Kau saat ini sedang membaca Danjo Hi 1 : 5 No Sekai De Mo Futsu Ni Ikirareru to Omotta? Geki E Kanjona Kanojo Tachi Ga Mujikaku Danshi Ni Honro Saretara volume 3 chapter 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
RODA-RODA TAKDIR YANG MULAI LEPAS KENDALI
◆JC DARI KLUB BASKET ITU AKAN MELEDAK◆
[TL\n: JC tu singkatan dari 'Joshi Chūgakusei' (女子中学生) yang berarti siswi SMP.]
Semenjak kami mendengar kalo lapangan tempat aku bermain básquet bersama Yuka akan dihancurkan, kami pergi menjelajah untuk mencari tempat baru untuk berlatih.
Meskipun yah, pergi mencari tanpa tujuan tidak akan banyak membantu, jadi pertama-tama kami mencari di internet dan kemudian pergi memeriksa tempat-tempat tersebut.
"Uhm... Tempat ini sepertinya cukup populer..."
"Ya... Walaupun ini akhir pekan, sepertinya ada beberapa grup yang sedang menunggu giliran mereka..."
Tetap saja, tidak mudah untuk menemukan tempat yang bagus.
Tempat-tempat populer yang muncul pertama kali di internet tidak selalu tersedia untuk bermain basket.
Aku pikir kami bisa puas dengan lapangan yang ada beberapa orang, tapi Yuka menentangnya dengan tegas, jadi kami memutuskan untuk lanjut mencari.
Dia mengatakan sesuatu seperti "Dilarang karena kalo Onii-san datang sendirian itu berbahaya!"
Berbahaya dalam artian apa?
Karena itu, yang ideal adalah menemukan tempat yang tidak terlalu ramai dan dalam kondisi baik, tapi...tidak semudah itu menemukan tempat yang senyaman itu.
"Sepertinya ada tempat lain di dekat sini. Apa kita mau melihatnya?"
"Ya!"
Membawa Yuka bersamaku, kami mulai berjalan kembali.
Matahari musim panas membakar kulit.
Panasnya sedikit menyengat, tapi karena kami sudah di sini, aku ingin menemukan tempat yang bagus sebelum pulang.
Aku menyeka keringat di leher dengan sapu tangan dan kemudian mengeluarkan Hp untuk mencari cara menuju ke tempat berikutnya.
"Mari kita lihat〜... kalo lurus terus lewat sini..."
Kami berjalan bersama di trotoar jalan raya utama.
Dan kemudian...
"Ah...!"
"..........?"
Yuka menyadari sesuatu dan dengan cepat berpindah dari sisi tempat dia berjalan, menyeberang ke sisi yang berlawanan, berada di sisi lain dariku.
"...Ada apa?"
"Tidak, bukan apa-apa!"
Bagiku itu terasa aneh, tapi karena Yuka tersenyum dan terlihat senang, aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
"Lewat sini ke arah kiri."
"Eh〜 aku hampir tidak pernah datang ke daerah ini."
"Sejujurnya sku juga."
Pergi ke tempat yang tidak pernah kau datangi bisa memberikan sedikit rasa tidak aman, tapi juga rasa bersemangat.
Mungkin Yuka merasakan hal yang sama.
Kami menyeberangi lampu merah dan lanjut berjalan di trotoar.
Dan kemudian, sekali lagi...
"Ah!"
Sekali lagi, Yuka sepertinya menyadari sesuatu dan dengan cepat berpindah ke sisi lain, menempel erat padaku.
Ehh? Apa?
"Apa kau sedang melakukan semacam...pertahanan?"
"Bu-bukan seperti itu!"
Aku pikir mungkin dia sedang melatih gerakan bakuet, tapi sepertinya bukan itu masalahnya.
Lalu kenapa dia melakukannya...?
"Aku melihatnya di Tv! Katanya wanita yang baik tidak membiarkan laki-laki berjalan di sisi jalan! Be-berbahaya membiarkan Onii-san berjalan di sisi mobil!"
...Cara bicaranya sedikit kaku.
Tapi terlihat lebih dari cukup kalo dia mengatakannya karena dia khawatir padaku.
Dengan sedikit rasa malu, Yuka melirik untuk melihat wajahku.
"Ba-bagaimana menurutmu...?"
"Hahaha...terima kasih."
Mendengar itu, Yuka langsung tersenyum seolah-olah sebuah bunga mekar secara tiba-tiba.
Pastinya, aku tidak bisa menahan diri menghadapi senyumannya itu.
"Ah, sekarang aku ingat, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu, Masato-san..."
"Ada apa?"
Itu terjadi sementara kami sedang berhenti di lampu merah lainnya.
"Minggu depan kami ada kamp musim panas klub, jadi hari Jumat aku tidak bisa bermain basket bersamamu."
"Begitu ya, mau bagaimana lagi. Semangat ya di kamp itu!"
Sekolah Yuka bukan benar-benar tim super kuat dalam basket, tapi cukup kuat untuk mencapai turnamen Tokyo.
Wajar kalo mereka memiliki satu atau dua kamp.
"Dan juga dilarang membawa Hp... Jadi mungkin akan sulit untuk tetap berhubungan."
"Wah, itu benar-benar ketat."
Di zaman sekarang, bahkan anak sekolah menengah menggunakan Hp sudah menjadi hal yang normal.
Dilarang menggunakan sesuatu yang berguna baik untuk berkomunikasi maupun hiburan pasti berat bagi gadis seusianya.
"Ah, tapi aku juga akan pergi minggu depan dan akan menginap di luar, jadi kemungkinan aku juga tidak akan bisa menjawabmu. Mungkin itu kebetulan yang bagus."
"Masato-san juga akan pergi ke suatu tempat?"
"Ya, bersama teman-temanku, ke pantai."
Pish, tubuh Yuka menegang seketika.
Karena lampu merah sudah hijau, aku mulai berjalan, dan dia mengikutiku dengan terburu-buru seolah-olah dia tertinggal.
"Ke-ke pantai ya? Itu sempurna untuk musim panas, kedengarannya bagus. Ngo-ngomong-ngomong, dengan siapa kau akan pergi...?"
"Dengan teman-temanku dari kampus."
"Te-teman-teman, begitu ya. La-lalu, berapa banyak orang yang pergi, kalo boleh tahu...?"
"Kami akan pergi bertiga."
"Ti-tiga, aku mengerti..."
Kami menyeberangi lampu merah, dan aku memeriksa Hp sekali lagi. Ya, kami sudah di jalan yang benar.
"A-ahm..."
"Ada apa?"
Ketika aku mengalihkan pandangan dari Hp untuk melihat Yuka, aku bisa melihat di wajahnya ekspresi penuh kegelisahan tertentu.
"Cuma penasaran, a-apa ada wanita juga...?"
"Ah...begitulah..."
Dengan pertanyaan itu, akhirnya aku mengerti apa yang dikhawatirkan oleh Yuka.
Semenjak dia menyatakan perasaannya padaku, aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya.
Aku harus menjawabnya dengan baik.
"Ya, ada. Atau lebih tepatnya, aku satu-satunya laki-laki yang pergi..."
"O-oleh karena itu ini dua lawan satu!?"
"Ya, kurang lebih begitu..."
Aku meliriknya, dan Yuka memiliki ekspresi seolah-olah dunianya runtuh.
