Kamu saat ini sedang membaca Inkya no ore ga Sekigae de Skyubishojo ni kakomaretara Himitsu no kankei ga hajimatta volume 3, chapter 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
HANYA MEREKA YANG MEMILIKI TEKAD UNTUK DILIHAT SAAT MELAKUKAN COSPLAY YANG DAPAT MELIHAT COSPLAY
"Kalo kau tidak ingin rahasiamu dibongkar, Ryota-senpai, jadilah anjing kecilku."
"Na..."
Dalam perjalanan pulang dari hari ketika aku mendukung Rui.
Aku, yang seharusnya sedang dalam perjalanan pulang, menerima ancaman misterius dari junior yang misterius, Himesaki Nozomi, dan bahkan diminta permintaan yang misterius.
Sepertinya dia berhasil mendapatkan informasi───────yang cenderung 'palsu' dari kebenarannya───────kalo Rui dan aku memiliki hubungan yang cukup intim di suatu tempat, dan dia menggunakannya sebagai bahan untuk mengancamku.
Masih ada kemungkinan itu hanya gertakan, jadi haruskah aku melihat situasinya sambil melontarkan hal itu padanya?
"Jadi, bagaimana? Apakah kau akan patuh dan menjadi anjing kecilku?"
"Kalo aku mengorbankan diriku dan menjadi yang kau sebut anjing kecil...apa kau tidak akan membocorkannya?"
"Ya, aku janji♡ Ini adalah give and take antara harga diri Ryōta-senpai dan informasiku. Ayo Ryōta-senpai, jadilah anjing kecilku───────—"
"───────Tapi aku menolak!"
Aku mengatakannya dengan wajah sombong yang tegas.
Aku memancingnya hanya karena ingin mengatakan hal ini.
"Ke-kenapa?! Yang terpojok adalah kau!"
"Aku tidak punya hubungan yang mencurigakan dengan Rui. Aku tidak tahu dari mana kau mengambil informasi itu, tapi kalo tidak ada bukti, itu hanya rumor biasa."
"Kalo bukti... Tidak, sayangnya aku berada di luar sepanjang hari ini, jadi baterainya habis."
"Baterai?"
"Akan ada saatnya kita membicarakannya lagi. Saat itu, kau harus menjadi anjing kecilku, oke? Ryota-senpai♡"
Setelah mengatakan itu, Himesaki membiarkan rambut merahnya yang lembut tertiup oleh angin selatan, dan dengan sigap berlari kencang di jalan yang diwarnai *akaneiro* (merah senja).
"Apa-apaan Kouhai itu."
Kalo dia benar-benar punya bukti dan hanya ingin menyebarkan rumor buruk tentang Rui, tidak ada gunanya mengancamku.
Jadi, apa sebenarnya tujuannya...?
Saat aku berdiri dan berpikir dalam perjalanan pulang, Hp-ku berdering.
Itu Yuria.
Kami baru saja berpisah di SMA tadi, jangan-jangan dia sudah merindukanku?
Baiklah, ayo kita lupakan lelucon menyedihkan yang terlalu percaya diri itu.
"Moshi-moshi, ada apa Yuria?"
『Ah, Ryōta? Apa kau baik-baik saja sekarang?』
"Ya. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
『Sebenarnya, besok aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu.』
"Tunjukkan padaku? Jangan-jangan yang berawal dari 'O' dan berakhir dengan 'I'?」**
『Uwa, ini mungkin yang pertama kalinya aku ingin memukul seseorang melalui telepon.』
Yuria terdengar seperti akan marah besar, jadi aku berhenti bercanda.
『Kau ingat kau pernah bilang ingin melihat maid-fuku (seragam maid) yang rencananya akan aku pakai di festival budaya tahun lalu?』
"Eh! Boleh, Yuria!"
Maid-fuku yang menjadi insiden tahun lalu karena paha Yuria terlalu montok.
Aku ingat dia pernah mengatakan kalo dia akan menunjukkannya padaku suatu hari nanti, tapi aku tidak menyangka hari itu akan tiba.
『Maa, ada banyak hal lain yang ingin kulihat───────bukan, yang ingin aku tunjukkan pada Ryota... Pokoknya, besok kita akan mengadakan sesi foto cosplay. Apa kau ada waktu?』
Sesi foto cosplay berdua dengan Yuria, hanya kami berdua!
Mengatakan hal itu dengan inisiatifnya sendiri, Yuria ini juga cukup cabul, ya.
"Tentu saja aku punya waktu! Besok aku pada dasarnya bebas, paling besok cuma ada pertandingan nasional sepak takraw ibuku."
『Ya, bukankah itu urusan yang sangat penting? Kau akan pergi mendukungnya, kan?』
"Dulu aku sering menontonnya, tapi akhir-akhir ini dia bilang jangan datang karena dia malu."
『Apa dia seorang gadis remaja?』
Dia memang seorang gadis remaja...gadis yang mendekati usia 40-an.
『Maa, pokoknya, besok pagi temui aku di rumahku. Aku akan mengirimkan alamatnya nanti.』
"Ou, sampai jumpa besok."
Teleponku dengan Yuria berakhir.
"Yabee, aku jadi bersemangat."
Dengan topik foto cosplay bersama Yuria, aku benar-benar melupakan Himesaki yang ada bersamaku barusan.
★★★
───────Keesokan harinya.
Kami seharusnya bertemu jam 9 pagi, jadi sambil mengucek mataku yang mengantuk sambil menuju ke rumah Yuria untuk melihat dengan saksama wujud maid-fuku yang dikabarkan terlalu erotis hingga menjadi insiden di festival budaya tahun lalu.
Kalo dipikir-pikir, hampir setiap hari selama liburan musim panas ini aku mengikuti perintah ketiga gadis cantik itu.
Tapi khusus untuk hari ini, kebetulan Airi sedang bekerja paruh waktu, dan Rui masih berada di Kanto untuk Inter-High.
Dengan kata lain, kali ini, tidak akan ada yang menyadari kalau aku sendirian dengan Yuria, dan tidak akan ada yang mengeluh.
Meskipun saat aku menghabiskan malam dengan Airi, karena kebocoran informasi dari Airi, foto kami berdua berkeringat di atas futon (Battle●Room!) telah sampai ke tangan Rui... Tapi dengan Yuria, aku tidak perlu khawatir soal itu, dan karena Airi sedang bekerja dan Rui berada di Kanto, tidak ada kekhawatiran untuk berpapasan sama sekali.
Inilah yang sebenarnya mereka maksud ketika mereka berkata 'Saat iblis sedang tidak ada di tempat'....
Tapi ini pertama kalinya dalam hidupku, aku yang seorang pria inkya diundang ke rumah seorang gadis.
Memang saat SMP, aku hampir setiap hari bermain di kamarku bersama Tanaka, tapi itu mudah karena itu adalah 'sisi home' yaitu kamarku.
Tapi begitu aku harus masuk ke kamar seorang gadis, itu sepenuhnya 'sisi away'.
[TL\n: maksudnya gini 'Sisi home' = situasi di wilayah sendiri, tempat yang nyaman dan dikenal. 'Sisi away' = wilayah orang lain, terutama wilayah yang terasa asing atau menegangkan.]
Ada kemungkinan besar aku akan menemukan 'sesuatu' milik lawan jenis (seperti kotak misterius di toilet, dll.) dalam lingkungan yang tidak kukenal.
Yah, di kamarku sendiri, Yuria sudah menemukan 'kondom'... jadi kalo ada sesuatu di kamar Yuria, kami impas.
Sebelum pergi ke rumah Yuria, aku membeli sekotak kue panggang di minimarket terdekat sebagai oleh-oleh, lalu memeriksa alamat yang dia kirim di LINE.
"Eeh, untuk sampai ke rumah Yuria dari sini...hmm?"
Ngomong-ngomong, kalo aku lihat baik-baik alamat ini... Bukankah ini kompleks perumahan mewah?
★★★
Saat aku tiba di rumah Yuria, rumah itu dikelilingi pagar besi tinggi klasik.
Rumahnya bergaya Barat yang panjang dan ramping dengan dinding luar putih dan atap hitam itu bahkan memiliki garasi yang mewah.
Di halaman rumput yang terlihat dari celah pagar, seekan anjing besar sedang tertidur.
"Ho, benarkah ini kompleks perumahan yang sama di Kota Natsuhama?"
"Ryota───────, kau akhirnya datang. Selamat pagi."
Saat aku terperangah di depan gerbang, terintimidasi oleh ukuran dan kemewahan rumah itu, Yuria, yang sedang menyiram rumput di halaman, menghentikan air dan berjalan mendekat.
"Se-se...selalmat pagi."
Yuria muncul dengan gaya dosukebe-gyaru (gadis cabul) yang mungkin muncul di film-film Barat, hotpants denim dengan atasan putih yang memperlihatkan pusarnya.
Sobekan pada denimnya terlihat semakin robek oleh paha besarnya yang luar biasa.
Kalo sobekannya terlalu parah dan itu tidak bisa digunakan lagi, denim itu...akan kubeli dengan harga berapa pun yang dia minta.
"Hmm? Ada apa?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Lebih dari itu, ini. Maaf ini cuma benda sepele, tapi kalo kau mau, untuk keluargamu."
"Eh, sungguh? Terima kasih sudah repot-repot, Ryota."
Setelah melihat rumah Yuria ini, kata 'maaf ini cuma benda sepele' benar-benar terasa seperti aku membawa 'benda sepele' dalam arti yang sebenarnya.
Haruskah aku membeli kue bermerek atau semacamnya...?
Tapi, berdasarkan waktu berkumpulnya, tidak ada toko yang buka, shi.
"Ryota, meskipun kau biasanya do-hentai (sangat mesum) , dalam hal seperti ini kau sangat bertanggung jawab, nee───────. Padahal kau mesum."
"Jangan panggil aku mesum berkali-kali."
"Tentu saja, karena itu fakta kalo kau mesum. Faktanya, kau terus-terusan melihat hotpants-ku sejak tadi."
Yuria mengangkat daguku dengan satu tangannya, memaksaku untuk menaikkan pandanganku.
Memang aku tidak menyangkal kalo aku sedang 'berbicara' dengan paha besar Yuria...
"Sungguh, aneh kalo anjing di rumah kami lebih pintar darimu."
"Apa anjing besar itu pintar?"
"Ya, begitulah)... Ah, benar. Kalo kau bisa lebih pintar dari anak itu, aku bisa saja memelihara Ryōta?"
"Sungguh!? Boleh!"
"Uwa... Seriusan antusias, itu benar-benar menjijikkan."
Yuria tertawa sedikit menjauh, sambil menggenggam tanganku.
"Lagi pula, bagaimana kalo kita masuk? Panas sekali."
"O-ou...tapi tunggu sebentar. Aku belum siap untuk menyapa orang tuamu."
"Kita tidak datang untuk melaporkan pertunangan atau semacamnya... Lagipula, orang tuaku sedang pergi wisata ke luar negeri sekarang."
"Wisata ke luar negeri?"
"Yup. Orang tuaku punya hobi wisata ke luar negeri. Aku memilih untuk tinggal di rumah tahun ini karena aku ingin bermain dengan semua orang, tapi..."
"He-hee..."
Hobi wisata ke luar negeri... Orang kaya memang luar biasa, ya.
Sangat berbeda dengan ibuku yang bermain sepak takraw 8 kali seminggu, dan ayahku yang hanya tertarik untuk menabung.
Wisata ke luar negeri adalah hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan rumahku.
"Jadi, hanya ada aku di rumah, jadi, kenapa kau tidak santai saja?"
Maksudnya...sekarang hanya ada aku dan Yuria, hanya kami berduaan?
Memikirkan itu membuatku semakin tegang (bahkan di bagian bawah tubuhku).
Berduaan dan aku boleh memotret cosplay maid Yuria dari atas ke bawah sepuasnya...terlalu erotis.
"Kalo begitu, permisi. Uo... besar sekali."
Tentu saja, ini bukan komentar tentang paha Yuria.
Pintu masuk rumah Yuria memiliki luas yang tidak seperti pintu masuk rumah di Jepang, dengan dinding putih bersih dan lantai marmer yang licin... Dan yang paling menarik perhatianku adalah patung gips setinggi manusia yang sangat besar, tepat di dekat pintu masuk.
Seorang pria telanjang berdiri bersandar pada benda misterius, dan yang langsung menarik perhatian adalah komtol yang besar di bagian bawah tubuhnya.
Ini pertama kalinya ada rumah yang memiliki ko●to● tepat di pintu masuk...
"Ini, apa ini sesuatu yang terkenal?"
"Ya, aku juga tidak begitu tahu, tapi... Papaku selalu membeli yang seperti ini setiap kali dia pergi wisata ke luar negeri. Aku rasa itu tidak terlalu berharga, hanya besar saja tanpa guna, dan kupikir, ah, mau coba kau hancurkan?"
"Mana bisa aku melakukan itu! Itu pasti bukan jumlah yang bisa kubayar, kalo itu sampai terjadi, aku harus melakukan dogeza telanjang!"
"Ahaha, itu benar-benar lucu. Aku ingin sekali melihat dogeza telanjang Ryota."
Dasar orang inj, menganggap ini lucu...
"Yah, meskipun patung gips itu jelas mustahil, kalo seandainya kau menghancurkan barang di rumahku, semuanya akan beres kalo Ryota 'Datang ke rumah ini'?"
"Ou, aku, ke rumah Yuria...? Maksudmu aku akan diampuni kalau aku tinggal di kandang anjing itu?"
"Ya, bagaimana bisa otakmu berpikir seperti itu? Kau ini terlalu Do-M... Yah, baka Ryota boleh di kandang anjing saja."
[TL\n: Wkwk padahal si Yuria udah kasih kode jeras tapi si Ryota gak peka.]
Yuria berkata dengan nada jengkel dan langsung berjalan mendahuluiku.
Aku mengikutinya dengan canggung, sambil waspada supaya tidak merusak apa pun.
"Tapi ayah Yuria punya selera yang bagus, ya. Kalo aku melihat ko●to● sebesar itu setiap hari, yang bahkan membuat pria terperangah, kan? Rasanya aku juga bisa jadi besar."
Patung gips telanjang di pintu masuk rumah... Ayahnya memang punya selera yang unik, tapi Yuria sendiri juga menginginkan figur dari anime larut malam 『Nyu-Kyun』 (Edisi, 'Payudara' Kyun) di mana banyak gadis cantik telanjang... Ternyata buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya.
"Omong-omong, apakah itu besar? Aku tidak pernah melihat kont... , secara langsung, jadi aku tidak tahu."
"Eh, kau belum pernah melihat ko●to●!? Kukira Yuria pasti pernah melihat ko●to●!"
"Aa───────mou! Ko●to●, ko●to● kau sangat berisik! Aku belum pernah melihat ko●to●! Sudah kubilang sebelumnya aku ini masih perawan. !"
