Gadis jenius itu muncul di depan Utsugi pada hari Jumat, minggu pertama setelah upacara pembukaan sekolah.
Alasannya mungkin karena dia sedang mencari waktu yang tepat, karena dia tidak muncul tepat di hari pertama semester baru dimulai.
Kalo dipikir-pikir lagi, mungkin dia sempat mengintip Utsugi beberapa kali, tapi dia tidak cukup berani untuk mendekat.
Tapi, saat itu, tidak ada sedikit pun tanda-tanda hal tersebut.
Waktu istirahat makan siang.
"Utsugi Utsugi, novelmu benar-benar membosankan, ya."
Di teras kantin sekolah.
Saat Utsugi menyadari, seorang gadis yang tidak dia kenal berdiri di dekat meja mereka, dengan nampan berisi soba di tangannya.
Dia memandang Utsugi dengan senyum yang tak kenal takut.
Teman baik Utsugi, Ayame Shiyuuji, mulutnya ternganga karena kaget.
Wajar saja. Kalimat gadis itu jelas bukan sesuatu yang biasa diucapkan pada pertemuan pertama.
Sebelum Utsugi sempat berkedip, gadis itu meletakkan nampannya di meja yang sama.
Dia menarik kursi dari sebelah dan duduk sambil melanjutkan bicara dengan lancar.
"Maaf kalo aku lancang. Aku sudah membaca semua cerpen yang kau terbitkan di majalah klub sastra, juga serial novel yang kau unggah di internet dan cerpen lainnya. Itu semua... sungguh buruk. Meskipun kau menulis fiksi hiburan, kau sama sekali tidak memikirkan pembaca. Kau hanya menulis sesuka hati berdasarkan perasaanmu sendiri. Tapi..."
Ucapannya terdengar seperti ulasan buruk dari internet yang benar-benar tanpa ampun.
Ayame sekilas melirik Utsugi, mungkin khawatir jika Itsuki merasa tersinggung.
Tapi, Utsugi tidak merasa marah.
Dikatakan bahwa novelnya membosankan bukanlah hal yang perlu dia sanggah.
Lebih dari itu, dia tahu kalo tidak mungkin gadis ini hanya datang untuk mengkritiknya secara langsung.
Siapa dia? pikir Utsugi sambil memiringkan kepalanya.
Fujibakama Touko—seorang teman masa kecil yang satu tahun lebih tua darinya dan agak bersemangat ketika mendengar gosip, baru-baru ini menceritakan sesuatu.
"Di kelas satu SMA, ada seorang anak baru yang luar biasa. Aku bahkan sudah subscribe chanel video anak itu! Dia pernah merekomendasikan light novel favoritku. Aku penasaran kenapa dia pindah ke kota kecil seperti ini. Ayahnya seorang aktor, dan ibunya seorang penulis terkenal..."
Justru, Utsugi malah merasa penasaran apa yang akan dikatakan gadis ini selanjutnya.
Sejak kecil, Utsugi selalu berusaha mencari hal-hal menyenangkan di sekelilingnya.
Terutama dalam situasi di mana dia merasa seolah dunia sedang mendung, bahkan hal kecil pun terasa menarik.
Utsugi tersenyum dan memberi isyarat agar gadis yang berhenti sejenak untuk makan soba melanjutkan perkataannya.
"Lalu, apa? Teruskan."
Ekspresi gadis itu sejenak bersinar terang.
Tapi, dia segera kembali tenang.
Meskipun begitu, dia sedikit membungkuk ke depan.
"Tapi, ada sesuatu yang ku pikir menarik! Dalam tulisanmu, ada banyak kilauan emosi dalam deskripsi adegan yang kau buat, yang aku sendiri tidak pernah bisa menuliskannya. Hei, kau tahu tentang Jo-ha-kyu atau struktur tiga babak, kan?"
[TL\n: Johakyu (序破急) adalah konsep tradisional Jepang yang digunakan untuk menggambarkan struktur atau ritme dalam berbagai seni dan aktivitas, termasuk musik, teater, seni bela diri, dan narasi. Secara harfiah, jo (序) berarti "awal," ha (破) berarti "pemisahan" atau "perkembangan," dan kyu (急) berarti "penutup" atau "kesimpulan yang cepat." Dalam praktiknya, johakyu menggambarkan alur yang dimulai perlahan (jo), berkembang dengan ketegangan dan variasi (ha), lalu mencapai puncak atau akhir yang cepat dan dramatis (kyu).]
Utsugi merasakan aroma manis gadis itu, yang mengingatkannya pada buah persik, dan dia merasa aroma itu menyenangkan.
Rambut gadis itu yang berkilauan di bawah sinar matahari terlihat indah, pikirnya.
Kulitnya yang segar, mata yang sedikit menyerupai kucing dengan pancaran semangat yang menyala, semuanya membuat dada Utsugi terasa seperti dihembus angin musim semi.
Perasaannya mulai bergetar.
"Orang tidak akan tertarik hanya dengan serangkaian peristiwa yang datar, tanpa dinamika, atau adegan-adegan yang tidak saling berkaitan. Ada beberapa aturan dalam keseruan cerita. Nah, ini yang ingin aku tawarkan padamu—"
Meskipun gadis itu bertubuh kecil dan tidak terlalu kurus, dia memiliki suara serak yang sedikit rendah, tapi terdengar nyaman di telinga.
"Aku yakin, jika kita berdua, kita bisa melakukannya. Kita akan mengguncang dunia ini bersama. Kita akan menendang para jenius lain. Aku akan membimbingmu sampai kau bisa debut sebagai penulis profesional."
"....Penulis profesional?"
"Ya! Kau sudah menulis novel selama ini, kan? Pasti menggebu-gebu rasanya kalo kau bisa menghasilkan uang dari itu, kan? Jalan ini tidak mudah, tapi hanya di ujung neraka yang bisa kau temukan kedalaman kreasi yang sejati. Bagaimana? Apa kau ertarik?"
Bang!!!
Tiba-tiba, suatu firasat berubah menjadi getaran di otaknya seperti percikan api yang menyambar sel-sel otaknya.
Sejak kapan terakhir kali merasakan ini?
Utsugi merasa terangsang oleh perasaan ini.
Dia telah mengalami ini berkali-kali sebelumnya, setiap kali dia mengalami sesuatu yang baru, dia menyadari emosi yang belum pernah dia rasakan, atau ketika ide-ide yang tidak terhubung di kepalanya akhirnya menyatu.
Seiring dengan kegembiraan itu, ada perasaan bahwa warna di sekitarnya berubah satu tingkat lagi.
Perasaan seperti ini sudah lama tidak muncul sejak musim panas tahun lalu.
Di tahun ini akan menjadi sesuatu yang menarik. Dan sejauh ini, firasatnya tidak pernah salah.
"Utsugi..."
Ayame memanggilnya dengan nada khawatir, seolah-olah mencoba menebak perasaannya.
Utsugi, dengan isyarat ringan, menunjukkan telapak tangannya untuk mengatakan kalo dia baik-baik saja.
Sebelum dua sadari, para siswa di teras itu memperhatikan mereka.
Utsugi cukup terkenal di SMP dan SMA AIA swasta ini.
Dan sekarang, seorang siswa baru yang cukup jadi perbincangan sedang terlibat dengannya, tentu saja perhatian tertuju pada mereka.
Tapi, Utsugi sama sekali bukan tipe orang yang peduli dengan tatapan orang lain.
Dengan perasaan yang murni penuh kegembiraan, dari dalam hatinya dia menjawab.
"Aku tidak tertarik."
Gadis itu sepertinya tidak mengerti.
Dia memiringkan kepalanya.
"...Eh, ...Apa?"
Utsugi mengulangi dengan jelas, hati-hati, dan pelan.
"Aku sama sekali tidak tertarik, bahkan tidak satu mili pun."
"...Eh...Aku sama sekali tidak...tertarik..."
"Lebih dari itu, ku rasa aku akan lebih tertarik dengan pengetahuan kalo saat merendam fillet ikan dalam miso, jangan langsung mengoleskan miso, tapi taruh di atas kertas dapur agar tidak gosong. Kau pasti kaget, benarkan? Itu sempurna diawetkan bahkan melalui kertas. Karena itu ada di sana."
"...Eh...tapi, penulis profesional... Buku mu akan dijual di toko buku...Hah? ...Kenapa?"
Suara benturan keras terdengar ketika gadis itu, dengan teriakan kecewa, memukul meja.
Utsugi tertawa kecil, lalu mengangkat nampan bekas makanannya dan berdiri.
"Ayo pergi," kata Utsugi pada Ayame sambil berjalan melewati gadis yang kini tertegun dengan mata berkaca-kaca.
Bahkan saat itu, Utsugi merasa kalo gadis itu yang gemetar seperti anak anjing Chihuahua terlihat sangat imut.
Pada saat yang sama, dia merasa yakin ini belum berakhir, dan perasaan itu membuat hatinya berdebar.
Itu membuatnya berharap lebih. Utsugi bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa dia merasa seperti itu pada gadis ini.
Mungkin karena tatapan gadis itu yang penuh dengan mimpi dan keyakinan.
...Oh, dia ingat sesuatu.
Nama yang pernah disebutkan oleh Fujibakama Touko.
Hiyodoribana Chinatsu.
Dia adalah putri kedua yang lahir dari ratu dunia sastra hiburan, Hiyodoribana Setsuko, dan aktor terkenal yang juga pemimpin kelompok teater 'Rigel', Shion Yuutarou — serta...
Sejak kecil, Utsugi selalu disebut aneh.
Bagi mereka yang tidak terlalu mengenal Utsugi, sering mendengar rumor dengan nada kritis mengenai dirinya.
Bahkan, tidak jarang orang-orang terdekatnya juga menyatakan hal itu secara langsung.
Misalnya, pada awal Februari tahun ini, pada suatu pagi ketika salju setebal beberapa sentimeter turun.
Saat sedang berjalan bersama menuju sekolah, Fujibakama tiba-tiba berkata.
"Setiap kali aku melihat salju, aku selalu teringat pada cerita yang kau ceritakan waktu kita kelas dua SD saat jam makan siang, Utsugi."
Karena Fujibakama tidak suka dingin, dia mengenakan legging tebal yang tampak seperti celana di bawah roknya, dan lehernya dibalut syal sampai menutupi mulutnya.
Utsugi berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Kau maksud cerita tentang saat aku ditegur bersama anak-anak yang ribut di dekatku oleh wali kelas?"
"Ya, benar. Waktu itu kau tidak ikut membuat keributan tapi kau tetap tidak mau minta maaf, lalu dia menyuruhmu keluar ke lorong yang berangin, meletakkan nampan makan siang sekolah di lantai, dan berteriak padamu untuk makan di sini. Itu terjadi di tengah musim dingin."
Nafas Fujibakama mengembun di syalnya, membuat kacamatanya sedikit berkabut.
"Dan yang lebih parah, wali kelas kita cuma mengintip dari dalam ruang kelas yang hangat sambil bertanya, apakah rasanya enak?... Menjijikkan untuk mengatakannya lagi sekarang. Kalo itu dilaporkan ke ploisi, itu bisa menjadi masalah besar. Mungkin dia lebih buruk daripada Tachibana-sensei... Eh, mungkin tidak sampai segitunya."
[TL\n: gua ke inget waktu gua SMA, ada salah satu guru yg galaknya minta ampun, pernah ada cuman piket kebersihan lupa buang sampah, di pukul pake tongkat basball, ada satu cewek yg di pukul langsung jatuh, pas besoknya yg di pukul itu langsung lapor ke kepolisian, dan yah dia gak di tahan padahal ini yg di pukul ampe memar, trus ada kejadian lagi, kelas gua kan waktu itu pelajaran penjas kebetulan dia gurunya, gak ada aging gak ada ujan semua siswa laki laki di kelas gua (yah gak semua sih yg sisa tinggal gua dan 2 laki lanya) beh mereka di jemur di lapangan kondisi tengah hari panas bet dan mereka gak di ijin paka sepatu, trus abis itu dia ambil bambu yg masi utuh turs langsung di pukul ke semua siswa laki laki yg di jemur tadi, tu bambu ampe pecah jir di pake buat mukul.]
Utsugi tertawa.
"Tapi aku sama sekali tidak merasa keberatan. Waktu itu aku malah menikmati makan siang sambil melihat salju."
"Itu yang ingin aku bilang! Saat pertama kali kau menceritakan itu, aku marah sama sensei kita itu, tapi kau malah tertawa dan bilang hal yang sama. Kau bilang itu pengalaman pertama kali kau makan di lorong terbuka sambil melihat salju, dan kau jawab begitu juga ke sensei kita. Serius, Utsugi, kau itu..."
Salju memantulkan sinar matahari pagi.
Mungkin karena cahaya yang menyilaukan itu, Fujibakama menyipitkan matanya dan berhenti berbicara.
Utsugi memperhatikan jejak kaki kucing di salju dan senyumnya semakin dalam.
Karena di tempat ini salju jarang turun, ketika salju menumpuk, itu menjadi momen yang menyenangkan.
Utsugi menggoyangkan daun Yukiyanagi di pinggir jalan untuk menjatuhkan salju, bermain-main dengan salju yang turun, kemudian dia menoleh ke arah Fujibakama.
"Apa sebenarnya aku ini, Fujibakama?"
"...Dari kecil sampai sekarang, kau memang selalu aneh, ya!"
Tapi, Utsugi sama sekali tidak menyadarinya.
Ada kalanya dia merasa tersinggung saat dianggap sebagai orang aneh. Utsugi memang seseorang yang hanya ingin melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.
