Kamu saat ini sedang membaca Inkya no ore ga Sekigae de Skyubishojo ni kakomaretara Himitsu no kankei ga hajimatta volume 3, chapter 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
SURAT CINTA ITU DATANG SECARA TIBA-TIBA
───────Akhir Agustus.
Liburan musim panas yang terasa panjang namun singkat akhirnya berakhir.
Misteri mengenai kouhai yang penuh misteri, Himesaki Nozomi, yang memanggilku masih belum terpecahkan.
Pada hari pertama sekolah, aku pergi sambil mendengarkan teriakan terakhir dari sisa-sisa belalang yang berhasil melewati semi-final, sambil menatap langit musim panas yang cerah tanpa awan seperti biasa.
Seragam musim panas yang kupakai lagi setelah sekian lama terasa sedikit lebih kecil.
Aku pikir satu-satunya bagian tubuh ku yang tumbuh adalah bagian bawah (makna terselubung), tapi ternyata tubuh ku juga menjadi lebih berisi (makna terselubung).
Yah, itu wajar saja.
Liburan musim panas ku penuh dengan serangkaian kejadian 'balistik', seperti menenggelamkan wajahku di payudara besar Airi di pedesaan, dan mencicipi 'buah ceri' Yuria di kolam renang.
Selain itu, karena aku menerima menjadi wakil ketua OSIS, pasokan foto selfie dari Rui pun dilanjutkan.
Inilah yang disebut rantai mesum parah.
Kalo kau melakukan perbuatan baik, maka hal mesum akan kembali padamu.
Anak-anak baik, selalu jadilah anak baik, ya? Itu janji dengan kakak mesum.
"Astaga Ryota-kun, kenapa wajahmu saat berangkat sekolah seperti itu."
"Ah, Tanaka ya."
Aku tersadar setelah disapa oleh Tanaka yang muncul dari tikungan.
"Hidungmu terlihat sangat panjang. Pasti kau sedang memikirkan hal yang mesum."
"Yah. Aku tetap dalam mode operasi normal untuk semester kedua."
"Hah... Kau akan kena masalah kalo kau terlalu sering memikirkan hal-hal yang mesum."
"Tidak masalah! Aku bisa menyeimbangkan antara erotisme dan belajar!"
"Itu tidak meyakinkan sama sekali meskipun kau mengatakan hal yang mirip dengan karakter manga tambahan dari suatu lembaga pendidikan jarak jauh. Lagipula yang aku bicarakan bukan tentang belajar."
"Selamat pagi Ryota───────!"
Terdengar suara memanggil ku dari belakang.
Oh, suara ini adalah...
Suara payudara yang bergerak (tayuun) setiap kali dia mendekat, dan payudara besar yang bergoyang tanpa henti.
"Se-selamat pagi Airi. Kau terlihat bersemangat seperti biasa."
"Ya! Aku harus bersemangat untuk semester kedua!"
Umiyama Airi, penuh semangat dan memiliki payudara yang besar..
"Aku tidak bisa bermain banyak di paruh kedua liburan musim panas karena sibuk, dan sudah lama kita tidak bertemu seperti ini."
Sambil berkata begitu, Airi memberikan senyum yang lebih bersinar daripada matahari musim panas yang terik ke arah ku.
Ga-gawat, senyum Airi terlalu menyilaukan, secara alami tatapan ku mengarah ke bawah...
"Hei Ryōta, jangan lihat ke sana."
Saat aku hendak melihat baku-nyū Airi, daguku dipegang oleh Yuria yang datang dari belakang Airi.
"A-ada apa Yuria, jangan mengganggu!"
"Mengganggu apanya, aku hanya memperingatkan pandangan mesummu, jadi apa yang kulakukan itu benar."
Yuria mengusap daguku sedikit dengan ujung jarinya lalu melepaskan tangannya.
Cara menyentuhnya... mesum sekali.
"Are Yuria! Kenapa kau menyentuh wajah RyOta!"
"Bukan apa-apa. Daripada itu, ayo kita bertiga cepat berangkat sekolah."
Yuria berkata begitu lalu mulai berjalan lebih dulu.
Meskipun Yuria mungkin berpikir dia bersikap acuh tak acuh di depan semua orang seperti biasa, memegang dagu adalah hal yang hanya dilakukan oleh 'orang dalam hubungan tertentu', kan...
"Ngomong-ngomong, Tanaka dan Ryota, apa kalian tidak melihat Rui-chan?"
"Aku melihat Kuroki-san sudah pergi ke sekolah lebih dulu. Dia sangat menarik perhatian karena orang-orang di sekitar nya memberi selamat atas kemenangannya di kejuaraan nasional hanya dengan berjalan."
Yah, setelah menunjukkan hal yang begitu menakjubkan di Inter-High, wajar kalo Rui menjadi seperti itu.
"Oh, begitu. Airi juga ingin cepat mengucapkan selamat, jadi Airi akan pergi ke kelas duluan, ya! Sampai jumpa!"
Airi pergi lebih dulu sambil menggoyangkan payudara besarnya lagi.
"Hei, Airi! Jangan berlari, itu berbahaya."
Yuria juga ikut tertarik dan pergi bersamanya. Aku dan Tanaka yang tersisa memutuskan untuk pergi dengan santai.
"Hah... Sungguh menyilaukan, para anak yokya yang bersikeras ingin memberi selamat."
"Jangan memberikan komentar seperti anak inkya."
Pada akhirnya, aku pergi ke sekolah bersama Tanaka yang tetap seorang inkya.
★★★
Saat aku tiba di kelas, teman-teman kelas sedang mengelilingi meja Rui.
Yuria dan Airi sepertinya telah meninggalkan kelas setelah meletakkan tas mereka di meja, dan mereka tidak terlihat di kelas.
Ada gadis yang duduk di kursi ku di sebelah kiri Rui, jadi aku dengan enggan menunggu di depan pintu geser kelas.
"Selamat pagi Kuroki-san, kau luar biasa di Inter-High!"
"Selamat atas kemenanganmu───────! Aku juga menontonnya!"
"Memang Kuroki-san! Kau sempurna seperti biasa!"
Para gadis yokya di kelas memuji Rui yang menang habis-habisan. Semua komentar itu biasa saja, sampai-sampai aku ragu apakah mereka benar-benar melihat Rui lari.
Apa yang ditunjukkan Rui saat itu adalah semangat yang berbeda dari kehebatannya yang biasa.
Rui biasanya melakukan segalanya dengan tenang dan penuh senyuman, tapi Rui saat itu adalah 'keterdesakan' itu sendiri.
Aku sangat terharu sampai tidak bisa berkata-kata melihat wajah yang penuh perasaan seperti itu saat gadis cantik yang sempurna, Kuroki Rui, bertarung dengan sungguh-sungguh.
Justru karena itulah, aku...mendukung kesempurnaan Rui yang seperti itu─────────
"Oi, Ryōta-kun?"
"Eh..."
Saat aku berdiri melamun di depan pintu geser, Rui yang entah sejak kapan sudah ada di depanku memanggil ku.
"Kau dari tadi berdiri di situ, ada apa?"
"Ah, eto, pengikut Rui telah menduduki tempat dudukku jadi kupikir akan buruk kalo aku meminta mereka pergi."
"Begitu ya... maaf sudah membuatmu terganggu, Ryota-kun. Tapi semua orang sudah pergi sekarang, jadi kenapa kau tidak duduk?"
Rui berkata begitu, dan kembali ke tempat duduknya.
"Ah... ah."
Jawabku sambil menghela napas.
Percakapan yang agak canggung.
Setelah Inter-High, sejak aku memberitahu Rui kalo aku ingin menjadi wakil ketua OSIS, entah kenapa kami tidak bisa berbicara seperti dulu.
Contoh paling nyata adalah 'foto' yang selalu dikirim oleh Rui.
Dulu, setelah aku menyimpan foto itu, aku akan membalasnya dengan menulis kebaikan foto yang aku terima sebagai rasa terima kasih dalam kurang dari 100 kata, tapi akhir-akhir ini aku merasa malu untuk mengirimkannya dan hanya mengirimkan stiker 'terima kasih'.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa membalas seperti otaku menjijikkan di depan Rui, kenapa aku merasa malu...
Ini, pasti mirip dengan jarak antara pasangan setelah hubungan seks pertama (seperti yang diceritakan oleh seorang perjaka).
Tapi yah, Rui pasti merasa lega karena balasan ku yang terlalu menjijikkan tidak lagi datang, jadi tidak masalah...
"Nee Ryōta-kun."
"Hm? Ada apa, Rui?"
"Akhir-akhir ini...kau tidak menulis kesanmu tentang foto selfie ku, ya?"
"Eh..."
Rui juga menyadari hal itu!
"Padahal aku selalu menantikannya───────"
"Hah? Menantikannya? Itu?"
"Ya. Karena aku...ingin tahu lebih banyak tentang bagian mana yang Ryota-kun lihat lama-lama dan membuat mu sange."
"........!"
"Aku ingin kau memberitahu ku bagian mana lagi selain pusar-ku yang kau sukai."
Rui meminta kesan ku...terlalu mesum!! Tunggu, bukan itu! Jangan tergoda. Ini adalah serangan verbal dari Rui.
Dia selalu menggelitik hati lelakiku seperti itu...tapi aku menyukai itu.
"Aku mengerti. Mulai sekarang aku akan membalas dengan benar seperti biasa, bukan hanya stiker."
"Fufufu... Entah kenapa Ryōta-kun, sejak Inter-High kau menjadi 'anak baik', ya?"
"Anak baik? Apa maksudmu?"
"Karena Ryota-kun yang dulu pasti akan mengatakan hal seperti 'Kalo begitu aku akan mengumumkan bagian mesum mu di depan semua orang sekarang juga'."
"A-aku tidak mungkin mengatakan hal seperti itu! Menurutmu aku ini orangnya seperti apa?"
"Seorang cabul, mungkin───────"
"Ah... ya."
Pukulan kebenaran.
Aku sama sekali tidak bisa membantahnya.
Saat aku berbicara dengan Rui di kelas, Airi dan Yuria, yang telah pergi ke suatu tempat meskipun datang lebih dulu, telah kembali.
"Ryota akhirnya kau datang───────"
"Ryota, kau datang terlambat. Jangan-jangan kau bermesraan dengan Tanaka sebelum sampai di sekolah?"
"Ti-tidak kok! Sederhananya Tanaka berjalan sangat lambat."
"Ah, Ryota menyalahkan Tanaka-chan lagi───────."
"Itu fakta!"
Karena Airi dan Yuria menggodaku, aku menyalahkan semuanya pada Tanaka.
Memang, Tanaka selalu berjalan dengan langkah kecil dan cepat, jadi sulit untuk mengimbangi kecepatannya.
Ngomong-ngomong, kalo aku berjalan lebih dulu tanpa mengimbanginya, dia akan berkata "Pria seperti itu tidak akan populer!", dan kalo aku mengimbangi kecepatan berjalan nya, dia akan berkata "Ryota-kun... Itu yang aku maksud, kau ini" sambil memalingkan wajahnya.
Apapun pilihanku, itu akan sangat merepotkan.
Itulah kenapa Tanaka adalah Tanaka (operasi normal).
"Lagipula kalian berdua pergi ke mana tadi?"
"Eh? Airi dan yang lain─────────"
"Hei, Airi!"
"Hmm?"
Saat Airi hendak mengatakan sesuatu, mulutnya langsung dibekap oleh Yuria dari samping.
Ada apa ini? Apakah ini sesuatu yang tidak bisa dikatakan padaku?
Jangan-jangan... Yuri seks!
"Ryota, kau pasti memikirkan hal yang mesum lagi."
"A-aku memang sedang memikirkannya! Apa itu buruk?"
"Jangan bersikap masa bodoh."
Aku tertangkap oleh Yuria saat aku berfantasi tentang payudara besar Airi dan paha besar Yuria yang bertumpukan di dalam pikiran ku.
"Daripada itu Rui-chan! Klub atletik libur sore ini, kan?"
"Ya, benar, tapi...kau tahu itu dari mana, Airi?"
"Ari tadi bertanya pada anak klub atletik! Kalo begitu, bagaimana kalo kita karaoke bersama sore ini?"
"Tentu saja. Kalo begitu, bagaimana kalo kita berempat karaoke sore ini?"
"Yatta───────! Airi senang sekali akhirnya bisa bermain dengan Rui-chan lagi───────"
Airi menunjukkan kegembiraannya dengan menggoyangkan payudaranya yang besar lebih hebat dari biasanya.
Payudara Airi bergoyang begitu keras berarti dia benar-benar senang bisa bermain dengan Rui.
... Hmm?
Tunggu sebentar. Tadi Rui mengatakan 'berempat'...
"Eh! A-aku juga ikut karaoke?"
"Tentu saja! Airi ingin kita semua bermain bersama lagi!"
"O-oke..."
Karaoke, ya...kalo aku pergi berdua dengan Tanaka maka itu cukup santai, tapi dengan tiga orang ini...yah.
Tapi, karena Airi sedang bersemangat, kalo aku menolak karena tidak mau, itu bisa merusak suasana.
"Ba-baiklah. Aku ikut."
"Yatta! Kalo begitu kita berkaraoke bersama! Airi jadi menantikan sepulang sekolah!"
Airi berkata begitu dengan gembira.
Aku telah menjadi dewasa (makna terselubung) setelah melalui liburan musim panas penuh hal mesum.
Artinya, aku bisa membaca suasana seperti anak yōkya. Ini adalah pertumbuhan yang pasti dicapai melalui kemesuman.
Tidak semua yang mesum akan diberi imbalan, tapi semua yang berhasil pasti telah melakukan hal yang mesum.
Aku yang telah mencicipi terjun ke payudara baku-nyū Airi, ceri Yuria, dan sandwich paha besarnya, sudah tak terkalahkan.
"Ah, sebentar lagi adalah HR pagi... Hei, Ryota kenapa wajahmu seperti itu. Menjijikkan.
Saat aku menyeringai sendirian sampai terlihat menjijikkan, Yuria mengatakan kalo aku menjijikkan dengan suara pelan.
"Ah, maaf. Pria tampan seperti ku terlalu bisa membaca suasana, jadi kapasitasnya tidak cukup untuk segalanya."
"Uwaa, kau sangat sombong sampai menjijikkan. Lagipula kau terlalu berlebihan hanya karena akan pergi karaoke. Selain itu, kalo kau membaca suasana, lagu anime juga dilarang, apa kau tidak apa-apa?"
"...Eh."
Saat Yuria mengatakan itu, wajahku langsung berubah muram.
Hei, hei, hei, aku tidak bisa menyanyi selain lagu anime. Dan itu lagu anime moe dari serial kirara.
"Ja-jangan jangan Ryōta...kau hanya bisa menyanyi lagu anime..."
Meskipun telah mencicipi kemesuman, terkonfirmasi lagi kalo yinkya otaku tetaplah yinkya otaku.
★★★
───────Setelah sekolah.
Aku, yang hampir pasti akan diberi marakas dan tamborin karena tidak tahu lagu anak yokya, berjalan ke depan loker sepatu dengan bahu merosot.
"Ayo Ryota───────, kita cepat pergi───────!"
"Iya iya..."
Berbeda dengan tiga orang yang sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik yang pergi lebih dulu, kakiku terasa berat... Hmm?
Saat aku hendak mengambil sepatuku dari loker sepatu itu.
"A-apa ini?"
Ada sepucuk surat diletakkan di atas sepatuku.
Amplop putih murni, tertutup dengan stiker nada musik.
"Hmm? Ini adalah... jangan-jangan! Surat cinta?"
"Mou! Ryota───────!"
"Ah, ya! Aku datang!"
Didesak Airi, aku segera memakai sepatuku.
Tidak mungkin itu surat cinta.
Tidak mungkin ada surat cinta untuk ku yang seorang inkya.
Aku yang telah dewasa melalui kemesuman sudah lulus dari pemikiran anak inkya yang salah paham seperti itu!
Yah, lupakan kemesuman, aku akan bermain dengan tiga orang itu sekarang, jadi biarkan surat itu menjadi kesenangan setelah pulang.
Aku pergi ke karaoke bersama tiga gadis cantik itu sambil merasa gelisah.
★★★
Setelah tiba di tempat karaoke, situasinya sangat sibuk.
Aku pikir aku hanya perlu memukul tamborin atau semacamnya, tapi aku dipaksa berduet berulang kali oleh Airi yang sangat bersemangat, dan dipaksa menyanyikan banyak lagu yang tidak aku ketahui.
Setelah bersemangat selama sekitar dua jam, kami akhirnya pulang.
"Ehehehe───────, Airi senang sekali bisa bernyanyi dengan Ryōta hari ini───────"
"Hei, tenggorokanku sudah serak sekali..."
"Tapi Ryōta, kau hebat. Kau bisa langsung menyanyikan semua lagu yang baru sekali kau dengar sebelum bernyanyi dengan Airi. Aku pikir kau hanya orang mesum, tapi ternyata kau punya bakat seperti itu."
"Benar kan, benar kan───────! Ryōta keren───────!"
"Be-begitukah?”
Aku tersipu karena dipuji oleh Yuria dan Airi.
