> CHAPTER 3 KENCAN PERTAMA───BALAS DENDAM!

CHAPTER 3 KENCAN PERTAMA───BALAS DENDAM!

 Kamu saat ini sedang membaca   Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka?  volume 2,  chapter 3 cerita 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw


CERITA 1 AKU INGIN MEMBUAT ISTRIKU BAHAGIA!



Jumat, sebelum kencan bersama Riko di akhir pekan.


Begitu waktu makan siang berakhir, aku meletakkan setumpuk dokumen seperti gunung di hadapan Sawa.


".....Apa ini?"


Sawa mengambil salah satu dokumen yang terbentang di atas meja kantin dengan ekspresi curiga.


"『Peta Kencan di Kanagawa』, 『10 Rencana Kencan yang Membuat Pacar Bahagia』, 『Penjelasan Lengkap Perilaku yang Dibenci Saat Kencan Pertama!』, 『Buat Pacarmu Tersenyum dengan Kencan Ideal』 ...Serius, ini semua apa sebenarnya?」


"Sebenarnya, aku ingin berkonsultasi lagi denganmu mengenai Riko──"


Sambil tetap merahasiakan fakta kalo aku tinggal bersama Riko, aku menceritakan kejadian saat kencan di toko elektronik, serta keinginanku untuk menebusnya melalui kencan balasan pada hari Minggu.


Ketika mendengar kalo aku mengajak Riko ke toko elektronik, ekspresi Sawa langsung menjadi suram, dan saat sampai pada bagian mengenai hamburger, dia memegangi kepalanya.


"Niiyama, kau benar-benar tidak memahami perasaan perempuan sama sekali....!"


"Ugh... Aku rasa memang begitu..."


"Makanya! Bukankah aku sudah bilang sejak awal, kau harus belajar tentang cinta untuk berjaga-jaga kalo suatu saat hal seperti ini terjadi!"


"Aku pikir 'kali suatu saat' itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi dalam hidupku..."


"Tapi kenyataannya keajaiban itu benar-benar terjadi, kan?"


"Ya....."


"Itulah maksudku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup. Karena itu, hidup dengan menyerah begitu saja tanpa harapan itu terlalu sia-sia. Dan sekarang kau panik karena tidak mempersiapkan diri ketika kebahagiaan akhirnya datang, benar? Dengar baik-baik, Niiyama. Mulai sekarang, kau harus mencontoh diriku dan menjadi lebih positif."


Sawa menepuk-nepuk bahuku dengan wajah penuh belas kasihan.


Aku mengangguk sambil berpikir bahwa jika kepribadianku dan kepribadian Sawa digabungkan, mungkin akan menjadi manusia yang ideal.


"Lalu, hal apa yang membuatmu bingung, Niiyama?"


"Pertama-tama, aku ingin menentukan tujuan kencan kami."


"Kalo soal kencan, tentu saja tempatnya seperti taman hiburan, akuarium, bioskop, atau pemandangan malam, kan?"


"Ya. Tempat-tempat seperti itu memang banyak tercantum dalam dokumen yang aku kumpulkan."


"Tuh, kan?"


「Tapi, untuk mengunjungi semuanya dalam sehari jelas itu tidak memungkinkan, jadi aku ingin memusatkan pilihan ke satu tempat saja. Di antara semuanya itu, sebenarnya mana yang paling bagus?"


"Itu sih, tinggal kau tanya saja apa keinginan Riko-hime."


"Aku sudah memohon agar dia membiarkan aku yang menentukan tempat tujuan dan rencana selama di sana, karena aku ingin sebisa mungkin membuat Riko bahagia dengan kemampuanku sendiri."


"Kau ini, langsung menaikkan level kesulitannya setinggi itu..."


"Ya, aku juga sadar kok. Tapi karena aku sudah memutuskan untuk berusaha sebaik mungkin demi Riko, aku tidak bisa lagi bersikap lemah dan berkata kalo aku belum sanggup mengajaknya kencan."


"Oh. Sekarang kau sudah mulai bicara dengan sikap positif, ya. Baiklah, kalo kau bilang ingin berusaha, aku juga akan membantumu semampuku. Serahkan saja pada spesialis cinta sepertiku, kau tidak perlu khawatir soal apa pun!"


"Terima kasih. Jadi, beberapa hari ini aku terus-menerus mencari informasi tentang kencan, tapi aku tetap tidak tahu ke mana aku harus mengajak Riko agar dia benar-benar senang. Soalnya, suasana dan kegiatan di taman hiburan dan bioskop itu kan sangat berbeda. Jadi aku tidak bisa asal pilih salah satunya... Karena itu aku ingin mendengar pendapatmu, Sawa. Menurutmu bagaimana?"


"Eh, ee...e...itu..."


Tiba-tiba, semangat Sawa menurun drastis.


Aku merasa sedikit khawatir, lalu aku melanjutkan pertanyaanku.


"Bukan hanya soal tujuan, majalah-majalah yang aku baca juga menyarankan hal-hal berbeda soal apa yang harus dilakukan saat di sana. Ada yang bilang sebaiknya memimpin secara aktif, tapi ada juga yang bilang kalo terlalu agresif justru membuat perempuan merasa risih. Ada pendapat yang bilang kalo tidak bergandengan tangan, perempuan akan kecewa, tapi juga ada peringatan agar tidak salah menilai jarak. Semakin aku mencari informasi, aku malah semakin bingung, aku merasa seperti tersesat dalam labirin..."


"Kalo dipikir-pikir, kantung matamu parah juga. Jangan-jangan kau hampir tidak tidur, ya?"


Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman lemah.


"Hei, Niiyama. Kalo dipikir-pikir, bukankah mustahil kita bisa menemukan jawaban yang benar hanya dengan berdiskusi berdua saja? Kita saja tidak paham perasaan perempuan, dan kita juga tidak tahu kesukaan Riko-hime."


"Kau ada benarnya juga..."


"Untuk hal seperti ini, paling tepat kalo kita tanya pada teman perempuan yang dekat dengan Riko-hime."


Ucapan Sawa memang masuk akal.

 

"Teman perempuan yang dekat dengan Riko."


Yang langsung terlintas di benakku adalah sosok Asakura Reina.


Di antara kelompok perempuan yang biasa bersama Riko, Asakura terlihat yang paling dekat dengan Riko, dan dia juga satu-satunya orang yang pernah berbicara denganku, jadi dibandingkan gadis lain, hambatan untuk berkonsultasi dengannya sedikit lebih rendah daripada gadis-gadis lain.


Meski begitu, Asakura yang suka mengucapkan lelucon tidak senonoh dengan suara lantang tetap memberiku kesan sebagai gadis yang kuat, dan bukan tipe yang mudah untuk diajak berkonsultasi.


Meminta nasihat dari Asakura sepertinya akan membutuhkan keberanian besar.


"Oi, Niiyama. Kau terlihat sangat serius memikirkan sesuatu, apa kau tidak apa-apa?"


"Ah, ya. Aku hanya sedang berjuang melawan diriku sendiri yang hampir goyah karena kebiasaan lama."


"....Kelihatannya cukup berat ya."


Tentusaja mengubah kepribadian diri sendiri memang jelas sulit, tapi kalo terus berkata begitu, aku tidak akan pernah bisa berubah.


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk dengan tegas.


"Baik. Aku akan mencoba berkonsultasi pada Asakura."


Kalo itu Asakura yang paling dekat dengan Riko di kelas, dia pasti cocok untuk dijadikan tempat berkonsultasi.


"Hah!? Serius...!? Ya, memang kalo Asakura sih pasti jauh lebih bisa diandalkan dibanding aku, tapi...berbicara dengan gadis populer seperti dia bukankah menakutkan?"


Tentu saja menakutkan.


Meskipun aku pernah berinteraksi deganya saat karyawisata, setelah itu aku sama sekali belum berbicara dengan Asakura.


Memang sejak awal aku memiliki rasa enggan yang kuat terhadap perempuan secara umum.


"Meski begitu, aku sudah memutuskan untuk berusaha. Aku tidak bisa terus-menerus kalah pada diriku yang lemah seperti sebelumnya."


"Niiyama... Kau telah berubah..."


"Eh. Benarkah?"


Karena memang sedang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berubah, aku tanpa sadar sedikit terburu-buru saat menanyakan hal itu.


"Ya. Dulu kau lebih pasif terhadap segala hal, kan? Bahkan ini pertama kalinya kau berkonsultasi denganku. Kau benar-benar memperhatikan Riko-hime, ya. Aku mendukungmu, jadi semangatlah."


"Terima kasih, Sawa. Rasanya kata-katamu barusan telah mendorongku. Aku akan pergi mencari Asakura!"


"Kalo kau ditolak, aku akan menghiburmu."


"Ya, aku mengandalkanmu!"


★★★


Sayangnya, saat istirahat makan siang, Asakura terus menempel pada Riko, jadi tidak ada sedikit pun celah untuk diam-diam mendekatinya tanpa sepengetahuan Riko.


Tapi, keberuntungan datang pada akhir pelajaran kelima.


Riko, yang bertugas hari itu, keluar dari kelas untuk membawa bahan pelajaran yang akan digunakan di pelajaran keenam.


Aku tidak bisa hanya melewatkan kesempatan ini, jadi aku dengan cepat menuju kursi Asakura.


Asakura menaikkan satu alis dengan ekspresi terkejut saat melihatku muncul di hadapannya.


Gawat. Asakura yang ada di depanku terasa lebih mengintimidasi dari yang kubayangkan.


Aku jadi begitu tegang sampai merasa seakan-akan kejadian kami satu kelompok saat karyawisata hanyalah ilusi.


"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?"


Aku hanya bisa mengangguk cepat-cepat sebagai jawaban.


Tidak, aku tidak boleh bersikap selemah itu.


Kumpulkan keberanian...!


"A-ano! Aku ingin bicara berdua saja dengan Asakura, apa aku bisa minta sedikit waktumu...!?"


"Berdua saja? Hmm. Baiklah, ikut aku."


Asakura memanggilku dan kami berdua keluar ke lorong.


Kami lalu menaiki tangga dan menuju ke selasar di antara lantai empat dan atap.


"Jadi? Kenapa kau tiba-tiba memanggilku diam-diam begini? Artinya, ini pembicaraan yang akan jadi masalah kalo didengar orang lain, kan?"


Hanya berdua dengan gadis saja sudah cukup membuat tubuhku kaku, tapi Asakura menatap mataku dengan penuh rasa ingin tahu.


"Kalo kau diam saja aku tidak akan tahu. Ayo cepat jelaskan."


Asakura mendekat dengan gaya menggoda, seakan mengejek aku yang sudah sangat gugup.


Gawat, gadis lain selain Riko memang terlalu menakutkan...!


Aku hampir berteriak dan buru-buru mundur.


Po-pokoknya aku harus menyampaikan tujuanku!!


"A-a-a-aku! Ingin kencanku dengan Riko berjalan lancar! Jadi...bisakah Asakura membantuku!?"


"Kencan dengan Riko?"


"I-iya...!"

 

Aku memberi penjelasan yang sama kepada Asakura seperti yang aku berikan kepada Sawa.


Berbeda dengan Sawa, semakin pembicaraan berlangsung, ekspresi Asakura tampak semakin tertarik.


"Ahaha, begitu ya, jadi itu yang terjadi! Aku tidak mengerti kenapa kau menganggap kencan sebelumnya sebagai kegagalan, tapi yah, perasaanmu yang ingin membuat Riko senang sudah sangat jelas."


Asakura tertawa ceria, lalu berkata, "Masa muda sekali, ya", sambil menepuk-nepuk pundakku.


Sikapnya memang sedikit seperti orang tua, tapi itu jauh lebih menenangkan dibandingkan dengan sikapnya tadi.


"Sebenarnya, karena kau memanggilku saat Riko tidak ada, aku sempat mengira kau pria yang berselingkuh, jadi aku mencoba mencari tahu. Tapi ternyata, Niiyama-kun adalah orang yang tulus. Kalo begitu, aku bisa dengan tenang mempercayakan Riko padamu."


"Selingkuh!? Itu tdak mungkin...!"


Hati dan pikiranku sepenuhnya dipenuhi oleh Riko, tidak ada sedikit pun celah bagi orang lain untuk masuk.


Lagipula, aku tidak cukup pintar untuk bisa berselingkuh, dan gadis selain Riko tetap menjadi sumber ketakutan bagiku.


Ketika aku membantah dengan suara yang terdengar panik, ekspresi Asakura semakin ceria.


"Tapi ya, menurutku kau tidak perlu repot-repot merencanakan semuanya. Niiyama-kun, kau ingin membuat Riko bahagia, kan? Kalo itu masalahnya, kau hanya tinggal bertindak sesuai perasaan yang kau rasakan."


"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membuatnya bahagia. Kalo aku bertindak hanya berdasarkan perasaanku, bukankah hasilnya malah akan berantakan...?"


"Eh? Tapi kalo memang begitu, tidak apa-apa juga. Karena dia akan merasa bahagia hanya dengan tahu kau berusaha yang terbaik untuknya, bahkan kalo usahamu tidak tepat sasaran."


Aku hanya bisa membayangkan masa depan di mana aku kembali gagal dan merusak kencan kami lagi.


Saat aku terdiam dengan wajah pucat, Asakura menghela napas seakan dia sudah menyerah.


"Yah, mau bagaimana lagi. Aku akan memberitahumu beberapa pola jawaban template sebagai panduan."


"....! Terima kasih, Asakura! Aku benar-benar berhutang budi padamu...!"


★★★


Setelah itu, Asakura memberiku beberapa nasihat.


"──Berkat Asakura, aku bisa menentukan tempat tujuan kami, jadi aku benar-benar terbantu."


Sejak mengalami trauma, ini adalah pertama kalinya aku berbicara dengan gadis selain Riko, jadi aku benar-benar butuh keberanian besar, tapi ternyata memang keputusan yang tepat untuk berkonsultasi dengan Asakura.


"Tapi tetap saja, Niiyama-kun kau sungguh tulus, ya?"


"Eh?"


"Pacar yang mau berusaha sejauh ini demi kekasihnya itu langka, lho. Aku jadi merasa iri. Kalo Riko tahu, dia pasti akan sangat terharu dan menangis."


"Ah, tolong jangan beri tahu Riko...!"


Riko memang gadis yang baik, jadi aku yakin dia akan senang, tapi mengatakan kalo dia akan menangis itu berlebihan.


"Tapi sebenarnya, kau tidak perlu menyusun rencana sedemikian rupa. Menjadi diri sendiri apa adanya dan menyampaikan perasaanmu dengan jujur adalah yang terbaik. Kalo kau sampai benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan merasa putus asa, ingatlah kata-kataku yang barusan."


Asakura mungkin berkata begitu karena dia tidak tahu seberapa tidak mampunya diriku sebagai pasangan kencan.


Meskipun begitu, karena itu adalah nasihat dari Asakura yang bisa diandalkan, aku memutuskan untuk menyimpan kata-kata itu di sudut hatiku.


★★★

 

Dan akhirnya hari Minggu yang telah dijanjikan pun tiba.


"Minato-kun, aku sudah bersiap-siap, bagaimana menurutmu pakaianku ini?"


Dengan mengingat hal itu, Riko muncul di hadapanku, Riko benar-benar terlihat seperti peri───itu bukan hanya sebagai kiasan, tapi dia sungguh-sungguh seperti peri.


"......."


Gaun putih di atas lutut dengan ujung yang berayun lembut, bergoyang setiap kali Riko bergerak.


Pakaian yang memberikan kesan anggun itu sangat cocok untuknya, sampai-sampai itu terasa seolah memang disiapkan khusus untuk Riko.


Rambutnya dikuncir dengan kepangan di bagian samping, dihiasi dengan jepit bunga kecil.


Gaya rambut yang berbeda dari biasanya terasa segar, dan membuat kencan hari ini terasa semakin istimewa.


"Luar biasa... Kau sangat manis..."


Sebelum aku menyadarinya, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.


Aku tersentak dan buru-buru menutup mulutku dengan tanganku, tapi itu sudah terlambat.


Apa yang tadi itu terdengar menjijikkan...!?


Dengan panik aku menoleh ke arah Riko──


Riko sedang tersenyum malu dengan wajah yang begitu manis hingga membuat jepit bunga kecil dan gaun renda putih yang dia kenakan tampak memudar di hadapannya.




Sebelumnya     Daftar isi    Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال