Kamu saat ini sedang membaca Inkya no ore ga Sekigae de Skyubishojo ni kakomaretara Himitsu no kankei ga hajimatta volume 2, chapter 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
KOTAK PANDORA SEKARANG TERBUKA
Airi dan Yuria berhasil menghindari nilai merah, dan sejak saat itu, sudah satu minggu berlalu sejak diputuskan kalo selama liburan musim panas aku akan menjadi penurut bagi tiga gadis cantik.
Kedua orang dari kelompok
gyaku-harigami-gumi selain Kuroki, belajar dengan giat seolah-olah mereka adalah orang yang berbeda.
Apa mereka benar-benar ingin memperalatku selama liburan musim panas sejauh itu?
Sambil melihat mereka berdua belajar dengan tekun bahkan saat istirahat makan siang, aku tenggelam dalam lamunan.
Yah, dalam kasus Airi, aku bisa mengerti karena dia juga sedang dalam masa larangan bekerja paruh waktu, jadi keseriusannya bisa dimaklumi.
Tapi, untuk Yuria, yang tidak memiliki resiko apa pun, aku rasa tidak ada kebutuhan sampai dia harus bersungguh-sungguh seperti itu...
Tapi, bagaimanapun juga, untuk diriku sendiri, dijadikan pesuruh selama liburan musim panas bukanlah sebuah hukuman, melainkan suatu hadiah.
Orang biasa mungkin tidak suka kalo waktu liburan musim panas mereka diganggu, tapi dalam kasusku, justru aku menantikan 'hukuman' tersebut.
Karena aku adalah tipe orang yang setiap tahun menghabiskan liburan musim panas dengan kehidupan yang sangat tidak produktif.
Bangun siang, menghabiskan waktu di tempat tidur sambil memainkan bermain, makan kapan pun aku mau, lalu kembali bermain Hp hingga malam dan tidur.
Sebagai seorang otaku yinkya yang tidak ikut kegiatan klub, aku mengulangi pola itu selama hampir 30 hari berturut-turut.
Aku sekarang sudah larut dalam kebiasaan itu ke tingkat di mana bahkan kalo ada E-DRESS Eight yang bangun, mungkin aku tidak akan menyadarinya.
[TL\n: E-DRESS Eight adalah salah satu unit atau sistem dalam seri Date A Live, khususnya yang berhubungan dengan teknologi buatan manusia untuk melawan atau berinteraksi dengan Spirit (Seirei). E-DRESS sendiri merupakan singkatan dari Enhanced-Defense Response and Emergency Security System—yaitu sistem persenjataan yang digunakan oleh manusia untuk menghadapi ancaman para Spirit. E-DRESS biasanya berupa armor atau baju tempur yang canggih, mirip dengan Astral Dress milik Spirit, tetapi buatan manusia dan digunakan oleh manusia biasa. Sementara itu, E-DRESS Eight merujuk pada anggota kedelapan atau unit ke-8 dari pengguna sistem E-DRESS ini. Salah satinya si Spirit yang pergi kemasa lalu buat nge kill ortunya sendiri (Origami)]
Justru karena itu, kalo ada seseorang yang ingin mempermainkan orang sepertiku yang punya banyak waktu luang, maka lakukanlah tanpa ragu.
Terlebih lagi, kalo itu adalah tiga gadis cantik, maka itu sudah pasti bukan hukuman, melainkan hadiah.
"Choi choi, Ryota."
Aku sedang melamun ketika Yuria, yang duduk di sebelah kiriku, menyentuh-nyentuh bahu kiriku sambil memanggilku.
Apa, itu? Apa ada bagian yang tidak dia mengerti?
"Ada apa?"
"Itu... setelah pulang sekolah, apa kau ada waktu?"
"Setelah pulang sekolah? Aku tidak ada rencana, tapi...apa kau mau pergi ke suatu tempat?"
"Bukan, tinggal seminggu lagi sebelum ujian, jadi aku pikir, bagaimana kalo kita adakan sesi belajar bersama..."
Aku pikir dia akan mengajakku pergi ke arcade di kota sebelah untuk menyegarkan diri, tapi ternyata dia menyebut pilihan yang sama sekali tidak terduga, yaitu 'belajar', sampai-sampai aku terkejut.
"Kalo begitu Airi juga! Eh, tapi hari ini Airi ada janji... ke-kencan dengan pacar Airi, jadi Airi tidak bisa ikut~"
Airi yang duduk di depan kami, mendengar percakapan kami dan langsung menoleh sambil berkata begitu.
Dengan pacarnya...begitu, Airi ada shift kerja paruh waktu hari ini.
Karena waktu festival budaya dia sempat banyak mengambil cuti, dia pernah bilang walaupun masa ujian, dia tetap masuk shift sekitar sekali seminggu.
"Rui-chan juga katanya ada latihan setelah pulang sekolah, jadi Yuria dan Ryota akan belajar berdua, ya? Enaknya~"
Rui yang sibuk dengan pertemuan klub atletik saat jam istirahat pun, kabarnya tetap punya latihan meskipun sedang masa ujian.
Karena ada kejuaraan antar SMA tingkat nasional musim panas nanti, mungkin itu tidak bisa dihindari.
"Lagipula Airi juga pernah punya sesi belajar bareng Ryota 'kan? Setelah itu Airi jadi sangat pintar matematika, jadi hari ini aku juga mau menyerap banyak kemampuan belajar dari Ryota"
Yuriya menyipitkan matanya dan berkata seperti itu sambil tersenyum menyeringai.
Menyerap... u-uh, entah kenapa kedengarannya agak menggoda.
"Jangan memikirkan sesuatu yang aneh”
"Awa, sakit"
Apa pikiranku terbaca oleh Yuria, aku mendapat chop ringan darinya.
Memang benar, dia adalah orang yang paling memahami diriku.
Bahkan apa yang tadi sempat terlintas dalam pikiranku juga bisa dia baca... tidak, itu tadi karena cara bicara Yuria yang memang menggoda.
"Selamat datang kembali. Kalian sedang membicarakan apa dengan begitu asyik?"
Saat kami sedang berbincang, mungkin karena rapatnya telah selesai, Rui kembali ke kelas.
"Yuria, katanya hari ini akan belajar bersama Ryota~"
"Heeh? Belajar bersama, hanya berdua?"
"Ya. Rui juga sibuk, dan Ryota sepertinya cukup bisa belajar dan terlihat tidak sibuk, jadi kupikir aku akan meminta dia mengajariku berbagai hal."
Entah kenapa aku merasa sedang diremehkan, tapi kenyataan kalo aku ini sangat tidak sibuk memang sudah diketahui semua orang, jadi aku tidak bisa membantah.
Ya ya, aku ini memang si pemalas yang otaknya penuh hal-hal mesum dan seorang otaku penyendiri. Sungguh.
"Heeh... belajar bersama, hanya berdua. Begitu..."
Rui menyipitkan matanya hampir seperti mata benang saat dia mengangguk.
Apa, reaksi apa itu?
"Ryota-kun?"
"Hii-ya, iya."
"Tolong jaga Yuria baik-baik, ya? Soalnya syaratnya itu kan kita semua harus lolos dari nilai merah. Jadi, gantikan aku dan ajarkan dia dengan baik, ya?"
Rui mengatakan itu sambil tersenyum...tapi entah kenapa di telingaku itu terdengar cukup berat.
Apa dia marah karena hanya dia yang tidak ikut sesi belajar?
Pertama-tama Rui tidak butuh sesi belajar...jadi tekanan ini apa ini sebenarnya?
Seperti biasa, hanya Rui yang benar-benar sulit ditebak apa yang sedang dia pikirkan.
★★★
Setelah diputuskan untuk mengadakan sesi belajar bersama dengan Yuria sepulang sekolah, hari ini aku pulang bersama Yuria.
Yuria, seperti biasa, berjalan di sampingku sambil menggoyangkan paha montoknya yang menggoda.
"Ryota, kenapa kau melihat ke sini? Jangan-jangan kau melihat pahaku lagi?"
".....Bukan. Yang kulihat adalah paha besar milik Yuria."
"Itu tetap saja paha. Kalo kau mau mencari alasan, setidaknya pikirkan sesuatu yang lebih cerdas..."
Payudara besar milik Airi, paha Yuria, dan foto (sekalian) pusar milik Rui yang dikirimkan tanpa diminta, sudah hampir menjadi hal yang secara tidak langsung diperbolehkan untuk dilihat, jadi aku tidak berniat untuk menahan diri lagi.
"Ryota kau benar-benar suka kakiku ya. Lihatlah wajahku juga sesekali."
Kata Yuria dengan nada sedikit kesal.
Sebagai seorang gyaru, mungkin lebih baik kalo wajah yang sudah dirias dengan susah payah yang diperhatikan daripada paha.
Kalo boleh jujur, secara pribadi aku berharap paha itu ikut dirias (dengan stocking jaring atau semacamnya).
"Maksudku! Jangan berbicara seperti biasa, kita harus cepat mulai sesi belajar hari ini."
"Oh iya, benar juga. Lalu, sesi belajarnya akan dilakukan di mana? Apa itu di Starbucks dekat sini?"
"Tentu saja di rumah Ryota."
".....Haa."
"Apa kau tidak suka?"
"Bukannya tidak suka..."
Entah kenapa aku sudah menduganya...tapi...tetap saja, kamarku lagi rupanya.
Ini ke-4 kalinya aku memasukkan perempuan ke dalam kamarku (kecuali Tanaka), jadi aku tidak lagi merasa canggung lagi.
Terutama karena Yuria sudah mengetahui berbagai hal tentangku, dan karena dia adalah teman sesama otaku, aku tidak perlu menyembunyikan apapun padanya, sehingga aku bisa lebih santai.
Dalam hal itu, aku bisa bersikap seperti ketika bersama Tanaka, jadi tidak perlu menahan diri...hanya saja, satu-satunya yang harus aku waspadai adalah bentuk tubuhnya (terutama paha), karena kalo aku lengah, aku akan menatapnya terus.
Meskipun aku sudah mendapat izin, tetap saja ada batasnya, jadi aku harus berhati-hati.
"Baiklah, di kamarku tidak apa-apa. Mungkin sedikit berantakan, jadi jangan banyak mengeluh."
"........"
"Hmm? Ada apa, Yuria?"
"Ryota, aku agak penasaran tentang sesuatu."
"Penasaran? Tentang apa?"
"Entah kenapa, belakangan ini Ryota...kau terlihat semakin terbiasa bergaul dengan perempuan, kan?"
".....Apa?"
"Tadi juga, kau terlihat sama sekali tidak keberatan ketika aku akan masuk ke kamarmu. Aku merasa kau mulai terbiasa menghadapi perempuan belakangan ini."
Yuria berkata begitu sambil menyipitkan matanya dan membentuk mulutnya menjadi garis datar dengan ekspresi tidak senang.
A-aku...terbiasa dengan perempuan!?
"Itu Tidak mungkin! Aku ini laki-laki berusia 16 tahun yang bahkan belum pernah sekalipun menggenggam tangan perempuan. Mana mungkin aku terbiasa menghadapi perempuan!"
"Memang waktu pertama kita bertemu di arcade, kau benar-benar menunjukkan aura polos. Tapi belakangan ini, kau seperti pria yang sudah membuat banyak perempuan menangis."
"Apa maksudnya itu! Dari sudut mana pun, aku hanyalah laki-laki otaku yang pendiam dan tidak menonjol!"
Menyedihkan juga rasanya saat aku sendiri yang mengatakannya, tapi jelas tidak mungkin aku terlihat seperti pria brengsek yang sering mempermainkan perempuan.
"Mungkin kau terlihat seperti itu hanya saat berbicara dengan ku, orang yang paling memahami dirimu. Mungkin."
"Hmm...hanya saat bersamaku, ya."
Setelah aku berusaha menjelaskan, Yuria sedikit tersenyum dan dia mengendurkan ekspresi mulutnya.
"Yah, kalo begitu tidak masalah."
"Tidak masalah apa maksudmu?"
"Yang baik ya tetap baik. Lebih penting dari itu, Ryota, setelah ujian selesai bagaimana kalo kita ke arcade, boleh? Hadiah baru Milk-tan sudah keluar. Kali ini yang versi baju renang sapi."
"A-ah."
Yuria yang tadi terlihat tidak senang entah ke mana perginya...yah, kalo kesalahpahamannya sudah selesai, maka tidak masalah.
Meskipun begitu, soal terbiasa dengan perempuan...
Mungkinkah karena aku mulai berbicara dan berbagi rahasia dengan ketiganya, aku perlahan mulai terbiasa berbicara dengan perempuan?
Aku tidak menyadarinya, tapi setelah Yuria mengatakannya, rasanya memang begitu.
Mungkin itu artinya kami memang sudah menjadi cukup dekat...?
"Ada apa, Ryota? Sekarang kau malah tersenyum sendiri."
"Bukan apa-apa. Ayo kembali ke topik figurine dengan payudara besar tadi."
Sambil berbincang seperti itu, aku pulang ke rumah bersama Yuria...tapi.
"Ro-Ryota! Kau..."
Begitu aku pulang, ibuku yang hari ini libur kerja dan berada di rumah sepanjang hari muncul di depan pintu dan menunjukkan wajah pucat.
"Ja-jangan-jangan kau...berpacaran dengan 2 perempuan..."
"Bukan! Mereka berdua hanya teman, hanya teman."
"Permisi, Ibu. Maaf mengganggu."
"Ha! Ya. Aku harap kau akan terus mendukung anakku untuk waktu yang lama."
Ibuku membungkuk sambil mengantar kami yang menaiki tangga.
