Di sekolahku, ada seorang 'Dewi Bunga Matahari'.
… Yah, tentu saja 'dewi' hanyalah kiasan, bukan dewi sungguhan.
"Ngomong-ngomong, Hinata, lotion yang kamu rekomendasikan kemarin luar biasa! Aku hampir putus asa karena lotion yang kupakai tidak cocok, tapi yang kamu rekomendasikan benar-benar membantu!"
Di ruang OSIS setelah jam sekolah, para anggota OSIS sedang mengonrol.
Saat ini adalah akhir dari kegiatan OSIS, dan beberapa siswa tetap tinggal untuk mengobrol, yang merupakan pemandangan biasa. Yah, aku sendiri hanya diam-diam menyelesaikan pekerjaan sebagai sekretaris.
Gadis yang diajak bicara oleh siswa perempuan itu adalah Hinata Asahina, yang menjawab sambil tersenyum.
"Benar, lotion itu memang bagus. Aku juga direkomendasikan oleh seorang teman, dan hasilnya luar biasa sehingga merawat kulit menjadi menyenangkan setiap hari. Aku senang kamu menyukainya."
"Benar-benar, Hinata, kamu adalah penyelamat kulitku. Dewi memang bisa diandalkan!"
"Sudah, berhenti begitu. Aku bukan dewi."
Dewi Bunga Matahari—itulah julukan Hinata yang paling terkenal di sekolah ini.
Prestasinya selalu berada di puncak kelas, penampilannya sangat cantik, sebagai ketua OSIS dia sangat dihormati oleh siswa dan guru, dan dikabarkan dia juga pandai mengurus rumah.
Itulah Hinata, gadis yang dicintai oleh semua orang.
Baiklah, sepertinya pekerjaan sekretarisku hampir selesai. Ketika aku berpikir begitu,
"Hinata-san, apa kamu ada waktu setelah ini? Di kafe dekat sini ada kue edisi terbatas, mau pergi bersama?"
"Ah… Hari ini sepertinya tidak bisa. Maaf, padahal kamu sudah mengundang."
"Ah, begitu ya. Kalau begitu, bagaimana dengan besok?"
Sambil berbicara dengan siswa perempuan itu, Hinata mengeluarkan Hp-nya dan mengetuk layar.
lalu tak lama Hp-ku yang ada di saku bergetar.
Pesan dari Hinata masuk di aplikasi chat.
—Aku ingin berbelanja untuk makan malam hari ini, apa kau mau menemaniku?
—Oke. Aku akan menunggu di depan gerbang sekolah.
Setelah membalas pesan itu, aku menyelesaikan pekerjaanku dan keluar dari ruang OSIS.
Hinata tiba beberapa menit kemudian. Aku melambaikan tangan ringan,
"Kerja bagus. Temanmu sudah mengundang, apa kamu tidak apa-apa?"
"Kalau tidak segera membeli bahan makanan, aku tidak bisa memasak makanan yang layak. Kamu juga tidak mau kan kalau harus melewatkan makan malam, Yuto?"
"Begitu ya, jangan sampai itu terjadi. Oke, serahkan saja urusan membawa barang padaku."
"Iya, iya, adik yang perhatian kepada kakaknya."
Hinata tertawa kecil sambil bercanda.
Meskipun Hinata menyebutku adik, kami sebenarnya bukan saudara kembar atau semacamnya.
Awalnya kami adalah teman sekelas, tapi karena suatu alasan sekarang kami tinggal bersama. Itulah Hinata.
Sejujurnya, rasanya masih sangat aneh memikirkan Hinata sebagai kakak.
"Yuto-kun, ada makanan yang ingin kamu makan hari ini?"
"Hmm, bagaimana ya. Oh iya, gratin jamur yang kamu buat kemarin enak sekali. Aku ingin memakannya lagi."
"Oh, kamu suka itu ya. Kalau begitu, aku akan membuatnya lagi untukmu."
Di bawah langit yang berwarna jingga oleh sinar matahari senja, aku berjalan pulang bersama Hinata. Rasanya benar-benar aneh.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya—bahwa aku akan tinggal bersama teman sekelas yang dulu menjadi cinta pertamaku, apalagi sekarang kami menjadi keluarga.
"…? Yuto-kun, ada apa? Kamu kelihatan melamun."
"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya belum terbiasa berbelanja makanan bersama Hinata."
"Ha ha ha, mungkin begitu. Aku juga masih terkejut. Kita kan baru saja menjadi keluarga."
Dan itu dengan gadis yang sudah lama aku cintai diam-diam.
Hinata adalah teman sekelasku, ketua OSIS, dan Dewi Bunga Matahari. Dia adalah sosok yang terlalu cemerlang bagi pria biasa sepertiku untuk dicintai.
Namun, sebulan yang lalu, pada hari itu, kehidupan kami berubah.
Kami bukan lagi hanya teman sekelas—kami sekarang adalah keluarga.

