap akan muncul."
"Maaya-chan, saya rasa ini cukup menguntungkan ya?"
"Kurasaki-kun, yang benar adalah bukan Maaya-chan, tapi Sanjouin-sensei, ya. Tapi, kau memang menyadari hal yang baik."
Sanjouin-sensei tersenyum cerah, senyum yang jarang dia tunjukkan.
"Karena itulah, itulah yang disebut dengan『Takdir』."
Dia mengungkapkan hal yang tanpa embel-embel.
★★★
"Magumagu, gokun. Begihu, begihu. Takdir itu ternyata sesuatu yang cukup kasar, ya."
Saat makan siang, Neka menggigit roti melon raksasa sambil mengulang apa yang dipelajari di kelas.
Roti melon khas di SMA Ginkgo.
Ukurannya 3 kali lipat dari roti melon biasa, dan itu begitu besar hingga bisa menutupi wajah Neka yang kecil.
Bagaimana benda sebesar itu bisa masuk ke tubuh sekecil itu? Setiap kali, itu masih saja membuatku heran.
"Ah, iya. Tidak kusangka aku bisa terperdaya oleh hal seperti ini."
"Heiheihei. Akito, dunia sekarang ada karena keberadaan ini, lho. Maaya-chan juga bilang begitu kan?"
"Yah, benar juga."
Keberadaan ini membuat dunia tetap damai, ya.
Di ujung benang merah itu, Kuonji sedang makan bersama Ryuguin.
Wajahnya tersenyum riang.
Biasanya aku tidak akan peduli, tapi sekarang, bahkan senyum itu pun terlihat begitu bersinar──.
"Hunn!"
"Aki, jangan pukul kepalamu ke meja. Kotak susuku akan jatuh."
"Neh, seharusnya kau lebih mengkhawatirkan Akuto daripada kotak susu itu."
"Ti-Tidak, aku baik-baik saja."
Aku mengusap dahiku yang terasa perih dan kembali menatap benang merah itu.
Di dunia ini, ada kebetulan, keajaiban, dan takdir yang tifak bisa dijelaskan atau dipahami dengan kosakata dan pikiran kita.
Salah satu dari hal itu adalah 'benang merah takdir' ini.
Benang merah yang penuh misteri.
Ternyata itu terhubung dengan perempuan yang seperti musuh bebuyutanku... bagaimana bisa begini.
Saat aku merenung diam-diam, keduanya muncul dengan senyum licik di wajah mereka.
"Jadi, akhirnya saatnya datang juga, Akito."
"Mm, mm. Kami tidak akan melepaskanmu lagi."
Ugh, ya begini jadinya. Sekarang, bagaimana caranya aku bisa keluar dari situasi ini dengan baik...?
"...Aku boleh bicara tentang diriku, tapi pertama-tama beri tahu aku tentang kalian berdua. Tidak adil kalo hanya aku yang bercerita, kan?"
"Hm? Ah, benar juga."
"Benar. Kalo begitu, kami akan memberitahumu."
Keduanya secara bersamaan mengarahakan punggung tangan kiri mereka padaku.
"Kami..."
"Kami..."
"Kami akan menikah."
................。
"Hah!?"
"Bo’ong~☆"
Sangat menyebalkan☆
Tatsuya tersenyum dengan ekspresi seperti orang yang mengolok-olok, lalu menggigit roti isi.
"Ngomong-ngomong, kau percaya begitu saja? Tidak mungkin ada kebetulan seperti itu."
"Te-Tentu saja... itu memang benar."
Padahal memang ada kebetulan seperti itu... semakin sulit untuk mengatakannya.
"Takdirku ada di sana. Warnanya merah biasa. Tingginya mungkin lebih tinggi. Dia pasti sangat cantik."
"Aku ada di sana, lho~. Omong-omong, warnanya merah. Tinggiku pendek, ya sepertiku ini."
Keduanya menunjuk ke arah yang benar-benar berlawanan.
Karena mereka berdua, aku sempat mengira ini benar-benar terjadi.
Tapi, setelah dipikir-pikir, mereka memang pasangan yang cocok satu sama lain.