"Yah? Mungkin telingaku terlatih karena aku sering tertidur sambil mendengarkan siaran ASMR jilat telinga."
"Jilat telinga? Apa itu Ryota?"
"Eh? Ah, jilat telinga itu adalah..."
"Hei Ryota."
Yuria menatapku dengan dingin.
Ups... Hampir saja aku menjelaskan secara rinci kenikmatan yang niche (menurut pandangan umum) bagi para otaku.
"Yuria? Ada apa tiba-tiba?"
"Da-daripada itu Airi! Kita harus belok kanan di tikungan ini."
"Ah, begitu! Kalo begitu Ryota dan Rui-chan, sampai jumpa besok───────"
Sambil berkata begitu, Airi melambaikan tangannya dan payudara besar dengan lebar.
Mungkin karena aku terus menatapnya, Yuria pergi bersama Airi dengan wajah heran.
"...Hanya kita berdua, Ryota."
"Ya, kurasa begitu."
"Bagaimana kalo kita pulang bersama?"
"Ya, tentu."
aku dan Rui, yang arah pulang kami yang sama, kembali bersama.
Aku pernah bertemu Rui secara kebetulan saat pulang dari kencan dengan Yuria dan pulang bersama, tapi ini pertama kalinya aku pulang dengan Rui di malam hari seperti ini.
"Ryōta-kun, kau terlihat sangat menikmati karaoke tadi."
"Be-begitukah? Malah aku merasa seperti memaksakan diri mengimbangi Airi karena aku yang tidak terbiasa dengan suasana itu."
"Meskipun begitu, kau terlihat senang. Ah, atau...mungkin kau senang karena itu Airi?"
"Apa maksudmu? Tidak ada hubungannya apakah itu Airi atau tidak."
"Padahal kau duet berkali-kali dengan Airi, tapi kau tidak mau berduet dengan ku."
Rui berkata begitu sambil menyipitkan matanya dan memberikan tatapan lembut.
Ja-jangan jangan Rui... ingin bernyanyi denganku?
"Saat Inter-High, kau memberikan pernyataan cinta yang begitu penuh gairah... Kurasa hanya sebatas itu rasa cintamu padaku, Ryota."
"I-itu bukan pernyataan cinta! Aku hanya bilang aku ingin mendukung Rui!"
"Fufufu, Ryota-kun, kau begitu putus asa padahal aku hanya bercanda dan menggodamu."
"Tentu saja! Itu bukan hal seperti itu!"
Tujuan ku hanyalah mendukung Rui di sisinya kalo dia menjadi ketua OSIS.
"Lagipula kalo aku mengajak mu berpacaran, kau pasti akan menertawakanku, kan?"
"Hmm, entahlah? Aku mungkin sedikit akan memikirkannya, tapi..."
"Tapi?"
"Kalo bisa segera...tidak, lupakan saja. Ryota-kun terlihat akan mudah selingkuh dengan gadis lain, jadi mungkin aku akan menolaknya tanpa perlu memikirkannya lagi?"
"He-hei! Menurutmu aku ini orangnya seperti apa?"
"Seorang cabul?"
Dia bilang begitu tadi pagi padaku, tapi dengan begitu banyak rekam jejakku, aku tidak bisa membantahnya.
Terutama dari Rui yang selalu memberiku foto selfie mesumnya.
"Daripada itu Ryota-kun, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan."
"Oh, ayolah. Apa lagi kali ini?"
"Bukankah kau berhenti di depan loker sepatu sebelum keluar sekolah?"
"Eh..."
Aku benar-benar lupa karena karaoke, tapi benar juga, ada surat di loker sepatuku.
Tidak mungkin ada surat cinta untuk orang seperti ku, aku pikir itu paling-paling hanya gangguan (surat kesialan) dari penggemar Rui, Airi, atau Yuria...
Tapi, bagaimana Rui bisa mengingat sesuatu yang bahkan aku lupakan?
Haruskah aku membicarakannya dengan Rui untuk saat ini?
Tapi... ini akan jadi rumit.
"Ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat seperti ada serangga di dalam loker sepatuku, tapi setelah aku melihatnya lebih dekat ternyata itu hanya debu."
"... Fūun."
"Oh, bukankah kita hampir sampai di rumah Rui?"
"... Benar. Kalo begitu sampai jumpa, Ryōta-kun."
Rui berpisah dariku sambil mengernyitkan alisnya dengan sedikit kecurigaan.
