> CHAPTER 1

CHAPTER 1

Kau saat ini sedang membaca    Danjo Hi 1 : 5 No Sekai De Mo Futsu Ni Ikirareru to Omotta? Geki E Kanjona Kanojo Tachi Ga Mujikaku Danshi Ni Honro Saretara   volume 3 chapter 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw

 

AGAR BISA BERADA DI SAMPINGMU

   

 ◆PEGAWAI KANTOR TSUNDERE ITU TENGGELAM DALAM KEPUTUSASAAN◆ 


Mungkinkah kalo aku bisa tersenyum...seperti diriku yang sangat aku kagumi saat itu?


"...Eh... itu..."


Masato menundukkan pandangan dan mengalihkan kata-katanya.


Sikapnya itu, setiap gerakannya, tampak sangat manis bagiku.


Aku tidak bisa menahannya lagi.


Aku teringat adegan di depan bar itu, saat dia bersama gadis itu.


Aku melihat ekspresi pada Masato yang tidak pernah dia tunjukkan saat bersamaku.


─────Perasaan gelap, kental, yang tidak mungkin bisa dijelaskan, mulai meluap dari wadah bernama 'aku' ini, tidak lagi mampu menahannya.


Aku tidak bisa menunggu sedetik pun lagi.


Sejak awal, sudah jelas kalo para wanita di dunia ini tidak akan melewatkan laki-laki sebaik dia.


Karena itu, hari ini aku akan mengakhirinya.


Aku akan mengukir eksistensiku di dalam diri Masato dengan jelas. 


Supaya dia tidak akan pernah bisa melupakanku.


Aku tahu benar kalo Masato lemah terhadap tekanan.


Cuma dengan satu dorongan kecil lagi, laki-laki ini akan jatuh tepat ke arahku.


Cuma dengan membayangkan menguasai Masato─────tubuhku terasa panas tanpa kendali.


Perasaan gelap di dalam diriku menuntut untuk memiliki tubuhnya sekarang juga, tanpa menunda.


Tanganku sudah terulur ke arahnya, tidak mampu menunggu lagi.


"Maaf..."


..........?


Aku butuh beberapa detik untuk memahaminya.


Kenapa dia meminta maaf tepat di saat seperti ini?


"Soalnya... itu tidak bisa aku lakukan. Lagipula, aku tidak minum..."


Ah...aku mengerti.


Apa cuma karena itu? Kalo begitu, sama sekali tidak ada masalah.


"Tidak apa-apa. Biarpun kau tidak bisa minum. Aku tidak pernah peduli dengan hal semacam itu. Cuma dengan bisa bersamamu, Masato, aku sudah─────"


"Maaf!"


Masato menyingkirkan tangan yang telah aku letakkan di pinggangnya.


Dia juga melepaskan tangan kananku, yang tadi saling bertautan dengan tangannya, dan mengembalikannya dengan lembut ke atas lututku.


Lalu dia menjauh hingga ada jarak yang cukup untuk satu orang di antara kami berdua.


...Eh?


"Maaf, soalnya... hari ini, Seira-san sedikit menakutiku."


─────Itu adalah penolakan yang jelas.


Masato tidak menatap mataku.


Dan sikapnya─────terlihay seolah dia takut padaku.


Aku merasakan jantungku mendingin seketika.


Rasanya seperti disiram seember air es di atas kepala.


"─────Maaf. Sepertinya aku sedikit berlebihan dengan alkoholnya. Aku ke toilet dulu, ya?"


Untuk sekejap, suaraku tidak keluar.


Aku bangkit dengan cepat dan menuju ke toilet.


Keriuhan di dalam bar, musik latar...aku tidak lagi mendengar apa pun.


Sesampainya di toilet, aku mengunci pintu dengan rapat.


Rasa panas yang hingga saat tadi membakar tubuhku menghilang seketika, dan sebagai gantinya, muncul sesuatu yang lain.


"Uogh... gu.... Tsu...!"


Aku memuntahkannya dengan sekuat tenaga.


Emosi berputar-putar di dalam perutku.


Kenapa?


Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Kenapa dia menjauh dariku?


"Maaf..."


Aku teringat mata Masato.


Mata itu menolak.


Mata itu menolak keberadaanku sepenuhnya.


"Khah... cof... ueh..."


Aku tidak bisa berhenti merasa mual.


Karena kenyataan kalo orang yang aku cintai menolakku.


Karena diriku yang berpura-pura ingin dicintai olehnya.


Dan lebih dari segalanya...


Karena sempat membenci, walau cuma sesaat, orang yang aku cintai. 


Karena menjadi begitu rendah dan hina.


Tubuh dan hatiku yang membeku membuatku melihat diriku sendiri dengan kejernihan yang begitu mentah...hingga rasanya ingin tertawa.


"Hahaha...aku lebih buruk dari sampah."


Betapa malangnya. Terlalu malang.


Kata-kata teman-temanku memang benar.


Masato cuma bersikap baik padaku karena aku adalah seorang pelanggan. 


Aku terbawa suasana oleh kebaikan sesaat itu, yang begitu nyata sekaligus palsu.


Aku berhalusinasi percaya kalo aku bisa dicintai.


Betapa konyolnya. Aku merasa muak pada diriku sendiri.


Aku yakin aku sudah memikirkannya lebih dari sekali. 


Kalo orang sepertiku tidak pantas untuk Masato.


Meski begitu, aku bertahan, aku merendahkan diri, aku merangkak.


Dan hari ini, aku menunjukkan sisi terendahku sebagai seorang wanita, tepat di depan Masato.


"Haha..."


Tawa kering keluar dariku.


Aku tidak punya harapan lagi, kan? Wanita ini tidak.


Aku sampai pada sebuah kesimpulan.


Sudah cukup.


Wanita yang begitu kasar dan menyedihkan tidak punya nilai apa pun untuk berhubungan dengan Masato.


Kalo aku adalah teman sekelas Masato, aku akan menggunakan cara apa pun untuk menjauhkan wanita seperti ini.


Dia begitu beracun, begitu menjijikkan.


Karena itu, sudah waktunya untuk berakhir.


Sejak awal, ini seperti sebuah mimpi. 


Selama beberapa bulan terakhir ini.


Aku akan berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Masato itu baik, jadi aku pikir, kalo aku terus datang ke sini, dia akan tetap melayaniku.


Tapi kalo aku melakukan itu, diriku yang menyedihkan ini akan kembali merasa penting.


Karena itu, selamat tinggal.


Itulah yang terbaik. Juga demi Masato.


Aku akan melupakannya. Aku akan menyerah.


Aku tidak ingin apa-apa lagi dari Masato─────


"Maaf sudah membuatmu menunggu. Aku senang kau sudah kembali."


"Tidak apa-apa, Seira-san. Aku tahu kau orang yang baik."


"Seira-san, tapi... aku suka mendengarkan apa yang ingin kau ceritakan, seperti biasanya."


Dari pipiku mulai jatuh tetesan besar dari sesuatu.


"Tidak... aku tidak mau... Masato... Masato...!"


Setelah mengeluarkan semua kegelapan perasaan itu, mungkinkah emosi yang keluar dari mataku ini, setidaknya sedikit, menjadi sesuatu yang indah?


Aku meminta maaf kepada Masato, membayar uangnya dan keluar dari tempat itu.


Masato, yang kebingungan, mencoba menghentikanku, tapi aku tidak peduli.


Mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi.


Karena aku sudah menangis hingga mataku bengkak, wajahku sangat kotor.


Yah, mungkin itu yang pantas aku dapatkan dalam kondisiku saat ini.


Aku berjalan tanpa arah menyusuri kota dan, tanpa kusadari, akhirnya sampai di sebuah taman di sisi lain stasiun.


Di jalan taman yang gelap, hanya lampu jalan yang menerangi.


"...Pada akhirnya, aku cuma kembali ke masa itu."


Beberapa bulan terakhir ini cuma sebuah mimpi.


Mulai sekarang, hanya akan kembali ke kehidupan tanpa warna.


─────Ah, apa yang harus aku katakan pada Miki-san?


Apa aku harus mengakui pada teman-temanku kalo mereka benar?


Semuanya konyol.


Berpikir bahkan kalo aku bisa bahagia.


Berpikir kalo aku bisa dicintai.


Aku tidak akan dicintai. Wanita sepertiku tidak.


Penuh dengan rasa iri yang buruk, sombong karena cuma seorang pelanggan.


Aku tidak punya alasan untuk dicintai.


Dengan tatapan kosong, aku melihat folder foto di Hp.


Foto-foto nostalgia dari masa-masa sekolahku.


Aku teringat hari-hari di mana aku percaya kalo suatu hari nanti akan muncul seseorang yang luar biasa dan aku berusaha keras.


Aku tertawa tanpa sengaja.


"Bodohnya."


Siapa yang tidak akan menertawakan hal ini?


Inilah akhirnya. Akhir dari seorang wanita yang malangnya mendambakan sebuah dongeng.


Aku kembali ke layar sebelumnya dan membuka media sosial.


Di bagian atas kontak, ada satu nama yang disematkan.


'Masato'.


...Meskipun aku memilikinya, tidak ada gunanya.


Aku akan memblokirnya. Dengan begitu Masato tidak akan lagi menderita kerugian karena salahku.


Aku menyentuh layar dan sampai pada pilihan untuk memblokirnya.


Di layar muncul pesan sistem 'Apa Anda ingin memblokir kontak ini?'


Ya. Ini adalah solusi terbaik.


Selama Masato bahagia, itu sudah cukup.


─────Tapi.


Kenapa tanganku gemetar?


"Aku menyedihkan..."


Di suatu sudut hatiku, aku masih belum menyerah.


Aku adalah wanita yang benar-benar bodoh dan menyedihkan.


Pada akhirnya, tanpa alasan apa pun, aku tetap terpaku di sana untuk beberapa saat.


◆GADIS SASTRA SMA MENERIMA KONSULTASI◆ 


Sabtu pagi.


Dengan susah payah, aku berhasil membangunkan kepalaku yang masih meminta tidur lebih lama dan mengambil Hp-ku.


Karena aku sampai di rumah setelah tanggal berganti gara-gara kerja paruh waktu, sekarang sudah jam 10:00 pagi.


"Ini hari memberikan les privat..."


Hari Sabtu adalah waktunya pergi ke rumah Shiori-chan untuk memberikan les privat. 



Karena itulah aku harus bersiap-siap, tapi...aku tidak bisa bersemangat.


Apa yang berputar di kepalaku adalah kejadian kemarin.


"Maaf, soalnya...hari ini, Seira-san sedikit menakutiku."


Setelah mengatakan itu, wajah Seira-san, ketika kembali dari toilet, terlihat benar-benar lelah.


Ketika dia membayar dan pergi, aku mencoba mengikutinya. 


Aku merasa membiarkannya sendiri itu tidak benar.


Tapi Aika-san, yang ada di bar, tidak membiarkanku. 


Dia memegang tanganku saat aku hendak keluar dan dengan ekspresi serius berkata padaku...


"Di luar bar, kau tidak bisa melindungi apa yang harus kau lindungi."


Ketika dia mengatakan itu padaku, aku tidak bisa melakukan apa-apa.


Aku pulang pekerjaan dan kembali ke apartemen di bawah hujan.


Sambil mandi, aku terus berpikir apa yang seharusnya aku lakukan.


Sebenarnya aku merasa sedikit takut pada Seira-san saat itu. Mungkin lebih baik kalo hal-hal tidak berlanjut seperti apa adanya.


Aku tahu dia punya rasa sayang tertentu padaku. 


Kalo dia tidak menyukaiku, dia tidak akan menghabiskan begitu banyak uang atau datang setiap minggu...


Dan masalahnya adalah aku juga punya kesan yang baik terhadap Seira-san.


Karena dia orang yang baik, ketika mabuk dia menjadi bersemangat dan menyenangkan, dan lagi dia sangat cantik... Orang seperti itu yang tertarik padaku, jelas membuatku bahagia. 


Kalo bisa, aku ingin berhubungan baik dengannya.


Karena itu...aku tidak bisa melupakan wajah pucat yang dimiliki Seira-san saat keluar dari bar kemarin.


Aku pergi ke wastafel dan membasuh wajahku. 


Aku memberikan kekuatan lebih dari biasanya pada air yang mengenai pipiku.


Aku menyeka wajahku dengan handuk dan melihat ke cermin di depanku.


"Apa yang seharusnya aku lakukan...?"


Meskipun membasuh wajah menyegarkan kepalaku, ganjalan di dada ini tidak kunjung hilang.


※ ■ ■ ■ ※


Selamat siang semuanya, hari ini pun aku menghabiskan waktu yang luar biasa seperti biasanya, aku Shiori Shinomiya.


"Anu...kalo begitu di sini aku pakai rumus ini, kan?"


".........."


"Masato-san?"


"Eh?...ah, ya, ya, tepat di situ rumus itu digunakan..."


Tangan Masato-sama terulur ke arah buku catatan yang terbuka di atas mejaku. 


Meskipun lengannya gesit, lengan itu juga memancarkan kejantanan yang kokoh, dan aku sangat menyukai hal itu.


Masato-sama terlihat tampan seperti biasanya, tapi hari ini raut wajahnya tampak kurang baik.


Bahkan saat memberiku pelajaran, dia tampak melamun... Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi sejak dia mulai menjadi tutorku. 


Aku sudah mulai merasa sedikit khawatir ketika tiba-tiba...aku mendapat inspirasi jenius.


Bukankah ini sebuah kesempatan!?


Kalo aku mengkhawatirkan Masato-sama dan berhasil mendengarkan masalahnya, aku pasti akan naik daun di matanya...!


Sambil mengerjakan latihan soal di buku teks dengan saksama, aku memikirkan cara untuk mendekati Masato-sama. 


Yang terbaik adalah menunjukkan kelembutan dan perhatian khas seorang Yamato Nadeshiko sejati. 


Bagaimanapun, aku harus melewati momen ini dengan sukses!


Tapi, mengangkat topik itu saat dia sedang memberiku pelajaran bisa memberikan kesan buruk...jadi aku akan mencoba membicarakannya setelah kami menyelesaikan satu bagian.


Memikirkan hal itu, aku memutuskan untuk berkonsentrasi pada pelajaran untuk saat ini.


Setelah sekitar satu jam pelajaran...


"Baiklah, kalo begitu, ayo kita istirahat sejenak."


"Ya, terima kasih banyak."


Aku cukup berkonsentrasi. 


Tentu saja itu juga karena Masato-sama mengajar dengan sangat baik.


Sambil aku meregangkan tubuh, Masato-sama meminum seteguk teh gandum yang ada di atas meja di belakangnya, dan kembali menunjukkan wajah cemas, memikirkan sesuatu.


Sip...inilah saatnya!


"Masato-san?"


"Hmm? Ada apa?"


"Tidak, soalnya hari ini sepertinya pikiranmu sering melayang ke tempat lain... Apa terjadi sesuatu?"


Oh, akting itu lumayan bagus sebagai gadis yang murni dan lembut, kan?!


Semenjak aku membantu Masato-sama keluar dari situasi waktu itu, aku menjadi buruk dalam berpura-pura menjadi gadis cantik yang murni, tapi aku merasa ini tidak buruk.


"Ah, anu...tidak terjadi apa-apa, kok."


Masato-sama menjawab dengan senyum yang sedikit dipaksakan. 


Meski begitu, terlihat kalo senyum itu tidak muncul secara alami, bahkan aku, yang terkadang lambat menangkap sesuatu, menyadarinya.


Mungkin itu sesuatu yang tidak ingin dia bahas... Akan mudah untuk menyerah di sini, tapi bagaimanapun aku ingin mencari tahu sedikit lebih dalam.


Tentu saja, aku juga ingin naik daun di matanya, tapi sejujurnya aku merasa sedikit khawatir.


"Kalo begitu, aku senang... Tapi hari ini di kelas kau terlihat sedikit melamun."


"Ugh...ketika kau mengatakan itu padaku, aku merasa lemah... Maaf, hal ini terjadi justru saat aku sedang bekerja."


"Tidak, tidak, aku tidak bermaksud menegurmu...! Kalo terjadi sesuatu, setidaknya aku bisa mendengarkanmu, kan? Kalo memang kau merasa tidak keberatan bercerita padaku."


Kenapa denganmu? Apa kau ingin bercerita padaku?


Tentu saja, kalo aku bertanya begitu saja itu akan tidak sopan, jadi aku mempertahankan sikap murni dan lembut itu. 


Aku merasa senyumku terlihat sangat alami!


"Hmm...ayo kita lihat... aku bertanya-tanya apa tidak apa-apa membicarakan hal seperti ini..."


Masato-sama bergumam pelan, seolah dia masih ragu.


Ayo, ceritakan padaku tanpa ragu... Saat ini aku bersedia mendengarkanmu dengan hati penuh kasih dari seorang heroin suci di game otome kesayanganku. 


Aku siap menerimamu dengan kasih sayang dan pengertian.


Akhirnya, seolah-olah dia telah membulatkan tekad, Masato-sama berbicara dengan ekspresi yang agak cemas.


"Eh...begini...ini cerita tentang seorang teman, ya?"


Aha, dia pasti sedang membicarakan dirinya sendiri. Aku tahu benar pola ini.