Bagus karena Rui tidak pernah mengatakan apa-apa tentang dia yang pernah datang ke kamarku.
"Ibu Ryota masih muda dan cantik, ya. Wajahnya tidak terlalu mirip Ryou-ta sih."
"Maaf, aku lebih mirip Ayahku."
Saat aku memasukkan Yuria ke dalam kamarku, aku menyiapkan meja pendek dan zabuton seperti saat Airi datang.
"Seperti yang kuduga, meski sudah beberapa kali aku datang kesini, kamar Ryota tetap saja kamar otaku ya... Ah, boleh aku membaca manga ini?"
"Terserah, baca saja sepuasnya, tapi hari ini kita harus belajar──"
Saat itulah hal itu terjadi.
"Ah..."
Ketika Yuria mengambil buku manga, kotak kecil berwarna coklat tua yang ringan dan berada di atas manga tersebut jatuh ke lantai...nnggggggggg!?!?
Itu adalah...karet yang aku beli sebelum sesi belajar bersama Airi.
Tidak perlu dijelaskan karet apa itu, tapi itu tetaplah karet.
Sial! Karena sebelumnya tempat di bawah tempat tidur sudah ketahuan oleh mereka berdua, aku mengubah tempat penyimpanan barang-barang semacam itu ke celah rak buku!
Sudah terlambat. Yuria sudah tidak tertarik pada manga lagi, tapi dia lebih tertarik pada barang yang jatuh itu, dan aku tidak sempat menyembunyikannya.
S-sial...
"Apa ini... Ah! Aku pernah melihat karakter ini! Namanya kalo tidak salah Da... hmm? Tunggu sebentar. Apa ini?"
Yuria hampir saja membuka kotak Pandora itu.
[TL\n: Kotak Pandora adalah sebuah objek dari mitologi Yunani kuno yang dikenal sebagai sumber dari segala kesengsaraan dan penderitaan di dunia. Istilah ini berasal dari cerita tentang Pandora, wanita pertama yang diciptakan oleh para dewa. Menurut mitos: Para dewa memberikan Pandora sebuah kotak (atau lebih tepatnya, guci) dan memperingatkannya agar tidak membukanya. Namun karena rasa ingin tahu, Pandora akhirnya membuka kotak itu. Ketika dibuka, semua kejahatan dan bencana seperti penyakit, kematian, dan penderitaan keluar ke dunia.]
"Tu-tunggu, Yuria! Jangan buka kotak itu!"
Karena barang itu ditemukan oleh Yuria, aku mencoba menghentikannya dengan cepat...tapi aku tidak bisa menghentikanya tepat waktu, aku mendengar suara kotak kecil berwarna coklat itu dibuka oleh Yuria.
Karena sebelumnya itu sudah pernah dibuka olehku, terdengar bunyi kecil 'kres', dan kotak itu langsung terbuka.
".....I-ini...serius?"
Di dalam kotak kecil itu, benda itu dibungkus satu per satu dan dilipat dengan sangat rapi, lalu saat Yuria mengeluarkannya, benda-benda yang tersambung secara vertikal itu menggantung panjang dari tangannya ke bawah.
A-apa yang terjadi ini...
Yuria langsung menumpahkan isi kotak tersebut ke atas meja pendek.
"Ryota〜? Duduk seiza."
[TL\n:Duduk seiza adalah cara duduk tradisional Jepang di mana seseorang duduk bersimpuh dengan kaki dilipat ke belakang, bokong bertumpu di atas tumit, dan punggung tegak lurus.]
"Ha-haik."
Aku duduk di depan meja pendek sesuai perintahnya.
Yuria berdiri dan menatapku dari atas sambil menunjuk benda itu.
"Apa ini?"
Yuria bertanya dengan senyum lembut, tapi jelas dia terlihat marah.
Merasa tekanan yang berat seperti saat bersama Rui, aku menyeka keringat dingin dan membuka mulut.
"Itu...ko-kondom."
"Untuk apa kamu menggunakannya?"
"E-eto-...uu-untuk hal yang mesum."
Yuria terus mendesakku tanpa ampun sambil tetap tersenyum.
Ini benar-benar seperti permainan rasa malu.
"Haa...sungguh, setelah kita bicara soal kau yang sudah semakin terbiasa dengan perempuan, sekarang. Jangan-jangan kau benar-benar sudah melakukan itu dengan Airi."
"Itu tidak benar! Aku benar-benar belum melakukannya!"
Demi menjaga nama baik Airi, aku menolaknya dengan tegas.
Aku belum melakukannya, dan kalo muncul kecurigaan kalo aku telah melakukannya dengan Airi, aku akan merasa sangat bersalah padanya.
Karena itu, aku harus mengakui kalo aku memang membeli karet itu, tapi tetap membuktikan kalk aku dan Airi tidak melakukan apa-apa.
"Se-sejujurnya! Benda itu...aku beli untuk berjaga-jaga, tapi pada akhirnya aku tidak punya kesempatan untuk memakainya...atau memang aku tidak akan pernah punya kesempatan..."
"Kalau begitu aku bertanya satu hal, ini isinya 12 tapi cuma ada 11, kan? Yang satu lagi ke mana?"
"Itu...lihat saja dompetku."
Aku mengeluarkan dompet dari saku-ku dan menyerahkannya kepada Yuria.
Yuria membuka dompetku dengan sedikit ragu.
"Ah ... ini."
Yuria mengeluarkan satu dari benda itu yang ada di dalam dompetku.
"Apa, kupikir aku mungkin punya kesempatan ketika aku keluar, jadi aku taruh satu di dompetku...semacam itu."
".....Pfft, sungguh, Ryota, ahaha!"
"Hei! Jangan tertawa!"
"Menyimpan satu di dompet seperti itu, entah bagaimana, itu sangat Ryota sekali."
"Apa maksudmu dengan 'sangat Ryota sekali'"
Yuria tertawa kecil sambil mengejekku.
Iya, iya, aku ini pria perjaka yang terlalu banyak berimajinasi.
Menyimpan kondom sambil berangan-angan yang tidak-tidak.
"Haa, aku sampai tertawa. Tapi, ya, aku memang sudah menduganya. Ryota itu pikirannya mesum, tapi kenyataannya kau tidak punya keberanian untuk melakukannya."
"Di-diamlah."
Karena itu terlalu tepat, wajahku menjadi panas.
"Lalu, kau membeli yang bergambar karakter itu supaya tidak ketahuan oleh orang tuamu, kan?"
"Kurang lebih seperti itu."
Karena takut membeli yang jelas-jelas mencolok, aku memilih produk kolaborasi dengan karakter maskot.
"Sungguh, Ryota itu memang selalu seperti Ryota..."
Yuria mengatakan itu sambil duduk di sebelahku.
"Entah kenapa, aku jadi sedikit terangsang."
"Te-terangsang!? Kenapa kau justru jadi sange!?"
"Kan sudah aku bilang sebelumnya, aku juga kuat dalam hal seperti itu."
"Kuat dalam hal itu."
Pipi Yuria memerah, lalu dengan telunjuknya yang dihiasi kuku cantik, dia menyentil salah satu dari benda di atas meja rendah itu.
Eh, ini...jangan-jangan, kesempatan untuk benar-benar menggunakan benda ini sudah datang!?
Aku dan Yuria...akan melakukannya, sekarang, di sini.
Saat aku memikirkan hal seperti itu, pandanganku tanpa sadar tertuju pada tubuh Yuria yang penuh lekuk menggoda.
Aku menggigit bibirku sambil menelan ludah dengan suara keras.
"Yu-Yuria, itu──"
"Hai semuanya───! Ini dia Tanaka yang datang seperti serangga yang terbang ke dalam api musim panas!! Aku diutus oleh ibunya Ryota-kun sebagai pengawas untuk mencegah pergaulan bebas pria-wanita yang tidak murni...eh?」
Tiba-tiba, Tanaka Kanade alias Tanaka muncul di kamarku.
"I-itu, itu, kondom, kan!?"
Tanaka, si loli berkacamata yang mengenakan seragam yang sedikit kebesaran untuk tubuhnya, kacamata miliknya terjatuh ke lantai.
"Ja-jangan bilang kalian benar-benar hampir mulai... Maaf telah mengganggu! Silakan lanjutkan!"
" "Tunggu dulu! Tanaka!!" "
★★★
Yuria dan aku, lalu Tanaka, duduk di atas bantal mengelilingi meja bundar.
Di atas meja bundar itu tergeletak benda yang terbungkus satu per satu dan kotak kecil berwarna coklat.
Suasananya benar-benar canggung.
"Jadi...kalian berdua sudah...melakukannya? Perbuatan mesum itu."
"Mana mungkin kami melakukannya!"
"Tapi kalau benda seperti ini dibiarkan terbuka di atas meja, rasanya itu tidak meyakinkan."
Itu memang benar seperti yang Tanaka katakan...tapi semakin aku menjelaskan, rasanya akan semakin mengarah ke hal yang aneh.
"Kalo begitu Tanaka, kalo memang kami berdua sudah melakukan hal seperti itu, apa ada sesuatu yang membuatmu jadi tidak nyaman?"
"I-Itu..."
Karena Yuuria malah membawa pembicaraan ke arah yang lebih menyusahkan, wajah Tanaka pun jadi tegang.
Apa yang kau pikirkan sih, Yuria! Kalo kau bilang begitu, Tanaka bisa salah paham!
"A-Ada! Kalo Ryota-kun bukan perjaka lagi...a-aku, tidak punya teman lagi!"
"Ta-Tanaka..."
Tunggu dulu. Syarat agar aku bisa tetap jadi teman Tanaka adalah harus tetap jadi perjaka...apa maksudnya itu!? Aku benar-benar tidak mengerti!
"Begitu ya. Kalo begitu tenang saja Tanaka? Aku benar-benar belum melakukan apa-apa dengan Ryota, dan lagipula, Ryota yang seperti ayam penakut begini mana mungkin bisa menyentuh ku, kan?"
"Be-Benar juga! Soalnya ini Ryota-kun! Kalo dia sampai bisa menyentuh gadis mesum seperti Ichinose-san, dia pasti sudah sering melakukannya sekarang!"
Lagi-lagi muncul pola mengejek diriku yang seorang pria perjaka penyendiri...tapi jangan memanggil 'gadis mesum' langsung di depan orangnya. Walau dia memang mesum sih.
Tapi, Yuria tetap Yuria, saat di depan Tanaka dia malah berperan jadi karakter yang galak padaku...padahal gadis ini tadi sempat agak panik.
Kalo sudah begini, malam ini aku akan menikmati diriku bersenang-senang di dunia khayalanku sendiri bersama Yuria...
"Ada apa, Ryota? Ada yang mau kau katakan?"
"Tidak ada."
"Baiklah. Yang penting, aku lega kalian berdua belum melakukannya. Tapi kalo begitu, kalian berdua hari ini sebenarnya mau apa?"
Ngomong-ngomong...hari ini seharusnya kami bukan membicarakan hal cabul, tapi mengadakan sesi belajar.
Gara-gara insiden erotis yang tiba-tiba terjadi, aku hampir melupakan tujuan awal.
"Kami mau melakukan sesi belajar. Ujian sudah dekat soalnya."
"Hee! Belajar bersama! Sepertinya menyenangkan."
"Tanaka, apa kau mau ikut juga?"
"Boleh!??
"Tentu saja. Lagipula Tanaka pintar, kan? Ajari aku belajar ya."
Sebelum aku menyadarinya, Tanaka juga sudah mulai berpartisipasi.
"Ryota-kun, kau juga akan aku ajari, ike?"
"Aku tidak perlu."
"Kenapa kau jadi dingin begitu? Padahal waktu SMP dulu kita sering belajar bersama, kan?"
"Heeh, jadi Tanaka waktu SMP dekat sekali dengan Ryota, ya?"
"Yup, untuk lawan jenis, bisa dibilang kami cukup dekat. Waktu libur musim panas atau sepulang sekolah, kami sering bermain bersama. Yah, kebanyakan kami cuma menonton anime bersama sih."
"Hmm...entah kenapa, aku agak iri."
Yuria bergumam pelan sambil melirik ke arahku.
Iri...ya. Karena Yuria ingin punya teman otaku juga, jadi mungkin itu sebabnya dia merasa seperti itu.
"Kalo begitu, sebelum mulai sesi belajar───untuk sementara semua kondom ini akan aku sita. Supaya Ryota tidak sampai terlibat dalam hubungan tidak sehat dengan seseorang di luar sana."
"Itu ide yang bagus! Toh Ryota-kun juga tidak akan punya kesempatan untuk memakainya, jadi sebaiknya kau jangan membeli inj sampai kau dewasa!"
"Mustahil..."
Barang itu disita oleh Yuuriya, dan harapanku yang semu pun benar-benar hancur.
"Aku akan memberitahumu, kalo sampai kau melakukan hal aneh dengan Rui atau Airi, aku akan benar-benar marah. Mengerti?"
"Y-ya..."
Aku merasa Yuria bukan lagi sekadar orang yang mengerti diriku, tapi lebih seperti pengawas.
Karena aku punya keinginan untuk dikendalikan oleh gadis cantik, aku tidak keberatan sama sekali dengan itu...tapi kenapa nama Rui dan Airi sampai disebut.
Yah, memang sih, teman dekatku yang perempuan cuma tiga gadis cantik itu dan Tanaka...tapi bukan berarti aku benar-benar berpikir bisa sampai menjalin hubungan yang seperti utu dengan Rui atau Airi.
"Kalo begitu, ayo kita mulai sesi belajarnya."
★★★
Seharusnya aku mengadakan sesi belajar hanya berdua dengan Yuria, tapi karena kemunculan mendadak Tanaka───bukan parent-flash melainkan 'Tanaka-flash'───Tanaka pun ikut serta dalam sesi belajar ini...
Lalu──sekitar 10 menit setelah sesi belajar dimulai.
"Munyaa...guehehe───aku sudah tidak bisa minum lebih banyak lagi, Airi-taaan."
Tanaka tertidur.
Dalam hitungan beberapa menit saja, dia sudah menempelkan dahinya ke buku pelajaran di atas meja rendah dan langsung tertidur pulas.
Sudah kuduga akan seperti ini.
"Tidak mungkin, dia tertidur pulas secepat ini... Apa Tanaka benar-benar peringkat 2 di angkatan kita? Sulit dipercaya dia lebih pintar dari Rui."
"Meskipun begitu, Tanaka memang pintar, atau lebih tepatnya, sejak SMP dia punya daya ingat yang luar biasa. Manga dan anime saja, cukup dia tonton sekali dan dia bisa mengingat semua dialognya. Dalam hal belajar, dia bisa langsung menghafal isi buku pelajaran."
"Itu kemampuan curang namanya. Dia sudah seperti tokoh utama dalam cerita isekai. Aku iri~"
Tanaka bukan hanya pintar, tapi dia juga memiliki daya ingat yang luar biasa.
Alasan aku pergi menanyai Tanaka soal Rui saat SMP sebagian besar karena itu.
Tapi, fakta kalk kemampuan itu hampir seluruhnya dipakai untuk hobi otakunya adalah masalah tersendiri...
"Tapi kalo dia sehebat itu, bukankah dia bisa mengalahkan Rui juga?"
"Aku juga pernah berpikir begitu... Tapi sejak SMP, Tanaka selalu berada di peringkat 2 dan dia tidak pernah sekalipun mengalahkan Rui."
"Eh, serius? Bahkan satu mata pelajaran pun tidak?"
"Aa. Bahkan daya ingat Tanaka yang seperti monster pun bisa dikalahkan, jadi mungkin Kuroki Rui itu benar-benar manusia super yang sempurna."
Semakin aku menganggap Tanaka hebat, semakin terlihat betapa Rui benar-benar seperti makhluk luar biasa dalam segala hal.
"Walau begitu, Tanaka ternyata bertarung di level yang bahkan sulit aku bayangkan ya."
Yuria berkata begitu sambil memainkan rambut Tanaka yang sedang tertidur.
"Yuria kau juga kan berhasil lulus ke SMA kita, itu saja sudah cukup hebat, kan?"
"Aku sama sekali...tidak hebat kok. Waktu kelas 3 SMP, aku tidak punya hal lain yang bisa aku lakukan selain belajar, itu saja. Lagipula...aku juga tidak mau masuk SMA yang sama dengan orang itu."
Yuria mengatakan itu sambil menggigit bibirnya, seolah menahan sesuatu dengan erat.
Wajahnya yang biasanya ceria seperti seorang gyaru berubah menjadi ekspresi yang seakan sedang mengunyah sesuatu yang sangat pahit.
"Orang itu...maksudmu mantan sahabat yang sekarang sudah menjauh, yang dulu pernah kau bilang, ya?"
"Iya. Karena hobiku dianggap menjijikkan, aku dijauhi, dan waktu kelas 3 SMP aku diasingkan dari sirkel anak itu. Tapi, berkat itu aku bisa fokus belajar, dan akhirnya aku bisa berteman dengan Rui, Airi, dan Ryota...jadi, hasil akhirnya tidak terlalu buruk!"
Meskipun dia berusaha bersikap ceria, mendengar hal itu saja sudah cukup untuk membuatku membayangkan betapa sulitnya masa-masa yang telah dilalui Yuria.
Kalo seperti aku yang seorang bocah penyendiri, justru akan menjadi lumayan tahu tentang hubungan pertemanan di kelas, dan aku sudah banyak melihat anak-anak yang dijauhi dari kelompok populer.
Dan mereka semua pasti berada di posisi yang sangat sulit.
Kelompok anak-anak populer yang terlihat mencolok di permukaan itu, ternyata isinya cukup keras dan dingin.
Kalo melakukan suatu kesalahan dan sekali saja dijauhi oleh kelompok tersebut, maka mantan anggota kelompok anak-anak yokya yang telah dijauhi itu tidak akan dapat bergabung dengan kelompok anak-anak yinkaya, dan akhirnya akan sepenuhnya terisolasi di dalam kelas.
Memang ada kasus di mana seseorang dapat diterima kalk ada anggota kelompok anak-anak yinkya yang bersikap sedikit lebih ramah, tapi kebanyakan dari mereka memiliki kecanggungan atau rasa enggan terhadap anak-anak yokya, sehingga hal tersebut bukanlah sesuatu yang realistis.
"Karena aku orang yang canggung, aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara berdamai secara jujur. Aku tahu kalo dia akan masuk sekolah swasta di dekat sini, jadi aku merasa tidak ada pilihan lain selain masuk sekolah negeri. Yah, pada akhirnya ini hanyalah bentuk 'pelarian', kan?"
Meskipun Yuria mengatakan itu dengan nada mencemooh dirinya sendiri, aku yakin kalk latar belakang dari semua itu dipenuhi dengan berbagai penderitaan yang tidak bisa kubayangkan sebagai seorang siswa pendiam.
"...Yuria, kau itu kuat. Tidak hanya dalam hal itu, tapi juga dalam banyak hal lainnya."
"Ku-kuat? Aku? Tapi bukankah barusan aku mengatakan kalo justru aku ini lemah."
Yuria membelalakkan matanya dan bertanya balik.
"Soalnya, kalo aku yang berada di posisi Yuria, aku pasti sudah tidak mau masuk sekolah sejak hari setelah dijauhi, dan aku mungkin sudah membenci semuanya. Tapi Yuria tetap pergi ke sekolah meskipun telah dijauhi, belajar dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya berhasil lulus ke sekolah ini. Itu benar-benar luar biasa, dan tanpa ragu itu merupakan bukti kalo Yuria itu kuat."
"Aku...kuat, ya."
Mungkin dirinya sendiri tidak menyadarinya, tapi keteguhan hati Yuria benar-benar sesuatu yang patut dikagumi.
Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat aku tiru.
"Ryota, kau biasanya hanyalah anak mesum biasa, tapi di saat seperti ini kau bisa mengucapkan sesuatu yang benar-benar baik, ya."
'”Hei, bagian 'anak mesum' tadi tidak perlu diucapkan, kan?"
"Tapi ya...kalo kau mau bersikap baik dan menghibur seperti itu, cukup lakukan itu padaku saja, oke? Soalnya, kau mungkin akan mendapatkan semacam kesalahpahaman."
"Salah paham? Apa maksudmu?”
"Tidak apa-apa. Sebagai gantinya...aku juga akan jadi pihak yang mendukung Ryota. Selalu, dan selamanya."
Yuria menampilkan senyum hangat yang berbeda dari senyum cerahnya yang biasanya.
Yuria, yang merupakan orang yang paling memahami diriku, akan selalu menjadi sekutuku, ya.
Bukan sekadar menenangkan, tapi entah kenapa...terasa agak erotis.
"Baiklah, kalo kau mau jadi sekutuku, sebagai sekutu, pertama-tama aku mau meminta dipangku di pahamu yang besar itu."
"Itu benar-benar tidak masuk akal. Sungguh, pria ini...menyebalkan, mulai sekarang aku akan melarangmu melihat pahaku selama seminggu."
"Hah!? To-tolong, jangan yang itu!"
"Setidaknya sampai ujian selesai. Kendalikan dulu nafsumu."
"Eh...!"
"Munyaa...aaah! Kalian berdua, tangan kalian berhenti bekerja! Kalo kalian tidak serius belajar, kalian tidak boleh menyebut ini belajar kelompok, tahu!."
" "Kau yang tertidur tadi tidak pantas mengatakan itu!" "
Tanaka yang entah sejak kapan sudah bangun, menegur kami dengan mata sayu, dan kami berdua langsung menimpalinya bersama-sama.
Setelah itu, kami melanjutkan kembali sesi belajar kelompok.
"Untuk sejarah Jepang, kalo kalian menghafal semua halaman yang termasuk dalam cakupan ujian dari awal sampai akhir, 100 poin itu akan mudah kalian dapat!"
"Masalahnya aku tidak bisa menghafal sebanyak itu sekaligus."
"Tidak masalah! Karena bahkan gadis berkacamata, datar, dan pendiam sepertiku yang sekecil kutu air bisa melakukannya, maka gadis gal cantik dengan paha besar nan montok seperti Ichinose-san pasti bisa melakukannya dengan sempurna!"
"Kau punya rasa percaya dirinya serendah Ryota ya...maksudku, apa kau juga berpikir seperti itu tentangku?"
Entah bagaimana, Tanaka dan Yuria terlihat semakin dekat, dan Tanaka juga sudah bisa berbicara dengan Yuria tanpa canggung.
"Baiklah...sekarang sudah hampir jam 7 malam, bagaimana kalo kita akhiri di sini saja?"
Aku berkata begitu kepada keduanya sambil melihat jam di Hp-ku.
Sama seperti saat belajar bersama Airi, ketika kami benar-benar fokus seperti ini, waktu terasa berlalu begitu cepat.
"Benar juga. Soalnya, rumah Ryota memang biasanya makan malam sekitar jam 7 malam, kan?"
"Ya, jadi sebaiknya──"
"Eh, tunggu. Tanaka, kau tahu terlalu banyak soal Ryota, ya?"
Saat aku dan Tanaka sedang berbicara, Yuria tiba-tiba menyela.
"Tahu waktu makan malamnya, sampai kau diminta orang tuanya untuk jadi pengawasnya. Meski kalian sudah dekat sejak SMP, tapi jaraknya itu terasa seperti teman masa kecil."
"Yaa〜? Soalnya, waktu kelas 1 dan 2 SMP, aku cukup sering bermain dengan Ryota-kun. Jadi, aku juga membangun hubungan baik dengan keluarganya, bisa dibilang begitu."
"Hubungan baik katamu...itu cuma karena Tanaka terlalu lancang. Kau memuji-muji kakakku yang juga gadis pendiam seperti dirimu demi mendapat pakaian bekasnya, terus tanpa sepengetahuanku, kau belajar resep babi panggang dari ibuku hari Minggu kemarin."
"Ti-tidak, Ryota, itu bukan berarti dia lancang... Tanaka, kau ini, sengaja menyusun strategi luar dalam, ya."
"A-a-a! Ichinose-san, tolong jangan sembarangan bicara! Aku cuma ingin membangun hubungan baik dengan kakak dan ibu Ryota, itu saja───!"
Tanaka menggelengkan kepalanya sekuat tenaga sampai kacamatanya hampir terlempar, dia dengan wajah merah padam menyangkal itu.
Apa yang terjadi, tiba-tiba?
Seperti biasa, Tanaka memiliki emosi yang tidak stabil.
Setelah itu, sesi belajar yang riuh berakhir, dan kami pun menyambut ujian akhir semester di akhir pekan.
★★★
──Hari ujian akhir semester.
Aku terbangun pada waktu seperti biasa, sarapan pada waktu seperti biasa, lalu berangkat dari rumah pada waktu seperti biasa.
Meskipun hanya beberapa kali dalam setahun, menjaga rutinitas harian saat hari ujian adalah hal yang penting.
Hanya karena hari ini hari ujian, tidak baik kalo bersikap terlalu tegang atau gelisah──.
"Selamat pagi, Ryota-kun. Hari ini ujian ya?"
Seperti aku yang berusaha menjaga rutinitasku seperti biasa, pada waktu yang biasa, di tempat yang biasa, Kuroki Rui sudah berdiri di tempat biasa dia menungguku.
Di depan gerbang rumah, Rui melambaikan tangannya sambil rambut hitam panjangnya berkibar.
Kalo soal ini, aku sih tidak masalah kalo tidak seperti biasa....
"O-oh selamat pagi, Rui...hari ini juga kau repot-repot datang ya?"
"Ya. Memang hari ini hari ujian, tapi yang terpenting adalah tetap seperti biasa."
Seperti biasa, kah. Kenapa kau memikirkan hal yang sama denganku...
Entah bagus atau tidak, kebiasaan pergi sekolah bersama Rui sepertinya mulai menjadi hal yang biasa.
Sambil memikirkan hal itu, hari ini pun aku berangkat ke sekolah bersama Rui.
"Kelihatannya kau sangat tenang...apa kau tidak merasa tertekan sebagai peringkat 1."
"Tentu saja. Soalnya aku selalu sempurna tanpa perlu melakukan sesuatu yang istimewa."
Rui berkata seperti itu sambil tersenyum manis, tapi ucapannya sama sekali tidak imut.
"Itu yang kau bilang, 'tanpa melakukan hal yang istimewa' itu."
Padahal Rui sendiri memiliki bakat yang luar biasa....
"Tapi karena turnamen nasional antar SMA sudah dekat, akhir-akhir ini kegiatan klub mu pasti semakin sibuk, kan?"
"Memang begitu, tapi...kau tahu cukup banyak ya?"
"Ya jelas aku tahu, soalnya seseorang suka mengirim ku foto selfienya sehabis latihan. Kalo dibandingkan dengan foto-foto sebelumnya, selfie belakangan ini kelihatan beda, entah itu lelahnya atau jumlah keringatnya."
"Hee〜? Jadi Ryota-kun, kau sampai memperhatikan jumlah keringat dari foto-foto selfi-ku ya...?"
"Eh, bu-bukan itu..."