Ah, begitu.
Yuria, si gyaru No. 1 di SMA, meskipun dari penampilannya terlihat seperti suka bermain-main, dia memang berteman dengan gyaru sejak SMP, tapi dia bilang dia tidak punya pengalaman dengan pria.
"Tapi kau pernah lihat A●, kan? Waktu itu aku pernah menonton 'Doki~tsu! Moto guradoru-darake no suiei taikai! Porori shika nai yo?' (Doki! Kontes Renang Penuh Mantan Gravure Idol! Hanya Ada Ketelanjangan?) Aku rasa ada 5 atau 6 yang muncul dengan mudah."
"Ah, kalo itu, pada dasarnya ada sensor... Jadi ukuran atau apa pun, jadi aku tidak tahu banyak."
Yuria mengatakannya dengan malu hingga telinganya memerah.
Eeeeeeeeeeh.
"Ngo-ngomong-ngomong... Ryōta apa punyamu besar?"
"H-ha? A-Apa-apaan pertanyaan tiba-tiba itu?"
Aku menahan diri untuk tidak mengatakan 'hanya karena ko●to●' di dalam hati, karena aku merasa Yuria akan memukulku.
"Bagaimana ya...maksudku, aku ingin tahu sebagai referensi."
"Referensi untuk apa?"
"Sudahlah, beri tahu aku. Kau sudah menyentuh pahaku begitu banyak, tidak adil kalo kau tidak mau memberitahu tentang dirimu sendiri, kan?"
"Eh, ee...?"
Yah, kalo hanya dengan memberitahu ukuran ko●to● aku bisa menyentuh paha Yuria sepuasnya, itu seperti memancing kaviar dengan kaleng kosong.
"Pu-punyaku...yah? Aku rasa ukurannya lebih besar dari ukuran umum. Mungkin."
"Begitukah? Tapi saat kita pergi ke kolam renang, di ruang ganti Tanaka bilang kalo ukuran Ryōta itu seperti kulit kacang edamame."
"...H-ha?"
Ta... Tana-kaaaaa!!
Sialan kau! Berbohong lagi!!
"Semua yang dikatakan Tanaka itu bohon! Mana mungkin dia tahu ukuran ko●to● ku!"
"Be-begitukah? Tapi, tapi, Rui juga bilang 'Benar' dalam percakapan itu, jadi kupikir Tanaka dan Rui mendengarnya darimu."
Kenapa Rui juga ikut-ikutan bicara seolah dia tahu!?
Aku tidak pernah membicarakan hal itu sekali pun, apalagi menunjukkan padanya!?
"Mana mungkin aku bicara pada gadis, 'ukuran ko●to●ku seperti kulit kacang edamame'! Itu semua bohong! Sebenarnya, kalian semua bicara tentang apa sih!?"
"Yah, bagaimana ya... itu terjadi begitu saja. Jadi seperti pembicaraan mesum."
Aku tidak begitu mengerti, apa para gadis memang seperti itu...? Tidak, ini pasti salah Tanaka.
Sepertinya dia benar-benar butuh sedikit pelajaran.
"Haa*. Aku khawatir tentang pembicaraan itu, jadi aku lega itu bohong."
"Apa kau khawatir? Ukuran ko●to●ku?"
[TL\n: ya jelas dia khawatir lah, ntar kalo dia ngentot ama lu dia bakalan gak terpuaskan karena ukuran yg kecil wkwkw.]
"Ah...ya! Bu-bukan! Bukan ukuran ko●to● Ryōta, tapi kenapa kedua orang itu bisa tahu!"
Pada akhirnya, tetap ko●to●ku juga, kan.
Aku mungkin baik-baik saja, tapi Yuria ternyata juga punya sisi aneh.
Saat kami asyik mengobrol, kami sudah sampai di depan kamar Yuria.
"Ini kamarku. Agak berantakan, tapi duduklah sesukamu."
"O-ossu. Permisi masuk!"
"Ada apa dengan jawaban anggota klub junior itu."
Aku melangkah masuk ke kamar Yuria setelah dia mempersilakan.
Untukku yang baru pertama kali masuk ke kamar perempuan, sulit membayangkan seperti apa kamar perempuan itu, tapi yang terbentang di sana adalah 'dunia lain' bagiku, seolah-olah aku pindah ke dunia fantasi.
Di ruangan yang luas dan berkedalaman, dikelilingi dinding berwarna pink muda dan putih, berjejer furnitur fancy dan boneka-boneka imut di sana-sini.
Tirai merah dan putih digantung di dekat jendela, dan di bawah meja komputer terdapat karpet bermotif macan tutul berwarna pink dan kuning.
Selain itu, di sudut ruangan terdapat meja rias putih yang terlihat mewah, dan di rak buku besar yang menyatu dengan dinding, hampir ada 100 majalah mode berbagai edisi tertata secara kronologis.
Meskipun Yuria sendiri mengatakan kamarnya 'berantakan', lantainya sama sekali tidak berantakan, dan semuanya tertata rapi sehingga robot penyedot debu bisa berjalan sepuasnya.
"Yah, kamar Yuria...indah sekali... dan, baunya sangat harum seperti Yuria, suuuuuu."
"Hei, menarik napas dalam-dalam begitu masuk ke kamar perempuan itu benar-benar menjijikkan! Yah... setidaknya Ryota tidak bilang aku bau."
"Mana mungkin aku berpikir Yuria bau! Aku bisa makan 10 mangkuk nasi dengan hanya mencium bau Yuria!"
"Aaa───────mou! Jijik! Berhenti!"
Meskipun dia berkata begitu, Yuria sedikit tersipu.
Hanya Yuria yang bisa menerima ucapan jijik padaku sambil tertawa.
Hubungan di mana aku bisa mengatakan apa pun dengan jujur adalah suatu kebahagiaan.
"Are? Ngomong-ngomong, tidak ada merch anime moe seperti 'Nyu-Kyun' sama sekali...apa kau menyembunyikannya?"
"Tentu saja. Rui dan Airi sering datang, jadi aku tidak mungkin memajangnya di sini."
"Kau ada benarnya."
"Merch Otaku ada di ruang hobiku di sebelah. Ada banyak game di sana juga, dan kita akan pergi ke sana nanti, tapi...sebelum itu, itu..."
Yuria gelisah sambil memalingkan wajahnya.
"Se-se-sekarang...aku ingin kau melihat diriku yang ini."
"Sisimu yang ini? Apa maksudmu?"
"Li-lihat! Ini! Album kelulusan SMP-ku."
Yuria dengan paksa menarik album kelulusannya dari rak buku dan menyodorkannya padaku.
Aa, maksudnya dia ingin aku melihat foto-fotonya saat SMP?
Ckt, ingin menunjukkan diri masa lalu... itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sadar kalo dirinya imut...
Album kelulusanku saat SMP, aku ingin segera membakarnya karena terlihat terlalu inkya (ngomong-ngomong, Tanaka saat itu seperti biasa adalah gadis inkya berkacamata).
"Hee───────, ini Yuria saat SMP, ya. Oh, ada juga foto festival olahraga. Paha yang bagus seperti biasa〜"
"Kau melihat ke mana. Sungguh, Ryota hanya melihat hal-hal seperti itu."
"Ya, tentu saja pahamu, tapi... Yuria memang luar biasa imut, ya?"
"..........!"
"Aku benar-benar tahu setelah melihat foto kolektif kelas ini. Kau lebih tinggi dari laki-laki dan style tubuhmu luar biasa. Selain itu, wajahmu juga sangat imut. Aku benar-benar kasihan pada gadis-gadis lain karena ada orang sehebat dirimu di kelas yang sama."
"...Yah...kurasa itu wajar saja. Aku juga sudah berusaha sebaik mungkin."
Yuria mengatakan itu dengan tsundere, tapi bibirnya sedikit menyeringai.
Aku tidak bermaksud memujinya atau semacamnya, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dengan jujur...sepertinya Yuria sedikit senang dengan pujian itu.
Yah, tidak ada yang lebih baik daripada suasana hati Yuria yang baik.
Kalo suasana hatinya baik, dia akan membiarkan aku menyentuh pahanya.
"Ngomong-ngomong, Yuria, kau memang populer sejak SMP, ya?"
"Yah, jujur saja aku mamang populer. Dulu ada masanya laki-laki menyatakan cinta padaku hampir setiap minggu, tapi..."
"Tunggu! Setiap minggu!? Serius?"
"Tapi... Bahkan kalo aku punya pacar, aku sama sekali tidak berpikir kalo, dia akan mengerti 'diriku yang lain'. Dan masalah perkelahian dengan teman-teman semakin memperburuknya, aku jadi takut menceritakan hobi otaku-ku kepada siapa pun... Saat aku pertama kali bertemu Ryota di arcade, aku cukup marah, tahu?"
Sekarang setelah dia menyebutkannya, itu sepertinya memang benar.
Yuria yang sekarang sudah benar-benar 'terjatuh' (menurutku), pada saat itu dia sangat waspada padaku, dan dia menatapku sampai wajah cantiknya terdistorsi.
Mungkin dia dulu sangat waspada padaku, sampai sulit dibayangkan sekarang.
"Memang merepotkan, ya. Sisi diriku yang seperti ini."
"...Yuria."
Dalam kasus Yuria, fakta kalk dia begitu cantik justru menjadi kendala, dan hampir mustahil baginya untuk berbaur dengan grup otaku.
Tapi Yuria ingin menjalani kedua sisi dirinya, dirinya yang gyaru dan dirinya yang suka hobi otaku...dan kesulitan hubungan antarmanusia yang muncul dari itu adalah cerita yang pernah kudengar sebelumnya.
Yah, belakangan ini muncul anggapan kalo bahkan orang yōkya pun menyukai anime, tapi kecenderungannya masih terbatas pada karya-karya yang ditujukan untuk masyarakat umum.
Padahal, yang sangat disukai Yuria adalah anime larut malam 'Nyu-Kyun' yang berating R17.9999 itu.
"Kau tau? Lagi pula aku sudah tidak butuh pacar atau apa pun... Soalnya, sekarang aku punya Ryota."
"A-aku?"
"Un. Ryōta adalah orang yang mengerti aku, dan aku adalah orang yang paling mengerti Ryota, kan? Jadi, pacar yang pengertian sekarang ini benar-benar tidak perlu, begitulah."
[TL\n: ajing, kode keras dari si Yuria, tapu si Ryota, ah sudahlah.]
"A-aku tidak begitu mengerti, tapi, begitu, ya?"
Karena Yuria berkata "Tentu saja", jadi aku hanya mengangguk.
Karena ada aku yang mengerti Yuria yang biasa dan Yuria yang otaku, jadi dia tidak butuh pacar yang pengertian? Begitukah maksudnya?
"Begitukah? Kukira Yuria ingin punya pacar, karena sepertinya kau punya nafsu seksual yang kuat."
"Haa!? Te-tentu saja aku punya nafsu seksual, te-tentu saja ada, tapi... tidak kuat sama sekali!"
"Eh? Tapi kau membiarkanku menyentuh paha atau semacamnya."
"Yah! Soal paha, itu karena Ryota terus-terusan bilang paha, paha! Kenapa kesannya jadi aku yang membiarkanmu menyentuhnya!"
"Aku memang mengakui kalo aku sering melihat paha Yuria setiap hari seolah menjilatinya, tapi, aku tidak sering mengatakan ingin menyentuhnya, lho."
"Nnnn, alasan curang macam apa itu? Jelas-jelas melihat paha itu berarti ingin menyentuhnya."
Itu berbeda... Aku melihat paha Yuria secara seksual bukan berarti aku 'ingin menyentuh', melainkan aku hanya 'ingin meremasnya', jadi itu mirip tapi tidak sama.
"Yah, selain itu. Berbicara seperti ini di kamar Yuria membuat semua keteganganku hilang. Kurasa aku merasa paling nyaman saat berbicara dengan Yuria."
"Be-benarkah? Itu, lebih dari 'Tanaka'?"
"Kenapa Tanaka muncul di sini!"
Padahal aku sedang menikmati percakapan dengan Yuria di kamarnya, tiba-tiba Tanaka yang sedang menyeruput ramen muncul di benakku, jadi ini benar-benar seperti situasi 'Di mana ero manga yang kubaca tadi!?'.
"Begini, bagaimanapun juga Tanaka itu sudah paling lama berteman dengan Ryota. Aku jadi ingin membandingkannya."
"Saat kau bilang kami sudah saling kenal lama, tapi Tanaka hanya berteman denganku sejak SMP. Kami tidak punya hubungan sama sekali saat masih kecil,, jadi tidak bisa dibilang lama..."
"Saat masih kecil... Ah, benar, benar. Bicara soal masa kecil, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu kalo Ryota datang."
Yuria kembali ke depan rak buku, mengambil sebuah buku dari rak bawah, dan menyerahkannya padaku.
"Ini, yang pernah kubilang sebelumnya, harta karunku..."
Itu adalah... volume 1 dari 'Lucky & H'.
"Lucky & H..."
Ngomong-ngomong, Yuria bereaksi aneh terhadap buku yang sama yang ada di kamarku sebelumnya, apakah ini karya yang membuatnya menjadi otaku?
"Ini harta karunku. Sudah kubilang sebelumnya, aku mendapatkannya dari seorang anak laki-laki yang hanya bermain denganku sekali di taman saat aku masih SD. Ketika aku membacanya, aku terpesona oleh gyaru yang muncul di karya ini, dan sejak itu aku langsung jatuh cinta pada budaya gyaru dan budaya otaku."
Yuria menatap buku itu dengan tatapan penuh kasih sayang dan mengatakannya dengan penuh nostalgia.
Lucky & H adalah asal-usul Yuria, ya.
Karya ini, sesuai judulnya, adalah komedi romantis sekolah di majalah shōnen yang berisikan rangkaian situasi 'keberuntungan mesum', dan gaya ceritanya memang bisa dimengerti sebagai asal-usul Yuria yang menyukai 'Nyu-Kyun'.
Aku membuka buku yang kuterima dari Yuria.
Mungkin karena ini edisi cetakan pertama, sampul dan isinya sedikit pudar dan berubah warna karena sinar matahari.
"Are? ...Hei Yuria. Ada kartu super sentai di tengah buku ini."
"Ah, itu? Mungkin anak laki-laki yang memberiku komik ini memberikannya kepadaku saat kartunya masih terjepit di dalam. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, jadi aku membiarkannya saja."
Kartu wafer di dalam manga....
Aku juga ingat sering menjepit kartu yang dobel dan tidak terpakai di dalam manga supaya tidak melengkung karena kelembapan saat aku menyimpannya.
Dan kartu ini... Pink dari super sentai.
Ngomong-ngomong, aku juga dulu sangat ingin membeli wafer super sentai....waktu SD
Kenangan masa kecilku yang samar mulai menjadi jelas secara bertahap.