"Teman ini bekerja di sebuah kafe dan sepertinya ada seorang pelanggan wanita yang sering datang. Tapi pelanggan itu cukup...blak-blakan. Secara umum, temanku tidak merasa terganggu oleh orang itu, bahkan dia menyukainya, tapi rasanya dia menjadi terlalu dekat, dan temanku menolaknya."


Hmm, Masato-sama juga bekerja di kafe...? 


Aku ingin melihatnya...kalo dia memakai seragam, aku sangat percaya diri kalo aku akan langsung pingsan saat itu juga.


"Mungkin, fakta kalo dia menolaknya itu tidak salah, mengingat itu adalah tempat kerjanya. Tapi dia juga tidak membenci orang itu, jadi sekarang dia bingung tentang bagaimana dia harus memperlakukannya mulai sekarang...atau begitulah yang dia katakan padaku. Bagaimana menurutmu, Shiori-chan?"


"Begitu ya. Hmm..."


Hmm, hmm. Untuk seseorang di level Masato-sama, tentu saja akan ada satu atau dua gadis yang mendekatinya.


Masalahnya adalah apa yang harus dilakukan mengenai hal itu...


Secara pribadi, aku merasa ingin mengatakan "Biarkan saja dia sendiri!"


Tapi aku tidak berpikir itu adalah jawaban yang terbaik. 


Dan sepertinya Masato-sama tidak akan senang kalo aku mengatakan itu padanya.


Lalu, apa yang harus aku jawab...?


Inilah saatnya menggunakan keterampilan yang aku asah lewat game romansa!


"Ini tema yang rumit...tapi pada akhirnya, bukankah yang terpenting adalah apa yang dirasakan temanmu itu?"


"Perasaannya, kah?"


Itu adalah jawaban yang agak netral, memang, tapi mempertimbangkan kepribadian Masato-sama, pilihan ini adalah yang paling aman, kan?


"Kalo temanmu tidak membenci pelanggan itu, maka mungkin yang terbaik adalah mengatakannya dengan jujur. Tentu saja, akan bagus juga untuk memintanya menjaga jarak yang sesuai mulai sekarang."


"Begitu ya... Kau benar."


Oh!? Apa ini pertanda baik?


"Terima kasih! Aku senang sudah berbicara denganmu, Shiori-chan."


Senyum Masato-sama terpancar di wajahnya, sekarang tampak sedikit lebih lega.


Aaah, senyum itu terlalu lembut untuk mata ini... Pastinya senyum itu bahkan bisa berfungsi sebagai suplemen nutrisi dan energi.


"Kalo begitu, ayo kita lanjutkan pelajarannya?"


"Benar. Terima kasih sebelumnya karena terus membimbingku."


Bagus sekali! Bukankah ini kesempatan besar untuk menaikkan poin afinitas?


Dengan semangat yang membubung tinggi, aku kembali ke mejaku seperti biasanya untuk melanjutkan pelajaran...


...Hmm? Tunggu sebentar. Sebentar... Kalo cerita itu sebenarnya tentang Masato-sama...


Bukankah aku baru saja mendukung hubungan Masato-sama dengan wanita lain!?


◆MEMIKIRKAN WANITA KANTORAN TSUNDERE◆  


Setelah selesai menjadi tutor privat, aku sedang dalam perjalanan pulang.


Sambil naik kereta, aku teringat apa yang dikatakan Shiori-chan padaku. 


"Tapi pada akhirnya, bukankah yang terpenting adalah apa yang dirasakan temanmu itu?"


Sebuah jawaban netral, cukup umum. 


Tapi, meski begitu, aku merasa entah bagaimana itu sangat tepat sasaran. 


Tanpa terlalu banyak berpikir, yang utama adalah apa yang diri sendiri rasakan.


Hal itu sudah aku pahami, tapi...tetap saja, saat itu, perasaan 'takut' yang aku rasakan terhadap Seira-san juga, tanpa ragu, adalah sesuatu yang benar-benar aku rasakan.


Justru karena itulah, itu bukan sesuatu yang bisa aku selesaikan dengan mudah.


Aku sampai di stasiun, dan meskipun aku bisa saja langsung pulang ke rumah, aku memutuskan untuk menuju ke bar tempat aku bekerja paruh waktu.


"Selamat dat...ah, ternyata kau, Masato. Hei, hari ini kau tidak ada shift kerja, kan?"


"Terima kasih atas kerja kerasnya. Tidak, hari ini aku tidak ada shift...ah, apa Yusuke-san sedang melayani pelanggan?"


"Ah, barusan dia sedang mengantar pelanggan pulang, pasti dia ada di bagian belakang."


Yusuke-san adalah Senpai yang mengajariku banyak hal ketika aku mulai bekerja di sini.


Dia sudah bertahun-tahun di bar ini, dan meskipun masih muda, di dalam industri ini dia sudah bisa dianggap veteran.


Yah, terkadang dia terlihat benar-benar kelelahan, jadi pastinya dia punya cukup banyak pengalaman...baik yang bagus maupun yang buruk.


Hari ini aku tidak ada giliran kerja, tapi meski begitu aku datang ke tempat kerja paruh waktuku. 


Alasannya adalah karena aku ingin berkonsultasi tentang sesuatu dengan Yusuke-san. 


Di dunia ini, banyak laki-laki yang memiliki nilai-nilai yang sedikit menyimpang. 


Di antara mereka, Yusuke-san adalah salah satu dari sedikit orang yang cara berpikirnya cukup mirip denganku.


Aku ingin bertanya padanya apa yang akan dia lakukan, sebagai seorang Senpai yang bekerja di bar dan juga berhubungan baik dengan para gadis.


Kemarin, ketika aku melihat jadwal giliran kerja, aku tahu kalo hari ini Yusuke-san akan ada di bar. 


Jadi aku berpikir untuk meminta saran padanya.


Ketika aku masuk ke ruang istirahat di bagian belakang, Yusuke-san sedang duduk di kursi, mengoperasikan Hp-nya.


"Selamat sore!"


"Eh? Masato? Hari ini Sabtu, kan?"


"Ya, tapi... apa kau punya waktu sebentar?"


"Tentu. Apa kau keberatan kalo aku merokok sambil kita bicara?"


"Tidak masalah!"


Aku mengikutinya saat dia berjalan menuju pintu belakang.


Sambil berjalan, aku menceritakan pada Yusuke-san bagaimana situasinya. 


Karena dia juga mengenal Seira-san, tidak perlu memberikan banyak detail agar dia memahami situasinya.


"Dan begitulah...begitulah keadaannya... Aku berpikir apa yang akan kau lakukan di posisiku, Yusuke-san."


"Begitu ya..."


Sambil kami bicara, kami sudah sampai di pintu belakang, dan Yusuke-san menyalakan rokok. 


Karena di bar ini tidak ada area merokok, ruang di samping pintu belakang ini berfungsi sebagai area darurat. 


Sebuah asbak sederhana diletakkan sendirian di atas pagar.


"Mungkin, kalo aku harus mengatakan hal yang benar padamu, yang ideal adalah kau mundur di sini dan sekarang juga."


"Apa kau juga berpikir begitu...?"


"Aku juga pernah melihatnya, dan dia cukup terpikat padamu, Masato. Kalo hal ini memburuk, akan menjadi kacau...begitulah kata intuisiku selama bertahun-tahun."


"Intuisimu sedikit menakutkan..."


Beberapa waktu lalu, ketika dia datang bekerja dengan memar di wajahnya, sejujurnya aku terkejut. 


Yusuke-san tertawa sambil berkata "Hahaha".


"Tapi karena aku orangnya agak tidak bertanggung jawab, mungkin aku akan mengatakan sesuatu yang bukan hal yang benar padamu... Apa itu tidak apa-apa?"


"Ya. Justru aku datang untuk berbicara denganmu karena semua itu juga."


Aku tahu kalo, kalo seseorang melihatnya hanya sebagai dikotomi antara yang benar dan yang salah, mungkin apa yang aku inginkan bukanlah hal yang benar. 


Tapi, meski begitu, aku ingin mendengar pendapat yang keluar dari kerangka itu.


"Aku pikir pertama-tama aku akan mengatakannya dengan sangat jelas padanya kalo bukannya aku ingin menolaknya, tahu? Dan tentang hal itu, aku akan mencoba agar dia mau datang kembali ke bar."


"Mengatakannya padanya?"


"Ya. Mungkin baginya itu adalah pukulan telak. Dari host favoritnya, bum! Menjauh, kan? Pasti dia berpikir sesuatu seperti 'Aku tidak bisa pergi ke bar lagi!' Karena itulah penting untuk mengatakan padanya kalo tidak seperti itu, kau cuma sedikit terkejut saja."


Setelah mengatakan itu, Yusuke-san menghembuskan asap ke langit malam.


"Pada akhirnya, itulah hal yang indah, kan? Ketika seseorang mengatakannya padamu 'Aku menyukaimu! Kau favoritku!' Supaya seseorang memintamu, dia harus menyukaimu. Aku juga memasang batasan sejak awal, tapi meskipun cuma sedikit, seseorang tidak bisa membenci orang yang benar-benar memikirkan hal baik tentangmu."


"Ya, itu benar."


Tepat sekali. Seseorang tidak bisa membenci orang seperti itu... dan kalo bisa, kau bahkan ingin berhubungan baik dengan orang tersebut.


"Karena itu, harus dikatakan dengan baik. Seperti, 'Jangan lakukan apa pun lebih dari itu di bar, oke?' Kalo kau mengatakannya sedikit saja, dia akan merasa lebih tenang."


"Begitu ya."


"Kalo kau melakukan itu, orang tersebut akan berhenti mendesak lebih dari batasnya dan kau Masato tidak perlu mengalami saat-saat buruk. Ada orang yang tetap saja mendesak, tapi dalam kasus seperti itu tidak ada pilihan lain selain menyerah dan menjaga jarak. Kalo kau mengatakannya pada Aika-san, dia bisa melarangnya masuk dengan cepat."


"Aku tidak ingin hal itu terjadi."


Tiba-tiba, aku memikirkannya baik-baik. 


Sekarang setelah dia mengatakannya padaku, memang benar kalo aku tidak pernah menyampaikan hal itu dengan baik kepada Seira-san. 


Itu mungkin kesalahanku.


"Yah, kalo kau memikirkannya secara normal, menjaga jarak tertentu adalah hal yang logis, jadi itu bukan salahmu, Masato."


"...Apa itu terlihat di wajahku?"


"Ya, sangat terlihat."


Yusuke-san tertawa terbahak-bahak, lalu membuang rokok yang sudah padam ke asbak dan, tiba-tiba, dia mengacak-acak rambutku.


"Aku selalu memikirkannya, Masato. Kau itu terlalu serius! Gadis yang terpikat padamu itu cantik, kenapa kau tidak tidur dengannya sekali saja?"


"Maaf?"


Apa orang ini baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa entah dari mana!?


"Hahaha, itu tadi reaksi yang sangat polos, ya? Sebenarnya, itu tidak seburuk itu."


"Sulit sekali menjawab hal itu!"


Tepat saat aku berpikir kalo mungkin aku salah memilih orang untuk mendengarkan...


"Yusuke, apa yang kau masukkan ke dalam kepala Masato?"


"Eh!?"


Saat menoleh, aku melihat Aika-san berdiri di sana, dengan vaper di tangan dan tanpa sedikit pun senyum di matanya.


"Ah〜, yah, aku sudah selesai merokok, jadi aku mau menelepon di luar! Baiklah, Masato, itu saja! Apa kau tidak merasa kalo sudah waktunya kau sedikit bersantai?"


Setelah mengatakan itu, Yusuke-san berlari pergi seolah mencoba melarikan diri dari Aika-san.


"Kau keterlaluan, tahu? ...Serius..."


"Hahaha..."


Memang benar kalo Yusuke-san, dengan kepribadian seperti itu, sering terlibat masalah, tapi orang-orang di sekitarnya hampir selalu tersenyum. 


Sepertinya dia tipe orang yang tidak bisa dibenci.


"Jadi, apa yang kau ceritakan pada Yusuke itu tentang pelanggan tetap itu?"


"Ehh...ya, kurang lebih begitu."


Aika-san menyalakan vaper-nya dan mulai berbicara dengan ekspresi yang tidak begitu baik.


Dia menghela napas panjang.


"Aku ingin kau hidup sehat dan aman. Jadi, kalo dengan begitu orang itu berhenti datang, sejujurnya, bagiku itu hal yang bagus."


Aika-san bergumam sambil menatap mataku langsung.


"Masato, kau pasti tidak ingin hal ini terus berlanjut, kan?"


"Eh...ya."


Aku bisa merasakan dengan jelas kalo Aika-san mengkhawatirkanku. 


Meski begitu, aku tidak ingin memilih opsi untuk membiarkan hal-hal tetap seperti apa adanya.


"Bukannya aku ingin bersikap sok melindungi atau semacamnya, dan mungkin di universitas kau akan baik-baik saja dengan para gadis, jadi mungkin itu tidak terlalu penting. Tapi aku tidak ingin karena masalah bar ini terjadi sesuatu yang buruk padamu."


"...Ya."


"Masato, waktu itu kau merasa takut, kan? Aku pikir laki-laki normal mana pun akan berpikir kalo dia tidak ingin berhubungan lagi dengan hal itu."


...Pastinya itu hal yang normal. Tapi...


"Memang benar kalo waktu itu aku merasa takut. Tapi...bagaimana mengatakannya...bukan cuma itu saja."


Dalam pikiranku, kenangan bersama Seira-san muncul kembali.


Awalnya dia tampak serius dan kaku, tapi kemudian mulai berbicara dengan gembira, dan hal itu sangat membuatku senang.


Meskipun sangat jelas, usahanya untuk bersikeras kalo dia tidak menyukaiku juga sangat manis.


Ketika kami pergi makan bersama, dia tampak seolah-olah itu pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang mengawalnya, dan sejujurnya itu membuatku senang.


Ketika dia minum, dia menjadi lebih intens, tapi itu juga seperti seorang anak kecil yang mengatakan keinginan manja yang biasanya tidak bisa dia ungkapkan, dan hal itu membuatnya manis.


Karena aku tahu kalo dia memiliki pengalaman pahit di masa lalu, Seira-san, dengan hati yang begitu baik itu...adalah seseorang yang benar-benar aku ingin dia menjadi bahagia.


"Aku tidak mungkin bisa membencinya cuma karena itu."


Mendengar kata-kata itu, Aika-san mengembuskan uap dari vaper-nya dengan tenang.


"Apa jangan-jangan kau merasa kasihan padanya? Kasihan yang setengah-setengah cuma akan berakhir menyakiti orang lain lebih dalam lagi."


"Aku tidak bisa mengatakan kalo aku tidak merasakan rasa kasihan sama sekali. Tapi...aku bisa menegaskan kalo bukan cuma itu saja."


Aku sedikit terkejut pada diriku sendiri karena kata-kata itu keluar dengan begitu mudah.


"Kalo kau bicara seperti itu, maka aku tidak akan bicara lagi. Sejujurnya, demi penjualan bar, lebih menguntungkan bagi kami kalo gadis itu ada di sini. Tapi..."


Terdengar ketukan dari hak sepatu Aika-san. 


Satu langkah, dan jarak antara dia dan aku memendek.


"Pikirkan baik-baik tentang ini. Kau harus paham kalo cahaya yang kau pancarkan jauh lebih menyilaukan bagi para wanita daripada yang kau bayangkan."


Dengan satu sentuhan di kepala, Aika-san mengelusku. 


Kebaikannya meresap dalam ke hatiku.


"Tidak apa-apa kalo kau mengambil keputusan yang salah. Tapi kalo kau merasa ada yang tidak beres, beri tahu aku dengan cepat. Aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untuk membantumu."


"...Sungguh terima kasih banyak."


Aku sudah tidak bisa lagi membalas orang ini, benar-benar aku tidak bisa membayar kebaikan yang telah dia berikan padaku. 


Ketika aku mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mulai menghasilkan uang, aku harus membalas budinya.


"Apa yang dilakukan gadis itu bukanlah sesuatu yang bisa dipuji...tapi sebagai seorang wanita, aku bisa sedikit mengerti bagaimana perasaannya. Kalo aku sepuluh tahun lebih muda, mungkin aku akan melakukan kesalahan yang sama."


"...Aku tidak bisa membayangkannya."


"Aku juga pernah muda pada masanya...yah, lebih baik aku tidak lanjut, cara bicara ini terdengar seperti ibu-ibu."


Mengatakan itu, Aika-san kembali ke dalam bar.


Kalo Aika-san, yang tertawa kecil, bisa dengan mudah dianggap sebagai seseorang berusia 20-an tahun, itu sangat mengesankan.


"...Baiklah."


Aku masih belum memahami sepenuhnya bagaimana perasaanku, tapi setelah mendengarkan Shiori-chan, berbicara dengan Yusuke-san dan Aika-san, aku merasa kalo aku sudah tahu sedikit apa yang ingin aku lakukan.


Aku mengeluarkan Hp-ku untuk menghubungi Seira-san.


◆WANITA KANTORAN TSUNDERE TERSENYUM◆ 


Semenjak aku ditolak oleh Masato, satu hari telah berlalu.


Kemarin aku tidur sepanjang waktu di rumah. 


Ketika aku tersadar, hari sudah sore, dan begitulah, tanpa keinginan untuk melakukan apa pun, aku membiarkan hari berlalu begitu saja.


Sekarang hari Minggu malam. Syukurlah besok adalah hari libur. 


Kalo boleh jujur, biarpun besok bukan hari libur, aku tidak tahu apa aku bisa pergi bekerja. 


Bahkan bangun dari tempat tidur pun terasa seperti sebuah gangguan.


Mungkin karena terlalu banyak tidur, kepalaku terasa sakit seolah berdenyut-denyut, jadi aku memegangnya dengan satu tangan sambil menyalakan Hp.


Seperti yang sudah diduga, tidak ada notifikasi apa pun.


Aku membuka aplikasi pesan media sosial tanpa alasan khusus. 


Di bagian paling atas layar masih muncul nama 'Masato', yang tidak sanggup aku hapus. 


Aku cuma menatap nama itu...dan kemudian melemparkan Hp ke atas tempat tidur.


Aku sudah tahu kalo aku tidak akan bisa tidur, tapi aku tetap berbaring telentang, menutupi mataku dengan tangan kanan di atas dahi.


Selama waktu itu, kenangan beberapa bulan terakhir ini tidak berhenti berputar di kepalaku.


【Tidak apa-apa, Seira-san. Aku tahu kau orang yang baik.】  


Aku masih bisa mengingat ekspresinya seolah-olah itu baru terjadi kemarin.


Setiap kata yang dia ucapkan padaku terasa sangat menghibur.


Menghabiskan waktu bersamanya adalah hal yang paling aku nikmati.


Semenjak aku mengenal Masato, hari Jumat menjadi sesuatu yang aku tunggu-tunggu, dan cuma dengan itu saja, aku sudah punya alasan untuk terus melangkah maju.


Bahkan hal itu pun aku kehilangan...


Lalu apa yang tersisa bagiku sekarang?


Aku kembali ke masa di mana aku hidup hanya karena rutinitas.


"Aku tidak bisa melupakanmu... aku tidak mau, Masato...!"


Aku tidak bisa menyerah begitu saja.


Seorang laki-laki yang aku rasa bisa aku serahkan bahkan nyawaku padanya. 


Aku tidak percaya kalo mungkin untuk menemukan seseorang seperti itu lagi.


Malah, aku yakin kalo tidak ada laki-laki di dunia ini yang lebih baik daripada Masato.


Punggung tangan yang aku gunakan untuk menutupi mataku sudah basah sebelum aku menyadarinya. 


Semenjak kemarin, setiap kali aku bangun, aku berakhir seperti ini, dan hal ini sudah membuatku lelah.


Kalo aku tidak bisa tidur, mungkin aku bisa mengalihkan perhatian dengan menonton video, pikirku, sambil mengambil Hp lagi.


"..........!"


Saat itulah aku melihat sebuah ikon yang membuatku menahan napas.


'Catatan'.


Aku tahu benar apa yang tertulis di dalam aplikasi itu.


Jantungku mulai berdetak kencang tiba-tiba.


Dengan tangan yang gemetar, aku menyentuh ikon catatan tersebut.


Tentu saja, itu masih ada di sana.


Alamat Masato, yang aku catat pada hari ketika aku tidak bisa mengendalikan diri dan mengikutinya saat dia berpakaian biasa.


Cuma dengan itu, aku bisa pergi ke apartemennya.


Sebuah emosi yang terlalu gelap mulai bergejolak di dalam diriku.


Seharusnya aku sudah memutuskannya.


Kalo aku akan meninggalkannya.


Kalo aku akan memutuskan semua hubungan dengannya.


Tapi, aku bisa merasakan emosi-emosi mengerikan itu menggeliat di dalam dadaku.


Tubuh yang hingga tadi tidak punya kekuatan untuk bergerak itu, bangkit dengan sendirinya.


Aku pergi ke wastafel dan melihat diriku di cermin.


Wajahku terlihat mengerikan.


Dengan wajah seperti ini, tidak mungkin aku bisa muncul di depan Masato.


Tapi saat melihat alamatnya, sebuah ide besar muncul di benakku.


Aku cuma perlu menciptakan fakta yang sudah terjadi.


Kalo aku berhasil tidur dengannya, kekosongan di dalam diriku ini akan terisi, dan dia tidak akan bisa lagi menjauh dariku.


Masato-lah yang menolakku.


Dialah yang membuatku gila seperti ini, dan meski begitu dia menolakku.


Karena itu, biarpun harus sedikit dipaksakan...tidak apa-apa kalo aku menjadikannya milikku.


Baiklah.


Untuk itu, sebisa mungkin, aku harus tampil secantik mungkin, kan?


Aku mencuci muka, merias wajah, memilih pakaian yang aku sukai, dan memakai parfum.


Setelah aku siap untuk pergi, aku berdiri lagi di depan cermin.


Sip. Lulus.


Dengan begini dia pasti akan berpikir kalo aku terlihat cantik.


Tapi, meski aku mencoba, aku tidak bisa tersenyum.


Kenapa ya?


Kalo aku akan menemui Masato, aku seharusnya merasa bahagia.


Tidak, tidak.


Harus dengan senyuman. 


Tanpa senyuman, aku tidak cantik.


Masato juga pernah mengatakannya padaku 【Wajah tersenyum sangat cocok untukmu, Seira-san.】  


Jadi aku memaksakan bibirku untuk melengkung ke atas.


Aku memaksa diriku untuk tersenyum.


"─────Tunggu aku, Masato."


Aku merasa kalo senyuman itu benar-benar miring.


※ ■ ■ ■ ※


Apartemen Masato berjarak beberapa menit berjalan kaki dari stasiun di dekat bar host itu.


Di tengah perjalanan ada sebuah taman di mana sebuah sungai mengalir, dan setelah menyeberanginya, segera masuk ke area perumahan.


Aku turun dari kereta.


Semangatku naik secara alami.


Bagaimanapun juga, aku akan menemui Masato.


Hari sudah malam.


Tapi itu tidak masalah.


Tidak, malah mungkin itu lebih menguntungkan bagiku.


Aku melewati pintu keluar stasiun dan mulai berjalan.


Bersamaan dengan semangatku yang meningkat, aku bisa mendengar dengan jelas detak jantungku.


Aku tidak lelah, tapi entah kenapa, aku merasa sesak napas.


Saat berjalan sedikit dan masuk ke taman, adegan yang sama seperti hari itu muncul di depan mataku.


Lampu jalan yang sedikit usang termakan waktu.


Jembatan kecil yang remang-remang oleh cahaya, yang melintasi sungai kecil itu.


Langkah kakiku mulai bertambah cepat.


Ah... Masato-ku sayang.


Ketika aku mendekap laki-laki berwajah manis itu di tanganku, dan mendorongnya dengan kuat untuk membiarkannya berada di bawahku...ekspresi seperti apa yang akan dia tunjukkan? 


Dan aku...apa yang akan aku rasakan saat itu...?


Piron!, bunyi sebuah notifikasi.


Siapa ya? Dalam dua hari terakhir ini, aku tidak menerima satu pun notifikasi di media sosial. 


Tepat saat akhirnya aku mulai merasa baikan, ada yang datang untuk mengacaukannya. 


Dengan kesal, aku mengeluarkan Hp dari saku dengan kasar.


"..........!"


Melihat notifikasi itu, sekali lagi, napas ku terhenti.



《Masato: Seira-san, maaf soal hari Jumat.》


《Masato: Aku ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh, jadi, kalo kau tidak keberatan... apa kita bisa bicara? Kalo sulit untuk melakukannya secara langsung, lewat telepon juga tidak apa-apa...》 



Langkah kakiku terhenti.


...Kenapa?


"Kenapa tepat di saat seperti ini?"


Antusiasme yang tadi aku rasakan lenyap seketika.


Lenganku jatuh dengan berat di samping tubuhku.


Meminta maaf?


Yang seharusnya meminta maaf... adalah aku.


【Maaf, soalnya...hari ini, Seira-san agak menakutkan.】


Pada saat itu, Masato tanpa ragu...merasa takut.


Akulah yang membiarkan diriku terbawa oleh keinginan cabulku sendiri dan melecehkannya dengan cara yang kasar...karena itulah, aku akhirnya menakuti laki-laki yang begitu baik dan ceria itu.


Dan hari ini lagi...


Apa yang baru saja akan aku lakukan?


"Aaah..."


Saat mendongak, sesuatu jatuh dari langit malam yang gelap dan keruh.


Itu adalah hujan. Ketika aku menyadarinya, suaranya sudah terdengar sangat keras hingga hantaman airnya sampai dengan jelas ke telingaku.


