> Cerita 2

Cerita 2

 Kamu saat ini sedang membaca   Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka?  volume 2,  chapter 3 cerita 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw

ISTRIKU SEDANG BERGANTUNG PADAKU DAN INGIN BERADA DI SAMPINGKU KARENA KAMI SEDANG BERKENCAN



Karena aku membaca kalo untuk kencan di hari istimewa disarankan untuk memberikan kejutan, aku belum memberi tahu Riko tujuan kami hari ini.


Soal tempat tujuan, Asakura banyak membantuku memberi saran, dan dia memberiku jaminan kalo tempat itu pasti tidak akan salah, jadi seharusnya itu tidak masalah... 


Rute menuju tempat tujuan sudah aku periksa lebih dari 100 kali, dan semuanya sudah aku hafal di luar kepala.


Kepada Riko, aku mengatakan kalo tempat tujuannya akan dirahasiakan sampai kami tiba.


Mendengarnya, Riko berkata, "Wah, hebat! Aku jadi berdebar-debar menantikannya" sambil bertepuk tangan menunjukkan kegembiraannya.


Tingkah lakunya saat itu benar-benar sangat menggemaskan, sampai-sampai aku merasa bersyukur dari lubuk hatiku karena memutuskan untuk memberikan kejutan.


★★★


Ketika aku keluar dari apartemen bersama Riko, langit biru cerah.


Kalo seperti ini, mungkin musim hujan sudah berlalu.


Cuaca yang bersahabat merupakan awal yang menjanjikan.


Aku membawa Riko menuju Stasiun Ōfuna, lalu menaiki kereta yang datang sesuai jadwal.


Di hari Minggu, kereta memang lebih sepi dibanding hari kerja, tapi tetap sulit untuk menemukan tempat duduk yang kosong.


Tapu, beruntung, di stasiun berikutnya penumpang yang duduk di hadapan kami turun, dan satu kursi di depan kami kosong.


"Riko, duduklah."


"Aku tidak apa-apa, Minato-kun saja."


"Eh!? Tidak, tidak, Riko saja yang duduk!"


Riko menggelengkan kepalanya dengan ekspresi bingung.


Padahal di majalah tertulis kalo yang terpenting adalah menjaga agar gadis tidak kelelahan, tapi karena hal yang tidak terduga terjadi, aku jadi cukup panik dalam hatiku.


Gawat. Bagaimana aku harus menangani situasi ini?


Ya-yang terpenting adalah memastikan Riko tidak kelelahan...!


"Aku sedang ingin berdiri, jadi Riko jangan sungkan dan duduk saja!"


"Ingin berdiri?"


Riko berkedip beberapa kali, lalu dia menutup mulutnya dengan tangannya dan tertawa kecil.


"Fufu. Minato-kun, kau sedang berusaha memberiku tempat duduk, kan?"


Ugh. Niatku langsung terbongkar dengan mudah.


Dengan begini, Riko yang lembut justru akan semakin merasa sungkan.


Seperti yang kuduga, Riko mengatakan hal seperti ini.


"Nee, Minato-kun, kira-kira berapa lama lagi sampai tujuan kita?"


"Ehm...sekitar 30 menit lagi."


"Kalo begitu, bagaimana kalo kita bergantian duduk di tengah perjalanan?"


"Itu tidak bisa..."


"Eh?"


Karena aku ingin agar Riko tidak lelah, jadi kalo kami bergantian di tengah perjalanan itu tidak ada artinya.


Justru karena aku berdiri di hadapannya, Riko jadi semakin merasa tidak enak.


"Aku akan bersandar di bagian belakang gerbong. Riko tetap duduk di sini."


Aku memegang kedua bahu Riko dengan kuat sdan menyuruhnya duduk.


Riko yang pipinya memerah berkata, "Ini curang" sambil menatapku dari bawah dengan ekspresi mendongak.


"Nanti saat sudah mendekati stasiun tujuan, aku akan memaangilmu."


".....! Minato-kun..."


Riko memanggilku dengan suara kecil penuh kecemasan, tapi aku menguatkan hatiku dan meninggalkan tempat itu.


Kalo aku membelakanginya seperti ini, kami tidak akan saling menatap, dan Riko tidak perlu merasa sungkan terhadapku.


Padahal hari ini Riko terlihat lebih imut dari biasanya, jadi sebenarnya aku ingin terus melihatnya dalam pandanganku... 


Tapi yang paling benar tentu saja adalah mengutamakan Riko lebih dari keinginanku sendiri.


★★★

 

Sambil terus menatap iklan dalam kereta yang membosankan, aku mengucapkan dalam hati berbagai aturan untuk menyukseskan kencan yang telah kuhafalkan selama beberapa hari, dan pada saat itu, kereta berhenti di stasiun berikutnya.


Beberapa orang turun satu per satu, dan beberapa orang naik satu per satu.


Setelah arus orang-orang mereda dan pintu kereta tertutup──


"Minato-kun"


Saat mendengar suara lembut yang nyaman di telingaku itu, aku terkejut dan menoleh ke belakang, lalu melihat Riko berdiri tepat di belakangku dengan wajah sedikit cemberut.


Di kursi yang tadi diduduki Riko, kini ada seorang wanita yang membawa barang bawaan besar.


"Apa kau memberikan tempat dudukmu?"


"Ya. Karena aku ingin tetap bersama Minato-kun. Hmph, kau tega sekali meninggalkanku."


"Ma-maaf..."


Begitu aku langsung meminta maaf, Riko segera tersenyum.


"Ya, karena ini kencan yang spesial, kita akan tetap bersama."


"Eh?Wa!?"


Riko menggenggam erat tanganku yang tidak memegang pegangan tangan.


A-apa ini...betapa menggemaskan makhluk ini...!


"Berpisah dari Minato-kun selama 30 menit saja sudah terasa menyedihkan."


"......!!"


"Ehehe. Karena ini kencan, sepertinya aku jadi terlalu senang. Mungkin karena itu, aku jadi lebih manja dari biasanya. ...Minato-kun, apa kau tidak suka kalo aku menempel seperti ini? Atau mungkin aku merepotkan karena ingin selalu bersamamu bahkan saat di kereta... Kalo Minato-kun merasa terganggu, meskipun sedih, aku akan menahan diri..."


“Tentu tidak! Kau sama sekali tidak mengganggu...!"


"Benarkah?Kau tidak sedang memaksakan diri, kan?"


"Tidak! Benar-benar tidak!"


"Begitu ya... Syukurlah..."


Di samping aku yang masih panik, Riko menempel erat sambil menyipitkan mata dengan ekspresi bahagia.


Karena jarak kami lebih dekat dibandingkan saat bergandengan tangan di kereta minggu lalu, dadaku terasa sangat sesak.


Tentu saja, minggu lalu juga begitu, dan saat naik kereta penuh saat perjalanan musim semi pun jantungku terus berdebar, tapi kebahagiaan kali ini benar-benar berbeda.


Ini gawat... Aku terlalu bahagia hingga aku tidak bisa berpikir jernih... 


Apa tidak apa-apa kalo kami sedekat ini di kereta...!?


Tidak, tapi kalo hanya bergandengan tangan mungkin masih bisa dimaklumi... 


Dimaklumi...dimaklumi... Tidak bisa, kebahagiaan ini membuat pikiranku seperti meleleh... 


Aku yang sedang larut dalam perasaan bahagia itu, membutuhkan waktu hingga 3 stasiun untuk bisa menenangkan diriku kembali.



Sebelumnya     Daftar isi     Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال