Kamu saat ini sedang membaca Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka? volume 2, chapter 4 cerita 3. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw
DIGODA KARENA MENJADI PASANGAN YANG MESRA TERNYATA TIDAK SEBURUK ITU
Karena terkena flu musim panas, Sawa yang telah beberapa hari tidak masuk sekolah akhirnya kembali masuk hari ini.
Sawa mulai absen tepat setelah aku meminta pendapatnya soal kencan, jadi aku belum sempat menceritakan hasil dari kencan itu kepadanya.
Dia memang orang yang suka menikmati urusan asmara orang lain seperti menonton acara gosip di televisi, tapi meskipun begitu, dia tetap memberikan saran dan merupakan salah satu dari sedikit teman yang kumiliki.
Karena itu, aku ingin menyampaikan terima kasih dan melaporkan hasilnya dengan benar.
Selain kepada Sawa, aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Asakura, yang telah memberiku nasihat yang sangat berguna.
Setelah aku meminta izin kepada Riko, apa boleh aku menceritakan hasil kencan dan mengucapkan terima kasih kepada Sawa dan Asakura, Riko malah menjawab, "Aku juga ingin mengucapkan terima kasih bersama Minato-kun."
Meski yang langsung mendapat saran hanya aku, berkat nasihat dari Sawa dan Asakura jugalah kami bisa mulai berpacaran, jadi Riko pun merasa berterima kasih kepada mereka berdua.
Karena itulah, saat Sawa akhirnya kembali masuk sekolah, pada jam istirahat makan siang hari itu, kami berempat memutuskan untuk makan siang bersama sambil membicarakan semuanya.
★★★
"Ki-ki-kita berkumpul dengan formasi ini lagi sejak waktu karyawisata, ya! Waa, sungguh nostalgia! Ya kan? Niiyama, kau juga pasti merasa begitu, kan?"
"U-uhm. ...Tapi, Sawa, kau terdengar seperti membaca naskah."
"Mau bagimana lagi, kan...? Ini pun sudah merupakan usaha terbaikku!"
Begitu berada di hadapan Riko dan Asakura, Sawa langsung menunjukkan gelagat mencurigakan seperti biasanya.
Aku juga sebenarnya sama ketika harus berhadapan dengan gadis lain selain Riko, jadi aku tidak bisa menyalahkan Sawa.
Di seberang kami yang kaku karena gugup, kedua gadis itu justru menunjukkan reaksi yang sama sekali berbeda.
"Riko, seharusnya kau duduk di sebelah Niiyama-kun, bukan di sebelahku. Kalian kan sudah berpacaran."
"Di sebelah Minato-kun...! Aku senang, tapi aku malu..."
"Mou~! Riko kau benar-benar polos! Sangat menggemaskan. Kalo aku jadi laki-laki, aku pasti ingin berpacaran denganmu! Eh? Tapi sebagai sesama perempuan, mungkin tetap bisa juga?"
"Eeh, tu-tunggu, Asakura!?"
Kalo Asakura───yang sangat memahami Riko dan juga sangat dipercaya olehnya───menyatakan diri sebagai saingan, sudah jelas aku tidak akan punya peluang untuk menang.
Saat aku panik dan menyentakkan kursiku, Asakura langsung tertawa terbahak-bahak.
Begitu menyadari kalo aku sedang digoda, wajahku langsung memerah seketika.
"Maaf...! Padahal kau hanya bercanda, tapi aku malah menanggapinya dengan serius dan membuat keributan..."
Sambil bergumam dengan suara pelan dan cepat, aku duduk kembali.
"Ahaha. Justru aku yang harus minta maaf karena menggoda. Tapi karena Niiyama-kun memberikan reaksi yang murni begitu, aku jadi tidak tahan ingin menggodanya. Kalo dipikir-pikir, Riko dan Niiyama-kun itu mirip, dalam hal-hal seperti ini."
"....! Be-benarkah...?"
Sebelum aku sempat menjawab, Riko lebih dahulu bertanya kepada Asakura.
"Un un, waktu Niiyama-kun berkonsultasi tentang kencan kalian aku sudah mengatakan hal yang sama, kalian berdua terlihat polos dan tenang, dan menciptakan suasana yang serupa. Ya, bukan begitu, Sawa-kun?"
"Y-ya! Aku juga berpikir begitu!"
Sawa mengangguk dengan penuh semangat, ekspresinya sangat serius.
Karena Sawa selalu berubah menjadi seperti mesin penjawab otomatis ketika berada di depan Asakura, dia tidak bisa dijadikan referensi, tapi Riko tetap tersenyum malu dengan wajah bahagia.
"Aku senang kalo dikatakan mirip dengan Minato-kun... Aku memang sejak dulu mengagumi hal seperti itu. Soalnya, pasangan suami istri katanya lama-lama cara tertawa dan ekspresi wajah mereka jadi mirip, kan?"
Riko mengatakan itu sambil tersipu malu.
Melihat keimutan Riko, kami bertiga merasa hangat di dalam hati.
Beberapa detik kemudian, Asakura seakan tersadar dan memberikan teguran ringan.
"Mou, Riko itu terlalu terburu-buru! Kalian itu bukan suami istri, tapi masih sepasang kekasih, kan?"
"A-ah...a-ahaha...be-benar juga... Aku salah mengatakannya. Ahahahaha───"
"Riko? Matamu terlihat tidak tenang, ada apa? Apa itu hal yang sampai membuatmu sangat gugup?"
"Ueeeh!? Aku rasa mataku tidak seperti itu!?"
I-ini tidak baik.
Riko dalam keadaan terdesak.
"A-anu! Lebih penting dari itu! Boleh aku membicarakan soal alasan kami meminta waktu kalian hari ini!?"
"Puh, Niiyama-kun. Tidak perlu terburu-buru membela Riko begitu. Aku tidak akan menggoda dia lagi, kok. Sungguh, kalian berdua sesekali suka memamerkan, ya."
Aku tidak merasa sedang memamerkan, lho!?
Tapi setidaknya, perhatian Asakura kini kembali terarah kepada kami.
"Ehm, Sawa, Asakura. Terima kasih untuk waktu itu karena sudah membantu soal kencan. Karena Sawa sedang tidak masuk, aku jadi terlambat menyampaikan terima kasih, tapi aku benar-benar menghargai bantuan kalian berdua."
"Aku juga ingin menyampaikan terima kasih. Sawa-kun, Rei-chan, sungguh terima kasih banyak. Aku bisa menjadi lebih dekat dengan Minato-kun adalah berkat bantuan kalian."
"Kalo diucapkan terima kasih seperti ini secara langsung...rasanya jadi agak memalukan..."
"Un un..."
Asakura dan Sawa menggaruk kepala mereka dengan canggung.
Gerakan mereka yang sinkron itu terlihat agak lucu.
"Maksudku, bukankah ini seperti sedang menerima laporan pernikahan?"
Mungkin karena masih terpengaruh oleh perkataan Riko barusan, Asakura tiba-tiba mengucapkan hal yang luar biasa.
"........Heh!?"
"........Waa!?"
Aku dan Riko tanpa sadar berseru bersamaan.
"Kenapa setiap kali muncul kata-kata seperti 'menikah' atau 'suami istri', kalian berdua bereaksi berlebihan? Hah, jangan-jangan──"
"Eh, a-apa....."
"Pasti kalian! Kalian pasti pernah berbicara seperti, 'nanti kalo aku sudah bekerja, kita akan menikah yaa♥' begitu! Makanya kalian jadi malu sekarang! Mou dasar baka couple!"
".........."
Asakura menunjukkan ekspresi menggoda sambil mencolek pipi Riko dengan ujung jarinya.
Aku sempat panik karena mengira rahasia kami terbongkar, tapi ternyata itu cuma salah paham, jadi aku benar-benar lega...
Tapi, Riko yang pipinya dicolek-colek itu, terlalu imut.
Saat aku, seperti biasa, terpaku memandanginya, tiba-tiba terdengar suara gemeretak gigi dari samping.
"Gununununu...curang kau, Niiyama... Padahal sampai belum lama ini kau masih sama-sama di dasar sepertiku..."
"E-eh? Sawa, kenapa kau mendadak begitu?"
"Aku ikut bahagia melihat Niiyama bahagia! Tapi aku juga ingin bahagia! Aku juga ingin memancarkan aura kebahagiaan seperti Niiyama!"
"Eh, aku...?"
"Begitulah! Rikohime juga menatapmu dengan bahagia!! Dan bahkan meskipun kalian masih pelajar, kalian udah berbicara soal menikah!! Dasar baka couple!! Aku iri banget! Aku juga ingin punya pacar───!!"
Sawa yang tadi membeku mendadak berdiri dan berteriak seperti melolong.
Padahal aku benar-benar tidak berniat sama sekali untuk pamer kemesraan...
Aku kasihan pada Sawa, tapi meskipun disebut baka couple, aku sama sekali tidak merasa tersinggung.
Bahkan sebaliknya, aku merasa sedikit senang...
Karena rasanya seperti kami diakui sebagai pasangan yang dekat...
Pantas saja, dengan pemikiran seperti ini, aku memang benar-benar sedang dibutakan oleh kebahagiaan.
Tapi, aku berhasil menjadi pacar gadis yang selama ini hanya bisa kupandangi dari kejauhan dan terasa seperti bunga di puncak tebing.
Tidak mungkin aku bisa tidak merasa bahagia karena itu.