"Masato-san, kau akan dimangsa...de-dengan double team..."
"Jangan katakan itu seolah-olah itu istilah basket."
'Double team' adalah ketika dua pemain menjaga satu orang saja.
Umumnya digunakan untuk menghentikan bintang tim... Dan kenapa aku menjelaskan ini?
Untuk sesaat, wajah Yuka menjadi benar-benar pucat, tapi tiba-tiba dia kembali sadar.
"Masato-san, aku pasti akan menghubungimu di malam hari."
"Eh, tidak, tapi kau bilang kalo dilarang membawa Hp..."
"Semua orang bilang kalo mereka tidak akan mengikuti aturan itu, itu cuma norma formal, jadi tidak apa-apa. Aku akan menghubungimu di malam hari, jadi tolong jawab aku, oke?"
"Baiklah, baiklah, tapi kami memiliki kamar terpisah, jadi aku pikir tidak ada masalah..."
"Aku tidak peduli! Tolong jawab panggilanku! Itu janji, oke!?"
Yuka memegang tanganku dengan kuat dan menggerakkannya dengan putus asa.
Tentu saja, baginya wajar untuk merasa khawatir.
Dia terlihat cukup panik, tapi sampai titik tertentu itu malah terlihat menggemaskan.
"Ah, dan ketika kau kembali, kenalkan aku pada teman-temanmu itu... Aku harus bicara dengan mereka..."
"Apa yang kau rencanakan untuk kau ceritakan pada mereka???"
Yuka berbicara dengan ekspresi penuh tekad, tapi sebenarnya, setelah mengatakan itu, aku merasa sedikit takut.
◆JD YANG PENUH ENERGI BERSIAP-SIAP◆
[TL\n: JD tu singkatan dari 'Joshi Daigakusei' (女子大学生) yang berarti mahasiswi]
Beberapa hari telah berlalu semenjak liburan musim panas dimulai.
Akhirnya, mulai besok, aku akan pergi ke pantai bersama Masato dan Koumi.
Pergi ke pantai bersama-sama, laki-laki dan perempuan, adalah sebuah acara yang, kalo aku memikirkan masa SMA-ku, itu adalah jenis kehidupan kampus yang aku impikan.
Sebenarnya, aku seharusnya lebih bersemangat dan lebih bertenaga, tapi...
"Haa〜..."
Sambil mengatur barang-barangku, aku menghela napas tanpa sengaja.
Dalam sepuluh tahun lebih hidupku, aku tidak pernah begitu mengkhawatirkan satu hal saja.
Penyebab kekhawatiranku, tentu saja, adalah Masato.
Semenjak aku tahu kalo Masato bekerja di sebuah bar host, setiap kali aku melihat Koumi, aku mengeluarkan keringat dingin yang aneh...
Perasaan mengkhianati sahabatku rasanya seperti sesuatu yang dingin menusuk punggungku.
Mungkin terlihat bodoh menyimpan rahasia seperti ini, tapi dialah orang yang dicintai oleh Koumi.
Aku yakin kalo seandainya aku benar-benar sahabat Koumi, aku harus menceritakan semuanya padanya.
Tapi...aku tidak melakukannya. Dan aku tahu persis kenapa.
Kalo aku meletakkan tangan di dada, aku bisa mengingatnya kapan saja.
"Karena Mizuho-chan kau sangat imut."
"Aku juga selalu menerima energi dari kegembiraan dan senyummu, Mizuho."
Setiap kata yang dia ucapkan padaku meresap jauh ke dalam dadaku.
Aku bisa merasakan bagaimana jantungku berdetak kencang.
Ya, aku juga mulai merasa tertarik pada Masato.
Kebaikannya menyentuh hatiku dengan cara yang tidak bisa aku kendalikan.
Sekarang ini, aku menjaga keseimbangan berkat rasa bersalah yang aku rasakan terhadap Koumi dan gagasan kalo dia adalah orang yang ditakdirkan untukku...tapi, sejujurnya, hatiku sudah cukup lelah.
"Sungguh...dia laki-laki yang penuh dosa, ya?"
Meskipun aku mengeluh, situasinya tidak berubah.
Sekarang aku mengerti kenapa Koumi menolak untuk memperkenalkannya kepada gadis-laki-laki lain.
Karena tidak mungkin aku tidak jatuh cinta pada seseorang seperti itu.
Ketika aku memeriksa Hp, aku melihat ada pesan di grup kami bertiga.
《Koumi: Sepertinya cuacanya akan bagus! Syukurlah!》
《Masato: Ya, tapi sepertinya akan cukup panas, jadi ayo kita jaga diri.》
《Koumi: Baiklah, kalo begitu kita bertemu besok jam 10:00 pagi di stasiun, oke?》
Aku selesai membacanya dan ketika aku ingin membalas, tanganku terhenti.
"Apa sebaiknya tidak pergi saja?"
Kalo aku menggunakan alasan, seperti sedang sakit, apa yang akan terjadi?
Meskipun bagi mereka berdua itu akan terlihat sedikit...meragukan, kalo aku tiba-tiba sakit di hari perjalanan, bukankah Koumi dan dia akan pergi berdua saja untuk menginap?
Kalo aku benar-benar ingin mendukung Koumi, bukankah itu yang terbaik?
"Ya, ya, aku benar. Jadi, besok lebih baik aku bilang pada mereka kalo aku demam..."
Tepat ketika aku akan mengatakan itu, aku melihat baju renang yang aku beli bersama Koumi.
Aku mengambilnya di tanganku dan mengingat percakapan yang kami lakukan.
"Hei, Mizuho, kau memilih yang cukup berani!"
"Ti-tidak, tidak, tidak! Itu bukan niatku! Aku cuma melihat dan berpikir kalo itu imut! Tapi aku pikir lebih baik aku pakai jenis baju renang terusan saja!"
"Hei〜 tidak apa-apa! Itu imut dan aku pikir itu cocok untukmu, Mizuho."
"Hahaha...aku tidak punya bentuk tubuh yang bagus, jadi menunjukkan terlalu banyak bukan gayaku..."
"Kalo model rumbai, itu tidak terlihat terlalu provokatif dan sangat imut, sepertimu. Pasti Masato juga akan menyukainya dan akan memujimu."
"Ja-jadi, aku pikir aku akan memilih yang ini."
"Ya, ya, yang itu bagus. Tapi ingat kalo orang pertama yang memujimu adalah aku!"
Senyuman yang dimiliki Koumi saat itu terasa tulus, seolah-olah benar-benar datang dari hati.
Kalo besok aku bilang tidak pergi, apa Koumi akan benar-benar senang?
Tapi pasti itu yang terbaik untuknya...
Sementara aku berputar-putar memikirkan hal itu...
"Hyowa!"
Hp-ku berbunyi tiba-tiba dan aku terkejut. Ada panggilan masuk.
Saat melihat layar, tertulis 'Koumi'.
"Halo?"
"Ah, halo Mizuho. Apa kau sudah melihat pesannya? Aku khawatir karena kau tidak menjawab."
"Ah, ah〜... maaf, aku tadi setengah tertidur dan tidak melihatnya."
"Mizuho, kau selalu saja bingung dengan waktu dan membuatku khawatir! Kita sepakat untuk berkumpul besok jam 10:00 pagi di stasiun, oke?"