Suara hujan, jatuh tanpa henti, semakin lama semakin kuat.


Kalo dipikirkan sekarang... aku tidak membawa payung.


...Selalu saja sama.


Terseret oleh gelombang emosi yang tidak bisa aku kendalikan, termakan hari demi hari oleh rasa benci terhadap diriku sendiri.


Bisakah aku menebus ini suatu saat nanti?


Bahkan seseorang yang begitu menjijikkan dan kasar sepertiku─────


"...Eh?"


Jantungku berdegup kencang.


Aku tahu suara itu.


Tidak, aku sudah terlalu mengenalnya.


Sebelum pikiranku bisa memprosesnya, tubuhku sudah tahu benar siapa orang itu. Lebih dari siapa pun.


"Seira-san?"


"Masato...?"


Orang yang berdiri di sana dengan sebuah payung, mengenakan pakaian santai, adalah dia...cinta dalam hidupku. Orang yang ditakdirkan untukku.


Kalo dipikirkan baik-baik, itu sudah jelas. 


Taman ini berada tepat di jalan pintas antara stasiun dan apartemennya. 


Kalo dia sedang keluar, melewati tempat ini adalah hal yang paling wajar di dunia.


Tamat sudah. Kalo dia bertanya 'Apa yang kau lakukan di sini?', kalo dia sampai melihat alamat yang aku catat di aplikasi catatan Hp-ku...aku tidak akan punya alasan. 


Itu akan menjadi sebuah kejahatan, tanpa perdebatan.


Emosiku bercampur aduk dalam kekacauan, pikiranku menjadi kosong, dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa.


Masato, dengan ekspresi terkejut, mendekatiku.


"Seira-san kenapa kau tidak membawa payung? Kau bisa masuk angin."


Aku melangkah mundur tanpa berpikir.


Rasanya seolah aku mencoba lari dari kesalahanku sendiri.


"Seira-san, di belakangmu!"


"...Eh?"


Mungkin karena terburu-buru, aku melupakannya. 


Kalo tepat di belakangku ada sungai kecil.


Air yang membeku menyentuh tubuhku, yang sudah didinginkan oleh hujan. 


Dan pada saat yang sama, aku kehilangan keseimbangan dan terpeleset.


Dengan cipratan air yang besar, aku memejamkan mata.


Aku menahan benturan itu, membuka mata...dan di sana ada Masato, yang telah membuang payungnya tanpa ragu dan masuk ke sungai kecil itu tanpa berpikir dua kali.


"Uff...apa kau baik-baik saja?"


"Ke...kenapa kau melakukan itu?"


Meskipun dalam situasi seperti ini, Masato memiliki senyuman yang sama seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang berubah.


"Syukurlah aku menemukanmu. Aku ingin meminta maaf padamu, Seira-san."


Mendengar kata-kata itu, emosiku meleleh dalam sebuah hubungan arus pendek. 


Aku tidak pantas menerima permintaan maaf apa pun.


"...Tidak, itu...bukan..."


Bukan itu... Yang harus meminta maaf...adalah aku.


"Aku terlalu kasar dengan apa yang aku katakan. Aku pasti sudah membuatmu merasa buruk, Seira-san."


Tidak! Tidak, tidak, tidak, tidak!


Kebaikan Masato...


Dan fakta kalo sekarang dialah yang sedang menopangku...


Semua itu secara bersamaan melampaui batas kemampuanku...


─────Dan emosiku meledak seketika.


"Tidak! Tidak, bukan seperti itu, Masato! Yang mengerikan itu aku! Yang buruk, yang harus meminta maaf itu aku!"


Aku membiarkan diriku terbawa oleh keinginanku dan berperilaku seperti seorang penguntit.


Aku menumpahkan semua keinginan yang meluap ini langsung kepada Masato hari ini.


Aku berani berpikir kalo aku bisa dicintai.


"Aku tidak akan lagi terlibat denganmu! Tidak boleh ada wanita sepertiku di dekatmu!"


Karena itu... itulah yang akan membuatnya bahagia.


Karena itu...


"Jadi tolong─────jangan bersikap baik padaku...!"


Teriakan sesakku bergema di taman yang kosong, di tengah hujan.


...Terjadi keheningan singkat, di mana hanya terdengar suara hujan.


"Seira-san, kau itu seperti tsundere, ya?"


Kata-kata yang akhirnya keluar dari bibir Masato, dengan sedikit senyum yang agak terburu-buru, tidak bisa aku pahami sepenuhnya.


"A-apa yang kau... bicarakan?"


"Aku tahu. Aku tahu kalo ini mungkin tidak benar. Baru saja aku menyadari...kalo kita benar-benar tidak seharusnya melakukan ini."


"Tepat sekali! Seorang wanita yang menyerangmu dengan cara yang menjijikkan seperti itu...pasti kau merasa muak! Wajar kalo kau membenciku dan menjauhkanku─────!"


"Itu benar...memang aku merasa sedikit takut. Tapi..."


Masato perlahan mengangkat kepalanya.


Dia menatap langsung ke wajahku.


Meskipun dia basah kuyup karena hujan, senyumnya tetap sama seperti biasanya. Lembut dan baik.


"Cuma dengan itu, aku merasa tidak ingin menghakimimu, Seira-san. Aku pikir sampai sekarang kita sudah mengumpulkan banyak hal."


"..........!"


─────Ah.


Begitulah adanya.


Tepat sekali aku teringat hari di mana kita pertama kali bertemu.


Senyuman itu menyelamatkanku.


"Lagipula, aku tidak bisa...membencimu, Seira-san."


Aku tidak ingin dia melihat wajahku yang hancur karena air mata dan hujan.


Jadi aku memeluk Masato dengan erat.


"Baka...baka, baka, bakaaaa!! Kau benar-benar bodoh!!"


"...Ya. Aku memang bodoh."


"Kau benar-benar bodoh...kau seharusnya membiarkan wanita sepertiku sendirian...!"


Hujan terus turun tanpa henti, membasuh hatiku.


Perasaan gelap dan buruk itu memudar bersama air mata.


Aku memeluk punggung Masato dengan erat dan kuat.


"Apa aku boleh pergi ke bar lagi...?"


"Ya, aku akan menunggumu."


"Apa kau akan mau keluar bersamaku lagi?"


"Pasta yang kita makan waktu itu enak, kan?"


"Mungkin aku akan merasa cemburu lagi, tahu?"


"Tolong, lakukan itu secukupnya saja."


Masato mengelus rambutku yang basah.


Rasanya aneh.


Bahagia, beruntung.


Aku merasa untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sedang mendapatkan balasan yang indah.


Aku menjauhkan wajahku sedikit untuk melihat orang yang aku cintai.


Aku tidak berpikir kalo aku bisa mengungkapkan perasaan jujurku. 


Atau, lebih tepatnya, aku belum memiliki hak itu.


Bagiku yang begitu ternoda, Masato terlalu menyilaukan.


...Tapi, mungkinkah sedikit demi sedikit aku bisa mendekat?


Apa tidak apa-apa kalo aku berusaha supaya bisa berada lagi di samping seseorang yang luar biasa seperti dia, seperti waktu itu?


Kalo begitu. Mungkin aku harus berusaha sekali lagi.


...Karena itu, untuk sekarang. Tanpa mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan.


Cuma sedikit, dengan menunjukkan sedikit harga diri.


"Baka. Aku sama sekali tidak menyukai Masato."


Aku merasa kalo, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...


Aku bisa tertawa dari lubuk hatiku yang paling dalam.


◆WANITA KANTORAN TSUNDERE MENGAMBIL KEPUTUSAN◆ 


Kalo kita hanya melihat situasinya, pastinya aku sudah mendapatkan skenario yang sangat aku inginkan dengan sepenuh hati.


Menurut rencana aslinya, pada jam ini aku seharusnya sedang memenuhi pikiranku dengan imajinasi tidak senonoh tentang pengalaman pertama yang akan aku rasakan, dan tubuhku seharusnya sedang terbakar oleh api keinginan.


"Mulai dari sini ke depan! Benar-benar dilarang lewat! Benar-benar! Di saat kau melangkahkan kaki lebih jauh dari sini, aku akan mengusirmu dan tidak akan pernah bicara lagi padamu!"


"Jadi kau memperlakukanku seolah aku begitu mengerikan? Baiklah, baiklah, aku tidak akan lewat!"


Situasi ini, di mana Masato mencoba dengan putus asa membuat garis dengan handuk di dalam apartemen, sementara aku memberikan senyuman dan menggodanya, rasanya sangat menyenangkan sekarang ini.


Bagaimana kami sampai pada situasi ini?


Ceritanya berawal ketika kita basah kuyup di taman itu.