Hal ini diakui baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain.
Dia tidak tahan melakukan hal-hal membosankan berdasarkan perintah orang lain. Jika orang bertanya kenapa alasanya, dia pun akan bingung menjawab. Karena begitulah adanya. Itulah satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan.
Tapi, Utsugi berpikir, bukankah semua orang merasakan hal yang sama?
Jika di ibaratkan dengan salju yang menutupi jalan, pasti lebih menyenangkan membuat jejak kaki baru di atas salju yang lembut daripada berjalan di jalan yang sudah diinjak oleh puluhan orang hingga menjadi becek atau licin.
Dia hanya melakukan apa yang ingin dilakukannya.
Itu saja.
Saat kelas tiga SD, dia pernah mengisi ranselnya dengan pisau dan lentera, lalu pergi ke sumber sungai di dekat rumahnya.
Begitu juga ketika dia masuk ke SMP di AIA Academy dan menabrakkan pesawat kertas berisi pesan 'Ayo bermain!' serta nomor kontaknya ke kepala Ayame yang selalu menyendiri.
Pada semester ketiga kelas tahun pertama di SMP, dia menyadari kalo setelah kelulusan para siswa kelas tiga SMA saat itu, jumlah anggota klub sastra akan menjadi nol pada tahun ajaran berikutnya.
Maka dia berpikir, kalau begitu, tidak ada yang akan protes kalo dia mengubahnya sesuai seleranya klubnya!
Sama seperti saat dia menemukan teman sekelasnya yang sedang di-bully di belakang gedung sekolah, lalu dari lantai dua, dia mengguyur air seember penuh ke para senpai pelaku bullying itu.
Klub Sastra yang baru direnovasi, umumnya dikenal sebagai 'Klub Sastra Super,' mengambil alih ruang siaran sekolah selama kegiatan bersih-bersih untuk memutar musik komedi sebagai latar, yang menyebabkan keributan di sekolah. Ini juga bagian dari aktivitas klubku, dan aku makan ramen di sebuah reruntuhan yang terkenal untuk menguji keberanian, dan ketika orang dewasa mengetahuinya, dan dia dmarahi habis-habisan.
Dalam setiap momen yang menyenangkan, Utsugi merasakan semacam rangsangan di otaknya. Dia kemudian menuangkan kesenangan itu menjadi emosi seorang tokoh, deskripsi suasana, atau sebagai motif dalam suatu adegan di dalam novel yang ditulisnya.
Itu juga membuat kilatan kesenangan terus berlanjut di dalam pikirannya.
...Sampai nenek tercintanya meninggal, kesenangan itu tidak pernah berhenti.
Utsugi pertama kali menulis sesuatu yang mirip novel sebagai hasil percakapannya dengan neneknya.
Saat dia masih duduk di kelas tiga SD.
"Nenek, kenapa Nenek tidak pernah melarang ku melakukan berbagai hal?"
Itu adalah nenek dari pihak ayahnya, yang tinggal bersamanya. Karena ada aroma bunga osmanthus yang tertiup angin, mungkin saat itu adalah musim gugur. Utsugi sedang duduk di halaman rumah sambil mengunyah apel dan mengamati 100 belalang di dalam sangkar serangga.
Penuh sesak.
Dia menerima tantangan untuk menangkap 100 belalang di taman dekat rumahnya dan diaberhasil menangkap beberapa belalang. Setelah berjuang berjam-jam, di pulang ke rumah dengan semangat tinggi, tapi, ibunya menjerit lebih keras dari biasanya, "Cepat lepaskan mereka di luar, bukan di taman, tapi di tempat mereka berasal!"
Utsugi kemudian pergi ke taman untuk mengamati belalang sebelum melepaskannya. Sementara itu, ibunya memandang dengan ekspresi jijik di wajahnya dan tidak berani mendekat. Sebaliknya, neneknya membuka lebar-lebar pintu geser, duduk di lantai, dan mengawasinya.
"Kenapa kau bertanya begitu, Itsuki-chan?"
Utsugi melihat kembali ke ruang tamu saat dia merasakan neneknya memutar kepalanya.
"Soalnya, Ibu dan Ayah selalu khawatir kalau aku akan melakukan hal yang besar dan berantakan, kan?"
"Yah, mungkin itu karena dulu waktu kau masih di TK, kau pernah memimpin teman-temanmu keluar dari sekolah tanpa izin, dan membuat lomba menerbangkan bulu dandelion di tanah kosong... itu cukup traumatis bagi mereka."
"Aku sudah memastikan hanya mengajak anak-anak yang tidak suka melakukan hal bodoh, kok. Tapi, tidak seperti Ibu dan Ayah, Nenek selalu tersenyum setiap kali aku melakukan sesuatu."
"Karena Nenek merasa bahagia saat melihat Itsuki-chan melakukan hal yang Itsuki-chan sukai."
Saat itu, Utsugi belum benar-benar memahami makna kata-kata neneknya.
"...Karena aku suka melakukannya?"
Neneknya terkekeh.
"Tentu saja. Dari dulu sampai kapan pun, Nenek sangat menyayangimu, Itsuki-chan. Nenek merasa sangat beruntung memiliki cucu seimut kamu. Tapi bukan hanya itu. Nenek juga merasa kamu adalah anak yang bebas."
"Bebas? Bukankah semua orang sekarang juga begitu?"
"Tidak, tidak semua. Semakin dewasa seseorang, atau sebenarnya, anak-anak juga sama. Semua orang pasti pernah merasa ingin melakukan sesuatu, tapi ada banyak hal yang membuat mereka tidak bisa melakukannya."
"Benarkah? Aku rasa tidak."
"Aku ingin menjelajah tempat yang belum pernah didatangi oleh teman-temanku... tapi aku takut. Aku ingin mendapatkan nilai sempurna di ujian... tapi aku benci belajar. Aku ingin memasak untuk orang tuaku... tapi aku tidak tahu caranya. Aku ingin menang di lomba lari... tapi aku tidak bisa berlari cepat. Aku ingin bermain dengan orang yang kusuka... tapi mungkin aku akan ditolak mentah-mentah."
"Aku juga sering tidak dapat nilai 100 di ujian sekolah, dan banyak anak yang lebih cepat dariku di lari 50 meter. Aku juga buruk dalam menggambar."
"Gambar, ya... memang begitu. Tapi Itsuki-chan tidak pernah menahan diri, kan? Kalo kau ingin melakukan sesuatu, kau tidak peduli dan tetap menikmati menggambar meski tidak kau pandai melakukannya. Kau punya bakat seperti itu. Kau bisa memilih apa yang membuatmu senang, apa yang ingin kau lakukan, dan apa hasil yang akan membuatmu bahagia. Semuanya bisa kau pilih sesuka hati, bebas tanpa batasan. Nenek tidak punya kemampuan seperti itu."
"Tidak juga. Nenek itu manis."
"Terima kasih. Tapi, semakin tua seseorang, semakin banyak penyesalan yang muncul. Ah, seharusnya aku melakukan ini atau itu. Dalam hidup yang cuma sekali, saat menyadarinya itu sudah terlambat. Jadi, saat Nenek melihat Itsuki-chan yang menikmati hari-harimu dengan bebas, rasanya seperti Nenek juga ikut melakukannya."
Nenek baru-baru ini terlihat lebih banyak kerutan di sekitar matanya.
Di bawah langit cerah musim gugur, kerutan-kerutan itu tampak lebih jelas. Utsugi merasakan kehangatan pada kerutan-kerutan yang menandai waktu yang telah dilewati.
"Nenek merasa terhubung dengan apa yang Itsuki-chan lakukan dan rasakan. Melihatmu, rasanya seperti membaca sebuah novel yang bagus."
"Nenek memang suka novel, kan?"
"Kau sendiri jarang membacanya. Novel anak-anak mungkin?"
"Uhm... Aku suka buku ensiklopedia, tapi aku lebih suka bermain, jadi aku tidak punya banyak waktu untuk membaca novel. Tapi, aku suka menulis. Baru-baru ini aku dipuji oleh guruku. Menulis itu menyenangkan... dan, oh!"
Tiba-tiba, kilatan ide melintas di kepalanya.
Kali ini adalah koneksi yang lebih kuat, lebih dahsyat, dan lebih berwarna daripada yang pernah dialami sebelumnya. Sebelum Soraki bisa mengungkapkan perasaan yang tiba-tiba meledak di hatinya, Neneknya berbicara, mendukung ide briliannya.
"Itsuki-chan sering menceritakan hal-hal menarik yang terjadi setiap hari pada Nenek, kan? Seperti sebuah cerita. Saat itulah Nenek merasa paling bahagia. Sungguh menyenangkan, dan Nenek merasa sangat bersyukur memiliki cucu sepertimu. Kau membuat Nenek sangat bahagia. Terima kasih.”
"Nenek, aku baru saja mendapat ide yang luar biasa!"
Utsugi berlari ke arah neneknya yang duduk di lantai ruang tamu, berbicara dengan penuh semangat yang menyala.
"Mulai sekarang, setiap kali aku melakukan sesuatu yang kusukai... sesuatu yang bebas dan menyenangkan seperti yang Nenek katakan, aku akan menulisnya menjadi sebuah novel dan membacakannya untuk Nenek! Kalo begitu, hidup Nenek pasti akan lebih menyenangkan, kan? Saat aku membayangkan itu, rasanya sangat menyenangkan! Akhir-akhir ini aku benar-benar merasa begitu."
Senyuman Utsugi sendiri terpancar dari sorot mata neneknya yang tersenyum.
"Dunia ini menyenangkan, Nenek! Saat aku pergi mencari belalang, burung hiyodori berkicau, dan bunga kosmos bergoyang ditiup angin. Kemarin, matahari terbenam sangat indah, dan sebelumnya suara hujan sangat menenangkan. Manga yang dipinjamkan oleh Fujibakama juga sangat menarik, dan cumi-cumi yang Ayah tangkap itu luar biasa lezat. Setiap hari penuh dengan kejutan. Aku ingin Nenek juga merasakannya. Aku akan menyampaikan perasaanku ini, yang takkan dihalangi oleh siapa pun, tak peduli norma atau pendapat orang lain, hanya perasaan murniku sendiri...!"
Jika Utsugi masih bisa berbicara dengan neneknya sekarang, dia pasti akan menceritakan tentang gadis itu—Hiyodoribana Chinatsu—pada hari yang sama.
Tentu saja, seperti ini:
"Jujur, Nenek, aku tidak terlalu peduli dengan segala hal tentang profesionalisme atau kedalaman kreativitas yang dia bicarakan. Itu sama membosankannya dengan ceramah panjang kepala sekolah. Tapi entah kenapa, melihatnya membuat hatiku melonjak! Dia hampir menangis mendengar jawabanku, tapi matanya tetap menyala dengan semangat... Apa aku terlalu berharap kalo ini mungkin orang yang belum pernah kutemui sebelumnya?"
Neneknya akan tersenyum dan menjawab:
"Itsuki-chan, kau memang selalu suka orang-orang yang melakukan hal yang tidak biasa, ya."
Memang benar, Hiyodoribana Chinatsu seperti itu. Meskipun sudah ditolak dengan cara seperti itu, dia tidak patah semangat. Bahkan, keesokan harinya, dia sudah datang lebih awal dan duduk menunggu di meja ruang klub. Utsugi belum pernah melihat gadis lain seperti dia.
★ ★ ★
"──Dengar, Utsugi Itsuki. Kau tahu kan, mendengar perkataanku ini adalah seperti mendapatkan keberuntungan dari undian yang bahkan tidak kau beli?"
Nama resmi yang terdaftar di sekolah hanyalah 'Klub Sastra'.
Tapi, di kalangan anggota, klub ini dikenal dengan julukan 'Klub Sastra Super'.
Hiyodoribana, yang kini duduk di atas meja, bukan di kursi, melanjutkan bicaranya sembari mengganti posisi kakinya.
Gerakannya terlihat agak kaku, seolah mengisyaratkan kalo dia sebenarnya tahu tidak seharusnya dia duduk di atas meja, membuat Utsugi merasa geli.
"Karena ini aku, lho? Tadi, begitu kau masuk ruangan klub, kau langsung bergumam, 'Hiyodoribana Chinatsu, ya?' Itu artinya, sekarang kau paling tidak sudah punya sedikit informasi tentang siapa aku. Hanya dari itu saja, kau sudah bisa paham kalo perkataanku layak didengar."
──Lahir dari orang tua yang memiliki hubungan dekat dengan industri media, dan dirinya sendiri memulai karir sebagai artis cilik pada usia 5 tahun.
Debut filmnya adalah dalam Koishoku no Danmatsuma, yang diadaptasi dari novel ibunya.
Setelah itu, hingga dia pensiun dari dunia hiburan ketika lulus SD, dia tampil dalam berbagai drama, acara variety show, iklan, dan sebagainya.
Bahkan Utsugi, yang tak begitu akrab dengan dunia hiburan, menyadari kalo wajah Hiyodoribana terlihat tidak asing. Mungkin karena fitur wajahnya yang tidak banyak berubah sejak dia menjadi artis cilik, atau mungkin Utsugi pernah melihatnya di media pada masa itu.
Di akhir tahun kedua SMP, Hiyodoribana mengikuti kontes penghargaan novel misteri untuk penulis baru dan menjadi pemenang termuda dalam sejarah kontes tersebut.
Dari segi penilaian umum, dia dianggap sebagai sosok jenius dan serba bisa.