Aku ingat saat itu aku juga menyukai 'Pink' dari super sentai...waktu itu kan?
Sementara anak laki-laki seusiaku mengagumi Red dengan perasaan polos dan murni, aku, si bocah msok dewasa yang sudah menunjukkan benih-benih anak cabul sejak SD, ingat selalu memperhatikan Pink dalam super sentai.
Yah, Pink dalam super sentai yang disiarkan saat itu memiliki tubuh yang sangat erotis, sampai-sampai dia beralih menjadi gravure idol dengan pose yang cukup berani setelah tampil di karya itu.
Akibatnya, hati (dan juga selangkangan) bocah sok dewasa sepertiku benar-benar tertembak.
Saat itu aku adalah 'anak wafer' dari berbagai karya, aku jadi tergila-gila membeli wafer super sentai, dan dengan menggenggam uang sakuku setiap bulan, aku pergi ke supermarket terdekat yang merupakan satu-satunya tempat yang menjual wafer super sentai.
Tapi, setelah serial super sentai yang ada si Pink favoritku berakhir, wafer itu secara bertahap menghilang dari rak makanan ringan, dan aku samar-samar ingat merasa kecewa.
Itu adalah masa di mana belanja online belum umum, dan meminta orang tua-ku membelikan satu kotak penuh juga mustahil, jadi aku sangat gigih.
Bertekad untuk membelinya sendiri sebelum produksinya benar-benar berhenti, aku mengelilingi hampir semua supermarket, minimarket, dan toko permen di Kota Natsuhama dalam jarak yang bisa kucapai dengan sepeda, membeli wafer super sentai itu, dan mengumpulkan kartu serta stiker Pink.
Ya, meskipun aku masih SD, aku melakukan apa yang sekarang disebut Oshikatsu.
[TL\n: maksudnya aktivitas mendukung idola.]
"Ada apa, Ryota?"
"Ah, ya*... entah kenapa aku sedikit bernostalgia. Aku juga sering membeli wafer ini di antara manga dan barang-barangku. Saat masih kecil, kita sering melakukannya karena malas menyusunnya, kan?"
"Fūūn... Ternyata begitu."
"Eh, Yuria?"
Yuria tiba-tiba memasang wajah yang sangat jernih dan tenang, lalu mencengkeram kedua bahuku kuat-kuat dan menatap mataku.
"Begini lho, Ryota! Dengarkan baik-baik."
"Eh, o-ou."
"Jangan-jangan...yang memberiku manga ini adalah Ryota?"
Aku yang memberikan Lucky & H pada Yuria!?
Berarti aku yang membuat Yuria menjadi otaku?
Tapi, mungkinkah itu terjadi?
Memang Yuria bilang dia baru pertama kali bertemu anak laki-laki itu, dan mereka hanya bermain sekali.
Kalo aku kebetulan bermain dengan Yuria di taman yang kebetulan kudatangi saat sedang berkeliling toko permen, dan kebetulan memberikannya manga ini yang kebetulan kubawa saat pulang, itu akan masuk akal.
Kalo tebakan Yuria benar, ini akan menjadi 'reuni yang ditakdirkan' yang sering ada di maga romantis...tapi aku, sang tokoh utama, tidak mengingatnya.
Selain tidak ingat, kalo itu bukan aku, ceritanya akan berbeda.
"Hei Ryota, sebenarnya bagaimana? Apa kau tidak ingat?"
"Y-ya, kau tidak bisa menanyakan hal seperti itu padaku tiba-tiba."
Pertama-tama aku sama sekali tidak ingat masa kecilku, sampai-sampai aku bahkan tidak ingat kejadian dengan Rui saat SD.
Bukan hanya kejadian dengan Rui, tapi Yuria dan Rui yang terus mengingat hal yang hanya terjadi satu hari itu juga luar biasa.
Begitu juga dengan wafer milik Airi, mungkinkah mereka merasakan takdir sebesar itu?
"Haa... Kenapa kau tidak ingat, sungguh."
"Aku merasa tidak enak, Yuria. Tapi saat masih kecil, aku menyukai nee-chan berdada besar di sebelah rumah, atau, preferensi seksual-ku dibelokkan oleh si pink mesum super sentai jadi... aku sama sekali tidak tertarik pada gadis seusiaku, jadi begitulah."
"Haa!? Aaa───────mou! Aku sudah memanggilmu ke rumahku dan bahkan menunjukkan buku ini, jadi ingatlah baik-baik!"
Yuria mencengkeram kepalaku kuat-kuat dengan kedua tangannya dan menggoyangkannya sekuat tenaga, seperti seorang ayah di era Showa yang memperbaiki peralatan elektronik yang rusak.
"Sungguh, tujuan hari ini adalah untuk membuatmu mengingatnya."
"Eh!? Bukankah maid-cosplay yang utama!?"
"Ah, itu..."
"Aku boleh memotret maid-cosplay paha besar Yuria sepuasnya!!"
"Tekananmu sa-sangat kuat... Aku mengerti. Aku akan memakainya kok."
Yuria mengerutkan kening dengan ekspresi kecewa, lalu dia menatapku dengan tatapan seperti melihat otaku menjijikkan seperti biasa.
"Astaga... Ingin melihat cospaly-ku sampai segitunya, Ryota, kau terlalu menyukaiku."
"Tentu saja, yah, aku suka paha Yu───────"
『Pin-pon』
Saat itu, tiba-tiba terdengar suara intercom.
"Nnnn? Siapa itu? Aku akan melihatnya dulu."
...Orang tuanya sedang wisata ke luar negeri, kan?
Aku melihat sekeliling kamar Yuria, dan punya firasat buruk.
Tamu sepagi ini? Siapa?
Aku rasa budaya papan pengumuman keliling tidak ada di kompleks perumahan mewah bergaya Barat ini... Seandainya pun itu kenalannya, mereka seharusnya tahu kalo orang tua Yuria sedang pergi ke luar negeri.
Kalo begitu, ada kemungkinan itu adalah kenalan Yuria...tapi karena latar belakang Yuria yang menjadi gyaru penyebdiri setelah hobi otaku-nya terbongkar oleh sahabatnya di grup gyaru saat SMP, kenalannya sepertinya terbatas pada yang berhubungan sejak SMA.
Hubungan sejak SMA...kalo begitu, hanya ada dua orang yang terlintas di pikiranku.
Airi atau Rui....
Tapi, Airi bilang dia sibuk seharian dengan pekerjaan paruh waktunya hari ini.
Kalo begitu, kemungkinan yang tersisa adalah... !
"Jangan-jangan, 'Rui'?"
Begitu aku memikirkannya, jantungku berdebar kencang dan tubuhku mulai gemetar karena rasa dingin yang menusuk.
Lalu, terdengar suara ketukan sepatu di ubin marmer dari lorong.
Ga-gawat! Suara langkah kaki mereka semakin mendekat!
Kalo Rui melihatku di tempat seperti ini, ini bukan lagi level 'menjadi wakil ketua OSIS mulai semester kedua'!
Rui itu, entah karena dia posesif melebihi siapa pun, setiap kali aku mulai dekat dengan dua orang lainya (dan Tanaka) dia langsung menghampiriku dengan niat untuk memb●nuhku dengan serius.
Meskipun begitu, jika ketahuan kalo aku berduaan dengan Yuria di kamarnya... larangan masuk ke OSIS tidak terhindarkan...
"Ka-kalo begini...aku tidak punya pilihan selain bersembunyi!"
Aku segera mencari tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
*Untungnya, kamar Yuria sangat luas, bahkan bisa dibilang kamar ini seperti milik seorang Ojou-sama, dengan banyak perabotan dan lemari, jadi ada banyak tempat untuk bersembunyi.
Hanya saja pilihan yang realistis adalah, lemari yang pasti luas di dalamnya, balik tirai besar di dekat jendela yang bisa menyembunyikan beberapa orang, dan yang terakhir...ranjang.
Waktu untuk berpikir tidak ada. Buang keraguan!
Yoshi... Ini dia!
"Sudah pasti di tempat tidurnya!!!"
Aku tanpa ragu, terbang torpedo, masuk ke dalam ranjang.
Ti-ti-tidak apa-apa! Bukan berarti, aku ingin menenggelamkan wajahku ke ranjang Yuria dengan dalih hanya karena keadaan yang tak terhindarkan! (Wajah serius).
Aku bukan menahan napas di dalam ranjang Yuria, melainkan, aku sangat menghirupnya.
"Ini aroma ranjang Yuria!"
"Hei Ryōta... Sungguh apa yang sedang kau lakukan?"
Saat aku menahan napas (dibandingkan diriku yang biasanya), Yuria dengan santai mengangkat selimut dan menatap ke bawah padaku yang ada di dalam dengan mata terkejut dan meremehkan*.
Di kamar tidak ada orang lain selain Yuria... are?
"Yah kurasa menjelaskan hanya akan sia-sia, *tapi... jangan-jangan kau birahi di kamarku?"
"Ti-tidak! Bukan, Yuria! Itu! Aku pikir Rui datang, jadi aku langsung berniat bersembunyi!"
"Haa? Rui? Tidak mungkin dia datang, kan?"
"Ta-tapi!"
"Lagipula kenapa Rui?"
"Itu..."
Yuria tidak tahu kalo **hukuman** (implisit) sedang menungguku kalo kalo Rui tahu kalo kami berduaan seperti ini.
Yuria **tidak akan mengerti** penderitaanku.
"Yah, aku tidak megenrti kenapa, tapi, kenapa kau bersembunyi di tempat tidurku karena Rui datang... Karena ini tentangmu Ryota, bukannya kau hanya ingin mengendus-endus tempat tidurku?"
"I-itu!"
"Tebakanku tepat, kan? Sungguh, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Ryota kalo kau kutinggalkan...sebenarnya, kalo kau mau mengendus..."
"Hmm?"
"Po-pokoknya!! Yang datang bukan tamu atau apa pun, melainkan 'paket'! Barang yang kupesan beberapa waktu lalu, dan tanggal pengiriman sudah diatur hari ini."
"Ka-kau memesanya untuk cosplay? Mu-mungkinkah Yuria...! Untukku!"
Bukan hanya maid-cosplay, dia juga akan memakai cosplay mesum!?
Kecemasan yang kurasakan sebelumnya lenyap, dan darahku mengalir deras ke tubuh bagian bawahku.
"Ya begitulah. Aku sudah menyiapkan cosplay spesial untuk Ryōta."
"Woohoo! Ada apa Yuria? Kau sangat bersemangat sekali!"
"Hmhp... Kalo begitu, ayo kita ke ruangan otaku."
Aku dibawa oleh Yuria yang anehnya bersemangat, menuju ke ruangan otaku miliknya.
★★★
"Ini... ruangan otaku Yuria."
Di ruangan otaku yang diseragamkan dengan perabotan elegan, di rak sepanjang dinding, figur gadis cantik berdesakan dipajang, manga dan light novel
berjejer rapi di rak buku, dan permadani yang tergantung di dinding berkibar.
"Bagaimana? Luar biasa, kan?"
"I-ini bukan sekedar luar biasa! Aku sangat bersemangat!"
Karena dia otaku yang hidup di generasi yang sama denganku, aku bersemangat karena genre konten yang 'menusuk' terlalu sama.
Yuria juga otaku perempuan yang sama seperti Tanaka, jadi aku mengira dia mungkin tertarik pada BL dan lain-lain...tapi Yuria sepertinya hanya fokus pada Cinta Normal saja.
Manga dan Light novel di rak buku juga hanya komedi romantis atau komedi erotis, dan meskipun bukan Yuri, kecenderungannya banyak karya di mana gadis-gadis saling bertarung dengan payudara kebanggaan mereka.
Yah, mungkin itu wajar karena dia penggemar berat 'chikyun'.
"Meskipun begitu, tidak ada seorang pun di sekolah yang akan percaya kalo Yuria, gyaru Nomor 1 di SMA, mengoleksi karya-karya dengan genre yang sejenis denganku."
"Aku malah bangga. Kalo aku bisa sejajar dengan otaku berlevel tinggi seperti Ryota."
"Be-benarkah?"
Berlevel tinggi atau semacamnya, aku tidak terlalu tahu diriku...tapi Yuria yang bangga dengan status otaku, memang mungkin cocok denganku.
Lebih jauh di bagian dalam ruangan, ada Tv model terbaru yang terlihat lebih dari 60 inci, dilengkapi dengan konsol game terbaru hingga konsol game retro yang membuat nostalgia, dan stiker 'sudah cek fungsi' masih tertempel karena dibeli bekas.
Hee, dia bahkan mengumpulkan game retro... Kalo dilihat begini, area jangkauan otaku Yuria terlihat jelas... tapi tunggu. Kalo dilihat dengan baik, ini! Di bawahnya ada 6●DD!
"O-oi Yuria! Ini!"
"Ah───────itu? Sepertinya itu milik Papa dulu, tapi, tidak ada software yang bisa dimainkan, jadi sepertinya itu hanya jadi pajangan. Ryota apa kau mau?"
"Ma-mana mungkin aku bisa menerima itu! Simpanlah dengan lebih hati-hati!"
"Eh, un."
Dari kelihatannya, sepertinya game retro cuamn barang pribadi ayahnya.
"Lagipula bukannya kita mau cosplay. Kalo tidak salah, maid-fuku yang kubeli di festival budaya tahun lalu ada di lemari ini... Ah, ada, ada."
Yuria mengeluarkan satu set maid-fuku dari lemari.
Maid-fuku yang sederhana dan modern.
Memang benar, ukurannya kekecilan untuk Yuria pakai, dan panjang roknya juga...sepertinya sangat pendek.
"Bagaimana, Ryota?"
"Kalo itu dipakai, pahamu akan terlihat dengan jelas, kan?"
"Makanya aku bilang. Aku hanya akan menunjukkannya hanya pada Ryōta."
"O-oo, begitu."
Gawat, kalo dia bilang begitu aku jadi senang.
"Tapi Ryota, kenapa kau sama sekali tidak menyadari kenapa aku begitu bersemangat untuk cosplay?"
"Eh? Secara sederhana karena kau ingin memperlihatkan cosplaymu padaku, kan? Paling-paling karena kau ingin melakukan hal-hal mesum dan lain-lain dengan maid-cosplay?"
"Entah, kenapa kesannya aku yang tergila-gila padamu! Aku tidak akan melakukan hal eroti! Lagipula kau salah!"
"Haa? Kalo begitu, kenapa kau bersemangat sekali?"
"Astaga, mau bagaimana lagi."
Ketika aku bertanya, Yuria tercengang sambil membuka kantong yang baru saja tiba dengan kasar.
"Eh...?"
Ternyata, isinya adalah...maid-fuku dengan desain yang sama dengan milik Yuria...!?
"A-apa itu! Ah! Mungkinkah Yuria, karena kau malu, kau membeli yang satu ukuran lebih besar dan lain-lain"
"Salah. Ini...aku beli untuk Ryota, lho."
"Hah? Maaf, apa yang kau katakan?"
"Nee Ryota, yang boleh melihat cosplay hanyalah orang yang siap untuk dilihat cosplay-nya."
Yuria mengatakan itu dengan wajah sombong seolah berhasil melakukan sebuah kejahilan.
Aku merinding...dan firasat burukku muncul saat dia berkata begitu.
Jangan-jangan...tanpa kusadari, aku telah berubah dari pihak yang 'memburu' (implisit) menjadi pihak yang 'diburu' (implisit)!?
"Nah Ryota〜, ayo kita membuka pakaian kita, ayo kita lakukan, nee───────."
"He-hentikan, AaAaa!!"
Saat aku memahami semuanya, itu sudah terlambat, aku tanpa banyak tanya telah diburu oleh Yuria...
"Astaga... Ryota, kau ini..."
"A-apa, jangan terlalu menatpku."
Melanjutkan dari festival budaya, aku sekali lagi didandani sebagai wanita olehnya.
"Itu eangat cocok untuk mu, maid-fuku, nee."
"Uuu, berisik!"
Apalagi kali ini...maid-fuku yang sama dengan Yuria...
Aku dipakaikan gaun terusan hitam tipis berenda di atasnya apron putih, dan entah kenapa, wig pirang rambut keriting vertikal Ojou-sama yang telah disiapkan, di atasnya dipakaikan bando putih.
Seperti biasa rok yang mustahil terbiasa untuk kupakaii, entah kenapa terasa 'dingin', dan 'anu' di bawah tubuhku tidak bisa merasa aman.
Ini yang terburuk... Hari ini aku datang untuk menantikan sesi cosplay, sesuai nafsuku, tapi tidak kusangka aku terkena serangan balik seperti ini.
"Ryota memang cocok didandani sebagai wanita karena bulu kakimu dan lain-lain sangat sedikit. Ah, kalo bulumu mulai tumbuh, bilang ya? Akan ku rapikan lagi dengan krim penghilang bulu, seperti waktu festival budaya."
"Aku tidak akan pernah mencabutnya lagi!"
Kaki halus mulus tanpa bulu adalah aib bagiku.
"Ah, itu membuatku tertawa. Karena sekarang aku sudah mengambil beberapa foto Ryota yang memalukan, aku akan tetap memakai kostum pelayannya sebagai lelucon."
"Sebagai lelucon..."
Itu maid-fuku berenda bertema hitam dan putih sama sepertiku, tapi...yang berbeda dariku adalah volumenya sepenuhnya.
Bagian payudara, penuh sesak hingga terlihat kencang meskipun ada renda, dan paha yang menyembul dari rok terusan yang terbuka...ya, paha besar.
Kedua paha berebutan dengan putus asa sampai-sampai terlihat jelas berbagai macam hal kalo roknya terguncang sedikit saja.
"Hei Ryota. Jangan terlalu menatap kakiku."
"........"
"Oi Ryota! Apa kau dengar? Ini bukan museum seni."
"Ha! Ma-maaf Yuria. Aku secara tidak sengaja terlalu terpesona sampai aku kehilangan kata-kataku."
"Hah? Sungguh kau...yah, seperti yang kuduga."
Yuria yang pipinya memerah, tercengang.
Aku sudah berpikir sejak lama, sepertinya Yuria senang kalo pahanya dipuji.
Aku penasaran fetish macam apa itu?
"Paha Yuria, memang sangat besar. Sungguh, ini, tingkat erotisnya bisa membuat dilarang masuk festival budaya."
"Aku tidak dilarang masuk!"
"Bolehkah aku memotret?"
"Tidak kenapa menggunakan bahasa halus... Yah tidak apa-apa tapi, jangan dari bawah tidak boleh."
"Yaaa!"
Aku mengambil Hp-ku dari saku apron maid-fuku dan mulai sesuka hati mengambil foto cosplay.
I-ini...sudah seperti 'Prasmanan Paha'.
Prasmanan terbaik dengan pemandangan dan pengambilan lauk sepuasnya...apalagi tanpa batas waktu.
"Yuria! Bisakah kau duduk di kursi itu sekarang? Aku ingin mengambil paha yang melebar."
"Hah... Boleh saja tapi. Sungguh Ryota, kau terlalu mencintai paha-ku. Padahal ada gadis lain juga yang pahanya besar."
"Sudah pasti itu harus paha-nya punya-nya Yuria!"
"Eh? Kenapa?"
"Tidak ada gadis yang secantik Yuria, payudaramu juga besar, tapi pahamu juga besar! Yuria adalah satu-satunya bagiku!"
"Ah, jangan terlalu bicara bersemangat. A-aku mengerti perasaan Ryota sekarang. Kalau kamu mencintaiku sedalam itu..... sini, ambil lebih banyak foto lagi."
"Yuria... Ah!"
Saat aku dengan wajah putus asa mengutarakan cintaku pada paha Yuria, Yuria sepertinya mengerti.
Hmm? Tunggu sebentar... Dengan alur ini, bukankah memungkinkan aku untuk menyentuh paha ini lagi?
Paha Yuria yang secara misterius diizinkan untuk disentuh sejak kejadian bus yang lalu.
Tentu saja kali ini juga...aku ingin menyentuhnya.
Aku menelan ludahku dan mengembalikan Hp-ku ke saku sekali.
"Ne-nee Yuria-san."
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bersikap formal."
"Ah, soal itu...mulai sekarang biarkan aku menyentuh pahami itu─────────"
『Pinpon pinpon pinpon!』
Saat aku akan meminta, interkom mengganggu permintaanku seolah menyela.
"Ck... Tamu datang lagi di waktu yang tepat. Yuria, apa kau masih berniat memakaikan cosplay padaku?"
"Tidak, tidak, kali ini sungguh aku tidak tahu!"
"Sungguh?"
"Sungguh! Ke mana perginya kepercayaan yang kau tunjukkan padaku saat kau bicara begitu bersemangat tadi?"
Aku yang sepenuhnya diliputi kecurigaan, berbicara sambil terus menatap pahanya.
Maaf. Hanya pahamu ini yang bisa kupercayai...
"Tapi tunggu sebentar. Cara bel ini..."
"Ada apa? Kenalan?"
"Un... Maaf Ryota! Tolong tutup matamu sebentar."
"Eh? Ah, oh."
Aku menutup mata karena disuruh Yuria.
Hmm? Ini...suara gesekan kain... Jangan-jangan!
"Yu-Yuria!? Jangan-jangan kau!"
"Aku sedang mengganti pakaianku! Aku akan membunuhmu kalo kau membuka mataku sedikit saja!"
"Sedang mengganti pakaian!? Boleh aku membuka mataku?"
"Kubilang jangan! Sungguh aku akan benar-benar mencungkil matamu!”
"Ah, ya maaf."
Yuria telah berganti pakaian kembali ke pakaian kasualnya berupa hot pants selutut secepat seorang quick-changer yang stylish
"Ryota jangan keluar dari ruangan ini! Mengerti?"
Dia keluar dari ruangan sambil berkata begitu.
Mungkinkah, kali ini sungguh kenalannya yang datang?
Yah, tapi bagaimanapun juga mungkin itu jebakan untuk mempermainkanku. Seperti cosplay berikutnya.
Aku berpikir begitu, tapi...
"Dilihat dari kepanikan Yuria tadi, sepertinya itu bukan paket (cosplay) dan lain-lain... Jangan-jangan kali ini sungguh Rui yang datang..."
Tapi Rui sedang turnamen Inter-high juga...tetap saja tidak mungkin.
Kalo begitu, mungkin itu Airi atau tetangga, atau kerabat Yuria...
『Cara bel ini...』
Satu kata yang Yuria gumamkan.
Gaya berbicara seolah mampu mengenali siapa dirinya dari cara bel berbunyi, berarti itu adalah orang yang sering datang.
Tapi teman-temannya sedang sibuk... Kalo begitu jangan-jangan...pa-pacarnya?
Yuria meskipun mengatakan 'tidak punya pacar', dia adalah gyaru sejati yang hidup di masa kini... Bukan tidak mungkin dia punya pacar sungguhan!
Kalo itu pacarnya, ada alasan kenapa dia tiba-tiba panik mengganti pakaian dan melarikan diri dari ruangan.
"Akhirnya kau menunjukkan ekormu, Yuria... Setelah melakukan hal mesum seperti ini denganku, ternyata kau sudah punya pacar..."
Lagipula kalo pacarnya datang, itu akan gawat!
Semua tindakan yang kulakukan akan menjadi tindakan penjahat dalam genre NT●!
"A-aku harus, cepat mengganti bajuku! Oh, pakaian yang kulepas ada di kamar pribadi Yuria!"
Saat aku mulai panik sendirian, suara yang agak ramai terdengar dari teras depan.
Se-setidaknya aku harus mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Ruangan otaku Yuria berada di sebelah kamar pribadi Yuria, dan karena letaknya lebih dekat ke teras depan dibandingkan kamar pribadi Yuria, kalo aku mendengarkan di balik pintu, aku masih bisa mendengar suara mereka.
Hmm? Suara tamu itu agak melengking.
"Suara ini...bukan laki-laki?"
Kalo begitu, sepertinya itu bukan pacarnya...
Di suatu tempat di hatiku ada diriku yang merasa lega.
Aku tidak tahu mana yang benar, apakah aku lega karena ingin mempercayai Yuria yang mengatakan 'tidak punya pacar' sebelumnya, atau aku lega karena ingin terus menyentuh paha Yuria tanpa rasa bersalah mulai sekarang.
Bagaimanapun juga, dengan ini, aku bisa dengan bebas menyentuh paha Yuria.
Tapi, jika terbukti kalo Yuria tidak punya pacar, lalu siapa yang datang itu? Itu masalahnya.
Karena penasaran, aku membuka pintu sedikit.
Lalu di sana...terlihat jelas bahkan dari celah pintu kalo ada gadis cantik berkaos putih dengan payudara sangat besar yang luar biasa...tapi!
"Maaf karena Airi tidak menghubungi dulu, Yuria───────!"
Ah, Ah, Airiiiiiiii!?
Mungkin karena hari ini terasa sangat panas, Airi berada di teras depan dengan pakaian seperti anak laki-laki pencari serangga yaitu kaos putih tipis dan celana pendek.
Yuria bisa tahu siapa yang datang dari cara interkom ditekan, berarti itu Airi!
Tapi ini aneh. Airi seharusnya bekerja paruh waktu hari ini.
"Hari ini ada apa? Airi bukannya kau bilang hari ini kau sibuk?"
"Umm───────, kerja paruh waktu satu hari ... bukan! Urusan itu! Tiba-tiba dibatalkan karena kesalahan penanggung jawab!"
"Kesalahan penanggung jawab. Sungguh urusan macam apa itu?"
"Umm───────, Se-selain itu! Sebelum liburan musim panas dimulai, Airi sadar Airi belum mengembalikan majalah mode yang Airi pinjam dari Yuria, jadi Airi membawanya!"
Sepertinya, Airi yang tiba-tiba menganggur karena kerja paruh waktunya yang seharusnya ada, hari ini dibatalkan, jadi dia datang untuk mengembalikan majalah yang dipinjam dari Yuria.
Aku heran bagaimana dia belum ketahuan soal kerja paruh waktunya dengan sikap seperti ini... Yah, dia punya pacar yang berbohong secara terang-terangan juga, mungkin dia berhasil mengelak dengan baik?
"Sebagai permintaan maaf karena terlambat, aku juga membawakan es krim!"
Ayolah, Airi, es krim di hari yang panas begini?
Mungkin karena cuaca panas dia membawa es krim, tapi kalo dia membeli es krim di hari yang panas begini, sudah pasti apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Hei, es krimnya akan mencair, jadi izinkan aku masuk ke kamar, Yuria〜. Aku ingin masuk ke kamar yang ber-AC!"
Seperti dugaanku, situasinya berubah menjadi masuk ke kamar Yuria.
Ngomong-ngomong, Airi pernah bilang sebelumnya kalo AC di rumahnya sudah tua dan sudah tidak dingin lagi.
Airi itu... Jangan-jangan mengembalikan majalah mode hanyalah alasannya, dan dia datang untuk mendinginkan diri di rumah Yuria dengan membawa es krim sebagai permintaan maaf...
Apalagi di saat seperti ini... Yuria, apa yang akan kau lakukan?
Yuria menyembunyikan sepatuku yang ada di teras depan, tapi Airi memiliki indra penciuman yang tajam, dan kalo terus begini situasinya agak gawat.
"Umm, baiklah. Masuklah, masuklah."
Yuria meskipun sempat berpikir sebentar, segera membuat keputusan.
Bagaimanapun juga, tidak mungkin dia mengatakan 'Maaf hari ini tidak bisa, karena aku sedang melakukan pertemuan cosplay mesum dengan Ryota'.
"Aku mengganggu! Uwaa───────! Koridor rumah Yuria juga sangat dingin, luar biasa!"
Memang mungkin dingin, tapi jantung kami berdetak kencang.
Saat aku mengintip pergerakan mereka berdua dari celah pintu, tiba-tiba, Hp-ku yang kutaruh di saku apron maid-fuku mendapat notifikasi.
"Hmm? Dari Yuria?"
『Yuria: Aku yakin kau tahu situasinya, tapi jangan pernah keluar dari ruangan otaku itu. Mengerti?』
Yuria... Me-mengerti.
Aku membalas dengan stiker anime bertuliskan 'Mengerti' lalu menutup Hp-ku.
Tapi kalo dipikir-pikir, aku aman kalo tetap di ruangan ini.
Lagi pula Airi pasti akan pulang setelah makan es krim, dan seharusnya dia tidak berlama-lama.
Yah, ayo santai di sini sambil melihat pernak-pernik otaku Yuria...
"... Ah, ini..."
Saat itulah, itu terjadi.
Aku diam-diam menaruh tangan di bawah tubuhku.
"Gawat... Karena rasa lega dan Waktu Bijaksana, dia menyerang..."
─────────Datanglah 'Musuh lain', yaitu 'Keinginan buang air kecil'.
"Astaga! Tidak kusangka hal seperti ini akan terjadi!"
Aku menghentakkan kakiku berulang kali di tempat seperti anak nakal yang merengek di tengah bagian makanan ringan.
Sementara itu, ayo kita atur situasi saat ini dengan tenang.
Aku adalah siswa SMA mesum, Izumiya Ryōta.
Saat sedang melakukan pertemuan cosplay mesum berdua dengan teman otaku sekaligus gyaru Nomor 1 SMA, Ichinose Yuria, tiba-tiba, gadis cantik payudara meledak (baku-nyū) yang pekerja keras, bernama Umiyama Airi, yang datang ke rumah ini dengan alasan membawa es krim sebagai permintaan maaf karena mengincar AC, tiba-tiba datang.
