Kamu saat ini sedang membaca Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka? volume 2, chapter 4 cerita 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw
PAGI YANG MANIS UNTUK KEKASIH
Aku dan Riko resmi mulai berpacaran sudah beberapa hari.
Seperti yang dia ucapkan malam pertama kami pacaran, Riko mulai menyentuhku setiap hari.
Apa hal itu benar-benar membuat 'tingkat kesiapan hati' kami meningkat atau tidak, aku tidak tahu, tapi sebagai seseorang yang mencintai Riko, aku sama sekali tidak punya keluhan.
Kalo harus menjelaskan seperti apa hari-hari itu, pasti semua pria akan berkata, 'Intu terlalu membahagiakan!'
Sebagai contoh, izinkan aku menjelaskannya dengan menggunakan pagi ini sebagai contoh.
Setelah aku selesai menyantap sarapan buatan Riko, aku pergi ke depan wastafel untuk menggosok gigi, Riko menyusul beberapa saat kemudian.
Sebelum kami berpacaran, kami masih saling menjaga jarak───kalau salah satu sedang di wastafel, yang lain akan menunggu di luar, tapi sejak Riko mengajariku betapa manisnya menggunakan wastafel bersama, segalanya berubah.
Saat pandangan kami bertemu lewat cermin, Riko tersenyum manis dan berkata, "Aku juga mau sikat gigi───" sambil menggoda dan langsung memelukku dari belakang.
Karena aku sudah mulai menyikat gigi, salah satu tanganku sedang sibuk, jadi aku tidak bisa membalas pelukannya.
Riko memelukku erat sambil berdiri diam sejenak, lalu menghela napas puas dan melepaskan pelukannya.
Setelah itu, dia berdiri di sebelahku───cukup dekat sampai lenganku dan lengannya sesekali bersentuhan───dan mulai menyikat gigi juga.
Beberapa hari pertama, aku merasa tidak enak setiap kali kami bersentuhan, jadi aku berusaha mundur ke sisi dalam wastafel, tapi semakin aku menjauh, semakin Riko mendekat.
Setelah kami selesai menyikat gigi dan bisa bicara, Riko tiba-tiba berkata dengan manja, "Jangan menjauh. Aku ingin terus dekat dengan mu..."
Saat itulah aku baru sadar apa maksud Riko.
Ternyata, bagi sepasang kekasih, yang penting bukanlah menjaga jarak agar tidak bersentuhan, tapi justru menikmati kebersamaan dalam jarak yang cukup untuk saling menyentuh.
Menyadari hal itu membuatku merasa geli dan malu secara bersamaan.
Dan yang lebih gawat lagi, bahkan saat sedang menyikat gigi, Riko masih sempat-sempatnya melakukan sedikit keisengan manis dengan tangan kirinya yang kosong.
Kadang menarik-narik ujung kemeja seragamku, kadang mencolek pinggangku dengan ujung jarinya.
Riko memang sudah sangat imut sejak awal, tapi setelah kami pacaran, keimutannya seperti tidak ada habisnya.
Penampilannya tentu saja sudah sangat imut, tapi tindak-tanduknya juga terlalu menggemaskan sampai-sampai aku merasa tak sanggup menahan diri...
★★★
Setelah kami berdua selesai menggosok gigi, Riko memeriksa penampilanku.
Padahal aku sudah tiga tahun bersekolah di SMA ini, tapi aku masih saja tidak becus memasang dasi, sebelumnya pun Riko sering membantuku merapikannya, dan sejak kami mulai pacaran, aku bahkan menyerahkan seluruh proses pemasangannya padanya.
"Kalo begitu, Minato-kun, seperti biasa tolong membungkuk sedikit, ya."
"Mo-mohon bantuannya."
Aku membungkuk agar tangannya bisa menjangkau.
Setiap kali Riko menjulurkan tangan ke arah leherku sambil memegang dasiku, meskipun ini sudah sering kami lakukan, aku tetap saja tegang dan secara refleks menahan napas setiap kali.
"Ya, beres! Selanjutnya, akan aku rapikan rambutmu, ya."
Setelah mengatakan itu, Riko lalu mulai membelai lembut rambut tipisku.
"Fufu. Hari ini juga kau punya bekas tidur yang imut."
"Memalukan sekali... Padahal aku sudah berusaha tidur hati-hati, tapi entah bagaimana, setiap bangun pasti ada bekasnya... Maaf ya, Riko, jadi menyusahkanmu setiap saat."
"Eh, kenapa kau minta maaf? Aku justru sangat suka waktu seperti ini, saat bisa menyentuh rambut Minato-kun. Lagipula aku juga suka sekali bekas tidurnya Minato-kun. Sebenarnya aku merasa sayang kalo harus merapikannya."
"Ya, itu... Itu pasti akan memalukan kalo dilihat orang di sekolah..."
"Fufu, tidak apa-apa, aku tahu kok. Dan karena penampilan Minato-kun yang baru bangun itu hanya milikku, aku tidak akan membiarkan orang-orang di sekolah melihatnya."
Apa-apaan sikap posesif yang imut itu...!?
Para murid lain mungkin sama sekali tidak memiliki ketertarikan padaku, tapi aku tidak memiliki waktu untuk menanggapi hal semacam itu───perasaan berdebar terhadap Riko tidak juga mereda.
Setelah itu, Riko dengan saksama menyisir rambutku, menyemprotkan mist pelurus untuk memperbaiki bekas tidur, lalu merapikannya menggunakan pengering rambut dan catokan.
Ini benar-benar terasa seperti kebahagiaan yang berlebihan...
"Terima kasih untuk semuanya, Riko."
"Tidak, justru aku yang berterima kasih. Karena sekarang aku bisa lebih banyak mengabdikan diriku kepada Minato-kun daripada sebelumnya, aku merasa sangat bahagia."
“Aku justru khawatir telah terlalu bergantung padamu... Meskipun kita sudah pacaran dan menikah, tapi tetap saja ada batasan yang sebaiknya dijaga..."
"...Itu tidak boleh...!”
"Tapi, kalo terus seperti ini, aku merasa akan menjadi seseorang yang tidak bisa melakukan apa pun tanpa bantuanmu."
"...Minato-kun yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpaku... Kedengarannya membuat jantungku berdebar-debar..."
"Ri-Riko-san...!?"
Ketika sisi Riko yang senang mengurus orang lain muncul seperti biasa, waktu pagi kami pun akhirnya mencapai batasnya.
★★★
Setelah penampilanku dirapikan, aku memasukkan bento buatan Riko ke dalam tas, lalu kami berdua keluar rumah secara terpisah.
Meskipun kami telah resmi berpacaran, kami tetap harus merahasiakan kalo kami sudah menikah dan tinggal bersama, untuk hal ini, tidak ada pilihan lain.
"Kalo begitu, Riko. Aku akan menunggumu di Stasiun Ōfuna seperti biasa."
"Ya. Aku akan menyusul dalam 5 menit."
Setelah pertukaran kata-kata yang sudah menjadi kebiasaan itu kami ucapkan di depan pintu, sejenak keheningan mengalir di antara kami.
"...Hari ini juga, bolehkah aku memelukmu?"
Saat dia memastikannya seperti itu lagi, rasanya sangat memalukan.
Sejujurnya, aku merasa lebih nyaman kalo dia langsung memelukku saja seperti saat kami menggosok gigi, tanpa perlu mengatakannya, tapi mungkin bagi Riko, momen seperti ini sebelum kami berpisah dianggap sebagai semacam ritual.
Karena itulah dia selalu memastikan setiap kali seperti ini.
Melihat wajah Riko yang juga merah sampai ke telinga, aku tahu bahwa dia bukan sedang menikmati melihatku malu, melainkan sedang berusaha keras untuk memperpendek jarak hati kami.
Oleh karena itu, aku juga berusaha memberanikan diri untuk merespons.
"U-uhm, si-silakan."
Aku merentangkan tangan, bersiap menyambut Riko ke dalam pelukanku.
Melihat itu, Riko tersenyum dengan wajah sangat senang.
Hari ini pun, setelah menghela napas bahagia, dia melompat ke dalam pelukanku.
Lalu, selama 10 detik, kami saling memeluk dengan erat.
Aku bisa mendengar suara detak jantung Riko berdetak thump-thump.
Pasti detak jantungku juga terdengar oleh Riko.
Deg-degan, sangat malu, namun terasa sangat nyaman.
Setiap kali bersentuhan dengan Riko, perasaan aneh seperti itu selalu datang menyerangku.
"Selamat jalan, Minato-kun."
"Aku berangkat, Riko."
Inilah rutinitas pagi kami setiap hari.
Pada malam hari, Riko akan menyambutku pulang, dan dengan wajah memerah karena malu, dia akan dengan serius mengucapkan ritual seperti, "Mau mandi, makan malam, atau a-k-u?"───tapi itu adalah cerita lain.