"Tentu saja, aku tidak memenangkan penghargaan itu hanya karena kemampuanku sendiri. Aku tidak ingin mengatakan hal yang tidak enak ini, tapi pasti ada bonus dari usiaku dan latar belakangku. Aku tidak sombong menganggap diriku setara dengan penulis papan atas. Faktanya, karya dari orang yang memenangkan penghargaan bersamaku, Chigaya-san, jauh lebih baik dari karyaku."
Setelah memenangkan penghargaan, media banyak membicarakan debut yang mencolok dari mantan artis cilik tersebut.
Karena hal itu, novel debut Hiyodoribana, The Funeral Story, meski dikritik sebagai karya yang terlalu ambisius untuk usianya, karena terlalu banyak kesalahan dalam penelitiannya, dan bahkan dicurigai banyak dibantu oleh ibunya, tapi itu tetap berhasil masuk dalam daftar buku terlaris sepanjang tahun lalu.
Bahkan ada kabar kalo adaptasi filmnya sedang dalam tahap perencanaan.
"Meski begitu, aku telah banyak membaca novel, dan cukup percaya diri kalo aku bisa menulis sesuatu yang bisa membuat para monster yang menjadi juri merasa layak memberiku penghargaan. Lebih dari itu, aku cukup pandai memprediksi bagaimana pembaca akan merespons karyaku, karena aku juga seorang kritikus."
Tapi, Hiyodoribana belum menerbitkan karya kedua sebagai penulis.
Mungkin ada harapan untuk itu, tapi sepertinya dia belum ada rencana apa pun saat ini.
Sebagai gantinya, Hiyodoribana kini lebih fokus pada kegiatannya sebagai 'Hiyodoribana-sensei', yang dikenal oleh Fujihakama bahkan sebelum mereka masuk sekolah, melalui kanal video resensi dan literasi yang dia kelola.
Dengan dada yang penuh kebanggaan, yang ternyata lebih montok daripada yang Utsugi duga, Hiyodoribana menegaskan.
"Setidaknya, dalam hal itu aku percaya diri. Aku bisa menjadi editor untukmu—meskipun dengan cara ini, terdengar seperti orang yang cerewet dan suka mencari kesalahan... Tapi kalau mau digambarkan lebih keren, aku bisa jadi sutradara untukmu."
Awalnya, dia mulai mengelola chanel itu di akhir masa kariernya sebagai artis cilik, tapi chanel tersebut semakin populer setelah debutnya sebagai penulis. Bahkan Fujibakama pernah bercerita kalo tanpa rekomendasi kuat dari chanel Hiyodoribana-sensei, light novel Tsuki Ken no Betelgeuse, yang kini sedang dalam tahap media adaptasi, mungkin tidak akan mencapai titik itu.
Akhir-akhir ini ia banyak melakukan pekerjaan dengan nama Hiyodoribana-sensei, menulis ulasan untuk media online, berkolaborasi dengan toko buku besar, serta terlibat dalam berbagai proyek lainnya.
"Chanel video Hiyodoribana-sensei, yang ku mulai sebagai hobi, sangat berpengaruh dalam sastra genre minor, dan ada banyak cara berbeda untuk melakukannya...Utsugi, kenapa dari tadi mukamu terlihat seakan kau mau muntah? Apa kau mendengarkan?"
"Ya, aku mendengarkan dengan seksama, tapi... baunya busuk."
Di sebelah Hiyodoribana, Ayame yang sudah mengambil tisu basah untuk kesekian kalinya, mengangkat alisnya seolah berkata, "Ah, ini tidak bagus."
Di pojok ruangan, Fujibakama yang duduk termenung terkejut, sementara guru pembimbing klub, Tachibana Hitoshi, 34 tahun, hanya mengangguk sambil membaca Ningen Shikkaku, seolah mengerti perasaan Utsugi.
Hiyodoribana, yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu, melirik Fujibakama yang tampak seperti akan menangis dan menahan diri. Setelah menarik napas dalam, dia melanjutkan.
"....Itu tergantung pada apa yang kamu tulis, langkah pertama adalah mengikuti kontes penghargaan untuk penulis baru. dan menurutku akan menjadi ide bagus untuk menerbitkannya di situs web novel baru. Meskipun persaingannya ketat, tapi kalo chanel Hiyodoribana-sensei mendukung, peluangmu bukan nol. Apa pun yang terjadi, aku yakin bisa membuat Utsugi melakukan debut profesional sebelum lulus sekolah."
"Bahkan dengan jendelanya yang sudah dibuka lebar, tetap saja bau..."
"Hal terpenting setelah debut adalah persiapan untuk merilis karya selanjutnya atau sekuel secara beruntun... Tapu, agar tidak menjadi penulis yang cepat tenggelam, kau harus mempelajari teknik-teknik hiburan yang baik. Aku sendiri menggunakan struktur tiga babak saat menulis novelnya. Teknik ini populer di Hollywood karena kemampuannya dalam memikat penonton. Aku ingin mengajarkan ini padamu."
"Seragam Hiyodoribana baunya seperti campuran tonkotsu, miso, kaldu ikan, ayam, dan mala..."
"...Sulit bagi penulis setelah mereka melakukan debut profesional, tapi untungnya Utsugi masih muda - kau adalah siswa SMA saat ini, sama seperti ku, dan kau memiliki wajah yang bagus, sama seperti ku. Nilai tambahnya juga tinggi. Aku juga akan mempromosikanmu, dan aku juga akan menunjukkan wajah ku dan melakukan percakapan di saluran."
"Meskipun kau cantik, kalo seragammu bau muntah campuran ramen..."
"──Itu karena temanmu! Dia yang memuntahkan campuran berbagai ramen ke seragamku!!"
Klub Sastra Super adalah klub yang lahir kembali dari klub sastra biasa dengan persetujuan pembimbing mereka, Tachibana, dan aktivitas klub ini pada dasarnya bisa dikatakan 'aktivitas kreatif yang sama yang telah dilakukan Utsugi selama bertahun-tahun dengan caranya sendiri.'.
Anggotanya pada saat pendiriannya adalah Utsugi sebagai ketua klub, dan wakil ketua, Ayame. Sebulan kemudian, Fujibakama bergabung dengan mereka sambil tetap menjadi anggota klub Manga, sehingga total anggotanya menjadi tiga orang.
Jumlah itu tidak pernah berubah. Bukan karena klubnya eksklusif, tetapi lebih karena meskipun mereka selalu menerima anggota baru, tidak ada yang tertarik untuk bergabung.
Karena aktivitas mereka sering kali mencolok sehingga kerap menarik perhatian. Banyak orang di sekolah tahu kalo para guru sering menegur mereka.
Tapi, Utsugi sangat menyukai klub ini. Ayame hampir tidak pernah menolak ide-ide yang diusulkan Utsugi, dan meskipun Fujibakama sering mengeluh, dia tetap menikmati waktu yang dihabiskannya di sana.
Keinginan Utsugi untuk berkreasi juga semakin meningkat sejak ia mulai bergabung dengan Klub Sastra Super.
Utsugi sering menulis cerita yang terinspirasi dari aktivitas klub, seperti 'Song of Destruction Echoes in a Ruined Nation', yang bercerita tentang bagaimana dia mengambil alih menara penyiaran di negara dystopian dan memainkan musik klasik sampai dia ditembak mati; dan 'A Night Without a Couple Ramen Baba’, sebuah komedi horor tentang menghabiskan malam bersama hantu yang tidak biasa.
Hari ini, aktivitas mereka tak jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Itu adalah proyek yang dipikirkan Utsugi selama liburan musim semi, yang kemudian diperbaiki bersama Ayame dan yang lainnya.
Mereka menjelajahi semua kedai ramen di daerah ini.
Mereka membuat peta kedai ramen, lengkap dengan ulasan pribadi mereka. ...Tentu saja, hanya memakan makanannya tidak menjadikan itu proyek yang disukai Utsugi.
Hari ini, sebagai bagian dari edisi kedua proyek tersebut, mereka telah mengunjungi 5 kedai ramen dalam tiga jam mulai sebelum tengah hari.
Ini adalah proyek non-fiksi yang bertujuan untuk menggambarkan kenyataan dari kemewahan berlebihan di era modern, ramen yang seharusnya sangat lezat, dengan perut kenyang, rasa bosan, dan kondisi fisik yang sudah melebihi batas, akhirnya berubah menjadi monster karbohidrat dan minyak bagi mereka.
Minggu lalu mereka melakukan edisi pertama proyek ini, dan sejak kedai pertama hari ini, semua orang sudah merasa cukup dengan ramen. Rasa bosan itu hanya bertambah di setiap kedai yang mereka kunjungi. Ada berbagai jenis ramen dari sana. Utsugi sudah merasa sangat kenyang saat masuk ke kedai ke-4, dan bahkan Ayame, yang biasanya tangguh, hampir menangis saat dihadapkan dengan semangkuk ramen pedas dengan tambahan cabai dan lada di kedai ke-5.
Hanya Tachibana yang merasa baik-baik saja, karena dia hanya makan dua mangkuk ramen yang dia suka.
Fujibakama hampir berubah menjadi mayat, jadi Utsugi harus membantunya berjalan saat mereka menuju ruang klub setelah tiba di tempat parkir sekolah.
Tapi, saat merrks tiba di ruang klub, pintunya sudah terbuka, dan di dalamnya sudah ada Hiyodoribana.
Dengan senyuman misterius yang terkesan menggoda, dia duduk di atas meja dan menyilangkan kakinya. Melihat itu, Utsugi secara spontan berkata, "Hiyodoribana Chinatsu, ya," seperti yang telah dia katakan sebelumnya. Dia langsung melepaskan Fujibakama dari bahunya, yang kemudian mendekati meja dengan langkah yang goyah sebelum akhirnya dia tidak bisa menahan diri lagi dan muntah, muntahan itu mengenai seluruh tubuh Uka juga.
[TL\n: mau muntah gua jir TL ini.]
Mereka semua segera membersihkan muntahan itu bersama-sama. Setelah membersihkan seragam Hiyodoribana dan Fujibakama sebisa mungkin dengan tisu basah, Hiyodoribana mengabaikan insiden tersebut seolah tidak terjadi apa apa dan mencoba memulai kembali perbincangan.
Tapi, segalanya tidak bisa sepenuhnya dilupakan.
Bau muntah masih belum hilang...
"Aku benar-benar minta maaf!"
Hiyodoribana terkejut dengan suara tangis Fujibakama dan Hiyodoribana segera bereaksi.
"Tidak apa-apa, Fujibakama! Seperti yang sudah aku bilang, ini bukan salahmu! Seragamku bisa aku bawa ke laundry, jadi kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyelidiki tentang klub ini sejak masuk sekolah, jadi aku paham. Ini pasti ulah Utsugi yang punya ide aneh lagi, kan?"
Utsugi tersenyum lebar.
"Yah, itu benar. Aku akan menanggung biaya laundry untuk kalian berdua. Aku akan minta pembimbing kita yang membayarnya."
"Haha, Aku bertanya tanya apakah dompetku punya cukup uang setelah aku kehilangan 50.000 yen di mesin pachinko?"
Tachibana mengatakan itu dengan nada ceria. Semua orang, termasuk Uka, tertegun sejenak. Tapi, baik Ayame maupun Fujibakama tidak lagi heran dengan perilaku aneh Tachibana-sensei.
Sambil membersihkan seragam Hiyodoribana lagi, Ayame bergumam pelan.
"Anggota klub... dua orang?"
Hiyodoribana langsung menimpali kebingungannya.
"Benar. Tunggu. Utsugi, barusan kau bilang begitu. Kau sudah mendengar sesuatu dari Tachibana-sensei... kan? Kau merujuk bukan hanya Fuji Hakama, tapi aku juga?"
"Yah. Kau sudah menunggu di ruang klub, kan?"
Di AIA Academy, kunci ruang klub dipegang oleh pembimbing klub. Pertama-tama, rasanya bodoh menunggu anggota klub yang tidak tahu apakah mereka akan datang ke ruang klub pada hari Sabtu atau tidak. Dengan kata lain, kecuali kau telah membuat berbagai pengaturan sebelumnya, menunggu di ruang klub bukanlah suatu pilihan.
"Kau pasti sudah menyerahkan formulir pendaftaran ke klub dan Tachibana-sensei memberitahumu kalo kami akan ke sini setelah tengah hari. Jadi, kau datang lebih awal dan mungkin makan siang atau melakukan sesuatu dengan tablet di sana, dan kau menunggu dengan gugup, sambil bertanya-tanya apa Utsugi dan yang lainnya akan segera datang?"
Sangat mudah juga untuk melihat bagaimana wajah Hiyodoribana berubah menjadi tidak senang.
Wajahnya mudah berubah, memperlihatkan emosi yang berwarna-warni.
Utsugi melanjutkan sambil tersenyum.
"Itulah kenapa kau terlihat kesal sekarang. kau ingin mengejutkan kami dengan mengatakan kepada kami dengan kata-katamu sendiri kalo kau bergabung dengan klub ini. Kau bilang kalo kau sudah menyelidiki tentang aku, dan itu sebabnya kau duduk di meja supaya kau dilihat sebagai seseorang yang tidak sejalan dengan akal sehat."
"──Ka-kau tidak perlu menganalisisnya begitu!!"
Hiyodoribana segera melompat dari meja dengan wajah merah. ...Fujibakama, yang matanya bengkak karena menangis, menatap Hiyodoribana dengan ekspresi terkejut. Sementara itu, Ayame menatap Utsugi dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
Utsugi duduk di kursi sembari bertanya.
