Kamu saat ini sedang membaca Inkya no ore ga Sekigae de Skyubishojo ni kakomaretara Himitsu no kankei ga hajimatta volume 2, chapter 3. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
LIBURAN MUSIM PANAS BERGANTUNG PADA GADIS-GADIS CANTIK
──Hari pertama liburan musim panas akhirnya tiba.
Begitu liburan musim panas dimulai, musim panas yang sesungguhnya pun tiba, dan kalo kau keluar rumah, cuacanya sangat panas sampai-sampai kau mulai berkeringat.
Lalu, di mana aku berada di hari pertama liburan musim panas yang seperti ini...
"Ryota,Ryota, kita sebentar lagi sampai di rumah Oba-chanku〜"
Sambil menaiki bus tua yang penuh dengan kursi kosong dan tanpa pendingin udara, kami menempuh perjalanan selama 1,5 jam di jalanan pedesaan yang dipenuhi sawah.
Begitu turun dari bus, aku pun sampai di sebuah kota pedesaan yang dikelilingi hutan, penuh dengan alam, dan udaranya jernih.
"Ah, ah, selamat datang ya Airi"
"Oba-chan, terima kasih sudah menjemput! Ah, ini teman Airi, namanya Izumiya Ryota"
"Wah wah, pacarmu ya?"
"Mou, bukan begitu〜!"
Begitulah──aku datang ke kampung halaman Airi yang terletak di pedesaan terpencil, demi tujuan tertentu milik Airi yang memenangkan permainan janken.
Tempat ini adalah wilayah perkampungan pegunungan yang berada sekitar 2 jam perjalanan bus dari kota tempat kami tinggal, diapit oleh pegunungan besar.
Saat aku melihat sekeliling, yang terlihat hanyalah pemandangan khas pedesaan seperti alam hijau yang rimbun, rumah-rumah tua, sawah, dan balai warga──seakan sedang melihat diorama pedesaan.
Jadi begini hebatnya desa yang benar-benar terpencil...
"Izumiya-san, terima kasih sudah mau bermain dengan Airi"
Airi Oba-chan yang menjemput kami di halte bus mengucapkan terima kasih dengan senyum penuh kasih sayang khas seorang nenek.
"A-aah, tidak, justru aku yang selalu merepotkan Airi-san..."
"Yang seperti itu terlalu kaku! Lebih penting dari itu, kita harus segera bersiap-siap untuk memenuhi tujuan kita hari ini!"
"O-ou."
Didesak oleh Airi, aku mulai melakukan persiapan demi menyelesaikan tujuan kami hari ini.
Tujuan hari ini... Kah.
Aku tiba-tiba teringat secara samar-samar tentang bagaimana aku bisa sampai di sini.
──Kembali ke satu minggu yang lalu.
Selama liburan musim panas, untuk memperebutkan hak perintah pertama dalam hukuman (yang sebenarnya adalah hadiah) di mana mereka bisa memberikan perintah sebanyak yang mereka inginkan kepadaku, 3 gadis cantik memulai permainan janken.
" " "Jan-ken-poーn." " "
Aku benar-benar mengira kalo Rui akan menang seperti biasanya, tapi hasil yang terjadi di depan mataku ternyata berbeda.
Airi mengeluarkan gunting, sedangkan Yuria dan Rui sama-sama mengeluarkan kertas, sehingga pertandingan langsung selesai dalam satu putaran.
"Airi menang, Ryota───! Airi yang pertama kali boleh minta sesuatu───!"
"Aah, aku kira Airi akan mengeluarkan batu seperti biasa."
"Karena Airi tahu kalian berdua akan berpikir seperti itu, Airi membalikkan prediksi kalian! Setelah belajar untuk ujian, Airi jadi sedikit lebih pintar!"
Airi membusungkan dadanya dengan wajah penuh kebanggaan, dan akibat gerakan itu, oppai besarnya berguncang hebat ke sana kemari.
Ohoo...ini benar-benar...eh, hm?
Saat aku terus-menerus menatap oppai, aura negatif mulai terasa dari sampingku.
O-o-oh, aura ini adalah...
"Fufu...aku tidak pernah menyangka, aku bisa kalah."
Benar...itu adalah Kuroki Rui.
Karena kalah dalam permainan jan-ken, dia menyipitkan matanya lebih dari biasanya sambil mengerutkan alisnya, tapi perlahan dia mulai menampakkan senyumnya.
"Airi, bukankah itu hebat? Aku juga mengira kau akan mengeluarkan batu, tapi aku tidak menyangka kau justru membalikkan prediksi itu."
"Ehehe, Airi dipuji oleh Rui-chan."
Rui berbicara kepada Airi dengan senyum seperti biasa, tapi kalo dilihat sekilas ke arah tangannya yang disembunyikan di belakang, terlihat jelas kalo tangannya terkepal erat.
Rui adalah perfeksionis dalam segala hal, jadi meskipun hanya permainan keberuntungan seperti janken, kalah tetap membuatnya sangat kesal.
Atau mungkin saja, dia benar-benar punya sesuatu yang ingin dia perintahkan kepadaku lebih dulu...tapi, lebih baik jangan aku pikirkan.
"Lalu, Airi kau mau memberi perintah apa pada Ryota?"
"Eeh, jadi perintah untuk Ryota tentu saja penting, tapi aku juga ingin meminta tolong pada kalian berdua───"
"Eh, kami juga?"
Yuria memiringkan kepalanya, dan Airi mengangguk pelan.
"Airi ingin menangkap kumbang kabuto tahun ini! Dan juga kuwagata raksasa!"