Waktunya sudah lebih dari jam 10:00 malam.


Setelah itu, karena kami tidak bisa membiarkan diri tetap basah begitu saja, Masato dan aku berlindung di sebuah bangku dengan atap di dalam taman.


"Hasyim...!"


"Apa kau tidak apa-apa...? Maaf, aku cuma punya jaket ini untuk diberikan padamu..."


"Tidak apa-apa. Masato juga pasti kedinginan, kan?"


"Aku benar-benar baik-baik saja."


Setiap kata yang dia ucapkan padaku terasa hangat.


Meskipun aku mencoba mengubah suasana hati, aku merasa buruk karena telah melakukan tindakan yang hampir merupakan sebuah kejahatan terhadap seseorang seperti dia.


Tanpa sengaja, permintaan maaf pun keluar dariku.


"Maaf, Masato, karena salahku kau jadi..."


"Tidak, tidak. Aku melakukannya karena aku mau... Seira-san kau tidak bersalah."


Pastinya dia bermaksud tentang aku yang menjadi basah. 


Tapi tetap saja, itu adalah sesuatu yang ingin dia lakukan... Sungguh, aku tidak tahu sudah berapa kali laki-laki ini menyelamatkanku dengan kebaikannya.


"Seira-san apa kau baik-baik saja? Apa kau akan bisa sampai di rumah?"


"Ya, yah, aku tidak akan bisa naik kereta, jadi aku akan memakai taksi untuk pulang."


"...Tadi kau bilang kalo kau naik taksi dari sini pada jam selarut ini akan memakan biaya yang cukup mahal, kan...?"


"Yah, benar, tapi mau bagaimana lagi, kan?"


Tentu saja, kalo aku mau naik taksi dari sini, aku harus bersiap untuk membayar setidaknya 10 ribu yen.


Tapi naik kereta dalam keadaan basah kuyup seperti ini...juga akan tidak nyaman, kan?


Saat aku melihat Masato di sampingku, dia mengusapkan tangannya ke kepala sambil tampak sedang berpikir.


"...Mungkinkah ini memang salah? Tidak, tapi membiarkannya pergi begitu saja juga tidak benar... Baiklah, aku cuma harus mengatakannya dengan baik dan aku sendiri harus berhati-hati..."


"...Ada apa?"


Sepertinya dia sedang bergumam pelan...


"Ah, eh, Seira-san?"


"Apa?"


Masato berdeham untuk menjernihkan suara dan bicara dengan lebih formal.


"Apartemenku ada di dekat sini... Apa kau mau datang untuk sekarang?"


"Eh...?"


Uniknya, itu adalah situasi yang tepat seperti yang aku impikan hari ini.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja... Lagipula, aku punya pancuran air dan semuanya..."


"A-apa tidak apa-apa...?"


"Ya, tentu! Tapi ini cuma untuk berteduh dari hujan! Tidak ada alasan lain! Cuma supaya kau bisa mandi dan memakai pakaian bersih! Cuma itu!"


Sementara Masato berbicara dengan begitu putus asa, aku merasa tertekan, tapi meski begitu aku berpikir kalo dia sangat manis.


"Ini apartemenku. Maaf kalo tempat ini sangat tua."


"...Sama sekali tidak."


Kami berjalan sekitar 15 menit dari taman.


Masato menunjukkan apartemennya padaku...yah, lebih dari sekadar menunjukkan, aku sudah mengetahuinya.


Sedikit rasa bersalah hinggap di hatiku.


Tapi aku menggelengkan kepala. 


Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. 


Aku akan menjadi wanita yang bisa berada di sisi Masato.


Masato mengeluarkan kunci dan membuka pintu.


"Silakan masuk."


"Ya, maaf mengganggu..."


Lampu dinyalakan. Bagian luarnya memang menunjukkan beberapa tanda dan bekas termakan waktu, tapi bagian dalamnya cukup bersih.


"Lepaskan stokingmu. Semuanya sudah basah kuyup."


"Ya, ya...kau benar..."


Dari pintu masuk, ruang tamu sudah bisa terlihat.


Tempatnya sangat rapi dan memberikan kesan bersih. Itu sangat khas gaya Masato.


Dia masuk lebih dulu dan membawakan handuk.


"Untuk sekarang, gunakan ini untuk mengeringkan diri sedikit... Setelah itu mandi dulu. Dalam beberapa menit airnya akan siap."


"Tapi aku akan merasa tidak enak kalo kau tidak mandi duluan."


"Jangan khawatir. Aku akan menyiapkan sesuatu untuk diminum sementara itu."


Meskipun aku merasa agak bersalah, aku tidak punya pilihan selain mengikuti kata-kata Masato.


"Uf..."


Sekarang aku berada di dalam bak mandi di rumah Masato.


Aku tidak tahu apa itu, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh. 


Rasanya seolah-olah aku sedang melayang, tapi di saat yang sama, aku merasa tenang.


Tidak pernah aku bayangkan kalo aku akan berakhir masuk ke apartemen Masato dengan cara seperti ini.


Aku merasa senang, tapi yang paling utama adalah aku merasa tidak boleh mengkhianati kepercayaan yang telah Masato berikan padaku.


"Aku tidak boleh melakukan hal aneh, sama sekali tidak boleh..."


Aku teringat apa yang terjadi di bar.


Ekspresi takut Masato. 


Penolakannya yang jelas dan tegas.


Kalo aku melihat tatapan itu lagi, kali ini aku benar-benar tidak akan bisa melangkah maju.


Di perjalanan menuju apartemennya, dia mengatakan sesuatu padaku...


【Aku ingin terus berhubungan baik denganmu, Seira-san...jadi aku ingin kau menghindari memaksakan hal-hal seperti waktu itu. Itu berlaku baik di bar maupun di luar.】   


Kata-kata itu terukir di hatiku.


Tentu saja, sebagai wanita, keinginan-keinginan itu terkadang muncul, terutama karena Masato sangat menarik.


Tapi aku tidak ingin lagi dia membenciku karena tindakanku.


Sedikit kontak fisik tidak apa-apa, tapi aku memutuskan kalo mengajak paksa untuk pergi ke acara sesudahnya benar-benar dilarang.


Karena itu, meskipun situasi ini tepat seperti yang telah aku impikan, aku harus menerima kenyataan kalo dia percaya padaku dan dengan tekad baja, aku harus menahan diri.


Setelah selesai berendam di bak mandi, aku keluar dari kamar mandi.


Masato sedang menungguku. 


Aku harus bergegas sebisa mungkin.


Ketika aku keluar ke ruang ganti...di sana sudah terlipat sebuah kaos lengan pendek dan celana pendek.


...Apa ini artinya aku boleh memakai ini?


Tiba-tiba, detak jantungku bertambah cepat.


"Te-tenang, tenang. Tidak, tidak, tetaplah tenang. Ini adalah kebaikan dari Masato! Kalo aku menjadi bersemangat di sini, semuanya berakhir...!"


Meskipun tampak mustahil untuk tidak bersemangat, di sinilah aku, bertahan dengan tekad baja. Kerja bagus.


Aku mengosongkan pikiranku, lalu memakai pakaian yang dia berikan.


Kemudian, saat mencoba kembali ke ruang tamu tempat Masato berada, aku memegang kenop pintu.


Dan kemudian, aku ingat.


─────Kalo sekarang aku sedang tidak memakai riasan.


Tubuhku membeku. Meskipun aku sudah menghapus semua riasan sebelumnya, bukankah Masato akan kecewa melihatku begitu buruk rupa dan tampil alami?


"Seira-san apa kau sudah berganti pakaian?"


"Ya, yya, sudah, tapi..."


"Apa pakaiannya tidak pas? Kalo sedikit kebesaran, tolong bersabarlah sebentar..."


"Tidak, tidak, itu sudah pas, sudah pas...! Tapi...!"


Untungnya, aku lebih tinggi dari rata-rata wanita, jadi ukurannya tidak menjadi masalah besar.

 

Tapi, lebih dari itu, masalahnya adalah wajahku.


Ini buruk, apa yang harus aku lakukan?


Tidak ada pilihan lain selain memberanikan diri...!


Dengan setengah pasrah, aku membuka pintu ruang ganti.


"Ah, syukurlah, sepertinya kau baik-baik saja...tapi kenapa kau menyembunyikan wajahmu?"


"...Soalnya sekarang aku tidak memakai riasan. Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini..."


"Eh...tidak apa-apa, tapi...apa kau berencana tetap seperti itu terus? Bukankah sulit untuk bicara seperti itu?"


"Ugh..."


Sementara aku ragu apa yang harus dilakukan, tangan yang menutupi wajahku ditarik dengan lembut oleh Masato.


"...Lihat kan? Seperti yang aku duga, kau tidak buruk rupa sama sekali."