Mengingat Rui yang penciumannya sangat tajam, dia pasti masih curiga... Tapi lupakan soal Rui, aku harus membuka surat ini setelah sampai di rumah.
★★★
Aku bergegas pulang supaya aku bisa memeriksa isi surat itu.
"Oho───────, Ryōta-kun akhirnya pulang───────"
Aku memasuki kamar dan meletakkan tas ku di atas meja.
Aku sengaja menghindari bertanya pada Rui tentang surat itu...tapi aku perlu memastikan apa isinya.
"Ah, aku sama sekali bukan penyusup! Aku datang karena Kakak perempuan mu mengatakan akan memberi baju bekas yang tidak dia pakai lagi."
Memang benar ada penggemar Rui, penggemar Yuria, dan penggemar Airi di seluruh sekolah, dan wajar kalo ada anti terhadap ku yang berteman baik dengan mereka bertiga.
Apa mereka akan menantangku berduel?
"Hei, Ryota-kun, kenapa wajahmu terlihat seperti sedang berpikir keras seperti itu?"
Tapi, untuk surat dari seorang pembenci, ada stiker nada musik yang imut...
"Moo! Ada apa! Jangan abaikan aku!"
"...Apa? Oh, Tanaka. Sejak kapan kau di sini?"
"Aku sudah di sini sejak awal! Aku menyapa mu dengan suara oho ku yang biasa, jadi tanggapilah dengan benar!"
"Soal suara oho, itu hal yang kau lakukan sendiri."
Saat aku mengabaikan Tanaka seperti biasa, dia menggembungkan pipinya dan cemberut.
"Itu sih memang benar, tapi ada apa? Kenapa kau menatap tas terus mu sejak kau pulang? Jangan jangan Ryota-kun, kau terlalu mesum sampai akhirnya menjadi birahi pada tas?"
"Tidak! Aku tidak punya fetish abnormal seperti itu!"
"Lalu ada apa?"
Nah, bagaimana ini... Apa aku boleh menceritakannya kepada Tanaka?
Sudah pasti akan merepotkan kalo aku menceritakannya kepada Rui, jadi aku mengelak, tapi Tanaka...
Tapi yah karena Tanaka punya sedikit teman seperti biasa, mungkin tidak masalah ako aku menceritakannya padanya.
"Sebenarnya ada hal seperti ini di loker sepatuku."
Aku mengambil sepucuk surat dari tas ku dan menyerahkannya kepada Tanaka.
"Eh! Ini, jangan-jangan surat ci... tidak, tidak mungkin ada surat cinta untuk pria seperti Ryota-kun yang mesum parah, seorang inkya dan pasti akan perjaka seumur hidup! Maaf maaf."
"Jangan bersimpati setelah kau seenaknya menghina ku! Kau juga tidak jauh berbeda."
"Ja-jangan samakan aku dengan mu! Aku ini populer! Bahkan novel BL incest yang aku tulis di kreasi sekunder memiliki 20.000 bookmark."
"Sekarang aku tidak peduli dengan sejarah hitam mu."
"Kuro (Hitam)!?"
Aku merebut surat itu dari Tanaka.
"Aku akan memeriksa isinya sekarang."
"Me-memeriksa? Eh, bukankah normalnya kalo ada surat di loker sepatu, kau akan membacanya di tempat?"
"Yah, mau bagaimana lagi, karena Airi dan yang lain mendesak ku untuk cepat pergi karaoke."
"... Hah? Karaoke?"
Saat Tanaka mendengar kata 'Karaoke', wajahnya berubah seperti menggigit buah pahit.
"Ryōta-kun, jangan-jangan kau baru saja bersenang-senang di karaoke dengan tiga gadis cantik itu?"
"Eh, ah, ya. Aku memang pergi karaoke bersama mereka."
"Hei! Kenapa kau tidak mengajak ku! Aku juga anggota tetap grup itu, kan?"
Tanaka meninju perut ku berkali-kali sambil agak menangis.
Me-merepotkan sekali...
Aku memang merasa bersalah karena melupakan Tanaka.
"Ha-hari ini adalah pesta perayaan kemenangan Rui."
"Kalo begitu seharusnya kau tetap mengajak ku! Aku terlihat bodoh karena baru saja mengobrak-abrik kamar Ryota-kun dari sudut ke sudut sendirian dan kesepian!"
"Kau... yah, soal itu akan aku tanyakan lebih detail nanti, sekarang surat ini dulu."