[TL\n: maksudnya kumbang tanduk dan kumbang rusa.]
" " "Eh..." " "
"Makanya, perintah Airi adalah, setelah liburan musim panas dimulai, kita semua akan pergi ke hutan dan berburu serangga!"
Aku penasaran perintah apa yang akan dia dapatkan, ternyata pengumpulan serangga...seperti yang diduga, Airi tetaplah Airi.
"Ehm, aku pass. Aku tidak tahan serangga."
"Kejam sekali, Yuria! Serangga juga berjuang keras untuk hidup, tahu!"
"Tidak...kalo aku melihat serangga hidup, rasanya aku yang mati."
Tatapan Yuria yang berkata seperti itu dengan wajah datar terlihat seperti mata ikan mati.
Seberapa bencinya Yuria pada serangga?
"Kalo begitu, bagaimana dengan Rui-chan? Ayo kita semua menangkap kabutomushi!"
[TL\n:Kabutomushi (カブトムシ) adalah sejenis kumbang tanduk atau kumbang badak Jepang yang termasuk dalam famili Scarabaeidae dan subfamili Dynastinae. Nama "kabutomushi" secara harfiah berarti "serangga helm" dalam bahasa Jepang, karena tanduk besar pada jantan menyerupai helm samurai (kabuto).]
"A-aku juga pass, sepertinya...serangga itu menjij───maksudku, setelah liburan musim panas dimulai aku langsung ada acara pencatatan penting───"
Oi, bahkan Rui juga...
Sepertinya yang disebut ikatan tiga gadis cantik itu tidak berguna saat berhadapan dengan serangga.
"Mou〜 kalian berdua kejam sekali! Airi ingin menangkap kabutomushi bersama semua orang."
"Maaf ya, Airi. Tapi kan, sekarang ada Ryota."
"Benar, Airi? Karena ada Ryota-kun bersamamu, kami tidak apa-apa tidak ikut, kan?"
Yuria dan Rui tiba-tiba mencoba menjadikanku tumbal.
"Tunggu dulu kalian! Aku juga sebenarnya tidak terlalu suka serang──"
"Kau harus menuruti perintah kami...itu sudah janji, kan? Ryota?"
"Benar, Ryota-kun."
Yuria dan Rui mulai mengatakan hal yang seperti iblis.
Me-mereka ini...!
"Apa Ryota juga tidak mau menangkap serangga bersama Airi?"
Airi berkata begitu dengan suara yang hampir menangis, sambil menatapku dari bawah.
Wa-wajah seperti itu di saat seperti ini...curang sekali.
Memang benar aku sudah berjanji kalo perintah harus dipatuhi, jadi aku tidak bisa menolaknya sekarang.
".....Ba-baiklah. Aku akan melakukannya! Aku akan ikut menangkap serangga!"
"Benarkah! Yatta───"
Wajah Airi yang hampir menangis langsung berubah menjadi senyum lebar sambil mengguncangkan oppai-nya.
Begitulah, aku akhirnya harus pergi menangkap serangga berdua dengan Airi...dan sampailah pada kondisi saat ini.
Dibawa ke pedesaan seperti ini di tengah musim panas, dan dibiarkan jadi santapan nyamuk sepuasnya...haaah.
"Kita sampai───!"
"Hmm?"
Airi tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah tua dekat halte bus.
"Di sinilah rumah keluarga ibunya Airi."
"Oh, rumah ibumu ya."
"Untuk sementara kita taruh barang-barang di sini dan bersiap dulu? Boleh kan, Obaa-chan?"
"Tentu saja. Di sungai juga ada semangka yang sedang didinginkan, jadi bersantailah dulu."
Rumah tua di pedesaan dan semangka dingin dari sungai...benar-benar suasana pedesaan Jepang yang sempurna.
Baiklah kalo begitu kami akan tinggal di sini sampai...tidak, tunggu sebentar.
"O-oi Airi."
"Ada apa, Ryota? Apa kau mau ke toilet?"
"Bukan itu! Maksudku, kalo sampai sore bukankah sudah tidak ada bus lagi."
"Iya. Memang benar kok. Emang kenapa?"
Jangan 'benar kok' dong!?
"Jangan-jangan...kita akan menginap di sini?"
"Eh? Iya, benar kok?"
Jangan 'benar kok' juga!?
(Untuk kedua kalinya hari ini)
Menginap bersama Airi, sebuah kejadian mendadak yang membuat seluruh pria iri, event super menggoda.
"Eh? Bukannya aku sudah bilang kalo hari ini kita akan menginap?"
"Ka-kau tidak pernah bilang!?"
Ini terlalu berlebihan untuk disebut hadiah!
Sejak tadi otakku hanya dipenuhi oleh khayalan berwarna merah muda.
[TL\n: maksudnya pikiran-pikiran cabul, kaya pikiran kalin yg baca.]
"Ah, jangan-jangan di rumah Ryota ada jam malam atau tidak boleh menginap, ya?"
"Kurasa tidak ada, tapi untuk jaga-jaga nanti aku akan minta izin."
"Benarkah? Terima kasih, Ryota. Sampaikan salam Airi untuk ibumu, ya."
Aku tidak percaya Airi sama sekali tidak keberatan menginap dengan lawan jenis...dia benar-benar kurang waspada.
Meskipun kami memang teman, tapi bagaimanapun aku tetap seorang laki-laki, tahu?
Kemungkinan aku menyerangnya saat dia tidur pun...tidak, aku terlalu pengecut untuk melakukan itu.
