Kamu saat ini sedang membaca Tsukushita garina uchi no yome ni tsuite derete mo ī ka? volume 2, chapter 4 cerita 4. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makinsemagat+buat dana untuk beli raw
BELAJAR BERDUA DENGAN ISTRIKU DI DALAM KAMAR
──Karena aku bisa secara ajaib berpacaran dengan gadis yang dulu hanya bisa kukagumi dalam diam, rasanya wajar kalo aku terus-menerus merasa senang setiap waktu.
Tapi, mungkin karena terlalu larut dalam pikiran seperti itu, aku menerima hukuman.
"Baik, sekarang akan aku bagikan hasil ulangan kecil kalian. Soal-soal dalam ulangan ini juga termasuk dalam cakupan ujian akhir, jadi pastikan kalian mengulang kembali bagian yang salah."
Mendengar perkataan guru, wajahku langsung pucat, aku menunduk menatap lembar ulangan yang baru saja dibagikan, dan menghela napas berat.
Nilainya sangat buruk, hampir mendekati ambang batas untuk remedial.
Bagiku yang selama ini selalu sedikit di atas rata-rata, ini adalah nilai terburuk yang pernah aku lihat.
Kalo dipikir-pikir, hasil ini memang sudah sewajarnya terjadi.
Malam sebelum ulangan, hal yang memenuhi pikiranku saat duduk di meja belajar bukanlah pelajaran, melainkan tentang Riko.
Lebih tepatnya, bukan hanya malam itu saja.
Sejak aku mulai berpacaran dengan Riko, setiap malam saat sendirian di kamar, pikiranku selalu tertuju padanya, hingga aku sama sekali tidak bisa menyentuh tugas sekolah maupun belajar untuk ujian.
Padahal ujian akhir semester sudah semakin dekat, ini benar-benar tidak baik.
Di sekolahku, banyak siswa yang melanjutkan ke universitas afiliasi, jadi dibandingkan siswa kelas 3 SMA di sekolah lain yang lebih fokus pada ujian masuk, suasana di sini memang relatif santai.
Tapi meskipun begitu, menjelang ujian semester, tetap harus fokus belajar dengan sungguh-sungguh, dan mulai libur musim panas nanti, sepertinya aku benar-benar harus beralih ke mode belajar serius untuk menghadapi ujian masuk.
...Bagaimanapun juga, mulai hari ini aku harus bersungguh-sungguh untuk belajar.
★★★
Sambil masih terbebani oleh hasil ulangan kecil, aku pulang ke rumah dan aki langsung ketahuan oleh Riko kalo aku sedang merasa tertekan.
Kalo aku sampai bilang kalo aku tidak bisa fokus belajar karena pikiranku dipenuhi oleh Riko, sudah pasti Riko akan menyalahkan dirinya sendiri.
Tentu saja itu bukan salah Riko, dan aku tidak ingin membuatnya berpikir demikian, hadi aku hanya bilang kalo aku tidak bisa fokus belajar untuk tes dan akhirnya hasilnya jadi buruk.
"──Jadi begitu, mulai hari ini aku akan benar-benar mengganti sikap dan berusaha keras belajar sampai masa ujian selesai. Ulangan kecil memang seharusnya tidak terlalu berpengaruh ke nilai rapor, tapi kalau sampai nilai ujian akhir semester seburuk itu juga, itu jelas akan jadi masalah."
"Begitu ya... Kalo saja ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantumu... Tapi, alasan kenapa Minato-kun tidak bisa fokus belajar itu, apa?"
"Ah, eh, itu...maksudku...setiap kali duduk di meja belajar, aku jadi melamun, tahu-tahu waktu sudah berlalu begitu saja... Waktu sendirian, aku malah jadi sulit fokus..."
"Ah! Kalo begitu, kalo Minato-kun tidak keberatan, apa kau mau belajar bersamaku saja?"
"Eh!? Belajar bersama Riko!?"
Hanya dengan membayangkan duduk belajar di samping Riko, detak jantungku langsung meningkat.
Waktu belajar yang biasanya menyiksa pasti akan terasa seperti di surga kalo ada Riko di sampingku.
Tapi, mengingat aku tidak bisa fokus belajar karena terus memikirkan Riko, aku jadi ragu apakah aku boleh langsung menerima tawaran ini.
Tapi, selama ini meski Riko ada di depan mataku, aku tidak pernah kehilangan fokus sepenuhnya...
Mungkin saja, dibandingkan belajar sendiri, aku justru bisa lebih fokus saat bersamanya.
Yang terpenting, aku sangat ingin merasakan seperti apa rasanya belajar bersama Riko.
"U-um...aku senang sekali bisa belajar bersama Riko."
"Aku juga! Mulai malam ini, ayo kita berjuang bersama-sama!"
Riko yang mengangkat kedua tangannya dengan semangat sambil mengepalkan tinjunya di depan dada terlihat terlalu menggemaskan.
Aku mengangguk sambil merasa cemas apakah aku sudah terlihat terlalu lemah terhadap pesona Riko.
★★★
Malam itu.
Setelah selesai makan malam, kami duduk bersebelahan di meja rendah ruang keluarga, lalu membuka buku pelajaran kimia, catatan, dan buku soal yang direkomendasikan oleh sekolah.
Kami sepakat tentang cara belajar, mengerjakan halaman yang sama dari buku soal secara bersamaan, dan kalo ada yang tidak mengerti, maka langsung bertanya tanpa ragu.
Dengan begitu, kami memulai sesi belajar selama satu jam, memandangi jam di depan kami sebagai penanda waktu──
"Ah, maaf."
Baru saja mulai, sikuku secara tidak sengaja menyentuh siku Riko.
Apa aku duduk terlalu dekat tadi...?
Saat aku buru-buru menjauhkan diri, Riko mengeluarkan suara sedih.
"Eh...kau mau menjauh...? Aku jadi kesepian..."
".........."
Kenapa bisa keluar kata-kata selucu itu sih...!?
"Tapi, kalo setiap kali bersentuhan, kurasa itu akan memengaruhi konsentrasi Riko..."
Aku berkata begitu karena aku memikirkan Riko, dan dia mengangguk dengan ekspresi wajah sedih sambil berkata pelan, "Ya..."
Gawat...
Kalo dia menunjukkan ekspresi seperti itu, semua pertimbangan rasional ku jadi tidak berarti.
Begitu aku kembali ke posisiku semula, wajah Riko tiba-tiba berseri-seri dengan senyum lebar.
Setelah itu, selama beberapa waktu, kami berkali-kali saling bersentuhan tanpa sengaja, dan setiap kali itu terjadi, kami berdua saling meminta maaf sambil tersipu, bertukar kalimat seperti "Maaf ya", "Tidak apa-apa kok", "Ehehe", "Ahaha".
Tentu saja, setiap kali itu terjadi, kami berhenti belajar sejenak, tapi dibanding belajar dengan berjauhan, rasa bahagia ini jauh lebih besar, dan berkat itu, meski belajar terus selama dua jam, aku tidak merasa lelah sama sekali.
Kalo begini, sepertinya aku bisa terus belajar bersama Riko tanpa masalah...
Sambil berpikir begitu, aku melirik ke arah Riko yang ada di sebelah.
Riko sedang menatap buku soal dengan ekspresi serius, tanpa menggerakkan penanya.
Riko yang mengerutkan kening dengan ekspresi serius seperti itu benar-benar merupakan pemandangan yang langka.
Meskipun begitu, sudah tidak perlu dikatakan lagi kalo ekspresi seperti itu pun tetap membuatnya terlihat sangat imut.
Setelah beberapa detik terpesona melihat Riko yang langka itu, aku segera menyadari kalo ini bukan saatnya untuk terpaku begitu saja.
"Riko, apa ada bagian yang tidak kau mengerti?"
Kami memang sudah sepakat sebelumnya kalo menemui kesulitan, kami akan saling bertanya, tapi, mungkin karena sifat Riko yang cenderung sungkan, sia belum membuka suara.
Ketika aku yang memulai menanyakannya, Riko mengangguk kecil dengan ekspresi seolah merasa bersalah.
Riko bukan hanya memiliki penampilan yang menawan, tapi juga termasuk tipe yang unggul dalam pelajaran maupun olahraga, dan namanya selalu masuk dalam jajaran teratas setiap kali ujian.
Tapi, dia sempat mengatakan sebelumnya kalo satu-satunya mata pelajaran yang tidak terlalu dia kuasai adalah kimia, untuk mendapatkan nilai tinggi, dia perlu belajar tiga kali lebih banyak dibandingkan mata pelajaran lainnya.
Karena itu, aku memutuskan kalo kami akan memulai dari pelajaran kimia.
"Bagian soal ini, mulai dari tengah aku tidak bisa memahaminya..."
"Coba aku lihat."
Aku sedikit mencondongkan tubuhku, lalu melirik ke buku soal Riko dari samping.
Ah, jadi begitu.
"Ini adalah persamaan kuadrat terhadap c, kau sampai bagian itu masih mengerti, kan?"
"Ya."
"Kalo begitu, pertama-tama selesaikan dahulu persamaan ini untuk mendapatkan nilai c. Setelah itu?"
".....Bisa diturunkan nilai [H⁺]...?"
"Benar. Setelah itu tinggal dihitung nilai pH. Coba kau kerjakan."
"Ya...! ...Ah! Bisa!"
Riko mengeluarkan suara gembira lalu menoleh ke arahku.
Saat itu, aku masih dalam posisi sedikit condong karena sedang melihat buku soal, dan ketika aku ikut mengangkat wajahku menanggapi suara Riko──
──Secara tidak sengaja, bibir Riko menyentuh pipiku sesaat.
"........."
"Ah......"
Dalam jarak yang sangat dekat, mata kami saling bertemu, dan kami berdua sama-sama menahan napas.
"Ah, a-anu, maaf..."
"I-Iya, ti-tidak apa-apa..."
"Aku tidak sengaja...!"
"T-tentu saja aku tahu itu...!"
".....Tapi, rasanya seperti aku mendapat hadiah karena berhasil menyelesaikan soal...aku senang..."
".....!?"
Fakta kalo Riko menganggap ciuman yang terjadi secara tidak sengaja itu sebagai hadiah, sungguh sulit untuk dipercaya, aku pun sampai berkedip berkali-kali karena tidak bisa mempercayai telingaku.
"Benar juga...! Aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah membantuku menjelaskan soal tadi."
Dengan wajah yang masih memerah karena malu, Riko tersenyum manis.
"Penjelasan dari Minato-kun sangat mudah dimengerti sampai aku terharu. Kau lebih pandai mengajar daripada guru di sekolah."
"Itu tidak mungkin..."
"Benar-benar! Ini pertama kalinya aku merasa ada orang yang bisa mengajar sebaik itu!"
Tidak mungkin ada perasaan buruk saat menerima pujian dari Riko, aku menggaruk belakang kepalaku sebagai cara untuk menyembunyikan rasa malu.
"Dan Minato-kun yang bisa memahami soal sesulit itu dengan mudah, terlalu keren..."
"U-uh, a-apa...?"
"Fufu. Aku juga suka Minato-kun yang malu begitu."
".....!!"
"......Ne, Minato-kun... Kalo nanti aku menemui soal yang sulit lagi, dan aku berhasil menyelesaikannya, boleh aku meminta ciuman sebagai perayaan...?"
Dengan pipi yang memerah, Riko memintanya dengan nada malu-malu.
Kalo begitu, artinya setelah ini pun ada kemungkinan aku akan──cium lagi dengan Riko...!?
Situasi seperti itu...terlalu membahagiakan...!
Tidak mungkin aku bisa berkonsentrasi belajar!!