"..........!"


"Tentu saja, Seira-san kau selalu terlihat cantik dengan riasan dewasamu, tapi kau juga cantik tanpa itu...ah─────sudahlah, lupakan saja, itu cuma komentar tidak penting! Tolong lupakan saja!"


"Sial, kebiasaan burukku muncul lagi...!", kata Masato sambil masuk ke ruang ganti membawa pakaian gantinya.


...Sungguh, ini tidak adil. Masato selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuatku merasa lebih baik. 


Tapi mendengar dia bilang 'kau sama seperti biasanya' juga bisa terasa sedikit sedih.


Di ruang tamu ada dua cangkir teh hijau hangat dan satu botol teh gandum dingin.


Mungkin Masato yang telah menyiapkannya.


"Kau tidak perlu melakukan sebanyak ini untukku..."


Aku duduk di atas bantal duduk.


Aku melihat sekeliling.


Meskipun hampir semuanya rapi, dapurnya sedikit berantakan, dan itu memberikan sentuhan kehidupan pada tempat ini.


Seharusnya bisa lebih berantakan lagi, serius. 


Aku ingin dia menunjukkan setidaknya sisi lemahnya itu.


Aku meminum seteguk teh gandum dan menghela napas.


Saat mengatur pikiranku dengan tenang, kurangnya rasa realitas dari situasi ini membuatku tersenyum.


Kalo aku menceritakannya pada teman-temanku, tidak akan ada yang percaya padaku.


Bahkan, sekarang setelah aku memikirkannya...


"Ini pertama kalinya aku pergi ke apartemen seorang laki-laki..."


Bahkan tidak sekali pun sejak aku masih berstatus pelajar.


Memikirkan hal itu membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang. 


Selain itu, pakaian yang aku pakai sekarang sebenarnya adalah milik Masato.


Cuma mencium sedikit bagian lengannya saja.


Dalam sekejap, sebuah rangsangan manis menjalar ke otakku.


"...Ini...adalah obat terlarang..."


Untuk sesaat, aku pikir otakku akan meleleh.


Ini tidak benar, bukankah aroma Masato memiliki efek samping yang membuat para wanita terangsang?


Yah, untuk seseorang di levelku, otakku sudah terbiasa dan memiliki toleransi, jadi tidak apa-apa.


Atau setidaknya, itulah yang aku yakini saat itu.


"Fuu〜 Aku sudah selesai mandi. Ah, Seira-san apa teh gandumnya sudah pas?"


─────Ah, aku mati.


"Seira-san? Kenapa kau pingsan?"


Masato level SSR setelah mandi memiliki kekuatan penghancur yang luar biasa, aku hanya mencatatnya di buku catatan mentalku.


Dan ceritanya kembali ke awal.


"Ha-hari ini spesial! Tidak baik membiarkanmu pulang ke rumah jam segini...kau boleh menginap, tapi aku cuma menawarkan tempat untuk tidur, oke? Tolong, jangan melewati handuk yang aku taruh untuk pemisah ini!"


Aku pingsan saat melihat Masato setelah mandi dan, pada akhirnya, aku melewati tengah malam dengan menginap di apartemennya. 


Bukannya aku sedang merencanakannya atau apa pun!


...Kepada siapa aku sedang memberikan penjelasan?


Sebenarnya, kalo bukan karena insiden itu, ini akan menjadi perkembangan yang aku inginkan dengan segenap tenagaku. 


Mungkin, dengan gembira aku akan langsung menerjang Masato.


Tapi sekarang berbeda.


"Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun, jadi kita bisa tidur bersama..."


"Itu tidak akan pernah terjadi!! Seira-san, kau pasti mencoba melakukan sesuatu saat aku tidur, kan?!"


"Jangan jadi pelit begitu! Cuma sebentar saja!"


"Apa karaktermu tidak sedikit berubah, Seira-san?!"


Tidak boleh aku yang menyerang, tapi kalo Masato yang memintanya, itu tidak apa-apa!


─────Yah, cuma bercanda.


Sekarang aku lebih suka kalo kita bisa memiliki percakapan semacam ini.


Reaksinya polos dan manis juga.


"Ah, benar juga, Masato apa aku boleh meninggalkan cangkir dan sikat gigiku di sini lain kali?"


"Kenapa kau menganggap seolah-olah kau sudah akan tinggal di sini? Tidak mungkin!"


Bercanda seperti itu juga tidak buruk.


Masato menjadi merah padam dan membela diri, dan itu membuatku tersenyum.


"Haah, haaah...! Aku sudah menggelar futon, jadi kalo kau melangkah satu langkah saja keluar dari sana, aku akan memanggil polisi..."


"Ayo kita selesaikan semuanya sebelum mereka datang. Tenang saja, aku cukup ahli dalam hal itu."


"Seira-san kau sudah gila!!"


Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku tertawa.


Mungkin ini pertama kalinya aku melihat Masato begitu banyak tersenyum. 


Fakta sederhana itu membuatku merasa sedikit bahagia.


Pada akhirnya, aku memenuhi janjiku padanya dan tertidur tanpa menyentuh Masato.


Tapi, seperti yang sudah diduga karena tidak terbiasa dengan tempat ini, aku terbangun di tengah malam.


Setelah semua yang terjadi, dan karena ini pertama kalinya aku berada di apartemen seorang laki-laki, aku pikir mungkin aku tidak akan bisa tidur. 


Tapi sepertinya aku lebih lelah daripada yang aku kira, karena aku sendiri pun terkejut betapa cepatnya aku jatuh tertidur.


Aku rasa fakta kalo aku tidak memiliki niat untuk melakukan apa pun padanya juga berpengaruh.


Di balik penghalang yang dia siapkan dengan hati-hati menggunakan handuk mandi dan sesuatu yang menyerupai rel tirai, ada wajah polos Masato yang sedang tertidur.


Meskipun dengan semua kewaspadaan yang dia miliki, dia berakhir tertidur dengan ekspresi yang begitu tenang...dia tipe laki-laki yang manis.


Dari jendela, cahaya bulan menyelinap masuk dengan lembut.


Di tengah kesunyian malam musim panas, wajah Masato, yang bernapas dengan tenang saat tidur, dibasuh oleh cahaya bulan, terlihat seperti sebuah lukisan.


Tanpa sengaja, sebuah senyuman keluar dariku.


"─────Aku sangat menyukaimu, Masato."


Perasaan yang begitu tulus itu keluar dari bibirku dengan kemudahan yang bahkan mengejutkanku sendiri.


...Aku belum mampu mengatakannya langsung padamu.


Tapi suatu hari nanti, aku akan menjadi orang yang begitu luar biasa sehingga bisa berada di sisimu sebagai orang yang setara.


"Baiklah, aku pergi dulu."


Tidak ada jawaban.


Masato, yang tampak cukup lelah, tertidur dengan lelap.


Kereta pertama sudah mulai bergerak.


Bukan ide yang baik untuk tinggal lebih lama lagi, jadi aku memutuskan untuk pergi lebih awal.


Aku harus memberi selamat pada diriku sendiri karena tidak melakukan apa pun padanya. 


Aku adalah wanita yang tahu cara mengendalikan diri.


─────Meskipun aku tidak melakukan apa pun, aku meninggalkan sebuah kenakalan kecil di apartemennya. Itu akan menjadi rahasia kita.


Saat membayangkan wajah terkejutnya ketika dia menyadarinya, aku tidak bisa menahan tawa.


Aku keluar dari apartemen Masato. 


Aku mengiriminya pesan melalui media sosial untuk memberitahunya kalo aku pergi lebih awal.


"Kalo dipikirkan sekarang..."


Aku teringat sesuatu, dan tanpa berhenti, aku mulai menggunakan Hp.


"Aku tidak membutuhkannya lagi."


Aplikasi catatan.


Apa yang tertulis di sana, aku hapus tanpa keraguan sedikit pun.


Sudah tidak ada alasan lagi bagi hal itu untuk ada.


Setelah menghapusnya sepenuhnya, aku melemparkan Hp ke dalam tasku.


Sambil mulai berjalan, aku menatap ke arah langit. 


Langit yang sama yang kemarin mendung karena hujan, sekarang sudah benar-benar cerah.


Aku merentangkan lenganku dengan kuat.


Hatiku juga terasa cerah, seperti langit itu. Kurang lebih seperti itu.


Tepat sebelum sampai di tikungan, aku menoleh ke arah apartemen Masato berada.


"Sampai jumpa, Masato."


─────Mulai hari ini, aku akan memulainya kembali.


─────Supaya aku bisa menjadi seorang wanita yang bisa berdiri dengan kepala tegak di samping orang yang paling aku cintai.

 






Sebelumnya   Daftar isi     Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال