Kamu saat ini sedang membaca Ossananajimi no Imouto no Kateikyoushi wo Hajimetara volume 4 chapter 13. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
"Entah kenapa rasanya sudah lama tidak bersama denganmu."
"Kita kan setiap hari ketemu di sekolah."
Aku saling bertukar candaan ringan dengan Akihito.
Hari ini, aku datang untuk mendukung pertandingan sepak bola yang diikuti oleh Hayato.
"Kalo di hari libur, kau pasti sibuk dengan pekerjaan paruh waktu atau bersama pacarmu."
Aku mengabaikan senyum menyeringai Akihito dan menoleh ke arah para perempuan.
Aisha, Yuki, Higashino, Akitsu, dan hari ini juga Manami ikut bersama kami.
Dari kelompok perjalanan studi waktu itu, hanya Kano dan Makoto yang tidak ada.
Katanya mereka tidak bisa ikut karena ada latihan masing-masing.
"Manami sudah benar-benar dekat dengan mereka ya."
"Bahkan bisa dibilang lebih menyatu daripada Irino."
"Jangan bilang begitu..."
Yuki memang masih terlihat menjaga jarak dengan orang-orang di kelas.
api kalo dia sedang bersama teman masa kecil atau dalam mode serius saat bekerja, dia tidak masalah, tapi saat ini pun dia tampak berusaha menghindar dengan berlindung secara halus di balik Aisha dan Manami.
"Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka Akihito datang juga."
"Hm? Ahh, ada berbagai hal lah."
"Apa maksudmu?"
"Karena kau dulu membuatku menunggu, jadi sekarang giliranku. Lain kali saja."
"....?"
Ucapan Akihito memang membuat penasaran, tapi sepertinya pertandingan akan segera dimulai.
"Nanti saja ceritakan padaku."
"Aku tahu."
Untuk sekarang, lebih baik fokus mendukung Hayato yang berdiri di lingkar tengah dengan mengenakan nomor punggung 10 sebagai ace.
Wasit meniup peluit dan pertandingan dimulai.
◇
"Eh...? Akitsu...?"
Saat pertandingan masih berlangsung, aku yang baru kembali dari toilet melihat Akitsu berdiri sendirian, menatap ke arah lapangan, sedikit menjauh dari tempat duduknya.
Kupikir dia sedang dalam perjalanan kembali ke kursinya, jadi aku pun mendekat dan hendak memanggilnya.
"...Keren."
"Eh...?"
Gumaman Akitsu itu, entah kenapa, terdengar jelas di telingaku pada saat yang kurang tepat.
Sebenarnya, kalo hanya suaranya saja, itu tidak masalah.
Tapi setelah melihat ekspresinya, aku langsung tahu kalo ucapan itu bukan sekadar ditujukan pada permainan di lapangan.
Apalagi sekarang, Hayato bahkan tidak sedang menggiring bola atau melakukan aksi apapun.
"Na...Ko-Kouki-kun!?"
"Eh, ya, maksudku... benar juga, Hayato memang keren."
Aku mencoba menanggapi seadanya dan menghindari pertanyaan...
Tapi...
"Kau pasti sudah menyadarinya, kan...?"
Akitsu malah mulai bicara seolah sudah menyerah.
Aku juga sedang berpacaran dengan Aisha.
Selain itu, pada malam kembang api, Manami menyatakan perasaannya padaku, dan saat festival sekolah, bahkan Yuki sempat menyatakan cintanya.
Sekarang setidaknya aku bisa memahami emosi yang menyebabkan Akitsu menggumamkan itu sebelumnya.
Mungkin juga karena ini tentang orang lain, jadi aku bisa lebih memahami...
"Sejak kapan?"
"Sudah sejak lama. Aku tahu dia menyukai Aisha, tapi tetap saja, aku terus..."
"Sungguh..."
Melihat sisi baru dari Akitsu, yang biasanya selalu ceria dan menjadi mood booster, membuatku membeku karena tidak tahu harus merespons seperti apa.
"Ah~ ah, ternyata bisa ketahuan secepat ini ya~"
Akitsu berkata dengan nada biasanya.
"Yah, kalo sudah ketahuan ya mau bagaimana lagi, malah mungkin itu justru bagus."
"Eh...?"
"Soalnya, orang yang paling tahu soal Aisha───yang sudah lama dia sukai───itu Kouki-kun, kan?"
"Itu..."
Aku akan mengesampingkan pertanyaan apakah aku bisa mengatakan itu dengan pasti.
Atau lebih tepatnya, aku tidak sempat memikirkan ke arah sana karena pergantian sikap Akitsu terlalu cepat.
Kalo aku tidak segera menyesuaikan diri, aku akan tertinggal.
"Jadi, begini. Bisa tidak kau membantuku agar aku bisa jadi sesuai selera dia?"
"Sesuai selera dia, maksudmu..."
"Hmm... untuk permulaan yang gampang dikenali, dari pakaian santai dulu! Temani aku belanja lagi seperti waktu itu! Sebagai ucapan terima kasih... hmm..."
Akitsu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Mungkin setidaknya aku akan menunjukkan celana dalamku?"
"Apa?!"
"Ahaha. Ya, setidaknya aku akan mentraktirmu makan, dan tentu saja, kalo kita pergi berdua nanti Aisha pasti marah, jadi bagimana kalo kita ajak Aisha juga?"
"Bagaimana, maksudmu..."
Cara mengajaknya nyaris tidak memberiku pilihan untuk menolak. Menolaknya di sini rasanya terlalu kejam.
"Baiklah. Aku akan bicarakan pada Aisha."
"Terima kasih. Dan... satu lagi..."
"Kau sendiri yang akan bicara pada Aisha, oke?"
"Wow. Kau langsung mengerti! Ya, tolong begitu! Untuk detailnya, kita bahas lewat pesan saja, ya! Boleh aku meminta informasi kontak Aisha?"
"Ah."
"Bagus! Kalo begitu, kita harus segera kembali, kalo tidak nanti kita malah dicurigai aneh-aneh, lho?"
"Eh...?"
Aku menoleh ke arah tempat duduk, Aisa sedang menatap ke arah sini dengan wajah sedikit cemberut.
Uhm...
"Bisa-bisanya Aisha menunjukkan ekspresi semanis itu, kau benar-benar orang yang beruntung."
"Tidak juga..."
Ini tidak bisa disebut manis begitu saja. Penyebab utamanya juga karena Akitsu...
"Ahaha. Tenang saja, aku akan langsung menjelaskan supaya dia tidak salah paham."
"Terima kasih."
Seperti yang dikatakannya, saat pertandingan berlangsung, Akitsu memanggil Aisha dan menjelaskan semuanya.
Salah paham pun segera terselesaikan, tapi...
"Ada apa."
"Tadi itu cuma..."
"Aku tahu. Aku mengerti, tapi... jangan pergi lagi, ya."
Setelah itu, selama sisa pertandingan, Aisha tidak mau pergi dari sisiku.
◇
"Ngomong-ngomong, selalu ada lagu tema untuk pertandingan sepak bola SMA, apa Yuki yang akan menyanyikannya?"
Pertandingan berakhir dengan kemenangan telak berkat permainan Hayato, dan saat kami sedang bersiap-siap untuk pulang, Akitsu tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.
"Eh, uh..."
"Ah, tapi kalaupun iya, kau belum boleh bicara!"
"Bukan begitu... Kalo hanya pada kalian...sepertinya akan ada satu lagu yang dinyanyikan di babak penyisihan turnamen regional..."
"Ohh."
Hebat juga.
"Kouki apa kau sudah tahu soal ini?"
"Tidak, aku juga baru mendengarnya sekarang, makanya aku kaget."
"Aku yakin kalau kau bertanya padanya, banyak hal akan terungkap... Kurasa dia tidak akan menyembunyikannya dari Kouki."
Ucap Akihito.
Ya, mungkin memang begitu.
Tapi tetap saja... Yuki benar-benar terus melangkah jauh ke depan... Hebat sekali.
Itu soal yang satu, dan kemudian...
"Kalo soal banyak hal yang belum diketahui, tapi ada sesuatu yang terjadi, kan Akihito?"
"Eh? Ahh..."
Akihito mengalihkan pandangannya.
Arah tatapannya adalah...
"....? Higashino?"
"Kau penasaran kenapa aku datang, kan? Itu jawabannya."
Akihito mengatakannya dengan santai.
Aku sempat kehilangan kata-kata...
"Eh!? Jadi kau menyukainya?!"
"Suaramu terkeras! Astaga... Aku memang menyukainya, atau lebih tepatnya, kami sudah mulai pacaran."
"Apa!?"
Sejak kapan...
Dari obrolan yang terus berlanjut, sepertinya sejak masa persiapan festival sekolah, Higashino sudah mulai didekati oleh Akihito.
Itu cukup mengejutkan...
Pasangan yang terlihat tidak biasa───sosok paling bermasalah dan wakil ketua OSIS...
"Pokoknya, selamat ya."
"Terima kasih."
"Jadi sekarang Akihito juga akan berhenti main-main dan jadi lebih serius..."
"Yah, begitulah..."
Mengingat aku tahu betapa seringnya dia bersenang-senang di luar sekolah, rasanya itu benar-benar membawa kesan tersendiri.
"Aiko bilang ingin berkonsultasi pada Takanishi, jadi mungkin sebentar lagi Kouki juga akan ikut terlibat."
"Konsultasi...?"
Fakta kalo Akihito sudah memanggil namanya langsung menunjukkan betapa santainya dia.
Dia sudah terbiasa, rupanya...
Tapi konsultasi, kah...
"Yah, di antara kita, soal pengalaman berpacaran tentu kalian berdua yang lebih dulu, kan?"
Akihito menyeringai.
Jadi begitu maksudnya...
Mengingat gaya pacaran Akihito, aku bisa membayangkan Aisha akan tersipu kalo dia mendengar isi konsultasinya nanti...
"Yah, aku akan mengandalkanmu, senpai."
Ucap sahabat buruk itu sambil menepuk bahuku dan tertawa.
Tapi, melihat ekspresinya, aku jadi bisa merasakan betapa seriusnya hubungan yang sedang dia jalani ini.
"Sekali lagi, selamat."
"Ya, terima kasih."
Awalnya kupikir mereka pasangan yang mengejutkan, tapi setelah pembicaraan selesai, entah bagaimana, mereka tampak seperti pasangan yang benar-benar serasi.