"Kenapa?"
"Heh? Kenapa apa... itu memalukan!"
"Bukan itu... Aku memang pernah mendengar tentangmu, Hiyodoribana. Kau sudah menerbitkan buku sebagai penulis profesional, dan orang-orang berharap banyak dari karya berikutmu, kan? Itu luar biasa."
Ayame tiba-tiba berkata pelan.
"Utsugi... kau terlihat sangat menikmatinya."
"Yah, tentu saja. Hiyodoribana itu menarik. Biasanya, seorang penulis profesional tidak akan repot-repot bergabung dengan klub sastra di SMA, apalagi membuang-buang sumber daya seperti ini, kan? Dilihat dari situasinya, kau masuk untuk, apa namanya tadi, mengkritik setiap detail kecil dari karya yang ku buat, kan?"
"Jangan samakan aku dengan mesin budak korporat yang berwajah manusia, berpikiran binatang, kasar, dan sesat itu! Aku bilang ini adalah arahan yang tepat!"
"Kau ada masalah dengan editormu, ya?"
"Ngomong-ngomong, itu ada dalam peraturan klub sastra, kan? Itu salah satu peraturan sebelum Utsugi secara ajaib merombak klub. Kalo soal karya kreatif, anggota klub harus bertukar pendapat dengan baik satu sama lain. Silakan periksa berbagai hal di sini dan tanyakan pada penasihatmu. kan, Tachibana-sensei?"
"Ya, benar."
"Lihat, kan? kau tidak harus mempertimbangkan pendapat anggota klub lain, tapi kalo mereka melakukannya, kau harus mempertimbangkannya dengan hati-hati. Dalam hal ini, tidak peduli seberapa besar Utsugi mengatakan kali kau tidak tertarik pada teori teknis, kau akan mendengarkan apa yang aku katakan. Kau bisa melakukan yang diperlukan, kan?"
Hiyodoribana secara tidak langsung mengakui alasan dia bergabung dengan klub.
Terakhir, dia menambahkan sambil bergumam pelan.
"Yah, sejujurnya kau yang mengatakan kalo kau tidak tertarik itu tidak masuk akal... Kalo kau seorang penulis, kau pasti ingin banyak orang menilaimu, kan..."
Tapi, ternyata jawaban itu tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Utsugi.
Saat Utsugi bertanya lagi, dia mendapati dirinya menunggu dengan penuh harap reaksi dari Hiyodoribana.
"Aku tahu alasanmu bergabung... Justru karena itu, aku bertanya kenapa?"
"Hah?"
"Kenapa kau begitu ngotot terus terlibat denganku? Pada awalnya kau bilang novelku membosankan, dan aku rasa itu wajar. Bahkan Fujibakama tidak suka membaca novelku. Tapi kenapa kau begitu terobsesi denganku sampai seolah membuang-buang bakatmu?"
Hiyodoribana jelas terlihat terguncang.
Tapi, dia segera menahan perasaannya, lalu tertawa sinis.
"...Ini soal harga diri! Aku, secara kebetulan, menemukan novel yang Utsugi unggah di internet. Lalu, saat aku memutuskan untuk mendaftar ke sekolah ini, aku menyelidiki dan menemukan kalo penulis novel itu ada di klub sastra ini. Jadi, dengan iseng, aku menyapamu, tapi kau malah menolakku. Itu melukai harga diriku sebagai Hiyodoribana-sensei—"
"Tidak, tidak, itu bohong."
"—...Eh?"
Hiyodoribana terkejut dengan lebih keras lagi.
Nada suara Utsugi terdengar riang tanpa disadarinya.
"Soalnya, kau baru bicara padaku kemarin, saat istirahat makan siang, kan? Dan itu sudah setengah hari berlalu, kan? Kau terlihat bingung setelah aku menolakmu. Bahkan makan siangmu masih banyak tersisa. Setelah itu, apakah kau punya waktu untuk mengambil formulir pendaftaran klub dan menyerahkannya ke Tachibana-sensei? Bahkan jika kau menyerahkannya ke wali kelasmu, kapan itu akan sampai ke tangan Tachibana-sensei?"
Utsugi yakin hampir sepenuhnya.
"Kau bilang kalo kau sudah mengonfirmasi pada Tachibana-sensei, jadi berarti dia setidaknya sudah meluangkan waktu untukmu, kan? Tidak mungkin Tachibana-sensei akan bergerak begitu cepat berdasarkan permintaan para siswa. Kalo dia menerima formulirmu sepulang sekolah kemarin, dia tidak akan langsung bertindak saat itu juga.
Aku yakin dia akan berpikir, "Ini merepotkan sekali, aku harap kalo Utsugi-kun akan terkena flu besok dan harus absen dari kegiatan klub" atau sesuatu seperti itu."
"Bolehkah pembimbing klub berpikir seperti itu?"
Melihat Hiyodoribana yang kebingungan, Tachibana-sensei tersenyum dengan penuh percaya diri.
"Tenang saja, klub ini aman. Lagipula, ayahku adalah kepala yayasan sekolah ini, dan aku anak satu-satunya yang lahir di usia tua. Aku sangat dimanjakan."
[TL\n: wanjir the real lu punya orang dalam yang berkuasa lu aman.]
"Wah..."
Hiyodoribana memandangnya seolah melihat sampah, dan Ayame buru-buru mencoba memberi penjelasan.
"Yah, intinya, Tachibana-sensei punya banyak hobi dan sering meminjamkan berbagai peralatan, jadi cukup membantu dalam kegiatan klub."
"Benar kan, Ayame-kun? Katakan saja pada mereka. Meski Ada banyak masa-masa sulit, tapi sejak Utsugi-kun menjadi ketua, aktivitas klub sastra menjadi salah satu bagian pekerjaanku yang paling menyenangkan."
Ayame mengangguk.
"Dan pihak sekolah juga sering mengabaikan kegiatan klub yang cukup gila ini. ...Hiyodoribana, aku paham perasaanmu. Mengandalkan orang tua saat sudah berusia 30-an memang memalukan. Aku juga lebih mati daripada jadi orang seperti Tachibana-sensei, dan kupikir kepala yayasan pasti malu punya anak seperti dia, tapi...”
"...Ayame-kun?"
Tachibana memiringkan kepalanya dengan bingung.
Utsugi kembali menatap Hiyodoribana.
"Intinya, kau terlalu cepat duduk di sini sejak kemarin. Kalo dipikir-pikir secara normal, kamu seharusnya menulis lamaranmu untuk bergabung dengan klub sehari setelah upacara pembukaan atau sehari setelahnya, kan?"
"Uh..."
Hiyodoribana menunduk, terlihat canggung sekaligus bingung.
"Padahal aku tidak suka cara-cara manipulatif seperti ini."
Hiyodoribana menunduk dengan canggung, tampak bingung.
Angin sepoi-sepoi bertiup masuk. Baunya seperti musim semi. Baunya juga seperti muntahan. Di luar jendela, seekor kupu-kupu terlihat terbang sebentar.
Hiyodoribana kemudiian berbisik.
"Karena aku...........itulah alasannya."
Suara itu sangat pelan, hampir tidak terdengar.
"Hah?"
Utsugi memiringkan kepalanya, dan Hiyodoribana akhirnya mengumpulkan keberanian dan mengangkat wajahnya.
Matanya berair. Pipinya memerah, dan bibirnya bergetar karena gugup. Meski begitu, tatapannya menembus hati Utsugi, itu meninggalkan kesan mendalam yang tidak bisa dia lupakan. Utsugi jelas merasa hatinya berdegup kencang.
──Apa ini? Dia bingung.
Rasa sakit di dadanya yang dia rasakan sejak musim panas tahun lalu mulai tertutupi oleh perasaan lain yang lebih kuat.
Hiyodoribana berbicara lagi, kali ini dengan suara yang hampir bisa terdengar keluar dari ruangan.
"Karena aku... penggemar karya Utsugi!!"
Keberanian dan semangat tulusnya—
Lebih dari apa pun, hal itu membuat Utsugi memahami siapa sebenarnya Hiyodoribana.
Dia bukanlah seseorang yang baru dia temui. Utsugi bahkan tidak pernah menyangka ada orang lain selain neneknya yang akan berkata sebanyak itu tentang novelnya.
Firasatnya ternyata benar.
"Aku adalah penggemar novel yang Utsugi tulis...! Sejak pertama kali aku membacanya, itu benar-benar membuatku terpukau! Tapi, sebagai karya hiburan, itu terlalu kurang, dan aku tahu kebanyakan orang selain aku tidak akan bisa menikmatinya, jadi sayang sekali. Ada hal yang lebih penting dari sekadar kepuasan pribadi! Aku yakin aku bisa membantu mengasah novel Utsugi jadi lebih menghibur... Ahh, sial! Jangan paksa aku mengatakan ini langsung! Sudah jelas, kan? Aku benar-benar—”
Utsugi memotongnya.
"Aku jadi ingin menggambarkan kesungguhan Hiyodoribana di kertas selembar demi selembar dengan rinci."
"──Hah, ...Apa!? Apa kau sedang mengajakku berkelahi!?"
"Bukan itu. ...Bukan, bukan. Hahaha, aku sangat senang... Aku sudah berada dalam keterpurukan untuk waktu yang lama—Aku merasa dunia ini sudah lama jadi usang. Jadi, aku benar-benar berterima kasih atas apa yang kau katakan. Dengan kau yang masuk klub ini...aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa begitu bersemangat seperti ini!"
Hiyodoribana tampak terkejut.
Dia tahu Utsugi mengatakannya dengan serius. Hiyodoribana perlahan memalingkan muka, menggaruk pipinya dengan malu.
Tapi rasa senang yang tidak bisa disembunyikan tampak jelas di wajahnya.
Seolah-olah dia baru saja memulai, Utsugi merasa senang melihat ekspresi jujurnya itu.
Keterusterangan tanpa perlindungan itu.
"...Utsugi, aku mengerti. Melanjutkan berkarya tanpa ada yang memberi tanggapan itu sepi dan membosankan. Aku lega kau memahami apa yang ku maksud. ...Tapi, hehe, tidak ada waktu untuk bersantai! Bahkan kalo kita menghabiskan seluruh semangat hidup kita, itu tidak akan cukup untuk menghancurkan segalanya antara aku dan Utsugi di dunia profesional!"
Utsugi tersenyum dan memiringkan kepalanya.
"Tidak, aku jelas tidak tertarik dengan hal semacam itu."
"Lalu, apa yang kau mau!?"
Teriakan Hiyodoribana sekali lagi menggema di ruangan itu.
Pohon sakura Yoshino yang berjejer di halaman mulai dari gerbang utama sekolah hingga tempat parkir hingga lapangan tenis sebagian besar telah tumbang, dan angin sesekali mengibarkan kelopaknya.
Saat sinar matahari masuk melalui jendela, Utsugi tiba-tiba mendapat ide kalo hari ini adalah waktu yang tepat untuk bubar.
"Benar. Kita semua akan makan ramen bersama setelah ini sebagai pesta penyambutan Hiyodoribana."
"Aku tidak menyukainya."
Ekspresi wajah para anggota klub yang menolak benar-benar seperti film dokumenter, hal itulah yang ingin Utsugi gambarkan dalam proyek tur kedai ramen ini.
★ ★ ★
Hari terakhir Golden Week menjadi hari yang menentukan bagi Utsugi dan Hiyodoribana.
...13 hari sebelumnya. Sepulang sekolah.
Di ruang klub, hanya mereka berdua, Hiyodoribana membuka mulutnya.
"Ngomong-ngomong, Utsugi, aku mendengarnya dari seorang teman di kelasku kalo..."
Sambil menggerakkan pensil 4B-nya, Utsugi merespons singkat.
"Apa?"
"Ada rumor yang beredar kalo aku menyatakan cinta padamu dan ditolak. Kau tahu? Apa ini pertama kalinya kau mendengar ini? Hei, apa yang kau pikirkan saat mendengar cerita ini?"
"Aku cuma berpikir kalo kau ternyata punya teman."
"Aku punya teman, setidaknya beberapa! Tapi aku pasti punyah lebih banyak teman daripada Utsugi! Bukan itu maksudku, maksudku, apa kau merasa bangga karena salah paham kalau kau menolak gadis secantik aku ini? Aku tahu kau tidak punya pacar saat ini, tapi kau punya seseorang yang kau suka kan? Kalau ada, pasti orang itu juga akan terkesan padamu, kan?"
"Yah, dalam arti romantis, itu bukan fakta. Jadi tidak ada ada yang bisa dibanggakan. Kalo di lihat dari sudut pandang... apa ya namanya... profesi penulis? Atau cerita-cerita hiburan yang kau sering bicarakan itu, mungkin bisa dibilang aku menolakmu."
"Mana mungkin kau tidak mengerti! Jangan pura-pura lupa istilah umum seperti itu! Jawabanmu juga tidak menjawab pertanyaanku. Bagaimana sebenarnya? Kau punya wanita yang kau suka kan, atau... mantan pacar, misalnya?"
Utsugi mengamati Hiyodoribana yang sedang duduk bersila di kursi.
Utsugi berada dalam situasi ini karena dia ingin merasakan tatapan membara yang diberikan Hiyodoribana padanya, Utsugi ingin menikmatinya dengan caranya sendiri. Sambil menghapus sebagian sketsa yang digambar di buku gambarnya dengan penghapus, Utsugi memegang kembali pensilnya dan menjawab.
"Tidak ada. Aku tidak pernah pacaran sama siapa pun sampai sekarang."
[TL\n: yah kaya gua, asli gua gak pernah pacaran sekalipun, ada beberapa cewek yang pdkt ama gua tapi gua cuman biasa aja, bahkan ada yg pernah kasih kode supaya gua nembak dia tapi gak gua lakuin, alasanya cuman satu gua males lagian dia juga udah punya cowok.]
"Oooh, beneran kah?"
"...Apa? Kenapa kau nyengir seperti itu?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, ‘Oh, aku mengerti sekarang’. Utsugi memang tidak peka, ya? Dan aku sering bertanya-tanya bagaimana kau bisa menulis kalimat yang begitu indah. Hei? Aku tahu, aku tahu , haha, kamu tidak punya pengalaman cinta kan? Pasti kau tidak populer, ya?"
Utsugi mulai merasa ingin membantah.
"Bukannya aku ingin pamer, tapi aku sudah pernah beberapa kali ditembak oleh perempuan. Jangan bergerak. Ayolah. Sebentar lagi akan selesai."
"Hah? Yah, Utsugi mungkin sedikit aneh di dalam, tapi kau lumayan tampan, kan? kalo kau tidak menyombongkan diri, maka kau pasti cuman sedang membula, kan? Membual tentang kau yang menolak pengakuan cinta seorang gadis kan? Apa kau hanya berpura-pura menjadi seniman laki-laki? kau tidak tertarik dengan hal ini, seperti teori penciptaan yang kau dengarkan setiap hari dan diperlakukan seperti bukan apa-apa?"
...Tertarik pada perempuan?
Tentu saja ada. Tapi hingga saat ini, ada banyak sekali hal yang Utsugi minati dan ingin dia coba, jadi Utsugi tidak sempat memikirkan hal-hal seperti itu.
Tapi...untuk saat ini....
Saat ini, hal yang paling menarik bagi Utsugi adalah...
"──Ngomong-ngomong, Hiyodoribana, bagaimana dengan kau sendiri? Kau pasti cukup populer, kan? Setidaknya, dari caramu berusaha pamer soal pengalaman cinta..."
Tiba-tiba, pintu geser ruang klub terbuka.
Mungkin karena kebetulan bertemu di suatu tempat, Ayame yang bilang ada urusan di kelas dan Fujibakama yang mengatakan kalo dia ingin mampir ke klub manga muncul berdampingan. Saat berdampingan, tubuh besar Ayame tampak semakin menonjol.
Fujibakama melirik Utsugi, dan mengeluarkan suara pendek.
"Ugh."
Hiyodoribana bertanya.
"Ada apa, Fujibakama?"
Cara seseorang memanggil orang lain memang mudah terbawa. Meskipun Hiyodoribana adalah anggota termuda di klub ini, karena Utsugi memanggil begitu dan mereka berdua juga tidak keberatan, sepertinya Hiyodoribana juga terbiasa memanggil Fujibakama dan Ayame tanpa embel-embel.
Ayame pun berbicara.
"Jangan dipikirin, Hiyodoribana. Nanti juga kau akan mengerti. ...Utsugi, karena kau sedang membuat sketsa, apa itu berarti kau tertarik untuk menulis sesuatu tentang seni kali ini?"
"Ngomong-ngomong, di mana Tachibana-sensei? pachislot?"
[TL\n: Pachislot adalah mesin permainan yang merupakan gabungan antara pachinko dan mesin slot. Pachislot sering ditemukan di pusat hiburan dan kasino di Jepang. Mesin ini mirip dengan slot tradisional di negara lain, tetapi dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih cepat dan dinamis. Pemain memasukkan koin dan memutar gulungan dengan harapan simbol-simbol tertentu sejajar untuk memenangkan hadiah.]
Utsugi melirik sekeliling ruang klub.
Hiyodoribana mendesah.
"Serius, orang seperti itu berneran pembimbing klub di ini?"
Utsugi tidak berhenti melakukan penyesuaian terakhir pada gambar pensilnya dan menjawab pertanyaan dari Ayame dan Fujibakama.
"Tachibana-sensei tidak pergi ke Pachislot selama jam kerja. Dia adalah orang yang dapat dengan jelas membedakan antara bermalas-malasan dengan risiko kehilangan pekerjaan dan bermalas-malasan tanpa risiko. Sepertinya dia tadi hanya diminta untuk bekerja oleh kepala kelas pada saat dia tidak bisa melarikan diri. Dan aku tidak lagi mikirin topik seni untuk tulisanku. Aku tidak menggambarnya dengan tujuan untuk dijadikan referensi."
Hiyodoribana yang merespons.
"Eh, sungguh? Aku juga berpikir begitu. Jadi, Utsugi, kenapa kau tiba-tiba bilang kalo kau ingin menggambarku?"
"Karena aku ingin melakukan itu. Aku hanya ingin menggambar Hiyodoribana."
Hiyodoribana tampak terkejut.
Ayame memutar matanya seolah berkata, "Oh." Ini juga merupakan pengalaman positif, seperti tiba-tiba menyadari sekuntum bunga telah mekar di tanaman yang sudah lama tidak pernah mekar.
"Utsugi, maksudnya..."
Fujibakama-lah yang berkata, "Aku tidak percaya," dengan suara negatif, dan Hiyodoribana sendiri juga mengeluarkan suara yang bergetar, yang merupakan campuran antara antisipasi dan kecemasan.
"Aku, aku, maksudmu... kenapa kau tiba-tiba ingin menggambar ku?"
"Karena ekspresi wajah Hiyodoribana, bagaimana aku harus mengatakannya, gradasi cerah, begitu saja... Sungai yang tercemar minyak dan berubah warna menjadi pelangi! ──Selesai."
"Itu analogi yang sangat buruk!! ──Apa kau sudah selesai menggambarnya?"
"Ya. Selesai. Kau boleh melihatnya sekarang."
"Ah, pundakku pegal... Baiklah, mari kita lihat hasilnya."
Hiyodoribana bangkit dari kursinya, meregangkan tubuh sejenak. Kemudian, dengan gaya santai, yang seopah berkata, 'Aku tidak akan terburu-buru', dia berjalan mendekat.
Tapi ekspresinya terlihat gugup. Utsugi tersenyum kecil dan menunjukkan gambar pensilnya pada Hiyodoribana yang sudah di depan matanya.
"Ini, bagaimana menurutmu?"
"Ini aku? ...Ini buruk sekali! Kau beneran berani menggambar ini dengan wajah percaya diri begitu!?"
Secara refleks, Hiyodoribana memukul buku sketsa dengan keras. Utsugi tahu betul kalau gambarnya memang buruk. Sketsanya kacau, dan jika harus jujur, wajah yang digambar lebih cocok disebut karya anak TK atau SD.
Tapi, Utsugi merasa cukup puas.
"Haha, Aha, reaksi Hiyodoribana sungguh menyenangkan."
Ayame dan Fujibakama berkata dengan nada yang berbeda.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kau akan segera mengerti."
"Utsugi memang bisa melakukan banyak hal, tapi dia sama sekali tidak punya bakat dalam menggambar... Mungkin otaknya terlalu banyak memberi koreksi, jadi dia tidak bisa menggambar persis seperti yang dilihatnya?"
"Jika koreksi mental Utsugi diterapkan, apa wajahku seburuk ini...?"
Hiyodoribana terlihat sangat kecewa, sampai-sampai wajahnya mulai mirip dengan gambar yang dibuat Utsugi. Melihat wajah samping Hiyodoribana, Utsugi berpikir.
Kepuasan - setidaknya sampai batas tertentu.
Baru-baru ini, bahkan perasaan puas yang sederhana seperti itu pun sulit didapat. Tapi, dalam seminggu sejak Hiyodoribana bergabung dengan klub sastra super ini, hari-hari Utsugi menjadi lebih baik.
Meski begitu, muncul perasaan tidak nyaman di tengah kesenangan ini.
...Ini belum cukup.
Tentu saja, menulis novel dengan tujuan menjadi penulis profesional adalah sesuatu yang tidak terpikirkan sama sekali. Itu omong kosong. Sama sekali tidak terpikirkan.
Tapi meski belum bisa menyimpulkan pikiran-pikirannya, Utsugi merasa ada sesuatu di luar dari sekadar 'cukup', semacam kehausan untuk lebih.
Dengan kata lain, perasaan yang Utsugi miliki terhadap Hiyodoribana, gadis ini, masih belum bisa dia nikmati sepenuhnya.
Sederhananya, Utsugi belum bisa menikmati sepenuhnya perasaannya terhadap gadis bernama Hiyodoribana ini...
Sudah 11 hari sejak hari terakhir Golden Week.
"Setelah bergabung, aku membaca ulang novel-novelmu, Utsugi. Dan, ini dia."
Hiyodoribana menyerahkan beberapa lembar kertas fotokopi yang sepertinya dia cetak sendiri. Saat itu, Utsugi sedang meninjau ulang draft artikel kunjungannya ke kedai ramen yang melanggar batas maksimum menggunakan tablet PC yang dia bawa dari rumah.
Fujibakama menggambar peta secara manual, dan Ayame menambahkan keterangan pada data tersebut. Rencananya, mereka akan mendistribusikan pamflet itu di sekolah nanti. Utsugi menghentikan jarinya yang sedang mengetik di keyboard dan menerima lembaran kertas fotokopi tersebut.
"Hiyodoribana,apa ini?"
"Lihat saja sendiri, kau pasti mengerti, kan? Ini adalah novelmu yang cukup panjang dan alur ceritanya relatif mudah dimengerti, yaitu 'Ryuu no Kago Tsuri' (Menangkap Naga dengan Keranjang). Aku merangkum sinopsisnya dan mencoba menyesuaikan setiap istilah dengan struktur tiga babak."
Utsugi menatap lembaran kertas fotokopi itu dengan seksama. Memang, di baris pertama tertulis judul 'Ryuu no Kago Tsuri', dan di bawahnya ada ringkasan cerita secara umum.
Selain itu, terdapat istilah-istilah seperti 'pengaturan' dan 'titik balik pertama' yang terdengar asing bagi Utsugi, lengkap dengan penjelasan tambahan.
Fujibakama mengintip dari samping, ikut melihat.
"...Kalo 'Ryuu no Kago Tsuri', aku juga sudah membacanya sampai pertengahan cerita. Itu kan yang kau terbitkan secara berkala di situs, tanpa respon apapun? Seorang anak laki-laki yang mencoba menangkap naga besar yang membunuh pamannya di Jepang modern."
Ayame, yang sedang membaca buku non-fiksi tebal yang dia pinjam dari perpustakaan, juga mengalihkan pandangannya.
"Untuk novel karya Utsugi, yang satu ini terasa agak jarang—nuansa petualangannya tidak buruk menurutku."
Hanya Tachibana yang tidak peduli dengan semua itu, dia duduk di kursinya sambil asyik bermain dengan Hp-nya.
Hiyodoribana melanjutkan dengan semangat.
"Utsugi, kau harus mempertimbangkan masukan dari anggota klub, kan? Kalo kau berpikir untuk merevisi 'Ryuu no Kago Tsuri' yang saat ini belum memiliki struktur tiga babak... aku sudah merangkumnya. Meski novel itu belum selesai, masih banyak potongan yang hilang untuk membuatnya menjadi struktur tiga babak, jadi aku tambahkan beberapa ideku... Utsugi, kenapa? Apa kepalamu sakit? Ah..."
Melihat Utsugi memegangi kepalanya, Hiyodoribana tampak panik.
"Jangan-jangan, kau tidak suka dengan perubahan yang kubuat? Bukan begitu, jangan salah paham. Aku tidak memaksamu untuk mengubahnya seperti yang kumau. Ini hanya contoh. Yang penting adalah kau mengerti dasar-dasar dalam membuat skenario. Apa yang kutulis ini hanya untuk referensi, sebagai bahan belajar..."
"Ya, Hiyodoribana, aku bisa melihat dari banyaknya tulisan ini kalo kau benar-benar berusaha keras. Tulisan dan skenariomu seharusnya mendapat bayaran. Jadi, aku merasa... maaf. Ini bukan karena sakit kepala."
"Hah? Kau tidak perlu minta maaf! Aku bergabung dengan klub ini untuk tujuan itu, dan jika aku bisa masuk ke dalam pikiran Utsugi sebanyak aku bekerja keras, maka itu sepadan.—"
"Tidak, justru itu yang membuatku merasa bersalah. Meskipun kau sudah susah payah menulisnya, Aku sangat tidak tertarik dengan apa yang kamu tulis, bahkan ketika aku mencoba membacanya, aku terkejut karena aku tidak dapat mengingatnya."
"—Setidaknya usahakan untuk memahaminya dulu! Aku sudah mengerti kalo Utsugi lebih suka menikmati dan menulis apa yang kau mau, tapi tolong, berikan sedikit perhatian!"
Saat itulah Hiyodoribana berteriak, Ayame tersenyum bahagia entah kenapa, dan Fujibakama memberinya tatapan simpatik pada saat yang bersamaan.
Tiba-tiba, Tachibana berteriak dengan nada kesakitan.
"──Aaah!?"
Ketika Utsugi dan yang lainnya berbalik, melihat Tachibana yang hampir bangkit dari kursinya, menggenggam Hp-nya sambil gemetar, seolah menahan amarah dan rasa sakit yang tak terkendali.
Setelah beberapa detik hening.
"Tachibana-sensei?"