Mengabaikan perilaku aneh Tanaka, aku perlahan melepas stiker nada musik itu.
"Um, boleh aku melihatnya juga? Kalo ada kemungkinan 0,00000000000000001% kalo itu surat cinta, aku jadi merasa bersalah."
"Kau terlalu meremehkan masa populer ku... Hmm? Tunggu Tanaka, ini..."
"Ya?"
Di dalam surat itu, hanya ada satu baris kalimat yang tertulis dengan tulisan tangan melingkar yang jelas.
『Aku menunggu di atap sekolah besok pagi ♡ Ryota senpai♡』
Hanya satu kalimat yang tertulis. Dan menggunakan tinta pulpen merah menyala, dengan tulisan tangan melingkar ala gadis.
Hati berwarna merah menyala di kata 'menunggu ♡' mengguncang hati ku yang masih perjaka seperti biasa.
"Ryo-Ryota-kun! Ini...!"
"Ah...tidak salah lagi. Ini adalah surat cinta merah."
"Aku tidak begitu mengerti, tapi aku mengerti!! ... Bukan begitu! Ini memiliki atmosfer seperti acara pernyataan cinta yang serius!"
Tanaka, yang lebih bersemangat dariku, mengguncang tubuh ku dengan kuat dari samping.
"Ini benar-benar luar biasa Ryota-kun! Ini surat cinta untuk Ryta-kun, bahkan kalo ini tertulis dalam nubuat komikus terkenal dengan mimpi ramalannya, aku tidak akan mudah percaya!"
"Pernyataan cinta untuk ku tidak mungkin seperti nubuat kiamat dunia! Bahkan aku pun harus menerima surat cinta! Apa kau sedang mengolok-olokku?"
"Tentu saja!"
"Memang iya!"
Dalam pikiran Tanaka, aku masih tetap inkya perjaka seperti biasa. Tapi maaf Tanaka. Aku yang sekarang adalah pahlawan yang telah menyentuh susu segar dan paha segar.
Meskipun aku sedikit gugup pada awalnya, aku tidak cengeng sampai kaget hanya karena surat cinta.
Tapi... panggilan dari kouhai, kah.
Sejak awal, karena tidak tertulis kata 'suka', rasanya agak terlalu cepat untuk memutuskan apakah ini surat cinta atau bukan.
Hanya saja, tidak mungkin panggilan ini bukan masalah ringan kalo ditulis dengan huruf yang begitu imut dan diberi tanda hati.
"Hmm. Tapi...entah kenapa ada sedikit kejanggalan."
"Hah? Kejanggalan? Ada apa Tanaka. Kau masih mau mencari kesalahan pada saat seperti ini?"
"Aku tidak serendah itu! Tapi, memang ada kejanggalan."
Sambil berkata begitu, Tanaka mengusap dagunya dan kembali menatap surat itu.
"Seandainya ini memang surat cinta, bukankah itu terlalu santai?"
"Santai?"
"Ya. Karena kalo seseorang benar-benar menyukai Ryota-kun, dan memanggil mu untuk mengajak berpacaran, seharusnya mereka menulis perasaan mereka dengan serius dalam kalimat yang panjang, menulis nama mereka, dan kemudian memanggil Ryota-kun, itu adalah etika."
"Ka-kay, ada benarnya...satu kalimat itu membuatku ragu."
"Selain itu, ada tanda hati yang memberi kesan terlalu santai, dan warna pulpennya merah juga terlihat menyeramkan!"
Surat cinta itu dikritik habis-habisan oleh Tanaka yang sepertinya belum pernah berpacaran.
Aku ingin mengatakan kalo kau sendiri belum pernah menulisnya, tapi aku akan mengurungkannya karena itu bisa menghancurkan hati Tanaka.
"Tapi memang benar, untuk ukuran surat cinta...aku juga merasakan itu."
"... Yah, bagaimanapun juga, kita harus mencoba pergi besok."
"Benar."
"Ngomong-ngomong, aku dipanggil oleh guru wali kelasku ke ruang guru besok pagi, jadi sayang sekali aku tidak bisa menjadi penonton di atap."
"Jangan menyesalinya! Lagipula jangan datang!"
Lagipula dia dipanggil guru wali kelasnya...apa dia juga melakukan kesalahan?
Dengan pikiran seperti itu, aku menghadapi hari berikutnya dengan tegang.

