> CHAPTER 4 HUBUNGAN PACARAN PERTAMA KALINYA

CHAPTER 4 HUBUNGAN PACARAN PERTAMA KALINYA

 Kamu saat ini sedang membaca   Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka?  volume 2,  chapter 4 cerita 1. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw

CERITA 1 APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN MULAI MALAM INI?



Sambil memperhatikan luka Riko, kami pulang dari Fureai Bokujou, dan karena kami sempat kehujanan, hal pertama yang kami lakukan sesampainya di rumah adalah mandi.


Soal makan malam, Riko sempat bilang kalo dia akan memasak seperti biasa, tapi karena dia sedang cedera dan pasti lelah setelah seharian bermain, aku mengusulkan untuk memesan makanan cepat saji lewat layanan antar.


Setelah sedikit perdebatan dan membujuk Riko yang tampak merasa bersalah, akhirnya kami selesai makan sekitar lewat jam 7 malam.


Masalahnya datang setelah itu.


Kami duduk berhadapan di meja makan, tapi kami berdua malah jadi canggung dan tidak bisa saling menatap.


Soalnya, malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya.


Gadis di depanku sekarang adalah pacar pertamaku.


Segalanya terasa berbeda dibandingkan saat aku masih menyembunyikan perasaanku dan bersikap biasa padanya, sampai-sampai aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Apa yang sedang Riko pikirkan, ya?


Kalo aku tiba-tiba berubah sikap, apa dia akan merasa aneh?


Atau justru dia mengharapkan adanya perubahan?


Lagipula, aku bahkan nyaris tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang pacar, dan meskipun aku tahu pun, belum tentu aku bisa melakukannya.


Saat aku menyilangkan tangan dan tenggelam dalam pikiranku, tiba-tiba ada sensasi lembut menekan pipiku.


Terkejut, aku mengangkat wajahku, dan melihat Riko merunduk ke arah meja makan, menekan pipiku pelan-pelan dengan ujung jarinya.


Eehh, apa-apaan itu, imut sekali!?


Saat aku benar-benar panik, Riko tertawa nakal ke arahku.


"Soalnya Minato-kun memasang wajah serius, jadi aku sedikit iseng. Ehe~"


Bahkan alasannya imut sekali!?


Sekilas Riko memang terlihat seperti biasa, tapi dalam momen-momen kecil dia jadi tampak malu dan menundukkan pandangan, atau malah menatapku dengan mata yang penuh semangat───jelas dia tidak seperti biasanya.


Gara-gara itu, jantungku tidak berhenti berdebar.


"Jadi, Minato-kun tadi kau sedang memikirkan apa?"


Tanya Riko setelah duduk kembali dengan tenang di kursinya.


Karena sepertinya aku takkan menemukan jawabannya hanya dengan memikirkannya sendiri, aku memutuskan untuk jujur dan mengutarakan perasaanku.


Saat kencan kemarin, aku mencoba menyelesaikan semuanya sendiri dalam pikiranku dan akhirnya malah membuat banyak kesalahan, dari situ, aku belajar kalo memikul semuanya sendiri bukanlah bentuk usaha yang benar.


"Riko mungkin juga sudah menyadarinya, tapi aku, ini pertama kalinya aku pacaran dengan seorang gadis. Jadi...aku tidak tahu secara konkret harus bersikap seperti apa saat pacaran... Apa Riko punya harapan, atau seperti apa kau ingin menjalaninya? Kalo boleh, bisakah kau memberitahuku?"


"Harapan..."


Pipi Riko langsung memerah, tapi tanpa perlu berpikir lama, dia segera menjawab.


"Aku juga baru pertama kali pacaran, jadi aku juga tidak tahu harus bagaimana. Karena itu, aku ingin Minato-kun melakukan hal yang ingin kau lakukan."


"Hal yang ingin aku lakukan...?"


"Itu, aku...a-aku..."


"Ya."


“Aku sudah siap untuk memberikan segalanya pada Minato-kun...!"


"Buuh. Riko, a-a-apa yang kau katakan...!?"


Riko tiba-tiba berdiri, lalu berjalan mengelilingi meja makan dan mendekat ke arahku.


Begitu Riko yang berdiri di hadapanku menggenggam tanganku dengan lembut, jantungku berdetak begitu kencang seolah hendak meledak.


"Minato-kun ingin melakukan apa dengan pacarnya...? Beritahu aku. Aku ingin mewujudkan semuanya..."


"........"


Dengan mata yang mengkilap penuh gairah, Riko menatapku dan berbisik pelan.


Mana mungkin aku bisa tetap tenang setelah mendengar kata-kata seperti itu dari gadis yang kusukai?


Aku menelan ludah dengan gugup.


Malam penuh petir, ketika aku hampir tidur bersama Riko, dengan alami terlintas kembali di pikiranku.


『Kalo saja sekarang Minato-kun sedang merasa bergairah...da-dan kalo aku bisa bertanggung jawab atas itu...aku tidak masalah kok...』


Saat itu, Riko mendekat padaku sambil mengatakan hal itu.


Aku menahan diri sekuat tenaga agar tidak menyentuh Riko, tapi situasinya saat itu sangat berbeda dari sekarang.


Waktu itu, Riko masih menyukai orang lain, dan meskipun dia bilang tidak masalah kalo aku menyentuhnya, wajahnya tetap terlihat kesepian.


Aku takut kalo aku benar-benar menyentuhnya, dia akan terluka───dan karena itu aku menahan diri sekuat tenaga.


...Tapi, Riko yang sekarang adalah pacarku, dan dia sudah bilang kalo dia su-suka padaku.


Itu artinya──


Eh... Apa sekarang aku sudah boleh menyentuh Riko tanpa harus menahan diri lagi...?


Riko pun sudah menyetujuinya, jadi ini bukan masalah, kan...!?


"Ri-Riko...boleh aku juga menyentuh tanganmu?"


Dengan jantung berdebar kencang aku bertanya, dan Riko mengangguk malu-malu.


Apa yang harus kulakukan.


Aku senang sampai rasanya mau mati.


Tapi, aku juga sangat gugup... 


Dengan gerakan yang canggung, aku menyentuhkan ujung jariku ke punggung tangan Riko yang sedang menggenggam tangan kananku.


".....Nn...."


Suara manis dan pelan keluar dari mulut Riko.


"Ma-maaf. Aku hanya sedikit geli saja..."


Riko yang wajahnya memerah, berbicara padaku───yang mungkin juga sedang memerah sama hebatnya.


"Etto、ano...jangan dilepaskan ya..."


"Boleh...?"


"Nn... Aku ingin tetap seperti ini..."


Aku menelan ludah dalam-dalam dan menunduk menatap tangan Riko.


Ini berbeda dari sekadar membalas genggaman.


Fakta bahwa aku menyentuhnya lebih dulu, dan bahwa hal itu diizinkan olehnya───semua itu membanjiri dadaku dengan perasaan yang begitu dalam.


Mendapat izin untuk menyentuh orang yang kusukai───kebahagiaan itu begitu besar hingga rasanya aku tak sanggup menanggungnya.


"Haa... Gawat... Aku terlalu bahagia..."


Tanpa aku sadari, isi hatiku tumpah dari mulutku.


"Benarkah...? ...Kalo begitu...sentuhlah aku lebih banyak..."


"........."


"Lebih banyak..."


Begitu aku menyadari makna yang tersembunyi di balik kata itu, tenggorokanku terasa kering seketika.


Kepalaku terasa ringan seolah diselimuti udara panas, membuat pikiranku sulit untuk berfungsi dengan baik.


"........."


Kesadaranku terseret ke dalam naluri seperti binatang, membuatku tidak lagi merasa seperti diriku sendiri.


Ciuman dengan Riko baru terjadi sekali.


Itu pun hanya sesaat saat bibir kami bersentuhan, dan itu pun Riko yang memberikannya.


Aku belum pernah sekalipun mencium Riko dari diriku sendiri.


Bahkan menggenggam tangannya pun baru beberapa kali.


Makanya aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Jujur saja, rasanya seperti melompati semua proses penting dan langsung menuju ke garis akhir, tapi aku benar-benar tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu sekarang.


"Riko...!"


Dengan napas terengah-engah seperti hewan buas, aku meraih kedua bahu Riko dengan tanganku.


Dan begitu saja, didorong oleh dorongan hati, aku membaringkan Riko ke lantai.


"Kya!?"

 

Dia kehilangan keseimbangan dan mengeluarkan suara kecil penuh keterkejutan.


Di saat itu juga, aku yang sempat tenggelam dalam nafsu, tersadar kembali.


"Maaf, Riko...!! Aaah, aku...apa yang sudah kulakukan...!!"


"Ah, anu, aku tidak apa-apa kok... Aku cuma kaget sedikit saja..."


Riko, yang kini berada tepat di bawahku, dengan tulus mengatakan hal itu.


Wajahnya terlihat serius───seolah-olah dia benar-benar siap menerima apa pun dariku, selama itu adalah keinginanku.


Justru karena itu, aku seharusnya bisa lebih memikirkan perasaan Riko.


Aku terlalu terhanyut oleh situasi yang terasa seperti mimpi dan kehilangan kendali, hanya bertindak mengikuti keinginanku sendiri.


Rasanya aku ingin menghilang.


Hanya karena sekarang kami sudah resmi berpacaran, atau karena Riko sudah mengungkapkan perasaannya padaku───semua itu bukanlah alasan untuk bertindak semaunya sendiri.


Dan sekarang, ketika pikiranku kembali tenang, aku menyadari satu hal.


Riko, yang kelihatannya siap menerima apa pun dariku, sebenarnya sedang menegang di bawah tubuhku───jelas-jelas dia merasa takut akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.


Meski Riko sendiri sepertinya belum menyadari hal itu.


Wajar saja kalo dia takut...


Riko adalah seorang gadis, dan dia bahkan belum pernah berpacaran sebelumnya.


Meski begitu, dia tetap mencoba untuk menerimaku───semua demi diriku.


"Maafkan aku... Aku menyesal telah menakutimu..."


Aku menggenggam tangan Riko dan membantunya bangun.


Begitu kami duduk saling berhadapan, Riko terlihat kebingungan dan pandangannya bergerak gelisah.


"Um...apa karena aku mengeluarkan suara aneh, suasananya jadi rusak...? Maaf... Tapi aku benar-benar tidak apa-apa...jadi, aku ingin...kau melanjutkannya..."


"Riko, terima kasih. Aku benar-benar senang sekali mendengar perasaanmu. Sampai-sampai aku jadi terbawa suasana dan hilang kendali. Tapi...meskipun alasannya berbeda dari sebelumnya, aku tetap merasa kalo hal seperti itu masih terlalu cepat untuk kita."


"Ke-kenapa...?"


"Karena, Riko...kau gemetaran."


"Eh... A-ah... I-itu...ke-kenapa..."


Riko yang benar-benar panik menunjukkan ekspresi nyaris menangis.


"Ka-kau salah paham... Aku benar-benar menyukai Minato-kun, jadi aku merasa bisa melakukan apa saja. Tunggu sebentar. Aku akan buktikan kalo aku serius...!"


Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar, Riko memaksakan dirinya───entah apa yang dia pikirkan───tangannya meraih kancing piyamanya.


Meskipun jarinya gemetar, dia mulai membuka kancing satu per satu, kancing pertama, lalu yang kedua...


Aku yang hanya bisa menyaksikan tanpa mengerti maksudnya, akhirnya tersadar.


"Uwaaaa! Riko, jangan! Berhenti───!!"


Aku segera melambaikan tangan panik dan bergegas menghentikannya.


"Perasaan Riko sudah sampai padaku! Justru karena itu, aku jadi benar-benar ingin menyentuhmu. Tapi seperti yang pernah aku bilang, bukan berarti cukup hanya dengan menyentuh tubuhmu."


Aku berusaha mengalihkan pandangan dari belahan dada yang tampak di balik celah piyama, lalu menasihati Riko dengan sungguh-sungguh.


"Yang paling penting bagiku adalah perasaanmu... Aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana...maaf, aku payah menjelaskannya. Tapi aku merasa, kita baru saja mulai saling mendekat secara hati... Kalo hati kita belum benar-benar menyatu tapi tubuh kita sudah duluan...aku yakin, aku akan menyakitimu lagi seperti tadi."


"Kalo itu Minato-kun yang menyakitiku...aku akan tetap merasa senang..."


"...! Ri-Riko...jangan bilang hal seperti itu! Nanti kepalaku mendidih lagi... Dan aku tidak mau menyakitimu! Pokoknya tidak boleh! Aku ingin melindungi Riko sepenuh hati!!"


"Ah、waaah...dibilang seperti itu membuatku semakin meleleh..."


Entah bagaimana, rasanya aku barusan mengucapkan sesuatu yang benar-benar luar biasa.


Di depanku, Riko menutupi kedua pipinya dengan tangannya dan menggeliat malu-malu sambil mengatakan sesuatu yang sangat manis...


"Kalo aku bisa disentuh oleh Minato-kun, aku pasti akan sangat senang... Padahal aku sudah lama memimpikan hal itu, tapi kenapa...kenapa aku malah merasa takut dengan sentuhan itu..."


Sambil berkata begitu, Riko menggenggam tanganku erat.


Aku juga ingin menyentuh Riko...tapi aku sangat takut kalo cara menyentuhku salah dan malah menyakitinya.


Aku belum benar-benar menyentuh hati Riko, jadi menyentuh hati dan tubuh secara bersamaan sambil tetap menjaga keduanya terasa seperti tantangan yang terlalu besar.


"Mungkin...kita berdua belum benar-benar siap secara hati. Kalo tubuh kita melangkah terlalu cepat dan meninggalkan hati kita tertinggal, maka wajar saja kalo hati kita jadi takut."


"Kalau begitu...bagaimana caranya agar hati bisa siap.....?"


"Hmm...kurasa bukan sesuatu yang dipaksakan, tapi sesuatu yang tumbuh perlahan dari kebersamaan setiap hari."


"Kebersamaan setiap hari...maksudmu seperti menyentuh sedikit demi sedikit tiap hari?"


"Sepertinya begitu..."


"Begitu ya..."


Riko yang tadinya tampak murung sekarang tersenyum cerah kembali, seolah semangatnya sudah pulih.


"Kalo begitu, mulai sekarang aku akan menyentuh Minato-kun setiap hari supaya aku bisa lebih cepat siap secara hati! Sekarang juga, langsung saja── pyton."


Riko memelukku dan menggesekkan pipinya ke dadaku.


Dia terlalu imut sampai rasanya aku tak bisa menahan diri.


Dan kali ini, tidak seperti sebelumnya, Riko tidak gemetar sama sekali.


"Riko, apa sekarang kau sudah tidak takut...?"


"Iya, sekarang aku baik-baik saja. Dipeluk Minato-kun rasanya sangat menenangkan... Ah! Mungkin..."


"Hmm?"


"Kalo aku yang menyentuh lebih dulu, aku jadi tidak takut..."


"........."


"Nee, Minato-kun boleh aku coba menciummu...?"


"Nnnnnnng!? Tu-tunggu! Aku senang, tapi sekarang belum boleh...!!"


"...Tidak boleh?」


"Ti-tidak boleh...!"


Dengan segenap akal sehat yang tersisa, aku menggeleng keras.


Kalo dipikir lagi dari semua yang terjadi barusan, kalo aku sampai dicium Riko sekarang, mungkin aku akan kehilangan kendali lagi.


Agar tidak membuat Riko ketakutan untuk kedua kalinya, aku harus menghindari kemungkinan itu bagaimanapun caranya.


Sial...siapa sangka aku harus menolak ciuman dari Riko...


"Sayang sekali, tapi baiklah... Besok aku akan tanya lagi, boleh aku menciummu atau tidak."


"...!?"


"Mulai sekarang, aku akan tanya setiap hari, boleh cium kamu atau tidak!."


"........!?!?"


Sepertinya hidupku akan berubah total dibandingkan sebelum aku pacaran dengannya.



Sebelumnya     Daftar isi    Selanjutnya

Posting Komentar

نموذج الاتصال