"Jadi, Aki, bagaimana denganmu?"
"Kami sudah memberitahumu. Sekarang giliranmu untuk memberi tahu kami, kan?"
"Ugh... Apa aku harus bilang?"
" "Tentu saja." "
Kalian berdua terlalu akrab satu sama lain.
Tapi...kalo hanya soal arah dan warna, sepertinya aku bisa memberitahu mereka.
Untuk penampilannya, aku mungkin akan sedikit berbohong──.
"Sanada."
"Ah! ...Kuonji?"
Ternyata, Kuonji sudah berdiri di belakangku.
Dengan tangan terlipat, dia menatapku sambil mengarahka ibu jarinya ke arah lorong.
"Pinjam wajahmu."
Kau ini seperti Yankee dari era Showa.
[TL\n: Di Jepang, "Yankee" (ヤンキー) merujuk pada subkultur atau kelompok remaja yang dikenal karena perilaku mereka yang cenderung memberontak terhadap norma sosial dan otoritas. Meskipun kata ini berasal dari bahasa Inggris, penggunaannya di Jepang memiliki konotasi yang sedikit berbeda.]
"...Maaf, kalian ber-2. Aku harus pergi sebentar."
"Ooh."
"Akito, jangan terlalu banyak bertengkar, ya."
"Tentu saja tidak. ...Mungkin."
Aku mengikuti Kuonji keluar ke lorong. Tapi, dia tidak berhenti dan terus berjalan dengan langkah cepat.
"Hei."
"Diam dan ikuti saja."
"...Hah."
Itu membuatku ingin menghela nafas.
Meskipun kami sudah berteman sejak SMP, aku masih belum bisa mengerti dirinya dengan baik.
Tapi, sebenarnya aku tidak ingin mengerti.
...Meskipun, belakangan ini, aku sedikit, hanya sedikit, merasa ingin tahu.
Apa yang sebenarnya dipikirkan Kuonji. Apa yang dia rasakan. Apa yang ada di dalam hatinya.
Tidak perlu semuanya. Aku hanya mulai ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.
Benang merah warna merah tua yang menghubungkanku dengan tangan kirinya.
Warna yang hanya muncul beberapa kali di seluruh dunia, keajaiban dari keajaiban.
Kesesuaian fisik dan ekonomi yang sempurna. ...Bagaimana mungkin aku bisa membayangkan kecocokan antara aku dan Kuonji?
Memang, aku bisa mengakui kalk Kuonji itu cantik.
Secara umum... ya, secara umum, lho? Secara umum, Kuonji adalah seorang wanita yang sangat cantik.
Dengan kecantikan yang hampir tidak bisa dipercaya bagi orang Jepang, ditambah lagi dengan tubuh yang jauh melampaui standar remaja SMA.
Meskipun sifatnya seperti itu, entah kenapa, sekarang aku merasa bahkan sifat-sifat buruknya pun terasa menggemaskan.
Sejak benang merah ini muncul, bukan hanya sisi buruk dari Kuonji yang terbayang olehku, tapi lebih banyak hal-hal baiknya yang muncul di pikiranku.
"He, Kuonji. Kau mau pergi sejauh mana sih?"
"........."
"Hei, jangan abaikan aku."
"........."
Aku sangat esal. Dia ini selalu membuatku jengkel.
"Hei."
Aku mencoba menghentikan langkah Kuonji yang terus berjalan, dengan meraih bahunya. Tapi,
"Ah!"
Seolah tak ingin disentuh, dengan cepat, Kuonji berjongkok dan bergerak maju seolah menghindari sentuhanku, dia melakukan gerakan seperti seorang petarung yang terampil.
Meskipun, sejujurnya, aku belum pernah melihat petarung seperti itu.
Kuonji menjauh dariku.
Apa dia begitu tidak ingin aku menyentuhnya...? Sebentar, aku merasa sedikit kecewa. Tapi, segera setelah dia berdiri, wajah Kuonji memerah dan ekspresinya sulit dijelaskan. Sepertinya dia sangat marah.
...Meskipun kami terhubung dengan benang merah, sepertinya aku memang seharusnya tidak langsung mencoba menyentuhnya.
Tapi aku tidak menyangka dia akan menghindar sejauh ini.
Aku memang menganggap dia musuh bebuyutanku, tapi sepertinya dia juga memiliki pemikiran yang sama tentangku.
"A-a... Maaf. Tindakan yang gegabah."
"Ti-tidak... eh, u..."
...? Apa maksudnya dia?
"Ka-kalo kau menyentuhku sekarang..."
"Kalo aku meyentuhmu sekarang...?"
"Tangan... aku tidak akan bisa menahan diri."
"Hentikan, dasar wanita yang kejam!"
Kekerasan yang begitu berlebihan, bahkan aku pun terkejut.
Mungkin menyadari betapa buruknya kata-katanya, Kuonji buru-buru berusaha menjelaskan.
"Ti-tidak! Maksudku, kalo tangan ini bergerak, itu... tubuhku akan bergerak sebelum aku sempat berpikir, atau aku tidak bisa menahan perasaanku...!"
"...Ehm... apa yang ingin kau katakan?"
"Ti-tidak ada apa-apa! Pokoknya, ikutlah."
Kuonji berjalan cepat, dan aku mengikuti di belakangnya.
Tapi, apa dia benar-benar membenciku sampai tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya bekerja?
Mungkin karena kami terhubung dengan 'benang merah takdir', jadi bukan hal yang mudah baginya untuk menyukai ku.
Mungkin itu memang hal yang wajar untuk Kuonji.
Kami menaiki tangga dan sampai di depan pintu yang mengarah ke atap.
Tentu saja, pintu itu terkunci rapat dengan gembok dan rantai, jadi kami tidak bisa keluar.
Tapi, karena tidak ada yang bisa melihat dari bawah, tempat ini benar-benar sempurna untuk pertemuan rahasia.
"Sanada, angkat tangan kirimu."
"Begini, kan?"
Biasanya aku akan bertanya, "Kenapa?", tapi entah kenapa kali ini aku menuruti perintahnya.
Apa ini, sepertinya ini sudah seperti kutukan.
Kuonji juga mengangkat tangan kirinya.
Di sana, benang merah yang sudah sering kulihat, berwarna merah tua, masih terhubung.
"....Memang terhubung, ya..."
"Ya. Apa kau membawaku ke sini hanya untuk memastikan itu?"
"Tentu saja tidak. ...Hei, Sanada. Apa kau sudah memberitahukan hal ini pada seseorang?"
Kuonji bertanya sambil menggerakkan jarinya dengan gelisah dan menatap ke atas dengan tatapan sedikit malu.
Aku merasa sedikit terguncang oleh sisi imutnya yang jarang dia tunjukkan.
Apa ini, dia terlalu imut.
Ah, tidak boleh seperti ini. Aku harus tetap tenang.
"Belum, aku belum mengatakan apa-apa. Tatsuya, Neka, dan adikku, Kotono, memang semuanya penasaran, tapi mereka belum tahu."
"Aku juga sering ditanyai oleh Rion. Tapi aku belum memberinya jawaban."
Ah, iya juga Kuonji dan Ryuguin sangat dekat, wajar saja kalo dia penasaran.
"Jadi, ada yang ingin kutanyakan... apa menurutmu kita harus memberitahukan hal ini pada orang lain?"
"...Aku rasa, sebaiknya tidak usah."
"Kenapa begitu?"
"Benang kita berwarna merah tua, yang hanya muncul dalam beberapa kasus langka di dunia. Dan kita berada di sekolah yang sama, di kelas yang sama. Kalo ini sampai ketahuan, media dan peneliti akan datang berbondong-bondong pada kita, dan kehidupan kita tidak akan pernah bisa kembali normal seperti sekarang."
Mendengar kata-kataku, Kuonji sedikit merona.
"Jadi... apa kau berpikir kalk aku menikmati kehidupan seperti ini?"
"Ya, mungkin."
Setidaknya, hidup yang bebas dari media, peneliti, dan stalker jauh lebih menyenangkan daripada kalo semua itu datang menghampiri.
Mendengar jawabanku, Kuonji terkejut dan langsung membelakangi ku.
"Jadi... lebih baik kalo aku bersamamu..."
"Apa yang barudan kau katakan?"
"Ah, tidak ada apa-apa."
Anak aneh. Ah, sebenarnya dia selalu seperti itu.
"Dan satu lagi."
"Apa itu?"
"Kalo mereka tahu, itu akan 120 % jadi merepotkan."
"Aku setuju dengan itu."
Tanpa ragu, kami langsung sepakat.
"Baiklah, aku mengerti. Kita tidak akan memberitahukan apa-apa tentang kita kepada siapa pun. Kau juga, tidak akan memberitahukan tentang kita kepada siapa pun, kan?"
"Ya, tidak masalah."
Kali bisa menghindari mengungkapkan hal ini, lebih baik begitu.
"Apa pembicaraannya sudah selesai? Kalo begitu, aku..."
"Tunggu sebentar."
Saat aku hendak turun tangga, Kuonji dengan terburu-buru menghentikanku.
"Ada apa?"
"Ah, tidak, maksudku... Lihat, meskipun kita selalu bilang begitu, kita ini 'orang yang ditakdirkan' kan?"
Kuonji menyatukan tangannya di belakang punggungnya dan dia tersipu.
Melihat ekspresinya membuatku juga merasa malu.
"Ya, kita terhubung oleh 'benang merah takdir'."
"Lagi pula, ini adalah benang merah tua yang hanya ditemukan dalam beberapa kasus langka di dunia. Dikatakan kalo kecocokan fisik kita beberapa puluh kali lebih baik dibandingkan dengan warna peach, kan?"
...Apa yang sebenarnya ingin dia katakan?
"Jadi, maksudku... apa kau ingin mencobanya...?"
"Hah? Mencoba... coba apa? Maksudmu kecocokan fisik!? Di sini!?"
"Bodoh! Bukan itu yang aku maksud!"
Jujur saja, aku sempat berpikir dia ini aneh, tapi ternyata dia bukan seperti yang kupikirkan.
"Penelitian masih belum berkembang dengan baik, dan meskipun aku mencari di internet, tidak ada yang menjelaskan apa yang akan terjadi kalo kita saling menyentuh... jadi, ini hanya percobaan, percobaan saja."
"Ah, jadi maksudmu mencoba apakah kecocokan kita benar-benar lebih baik beberapa puluh kali lipat dibandingkan dengan yang lain kalo kita saling menyentuh satu sama lain?"
"Ya, itu dia."
Dia tetap begitu patuh pada prinsipnya.
Tapi memang, aku juga penasaran apa yang akan terjadi kalo kami saling menyentuh dalam kondisi seperti ini.
Kalo aku yang mengusulkan, rasanya itu bisa jadi pelecehan seksual... jadi, ini kesempatan, kan?
"Ah, kau diam saja. Aku yang akan menyentuhmu... kalo sakit, beri tahu aku, ya."
"Koo caramu mengatankanya terdengar... erotis."
"Eh...berisik!"
Setelah beberapa kali menarik napas dalam-dalam, dia mendekat.
Wajahnya menjadi merah padam seolah dia sangat gugup.
Bibirnya tertutup rapat, dan dia tampak malu.
...Saat aku melihaynya lebih dekat, bulu matanya panjang. Matanya juga sangat indah, membuatku hampir tenggelam dalam tatapannya.
"Ugh... jangan lihat aku seperti itu, Baka."
"Ma... maaf."
Sial, aku jadi kehilangan fokus.
Kelembutan seperti ini tidak sesuai dengan dirinya, dan aku yang merasa gugup di hadapannya juga sepertinya tidak cocok dengan diriku yang biasanya.
Tapi, berada di ruang yang sepi berdua denganya membuat hatiku senang, dan jantungku berdebar kencang.
Sungguh luar biasa, 'benang merah takdir' ini.
"Baikalh kalo begitu aku akan menyentuh tanganmu, jadi arahkan telapak tanganmu ke sini."
"Ah... oke..."
Seperti yang dia katakan, aku mengangkat tangan kiriku.
Dia juga mengulurkan tangan kirinya ke arahku.
...Tangannya bergetar. Sepertinya dia juga sangat gugup.
"Apa kau baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik saja..."
Meskipun sepertinya tidak begitu.
Kuonji menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan perlahan dia mengulurkan tangannya dengan ekspresi penuh tekad di wajahnya.
10 cm lagi. 5 cm... 4, 3, 2, 1...
Pitt!
" "Eh!!" "
Bam──!
Tiba-tiba, secara refleks, aku melompat mundur seolah ingin lari dari Kuonji.
Begitu juga dengan Kuonji, dia mengambil jarak dariku, persis seperti yang aku lakukan.
Seolah-olah listrik menyambar dari ujung kepala hingga ujung kaki, perasaan kebahagiaan yang luar biasa dan kejutan meresap ke seluruh tubuhku.
Jantungku masih berdetak kencang.
Aku kesulitan mengatur detak jantungku.
Bahkan saat berolahraga, detak jantungku tidak pernah sesering ini.
Dia juga menempelkan punggungnya ke dinding di sisi berlawanan dan duduk, seolah dia kehilangan kekuatannya.
Mungkin dia merasakan sensasi yang sama.
Kalo kami kami tidak menjaga jarak... mungkin aku akan...
"!! Ma-maaf, aku pergi dulu..."
"U...u-huh..."
Tinggal lebih lama dengannya bisa berisiko. ...Tapi sebenarnya, tidak ada yang salah.
Kami terikat dengan benang merah takdir, dan seharusnya kami bisa terus berinteraksi lebih lama.
Tapi, hanya dengan merasakan kulitnya di telapak tanganku, kehangatannya...keberadaannya, membuatku merasa begitu bahagia dan jantungku berdebar kencang.
Aku menuruni tangga, dan ketika aku tidak lagi melihat sosok Kuonji, aki mendongak ke atas.
Kuonji... Tidak...
"...Riran."
Buk──!
...Haha, hanya dengan menyebut namanya saja, jantungku langsung berdetak kencang.
Kalo kami benar-benar menjadi pasangan dan selalu bersama... apa yang akan terjadi ya?
◆POV RIRAN◆
Ini buruk... buruk sekali, sangat buruk!
Aku sudah menyentuhnya! Aku sudah menyentuhnya!
Ternyata rasanya lebih kasar dari yang aku kira! Ternyata lebih besar dari yang aku kira! Ternyata dia terlihat lebih lembut dari yang aku kira!
"Ha..."
Sebelum benang itu muncul, pernah ada satu kali ketika dia tertidur di kelas, aku sedikit menyentuhnya.
Walaupun hanya sedikit, itu sudah cukup memberikan kebahagiaan... tapi sekarang berbeda. Ini bukan sekadar kebahagiaan.
Ini adalah puncak kebahagiaan. Baru kali ini aku merasa begitu bahagia hingga hampir terjatuh.
Ketika aku memeluk tubuhku dan mengingat sensasi telapak tanganku, tubuhku langsung terasa panas.
Aku menempelkan jariku pada bibirku, dan tanpa berniat untuk memberitahukan siapa pun, aku berbisik.
"...Akito."
Buku──.
"...Akito... Akito, Akito...!"
Dengan hanya menyebut namanya saja, jantungku langsung berdetak kencang dan aku merasa seperti hendak terbang ke angkasa.
"...Suatu saat, aku ingin dipanggil dengan nama depanku..."
Dengan harapan yang lembut itu, aku duduk hingga rasa panas di pipiku mulai mereda.
◆POV HIYORI◆
"Ah... Sana-tan~"
"Hiyorin, kenapa wajahnya terlihat lesu?"
"Lesu-gesu~"
"Hiyorin yang lesu juga tetap sangat imut!"
Teman dekatku yang aku kenal di SMA, Kuro-tan (Kuroseya-chan) dan Mit-tan (Midorikawa-chan), mengelus kepalaku.
Ah, mereka baik sekali. Teman sejati memang yang terbaik.
Tapi... aku tidak bisa menghilangkan perasaan kalk yang mengelus kepalaku adalah Sana-tan.
Tuhan sungguh kejam setelah mempertemukanku dengannya dalam pertemuan yang begitu dramatis dan luar biasa, dan kami malah tidak terhubung melalui 'benang merah takdir'....
Huf... meskipun aku tidak bisa terus-menerus merasa terpuruk, tapi aku tidak bisa menghindari perasaan ini.
Saat aku meneguk smoothie sayuran, Mit-tan membuka mulutnya dan berkata, "Tapi,"
"Aku juga pernah suka seseorang, tapi setelah melihat benang merah itu, aku merasa hanya orang yang ditakdirkanlah yang bisa aku pikirkan. Tapi Hiyorin, kau masih suka Sanada kan? Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku suka, itu saja."
Aku menundukkan kepalaku di meja dan mencuri pandang ke arah Sana-tan.
Hah~. Tampan sekali... hanya dengan memandangnya, aku bisa makan 3 piring nasi dengan mudah. Aku suka.
"...Oh? Aneh, Rira-chan mendekati Sana-tan untuk berbicara."
Hal ini memang jarang terjadi, tapi aku tidak terkejut.
Karena aku bisa tahu dengan jelas kalo Rira-chan menyukai Sana-tan hanya dengan melihatnya.
Sungguh, aku tidak mengerti kenapa orang lain tidak bisa menyadari hal itu.
Meski dia secara terang-terangan menunjukkan aura suka yang kuat... cara dia berinteraksi dengan Sana-tan dengan sikap yang agak terkesan melawan juga sangat jelas terlihat.
Walaupun begitu, hal itu malah membuat Rira-chan terlihat lebih menggemaskan.
Tapi, aku mengerti, aku benar-benar mengerti perasaan Rira-chan.
Berbicara dengan orang yang kita sukai memang bisa membuat kita merasa cemas.
Aku benar-benar mengerti. Bahkan aku pun merasa cemas kalo aku tidak menunjukkan sisi ceriaku saat berbicara dengan Sana-tan.
Sepertinya ada kesamaan dalam perasaan yang kita miliki terhadap orang yang sama.
Aura suka yang keluar dari tubuh Rira-chan, mata penuh gairah saat dia melihat Sana-tan, semua itu bisa kutangkap dengan jelas.
Tapi, dari luar, mereka sering terlihat seperti sedang bertengkar.
"Eh? Apa yang terjadi? Apa mereka berh2 sedang bertengkar lagi?"
"Sepertinya mereka ber-2 tidak pernah bosan bertengkar, ya?"
Nyatanya, Kuro-tan dan Mit-tan sepertinya mengira mereka sedang bertengkar.
Memang, meskipun Rira-chan begitu, Sana-tan terlihat benar-benar tidak menyukai Rira-chan...
Rira-chan seharusnya bisa lebih jujur dengan perasaannya.
Tiba-tiba, muncul sebuah pertanyaan dalam pikiranku.
Kenapa, selain Hiyori, Rira-chan masih menyukai Sana-tan? Adakah sesuatu yang membuat hal ini berbeda?
Mungkin, kalo seseorang benar-benar mencintai seseorang dari hati, apa efek benang merah tidak berlaku untuknya?
Itu terdengar sangat romantis. Baik Hiyori maupun Rira-chan, kami berdua memiliki masalah terlalu suka dengan Sana-tan.
Aku melihat Rira-chan yang pergi bersama Sana-tan meninggalkan ruang kelas. Ah, oasis Hiyori kini pergi...
"......Hm? Apa itu?"
Eh... eh?
"Hiyori, ada apa?"
"Apa kau datang tiba-tiba? Ada perlengkapan sanitasi wanita?"
"Itu bukan masalahnya!"
Mit-tan, benar-benar kurang peka!
"Lalu, ada apa?"
"......Ehm, tidak ada apa-apa kok~"
Apa ya?
Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi... Sana-tan sepertinya terlihat sedikit lebih senang.
Biasanya, dia terlihat tidak begitu suka, tapi kali ini, ketika Rira-chan mengajaknya keluar ke koridor, dia malah tersenyum...?
Mmm?