Apa mungkin Airi memang tidak melihatku sebagai 'laki-laki'.....
Kurasa dia cuma melihatku aku sebagai 'teman dekat lawan jenis'.
Aku hendak masuk ke rumah mengikuti di belakang Airi, namun Airi tiba-tiba berhenti di depan pintu geser rumah tua itu.
"Hmm? Airi?"
"Itu...apa kau tahu? Karena sebenarnya Airi jadi gugup kalo harus menginap berdua saja dengan Ryota, Airi juga ingin Yuria dan Rui-chan ikut...tapi pada akhirnya, kita jadi menginap berdua saja, kan?"
Airi mengatakannya dengan alis mengernyit tapi wajah sedikit tersenyum.
"Sepertinya Airi tetap gugup, deh."
A-a-apa maksudnya itu...!?
Jadi Airi sadar kalo aku ini laki-laki dan...tw-tapi, yang mana maksudnya?
Aku punya firasat kalo malam menginap ini akan penuh kebingungan mulai muncul.
★★★
"Pe-permisi."
Aku membungkuk kecil sambil melepas sepatuku dan masuk ke dalam rumah.
Lantai di bawah kakiku berderit, dinding kayu yang sudah memudar dimakan usia, serta pintu geser kertas yang tampak rapuh seolah mengundang untuk dilubangi───meskipun ini pertama kalinya aku datang ke sini, rasanya seperti aku sedang pulang ke kampung halamanku.
Rumah ini benar-benar terasa seperti kumpulan kenangan nostalgia.
"Nee, Obaa-chan. Kamar yang bisa dipakai untuk menginap, tetap cuma yang itu saja, ya?"
"Iya, soalnya kamar lain sudah dipenuhi barang-barang."
Sepertinya Airi sedang membicarakan kamar yang akan kami gunakan untuk menginap malam ini...
"Yang itu maksudmu kamar apa?"
"Kamar loteng!"
"Ka-kamar loteng?"
Karena rumah ini rendah, aku mengira tidak memiliki lantai dua, tapi ternyata rumah ini memiliki kamar di loteng.
Aku dibimbing oleh Airi, dan kami menaiki tangga yang mengarah ke kamar loteng.
"Jadi ini kamar lotengnya."
Langit-langit yang menyatu membentuk sudut dan sebuah ruangan yang cukup luas.
Lantainya dilapisi karpet, dan di dalamnya hanya terdapat sebuah lemari dan meja rendah.
Selain itu, tidak ada perabotan lain───sebuah ruangan yang kosong dan sederhana, sepertinya kamar ini tidak digunakan untuk menyimpan barang.
Airi membuka jendela kecil di kamar itu untuk sirkulasi udara.
Udara sejuk masuk ke dalam kamar loteng yang sedikit berdebu itu.
"Airi sangat menyukai kamar ini. Rasanya seperti markas rahasia, kan?"
"Ya. Ini ruangan yang cocok untuk membangkitkan semangat kekanak-kanakan."
"Muu, Airi bukan anak kecil!"
Bagaimanapun juga, Airi tetap terlihat seperti anak-anak. Kecuali oppai besar-nya.
"Kalo begitu, boleh aku tidur di sini?"
"Iya! Malam ini kita akan menata futon di sini dan tidur, lalu besok pagi-pagi kita mulai acara utama───mencari serangga!"
"Ah, baik...hmm? Tunggu. Menata?"
"Ya!"
"A-Airi juga akan tidur di sini?"
"Tentu saja! Rumah ini sempit, jadi kamar yang bisa dipakai untuk menginap cuma loteng ini."
Ti-tidak mungkin!
Artinya malam ini aku benar-benar akan menghabiskan malam bersama Airi! Aku bahkan tidak membawa barang itu hari ini!
"Kalau Ryou-ta tidak mau, Airi akan tidur di bawah meja makan..."
"Jangan tidur di tempat seperti itu! Baiklah! Di sini saja tidak apa-apa."
Meskipun aku berusaha terlihat seperti orang yang terpaksa, sebenarnya dalam hati aku sangat menyambut hal ini.
"....Begitu ya! Kalo begitu, ayo kita tidur bersama oke?"
"O-oh."
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Airi, tapi sudah lama aku tidak tidur sekamar dengan perempuan sejak waktu tidur siang di taman kanak-kanak, jadi aku cukup gugup...
Kalo sampai aku dan Airi terbawa suasana sampai pagi, maka urusan serangga bisa jadi tidak penting lagi...
"Ah! Ternyata ini masih ada!"
Saat aku sedang dipenuhi pikiran-pikiran tidak murni hingga membungkuk, Airi menemukan sesuatu dari dalam lemari dan mengeluarkannya.
"Ini, foto ya?"
"Iya! Ini foto Obaa-chan waktu masih muda! Dia cantik sekali, kan?"
"Hmm... hmmm!?"
Foto hitam-putih yang diberikan Airi memperlihatkan sosok yang sepertinya adalah Obaa-chan Airi saat muda... tapi,
Obaa-chan Airi... payudaranya terlalu besar.
Di pantai, mengenakan gaun putih polos, Obaa-chan Airi terlihat memiliki gaya rambut yang benar-benar seperti karakter dari anime Saza●-san, tapi bagian payudaranya berada di level yang tidak bisa ditayangkan pada jam 18:00 di hari Minggu───sebuah oppai luar biasa yang memancarkan daya tarik seksual tingkat tinggi.
Ti-tidak kusangka nenek itu dulunya juga punya oppai seperti ini... i-ini adalah... genetik oppai.