"Iya, iya, dimengerti."
Terjadi keheningan singkat.
Aku tidak begitu suka berbicara tanpa melihat wajah lawan bicara.
"...Mizuho, aneh rasanya kalo aku yang mengatakannya, tapi..."
"..........?"
Nada suara Koumi sedikit merendah.
"Kau tidak perlu bersikap terlalu sungkan padaku. Soalnya...aku ingin kita bertiga bersenang-senang bersama."
".........!"
Aku terkejut mendengar kata-kata Koumi, rasanya seolah-olah dia telah membaca apa yang aku pikirkan sampai saat tadi.
"Tentu saja aku menyukai Masato dan ingin berpacaran dengannya. Tapi aku juga memiliki keinginan yang sama kuatnya untuk menciptakan kenangan yang menyenangkan bersamamu."
...Tanpa sengaja, aku menahan napas.
Mungkin untuk pertama kalinya aku berpikir kalo berbicara melalui telepon adalah hal yang bagus.
"Haha! Koumi, kau benar-benar gadis yang menggemaskan〜 Tentu saja aku juga ingin menciptakan kenangan yang menyenangkan! Dan lebih baik kau cepat jadian dengannya! Dengan begitu aku juga bisa menangani banyak hal dengan lebih baik!"
"Haha, maaf, maaf! Aku akan berusaha!"
"Kalo begitu, itu dia! Musim panas ini, kau harus menaklukkan hati Masato!"
"Saat kau mengatakannya seperti itu, aku jadi gugup...ugh, sepertinya aku tidak akan bisa tidur."
"Haha! Kalo kau tidak segera tidur, itu akan berpengaruh padamu besok! Pokoknya, selamat malam!"
"Ya, selamat malam", katanya padaku.
Aku memastikan kalo Koumi telah memutus sambungan teleponnya dan kemudian aku menjauhkan Hp dari telingaku.
Di layar muncul tulisan 'Panggilan berakhir' dengan dingin.
"...Koumi, kau benar-benar gadis yang terlalu baik."
Sambil meregangkan tubuh, aku melemparkan Hp ke atas tempat tidur.
Kalo saja Koumi sedikit lebih jahat, aku tidak akan merasa bersalah dan bisa bertindak sesuai dengan perasaan jujurku.
Aku membenci diriku sendiri dari lubuk hati yang paling dalam karena berpikir seperti itu.
◆JD TIPE TEMAN MASA KECIL DIGENDONG DI PUNGGUNG◆
Matahari puncak musim panas membakar pasir pantai.
Suhu udara telah naik lebih tinggi dari yang diperkirakan untuk awal musim panas.
Tempat yang kami datangi adalah laut biru pekat, sebuah pemandangan klasik musim panas.
"Laut〜!!!"
"Hei! Jangan langsung masuk! Kalo tidak melakukan pemanasan dulu bisa berbahaya!"
Kami sudah berada dalam liburan musim panas.
Koumi, Mizuho, dan aku, kami bertiga, telah sampai sesuai rencana di pantai terdekat untuk berenang di laut.
Pertama kami menaruh barang-barang kami di sebuah penginapan dekat pantai dan kemudian menuju ke pantai.
Mizuho, yang semenjak melihat laut sudah sangat bersemangat, begitu sampai di pasir langsung menerjang ke arah air.
Apa benar dia tidak apa-apa...?
"Hahaha, Mizuho benar-benar punya banyak energi."
"Tidak apa-apa, apa kau mau menyusulnya? Lagipula, aku cuma akan diam di pasir saja."
"Ehh, membosankan sekali! Masato tidak mau berenang bersama kami?"
Koumi, yang berada sedikit di depanku, tertawa dengan polosnya.
Ketika berbicara dengan Mizuho sebelumnya, dia mengatakan sesuatu tentang baju renang yang berani...
Baju renang Koumi adalah model dua potong, tapi bagian bawahnya tipe celana pendek, dan bagian atasnya memiliki desain putih dengan pita dan tali bahu.
Ekspos kulitnya tergolong sedang, sebuah baju renang yang mengutamakan sisi imut.
Sebenarnya, aku rasa tipe seperti itu lebih cocok untuk Koumi.
Meskipun, dengan bentuk tubuhnya, dia juga pasti akan terlihat bagus dengan bikini.
"...Bagaimana menurutmu?"
Saat menyadari kalo aku sedang melihat sedikit ke arah baju renangnya, Koumi berbalik dengan sedikit malu untuk menunjukkannya padaku.
"...Imut. Bagaimana mengatakannya...aku merasa itu menunjukkan sisi terbaikmu."
"Hehehe...terima kasih."
...Memberikan pendapat yang tulus terkadang bisa terasa rumit.
Aku senang Koumi terlihat bahagia, tapi dengan semua yang terjadi belakangan ini, aku memiliki perasaan yang campur aduk.
"Kalian! Berhenti bermesraan dan cepat masuk ke laut!"
"Ka-kami tidak sedang bermesraan!!"
Mizuho, yang telah kembali tanpa aku sadari, tersenyum lebar sambil membuat gerakan seolah-olah sedang meniup peluit.
Baju renang Mizuho juga model dua potong, dengan desain off-shoulder.
Warna dominannya adalah biru, yang memberikan kesan menyegarkan.
Meskipun tidak menunjukkan banyak di bagian dada, itu membiarkan bahu dan perut terbuka, dan walaupun bagian bawahnya memiliki rumbai, itu adalah tipe bikini.
Pastinya bisa dikatakan kalo itu sedikit berani.
Tapi itu juga terlihat sebagai baju renang yang menonjolkan dengan sangat baik betapa manisnya Mizuho.
"Bukankah kau bilang kalo kau tidak pandai berenang, Mizuho...?"
"Memang! Tapi di sini tidak terlalu dalam, jadi aku baik-baik saja!"
Dari apa yang telah aku ketahui tentangnya, aku tahu kalo Mizuho terkadang berpura-pura ceria dengan paksa.
Aku pikir, kalo sedang mengalami saat yang buruk, tidak apa-apa untuk bilang kalo sedang tidak enak badan...
Dan hari ini, sampai saat ini, dia sepertinya memaksakan energi itu.
Yah, tidak cuma hari ini...belakangan ini ada banyak hari yang seperti itu.
Dia berusaha keras untuk membiarkan Koumi dan aku berduaan saja, dan karena alasan tertentu mencoba untuk keluar dari grup.
Kalo kami datang bertiga, maka kami bertiga harus mengobrol, atau setidaknya begitulah menurutku...
"Untuk sekarang aku akan menancapkan payung pantai di tempat yang kosong, jadi kalian berdua pergilah ke laut, ya?"
"Ah, aku membantu."
"Bukan sesuatu yang benar-benar butuh bantuan..."
"Tidak peduli, tidak peduli! Berbahaya kalo kau berjalan-jalan sendirian di sana, Masato!"
Pantai menunjukkan suasana yang agak meriah.
Meskipun kami berada dalam liburan musim panas, karena ini hari kerja dan pantai ini tergolong tidak terlalu terkenal, tidak ada banyak orang, walaupun tidak bisa dikatakan sepi juga.
Aku rasa aku harus menerima saat dikatakan tidak boleh berjalan sendirian karena aku laki-laki...
Mempertimbangkan hal itu, aku memilih baju renang yang sesederhana mungkin.