Aku tidak menyadari 'musuh lain' yang secara bertahap mendekat ke saluran kencing ku, karena aku terobsesi dengan warna Bh payudara meledak Airi yang terlihat tipis dari kaos putih nya, yang kuintip dari celah pintu ruangan otaku.
Saat aku lega setelah satu masalah teratasi───────aku ternyata 'merasa ingin buang air kecil'!
Kalo Yuria kembali ke ruangan otaku dan area selangkangan maid-fuku yang kupakai basah, itu akan membahayakan nafsu Yuria.
Atas saran Tanapedia (yang kutanyakan pada Tanaka melalui LINE), aku mencoba membayangkan urin kembali ke otak...tapi tidak ada efeknya!
Meskipun kecil (makna terselubung) keinginan buang air kecil tetap sama!
Dasar mesum total penuh nafsu!
Kenyataan selalu───────hei! Ini bukan saatnya melakukan hal seperti ini!
Kalo terus begini aku akan benar-benar bocor!!!
Aku berusaha menahan keinginan buang air kecil sambil menarik rok maid-fuku sekuat tenaga.
"Gawat...situasinya cukup serius."
Ngomong-ngomong, Airi dan Yuria baru saja masuk ke kamar Yuria.
Kemungkinan aku keluar dari ruangan otaku dan bertemu dengan mereka saat ini hampir tidak ada.
Tapi, masalah terbesarnya adalah, aku tidak tahu di mana letak toilet di rumah Yuria.
Ada kemungkinan aku game over saat berjalan mondar-mandir sambil memegang selangkanganku.
Se-seandainya aku menanyakan tempat toilet terlebih dahulu.
Untuk sementara, aku berpindah ke bagian dalam ruangan dan menempelkan telingaku ke dinding.
Aku harus memahami apa yang mereka berdua bicarakan.
"Airi sudah lama tidak ke kamar Yuria. Ah, sejuk sekali───────"
"Be-benarkah?"
"Lho? Ada pakaian pria yang terlipat di sana... tapi, aroma ini..."
Oh, astaga, itu gawat!
Cepat sembunyikan itu Yuria!
"Ah itu!? Itu adalah pakaian Ryota yang aku bawa karena dia tidak membutuhkannya! Aku ingin mencoba memasukkan pakaian bergaya pria ke dalam mode ku!"
Alasan macam apa itu. Terlalu mencurigakan sampai-sampai aku hampir bocor.
"Punya Ryota... Ari juga mau."
"Hah? Hei, apa yang kau katakan Airi."
"Ah, bukan! Airi juga ingin mencoba memakai pakaian pria! Jadi! Kalo itu pakaian yang tidak dibutuhkan, berikan ini pada Airi juga!"
"... Ah, ya. Aku mengerti. Aku akan memberikannya padamu Airi."
"Asik! Aku akan menjaga pakaian Ryota dengan baik!"
Yuria dengan seenaknya memberikan pakaian yang baru aku pakai kepada Airi.
Hei, kau! Itu adalah pakaian yang baru kubeli dengan susah payah untuk bermain denganmu, Yuria!
Lagi pula kalo kau memberikan pakaian itu padanya, aku hanya punya maid-fuku ini...
"Daripada itu! Sekarang mereka sibuk dengan pakaianku, ini kesempatanku!"
Aku yang memutuskan untuk pergi ke toilet, segera keluar dari ruangan otaku.
Meskipun rumah Yuria sudah sangat besar, kalo ada toilet maka mungkin di sebelah sini.
Aku mempercayai instingku dan mencari toilet.
Dan...saat keinginan buang air kecilki mencapai batasnya.
"Ah... Ada!!!"
Aku terengah-engah sambil menghela napas, akhirnya aku tiba di tempat istirahat yang aman.
Toilet ada di setiap rumah di sudut rumah.
Meskipun aku hampir bocor, aku memastikan kalo aku tetap memagang ujung rok ku sambil masuk ke toilet...
"Haa? Ah! Jangan-jangan kau adalah maid-san di rumah Yuria?"
Saat aku akan masuk ke toilet───────Airi yang punya es krim di ujung hidungnya berjalan dari belakang dan menyapa ku.
Meskipun akhirnya tiba di tempat istirahat (toilet), tidak kusangka aku akan terlihat oleh Airi tepat sebelum aku masuk...
"Rambut pirang keriting, dan tinggi juga! Rumah Yuria bahkan punya maid-san dari luar negeri! Luar biasa!"
Sepertinya, Airi mengira aku adalah maid-san sungguhan.
Meskipun aku memakai cosplay dengan wig pirang dan maid-fuku dan lain-lain, wajahku jelas adalah aku, jadi aneh kalo dia tidak menyadari...
Ngomong-ngomong, saat aku bersiap-siap untuk cosplay, Yuria memang memakaikan sedikit riasan di wajahku, mungkinkah itu berpengaruh?
Meskipun begitu, mengingat Airi yang biasanya berhidung tajam, seharusnya dia menyadari dari aromaku...
"Lho...? Humu, Humu. Kenapa maid-san ini...beraroma sama dengan 'teman Airi'」**
Saat aku mendengar itu───────suara dan mata ku terkejut seakan-akan akan mau melompat keluar.
I-indra penciumannya terlalu seperti anjing polisi... Apa-apaan ini!
Apa hal yang tidak manusiawi bukan hanya payudara besarnya itu?
"Te-teman?"
"Ya! Kau beraroma sama dengan teman Airi!"
Gawat...bahkan Airi mungkin akan menyadari siapa aku.
Kalo sudah begini, aku tidak punya pilihan selain membuat sebuah latar belakang dengan baik dan terus berbicara!
"S, saya adalah kerabat jauh Yuria-Ojou-sama! Saya menjadi pembantu di rumah ini selama orang tua Ojou-sama sedang berlibur ke luar negeri! Saya sama sekali tidak punya hubungan dengan teman Airi-sama! Lagipula siapakah orang yang beraroma sama dengan saya, saya bahkan ingin bertemu dengannya!"
Aku menggunakan suara palsu dan kemampuan berakting terbaikku yang pernah kugunakan dalam drama, serta terus berbohong satu demi satu untuk melewati situasi ini.
"Ingin bertemu? Maid-san, kau ingin tahu tentang teman Airi?"
"Eh, tidak, saya bukan bermaksud seperti itu."
"Kalo begitu akan Airi beritahu! Dia adalah anak laki-laki yang selalu bermain dengan Airi───────"
Sesuatu dimulai...tapi, mungkinkah reaksi ini berarti aku berhasil mengelabuinya?
Sungguh Airi tidak menyadari kalo itu aku... Ah, kalo begitu, kalo aku sengaja melakukan hal mesum lagi dan meremas payudaranya (Kontradiksi yang luar biasa), itu akan dianggap pelanggaran pertama dan aku akan diampuni?
"Dan, dia adalah teman yang sangat mesum yang selalu melihat payudara Airi saja───────"
Saat aku membayangkan meremas payudara Airi, elemen yang tidak perlu ditambahkan ke dalam perkenalan diriku.
A-Airi itu, perkenalan macam apa yang dia lakukan!
Jangan-jangan dia selalu memperkenalkanku seperti ini saat berbicara tentang ku kepada orang lain?
"Tapi, dia selalu baik pada Airi, dia banyak memuji Airi, sering mentraktir makan dan lain-lain, dan dia menjaga rahasia Airi dengan baik. Jadi Airi merasa kalo dia..."
"Eh..."
"Ah───────! Airi tidak mengatakan apa-apa!"
A-apa-apaan orang ini... Aku ini, apa-baginya!
"Lagipula! Anak itu, kami jadi teman sejak SMA, tapi aku yakin dia adalah laki-laki yang dulu memberi Airi permen di toko permen!"
"He-hee, begitu yaa"
"Beneran! Saat Airi diberi wafer dulu, Airi merasakan sensasi yang sama seperti dulu! A, tidak ada gunanya membicarakan hal seperti itu pada maid-san. Maaf ya."
Apa Aira masih mengira kalo 'Pangeran Wafer' yang dia temui dulu adalah aku.
Yah, kurasa tidak, tapi... Baru saja aku diinterogasi hal serupa oleh Yuria.
Memang, saat SD aku adalah Inkya meskipun aku masih tergolong Inkya yang aktif, jadi tidak aneh kalo aku melakukan pertolongan tanpa sadar seperti kasus Rui...
"Tapi Airi terkejut karena Maid-san dan Ryota memiliki bau yang sama. Hidung Airi sangat bagus, jadi Airi bisa tahu banyak cuma dari bau, tapi ini mungkin pertama kalinya Airi mencium bau Ryota pada orang lain!"
"Aa... Karena baru saja saya membersihkan toilet, mungkin bau ya."
"Tidak bau! Aromanya sangat harum. Mungkinkah sabun yang sama dengan Ryota?"
Airi mendekat lagi dan mengendus-endus dengan hidungnya.
Aa, gawat, kalo sedekat itu...sudah keterlaluan.
Mungkin karena dia mengira aku adalah maid yang jenis kelamin sama dengannya, Airi mengendus lebih dekat daripada biasanya saat bersamaku.
Bau sampo yang harum dari rambut Airi yang mendekat, dan Bh yang terlihat tembus dari kaus putihnya...
Darahku yang bereaksi terhadap hal itu, seketika mulai terfokus ke bagian bawah tubuhku.
I-ini, dalam arti tertentu, rasa ingin kencing mungkin akan hilang sepenuhnya, tapi kehancuran pengaturan sebagai wanita tidak dapat dihindari.
Cepat masuk toilet dan kencing, atau mengendus aroma Airi sambil menatap tubuh Airi dari jarak dekat... Ini benar-benar pilihan sulit... Kuh!
"Tidak, ah, gawat... Aku bocor."
"Nnn? Ada apa Maid-san?"
Aku menoleh membelakangi Airi sambil menekan rokku erat-erat.
Se-sekarang prioritaskan rasa ingin kencing daripada gairah seksual, ku!
Kalau aku bocor di usia ini, aku akan mati secara sosial!
"Etto, karena pembersihan toilet belum selesai, saya akan kembali ke toilet! Ngomong-ngomong, apakah Airi-sama mau ke toilet?"
"Uun. Tadi Airi baru beli es krim, agak meleleh, jadi tangan Airi kena saat membukanya, makanya Airi datang untuk mencuci tangan."
"Be-begitu yaa."
Bukan hanya tangan, ada es krim vanilla juga di hidungnya.
"De-dengan azin adana, saya akan kembali membersihkan."
"Un! Maid-san semangat ya!"
Didukung oleh Airi, aku melompat masuk ke dalam toilet, dan dengan gagah berani aku menyibakkan rokku.
Dengan begitu, aku terbebas dari segalanya.
★★★
Fuuh... Entah bagaimana, aku berhasil tepat waktu...
Dengan suara air toilet mengalir di belakangku, aku keluar dari toilet, mencuci tangan, dan bersiap kembali ke ruangan otaku.
Aku hampir saja mengompol di usia ini...apalagi di rumah teman sekelasku.
Kalo aku sampai bocor, itu akan menjadi sejarah kelamku, syukurlah aku berhasil tepat waktu.
Yah, kurasa tidak ada lagi sejarah kelam saat aku berpura-pura menjadi maid di depan teman sekelasku sambil berpakaian wanita (cosplay) di rumah teman sekelasku.
"...Nnn?"
Saat berjalan di koridor, terdengar teriakan "Hah!?" dari arah kamar Yuria.
Ada semacam keributan... Tunggu, jangan-jangan.
Aku kembali ke ruangan otaku, segera menempelkan telinga ke dinding, dan menguping lagi.
"Tu-tunggu! Hah!? Maid!?"
"Unn! Ada maid berambut pirang, keriting yang datang dari luar negeri? Sepertinya rumah Yuria memutuskan untuk mempekerjakan maid."
"............Kuh, orang itu."
Ah, Airiiiiiii! Bicara yang tidak-tidak!
Bukan hanya ketahuan aku keluar dari kamar, bahkan aku ketahuan kalo aku berpura-pura menjadi maid oleh Yuria.
"Are? Jangan-jangan Yuria... Hubunganmu buruk dengan maid-san?"
"Aah, ti-tidak, bukan begitu..."
"Ah, iya iya! Maid-san itu, baunya sama dengan Ryouta. Aneh."
"......Hai Aira, maaf. Aku akan 'pergi melihat pekerjaan maid', jadi bersantailah."
I-ini, jangan-jangan.
Keringat dingin membasahi pakaian dalam yang kukenakan di bawah seragam maid, sambil aku melirik ke arah pintu.
Lalu, Yuria dengan wajah seperti iblis perlahan masuk... G-gawat!
"Hei───────"
"Hya, hyaii!"
"Ryota, kenapa kau tidak bisa menuruti perintahku?"
"Ma-maaf!"
"Atau jangan-jangan, sejak drama itu, kau jadi ketagihan keluar dengan pakaian wanita di depan umum? Nee..."
Yuria dalam mode sangat marah mendekatiku dengan tatapan tajam.
"Ma-maaf! Aku benar-benar merasa bersalah!"
"Kalo kau minta maaf kenapa kau keluar! Bagaimana kalo Airi tahu!"
"Ka-karena itu aku bilang aku salah."
"Kalo Airi tahu, aku akan dianggap sebagai orang mesum yang memaksa Ryota berpakaian wanita untuk melakukan permainan erotis!"
"Mana mungkin Airi punya imajinasi seperti itu!"
Dia bahkan tidak menyadari kalo itu aku, lagipula itu Aira loh. Mana mungkin dia berpikir seperti itu.
Lagi pula, aku yang berpikir kalo Yuria itu mesum bukanlah hal yang salah, mengingat dia benar-benar memakaikan pakaian wanita padaku dan memotretku berkali-kali?
"Lalu, demi kehormatanku, akan aku katakan, aku tidak ingin melakukan permainan seperti itu, aku hanya ingin ke toilet. Kupikir kalo bocor, itu bisa gawat. Jadi, maafkan aku Yuria."
"Eh, benarkah...? Maaf Ryota. Aku panik dan marah. Kupikir Ryota mesum, jadi kau senang melakukan permainan seperti itu."
A-aku terus-terusan dibilang mesum... Yah, karena perbuatanku yang sering menatap dan menyentuh pahanya, mungkin aku memang pantas mendapatkannya.
"Lalu, soal pakaianmu juga maaf. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi malah mengarah ke arah yang aneh. Kalo saat itu aku menolak memberikan bajumu, Aira mungkin akan berpikir 'aku suka Ryouta'."
Yuria mengatakan itu dengan wajah memerah, meski dia terlihat menyesal.
Wajahnya memerah... Apa dia sangat tidak suka kalo disalahpahami menyukaiku?
Yah, pakaian bisa dibeli lagi nanti, dan syukurlah kalo kami tidak ketahuan.
"Yah, Yuria. Jangan khawatir soal pakaian itu. Itu kan tidak masalah."
"Ta-tapi! Karena salahku, pakaian Ryota!"
"Itu cuman barang murah, hanya sehelai pakaian... Daripada itu, syukurlah Yuria baik-baik saja."
"Ryo, Ryota... Sudah kuduga Ryota itu... Baik..."
"Ah, tapi sebagai gantinya, ini adalah pertukaran setara. Karena aku memberikan pakaianku, berikan aku pakaian yang sedang Yuria kenakan sekarang!"
"............Hah?"
Ketika aku menginginkan pakaian pribadi Yuria yang baru saja dilepas (yang sedang dia kenakan), mata Yuria langsung berubah dingin.
Mencoba mendapatkan pakaian pribadi Yuria yang baru dilepas dengan imbalan pakaianku sendiri...
Ini adalah alkemis cabul terburuk.
"Ti-tidak, mana mungkin aku memberikannya, lagipula mau kau apakan pakaianku."
"Hal seperti itu...? Bukankah tidak sopan untuk menanyakannya?"
"Aah! Kau menjijikan! Benera-benar menjijikkan! Lagipula itu memalukan!"
Yuria menolak sambil memukuliku pelan.
Tentu saja dia tidak akan memberiku pakaian pribadinya yang baru saja dilepas... Sial.
"U-untuk sebentar saja aku berpikir Ryota itu keren... Mou Ryota no baka! Kau harusnya menghabiskan waktu dengan hanya memakai celana dalam saja!"
"Eh! Boleh ya di rumah Yuria menghabiskan waktu hanya dengan pakaian dalam!? Ma-maaf, tapi aku bereaksi terhadap banyak hal jadi aku mungkin akan mengotori matamu."
"Aah mou! Sudah kuduga pakai baju! Aku akan pergi membeli baju di butik nanti dan membayarnya!"
Karena semuanya sudah terlalu kacau, Yuria keluar dari ruangan otaku dengan wajah sangat merah.
★★★
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak itu.
Aku yang disuruh Yuria untuk diam di ruangan otaku ini oleh Yuria karena berbagai hal (yang berarti), masih bermalas-malasan di ruangan otaku dalam keadaan seragam maid.
"Si Aira itu, dia tinggal lebih lama dari yang kukira..."
Sejak Aira datang, mungkin sudah lebih dari satu jam berlalu.
Yah, Aira tidak tahu sama sekali kalo aku ada di sini, dan Yuria sendiri pun, Yuria, sepertinya percakapan tentang kosmetik dengan Aira sedang seru, jadi tidak ada suasana akan bubar dalam waktu dekat.
Rasanya seperti saat ibu memulai obrolan panjang dengan teman sesama ibu yang tak sengaja bertemu di supermarket.
Tapi, itulah sisi baik Yuria.
Sekalipun aku berada dalam bahaya di ruangan otaku, dia tidak memperlakukan Airi dengan buruk, dan melayaninya dengan baik sebagai tamu.
Itu adalah hal yang mudah dikatakan tapi sulit dilakukan.
Sebab, seandainya kalo aku sedang 'dalam tindakan' dengan Yuria dan Tanaka masuk ke kamarku, aku pasti akan mengusir Tanaka dari kamarku, dan kalo dipikir-pikir, Yuria benar-benar memiliki ketenangan... Yah, lagipula aku rasa tidak akan ada situasi di mana aku 'melakukan tindakan' dengan Yuria.
"Yuria mungkin gadis yang pesimis, tapi sebenarnya dia gadis yang baik dan penyayang, dan , hanya aku yang tahu."
Saat aku sedang memasang wajah pacar Yuria seperti itu, terdengar suara pintu kamar sebelah terbuka di koridor, lalu suara mereka berdua berjalan di koridor.
Oh, akhirnya Airi pulang?
Yah, kupikir Airi juga mengalami berbagai hal, jadi kalo dia bisa sedikit menenangkan diri di kamar Yuria, itu adalah nilai dari aku yang berpura-pura menjadi maid.
Liburan musim panas juga masih ada, jadi lain kali aku akan mengajaknya ke kamarku, dan melayaninya selama berjam-jam di kamar yang AC-nya sangat dingin.
Tidak ada maksud tersembunyi secara terpisah. Hanya, kalo dia menunjukkan sedikit saja payudara besarnya yang berkeringat itu sudah cukup.
"Ryota, aku masuk."
"O-ou."
Yuria yang mengantar Airi pulang, kembali ke ruangan otaku.
"Airi, sudah pulang."
"Kalian berdua bicara panjang lebar dengan gembira ya. Padahal aku dikurung sendirian dengan pakaian begini di ruangan sebelah."
"Aku tidak mengurung mu? Yah, pasti akan gawat kalo kau keluar."
Hal seperti itu disebut mengurung.
"Yah, jangan marah-marah begitu. Lebih dari itu, hora, sebagai permintaan maaf atas berbagai hal, aku akan mencarikan pakaian untuk Ryota. Bagaimana kalau kita pergi ke mal terdekat untuk sementara waktu?"
"Begitu, ya... Tapi, kurasa aku tidak bisa keluar dengan cosplay ini."
"Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu, jadi aku sudah membawa pakaian ganti. Sementara, pakai saja pakaian yang selalu dipakai Papa-ku, saja."
Yuria memperlihatkan beberapa helai pakaian yang katanya biasa dipakai ayahnya, dari kantong yang dia pegang...tapi.
"Hmm, kenapa hanya ada pakaian ala Hawaii!"
Yuria hanya mengeluarkan kemeja berwarna-warni dengan desain daun tropis dan kembang sepatu (hibiscus).
"Lihat ada kacamata hitam juga."
Yuria memakaikan kacamata hitam padaku, lalu tersenyum puas.
Meskipun ini tengah musim panas, fashion ala pria genit negara tropis seperti ini... Airi, kembalikan saja bajuku.
"Kalo begitu, setelah kau ganti baju itu, bagaimana kalo kita pergi shopping? Ryota!"
"Haa... Baiklah."
★★★
Atas perintah Yuria, aku akhirnya mengenakan pakaian ayahnya yang dia siapkan.
Kemeja Hawaii bergambar kembang sepatu merah menyala, mengenakan celana basket (celana pendek basket), dan sambil menggantungkan kacamata hitam yang mengkilap di dada kemeja, berjalan dengan sandal pantai... Dari sudut mana pun dilihat, ini seperti yankee yang bertingkah karena kepanasan di musim panas.
"Uhh wa! Ryota, baju itu cocok untukmu!"
"Ka-kau pasti hanya mengolok-olok!"
Yuria tampil dengan gaya modis untuk keluar seperti biasanya, sementara aku malah dipaksa memakai gaya seperti yankee yang bertingkah... Kuh.
Aku menyeka keringat yang muncul perlahan karena panas dengan tangan, sambil menggigit bibirku dengan Frustasi.
Sial, aku ingin cepat masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang ber-AC. Keringatku tidak berhenti dengan panas begini.
Saat ini, kami sedang menuju pusat perbelanjaan besar yang terletak di ujung kawasan perumahan mewah.
Pusat perbelanjaan yang menyediakan segalanya, mulai dari perabotan hingga bahan makanan, dan merupakan tempat yang nyaman bagi penduduk setempat untuk bersantai, aku dulu juga sering pergi ke sana bersama keluarga saat liburan waktu aku masih kecil.
"Karena itu lumayan dekat, apa Yuria sering pergi ke pusat perbelanjaan bersama keluargamu?"
"Uun... Kalo sendirian, aku akan pergi karena ada butik merek favoritku di sana, tapi kalo aku ke mall bersama keluargaku, sepertinya aku tidak terlalu sering."
"Begitu? Karena mereka sering pergi ke luar negeri secara teratur, aku kira kalian keluarga seperti orang yang suka pesta, itu mengejutkan."
"Iya imajinasi macam apa... Ah, tapi belakangan ini kami pergi ke 'Cocosco' yang baru buka di dekat mall? Rasanya seperti supermarket luar negeri, dan orang tuaku sangat menyukainya."
"Cocosco... Yang sistem keanggotaan itu?"
"Tepat. Ryota apa kau pernah ke Cocosco? Di food court sana, ada toko yang menawarkan minuman refill sepuasnya dan hot dog dengan total 200 yen! Bukankah itu gila?"
"Yuria yang, hot..."
"Sebentar. Jangan langsung berfantasi erotis secepat cahaya."
"Ti-tidak ada!"
Aku hanya membayangkan Yuria membuka mulut lebar-lebar memakan hot dog (bermakna dalam), kan!?
Bahkan aku membayangkan Yuria menghisap sedotan minuman (sensor sendiri).
"Kalo begitu, ayo kita belanja baju sekarang dan mampir ke Cocosco dalam perjalanan pulang. Kita akan membeli banyak daging dan makanan laut, dan malam ini kita akan barbekyu, bagaimana?"
"Itu ide bagus, tapi, aku tidak punya banyak uang hari ini."
"Astaga, Ryota kenapa kau mengkhawatirkan itu sekarang dengan 'hubungan kita'? Ryota selalu membantuku mendapatkan figure di game center, dan yang paling penting, aku mendapat banyak uang dari orang tuaku untuk biaya hidup selama mereka traveling. Jadi, jangan khawatir soal itu."
"Be-begitu? Aku jadi merasa tidak enak."
Soal foto cabul cosplay maid dan segala macam, aku selalu menerima banyak hal dari Yuria, jadi aku pikir aku harus membayar makan malamnya juga...tapi kalo begitu, aku akan menerimanya saja.
Lagipula, tahun ini pengeluaran (bermain dengan tiga gadis cantik) terlalu besar, aku sudah sering meminjam uang saku dari orang tuaku, jadi aku benar-benar tidak punya sisa, aku hanya bisa bergantung pada Yuria.
"Daripada itu, baju Ryota! Karena aku yang memutuskan, aku akan membuat Ryota terlihat sangat keren!"
Yuria tersenyum lebar dan suaranya terdengar bersemangat, lalu tiba-tiba dia meraih tanganku dan mulai berlari ke depan.
"Ayo, cepat, jangan berjalan santai, cepat kita ke mall yang AC-nya sangat dingin!"
"A-aku tahu!"
Dipimpin oleh Yuria, kami tiba di mall, dan aku segera diantar ke butik yang direkomendasikan Yuria.
Nama tokonya dalam huruf Latin, dan di dalamnya berjajar manekin dengan pakaian keren yang seolah-olah dipakai oleh pria tampan.
Aku jadi sadar betapa noraknya pakaian yang biasa kupakai karena manekin ini... Kuh.
"Ryota, ayo kemari."
"Nnn?"
Yuria memberi isyarat padaku, jadi aku menghampirinya.
Ternyata Yuria sudah memegang pakaian dan menyerahkannya padaku.
"Nee, bagaimana dengan baju ini?"
Dia sudah memilih di antara begitu banyak pakaian... Yuria memang hebat.
"Cut-sawn putih dengan celana cargo hitam. Kedua item itu, sedang tren di big silhouette oversize tahun ini dan terlihat sangat bagus, kan?"
Kata-kata yang sulit kupahami terlontar dengan luar biasa.
Begitu... Aku tidak mengerti.
Hanya kesan yang dangkal yang muncul di benakku.
Memang terlihat seperti pakaian yang akan dipakai oleh orang yang keren, tapi...
"Pa-pakaian bukankah lebih baik yang pas di badan? Kalo kedodoran begini rasanya berantakan."
"Yah, ini tren sekarang, jadi jangan protes. Aku sudah minta izin untuk mencoba memakannya tadi, cepat coba pakai."
"Tapi...."
"Astaga. Haa... Mau bagaimana lagi."
"Nnn? Ada apa?"
"Kalo aku melihat Ryota memakai ini, aku mungkin akan jatuh cinta padanya."
Yuria mengatakan itu dengan nada datar yang dibuat-buat sambil memaksakan pakaian itu padaku.
Akting yang sangat buruk, bahkan tidak bisa dipercaya dia memerankan karakter utama di festival budaya tempo hari...
A-aku tidak akan mudah tergoda oleh kata-kata ringan seperti itu.
Tapi...biarlah itu jebakan! Biarlah itu jebakan!
"Baiklah, aku ambil ini."
"Uwa, mudah sekali! Kenapa kau cepat sekali berubah pikiran. Kau pasti akan memilihnya meskipun diucapkan oleh orang lain."
"Mana mungkin! A-aku memutuskan untuk menyerahkan pada selera Yuria, makanya aku pikir ini bagus!"
"Seleraku... Funn, yah, tidak apa-apa?"
Setelah melihat wajah Yuria yang sedikit senang, aku membawa pakaian itu ke ruang ganti dan mencobanya.
Memang...menyebalkan, tapi pakaian ini, lumayan bagus.
Aku pikir memakai baju dan celana lengan lebar seperti ini di musim panas hanya akan membuat panas, tapi ternyata sirkulasi udaranya bagus dan nyaman, dan karena siluet pakaiannya longgar, aku yang tidak berotot terlihat sedikit lebih berisi.
"Kuh, aku akui Yuria punya selera busana yang bagus."
Aku keluar dari ruang ganti sambil menggigit bibir bagian bawahku.
"Oh, Ryota, itu terlihat bagus untukmu."
"O-ou."
"Petugas toko, kami akan langsung memakainya, tolong hitung pembayarannya."
"Baik, siap."
Aku, yang biasanya orang yang sombong dan muram, menjadi orang yang keren dalam fashion berkat pilihan Yuria, lalu kami keluar dari butik.
"Bagaimana ya harus aku katakan, warna pakaian ini cuma putih dan hitam, tapi itu membuat ku benar-benar memancarkan aura orang yang keren."
"Komentar macam apa itu. Dalam fashion tidak ada orang yang keren atau muram, kan?"
"Ada dong! Aku selalu memperhatikan pakaian dan lain-lain supaya aku tidak terlihat seperti orang cupu setiap kali bermain dengan Yuria! Meskipun aku seperti ini, aku berusaha supaya aku menjadi pria yang pantas berjalan di samping Yuria."
"Oh...berjalan di sampingku, ya."
"Ada apa dengan wajah menyeringai itu! Tidak apa-apa kan?"
Yuria terkekah sambil mengendurkan sudut mulutnya.
Wajah itu seperti sedang memikirkan untuk menggodaku.
"Yah, itu juga cocok dengan gaya Ryota! Apapun alasannya, memperhatikan mode adalah hal yang baik. Meskipun Ryota di dalamnya mesum parah, kau punya potensi untuk menjadi populer kalo kau memperhatikan penampilan diri dengan baik."
"Bagian dalamku itu tidak perlu! Yah aku tidak menyangkal kalo aku mesum sih."
"Itu yang seharusnya kau sangkal... Tapi, aku sering berpikir saat melihat majalah mode, 'Ryota akan cocok kalo memakai ini' tahu?"
"Aku? Apa kau memikirkan hal seperti itu?"
Meskipun melihat model mode yang bersinar, wajahku melintas di benaknya, aku pikir itu hal yang tidak menyenangkan.
Tidak, tapi tunggu. Mungkin ini sama dengan fenomena di mana wajah model foto lambat laun berubah menjadi Yuria atau Airi saat aku melihat foto-foto mereka dengan mata mesum? (Mungkin tidak).
"Ya! Sebaliknya Ryota, apa kau tidak punya pakaian yang kau ingin aku pakai dan lain-lain?"
"Pakaian yang aku ingin Yuria pakai...?"
"Ya ya! Aku sedang dalam suasana hati yang sangat baik sekarang, jadi aku bisa mampir ke butik di depan dan memakai pakaian itu untuk mu, lho?"
Karena suasana hati yang baik, dia akan melakukan apapun... Glek.
Kalo dikatakan seperti itu, aku akan langsung melihat ke payudara dan paha Yuria.
Ah, memang hanya ada 'satu'... ya.
"Kalo begitu...tanpa ragu."
"Eh? Y-ya."
"Aku... 'Mikro bikini', mungkin."
"... Hah?"
Yuria bergumam, matanya terbelalak..
"Tidak tidak, kita tidak membicarakan hal seperti itu sekarang! Itu terlalu tidak masuk akal!"
"Adalah hal yang lumrah kalo bikin mikro menempati posisi pertama di mana pun peringkat pakaian yang kuinginkan Yuria pakai dikumpulkan. Ngomong-ngomong, posisi kedua adalah bikini mikro bermotif sapi."
"Tidak ada hal yang lumrah seperti itu! Lagipula, kenapa kau begitu bersikeras mendorong bikini mikro! Lagipula membicarakan baju renang saat membicarakan pakaian itu tidak waras!"
"Tidak tidak waras!"
"Tidak waras!"
"Hei kalian berdua! Aku kebetulan melihat kalian berdua dan menghampiri kalian. Kenapa bertengkar di jalan seperti ini?"
" "Haa!? Ka-kau!" "
Aku dan Yuria sedang bertengkar (bermesraan) ketika suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
Suara ini, yang entah kenapa terdengar kekanak-kanakan dan serak itu...
" "Ta-Tanaka!?" "
"Yah aku melihat sesuatu yang mirip siluet Ryota-kun yang mesum total dan aura gadis cantik gyaru, jadi aku mendekat untuk melihatnya, tapi tidak kusangka kalian berdua sedang bertengkar."
Tanaka bergumam sambil terkekeh.
Tanaka memakai kaus putih tanpa lengan dan overall denim, serta tas selempang merah muda, seperti biasa dia terlihat kecil dan berpakaian hampir mirip karakter tertentu.
Seperti biasa, Tanaka adalah satu-satunya yang membuatku sadar kalo aku hidup di dunia yang normal.
"Heh... Aku berterima kasih padamu, Tanaka."
"Aku tidak peduli dengan rasa terima kasih Ryota-kun, tapi aku ingin tahu apa yang kalian berdua lakukan."
"Ah, kami hanya, umm, yah, berbagai macam hal? Ryota bilang dia ingin melatih selera berpakaiannya, jadi aku terpaksa mengajarinya."
Yuria berbicara seolah dia terpaksa menemani ku, sambil menyembunyikan fakta tentang sesi foto cosplay.
Yah, kalo dia memberitahu Tanaka kalo kami saling cosplay dan mengambil foto, itu akan menjadi masalah besar, belum lagi rahasia otaku Yuria.
"Ya, begitulah! Hari ini Yuria memilihkan ku pakaian, keren kan?"
"Hmm... Memang benar dibandingkan Ryota-kun yang biasanya, kau terlihat sangat modis. Yah? Kalo itu menurutku, itu masih terlalu sederhana. Kau harus memakai gelang perak di lenganmu atau semacamnya."
"Aku tidak akan memakainya! Sejak kapan kau menjadi duel pahlawan."
Kau lebih mirip Insector daripada itu.
"Lagipula Tanaka, kau datang kesini untuk apa? Belanja atau apa?"
"Ya. Aku datang untuk membeli novel BL yang sangat romantis dan manga berorientasi fujoshi yang sangat romantis yang terbit hari ini."
"Keduanya adalah BL kan? Ngomong-ngomong, rumah Tanaka bukan di daerah sini kan? Kau sengaja datang ke pusat perbelanjaan ini hanya untuk membeli buku BL?"
"Ya begitulah. Ada halte bus di depan rumahku, jadi aku sering datang ke sini dengan naik bus. Pusat perbelanjaan ini juga punya toko khusus anime."
Tanaka berkata begitu, dan menunjuk ke papan nama Animate di ujung lantai itu.
Tujuan Tanaka adalah pergi ke Animate.
"Daripada itu, Ryota-kun sedang dipilihkan pakaian oleh Ichinose-san kan? Sepertinya kalian bertengkar, ada apa?"
"Eh? Ah, itu rekomemdasiku pada Yuria─────────"
Kemudian Yuria menarik lengan bajuku dengan cepat.
Dilihat dari wajahnya, dia menatapku dengan tatapan tajam seolah mengatakan jangan mengatakan hal yang tidak perlu.
"Daripada itu! Sebenarnya kami akan membeli bahan makanan di Coscos di sebelah setelah ini, dan melakukan barbekyu di rumahku, apa kau mau ikut Tanaka?"
"Eh? Barbekyu? Apa tidak apa-apa kalo aku ikut, padahal kalian melakukan hal yang ceria."
[TL\n: maksudnya si Tanakan nanya apa gak papa dia yg anaknya pemurung, introvert, ikut kegiatan anak anak ekstrovert yang ceria.]
"Kenapa begitu... Tentu saja tidak apa-apa. Tanaka juga teman kami. Lagipula, aku sedang mencari seseorang karena kalo hanya aku berduaan saja dengan Ryota, aku akan dilecehkan secara seksual."
Yuria berkata begitu sambil tersenyum menggoda ke arahku.
Yu-Yuria itu! Mengatakan hal yang tidak benar!!
Ka-aku! Kapan aku melakukan pelecehan seksual!!
"Jadi, apa kau mau ikut juga, Tanaka?"
"Umm, baiklah! Memang benar sulit kalk berdua dengan pria mesum, yinkya dan suka melecehkan secara seksual seperti Ryota!-kun! Kalo begitu aku akan bergabung tanpa ragu."
"Kalian berdua mengatakan apa pun yang kalian mau."
"Ryota-kun, kau tidak bisa mengeluh karena tingkah lakumu sehari-hari yang buruk."
Aku tidak bisa berkata-kata.
★★★
Karena Tanaka entah bagaimana bergabung, kami bertiga berjalan bersama.
Sial, aku pikir kalo kami tidak bertemu Tanaka, aku akan bisa menikmati barbekyu paha besar mesum (yang disebut DDBBQ) berdua dengan Yuria... Sayang sekali.
[TL\n:DDBBQ tu singkatan dari 'DD' berasal dari 'Deka-Deka (デカデカ)' yang berarti besar-besar. BBQ = singkatan dari barbecue, alias kegiatan memanggang daging.]
Tapi, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dan bermain dengan Tanaka selama liburan musim panas sejak kejadian kolam renang sebelumnya, dan kalo ditarik lebih jauh, ini bahkan sejak kelas 3 SMP, dua tahun yang lalu.
Mengingat 'satu tahun kosong' yang terjadi antara aku dan Tanaka, apakah aku harus menganggap ini sebagai keberuntungan kalo kami bisa kembali ke hubungan di mana kami bisa bermain bersama seperti ini, atau sebagai kemalangan.
"Ryota-kun? Ada apa? Kenapa kau menatapku dengan mata mesum seperti itu?”
"Siapa yang menatapmu dengan mata mesum? Itu adalah kesalahan melihat mata putih."
"Hei! Apa maksudnya itu?"
"Sudah sudah, kalian jangan langsung bertengkar. Daripada itu, aku sebenarnya berniat langsung pergi ke Coscos sekarang, tapi sebelum itu... Tanaka, apa kau sudah mencapai tujuan datangmu ke sini?"
"Tujuan? Ah, maksudmu Animate? Belum, tapi...buku BL tidak akan lari, jadi itu bisa kapan-kapan saja."
Saat Tanaka berkata dengan agak ragu, Yuria dengan cepat membungkuk ke depan dan memegang bahu Tanaka.
"Ka-kalo begitu, ayo kita pergi ke sana dulu, Tanaka! Aku merasa tidak enak kalo kau terus menemani urusan kami!"
"Eh, tapi Animate itu terlalu berlebihan."
Yuria...seberapa besar dia ingin pergi ke Animate sih.
Meskipun dia telah diketahui oleh Tanaka, dia seharusnya menghindari rahasia otakunya terbongkar, tapi Yuria yang setia pada keinginannya sendiri berusaha menggunakan tujuan Tanaka sebagai alasan untuk pergi ke Animate sekarang.
Aku juga mengerti perasaannya ingin pergi ke Animate karena itu adalah surga untuk para otaku...tapi kemungkinan terbesar yang menunggu adalah neraka terbongkarnya rahasia otaku.
"Tunggu sebentar."
"Ryo-Ryota!?"
"Kalo Tanaka membeli buku BL di Animate, maka dia tidak akan fokus pada DDBBQ karena ingin membaca buku BL, jadi Animate tidak boleh."
"Yah, memang aku tidak bisa menyangkal itu, tapi apa itu DDBBQ?"
"Gawat... I-intinya! Animate tidak boleh! Mengerti?"
"Ba-baiklah, aku mengerti. Kalo begitu, sekarang kita pergi ke Coscos."
Aku mengerti keinginan Yuria, tapi resikonya pasti lebih tinggi sekarang.
Yuria pernah mengatakan kalo masuk ke Animate sendirian agak sulit baginya, jadi mungkin dia berpikir kalo sekarang ada aku dan Tanaka, itu adalah saat yang tepat untuk masuk ke Animate...tapi dia harus bersabar.
Tapi, meskipun mungkin lain ceritanya kalau cuma kami berdua itu masih biasa saja, dia merencanakan hal yang begitu berani saat ada Tanaka... Mungkinkah Yuria berpikir kalo dia ingin memberitahu Tanaka, yang memahami budaya otaku, kalo dia juga seorang otaku?
"Hei, maaf soal yang tadi, Ryota."
Kami mulai berjalan ke Coscos, dan saat Tanaka berjalan di depan, Yuria membisikkan itu ke telingaku.
"Maaf?"
"Aku tidak pernah bisa masuk ke Animate sendirian, jadi aku sangat ingin melihat Animate di mall ini, dan aku berpikir untuk menggunakan tujuan Tanaka untuk pergi ke sana. Aku sungguh maaf."
"Ah...begitu ya."
Sepertinya, itu hanya karena rasa penasarannya mengalahkan segalanya.
Yuria itu, meskipun dia selalu memperlakukan aku seperti pria penuh nafsu, dia sendiri juga tidak jauh berbeda.
"Aku bisa pergi ke Animate bersama mu kapan saja, jadi bersabarlah."
"Eh... Y-ya. Benar juga. Aku selalu punya Ryota."
Sambil berkata begitu, Yuria dengan lembut menyentuhkan bahunya ke bahuku... Hei, hei, hei!
A-apa dia benar-benar menyentuhkannya!?
"Ah, ngomong-ngomong, apakah kita tidak akan mengajak Airi-tan?"
Tepat saat Tanaka berbalik dan bertanya, Yuria dengan cepat menjauh dariku.
"A-Airi katanya sibuk! Dia datang ke rumah ku tadi pagi, tapi dia sudah pulang."
"Oh."
Yang tadi...itu apa!
Jantungku berdebar kencang dan tubuh bagian bawahku berdebar tak terkendali.
★★★
Kami pindah ke Coscos, yang berada di sebelah pusat perbelanjaan besar, dan kami mendorong troli yang sangat besar ke dalam toko.
"Ini pertama kalinya aku mendorong troli sebesar ini."
"Benarkah? Aku tidak merasa itu terlalu besar."
"Tidak, itu besar! Kalo troli supermarket biasa adalah paha Tanaka, maka troli Coscos adalah paha besar Yuria."
"Hei! Apa maksudnya itu? Li-lihat, pahaku juga benar-benar besar!"
"............"
"Katakan sesuatu!!"
Saat aku mengabaikannya, Tanaka menjadi marah dan memukuli punggungku yang sedang mendorong troli.
Sungguh, setelah melihat paha Yuria... Haa.
Ini adalah paha yang membuatku ingin memeluknya jauh lebih besar daripada milik Tanaka... ya.
"Tanaka, kau tidak perlu semarah itu. Meskipun pahaku besar, itu hanya membuat Ryota senang, dan aku juga pernah mencoba untuk menguruskan pahaku saat SMP. Lagipula, menjadi lebih kurus membuat proporsi tubuhmu terlihat lebih bagus dan lebih mudah untuk tampil modis, jadi itu pasti hal yang bagus."
"A-apa-apaan kau ini, Ichinose-san! Apa itu sikap pemenang yang sombong? A-aku ini jenius sekali, aku peringkat kedua di kelasku! Jangan sombong hanya karena kau menang dalam hal paha!"
"Aku tidak bermaksud begitu... Hei Ryota, apa Tanaka selalu seperti ini?"
"Ya, Tanaka pada dasarnya penuh duri, jadi yang dia mudah marah adalah hal yang biasa. Sebaiknya kau terbiasa dengan hal itu."
Ya...alasan Tanaka tidak punya teman bukan hanya karena dia pendiam pada orang lain selain aku, tapi juga karena dia selalu seperti ini.
Yah, kalo aku membelikan sesuatu yang dia inginkan, suasana hati Tanaka pasti akan kembali baik.
"Tanaka, aku akan membelikanmu apa pun yang kau suka, jadi perbaiki suasana hatimu."
"Muu... Apa kau tidak memperlakukan ku seperti anak kecil lagi?"
"Tidak."
"Kalo begitu...aku ingin beruang yang sangat besar itu!"
"Hah? Beruang?"
Saat aku melihat ke arah yang ditunjuk Tanaka untuk melihat benda apa itu...
"Te-terlalu besar..."
Ada boneka beruang dengan ukuran yang sangat luar biasa di sana.
Boneka beruang yang sangat besar sampai-sampai aku bisa terbungkus di dalamnya... A-apa ini (apa ini).
"Aku ingin tidur sambil memeluk beruang ini, jadi belikan."
"Ukuran itu lebih mirip kau yang dipeluk daripada kau yang memeluk... Lagipula, ukuran terbesar harganya lebih dari 20.000 yen!"
"Belikan! Bukankah Ryota-kun yang bilang aku bisa memilih apa pun yang aku suka!"
"Meskipun begitu, ada batasannya! Puaslah dengan yang kecil."
"Oh, jadi kau akan membelikanku ya."
Aku memasukkan beruang kecil berharga sekitar 1000 yen ke dalam troli yang sangat besar.
"Maaf Yuria. Aku akan membayarnya secara terpisah, apa tidak apa-apa kalo aku masukkan ke troli?"
"Eh, y-ya."
"Wah, seperti kata pepatah, ada gunanya meminta. Karena sudah begini, aku akan memberi nama dia Ryota."
"Hentikan, itu menjijikkan. Daripada itu, cepat beli bahan makanan untuk DDBBQ dan ke─────────"
"A-ano"
Tepat saat aku hendak menjauhi rak boneka, Yuria memanggil kami.
"Hmm? Ada apa, Yuria?"
"A-aku juga...etto, aku ingin Ryota memberikan boneka beruang itu sebagai hadiah."
"Yuria juga? Kau mau ini?"
"Un, ya..."
Yuria menjawab sambil memperlihatkan sedikit rasa malu di wajahnya dan mengerucutkan bibirnya.
Itu tidak terduga.
Memang ada boneka di kamar Yuria, tapi boneka di Coscos bisa dibeli kapan saja, dan aku pikir boneka di kamar Yuria lebih imut...tapi, kalo dia mengatakan dia menginginkannya.
"Tentu saja! Malah, maukah kau mengizinkanku membelikannya sekaligus sebagai ucapan terima kasih untuk hari ini?"
"Sungguh? Apa itu tidak apa-apa?"
"Ya! Kalau begitu, punya Tanaka cokelat, tapi warna beruang apa yang Yuria inginkan?"
"A-aku...kali begitu, aku pilih merah muda! Ah, tapi ungu juga boleh!"
Yuria terlihat senang, dan mulai memilih beruang sambil bersorak seperti anak kecil.
Apa dia sangat menginginkan boneka beruang itu?
Kalo begitu, aku akan memakai kostum beruang kapan saja, dan berada di kamar Yuria sepanjang waktu...
Aku merasa cemburu pada beruang yang bisa mengintip kehidupan pribadi Yuria, sambil aku memasukkan boneka beruang berwarna merah muda yang akhirnya dipilih Yuria ke dalam troli.
"Hei Ryota-kun, apakah sikapmu terlalu berbeda dibandingkan saat dengan aku? Belikan boneka untukku juga dengan senang hati seperti saat dengan Ichinose-san."
"Ada apa Tanaka? Kalo kau terus mengeluh, aku tidak akan membelinya."
"Aー! Maaf! Aku tidak punya keluhan!."
Tanaka terus mengatakan hal-hal yang tidak perlu.
Sungguh, dia ini.
"Hah. Tanaka jangan-jangan kau cemburu?"
"A-a-aku tidak cemburu! Ichinose-san sendiri, apa kau cemburu padaku karena tiba-tiba aku dibelikan boneka oleh Ryota-kun?"
"Haa!? A-aku tidak cemburu! Aku hanya kebetulan ingin juga!"
Aku tidak tahu kenapa, tapi mereka berdua bertengkar sambil terlihat sangat panik.
★★★
Setelah itu, belanja di Coscos terus berlanjut, dan aku serta Tanaka, yang hampir tidak memiliki pengalaman BBQ, hampir sepenuhnya menyerahkan bahan makanan kepada Yuria...
"Yah, kurasa kita sudah membeli cukup banyak."
Tiba-tiba, ketika aku melihat ke dalam troli, tanpa sadar, isinya sudah penuh dengan daging dan makanan laut yang luar biasa banyaknya.
Jumlah yang mengerikan... Meskipun jumlah per bungkus bahan makanan Coscos sudah sangat besar, itu terkumpul banyak di dalam troli.
"Seberapa banyak kau mau mbeli bahannya?"
Setelah menyelesaikan pembayaran dan belanja di Coscos, kami kembali ke rumah Yuria dengan kantong belanja yang penuh di kedua tangan kami.
"Wow... Rumah Ichinose-san sangat besar───────. Kalo dikatakan seperti Ryota-kun, besarnya sebanding dengan besarnya paha Yuria."
"Jangan berbicara seperti Ryōta! Itu benar-benar menjijikkan."
"Hah!? Ada apa, Yuria? Itu seperti kau mengatakan kalo aku menjijikkan."
" "Kau memang menjijikkan." "
Sial... Me-mereka... begitu terus terang.
Tapi, mereka tidak tahu kalo aku senang dihina... Bodoh sekali.
"Wah, rumahnya besar, tetapi tamannya juga indah───────"
Saat Tanaka melihat-lihat taman, anjing peliharaan Yuria berlari ke arah Tanaka sambil menggonggong dengan bersemangat.
"Hei! Ryota-kun Ichinose-san! Ada anjing besar yang berlari ke arahku! Tu-tu-tunggu! Hei, hentikan! Jangan jilat wajahku!"
Anjing itu menabrak Tanaka, dan menjatuhkannya ke rumput.
Aku tidak pernyah menyaka dia alan dijilat (secara fisik) bahkan oleh seekor anjing.
"Ayo Tanaka, jangan bermain-main, bantu siapkan BBQ."
"Hei, situasi ini terlihat seperti aku sedang bermain-main dari sudut mana! Tolong aku!"
Saat Tanaka bermain dengan anjing, aku dan Yuria mulai mempersiapkan BBQ di taman.
"Hei, hei! Kenapa kalian berdua mengabaikanku dalam situasi ini!! Ka-kalian meninggalkanku, gyaaaa!!"
Aku dan Yuria dengan tenang melanjutkan persiapan, mengeluarkan kompor barbekyu besar dari gudang, dan mengeluarkan kursi dan meja untuk luar ruangan.
Kami harus menyalakan api dari sini, BBQ memiliki banyak hal yang harus dilakukan secara diam-diam.
"Jadi, jangan abaikan aku, tolong! Hei, Anjing, ja-jangan di sana! Kyah♡"
Tapi, bahkan pekerjaan yang membosankan seperti itu pun terasa cepat berlalu saat aku melihat paha Yuria yang mempersiapkan bersamaku.
"Ryota, kau lebih pendiam dari biasanya saat bersiap-siap...apa kau melihat pahaku lagi? Kau benar-benar tidak bosan pernah ya."
"...Waktu berlalu seperti anak panah, paha besar selalu tebal."
"Ah, aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku mengerti kalo Ryota masih menjijikkan seperti biasa."
Yuria melanjutkan persiapan kompor dengan wajah heran, dan aku menunggu api menyala di sampingnya, sambil menatap paha Yuria.
"Yah, tapi tidak bosan denganku adalah hal yang baik, kan? Karena aku pikir kita akan memiliki 'hubungan yang panjang' mulai sekarang?"
"Pa-panjang? Ya, itu benar. Kalo kita berada di jalur studi yang sama, kita akan berada di kelas yang sama tahun depan juga."
"Ah, tidak, bukan itu maksudku."
Yuria mengerutkan keningnya dan menyangkalnya.
"Yah... tidak masalah. Bagaimanapun juga, kita akan tetap bersama. Pokoknya, Ryota, tetaplah di sampingku tahun depan...itu saja sudah cukup."
"Di sampingmu? Oh, maksudmu kursi? Memang nomor absen kita dekat, jadi ada peluang kita akan duduk berdekatan di awal tahun depan."
"Orang ini sungguh...───────! Apa kau mau mau wajahmu dipanggang di kompor?"
Yuria menggerutu dengan wajah marah sambil membunyikan capitan yang ada di tangannya.
"Ke-kenapa kau marah, Yuria! Apa itu karena aku melihat paha mu!?"
"Paha tidak masalah sekarang!"
"Jadi apa kau tidak akan peduli kalo aku terus melihat pahamu nanti?"
Jadi, aku melanjutkan menunggu daging matang sambil terus melihat paha nya.
"Untuk sementara, dagingnya terlihat mulai matang, ayo kita siapkan yang lain juga. Hei Tanaka───────, jangan bermain-main terus, jaga daging ini."
"Aku tidak bermain-main! Tolong aku!"
Tanaka, yang sejak datang terus dikuasai oleh anjing, akhirnya diselamatkan oleh Yuria.
"A-aku tidak akan memaafkan anjing besar brengsek itu."
Gadis SMA (fujoshi) berusia 16 tahun mengancam seekor anjing.
Astaga, inilah kenapa Tanaka seperti itu...
"Kalo begitu Tanaka dan Ryota tolong panggang dagingnya. Aku akan memotong sayuran di dapur."
"Ah, terima kasih, Yuria."
"Ya. Beri tahu aku kalo apinya padam."
Sambil berkata begitu, Yuria masuk ke dalam rumah.
"Hei Ryota-kun, kenapa wajahmu terlihat sangat kecewa! Wajahmu seperti kau tidak bersemangat kecuali kau melihat paha besar Ichinose-san."
"Kau...kenapa kau tahu! Apa kau seorang jenius."
"Aku tidak pernah sebahagia ini saat dipuji jenius."
Tanaka mengurus daging dengan wajah seperti menggigit buah pahit.
"Tapi entah kenapa...sudah lama aku tidak berbicara berdua dengan Ryota-kun seperti ini. Akhir-akhir ini selalu ada tiga gadis cantik itu, dan lagipula kita menghabiskan liburan musim panas bersama adalah sejak SMP."
"Itu...memang mungkin benar."
Kalo dipikir-pikir, sudah dua tahun sejak aku menghabiskan liburan musim panas dengan Tanaka seperti ini.
"Tahun lalu adalah satu tahun kosong, bisa dibilang, itu adalah pertama kalinya kita berdua berada di kelas yang berbeda sejak menjadi teman, jadi rasanya jadu aneh."
"Ya, benar sekali."
Kami tidak pernah membahasnya, tapi memang ada jarak yang tidak terhindarkan muncul.
"Aku, sebenarnya sedikit takut untuk mengajak mu bicara. Saat kita berada di kelas yang sama sepanjang SMP, kita selalu tahu keadaan satu sama lain di kelas, jadi kita mudah untuk berinteraksi. Saat kita pertama kali berada di kelas yang berbeda, dan hanya sesekali bertemu...aku khawatir suatu hari Ryota-kun akan menjadi Ryota-kun yang tidak aku kenal."
"Ta-Tanaka..."
"Tapi, itu hanya khayalanku saja. Ryota-kun yang sekarang tetap orang mesum yang tidak tertolong, otaku, dan mesum!"
"Kau! Kau menghina ku!"
"Ya, benar!"
"Kau ini!"
"Tapi... Ryota-kun yang seperti itu tetap orang yang sangat penting bagiku, yaitu Izumiya Ryota bagiku. Itu sudah cukup, Ryota-kun?"
Tanaka membalik daging yang sudah matang, dan mengatakan itu sambil tersenyum. Aku yang sekarang...adalah aku yang penting di hati Tanaka.
"A-aku juga...lega karena Tanaka tidak berubah... Kau adalah satu-satunya sahabat ku...jadi."
Mungkin karena Tanaka mengatakan hal yang tidak seperti dirinya tadi, aku juga menjadi sedikit jujur dengan perasaan ku.
Tapi, memang benar aku lega karena Tanaka tidak berubah.
"Ryota-kun... Ja-jangan mengatakan hal yang menjijikkan dengan wajah seperti itu!"
"Hah? Batalkan yang tadi!! Aku tarik kembali kata-kata ku!"
"Hei, apa kalian bertengkar lagi?"
Yuria kembali dengan mangkok salad di tangannya.
"Coba dengar ini Ichinose-san───────Ryōta-kun sepertinya sangat mencintai ku───────"
"Hah? Hei Ryōta, apa kau serius?"
"Kenapa kau sangat marah, Yuria! I-itu salah paham! Aku hanya mengucapkan terima kasih padanya!"
Karena Tanaka, situasinya bukan lagi tentang BBQ. Setelah persiapan DDBBQ selesai, kami akhirnya bisa makan. Daging dan sayuran yang dipanggang dengan baik di kompor BBQ.
Sudah lama aku tidak makan daging sapi setebal ini, dan sayuran musim panas yang ditumpuk bergantian dengan daging terlihat berwarna-warni dan menggugah selera.
Saat lemak daging menetes, aroma yang lebih harum menyebar─────────.
"Mou Ryōta-kun! Sampai kapan kau akan terus memberikan narasi di otak mu seperti karakter yang merepotkan di manga kuliner!"
"Jangan mengganggu Tanaka. Aku sedang berdialog dengan daging ini."
"Itu tidak penting! Minggir jangan berdiri mematung di depan daging itu!"
Dialog ku dengan daging terputus karena gangguan Tanaka.
Astaga, Tanaka memang seperti ini saat lapar.
Aku yang diduduki oleh Tanaka, pergi ke tempat Yuria yang sedang membawa peralatan makan ke meja.
"Yuria───────! Tanaka menggangguku───────!"
"Hah, kalian bukan anak kecil lagi. Kalian selalu saja bertengkar.”."
Yuria meyerahkan satu piring padaku dengan wajah heran.
"Kalo begitu, ambilkan daging untukku juga. Tolong bagian yang enak."
"Bagian yang enak...?"
Tatapan ku seketika menunduk. Kalo dibilang bagian yang enak, itu adalah, ya? (Wajah mesum).
"Jangan melihat ke arah pahaku!"
"Ta-tapi."
"Lagipula kau belum pernah mencobanya."
"Belum?"
"Hei kalian berdua! Ayo cepat makan!"
Tanaka memanggil kami sambil melahap daging dengan rakus.
"Ya, ya. Ayo Ryota."
"O-oke."
"Nho! Aku merasa semua sel di tubuhku menjadi aktif!"
"Tidak mungkin seperti itu. Kau tidak mengonsumsi sel kuliner atau apa pun."
Memang Tanaka terlihat sedikit bersinar, tapi aku pasti salah lihat.
"Wah, tapi liburan musim panas akan segera berakhir, ya. Aku berharap liburan musim panas yang enak seperti ini bisa berulang tanpa akhir."
"Kau ini tamak sekali. Yah, aku juga berpikir akan sangat luar biasa kalo kejadian kolam renang itu berulang tanpa akhir."
"Hei Ryota, jangan katakan itu."
Aku memberikan tatapan mesum pada Yuria. Kalo aku bisa terus merasakan ceri Yuria di punggungku itu berulang tanpa akhir, aku merasa aku bisa bertahan melakukannya sebanyak 15521 kali.
"Kejadian apa yang kau maksud?"
"Bukan apa-apa. Itu bukan urusanmu yang masih anak kecil, Tanaka."
"Eh, jangan-jangan kalian melakukan hal yang sangat mesum! Hei!"
Kami menikmati BBQ sambil menikmati daging mewah dan lelucon paling jorok.
Waktu seperti itu terasa istimewa. Andai saja waktu seperti ini bisa berlangsung selamanya...
Sambil berpikir begitu sambil, aku menggigit daging lagi.
Dan liburan musim panas kami yang meriah pun berakhir.