Kalo sudah begini, aku jadi semakin penasaran ingin melihat ibu Airi juga.
"Airi juga ingin cepat-cepat menjadi wanita dewasa〜"
"Tenang saja. Kau sudah luar biasa."
"Tadi kau memperlakukan Airi seperti anak kecil, tapi sekarang kau bilang Airi luar biasa, apa sebenarnya maksudmu?"
Baba (nenek) pai kanji (kata slang payudara besar) (disingkat BB) telah mewariskan sesuatu yang luar biasa kepada Airi.
BB, genetikmu benar-benar luar biasa.
"Ryota? Kenapa kau terlihat seperti sedang tercerahkan?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, tadi kau bilang ada sesuatu yang akan dilakukan saat sore...apa itu?"
"Fufun. Bagus sekali kau bertanya! Saat sore nanti, kita akan pergi mengoleskan madu!"
"Ma-madu?"
"Apa kau tidak tahu madu? Itu dasar saat mau menangkap kumbang tanduk, lho?"
"Da-dasar, katamu..."
Aku, seorang anak kota (mengaku sendiri), belum pernah sekalipun menangkap serangga.
"Lagipula, bukankah kabutomushi itu bisa ditemukan sebanyak apapun di hutan? Pasti sekarang juga masih beterbangan, kan?"
"Kau terlalu naif! Pikiranmu terlalu manis, Ryota! Kalo kabuto, kuwagata adalah bisa semudah itu ditangkap, semua orang tidak akan kesusahan."
"Be-benarkah begitu?"
Aku tidak terlalu paham, tapi aku pikir kalo pergi ke hutan di pedesaan, pasti ada banyak sekali serangga di pohon, dan bisa langsung ditangkap dan pulang...ternyata tidak semudah itu, ya.
"Sebenarnya, waktu terbaik untuk mencari kabutomushi itu dari tengah malam sampai subuh, dan perlu diumpan dulu supaya mereka datang."
"He-heeh..."
"Makanya, kita akan langsung mulai persiapannya!"
"Eh, sekarang!?"
"Tentu saja! Ayo ke dapur!"
Airi memang kalo dia bicara soal hal yang dia sukai, dia menjadi sangat bersemangat.
Aku mengikuti Airi ke dapur, dan di sana BB alias Obaa-chan Airi sedang memegang sesuatu yang warnanya aneh───campuran pisang dan shochu.
"Ini, Airi. Obaa-chan sudah siapkan dengan baik, lho."
"Obaa-chan, terima kasih."
Airi menerima benda itu dari BB dan meletakkannya di atas bak cuci dapur.
"A-apa itu...kelihatan menjijikkan."
"Itu adalah umpan untuk menarik kabutomushi, lho?"
"Umpan? Kita akan...memakai ini?"
"Ya. Kalo pakai madu yang dicampur shochu dan pisang ini, nanti banyak akan kabutomushi yang datang!"
"He-heeh..."
Dilihat saja itu sudah tampak seperti fermentasi, dan baunya juga pasti luar biasa...apa ini akan menghasilkan aroma yang mirip dengan getah pohon yang disukai kabutomushi?
"Jadi, ini akan dioleskan ke pohon, ya?"
"Memang ada yang dioles ke pohon juga, tapi kali ini aku juga bawa ini───"
Airi mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang terlihat seperti karet.
"Jaa—n, stoking!"
Airi mengeluarkannya seperti robot kucing tertentu, lalu menarik-narik benda itu sambil menunjukkannya padaku.
[TL\n: pasti si Doraemon, siapa lagi kalo bukan dia.]
Yang ada di tangan Airi adalah stoking berwarna krem, dan hanya dengan melihat teksturnya saja itu sudah cukup membangkitkan sisi laki-lakiku.
S-st-stoking, katamu!?
"Stoking ini nanti diisi madu, lalu dibungkuskan ke pohon semalaman! Paginya pasti banyak kumbang tanduk yang───"
"Ya-yang benar saja..."
"Eh? Ada apa, Ryota?"
"Menggunakan barang mahal seperti stoking perempuan untuk memancing kabutomushi!? Bukan cuma kabutomushi, nanti yang datang malah para penyimpang juga!"
Aku menatap Airi dengan mata terbelalak sambil berseru.
"H-ha? Ryota, kau bicara apa sih?"
"Kalo bisa secara legal mengerubungi stoking perempuan seperti ini, kabutomushi terlalu diistimewakan!"
"Tunggu, Ryota, tenangkan dirimu dulu!"
"Mana bisa aku tenang! Dengar baik-baik, ini harus segera aku sita dan───"
"Itu barang baru yang aku beli di toko serba 100 yen, lho!"
...Ba-barang baru?
Berarti, itu bukan barang yang pernah digunakan Airi...begitu, ya.
"Fuu. Baiklah, ayo kita segera isi madu ke dalam ini."
"Mou, ada apa sebenarnya denganmu!"
Aku segera menenangkan pikiranku dan menyuruh Airi mengisi madu ke dalamnya.
Stoking baru seperti ini... hanyalah stoking biasa, tidak lebih (filsafat).
"Ryota, seperti yang kuduga, kau itu memang orang mesum, ya."
Airi menatapku dengan ekspresi heran dan pandangan sinis.
"A-aku tidak akan menyangkal itu... tapi semua laki-laki memang seperti itu."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Tapi hal itu juga berlaku untuk perempuan. Kalo perempuan melihat laki-laki seksi, dia pasti akan bilang, 'Peluk aku!' kan? Itu hal yang sama."