Aku ingin pergi tanpa memakai atasan, tapi akhirnya aku memakai sesuatu yang menyerupai jaket tipis di atasnya.
Karena alasan tertentu, mereka berdua menyukainya dan bilang padaku "Sebaliknya, itu terlihat bagus..." Sepertinya membiarkan sesuatu menjadi imajinasi adalah apa yang menarik (pasrah).
"Ka-kalo begitu aku duluan! Laut tidak menunggu siapa pun〜!"
"Ah, hei, Mizuho!"
Mizuho kembali berlari ke arah laut dengan langkah cepat.
Benar-benar seorang gadis yang membuat orang khawatir... Apa dia akan baik-baik saja?
Lebih tepatnya, dari sudut pandangku, aku khawatir meninggalkan Mizuho sendirian.
"Ketika selesai memasang payung pantai, apa kita akan pergi juga?"
"Ya. Berbahaya meninggalkan Mizuho sendirian."
Sambil menjawab Koumi, aku mengikuti dengan pandanganku ke arah mana Mizuho pergi.
Aku harus memastikan dengan baik di mana dia berada...
"Bukankah di sini bagus? Lagipula dekat dengan laut!"
"Baik. Kalo begitu kita pasang di sini."
Kalo kau terlalu dekat dengan laut, tergantung pada pasang surutnya, ombak bisa mencapaimu.
Jadi kami memasang payung pantai di tempat yang cukup dekat dengan air, tapi tidak terlalu dekat hingga ombak bisa sampai, dan menaruh barang bawaan di sana.
Tepat pada saat itu...
"Abah!"
Mizuho, yang berada sedikit lebih jauh, mengeluarkan teriakan aneh dan terjatuh.
Terdengar cipratan air yang besar saat dia jatuh ke air.
"Sudah kubilang! Dasar bodoh...!"
"Masato!?"
Syukurlah aku terus mengikuti Mizuho dengan pandanganku dari sudut mataku.
Aku berlari ke tempat dia berada dan menerjang ke laut tanpa ragu.
Bukannya aku seorang perenang ahli, tapi untuk jarak sejauh ini tidak ada masalah.
Aku segera sampai di tempat Mizuho berada dan mengangkatnya di lenganku.
...Dia sangat ringan. Mizuho-chan sangat kurus hingga membuatku khawatir!
"Sudah kubilang, kan? Supaya melakukan pemanasan dulu!"
"Ah...itu...maaf..."
Meskipun kedalamannya hanya cukup untuk membuat kepalanya terlihat, laut tidak boleh diremehkan.
Hal tentang tanpa kau sadari berakhir di zona yang dalam adalah cerita yang terlalu sering terjadi.
"Apa kau baik-baik saja...? Apa kakimu kram?"
"Tidak, sungguh...aku cuma kehilangan keseimbangan..."
Bersama Mizuho, yang secara tidak biasa terdiam tenang, aku berjalan langsung kembali ke tepi pantai.
Koumi juga telah mengikuti kami sampai ke pasir.
"Mizuho, apa kau baik-baik saja?!"
"Ah, ah...ya, aku baik-baik saja! Cuma sedikit kehilangan keseimbangan."
Aku tidak berencana untuk masuk ke laut, tapi akhirnya aku basah kuyup sepenuhnya... Aku rasa sekarang aku cuma bisa diam tenang di bawah payung pantai...
Aku menyeka dahiku dari poni yang mengganggu pandanganku dan memakai kembali sandalku.
"Ini..."
"Hmm? Ada apa, Mizuho?"
Saat berbalik, aku melihat Mizuho benar-benar membeku di tempatnya.
Matanya terbuka lebar, terkejut.
Melihatnya seperti itu, Koumi juga memasang ekspresi bingung.
"Nnn〜! Tidak ada apa-apa! Terima kasih, Masato!"
"...Pastikan untuk melakukan latihan pemanasan dengan benar."
Mizuho menggelengkan kepala seolah-olah mencoba menghilangkan sesuatu dari pikirannya, dan kali ini mulai melakukan peregangan bersama Koumi.
Aku kembali ke payung pantai dan duduk.
Dari sini aku bisa melihat dengan jelas bagaimana mereka berdua mengobrol dengan meriah sambil melakukan latihan mereka.
Keduanya sangat manis, tidak ada yang kalah satu sama lain.
Di dunia sebelumnya, kalo dua gadis seperti itu muncul di pantai, pasti mereka akan langsung digoda oleh orang-orang.
"Dunia sebelumnya, huh..."
Belakangan ini aku memikirkan banyak hal.
Tentang Yuka, dan juga tentang apa yang baru saja terjadi dengan Seira-san.
Kalo aku menilainya menurut standar dunia sebelumnya, apa yang aku lakukan adalah hal yang benar-benar normal, tapi sepertinya, di sini tidak begitu.
Tapi tetap saja, memaksakan diriku untuk bersikap dingin kepada gadis-laki-laki yang berhubungan baik denganku...bukan sesuatu yang bisa aku lakukan.
Aku memahaminya ketika kejadian Seira-san.
Melihat ekspresi itu, seolah-olah dia akan menangis...aku tidak bisa menahannya.
Karena aku tumbuh dengan keyakinan kalo bersikap baik adalah hal yang wajar.
Dan sekarang setelah aku di usia ini, diminta untuk mengubah hal itu secara tiba-tiba...sangat sulit.
"Apa yang seharusnya aku lakukan...?"
Sambil memikirkan hal itu, kelopak mataku mulai terasa berat.
Mungkin karena aku bangun lebih awal untuk memikirkan persiapan dan hal-hal semacam itu.
Pekerjaan di bar telah merusak rutinitasku, dan sekarang aku sedang merasakannya.
Syukurlah, mereka berdua sepertinya sedang bersenang-senang... Yah, sudahlah.
Suara ombak terasa menyenangkan, jadi aku memutuskan untuk membiarkan diriku terbawa mimpi sejenak.
"...to...! Masato!"
"Nnn...?"
Hal pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah wajah Mizuho.
Aku sedikit terkejut, tapi lebih dari itu, aku menyadari kalo dia memiliki ekspresi khawatir, jadi aku langsung bangkit.
"Masato! Koumi sepertinya terkena sengatan panas!"
"Eh!?"
Dalam sekejap aku mendapatkan kembali kesadaranku dan melihat ke sekeliling...sampai aku menyadari Koumi duduk di sampingku sambil memeluk lututnya.
"Hahaha... Maaf, kepalaku sedikit sakit..."
"Kau tidak perlu memaksakan diri. Apa kau sudah minum cairan?"
"Ya... Aneh sekali... Padahal aku sudah minum minuman olahraga sebagaimana mestinya..."
Wajahnya memerah dan napasnya memburu.
Menurut dia sendiri, dia merasa sakit kepala dan pusing.
"Mizuho, tetaplah di sini dan jaga barang-barang sebentar. Aku akan membawa Koumi ke penginapan agar dia bisa istirahat."
"Y-ya, dimengerti!"
"Koumi, tahan sebentar, oke...?"
"Eh...?"
Aku berjongkok di depan Koumi dan memintanya meletakkan tangannya di bahuku.
Kemudian aku berdiri dengan dia yang tergendong di punggungku.
"Pegangan yang kuat, oke? Tahanlah sebentar."
"...Ya."