Hiyodoribana memanggil. Tachibana terus terlihat seperti iblis untuk beberapa saat, lalu ekspresinya menghilang dan dia duduk kembali di kursinya. Kemudian, dia menoleh ke arah para siswa dengan senyuman menyegarkan yang sama seperti yang dia tunjukkan sejak awal seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Semuanya, terutama Utsugi-kun, ada kabar baik untukmu."
"Kabar baik apa ini, menakutkan sekali..."
Hiyodoribana bergumam pelan.
Utsugi menjentikkan lembaran kertas Hiyodoribana dengan jarinya sambil tersenyum.
"Kabar baik maksudmu, apa soal tugas yang kuminta untuk akhir pekan ini?"
"Benar. Beberapa waktu lalu aku memintamu ditunda, kan? Aku tahu ini waktu yang tepat untuk mencapai tujuanmu, dan salah satu hobiku memang itu, jadi menemani mu di hari libur bukan masalah. Tapi... sebenarnya, aku masih dalam situasi di mana aku mungkin akan punya janji kencan, jadi aku belum bisa memastikan."
"Tachibana-sensei, apa kau punya pacar meskipun kau memiliki kepribadian seperti itu?"
Hiyodoribana bertanya curiga, tapi Fujibakama buru-buru menarik lengan bajunya.
"Hiyodoribana-chan, jangan... nanti kau tidak tahan melihatnya."
"Eh, kenapa?"
"Dia bukan pacar... setidaknya belum. Tapi dia sudah hampir ke arah sana. Apa kau ingin melihatnya? Mungkin ini sedikit terlalu cepat untuk anak sepertimu yang mantan aktor cilik. Tapi, sejak setengah tahun yang lalu, aku terus menyatakan cintaku pada Sayaka-chan..."
Tachibana berdiri sambil tertawa kecil, lalu berjalan ke arah Utsugi dan yang lainnya. Fujibakama menunduk, merasa tidak sanggup melihat pemandangan itu.
Hiyodoribana melihat ke layar Hp yang diberikan Tachibana padanya.
Utsugi, lebih tertarik melihat reaksi Hiyodoribana daripada layar Hp, melihat saat wajah Hiyodoribana yang tiba-tiba berubah tegang.
"Hiyodoribana-kun, kau pasti tahu. Gadis-gadis itu lemah terhadap kata-kata manis. Kuncinya adalah membuat mereka bermimpi tanpa pernah bangun. Utsugi-kun dan Ayame-kun, ingatlah ini untuk masa depan kalian. Usaha tidak pernah mengkhianati."
〝Hey, Tachibana-chii ☆ hari Sabtu ini, Sayaka ada waktu loh ♪ Kalau kau mau mengajak ke restoran sushi yang kau bilang kemarin, sebelum kerja kita bisa karaoke atau belanja sebelum itu ♥♥♥〟
Hiyodoribana menyerahkan Hp itu ke Utsugi dengan pelan dan bergumam dengan rasa sakit.
"...Itu, janji temu dengan gadis klub malam..."
Ayame menepuk pundak ramping gadis jenius itu, seolah-olah mencoba menenangkannya. Itu adalah sikap penuh kehangatan yang menyuruhnya untuk membiarkannya saja. Utsugi menggulir secara vertikal pada layar Hp yang diterimanya hingga pesan terbaru ditampilkan.
Ini mungkin pesan yang membuat Tachibana berteriak tadi.
Dia menunjukkan pesan tersebut pada Hiyodoribana.
〝Tachibana-chii maaf☆Tadi aku ingin sekali bertemu denganmu Tachibana-chii, mungkin, tapi kucingku lagi sakit♪ Tapi yaaa meskipun setelah toko buka ada beberapa pelanggan lain yang sudah melakukan reservasi, kurasa jam 9-an aku bakal bisa bertemu denganmu, jadi silakan datang dan temui aku ya ♥♥♥〟
Dengan bangga, Tachibana mulai berbicara.
"Aku yakin sekarang kalian semua bisa paham, bukan? Awalnya aku memang merasa sangat putus asa, marah, dan berpikir ingin uangku kembali. Tapi, setelah aku merenungkan semuanya, aku bisa melihat cinta yang tersembunyi di dalam pesan tersebut. Sayaka-chan sangat mempercayai ku sampai-sampai dia menceritakan tentang rahasia kucingnya, dan dia mengirimiku banyak hati untuk menunjukkan perasaannya..."
Hiyodoribana memasang ekspresi ngeri di wajahnya, seolah berkata, "Apakah orang ini nyata?" di sisi lain Fujibakama, mungkin berpikir kalo mencurahkan sedetik pun perhatiannya pada Tachibana hanyalah membuang-buang energi, jadi dia mulai membaca rancangan Hiyodoribana dari tangan Utsugi.
Utsugi, dalam hati, berterima kasih pada Sayaka-chan.
Tidak peduli bagaimana pesan itu dibaca, jelas Sayaka-chan telah diajak keluar oleh pelanggan besar lainnya, dan menggantikan Tachibana dengan pria itu. Utsugi merasa lega karena setidaknya sekarang mereka punya pengaturan yang jelas untuk akhir pekan.
Dengan senyum ceria yang disimulasikan, Utsugi berkata dengan suara polos, mencoba mendapatkan konfirmasi.
"Jadi, Tachibana-sensei, tampaknya hari di mana kau dan Sayaka-chan akan resmi bersama tertunda, yang berarti tidak ada masalah kalau kau menemani kami baik Sabtu maupun Minggu, kan?"
"Hari itu ya... kau benar-benar pintar berbicara, Utsugi-kun. Tentu saja, aku bisa! Tapi, seperti yang pernah kubilang, aku masih belum bisa menyiapkan jaket pelampung untuk semua orang, jadi kita harus pergi ke tempat yang memiliki pagar pengaman atau semacamnya. Kalo sampai terjadi sesuatu pada murid-murid, aku yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dan aku paling benci harus bertanggung jawab."
Fujibakama berkata sambil membalik halaman naskah Hiyodoribana.
"Setidaknya berpura-puralah kalo keselamatan murid adalah prioritas utama..."
"Setelah itu, kita akan memilih tempat yang cocok dengan momen nokonmi. Dan karena kalian tidak punya peralatan, kecuali Utsugi-kun, aku akan meminjamkan milikku."
"Wow, Seperti yang diharapkan dari Tachibana-sensei, kau luar biasa... Jadi, Uka, semuanya sudah siap, dan akhir pekan ini kita bisa pergi, kan?"
"Ya, sudah siap... Tapi, tunggu, apa ini? Acara klub? Nokonmi?"
"Nokonmi adalah fenomena ketika ikan berpindah ke perairan dangkal untuk bertelur."
Ayame menjelaskan, dan Utsugi mengangguk.
"Kau tadi menyebutkan tentang cerita 'Ryu no Kago Tsuri', kan, Hiyodoribana? Sebenarnya, cerita itu adalah dasar imajinasi dari kegiatan ini. Bahkan Fujibakama kadang menggunakannya sebagai inspirasi untuk esai manga-nya yang diposting di SNS. Tapi, Uka, apa kau siap terpapar bau seperti pasta ikan busuk yang menyelimuti udara, dan membiarkan bau itu melekat pada jarimu sampai kau harus mencucinya dengan sampo?"
[TL\n: SNS adalah singkatan dari Social Network Service, yang merupakan layanan jejaring sosial atau situs jejaring sosial. SNS adalah platform media sosial daring yang memungkinkan pengguna untuk terhubung dan berkomunikasi dengan orang lain. Yah Singkatnya SNS tu kaya Facebook, IG dan sejenisnya.]
"Ugh, tidak, aku tidak siap sama sekali..."
Suara Hiyodoribana penuh kebingungan.
...Sudah 9 hari sejak hari terakhir Golden Week.
Di penghujung April, pada hari libur. Setelah berkumpul di depan gerbang utama Akademi AIA saat fajar, mereka berangkat dengan minivan milik Tachibana selama sedikit lebih dari satu jam.
Laut yang bening di musim semi tampak tenang. Bahkan angin hampir tidak terasa.
Mereka berada di tanggul pinggir jalan, yang menyerupai lapangan kecil. Di sana, Hiyodoribana, yang memegang joran Tachibana, sedang mengisi keranjang umpan dengan umpan ikan berupa udang kecil mentah sambil bergumam seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku sudah tahu... aku sudah mempersiapkan diri untuk ini... Klub sastra kita memang terkenal terlalu aktif, tidak seperti klub sastra lainnya..."
Walaupun dia menggunakan sumpit untuk memasukkan umpannya, tidak berarti tangannya bebas dari bau amis udang kecil tersebut.
Toh, pada akhirnya dia harus menggunakan tangannya untuk mengambil seekor udang dan memasangnya di kail pancing.
"Aku sudah meneliti, dan aku sudah siap kalo Utsugi memutuskan melakukan kegiatan di luar ruangan... Tapi... meski aku sudah bersiap, ini..."
"Ah, Hiyodoribana, potong saja ekornya dan masukkan kail ke dalamnya. Katanya, ekornya cenderung berputar-putar di air. Gunakan tanganmu untuk memukulnya."
Mengikuti saran Utsugi, Hiyodoribana memotong ekor udang kecil dengan tangan kosong, wajahnya menyerupai topeng Noh. Meskipun demikian, sesuai instruksi, ia menaruh udang yang sudah ditancapkan di kail ke dalam keranjang, menambahkan beberapa udang lagi, dan menutupnya.
[TL\n: Topeng Noh adalah topeng yang digunakan dalam teater Noh, sebuah drama musik klasik Jepang yang telah dipertunjukkan sejak abad ke-14. Topeng Noh biasanya dibuat tanpa ekspresi apapun.]
Lalu, ketika dia mencium bau yang menempel di jarinya, wajahnya meringis.
"...Sialan, bau sekali! Apa ini? Makhluk apa yang mirip udang ini? Baunya seperti kamaboko busuk! Serius, ikan-ikan ini bisa makan yang seperti ini dan tetap sehat!? Apa-apaan ini, ini udang tapi bukan udang! Bukankah ada pepatah 'memancing ikan besar dengan udang kecil'? Setidaknya pakai krustasea yang benar!"
Ayame yang ada di dekatnya yang sedang menghilangkan lumut dari keranjangnya, mengangkat jari telunjuknya.
"Meskipun udang kecil itu sebenarnya termasuk krustasea, loh. Krustasea memang termasuk plankton, yang hanyalah istilah untuk makhluk hidup yang melayang-layang di dalam air."
"Diam kau."
Ayame tampak terkejut, dan Utsugi tertawa.
"Kau lagi marah, ya!"
"Sebenarnya aku sudah belajar teori sebelumnya. Tapi tetap saja, bayangkan di percobaan pertamaku gagal, dan semua udang kecil yang menjijikkan ini jatuh ke rambutku yang sudah aku tata dengan susah payah setelah bangun pagi-pagi! Wajar saja kalau aku marah seperti di kamar Onee-chan-ku. Sekarang minggir, aku mau melempar!"
Utsugi melakukan apa yang diperintahkan Hiyodoribana dan menjaga jarak. Ayame tidak ingin dimarahi lagi, jadi dia pun menyandarkan joran yang dipinjamnya dari Tachibana ke arah ombak dan mengambil beberapa langkah menjauh.
Hiyodoribana dengan hati-hati mengayunkan joran sepanjang 4-5 meter itu, dan sambil memegangnya di tangannya, dia membuka mulutnya lagi.
"...Utsugi."
"Ada apa?"
"Baru saja aku selesai membaca ulang 'Ryu no Kago Tsuri', jadi aku tahu kalo kau menulis cerita itu berdasarkan pengalaman nyata memancing. Aku suka bagian-bagian dalam novelmu di mana para karakter benar-benar menikmati aktivitas mereka, dan kesenangan itu tersampaikan dengan sangat baik."
Hiyodoribana menutup matanya sejenak, tampak kesulitan.
"Walaupun ceritamu seringkali lemah dalam pengaturan, struktur, dan transisi antar adegan, tetap saja ada perasaan nyata yang membuat semuanya terasa hidup. Itulah alasan aku tidak keberatan mencoba hal seperti ini... meskipun ini sangat berat..."
Dia tampak takut untuk melempar joran, kemungkinan karena mengingat kegagalannya yang sebelumnya. Utsugi bisa memahami ketakutannya dengan baik.
Tapi, tetap saja, dia merasa terganggu karena Hiyodoribana terus memegang joran tanpa melemparnya.
"Ayo cepat lempar saja."
"...Hmp!"
Dengan lengkungan sempurna, joran itu meluncur dengan mulus. Tapi, entah karena ayunannya tidak stabil atau waktu melepaskan umpannya salah, keranjang umpan jatuh tepat di depan mereka.
Dan pada saat yang sama, udang-udang kecil yang jatuh dari keranjang meluncur di udara dan jatuh menghujani Hiyodoribana.
Dari kejauhan, terdengar suara tawa Tachibana yang sedang merokok. Ayame memalingkan wajahnya, mungkin untuk menyembunyikan tawanya.
Uka tetap diam di posisinya setelah melempar umpan, tubuhnya bergetar dengan air mata yang hampir jatuh, sementara badannya dipenuhi dengan sisa-sisa umpan udang.
Utsugi pun tanpa sadar ikut gemetar. Melihat Hiyodoribana yang dalam keadaan seperti itu membuat perasaannya campur aduk, dan dia hampir tertawa, tapi juga merasa terharu melihat betapa manisnya Hiyodoribana.
Fujibakama, yang duduk di kursi lipat, menggoyang-goyangkan ember mini di tangannya.
"Hei, Hiyo-chan, bagaimana kalo kita jalan-jalan di pantai saja, sambil menunggu di sana?"
"...Tidak, aku baik-baik saja. Terima kasih."
Akhirnya, Hiyodoribana melepaskan sisa umpan udang di pundaknya satu per satu ke dalam ember umpan, dan mulai menggulung reel dengan tenang. Setelah menarik kembali pancingannya, dia berkata dengan nada yang penuh tekad.
"Hei, target Utsugi itu menangkap i ikan kakap merah atau kakap hitam ukuran 50 cm, kan? Dan kau ingin menuangkan perasaanmu saat menangkap ikan itu ke dalam novel, tapi sampai sekarang kau belum berhasil menangkapnya."
"Oh, iya, betul."
"Utsugi, kau belum membaca draf tiga babak yang kutulis, kan? Di tengah ceritanya, aku menyarankan agar saingan dari tokoh utama yang terlebih dahulu mencapai tujuan mereka, membuatnya mengalami kegagalan besar dan dia sangat frustarasi. Bagaimana perasaanmu kalau kau benar-benar mengalami hal itu?"
Dengan sekali sentakan, dunia Utsugi terasa sedikit lebih baru.
Dia mulai bersemangat.
Utsugi tersenyum lebar sambil memegang pancing yang diwarisi dari ayahnya.
"Kalo membayangkan Hiyodoribana menangkap kakap merah atau kakap hitam dan bersenang-senang, itu saja sudah menarik. Mungkin untuk pertama kalinya, aku bisa menerima saran dari orang lain. Rasanya seperti aku sendiri yang dikalahkan oleh Hiyodoribana."
"Kalo begitu, aku akan melakukannya. Bersiaplah! Omong-omong setelah itu, ikan yang ku tangkap akan ku jadikan sashimi yang enak, sambil membayangkan novel tentang kuliner juga."
"Aku senang Hiyodoribana sepertinya menikmati bermain denganku."
"...Aku dalam masalah karena kau tidak mau mendengarkan keluhanku, jadi jangan katakan hal aneh-aneh."
"Oh, dan di atas kepalamu masih ada sisa umpan udang."
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi!!"
Pada akhirnya, yang ditangkap Hiyodoribana hari itu adalah ikan buntal berukuran besar.
Sedangkan Utsugi entah bagaimana berhasil menangkap ikan kakap merah terbesar yang pernah ditangkapnya, berukuran 33 sentimeter.
★ ★ ★
Dua hari sebelum hari terakhir Golden Week.
Hiyodoribana memakai mengenakan apron favoritnya.
Motifnya adalah cetakan kucing. Uka sangat menyukai kucing. Dari semua hewan, kucing adalah yang paling dia sukai. Karena mereka imut. Sejak kecil perasaannya tidak pernah berubah. Pada akhirnya, manusia tidak bisa lari dari preferensi bawaan mereka. Itu yang selalu dia pikirkan.
Liburan sudah memasuki paruh kedua. Dapur di apartemen tempat Hiyodoribana tinggal bersama kakak perempuannya yang kuliah dan nenek dari pihak ibu sejak musim semi ini.
Saat itu masih pagi, dua orang lainnya masih tertidur. Kakaknya mungkin akan bangun sebentar lagi, tapi Hiyodoribana ingin menyelesaikan semuanya sebelum itu. Dia mengeluarkan wajan besi dan mulai memasak, sambil kembali memikirkan satu hal—
Ini tentang Utsugi
Selama sebulan terakhir, pikirannya hanya dipenuhi dengan Utsugi.
"...Aku selalu mengaguminya."
Hiyodoribana berbicara sendiri sambil memanggang paha ayam yang sudah direndam semalaman dalam campuran kecap, madu, garam, lada, dan minyak zaitun di atas wajan yang sudah dipanaskan hingga berasap.
Mungkin Utsugi sama sekali tidak menyadari hal ini.
Tapi, bagi Hiyodoribana, ini adalah sebulan yang terasa seperti mimpi.
Sampai sekarang, kadang-kadang, sebelum tidur, saat dia memejamkan matanya, dia berpikir, Bagaimana kalo besok pagi aku kembali ke rumah di Tokyo itu? Detak jantungnya langsung berdetak cepat.
Kakaknya sering menertawakannya, tetapi Hiyodoribana tidak peduli.
Novel itu.
Novel Utsugi yang kebetulan Hiyodoribana baca saat dia kelas satu SMP...
Siapa pun pasti akan mengalami hal yang sama. Mengagumi, merasa terselamatkan, dan bertanya-tanya seperti apa orang yang bisa menikmati dunia ini dengan cara yang begitu luar biasa.
Dan ketika dia benar-benar mengetahui orang itu, ternyata penampilannya, auranya, suara tawanya yang nakal, semuanya sesuai dengan seleranya.
Jika penulis novel yang dia kagumi terlihat begitu keren.
Jika setelah benar-benar berinteraksi dengannya, Hiyodoribana merasakan kalo tindakan dan hatinya adalah cerminan dari apa yang dia lihat dari novelnya.
Butuh kekuatan mental yang besar untuk tidak jatuh cinta.
Setiap hari, di dalam hatinya, Uka terus meyakinkan dirinya sendiri, "Bukan, bukan seperti itu, ini berbeda."
Setiap kali dia melihat wajah Utsugi. Setiap kali mereka berbicara. Setiap kali perilaku Utsugi mengingatkannya pada isi novelnya.
Setiap kali dia merasa senang saat melakukan sesuatu bersama Utsugi. Setiap kali tangan mereka bersentuhan. Setiap kali dia tiba-tiba merasakan aroma Utsugi. Setiap kali dia terkejut oleh ucapan blak-blakan Utsugi, lalu menyadari tatapan gembira Utsugi setelah itu. Setiap kali dia berpikir tentang bagaimana membuat novel Utsugi bisa dinikmati orang lain selain dirinya. Menahan perasaannya sambil meyakinkan dirinya, "Aku kesini bukan untuk jatuh cinta," sungguh sulit.
Beberapa waktu yang lalu, Utsugi pernah bertanya padanya, dan Hiyodoribana mengabaikannya tanpa memberikan jawaban. Kenyataannya, Hiyodoribana belum pernah benar-benar menyukai seseorang sebelumnya.
Jadi, dia tidak tahu.
Di SMP yang dulu dia datangi sebelum pindah ke sini, dia bertanya-tanya apakah teman-teman sekelasnya bodoh karena mereka banyak bicara tentang percintaan. Itulah yang dia pikirkan. Kadang dia merasa jijik atau geli. Tapi, sekarang dia menyadari, justru dirinyalah yang bodoh, konyol, dan memalukan.
Dalam hati, Hiyodoribana meminta maaf pada teman-teman sekelasnya itu, karena dulu dia tidak memahami perasaan mereka.
Dia tidak pernah membayangkan kalo ada seseorang di dunia ini yang bisa membuatnya merasa begitu berdebar-debar setiap kali berada di dekatnya.
Kakaknya tahu kalo Hiyodoribana sedang berusaha menahan perasaannya dan tidak ingin jatuh cinta. Suatu kali, setelah pulang, Hiyodoribana tertangkap basah sedang menenggelamkan wajahnya ke bantal dan berteriak, "Aaaaaaah!" Kakaknya pun tersenyum sinis dan berkata,
"Itu tandanya kau sudah jatuh cinta padanya. Jadi percuma saja kau melawan. Akhir-akhir ini kau terlihat sangat bahagia, loh."
"Tidak! Aku tidak bisa menyerah begitu saja."
Hiyodoribana berusaha sekuat tenaga agar perasaan cintanya tidak terlihat.
Tapi, tekadnya itu sering kali nyaris runtuh, dan saking frustasinya, koleksi pribadinya terus bertambah. Dia tahu itu mungkin sudah berlebihan, tetapi Uka memiliki tujuan yang jelas, dan bukan untuk urusan cinta.
Ibunya, Hiyodoribana Setsuko.
Wanita brengsek yang sangat dia benci.
Suatu hari, Hiyodoribana yakin kalo Utsugi akan bisa menulis novel yang jauh lebih hebat daripada ibunya.
Itu adalah firasat kuat Hiyodoribana sebagai kritikus sastra, dan dia berharap itu bukan hanya sekadar keinginan belaka-nya.
Di samping wajan, dia meletakkan panci untuk memasak omelet. Bumbu omeletnya hanya garam, tetapi minyak yang digunakan cukup banyak. Setelah itu, Hiyodoribana memanggang roti tawar, menyiapkan keju dan beberapa daun selada yang ia sobek-sobek. Daging ayam dan omelet dipotong-potong dan diapit di antara roti yang sudah diolesi mentega. Dia menekan sandwich tersebut dengan ringan, kemudian memotongnya secara diagonal. Setelah itu, dia membungkusnya dengan kertas minyak dan memasukkannya ke dalam kantong kertas bekas dari toko kopi. Dan Selesai.
Tidak lama kemudian, kakaknya terbangun dengan mata yang masih setengah tertutup.
"Selamat pagi..."
"Selamat pagi, Nee-chan. Aku minta maaf karena hari ini aku mengajakmu lagi. Terima kasih banyak. Setidaknya aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kakak untuk bekal hari ini. Apa kau mau kopi? Biar aku buatkan.
Kakaknya menyipitkan mata dan melirik kantong kertas itu.
"Sandwich, ya? Ada omeletnya juga? Terima kasih, tapi tumben sekali kau melakukan sesuatu seperti ini pagi-pagi... Sejak kecil, kau memang selalu begitu. Kalo kau sudah memikirkan sesuatu, kau akan langsung melakukanya tanpa henti... Kopi, tolong buatkan, ya."
Kakaknya memiliki sedikit masalah penglihatan. Hiyodoribana, meskipun setiap hari membaca hingga larut malam, tapi dia masih memiliki penglihatan sempurna, 1,5 di kedua matanya.
Meskipun mereka sedarah, tapi merasa tidak punya banyak kesamaan di antara mereka. Dari segi penampilan, Hiyodoribana lebih mirip ayahnya, sedangkan kakaknya lebih mirip ibu mereka. Karakter mereka pun cukup berbeda. Preferensi makanan, hobi, dan kemampuan masing-masing juga berbeda.
Tapi mereka sudah akrab sejak kecil.
Sambil mereka berdua mengobrol, mereka menyelesaikan persiapan yang lain selain kotak bekal makan siang, kemudian Hiyodoribana memanggul kotak pancing yang berkilau, yang telah dia letakkan di dekat pintu masuk. Di dalamnya terdapat joran lontar jarak jauh nomor 3 yang baru saja dibelinya beberapa hari yang lalu dengan harga lebih dari 30.000 yen, reel spinning serbaguna seharga 20.000 yen, batang pendaratan hampir 20.000 yen, dan jaring pendaratan sekitar 7.000 yen. Barang-barang lainnya sudah dimasukkan ke dalam mobil kakaknya tadi malam.
[TL\n: Jumlahin aja sendiri, soalnya kursa duit tu gak nentu kadang naik kadang turun.]
Hiyodoribana menoleh ke arah kakaknya yang memegang kunci mobil.
"Baiklah, ayo kita pergi, Onee-chan. Aku akan mengajari Utsugi."
Dia bersumpah dalam hatinya. Meskipun hatinya mungkin akan berdebar-debar melihat Utsugi, dia bertekad untuk tidak jatuh cinta. Dia harus benar-benar mengendalikan dirinya sendiri. Tidak akan ada 'suka', 'sangat suka', atau hal-hal bodoh lainnya yang akan menguasainya.
Dia memiliki misi mulia untuk memastikan bakat Utsugi tidak terbuang sia-sia demi kepuasan dirinya sendiri, tapi dapat mencapai hati banyak pembaca dan memberikan kontribusi kepada masyarakat manusia.
★ ★ ★
Akhirnya, hari itu tiba.
Ada tiga tahap sebelum Utsugi tidak bisa berhenti tertawa.
Yang pertama adalah kedatangan Hiyodoribana. Pagi itu, Utsugi sedang menulis sedikit naskah 'Ryuu no Kago Tsuri' di ruang tamu ketika bel pintu berbunyi.
Utsugi sempat berpikir itu mungkin Hiyodoribana, karena sekitar 30 menit sebelumnya dia menerima pesan konfirmasi yang berbunyi "Apa kau di rumah?" Tapi, yang tidak dia duga adalah saat membuka pintu, Hiyodoribana sedang menunggunya dengan senyum lebar. Ditambah lagi, dia menunjukkan sesuatu yang dikeluarkannya dari kotak styrofoam dengan gaya "jeng jeng!"
"Lihat ini! Bagaimana menurutmu? Meski ini tidak sampai 50 sentimeter!"
Utsugi membeku.
Bagaimanapun juga itu adalah ikan madai yang luar biasa.
"Apa?"
"Apa kau sudah menduga ini? Utsugi, apa kau membayangkan hal seperti ini?"
"...Tidak, sama sekali tidak."
"Kan? Hehe, sebenarnya aku, sepanjang libur akhir pekan, pergi memancing madai setiap hari. Kemarin, ada paman yang memancing di sebelahku, dia juga menggunakan teknik kago-tsuri, jadi aku memanfaatkannya sebagai referensi. Dan pagi ini, aku akhirnya menangkap ikan ini! Ini dia! Ini yang namanya mengejutkan tanpa mengecewakan ekspektasi!"
[TL\n: Kago-tsuri (籠吊り) adalah istilah dalam bahasa Jepang yang merujuk pada metode pengangkutan atau penangguhan barang menggunakan 'kago' (keranjang) yang digantung. Secara tradisional, kago adalah semacam tandu atau keranjang yang digunakan untuk membawa orang atau barang, terutama di Jepang pada masa lalu.]
Hiyodoribana tersenyum bangga.
"Utsugi bahkan tidak sadar tentang ini, dasar-dasar hiburan. Ingat itu! Ukir ini dalam-dalam di otakmu! ...Sekarang! Aku akan mengambil foto Utsugi dan ikan madai ini, seperti juara sumo yang memenangkan turnamen. Pegang ekornya—ya, ayo tersenyum—puji aku atas pencapaian ini."
"Ah, ah...ya. Um... tunggu, apa kau datang ke sini dengan kereta sambil membawa kotak styrofoam itu ke sini?"
"Ahaha, itu memalukan, aku diantar Onee-chan-ku dengan mobil. Setelah menurunkanku, Onee-chan langsung pergi ke mall. Apa keluargamu ada di rumah, Utsugi?"
"Ibuku semalam kerja lembur, jadi sekarang dia sedang tidur. Ayahku baru saja pergi ke driving range untuk main golf, jadi dia mungkin belum akan pulang dalam waktu dekat."
"Baiklah, kebetulan sekali. Kalo begitu bisakah aku meminjam dapurmu sebentar? Maaf mengganggumu, tapi bisakah kamu mengizinkanku masuk ke rumahmu? Oh iya, waktu aku menangkap ikan ini, aku jadi semacam pahlawan kecil di dermaga!"
Setelah mengizinkannya masuk dan mengantarkannya ke dapur, pikiran Utsugi yang sebelumnya hancur berkeping-keping mulai kembali, dan dia mulai menyadari sesuatu.
Membawa satu ekor ikan madai utuh?
Dengan semangat yang tinggi seperti itu?
Atau lebih tepatnya,
Menurut Utsugi Tachibana tidak akan merusak sebagian besar libur Golden Week-nya sebagai tanggapan atas permintaan dari anggota klub, jadi apa itu bererti Hiyodoribana pergi memancing sendirian? apa dia memancing di dermaga yang penuh dengan keluarga dan orang lanjut usia selama Golden Week?
Tahap kedua adalah saat piring diletakkan di atas meja ruang tamu.
"Oke, semuanya sudah disajikan! Bagaimana?"
Hiyodoribana, dengan lengan baju yang masih tergulung, menunjukkan potongan sashimi di atas piring dengan senyum percaya diri. Dengan penuh perhatian, dia juga menambahkan daun perilla, daun bawang, dan lobak yang dipotong tipis. Melihat dari persiapan yang begitu lengkap, Utsugi yakin kalo bahan-bahan itu tidak ada di dalam kulkasnya, sepertinya Hiyodoribana membawanya sendiri.
Selain piring shoyu, ada juga mangkuk kecil berisi saus wijen yang sepertinya dia siapkan.
"Aku sudah bilang padamu beberapa hari yang lalu, kan? Aku akan membuatmu makan sashimi. Lihat? Aku menepati janjiku. Saus wijen itu disajikan di restoran kappo tempat aku dibawa oleh produser stasiun Tv ketika aku masih menjadi aktor cilik. Rasanya sangat enak, jadi aku memutuskan untuk mencoba membuatnya sendiri. Aku membuatnya kembali dan menjadikannya sesuai seleraku. Ini juga cocok dengan nasi...eh, kenapa kau tertawa?"
[TL\n: Kappo (割烹) adalah istilah Jepang yang merujuk pada gaya memasak dan restoran yang menekankan pada penyajian makanan Jepang yang disiapkan langsung di depan pelanggan oleh koki. Kata 'kappo' secara harfiah berarti 'memotong dan memasak', yang mencerminkan fokus pada persiapan makanan segar dan teknik memasak yang sederhana namun elegan.]
Tahap terakhir adalah saat Utsugi tersenyum geli, membuat Hiyodoribana terkejut.
Seseorang yang tiba-tiba datang membawa pisau, alat penghilang tulang ikan, dan bumbu-bumbu untuk membuat sashimi tanpa diskusi terlebih dahulu adalah seseorang yang aneh, bahkan berbahaya.
Tapi, saat Utsugi tertawa, Hiyodoribana tampak sangat terkejut, seolah dia hanya mengharapkan pujian yang tulus dari Utsugi. Memang benar, sejak pertemuan pertama mereka, gadis ini sudah berani mengajukan teori tentang karya sastra dengan nada merendahkan. Mungkin saat itu dan sekarang, dia sedang dalam suasana hati yang aneh.
Karena Utsugi tidak bisa berhenti tertawa, akhirnya sesuatu pun terjadi.
"Kenapa aku, hahaha, walau aku sering dikomentari, tapi kalo bersama Hiyodoribana aku tidak akan pernah bosan, hahaha, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Hiyodoribana juga... Hahah, kau orang yang aneh!"
"Apa!? Kenapa kau bisa sampai pada kesimpulan itu!"
Hiyodoribana tampak sangat kecewa dan terkejut.
"Aku ini orang yang berakal sehat! Fakta kalo aku yang diam-diam memancing madai, itu bukti kalo aku ini orang yang pekerja keras, dan bukankah aku orang baik hati yang rela membuatkan sashimi untukmu?? Kenapa reaksimu tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan...kenapa...aku sudah sebulan penuh mempersiapkan ini...sudahlah! Jangan tertawa lagi!"
Hiyodoribana mencoba menepuk lengan Utsugi, Utsugi memahami hal ini, jadi dia meraih tangan Hiyodoribana di depannya dan menghentikannya. Semakin dia menahannya, semakin dia merasa lucu.
Sekalipun sumpitnya jatuh, tombol aneh tetap menyala.
"Hahaha, Hiyodoribana tanganmu, bau ikan dan umpan, haha, tapi aku kagum dengan usahamu. Tapi sejujurnya, kau tak perlu sejauh ini—"
"Ah! Bau udang krill sangat sulit dihilangkan, dan ikan madai sangat busuk jika disentuh dengan tangan kosong, jadi mau bagaimana lagi! Hei, jangan cium baunya! Itu bau, jadi itu agak memalukan, dasar orang berjiwa bebas! Hey...!"
Hiyodoribana mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Utsugi, tapi Utsugi mendadak terdiam. Dari postur Hiyodoribana dan besarnya kekuatan yang dia berikan, Utsugi tahu kalo Uka terus seperti ini, dia akan jatuh ke meja.
Di meja ada sashimi ikan Madai yang sudah disiapkan dengan susah payah oleh Hiyodoribana.
Jadi secara refleks, Utsugi menarik tubuh Uka ke arahnya. Hiyodoribana terkejut dan matanya membesar, lalu mereka bertabrakan dari depan.
Utsugi tidak bisa menopang berat tubuh Hiyodoribana dalam posisi yang tidak stabil, sehingga keduanya jatuh bersama ke sofa.
"──Ah!?"
Suara itu keluar dari mulut Hiyodoribana yang kini berada di atas Utsugi.
... Secara tidak terduga, mereka hampir berpelukan.
Mungkin, pada saat itu.
Menurutnya Utsugi menunjukkan ekspresi yang tidak tepat.
Jika tidak, itu hanya kecelakaan biasa, mereka akan tertawa dan bangkit, mungkin nanti akan sedikit merasa gugup saat mengingatnya, itu hanya akan menjadi cerita kecil.
Kenyataannya, Hiyodoribana sudah menumpukan tangan di atas permukaan sofa dan berusaha bangkit. Mungkin karena merasa malu karena terjatuh, dia hampir menampilkan senyum pura-pura. Tapi saat mata mereka bertemu, ekspresinya langsung berubah drastis.
Tentu saja, Utsugi dan Hiyodoribana belum pernah sedekat ini satu sama lain dalam sebulan terakhir.
Utsugi pun tidak pernah merasa jantungnya berdetak begitu kencang terhadap siapa pun sampai saat ini.
... Bahkan Utsugi sendiri, sampai hal itu terjadi, tidak pernah membayangkan akan bereaksi seperti ini.
Napas Hiyodoribana terasa di pipinya. Matanya yang berbentuk almond tampak berkilau. Utsugi bisa melihat dengan jelas bulu mata yang bergetar halus. Payudara besar Hiyodoribana menekan tubuh Utsugi, dan dari kelembutannya itu, Utsugi bisa merasakan detak jantungnya.
Keimutan wajahnya yang seperti anak kucing, hangatnya kulitnya yang gugup dan sedikit berkeringat, serta momen saat kami baru saja berpelukan seperti ini. ...Utsugi merasa itu adalah sesuatu yang harus dihargai, sesuatu seperti keajaiban, dan itu disampaikan kepada Hiyodoribana melalui ekspresi wajah Utsugi.
Senyuman menghilang sepenuhnya dari wajah Hiyodoribana.
Apa yang tersembunyi di balik api semangat di matanya kini tampak jelas. Pipi Hiyodoribana memerah. Tapi, meskipun mereka saling menatap dari jarak yang begitu dekat, tidak ada tanda-tanda mereka akan mundur.
Sebaliknya.
"...Hiyodori─"
Hiyodoribana tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. Bukan karena dia sedang linglung. Dia tampak seperti tidak ingin melepaskan pandangannya dari mata Utsugi meski hanya satu inci pun. Rasanya seperti ada sesuatu yang perlahan meleleh dari dalam hatinya.
Utsugi merasakan sebuah niat dari tatapan mata Hiyodoribana itu.
Mungkin itu adalah perasaan sebenarnya setelah akal sehat mereka berjatuhan.
Tanpa takut disalahpahami...
Jika harus diungkapkan tanpa memilih kata-kata...
Seperti perasaan, 'Aku suka, suka sekali, aku sangat menyukaimu,' semacam itu...
Hiyodoribana tetap diam. Dalam diamnya, dia menutup matanya.
Jarak antara mereka yang awalnya belasan sentimeter kini menjadi hanya beberapa sentimeter, dan sebelum Utsugi menyadarinya, jarak itu pun lenyap. Bibir Hiyodoribana, dengan kelembutan yang seperti mimpi, bersentuhan dengan bibir Utsugi, sensasi air liurnya yang menggelitik hingga ke inti tubuh Utsugi, dan mereka nafas yang bercampur tidak akan pernah terpisah lagi.
Dengan ciuman dari Hiyodoribana, otak Utsugi seakan tersambung dan berfungsi sepenuhnya. Pikirannya menjadi begitu jernih, dia merasa bisa melihat semuanya, bisa melakukan apa saja, menulis apa saja, dan pada saat itu, dia merasa dunia ini berputar di sekitarnya. Utsugi akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini dia cari, sejak neneknya meninggal dunia.
Dunia ini, bahkan setelah kehilangan orang yang paling disayangi, masih penuh dengan hal-hal yang belum Utsugi ketahui, penuh dengan keindahan yang mengguncang perasaannya.
Hiyodoribana, dengan ekspresi seperti sedang bermimpi yang tidak akan pernah berakhir, perlahan-lahan melepaskan bibirnya.
Dia bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan tubuh Hiyodoribana, bukan kepalanya.
Baru setelah detak jantung yang terasa langsung dari Hiyodoribana menghilang, Utsugi menyadari bahwa detak jantung yang berdetak kencang tadi juga miliknya. Dia berusaha mengucapkan kata-kata yang sebelumnya tertahan, tapi dia gagal. Setelah mencobanya lagi, akhirnya dia berhasil mengeluarkan suara.
"...Hiyo... bana...!"
Itulah yang membangunkan Hiyodoribana dari mimpinya.
Wajah Hiyodoribana langsung dipenuhi keringat dingin. Wajahnya yang sudah merah berubah semakin merah seperti kepiting rebus, dan dengan gerakan hampir melompat, dia mundur.
"Maaf... maaf, Utsugi!! Eh, apa yang... aku, aku tidak bermaksud begini! Kenapa... aku... ahhh...!?"
Hiyodoribana mundur terlalu jauh hingga dia jatuh dari sofa. Dalam posisi setengah terduduk dan setengah terlentang yang tidak rapi, Utsugi secara alami mendekatinya dan menggenggam tangannya. Meskipun Hiyodoribana semakin gugup, Utsugi tidak peduli.
Saat ini, Utsugi-lah yang tidak punya waktu luang untuk berpikir.
"... Aku mengerti."
"Hah!? Mengerti apa!?"
"Aku benar-benar mengerti sekarang. Aku akhirnya paham! Apa yang kurasakan sejak pertama kali aku bertemu dengan Hiyodoribana, perasaan yang kumiliki terhadap Hiyodoribana, dan... sesuatu yang selalu mengganjal sejak kau bergabung dengan klub. Ini sesuatu yang lebih besar dari sekadar itu!"
Di dalam kepalanya, inspirasi tak terbatas terus berkilat.
Di dalam dadanya, sesuatu yang tak pernah dia sadari sebelumnya kini menyala...!
"Aku tidak pernah tahu aku memiliki perasaan seperti ini, bahkan saat masa-masa paling menyenangkan sekalipun! Yang ingin kulakukan adalah... menulis tentang Hiyodoribana! Aku ingin menjadikan Hiyodoribana sebagai bagian dari novelku...!!"
Hiyodoribana, yang sudah sangat terguncang sampai tidak ada lagi bagian dari dirinya yang tidak terguncang, mengeluarkan jeritan yang semakin keras.
"Eh... eeehhhh!?"
Keyakinan Utsugi tidak pernah berubah sejak dia masa kecilnya.
Dia melakukan ini karena dia ingin.
Dia melakukannya karena dia merasa ini menyenangkan.