Aku menyampaikan hal itu seolah masuk akal.
Padahal, itu sepenuhnya hanyalah prasangka pribadiku.
"Hmm. Tapi Airi tidak seperti itu, lho. Lagipula, Airi memang tidak tertarik pada pria tampan."
"Ka-kau tidak tertarik? Tentu saja itu tidak benar, kan?"
"Benar kok. Airi lebih menyukai anak laki-laki yang memiliki kepribadian dan hati yang baik daripada hanya sekadar tampan."
[TL\n: contohnya mimin, walaupun wajah mimin di bawah standar tapi mimin tu orang nya baik hati, rajin dan suka menolong.]
Kepribadian dan hati... ya.
Itu sangat mencerminkan Airi, dan mungkin karena Airi sendiri memang orang yang seperti itu.
"Kalo begitu, apa kau sudah menemukan pangeran ideal yang memiliki kepribadian dan hati yang murni itu?"
Aku sengaja menanyakan hal yang agak menjengkelkan.
Dengan sifat Airi yang kekanak-kanakan, seharusnya dia belum menemukan orang seperti itu.
"A-ada kok...? Meskipun bukan pangeran, tapi dia lebih seperti seorang putri."
"Ha? Putri? Jangan-jangan Airi menyukai sesama perempuan? Kalo memang begitu, itu pun tidak masalah sih."
"Haa...salah! Ryota no baka!"
A-apa itu 'Baka' dalam versi Airi.
Tapi sepertinya Airi bukan termasuk penyuka sesama jenis.
Kalo begitu, siapa sebenarnya 'putri' yang dia maksud...?
"Ryota itu memang bodoh yang cuma bisa belajar saja!"
"Kenapa kau tiba-tiba menyerangku seperti itu?"
"...Hmph."
"Kenapa? Apa kau marah?"
"Ya, aku sangat marah."
"Orang yang benar-benar marah biasanya tidak mengaku sedang marah."
"Tapi aku benar-benar marah! Kalo sudah begini, kali ini bukan hanya stoking, tapi aku juga akan membungkus umpan dengan celana dalammu dan menggantungnya di pohon!"
"Ha? Omong kosong apa itu, ha-hah!?"
Begitu Airi mengatakan sesuatu yang gila, dia langsung mengulurkan tangan ke bawah tubuhku dan mencoba menarik celana dalamku.
"Lepasーkanー!"
"Hei, hentikan! Jangan bicara hal konyol!"
"Astaga. Kalian berdua bersemangat sekali sejak siang hari, ya."
"BB───, maksudku Obaa-chan Airi! I-ini bukan seperti yang Obaa-chan bayangkan!!"
Aku hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk melindungi bagian bawah tubuhku.
★★★
BB, yaitu Obaa-chan Airi, telah menyiapkan terlebih dahulu campuran madu dari pisang dan shouchuu, yang langsung kami masukkan ke dalam stoking untuk memulai persiapan.
Karena telah difermentasi, madu itu mengeluarkan aroma khas yang cukup menyengat hingga membuat pusing kalo tidak menutup hidung.
"Ini, baunya benar-benar tidak enak."
Aromanya seperti kaus kaki yang dulu sering dilepas begitu saja di depan pintu masuk oleh kakakku saat dia masih menjadi seorang JK.
[TL\n: JK adalah singkatan dari joshi kōsei (女子高生) dalam bahasa Jepang, yang berarti siswi sekolah menengah atas atau siswi SMA.]
"Kau harus tahan, Ryota. kabutomushi itu akan tertarik dengan bau ini."
"Mu-mungkin memang begitu, tapi..."
Sambil menutup hidung, aku akhirnya menyelesaikan tugas mengisi madu ke dalam stoking.
"Ngomong-ngomong, Airi kelihatan terbiasa ya? Apa sering menangkap serangga?"
"Hmm. Akhir-akhir ini tidak terlalu sering, tapi waktu kecil hanya ini satu-satunya permainan yang bisa Airi lakukan, jadi hampir setiap hari Airi melakukan ini. Lagipula, Airi suka sekali sama kabutomushi."
Airi membuat bentuk tanduk kumbang dengan jarinya, lalu menekan-nekan ringan ke bahuku.
"Airi si kabutomushi juga tertarik sama madunya Ryota───, gitu."
I-imut sekali... Kalau kumbangnya seperti ini, aku ingin menangkap sebanyak mungkin...
[TL\n: lu kira lu doang, gua juga mau.]
"Kalo Ryota bagaimana? Laki-laki pasti suka kabutomushi, kan?"
"Jangan asal menilai. Aku tidak suka serangga."
"Eh───? Tidak suka? Tapi hari ini kau tetap menemani Airi begini!"
"Itu karena, aku sudah berjanji, jadi mau bagaimana lagi."
Hasil tes yang menentukan apakah aku harus menuruti kemauan 3 gadis cantik selama liburan musim panas itu sudah merupakan janji sejak sebelum tes berlangsung.
"Tapi tapi! Kalo Ryota memang benar-benar tidak suka, pasti akan menolak seperti Yuria dan yang lain, kan? Kenapa kau tetap datang?"
"Ka-karena itu...soalnya, Airi..."
"Eh? Airi kenapa?"
"Karena Airi kan benar-benar ingin pergi menangkap serangga, kan? Kalo dua orang lainnya tidak bisa datang, lalu aku juga menolak, maka Airi akan pergi sendirian. Aku pikir itu akan menyedihkan untuk Airi, atau semacamnya."
