Kamu saat ini sedang membaca Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka? volume 2, chapter 2 cerita 4. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw
DIMANA HIKOBOSHI RIKO SEKARANG?
Kalo itu adalah aku yang dulu, aku tidak akan pernah berpikir untuk melangkah lebih jauh kalo ada kemungkinan kecil kalo tanggapan yang buruk akan diterima.
Tapi aku yang sekarang ingin berubah menjadi diriku yang bisa berani dan berusaha demi bisa disukai oleh Riko.
Karena itu, kalo ada kemungkinan, meskipun hanya satu dari sejuta, kalo hal itu bisa menjadi kesempatan baik untuk mendekatkan diri dengan Riko, aku ingin mencoba membicarakan masa lalu dengannya.
Ba-baik!!
"Riko! Kembali ke pembicaraan kemarin...! U-umm, soal orang yang Riko temui saat masih di TK itu..."
"Anak laki-laki yang jadi cinta pertamaku?"
".....! .......Anak itu adalah cinta pertamamu, kan?"
"Ya. Dia cinta pertamaku, dan sampai sekarang pun dia masih orang yang aku sukai."
"......Nnnn!?"
Be-begitu ya...!!
Kata-kata yang pernah diucapkan Riko terlintas kembali dalam ingatanku.
『Saat aku lulus dari TK, aku harus pindah ke luar negeri lagi karena pekerjaan Ayah ku, jadi setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan anak laki-laki itu. Tapi, setelah aku kembali ke Jepang saat SMP, aku bisa bertemu lagi dengannya. ──Dia tidak berubah sama sekali, dia tetap sangat baik seperti saat kami masih kecil. Ketika aku melihatnya tersenyum dengan sedikit malu, dadaku terasa berdebar... "Ah, ternyata aku sudah menyukai orang ini sejak usia 5 tahun ya", aku sadar akan perasaanku seperti itu.』
Kalo begitu...!!
Cinta pertama Riko = aku saat di TK (harusnya begitu).
Cinta pertama Riko = orang yang masih dia sukai sampai sekarang.
Dengan begitu, orang yang masih Riko sukai sampai sekarang = aku...!?
Sejenak, aku hampir melupakan segalanya dan merasa sangat senang tanpa bisa menahan diri.
Tapi, ketika aku hendak mengangkat tangan membuat pose kemenangan, aku tersadar kembali.
Tunggu dulu...
Kembali ke Jepang dan bertemu lagi setelah SMP...?
Cara dia mengatakannya itu agak mengganjal.
Aku dan Riko bertemu lagi saat kami sudah menjadi siswa SMA.
"...Riko, soal itu...kalo tidak salah dulu kau bilang kalo kau sudah bertemu lagi dengan cinta pertamamu, kan...?"
"Minato-kun, kau masih ingat cerita itu ya. Aku senang sekali. ──Benar. Aku kembali ke Jepang pada musim semi kelas 2 SMP, lalu beberapa bulan setelahnya aku bisa bertemu lagi dengannya. Kenangan musim panas yang kuhabiskan bersama dia adalah salah satu harta berharga bagiku."
"........."
.......Apa sebenarnya maksud semua ini.
Aku tidak pernah bertemu dengan Riko pada musim panas saat kelas 2 SMP.
Meskipun aku telah melupakan hal-hal yang terjadi saat di TK, setidaknya kenangan masa SMP masih kuingat dengan jelas.
Karena itu, aku bisa mengatakan dengan pasti.
Kalo aku pernah bertemu dengan gadis secantik Riko, tidak mungkin aku melupakannya.
Lalu, siapa sebenarnya yang menghabiskan musim panas itu bersama Riko...?
Aku tidak punya cara untuk mengetahuinya, selain kalo orang itu bukan aku.
Lebih dari itu, Riko mengatakan kalo dirinya menyadari perasaannya karena berinteraksi dengan orang itu (sebut saja laki-laki-A), merasakan kebaikan hatinya, dan merasa berdebar saat melihat wajahnya yang tersenyum.
Riko mengira kalo laki-laki-A adalah anak laki-laki yang dia temui saat dia masih di TK, sehingga dia percaya kalo dirinya telah menyukai anak laki-laki itu sejak dulu hingga sekarang, tapi sungguh menyedihkan itu hanyalah kesalahpahaman Riko.
Orang yang membuat Riko menyadari perasaannya = laki-laki-A.
Dalam anggapan Riko, laki-laki-A = anak laki-laki yang ditemui di TK.
Karena itu, Riko sampai pada kesimpulan: anak laki-laki yang ditemui di TK = cinta pertama = orang yang masih dua sukai hingga sekarang.
Kalo laki-laki-A itu bukan aku, maka bahkan bisa dipertanyakan apakah Riko benar-benar pernah jatuh cinta pada anak laki-laki yang ditemuinya di TK dulu.
Terlepas dari hal itu, satu hal yang pasti adalah kalk orang yang disukai Riko saat ini adalah laki-laki-A, dan bukan aku.
......Entah kenapa aku merasa ingin mati.
Padahal beberapa saat yang lalu aku begitu gembira karena yakin kalo akulah orang yang disukai Riko, sekarang aku merasa seolah dijatuhkan ke dasar jurang.
Aku benar-benar iri pada laki-laki-A itu.
Dalam proses Riko jatuh cinta pada laki-laki-A, setidaknya kenangannya bersamaku di masa kecil pasti menjadi salah satu pemicunya.
.....Sial.
Aku merasa seolah-olah kenanganku bersama Riko telah dicuri oleh laki-laki-A itu.
Meskipun aku tidak pantas berkata begitu karena akulah yang melupakan kenangan itu, tapi tetap saja aku merasa tidak berdaya.
Sebenarnya, aku ingin segera mengaku kalo akulah orang yang dulu menyapa Riko saat di TK.
Tapi....
Kalo Riko tahu kalo kenangannya bersama laki-laki-A, orang yang dia sukai, sebenarnya adalah kenangan bersama diriku, dia pasti akan kecewa.
Aku tidak sanggup melakukan sesuatu yang akan merenggut kebahagiaan Riko demi kepentinganku sendiri.
Memangnya sejak kapan aku jadi orang yang begitu lancang berharap bisa disukai oleh Riko secara tiba-tiba seperti durian runtuh?
Aku harus kembali pada niat awalku—berusaha keras agar bisa disukai oleh Riko.
Berharap akan perasaan dari Riko itu baru bisa aku lakukan setelah aku mampu melakukan semua itu.
Sekarang ini jelas, aku masih belum cukup pantas untuk menjadi Hikoboshi untuk Riko.
Ini bukan saatnya untuk larut dalam kekecewaan atau merasa iri pada laki-laki-A.
Lagi pula, lawan yang sebenarnya harus aku hadapi bukanlah laki-laki-A, melainkan diriku sendiri yang negatif, tidak percaya diri, dan tidak punya satu pun hal yang bisa disukai Riko.
Kalahkan diriku yang menyedihkan ini.
Karena merasa terpukul oleh kejadian hari ini, justru itu harus kujadikan pemicu untuk berusaha sekuat tenaga dalam kencan akhir pekan nanti.
Begitu aku berpikir seperti itu, entah kenapa semangat mulai muncul dari dalam tubuhku.
Aku merasa kalo sekarang, aku bisa membuat kencan hari Minggu nanti berhasil.
"Riko...! Aku jadi semakin menantikan hari Minggu ini...! Ah, sejak awal aku memang sudah menantikannya sih! Tapi sekarang rasanya lebih dari sekadar itu, aku merasa begitu bersemangat... Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini...maksudku, aku bahkan tidak tahu aku sedang bicar apa sekarang. Maaf...!"
Aku ingin mengucapkannya dengan benar, agar aku tidak mencari-cari alasan dan kembali menjadi diriku yang lemah seperti biasanya karena pikiran negatif.
Karena belum terbiasa, ucapanku jadi gugup dan terbata-bata, tapi pipi Riko malah sedikit memerah.
"Aku juga sangat menantikannya...!"
"Aku akan menjadikannya sebagai hari yang istimewa. Aku ingin kau menantikannya."
Agar bisa disukai Riko meski hanya sedikit saja, aku akan berusaha mati-matian.
Begitulah yang aku bisikkan dalam hati.
Dan suatu hari nanti, saat Riko akhirnya menoleh ke arahku──
Saat itulah aku ingin mengatakan padanya kalo anak laki-laki dalam kenangannya itu adalah aku.
Riko mungkin terkejut melihat diriku yang berbeda dari biasanya.
Pipinya masih memerah, dan dia terus berkedip-kedip berkali-kali.
Sudah jelas, penampilannya yang seperti itu sangatlah imut.
Beberapa hari lagi menuju hari Minggu—hari saat takdir akan mulai bergerak──

