Kamu saat ini sedang membaca Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka? volume 2, chapter 2 cerita 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw
TANABATA
Karena semalam aku memikirkan berbagai hal tentang masa laluku bersama Riko, aku hampir tidak bisa tidur.
Ini sama dengan malam ketika aku dan Riko mengalami kekacauan tempo hari, dan belakangan ini aku beberapa kali mengalami kejadian serupa.
Sebagai seseorang yang tidak pernah tahu tentang cinta, tidak bisa tidur karena terus memikirkan satu orang sepanjang malam adalah sesuatu yang sulit dipercaya.
Tapi, meskipun malam-malam tanpa tidur semakin sering terjadi, aku sama sekali tidak berpikir untuk berhenti menyukai Riko—dan itu luar biasa.
Aku cukup terkejut mengetahui kalo dalam diriku terdapat sisi yang begitu penuh semangat.
...Meskipun begitu, tetap saja aku mengantuk.
Mungkin karena masih berusia 18 tahun, aku masih dapat bertahan mengikuti pelajaran sepanjang hari meskipun tidak tidur semalaman.
Tapi, sesampainya di rumah dan menyantap makan malam lezat buatan Riko, rasa kantuk luar biasa langsung menyerang.
"Fuwaa~ah..."
Saat aku menahan rasa kantuk sambil meminum teh jelai yang diseduh oleh Riko setelah makan, Riko yang mengenakan celemek dan membawa nampan memperlihatkan ekspresi cemas.
"Minato-kun, apa kau kurang tidur? Di kelas tadi kau juga terlihat mengantuk?"
"Eh? Apa kau sudah menyadarinya sejak siang?"
Memang aku merasa mengantuk sepanjang hari, tapi aku tidak sampai tertidur di tengah pelajaran.
Ketika aku bertanya balik dengan terkejut, Riko memasang wajah seolah sedang menasehati, sambil meletakkan tangan kanannya di pinggang.
"Mou, Minato-kun ini. Meskipun tidak diucapkan secara langsung, seorang istri akan menyadari perubahan kecil pada suaminya, lho."
"Be-begitu..."
Baik istilah 'istri dan suami', maupun kenyataan kalo dia memperhatikan perubahan kecil dalam diriku, semuanya terasa begitu memalukan hingga aku menjadi kikuk.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau sampai kurang tidur? Apa Minato-kun sedang memiliki kekhawatiran? Kalo kau tidak keberatan, silakan bicarakan apa pun padaku...! Atau mungkin ini gangguan tidur... Apa yang harus aku lakukan...! Apa kita harus ke rumah sakit? Umm, umm..."
Riko yang mudah khawatir terlihat semakin khawatir seiring dengan perkataannya.
Ketika dia mulai menyebut-nyebut soal ambulans dengan panik, aku segera menghentikannya.
"Riko, jangan khawatir...! Aku hanya tidak bisa tidur tadi malam saja, dan biasanya itu sama sekali tidak ada masalah!"
"Benarkah...?"
"Iya iya!"
"Kalo begitu tidak apa-apa... Tapi kalo hari-hari tanpa tidur itu terus berlanjut, tolong bicarakan denganku, oke?"
"Baik. Aku janji."
Aku mengangguk tegas sambil menatap mata Riko.
Setelah itu, dia akhirnya terlihat tenang dan memperlihatkan senyum biasanya.
Tapi, sesaat setelah itu, ekspresi Riko sedikit meredup.
"Ah... Tapi... Begitu ya."
"Eh?"
"Tidak, tidak ada apa-apa! Setelah mandi nanti, kau harus tidur lebih awal!"
Itu jelas bukan 'tidak ada apa-apa'.
Riko barusan dengan pasti menelan perasaannya dan menahan sesuatu.
Sama seperti Riko yang bisa melihat keadaanku tadi siang, aku juga cukup peka terhadap perubahan perasaan Riko.
Karena, seperti yang dikatakan Riko tadi, meskipun aku begini, aku tetap...suami Riko...!
"Riko, apa yang kamu pikirkan sekarang tadi?"
"Eh!?"
"Sepertinya...kau menahan sesuatu hanya karena aku kurang tidur, kan?"
"Kenapa kamu tahu...?"
"Itu karena───...alasannya sama seperti yang Riko katakan barusan..be-begitu."
".....!! Tu-tunggu...!! Mendadak membuatku deg-degan itu curang..."
Kami berdua sama-sama terdiam dengan wajah memerah.
Bukan, bukan itu maksudku!
"Apa yang kau tahan sebenarnya?"
".....Hari ini tanggal 7 Juli, kan?"
"Ya."
"Apa kau tahu hari ini hari apa...?"
"Tanabata?"
"Benar...! Hari yang romantis di mana Hikoboshi dan Orihime bisa bertemu setahun sekali, dan karena ini acara yang istimewa, aku jadi sedikit ingin melihat bintang bersama Minato-kun... A-ah, tapi, aku benar-benar cuma sedikit berpikir begitu saja! Jangan dipikirkan sama sekali...! Jadi, pembicaraan ini selesai! Nah, Minato-kun, silakan masuk ke kamar mandi."
"Tidak, tidak, tidak, ini belum bisa selesai begitu saja!"
Riko memang berusaha bersikap seolah hanya 'sedikit berpikir begitu saja', tapi bahkan aku yang biasanya lamban menyadari kalo itu tidak tidak benar.
Faktanya, aku bahkan tidak tahu kalo bagi perempuan Tanabata adalah hari yang dianggap istimewa───itu memang kesalahanku.
Yang paling penting adalah, Riko ingin melihat bintang bersamaku.
Aku ingin sekali mewujudkan keinginannya.
Rasa kantukku langsung hilang seketika.
"Baik, Riko! Ayo kita lihat bintang. Karena sudah malam, ke gunung pasti sulit. Ada tempat terdekat yang punya pemandangan bagus tidak, ya. Tunggu sebentar. Aku coba cari di internet."
"Waaaah, Minato-kun! Jangan! Minato-kun kan kurang tidur, jadi kau harus segera tidur. Lupakan saja apa yang aku katakan."
"Riko juga, lupakan apa yang aku katakan tadi. Aku sama sekali tidak mengantuk!"
"Mou, Minato-kun...!"
Aku dan Riko saling menatap beberapa detik, dia merajuk dengan sangat menggemaskan.
Kalo sudah begini, karena kami sama-sama memikirkan satu sama lain, jadi tidak ada yang mau mengalah.
Saat aku tersenyum pahit karena kebingungan, Riko juga ikut tersenyum seakan tertular.
"Nee, Riko. Bagaimana kalo seperti ini? Kita tidak pergi keluar. Sebagai gantinya, kita melihat bintang bersama dari balkon rumah."
"Uuh..."
Riko memalingkan pandangannya seperti sedang ragu.
"Riko」
"....Mou... Memanggil namaku dengan suara selembut itu itu curang..."
Karena aku tidak menyadari nada suaraku sendiri, aku panik memikirkan apakah perasaanku pada Riko tanpa sadar tersirat dalam suaraku.
Tapi, yang terpenting, Riko mengangguk menyetujui dengan usulku.
★★★
Setelah itu, aku dan Riko, kami berdua keluar ke balkon.
Hujan yang turun hingga beberapa saat lalu sudah berhenti, dan di sela-sela awan yang bergerak, banyak bintang berkelap-kelip.
"Waa! Lihat, Minato-kun! Milky Way terlihat dengan jelas, lho."
Riko yang bertepuk tangan dengan gembira dan bersuka ria itu terlalu imut, hingga aku tanpa sadar terpesona saat aku menatapnya, lalu dia berkata dengan malu-malu, "Jangan lihat aku, lihat langitnya."
"Ma-maaf... ──Benar juga. Entah kenapa malam ini bintangnya terlihat lebih jelas dari biasanya. Mungkin karena habis hujan?"
Sambil menatap ke langit, aku bertanya pada Riko yang ada di sebelahku.
"Fufu. Mungkin ini keajaiban Tanabata?"
Aah, sungguh. Bahkan cara berpikirnya pun terlalu imut.
"Minato-kun, kau pasti capek dan kurang tidur, tapi terima kasih sudah menemaniku. Aku senang sekali bisa melihat bintang bersamamu malam ini."
"A-a-aku juga! Aku senang kau mengajakku. Lalu, maaf aku kurang peka soal acara-acara seperti ini. Ternyata Tanabata itu hari yang istimewa bagi para gadis."
"Karena ini acara yang berhubungan dengan cinta, jadi mungkin banyak gadis yang menyukainya. Lagipula, aku sendiri punya perasaan khusus terhadapnya."
"Eh? Kenapa?"
"...Karena aku sangat memahami perasaan menantikan pertemuan kembali dengan seseorang yang sangat berarti bagiku, yang telah terpisah jauh..."
Riko menurunkan pandangannya dari langit malam, lalu menatapku dengan saksama.
Ditatap dengan sorot mata seolah ingin mengatakan sesuatu, dadaku berdetak kencang.
Setelah mengucapkan kata 'pertemuan kembali', lalu bersikap seperti ini... aku tidak bisa menahan harapan itu.
...Jangan-jangan, Riko sudah menyadari kalo orang dalam kenangan masa kecilnya di TK itu adalah aku...?