Lengannya, yang melingkar dengan kuat di sekujur tubuhku, mendekap dengan erat.
...Pastinya ini juga tidak sepenuhnya benar, tapi karena ini keadaan darurat... Aku merasa sedikit muak pada diriku sendiri karena menggunakan alasan itu.
Saat menoleh, aku menyadari kalo dalam senyuman Mizuho yang seperti biasanya, seolah-olah telah terbentuk sebuah bayangan...dan itu juga membuatku sedikit tidak tenang.
Setelah membaringkan Koumi di kamar.
Sementara matahari sudah hampir terbenam, Mizuho dan aku berjalan bersama di tepi laut.
"Koumi benar-benar membuat kita sangat terkejut, ya? Karena di sekolah menengah atas dia ikut klub sofbol, aku pikir dia akan terbiasa dengan panas."
"Saat kau berhenti berlatih untuk sementara waktu, daya tahan itu akan hilang seketika. Lagipula, hari ini matahari sangat terik."
Setelah mengantar Koumi, aku menghabiskan sisa waktu menikmati laut bersama Mizuho.
Koumi sendirilah yang memintaku. Dia ingin aku menghabiskan waktu bersama Mizuho.
Dan yah, aku juga tidak bisa meninggalkannya sendirian, jadi aku setuju.
"Meskipun begitu, Masato, kau sangat keren! Kau menggendong Koumi dalam sekejap!"
"Yah, itu cara yang paling tidak memberatkan baginya."
"Tapi tetap saja! Apa karena itu? Apa itu karena kau bekerja di bar, kau jadi lebih perhatian pada gadis?"
"Sejujurnya aku rasa itu tidak ada hubungannya dengan hal itu〜"
Pasti dia juga tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Mizuho mendekatiku untuk membisikkannya seolah-olah dia sedang menggodaku, dan melepaskan tawa kecil yang manis.
"Hei, Masato."
"Hmm?"
Mizuho, yang sudah mulai berjalan sedikit di depan, bergumam tanpa melihatku.
"Kalo aku yang berada di posisi Koumi...apa kau juga akan menggendongku?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa, dan untuk sesaat aku terdiam.
Tapi punggung Mizuho terlihat sedikit kesepian.
"...Tentu saja. Maksudku...kita teman, kan?"
"...Hehehe. Terima kasih."
Mizuho tiba-tiba berbalik.
...Mungkin karena dia sedang memakai baju renang, tapi hari ini dia terlihat dua puluh persen lebih manis dari biasanya.
Kemudian dia kembali melihat ke depan dan merentangkan tubuhnya ke atas dengan kuat.
"Semoga orang yang ditakdirkan untukku adalah seseorang yang baik sepertimu, Masato〜!"
"Semua orang yang aku kenal di bar sana dan yang pernah berhubungan denganku adalah orang-orang yang asyik, jadi pasti kau akan baik-baik saja."
Sikap baik orang-orang di sana memang luar biasa.
Yusuke-san, yang mendengarkanku tempo hari, tentu saja.
Host yang lain juga semuanya baik.
Satu-satunya hal yang sulit adalah melihat mereka berbicara di depan para wanita...itu memang sedikit sulit.
Kalo dipikirkan sekarang, aku bahkan merasa malu karena telah salah menilainya hanya dari penampilannya di awal.
Sementara kami berdua mengobrol, matahari benar-benar terbenam dan semua di sekeliling kami mulai menjadi gelap, jadi kami kembali ke payung pantai tempat kami meninggalkan barang-barang kami.
Saat melihat sekeliling, sepertinya semua orang sudah kembali atau sedang merapikan barang bawaan mereka.
Setelah jarak pandang berkurang, laut bisa menjadi berbahaya.
"Apa yang kita lakukan untuk makan malam?"
"Tergantung bagaimana perasaan Koumi... Tapi kita bisa membeli sesuatu yang enak saja dan makan di kamar, bagaimana menurutmu?"
"Ya, kedengarannya bagus."
Karena akomodasi di penginapan itu tanpa makan, maka makan malam tidak termasuk dalam paket.
Pada awalnya kami berencana untuk pergi makan di sekitar sini, tapi dengan kondisi Koumi yang seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukan.
Tiba-tiba, aku menyadari kalo Mizuho mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Itu adalah selembar kain.
Dia membentangkannya dan menatapnya dengan melamun.
─────Eh?
"Itu sapu tanganku."
"─────Eh?"
Wajah Mizuho, saat menoleh ke arahku, benar-benar membeku.
◆GENKI-KKO JD MENEMUKAN TAKDIRNYA◆
[TL\n: Genki-kko (元気っ子) adalah istilah dalam bahasa Jepang yang menggabungkan kata genki (元気), yang berarti 'enerjik' atau 'bersemangat', dan -kko (っ子), yang berarti 'anak' atau 'orang yang'. Jadi, genki-kko merujuk pada anak atau orang yang sangat bersemangat, energik, ceria, dan aktif.]
Hari perjalanan tiba tanpa rasa bersalah yang mengaduk-aduk di dalam diriku menghilang.
Aku berada di pantai bersama Masato dan Koumi, tapi aku sudah tidak tahu dengan wajah seperti apa aku harus berada di samping mereka.
Aku mencoba berakting untuk membiarkan mereka berduaan saja sebisa mungkin, tapi setiap kali aku melakukannya, aku merasa ada sesuatu yang menghimpit dadaku.
Aku ingin dia jatuh cinta padaku.
...Kalo hal ini terus berlanjut dan mereka mengatakannya padaku "Kita akan mulai berpacaran", apa aku akan sanggup tersenyum dan memberi selamat pada mereka?
"Hei, bagaimana menurutmu? Apa kau pikir dia akan bilang kalo aku terlihat imut?"
"...Y-ya, tentu saja! Koumi, kau sangat imut! Pasti dia akan mengatakannya padamu!"
Di ruang ganti.
Setelah berganti ke baju renang kami, kami saling memeriksa satu sama lain sebelum muncul di depan Masato.
Aku tidak berbohong dengan apa yang aku katakan. Koumi memang imut.
Dia punya bentuk tubuh yang bagus dan baju renang itu sangat cocok untuknya.
Aku sudah mengetahuinya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Karena itu...karena itulah ini terasa sangat menyakitkan.
Setelah itu kami pergi ke pantai.
Koumi menerima pujian, dan melihat mereka berdua mengobrol dan berhubungan baik seperti itu...
Aku sudah tidak bisa diam saja.
"Ka-kalo begitu aku duluan! Laut tidak menunggu siapa pun〜!"
"Ah, hei, Mizuho!"
Mengabaikan peringatan Masato, aku berlari menuju laut.
Aku pikir, kalo aku masuk ke dalam air, mungkin perasaan buruk itu akan sedikit memudar.
"Abah!"
Dan tentu saja, dengan suasana hati seperti itu, masuk ke laut hanya bisa berakhir buruk.
Aku kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjun sepenuhnya ke dalam air.
Aku pikir aku akan baik-baik saja, kalo kakiku akan menyentuh dasar, tapi sekeras apa pun aku merentangkan kaki, aku tidak merasakan lantai di mana pun.
Aku telah sampai lebih dalam dari yang aku kira, dan aku tidak berhasil memulihkan kendali atas tubuhku.
Dari awal, semuanya berjalan buruk bagiku.
Ah...apa yang aku lakukan?
Dan tepat pada saat itu...
Sebuah sensasi melayang.
Seseorang memegang kaki dan punggungku, membantuku mengeluarkan wajah dari air.
"Sudah kubilang, kan? Supaya melakukan pemanasan dulu!"
...Ah, kenapa aku selalu berakhir seperti ini?
"Ah...itu...maaf..."
Tubuhku terasa panas.
Tangan yang menahan punggung dan kakiku.
Ditambah fakta kalo aku sedang memakai baju renang, panas dari Masato tersalurkan langsung kepadaku.
Ekspresinya, yang penuh kekhawatiran padaku, juga menjadi alasan untuk mengaduk emosiku.
Dia adalah seseorang yang tidak seharusnya aku cintai.
Aku tahu...aku tahu betul itu, tapi tetap saja...
Dia menurunkanku perlahan-lahan, dengan hati-hati, di atas pasir.
"Apa kau baik-baik saja? Apa kau bisa berdiri?"
"Y-ya, aku baik-baik saja..."
Dengan jantung yang masih berdebar kencang, aku meliriknya.
Masato sedang menyisir rambutnya ke belakang.
Aku suka gaya rambutnya yang biasa, dengan ikal lembut yang memberikan kesan jujur...tapi gerakan yang lebih maskulin itu juga sangat cocok untuknya─────
"Eh...?"
Karena suatu alasan, siluet itu terasa tidak asing bagiku.
Kapan itu terjadi...? Aku tidak bisa mengingatnya.
Tapi aku merasa kalo itu adalah sesuatu yang sangat penting─────
"Hmm? Ada apa, Mizuho?"
"Nnn〜! Tidak ada apa-apa! Terima kasih, Masato!"
Diam mematung dan bahkan tidak bisa mengucapkan terima kasih...kalo begitu tidak akan berhasil.
Aku membuang paksa sensasi aneh yang tertinggal di hatiku itu.
Setelah kembali melakukan latihan pemanasan dengan benar, aku sedang bersenang-senang dengan Koumi menggunakan bola pantai, hanya kami berdua.
Bola yang dilemparkan Koumi setelah kehilangan sedikit keseimbangan melayang jauh di atasku dan langsung menuju ke arah laut.
"Hei, Koumi! Kau buruk sekali〜!"
"Ah, maaf..."
Koumi memiliki koordinasi yang baik.
Aku juga kurang lebih pandai dalam olahraga, tapi dengannya aku merasa tidak akan bisa menang.
Justru karena itu, kalo kami tidak bisa mempertahankan permainan bola belakangan ini terasa aneh.
Apa karena ada Masato, dia menahan diri?
Tempo hari dia mengatakan sesuatu seperti "Aku sedikit berlebihan" saat kami pergi ke pusat latihan memukul bola.
Ketika aku kembali setelah mengambil bola yang terbang ke arah laut...aku melihat Koumi sedang membungkuk di atas pasir.
"Koumi!? Apa yang terjadi padamu!?"
"Maaf...cuma...aku merasa sedikit pusing..."
"Eh!?"
Saat melihat dengan saksama, wajah Koumi merah. Apa terkena sengatan panas? Ini gawat!
Aku segera meminjamkan bahuku kepada Koumi dan kami menuju ke arah payung pantai tempat Masato berada.
Aku menurunkannya di bawah bayangan dan memanggil Masato yang sedang berbaring.
Aku merasa tidak enak membangunkannya, tapi ini keadaan darurat, jadi tidak ada pilihan lain.
Masato terbangun seketika karena khawatir pada Koumi.
Dan segera...dia menggendong Koumi di punggungnya.
"Mizuho, tetaplah di sini dan jaga barang-barang sebentar. Aku akan membawa Koumi ke penginapan agar dia bisa istirahat."
"Y-ya, dimengerti!"
Masato mulai menjauh.
Aku merasakan sakit yang menusuk di hatiku.
Koumi, yang sedang digendong, terlihat bahagia untuk sesaat.
Dan aku berpikir kalo Masato dan Koumi terlihat serasi bersama, sebagai pasangan.
Tentu saja, aku hanyalah pemeran figuran di sini.
Aku datang untuk membantu agar cinta mereka berdua menjadi kenyataan.
Melupakan posisi itu, kenapa aku menjadi begitu emosional?
Sekali lagi, bayangan jatuh menimpa hatiku.
"Nyahaha... mungkin akan lebih baik kalo kalian sudah mulai berpacaran."
Kalo ini akan terus menjadi begitu membingungkan, akan lebih baik kalo mereka berdua mulai berpacaran secepat mungkin.
Dan aku bisa memberi selamat kepada mereka.
Sedikit demi sedikit, menghilang dari kehidupan mereka pastilah yang terbaik.
"Ya, tepat sekali, itulah yang terbaik."
Aku melihat ke arah laut.
Saat mengamati ombak yang perlahan surut, aku merasakan sedikit ketenangan merasukiku.
Ketika Masato kembali setelah membiarkan Koumi beristirahat, aku terkejut.
Aku pikir dia akan tetap tinggal untuk menjaganya.
"Apa Koumi baik-baik saja? Tidak perlu khawatir tentangku, kembalilah segera bersamanya."
"Tidak, tidak apa-apa. Sepertinya itu dia cuma dehidrasi sementara, dan Koumi sudah tenang sekarang. Malah, dia memintaku untuk datang bersenang-senang bersamamu, Mizuho."
"..........!"
Koumi...dia bahkan mengkhawatirkanku. Gadis yang sangat baik.
"Baiklah kalo begitu, aku akan memanfaatkan tawarannya...ayo, Masato!"
Aku memegang lengan Masato.
"Hei, hei, kau tidak akan jatuh lagi seperti tadi, kan?"
"Nyahaha! Dalam keluarga Tonosaki tidak ada yang jatuh dua kali!"
"Apa itu slogan keluarga atau semacamnya?"
Masato sangat cocok untuk Koumi yang manis.
Karena itu, aku akan bersenang-senang di sini, dan setelah itu akan menjadi yang terakhir kalinya.
Semoga Koumi dan Masato segera berpacaran, dan aku akan merayakannya untuk mereka.
Semua bahagia dengan akhir yang bahagia.
Masato dan aku kembali lagi ke tepi laut.
Setelah beberapa saat bermain di air, aku melihat sesuatu yang tampak seperti kedai kaki lima di kejauhan.
"Masato! Di sana ada kedai kaki lima! Ayo kita lihat!"
"Bertindak cepat saat terpikirkan sesuatu, itu adalah salah satu kualitas terbaikmu, Mizuho..."
"Soalnya aku memang tidak memikirkan segala sesuatunya!"
Aku menarik Masato dan kami menuju ke kedai itu.
Di menu yang tergantung di depan toko tertulis takoyaki, yakisoba, es serut, dan hal-hal lainnya.
"Masato, ada es serut! Ayo kita makan!"
"Ya, cuacanya panas, mungkin itu ide yang bagus."
Hanya ada sekitar dua orang di antrean, jadi segera tiba giliran kami.
Di balik meja konter ada seorang Onee-san dengan kulit kecokelatan yang sehat.
"Dua es serut, tolong!"
"Tentu〜 Harganya 1000 yen. Sirup rasa apa?"
"Rasa stroberi!"
"Dan untukmu, pacar-san?"
...Ketika aku menyadari kalo dia merujuk pada Masato, suhu tubuhku tiba-tiba naik.
"Kalo begitu, tolong satu rasa blue hawaiian."
"Tentu〜! Senangnya, punya pacar yang tampan, buat iri saja."
"Eh... Hahaha...!"
Masato menjawab tanpa merasa terganggu.
Aku bertanya-tanya apa dia berpikir kalo aku adalah gangguan.
Atau mungkin dia tidak merasakan apa pun untukku, karena itulah dia begitu tenang... Memikirkan hal itu membuatku sedikit sedih.
Kami menerima es serutnya dan duduk di kursi-kursi yang ada di sekitar sana.
Semenjak kami memesan, kami tidak berbicara, sehingga suasananya terasa sedikit canggung...
"Nyahaha, apa menurutmu saat kita bersama seperti ini, kita terlihat seperti sedang berpacaran?"
"Hmm? Ah, ya, bisa jadi. Maaf, apa itu mengganggumu?"
"Eh!? Tidak, sama sekali tidak menggangguku. Malah aku khawatir kalo aku mungkin mengganggumu, Masato-sama..."
"Kenapa tiba-tiba kau menjadi begitu rendah hati?"
Masato tertawa dan aku merasa lega.
Berbicara dengannya selalu menyenangkan.
Tapi aku merasa sedikit bersalah karena kami dianggap sebagai pasangan, padahal Koumi tidak ada di dekat kami.
"Wow, ini dingin dan sangat lezat! Aku rasa kepalaku akan sakit!"
Masato menggigit es serutnya. Reaksinya sangat menggemaskan...
Ketika dia berada di sampingku seperti ini, itu hampir membuatku berpikir bahwa kami benar-benar sedang berpacaran.
"Ada apa, Mizuho? Makanlah."
"A-ah, ya, tentu. Itadakimasu! Aduh, sakit!"
"Tapi kau merasakan sakitnya terlalu cepat setelah makan."
Untuk sekarang, aku akan menikmatinya.
Lagipula, Koumi sudah bersusah payah menyiapkan waktu ini untuk kami.
"Apa kau ingin mencoba rasa blue hawaiian?"
"Benarkah? Kalo begitu aku rasa aku akan mencobanya. Dan untukmu, Masato-kun, aku berikan yang stroberi ini, karena kau begitu baik."
Kami bertukar es serut tepat saat kami akan makan.
Saat melihat sendok plastik yang tertancap di es serut, aku menyadari kalo kami tidak menukar sendoknya.
Ah, ini buruk, ini akan menjadi ciuman tidak langsung...!
"Oh〜, yang stroberi juga enak, lezat sekali."
Sementara aku ragu, Masato memakan es serut stroberi dengan gembira menggunakan sendok yang telah aku gunakan.
La-laki-laki ini bahkan tidak menyadari apa yang aku rasakan〜!
Aku pun memberanikan diri dan memakan es serut blue hawaiian, mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Bagaimana?"
"...Kau tidak tahu, kan, Masato-kun? Sirup es serut itu cuma berbeda warna, tapi semuanya rasanya sama."
"Eh? Benarkah?"
Aku benar-benar tidak bisa membedakan rasanya dengan jelas.
Kami berjalan bersama di pantai saat matahari terbenam.
Aku berjalan di atas pemecah gelombang yang letaknya sedikit lebih tinggi dari pasir, menjaga keseimbangan dengan lengan terentang.
"Meskipun begitu, Masato, kau sangat keren! Kau menggendong Koumi dalam sekejap!"
"Yah, itu cara yang paling tidak memberatkan baginya."
"Tapi tetap saja! Apa karena itu? Apa itu karena kau bekerja di bar, kau jadi lebih perhatian pada gadis-gadis?"
"Sejujurnya Aku rasa itu tidak ada hubungannya dengan hal itu〜"
Aku mengerti.
Itulah kebaikan sejati yang dimiliki oleh laki-laki bernama Masato.
Dan kebaikan itu...ditujukan kepada gadis bernama Koumi.
Aku melompat ke tanah yang lebih kokoh.
Aku bertanya kepada Masato:
"Hei, Masato."
"Hmm?"
"Kalo aku yang berada di posisi Koumi...apa kau juga akan menggendongku?"
...Saat mengajukan pertanyaan itu, aku bertanya-tanya jawaban apa yang ingin aku dengar.
Aku tahu. Aku tahu kalo Masato yang baik pasti akan menggendongku.
Tapi daripada mengonfirmasi kebenaran itu, aku ingin perhatiannya terfokus padaku.
Aku ingin dia memikirkanku...meskipun hanya sedikit.
Karena aku yakin ini akan menjadi yang terakhir.
"...Tentu saja. Maksudku... kita teman, kan?"
"...Hehehe. Terima kasih."
Aku tidak menunjukkan sama sekali kalo aku terkejut karena dia mengatakan 'teman'.
Teman, kah? Ya, tentu saja.
Untuk Masato aku hanyalah seorang teman...dan itu wajar. Syukurlah.
Dengan ini aku bisa mengubah perasaanku tanpa keraguan atau kebimbangan apa pun.
...Meskipun seharusnya begitu, kenapa hatiku terasa sangat sakit?
Kami kembali ke payung pantai.
Matahari terbenam sudah mulai menghilang di balik cakrawala.
Ketika hari itu tenggelam sepenuhnya, waktu yang tersisa hanya untuk Masato dan aku akan berakhir.
Satu-satunya hal yang aku dapatkan adalah kenyataan kalo Masato cuma menganggapku sebagai teman.
Tapi tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, aku memiliki kenangan yang indah.
Setelah ini, aku yakin kalo aku menemukan orang yang ditakdirkan untukku, perasaan ini akan memudar sedikit demi sedikit.
Aku mencoba mengambil handuk dari tasku...dan aku melihat sapu tangan yang terlipat rapi yang telah diberikan oleh orang yang ditakdirkan itu kepadaku.
Tanpa banyak berpikir, aku mengambilnya dan membentangkannya.
"Ah, kau tidak perlu mengembalikan sapu tangannya padaku. Selamat tinggal!"
Emosi yang aku rasakan saat itu pastilah bukan kebohongan.
Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.
...Meskipun aku sama sekali tidak bisa mengingat wajah orang itu.
Aku yakin ketika aku bisa melihatnya dan dia ternyata sehebat saat itu, aku akan bisa menutup bab ini.
Sementara aku sedang menatap sapu tangan itu dengan melamun, takdir selalu datang tiba-tiba.
"Itu adalah sapu tanganku."
"─────Eh?"
Dengan nada yang benar-benar normal.
Tanpa konteks apa pun.
"Sudah lama aku tidak melihatnya! Itu adalah salah satu yang sering aku gunakan, tapi aku tidak ingat di mana aku menaruhnya."
".........."
─────Ini bohong.
"Ini bohong, kan?"
"Eh? Aku rasa itu bukan bohong... Ya, desain ini tidak terlalu umum..."
Tunggu, tidak mungkin.
Meskipun aku tidak ingin memahaminya, otakku menarik sebuah kesimpulan.
Dan kesimpulan itu adalah...kalo tidak mungkin.
Karena kalo begitu, itu, itu...
"Apa kau baik-baik saja? Ini tentang lensa kontakmu, kan? Yang kita cari bersama."
Itu adalah Masato.
Masato adalah orang yang ditakdirkan untukku.
【Kau tidak buruk rupa. Mizuho-chan, kau itu cantik.】
Bahkan pada saat itu.
【Kau tidak perlu memaksakan diri. Ketika kau merasa tidak enak badan, kau bisa mengatakannya. Aku... meskipun baru beberapa jam mengenalmu, aku tahu kau mencoba untuk bertindak ceria, tapi kau tidak perlu melakukannya saat kau merasa tidak enak badan. Tidak ada orang yang tidak merasa terluka oleh hal seperti itu.】
Bahkan pada saat itu, pada saat yang sama itu.
【Mizuho, tunggu...apa kita bisa bicara sebentar?】
Bahkan hari ini─────
【Sudah kubilang, kan? Supaya melakukan pemanasan dulu!】
─────Semua itu.
Adalah Masato Katasato.
"..........!!"
Aku sedang berlari.
"Mizuho!?"
Aku tidak mengerti apa-apa.
Aku tidak mengerti apa-apa, tidak mengerti apa-apa, tidak mengerti apa-apa!
Orang yang ditakdirkan untukku adalah Masato, sejak awal, sejak saat itu, adalah Masato.
Aku tidak ingin memahaminya. Meskipun aku tidak ingin, aku memahaminya.
Kalo dipikirkan sekarang, semuanya masuk akal.
Kalo dia begitu baik, aku memahaminya lebih baik semakin aku mengenal Masato.
Kalo dia mengenali gaya rambut di siang hari, aku yakin itu dari saat itu.
Orang yang ditakdirkan untukku ada di bar itu. Sejak awal.
Pada saat aku menginjakkan kaki di sana, aku sudah mengenalnya.
"Mizuho!! Tunggu sebentar─────! Waaah!"
"Eh...!?"
Ketika aku menoleh untuk melihat, aku melihat Masato, yang sedang mengejarku, jatuh dari pemecah gelombang ke arah pasir pantai.
※ ■ ■ ■ ※
"Untuk sekarang, tidak ada luka serius atau cedera penting. Kalo kita biarkan dia beristirahat seperti ini, besok dia seharusnya sudah pulih."
"Syu-syukurlah〜..."
Di dalam kamar penginapan.
Aku, yang sempat putus asa saat melihat Masato membenturkan kepalanya, segera menghubungi Koumi, dan dengan bantuan staf penginapan kami membawanya ke kamar.
Setelah itu, dokter yang bertugas di penginapan memeriksanya, dan untuk sekarang aku merasa lebih tenang.
Masato juga terlihat sangat lelah karena semua yang terjadi, jadi sekarang dia cuma sedang tidur.
"Kalo begitu, dengan izin Anda saya pamit."
"Te-terima kasih..."
Dokter itu pergi dan Koumi tinggal sendirian di dalam kamar bersamaku.
"Apa yang terjadi, Mizuho?"
".........."
Aku tidak bisa menjawab apa pun.
Aku tetap menundukkan pandangan, tanpa bisa bergerak.
Karena aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Koumi apa yang telah terjadi.
Aku tidak percaya kalo orang yang ditakdirkan untukku adalah Masato... Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, setelah semua ini...!
"...Hari ini sebaiknya kita beristirahat. Banyak hal yang terjadi. Besok aku akan mendengarkanmu lagi."
"...Ya..."
Sekarang aku cuma bisa membiarkan diriku terbawa oleh kebaikan Koumi.
Malam itu, pada akhirnya, aku tetap berada di kamar Masato sepanjang waktu, memastikan dia baik-baik saja.
Aku sempat berpikir apa yang akan terjadi kalo karena kesalahanku sesuatu yang serius menimpa Masato, tapi untungnya dia terlihat baik-baik saja, dan itu menenangkanku.
Aku bangkit dari posisi seiza dan mendekat ke arah wajahnya.
Dia sedang tertidur lelap.
Orang yang ditakdirkan untukku, begitu baik...begitu luar biasa.
Aku merasakan dadaku berdebar kencang.
─────Aku sudah tidak bisa menghentikannya lagi. Tidak ada cara untuk menghentikan ini.
Keseimbangan halus yang dijaga oleh hatiku hancur dalam sekejap.
Rantai untuk menahan perasaan ini telah putus.
Karena, ya, begitulah adanya.
Sebelum Koumi memperkenalkannya padaku, aku sudah mengenal Masato.
Jadi, ini tidak salah.
Aku tidak salah.
Emosi di dalam diriku bergejolak tanpa kendali, berputar-putar.
Aku tidak perlu lagi menahannya. Mengalah sudah tidak mungkin lagi.
Aku menenangkan napasku yang memburu dan melihat ke arah Masato sekali lagi.
Dadanya naik turun seirama dengan napasnya.
Karena alasan tertentu, itu terlihat sangat sensual.
Emosi yang terlepas ini adalah yang pertama bagiku.
Aku tidak tahu kalo aku bisa kehilangan kendali seperti ini.
Dorongan gelap menguasai diriku.
Aku ingin menyentuh wajah Masato itu, tubuh itu.
Aku mengelus kepalanya.
Aku merasakan gairah yang tidak terkendali, sebuah sensasi yang manis dan memabukkan.
Aku mengelus pipinya.
Panas yang terpancar dari kulitnya yang lembut dan halus membuatku menelan ludah tanpa kusadari.
Sekarang, bukankah tidak apa-apa melakukan apa pun yang aku mau?
Aku sudah menumpuk begitu banyak kesabaran.
Setidaknya hari ini, kalo aku menikmati sedikit saja, tidak akan ada yang...marah. Tidak akan ada yang mencelaku.
Tuhan takdir memberiku momen ini.
Aku kembali menatap wajah Masato yang tanpa cela.
Seolah tertarik, mataku tertuju pada bibirnya.
Ciuman...aku ingin melakukannya saat dia sadar.
Karena aku ingin yang pertama menjadi sesuatu yang benar-benar istimewa.
Sambil memperhatikannya dengan saksama, pandanganku tertuju pada lehernya.
Apa karena jatuh tadi siang? Ada tanda merah di sana.
Sebuah luka di tubuh Masato yang indah.
Rasa merinding menjalar di punggungku.
Itu adalah keinginan yang lahir di dalam diriku.
Keinginan untuk menutupi luka itu dengan eksistensi yang disebut 'Mizuho Tonosaki'.
Aku tidak bisa berhenti.
Jantungku berdetak kuat, dengan keras, dengan keras.
Aku ingin meninggalkan bukti di leher yang indah ini kalo akulah orang yang ditakdirkan untuknya.
Dalam. Kuat. Aku ingin mengukirnya.
Eksistensi diriku.
Supaya tidak ada orang lain yang mengambilnya.
Aku mendekat. Ke lehernya.
Aku mencoba menempelkan bibirku.
Doki, doki. Aku mendengar detak jantungku sendiri.
Sudah dekat, tepat di sana ada leher Masato.
Di sini aku akan meninggalkan tandaku, tanda dari Mizuho Tonosaki.
Sekarang, tidak ada siapa pun─────
"Apa─────yang sedang kau lakukan?"
─────Pishi.
Terdengar suara retakan yang pecah pada sesuatu.
Sebelumnya Daftar isi Selanjutnya


