Kau saat ini sedang membaca Danjo Hi 1 : 5 No Sekai De Mo Futsu Ni Ikirareru to Omotta? Geki E Kanjona Kanojo Tachi Ga Mujikaku Danshi Ni Honro Saretara volume 3 prolog. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
Aku mendambakan cinta yang murni bak sebuah dongeng.
Kalo dipikirkan sekarang, sejak kecil aku selalu memiliki standar yang sangat tinggi mengenai cinta.
Entah kenapa, aku percaya kalo orang yang ditakdirkan untukku akan muncul dan berpapasan denganku di suatu tempat.
Versi ideal dari diriku, dicintai oleh seseorang yang ideal.
Aku yang menawan, tersenyum di samping seseorang yang luar biasa.
Alangkah bahagianya masa depan itu.
Aku selalu memimpikan hal seperti itu.
Tentu saja, aku tidak pernah percaya kalo hal yang seperti mimpi itu akan datang begitu saja hanya dengan menunggu sambil duduk manis.
Justru karena itulah, aku tidak pernah berhenti berusaha untuk memperbaiki diriku sendiri supaya aku bisa mencapai ideal tersebut.
Aku selalu berada di kelompok tertinggi dalam hierarki sekolah, dan aku tidak pernah merasa memiliki masalah dengan pelajaran, olahraga, atau kemampuan bersosialisasi dengan orang lain.
Bahkan aku sendiri merasa kalo aku telah melakukannya dengan cukup baik.
Bukannya aku ingin seseorang memujiku, atau aku menjadi sombong.
Bagiku, semua upaya itu adalah hal yang paling normal di dunia.
Supaya, ketika saatnya aku jatuh cinta tiba, aku sudah siap.
Supaya aku menjadi seseorang yang tidak membuatku malu di hadapan orang yang aku sukai.
Tapi, sepertinya hal itu memicu perubahan yang sedikit di luar dugaanku.
Pasalnya, terlepas dari dunia seperti apa yang kita tinggali, standarku terhadap laki-laki menjadi jauh lebih tinggi.
Sejak aku lahir hingga sekarang, aku tidak pernah merasakan dorongan untuk menyatakan perasaanku kepada seseorang.
Dan itu masuk akal. Tidak pernah muncul laki-laki yang memenuhi apa yang aku anggap ideal.
Meski begitu, aku terus berusaha, percaya kalo suatu hari nanti dia akan muncul.
Tanpa kusadari, masa SMA berakhir... Tapi itu masih tidak apa-apa.
Aku masih dalam masa remaja. Saat memasuki universitas, aku yakin kalo aku akan menemukannya.
Kehidupan universitasku dimulai. Sedikit demi sedikit, orang-orang di sekitarku mulai mendapatkan pacar.
Tapi laki-laki yang sesuai dengan idealku tidak kunjung muncul.
─────Aku mulai merasa putus asa. Aku berpikir mungkin aku telah memasang standar yang terlalu tinggi.
Dan karena itulah─────di akhir masa universitasku, aku akhirnya mengalami pengalaman yang mengerikan karena terburu-buru.
Sebuah kenangan yang begitu menjijikkan, hingga hanya dengan mengingatnya saja membuatku ingin muntah.
Sebuah pengalaman yang benar-benar buruk.
"Mochizuki, apa kau mau berpacaran denganku?"
"Eh...?"
Dia mengatakannya sambil tertawa dengan senyuman mengejek.
Aku butuh waktu sejenak untuk memahami apa yang dia katakan...dan aku akhirnya menganggapnya sebagai pernyataan cinta yang sungguhan.
...Itu membuatku bahagia. Aku merasa semua usaha yang telah aku lakukan sampai sekarang telah membuahkan hasil.
Dia memang bukan tipeku, dan kalo dipikirkan baik-baik sekarang, meskipun dia cukup populer di kalangan perempuan, banyak juga rumor negatif yang terdengar tentangnya.
Meski begitu, aku pikir mungkin aku bisa menyukainya.
Aku senang ada seseorang yang tertarik padaku. ...Kalo dipikirkan sekarang, itu juga merupakan ide yang benar-benar konyol.
Setelah mulai berpacaran dengannya, tidak ada satu pun dari harapanku yang terjadi.
Aku merasa malu karena telah begitu penuh harapan.
Awalnya setidaknya kami masih berkomunikasi, tapi balasannya selalu dingin.
Kami tidak pernah berkencan, dan ketika kami bertemu di universitas, dia nyaris tidak menyapaku.
Dan yang lebih parah, aku sempat melihatnya sangat mesra dengan perempuan lain, hanya berdua saja.
Ketika pesan-pesan darinya hampir berhenti sepenuhnya, aku kehilangan kesabaran dan bertanya sendiri padanya, "Hei...
kita ini berpacaran, kan?"
Lalu dia menjawab...
"Eh...? Apa kau menganggapnya serius? Hahaha. Maaf, tapi aku tidak bisa. Faktanya, aku sudah punya dua pacar hahaha."
...Aku pikir ungkapan 'darahku mendidih' memang tepat untuk momen seperti itu.
Tapi lebih dari itu, yang paling membuatku malu adalah karena aku merasa bersemangat bisa bersama laki-laki seperti itu.
Aku merasa hina karena telah berpikir, meskipun hanya sedikit, kalo aku tidak peduli dengan siapa pun asalkan aku bisa menjalin hubungan.
Setelah itu, aku tidak pernah jatuh cinta lagi.
Aku mendapatkan pekerjaan, dan kesempatan untuk bertemu seseorang semakin berkurang.
Tanpa kusadari, bahkan citra ideal yang dulu aku miliki mulai terasa tidak relevan bagiku.
Aku sempat berpikir kalo, meskipun hidupku terus terasa abu-abu, itu tidak apa-apa. Tepat pada saat itulah...
"Mohon maaf mengganggu, Ojou-sama."
Aku mengenalnya. Orang yang ditakdirkan untukku.
Aku merasa tidak bisa membiarkan kesempatan itu terbuang sia-sia, apa pun yang terjadi.
Tanpa kusadari, meski aku tahu kalo itu adalah sebuah kejahatan, aku tidak bisa menghentikan perasaanku.
Aku mencoba dengan putus asa untuk menjaganya tetap di sisiku.
Aku ingin menjadikannya milikku. ..
Aku ingin bersandar pada orang yang sangat aku cintai itu.
─────Dan sekarang.
"Apa kita akan pergi ke after party?"
Apa perempuan yang mengekspresikan perasaan gelap dan bengkok ini tanpa rasa malu...mungkinkah dia berhasil menjadi diriku yang ideal yang sangat aku kagumi di masa lalu?