Karena alur pembicaraan, aku tanpa sadar mengatakannya, sehingga akhirnya terbongkar kalo aku memeriksa foto selfie Rui dari ujung ke ujung secara teliti.
Si-sial...aku benar-benar terpancing.
Kenapa aku bisa terjebak dalam perangkap yang jelas-jelas mencolok seperti ini!
Rui menyipitkan matanya dan tersenyum anggun.
Seolah-olah sedang berkata, 'Sesuai rencana'.
"Jangan seenaknya menggoda perjaka polos seperti itu!"
"Aku tidak menggoda kok?"
"Kau menggoda! Se-semua laki-laki, akan melihat lebih teliti ketika seorang teman sekelas perempuannya mengiriminya foto selfie yang sedikit erotis! Itu wajar karena kami sedang dalam masa pubertas!"
Sambil seperti anak kecil yang sedang marah karena malu, aku berusaha keluar dari situasi ini.
Sungguh cara yang sangat menyedihkan.
"Fufu...kalo begini, tinggal menunggu waktu saja sampai kau tidak bisa merasa puas dengan yang lain..."
"H-ha?"
"....Aku menantikannya."
A-apa yang dimaksud dengan 'menantikannya' aku sendiri tidak begitu mengerti, tapi setidaknya boleh diasumsikan kalo aku akan terus menerima foto darinya ke depannya, kan?
"Ah, omong-omong, Ryota-kun? Kalo dua orang itu berhasil lolos dari nilai merah, Ryota-kun akan menuruti semua yang kami katakan selama liburan musim panas, apa itu tidak apa-apa?"
"So-soal itu...yah, karena aku sudah terlanjur berjanji, mau bagaimana lagi."
"Padahal sebenarnya kau sendiri juga tidak keberatan , kan?"
Oh, kau tahu itu dengan baik.
"Kalo aku bisa memperlakukan Ryota-kun sesukaku...mungkin aku akan mengundangmu untuk datang."
"Me-mengundang? Eh, ke mana?"
"Itu...ya. Anggap saja kejutan setelah ujian selesai."
Rui mengedipkan matanya dengan gaya yang menggemaskan saat dia mengatakan itu.
Sebenarnya aku akan dibawa ke mana...! Itu terlalu menyeramkan!!
Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa agar aku tidak dibawa ke tempat terpencil di pegunungan atau semacamnya.
Saat aku tiba di kelas bersama Rui sambil berbincang, suasana kelas benar-benar berbeda dari biasanya.
Tidak ada suara seperti biasa di kelas, yang hanya terdengar suara pensil mekanik yang digoreskan dan suara halaman buku yang dibalik.
Aku dan Rui segera merasakan atmosfer itu, dan tanpa bertukar kata, kami memasuki ruang kelas dan mulai belajar.
Konsentrasi setiap orang berbeda ...atmosfer di kelas juga cukup tegang.
Meskipun ada banyak siswa yang termasuk golongan 'berkesadaran tinggi', bukan berarti semuanya seperti itu.
Banyak juga siswa seperti Yuria dan Airi yang berjuang mati-matian demi menghindari nilai merah.
Di sekolah ini, nilai merah pada dasarnya ditetapkan berdasarkan setengah dari rata-rata nilai tiap mata pelajaran.
Karena ini adalah sekolah unggulan, secara otomatis nilai ambang merah itu menjadi tinggi.
Oleh karena itu, Airi dan Yuria yang sejak masuk sekolah sering lalai dalam belajar, setiap kali selalu jadi bagian dari 'gyaku-harigami-gumi' dengan nilai-nilai merah bertubi-tubi.
Tapi kali ini mereka sudah berusaha keras, jadi pasti mereka mendapatkan nilai yang bagus... eh, tunggu? Ngomong-ngomong, Yuria dan Airi belum datang ya?
Aku merasa begitu sambil melihat ke kursi sebelah kiri dan kursi di depanku, tapi tepat saat itu, aku melihat dua orang masuk ke dalam kelas dari koridor...tapi.
A-apa itu barusan.
Keduanya sudah terlihat kelelahan bahkan sebelum ujian dimulai, dengan lingkaran hitam di bawah mata mereka.
Itu...tidak diragukan lagi mereka begadang semalaman.
"O, ohayou〜, Ryotaa〜"
Airi menyapa dengan suara lemas seperti dia hanya memiliki sisa 5 HP.
"O-oi, apa kau baik-baik saja?"
"Baik, baik〜 Airi sehat kok〜"
"Sehat apanya."
"Ohaa〜, Ryouta〜"
"Yu-Yuria...kau juga."
Suara Yuria yang melewati punggungku menuju kursi di sebelah kiri juga terdengar benar-benar habis dalam berbagai arti.
Suara macam apa yang kalian berdua keluarkan!
"Ka-kalian berdua, apa kalian benar-benar tidak apa-apa dalam kondisi seperti itu?"
"Baik, baik. Soalnya kami berdua belajar sambil menelepon sampai pagi."
"Sampai pagi, maksudmu?"
Semangat belajar setinggi itu memang bagus, tapi kalo kondisi fisik mereka saat ujian seperti ini...
Rui yang duduk di sebelah kananku juga hanya bisa mengangkat bahu dengan ekspresi heran.
"Lagipula, serius, setelah ujian ini selesai, kita akan melampiaskan stresku pada Ryota tanpa ragu. Ya kan, Airi."
"Setuju〜"
"O-oi, tunggu dulu. Sejak kapan aku berubah jadi alat pelampiasan stres kalian berdua."
"Kalau begitu, setelah ujian selesai, ayo kita kelilingi semua cabang karaoke di depan stasiun!"
"Mana mungkin! Satu tempat karaoke saja sudah cukup!"
Begitu aku membalas dengan suara keras, mungkin karena terlalu keras, tatapan penuh niat membunuh dari sekeliling langsung mengarah padaku seolah berkata, 'berisik! Apa kau mau kami bunuh!'
Hiii, maaf...
Aku mengecil dan menutupi wajahku dengan buku pelajaranku.
"Lagian, Kami berdua telah mencapai hasil yang baik dalam hasil cek yang kami lakukan kemarin, jadi sepertinya kami tidak akan mendapat nilai merah."
"Ryota, bersiaplah oke───?"
Kedua orang dari kelompok gyaku-harigami-gumi itu terlihat sangat bertekad untuk tidak mendapatkan nilai merah.
Terutama Airi, karena soal pekerjaan paruh waktunya, dia pasti ingin menghindari nilai merah dengan segala cara.
Tapi rasa percaya diri mereka yang terlalu besar ini justru terasa seperti pertanda buruk...
Dengan sedikit kegelisahan di dalam hatiku, ujian akhir semester selama 2 hari pun dimulai.
★★★
──Beberapa hari telah berlalu sejak ujian akhir semester.
Akhirnya, hari ini adalah hari yang telah dinanti-nantikan, hari pengembalian hasil ujian.
Hasil ujian semua mata pelajaran akan dikembalikan pada hari yang sama, tapi entah kenapa hasilnya diputuskan untuk diperlihatkan bersama-sama setelah jam pelajaran selesai.
Seperti itu, saat pulang sekolah, 3 orang───Yuria, Airi, dan Rui───tetap tinggal di kelas dan meletakkan hasil ujian mereka di mejaku seolah berkata, ini 'Lihatlah ini'.
"Bagaimana, Ryota! Inilah kemampuan kami!"
Seperti yang terlihat dari ekspresi penuh percaya diri mereka, baik Yuria maupun Airi yang sebelumnya dikhawatirkan, berhasil melewati batas nilai merah.
Padahal nilai ambang batas merah kali ini cukup tinggi...
"He-hebat, kalian berdua luar biasa!"
"Tentu saja. Kami belajar mati-matian, tahu."
"Bukan cuma berhasil menghindari nilai merah, coba lihat, matematika Airi dapat 70 poin! Dan Yuria dapat 80 poin di bahasa Inggris!? Kalian benar-benar hebat!"
"Ja-jangan terlalu memuji kami."
"Kalo Airi dan yang lain serius, ini adalah kemenangan yang mudah, dengan ini, Airi bisa bebas bu...bukan, kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan pada Ryota!"
Airi hampir saja keceplosan soal pekerjaan paruh waktunya...tapi yah, anggap saja semua sudah selesai dengan baik.
"Nee, Ryota-kun? Aku dapat nilai di atas 98 di semua mata pelajaran, hampir semuanya 100 poin, dan aku jadi peringkat pertama di angkatan kita, lho?"
"Eh? Ah, begitu ya? Jadi kau juara lagi...ya."
"Pe—ri—ng—kat—1—loh〜?"
Rui menatapku dengan pandangan menyipit dan terus mengulang dengan nada yang sangat menyebalkan.
Apa mungkin... dia juga ingin dipuji, begitu maksudnya?
Aku tidak terlalu yakin, tapi kalo memang begitu───
"Hebat sekali, Rui! Aku tidak percaya kau berada di peringkat nomor 1 lagi saat ini! Aku yakin pasti sekarang Tanaka sedang merasa frustasi sekarang!"
"Fufu... kalo kau mau memuji ku, bisakah kau tidak menyebut nama perempuan lain juga?"
"Eh? Ah, iya... maaf."
Padahal aku sudah memujinya, tapi untuk beberapa alasan aku malah dimarahi.
Apa-apaan, itu?
Kuroki Rui selalu memenangkan peringkat 1, jadi kalo dia dipuji untuk peringkat 1 sekarang, seharusnya itu tidak membuatnya senang, kan?
"Hmm, apa Rui juga ingin dipuji oleh Ryota?"
"Tidak juga? Aku tidak pernah bilang ingin dipuji."
"Ara, Rui-chan benar-benar tidak bisa jujur, ya. Airi belajar sungguh-sungguh karena ingin dipuji oleh Ryota! Sekarang kita bisa bermain bersama saat liburan musim panas!"
Ah, benar juga. Aku terlalu terkejut karena mereka berhasil menghindari nilai merah, sampai aku lupa soal liburan musim panas.
"Pokoknya, hasil tes itu hanya syarat awal, kan? Sekarang kita tentukan siapa yang dulu bisa memperlakukan Ryota sesuka hati... kita putuskan lewat jan-ken sekarang."
"Jan-ken? Jadi kalo Airi menang, Airi yang pertama boleh bermain dengan Ryota?"
"Betul. Yang menang jan-ken boleh meminta apapun pada Ryota di awal liburan musim panas, entah itu membawakan belanjaan, jadi pesuruh, atau apa pun. Bagaimana?"
"Fufu... kedengarannya bagus. Aku juga tidak keberatan."
Apa maksudnya 'tidak keberatan'?
Mereka seenaknya saja memutuskan... jadi aku tidak punya hak bicara, ya?
Atas saran Yuria, pembicaraan soal janji itu terus berlanjut tanpa melibatkan aku yang jadi objek utama.
"Ryota, kau harus siap-siap, oke? Kami sudah menepati janji kami untuk menghindari nilai merah, jadi sekarang apa pun yang kau katakan kau tidak bisa menolak, dan kau harus mengikuti kami sepenuhnya."
"Yah, yah... itu sebenarnya tidak masalah."
Diseret oleh tiga orang ini selama liburan musim panas, bagiku justru terasa seperti sebuah hadiah.
Lagipula, ini adalah kesempatan langka untuk melihat pakaian kasual mereka bertiga (apalagi pakaian musim panas yang tipis). Tidak mungkin aku akan melewatkannya.
Nah, ketika aku memikirkannya seperti itu, tidak ada alasan untuk menolak... tapi kalo harus menyebut satu hal yang mengkhawatirkan───
"...Fufu. Jan-ken, kah."
Dengan senyum kecil, Rui melirik ke arahku.
Dia pasti memikirkan sesuatu yang buruk, jadi kekhawatiran terbesarku adalah kalo Rui mungkin memberiku beberapa perintah aneh.
Kalo sampai dia bilang 'Aku akan mengurungmu sampai kau jatuh cinta padaku' atau semacamnya, itu jelas akan bahaya.
Nanti aku akan ketahuan kalo aku bisa saja terangsang oleh permainan seperti itu.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba tangan Rui yang muncul entah dari mana mencubit lenganku sekuat tenaga.
"Itu sakit! A-apa yang kau lakukan, Rui!?"
"Ryota-kun? Kalo kau terus memikirkan hal-hal aneh, aku akan benar-benar melakukannya, lho?"
A-apa ... Kenapa orang ini bisa membaca pikiran ku secara alami seperti itu?
"Ja-jangan baca isi kepalaku!"
"Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu, tahu?"
"Ta-tapi kau tahu apa yang aku pikirkan───"
"Soalnya, Ryota-kun. Dari tadi matamu penuh rasa curiga. Padahal aku tidak berniat membuat permintaan aneh sama sekali, kok."
Bagaimana ya. Padahal sebelumnya, saat membicarakan hal ini, dia sempat bilang sesuatu seperti 'Aku akan membawamu ke suatu tempat'.
Tapi yah, kalo orang sejenis Kuroki Rui yang memiliki bakat luar biasa yang tidak manusiawi, bahkan jan-ken yang bagi orang biasa adalah permainan keberuntungan pun pasti bisa dia menangkan dengan mudah.
"Kalo begitu, ayo kita mulai jan-ken-nya."
[TL\n: Batu gunting kertas.]
Ketiganya saling berhadapan dan mengangkat tangan.
Sementara aku duduk di kursiku, menatap pertandingan jan-ken yang dipertaruhkan atas kepemilikanku yang berlangsung tepat di depan mataku.
" " "Jan—ken!" " "
Begitu semua mengeluarkan tangan mereka──pertandingan langsung selesai dalam satu babak.
".....Eh?"