Didesak oleh pertanyaan Airi yang terus-menerus, aku pun mengungkapkan perasaanku dengan jujur.
"Jadi Ryota datang agar Airi tidak sendirian?"
"Eh? Y-ya..."
Karena Airi menatapku dengan mata membelalak, aku mengangguk sambil menyembunyikan rasa maluku.
"....Begitu ya."
Airi tersenyum kecil sambil mengambil stoking berisi madu.
"Ryota memang orang yang baik. Ini pertama kalinya Airi bertemu anak laki-laki yang memikirkan Airi sampai sejauh itu."
"Be-begitu kah?"
"Iya. Sifat Ryota yang seperti itu, keren loh?"
Airi tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya.
Kalo saja dia tidak sedang memegang stoking yang bau itu, senyuman itu akan terlalu sempurna.
"Nah! Stokingnya sudah diisi madu, dan madu untuk dioles ke pohon juga sudah dibawa, jadi persiapannya sudah sempurna, kan?"
Lalu Airi melepaskan rambut twintail-nya dengan wajah yang terlihat agak malu.
"Airi! Airi akan cari topi jerami dulu."
"Ah..."
Airi yang barusan, entah kenapa tidak terlihat seperti biasanya yang kekanak-kanakan, senyumannya juga tampak alami.
Terlebih lagi, dia bilang aku keren...
Sambil menatap punggung Airi yang pergi mengambil topi jerami, jantungku berdetak kencang.
Dipuji oleh Airi saja sudah cukup membuat jantungku berdegup kencang, aku ini benar-benar tipe perjaka klasik.
Sambil membawa kantong plastik berisi stoking pisang yang bau dan botol berisi madu, aku menunggu Airi di depan pintu masuk.
Memang belakangan ini aku sudah bisa berbicara dengan Yuria dan Rui secara normal, mungkin aku sudah bukan otaku inkyā biasa lagi.
Ketika aku merasa telah naik tingkat menjadi otaku inkyā elit dan memasang ekspresi tenang sambil menunggu di samping pintu geser, tiba-tiba terdengar suara pasha saat pintu geser dibuka.
"Ryota, maaf membuatmu menunggu!"
Airi keluar sambil mengenakan topi jerami.
Rambutnya yang biasanya diikat dua sekarang dilepas dan terurai, rambutnya tampak berkilau dan halus, tidak kalah dengan Rui.
Ketika tertiup angin, wangi yang lembut menyapu hidungku.
Pedesaan, gadis cantik alami, topi jerami...situasi yang sangat disukai oleh ke●.
Tapi, berbeda dengan ke●, di situ ada oppai besar yang luar biasa.
[TL\n: btw itu memang sensor dari sononya ya.]
"Ryota kenapa? Ah! Ryou-ta pasti lagi melihat oppai Airi lagi!"
"Eh, memang aku melihat sih... tapi yang bilang boleh dilihat duluan itu Airi sendiri, kan?"
"So–soalnya memang begitu, tapi! Mou! Setidaknya berpura-puralah sedikit, dong!"
"Kali sudah dapat izin, ya tidak perlu sungkan. Itulah laki-laki."
"Haa... Ryota, kau sangat mesum."
Entah hanya aku saja atau tidak, tapi menurutku Airi juga sudah cukup mesum dengan memberikan izin itu... (tidak. Airi juga cukup mesum).
"Lupakan soal oppai. Ayo cepat pergi menangkap serangga!"
Sepertinya oppai memang dilupakan begitu saja.
Airi mulai melangkah menyusuri jalan pedesaan, dan aku mengikutinya dari belakang.
"Lalu, tempat utama untuk menangkap kabutomushi itu di mana?"
"Gunung milik kepala desa!"
"Mi–milik kepala desa?"
"Kepala desa di desa ini itu pemilik gunung di belakang itu!"
Airi menjelaskan sambil menunjuk ke arah gunung di belakang desa.
Sepertinya yang disebut gunung belakang itu adalah gunung besar yang terletak di ujung desa.
"Sepertinya izin menangkap serangganya sudah didapatkan dari kepala desa oleh Obaa-chan."
"Obaa-chan Airi benar-benar terlalu siap ya."
"Yah, orang-orang desa ini semuanya sudah seperti keluarga."
Semuanya seperti keluarga...kah.
Untuk diriku yang bahkan nyaris tidak pernah berbincang dengan tetangga sebelah rumahku, perasaan seperti itu sulit dimengerti.
Mungkin inilah yang disebut perbedaan antara kota dan desa.
Setelah itu, sambil berbicara kami terus berjalan sampai ke pintu masuk jalur pendakian gunung belakang, dan berjalan menyusurinya dalam cahaya senja.
"Hmm, pohon ini juga bagus."
Sambil berjalan, Airi memilih pohon-pohon di sepanjang jalan yang kelihatan cocok.
Kalo terlalu lama, matahari akan segera tenggelam dan nyamuk juga akan semakin banyak, jadi aku harap dia segera memasang jebakannya.
"Nee, Airi. Bukankah semua pohon itu sama saja...eh, hmm?"
Sambil menunggu Airi memilih pohon dari belakangnya, tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap dari atas kepala...o-ooi!
"Uwah, itu lebah!"
Sejak dulu aku sangat membenci lebah, dan begitu melihatnya di atas kepalaku, aku secara refleks akan berusaha lari.
"Ah."
Karena jalanan di gunung yang tidak rata, aku yang bergerak tergesa-gesa terpeleset dan nyaris jatuh ke depan.
"Airi! Menyingkirlah!"
"Eh?"
Aku berteriak keras saat nyaris menabrak Airi, tapi semuanya sudah terlambat.
Begitu Airi yang sedang memilih pohon itu menoleh ke arahku, aku jatuh dalam posisi seperti menyelam ke arah oppai Airi, dan Airi yang menerima tubuhku ikut terdorong dan jatuh terduduk.
"Ugh! Hah? Ti-tidak sakit. Tapi apa ini...yang lembut ini...ah."
Saat aku hendak mengangkat wajahku, kedua pipiku merasakan sentuhan yang lembut dan kenyal.
"Ittaa~...eh, tunggu Ryou-ta!? Kenapa kau!?"
Yang sedang menjepit kedua pipiku adalah───Bakunyuu besar milik Airi.
[TL\n: Bakunyuu (爆乳) adalah istilah dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti payudara besar sekali.]
Berbeda dari metafora marshmallow yang sering muncul dalam light novel, kenyataannya jauh lebih kenyal dan lembut.
Bakunyuu milik Airi yang menekan wajahku melalui pakaiannya terasa seperti bantal biji busa dengan daya pantul rendah, membungkus wajahku dengan sangat lembut.
O-o...oppai!? Ini...ini adalah sensasi nyata dari oppai!?!?
Sensasi aslinya membuatku benar-benar terharu, jauh melampaui kualitas dari oppai mouse pad mana pun.
"U-uoohhhhhh!"
"Sudah Ryota! Cepat minggir!!"
"A-ya."
Dipenuhi oleh rasa haru, aku tanpa sadar mengeluarkan teriakan sehingga membuat Airi memarahiku.
"Mou! Kau sengaja menerjang ke arah oppai Airi, kan?"
Airi menepuk-nepuk bagian belakangnya sambil bertanya dengan ekspresi yang jelas menunjukkan kemarahan.
"Yang itu sungguh bukan seperti itu! Ada lebah yang terbang di atas kepalaku!"
"Mencurigakan...lagipula lebahnya tidak ada."
"Be-benar, aku sungguh terkejut! Tolong percayalah padaku!"
"Mou, itu pasti karena kelakuanmu sehari-hari yang buruk, kan?"
Airi menggembungkan pipinya sambil menatapku dengan pandangan penuh kecurigaan.
Sial...padahal ini benar-benar terjadi.
Aku belum pernah merasa menyesali kebiasaan diriku sendiri seperti ini.
"Haa. Tapi aku senang Ryota tidak terluka."
"Eh?"
"Karena Airi yang meminta Ryota datang jauh-jauh ke gunung, kalo sampai Ryota terluka, Airi pasti merasa sangat bersalah. Jadi syukurlah."
Airi tersenyum lembut, lalu dengan hati-hati dia membersihkan debu yang menempel di wajahku.
"A-Airi...terima kasih. Dan maaf, karena aku mendorongmu secara tiba-tiba."
"Itu tidak apa-apa. Airi hanya jatuh terduduk kok, dan Airi sama sekali tidak marah?"
Airi...dia benar-benar terlalu baik.
"Tapi kau tahu, hal-hal yang bisa menimbulkan dugaan mesum seperti tadi, kalo kau melakukan hal itu pada orang lain selain Airi, bisa saja kau dibenci. Terutama oleh Yuria, dia cukup menakutkan."
Sepertinya aku juga pernah mendengar hal serupa dari Yuria...
"Ayo, kita cepat cari pohon yang bagus dan kembali. Soalnya nanti bisa-bisa kita disengat oleh lebah yang bahkan belum tentu ada."
"I-itu benar ada! Sungguh!"
Meskipun terus digoda oleh Airi, kami pun memasang perangkap di pohon dan kembali menuruni jalan setapak di gunung.
★★★
Aku malah menikmati oppai Airi dan mengabaikan kabutomushi.
Setelah itu pun, aku terus mengingat-ingat sensasi keberuntungan cabul tadi sambil kembali ke desa.
Oppai Airi...oppai Airi...
"Kerja bagus, Ryota."
"Oh, ya! Kerja bagus, Airi."
"Karena kita sudah menaruh madu di pohon! Sekarang tinggal menunggu sampai pagi kan?"
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Airi berkata begitu sambil menunjukkan senyum seperti anak nakal.
Tinggal menunggu kabutomushi mendekat, katanya, tapi tetap saja...
Kami hanya memasukkan campuran aneh dari pisang busuk dan shochu ke dalam stoking...entah seberapa besar hasilnya nanti.
"Hey, Airi. Apa benar dengan itu kabutomushi akan datang? Bagi orang awam sepertiku, jebakan itu terlihat terlalu sederhana."
"A-akan datang kok! Dan kalau pun tidak datang...kita akan menginap satu malam lagi dan mencobanya lagi!"
Sepertinya Airi memang bersikeras ingin mendapatkan kabutomushi.
"Airi, kenapa kau sangat ingin mendapatkan kabutomushi?"
"Ka-karena..."
"....karena?"
"U-umm...."
Airi menunduk sambil terlihat gelisah.
Apa ada alasan yang sulit untuk diungkapkan?
Ngomong-ngomong, aku memang belum sempat bertanya kenapa Airi menginginkan kabutomushi sampai sejauh ini.
Awalnya kupikir dia hanya ingin bermain seperti saat dia masih kecilnya...tapi, apa bukan itu?
"Apa mungkin ada alasan khusus kenapa kau menginginkan kabutomushi?"
"U...uhm. Sebenarnya, eto...maksudku."
"Kenapa dari tadi kau terlihat kesulitan untuk mengatakannya? Ja-jangan-jangan, Airi...kau berniat menjualnya?"
"Bukan! Tidak sampai sebegitunya kok!"
Airi menepuk-nepuk bahuku sambil menjawab dengan nada kesal.
"Kalau begitu, tidak apa-apa kalo kau memberitahuku, kan? Atau, apa itu sesuatu yang tidak bisa kau katakan padaku?"
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja...itu agak memalukan."
"Memalukan?"
"Ya...sebenarnya, sejak awal tahun ini, ibu Airi pulang dari pekerjaan paruh waktunya lebih larut dari biasanya. Jadi akhir-akhir ini, setiap kali Airi pulang dari kerja paruh waktu, Airi selalu sendirian di rumah..."
"Eh? Apa hubungannya itu dengan kabutomushi?"
"Itu sebabnya! Airi merasa kesepian! Saat sendirian, rasanya sangat sepi, dan ketika Airi bilang kepada semua orang 'karena kesepian, Airi ingin menelepon', mereka malah bilang 'telepon saja pacarmu'! Jadi, Airi berpikir ingin memelihara hewan...tapi di apartemen Airi, anjing dan kucing tidak diperbolehkan."
Tapi dari semua hal, dia memilih kabutomushi dari semua kemungkinan hewan yang ada...
"Pfft..."
"Ah! Ryota tertawa! Jahat sekali!"
"Maaf, maaf. Tapi bagaimana ya, alasanmu ingin kabutomushi itu terlalu imut menurutku."
"I-i-i...imut!? Be-begitukah───?"
"Ya. Entah kenapa, itu terasa sangat seperti Airi."
Sungguh kekanak-kanakan.
"Tapi kalo dipikir-pikir, karena kau tahu aku tidak punya pacar, aku bisa bicara jujur seperti ini kepada Ryota dan memintanya...mungkin."
"Meminta? Meminta apa?"
".....Tidak, lupakan! Airi ingin hidup bersama si kabutomushi, itu saja!"
Ucap Airi sambil berlari kecil mendahuluiku.
"Siapa yang sampai duluan, dia yang mandi dulu! Baiklah, Airi akan mandi duluan ya───"
"Tunggu... Ai-Airi."
Aku berdiri di tempat sambil mengulurkan tanganku, melihat Airi yang lebih dulu kembali ke rumah.
Itu sudah jelas...tentu saja pria mana pun mau mandi setelah Airi!
Sambil menatap langit malam pedesaan yang telah dipenuhi bintang, aku tersenyum hangat.
Hari panjang di pedesaan berakhir, dan sekeliling telah sepenuhnya malam.
Saat aku dan Airi kembali ke rumah, BB, Obaa-chan Airi, sudah menyiapkan makan malam.
"Wah! Campuran nasi jamur kesukaan Airi dan tempura tiram! Terlihat sangat lezat!"
"Yaa ampun. Waktu aku bilang Airi membawa laki-laki ke rumah, semua orang di pertemuan desa langsung memberiku macam-macam bahan masakan."
Ucap BB sambil tertawa dan menata hidangan di meja makan.
Tempura tiram, nasi campur jamur, sup miso kerang, natto, salad alpukat...begitu ya.
Aku sempat mengira kalo makanan pedesaan itu hanya rebusan saja, tapi itu berbanding terbalik, makan malam ini malah terasa cukup bergaya...tapi ada yang aneh.
Kalo pengetahuanku tidak salah, semua bahan dalam menu ini sepertinya adalah makanan penambah stamina...begitu ya.
Aku menoleh ke arah BB, dan BB menyunggingkan senyum menyeringai.
Begitu ya... mungkinkah ini artinya sudah disetujui secara resmi?
Diberi makanan penambah stamina dan tidak akan menghentikan apa pun yang terjadi malam ini... begitu?
Kalau diingat kembali, ketika kami bilang kalo kami akan tidur bersama di kamar loteng, beliau tidak mengomentari apa pun, kalo begitu ini...
[TL\n: Uworgh segs, segs, segs.]
"Kelihatan enak! Aku mulai makan!"
"Hoi Airi! Jangan terlalu lahap di depan tamu."
"Iya."
Airi yang ditegur oleh BB pun mulai makan dengan tenang.
"Ayo Ryota-kun juga, makanlah."
"Ah, baik. Itadakimas."
Didorong oleh BB, aku duduk di samping Airi dan mulai menikmati makan malam.
"Ryota-kun juga jangan sungkan, makan yang banyak ya? Haa. Obaa-chan ingin cepat-cepat lihat wajah cicit."
"Munyah-munyah... Hmm? Cicit? Obaa-chan, apa maksudmu?"
"Tidak ada apa-apa kok."
BB mengedipkan mata padaku untuk menghindari pertanyaan itu.
Seperti yang kuduga, BB ini... sengaja melakukannya dari awal.
Memang sih, kalau seandainya aku bisa bersama Airi, aku akan sangat, sangat, sangat, sangat, sangat senang...
Tapi Airi itu kekanak-kanakan, dan mungkin baginya tidur bersebelahan denganku hanya selevel kegiatan perkemahan sekolah.
Jadi, sebanyak apa pun aku makan tiram yang meningkatkan stamina, aku cuma akan merasa gelisah sendiri (tentu saja aku akan menahannya sampai pulang ke rumah).
"Terima kasih atas makanannya! Ah, rasanya enak sekali!"
"Eh, kau sudah selesai makan? Cepat sekali makanmu."
"Itu karena Ryota yang lambat! Karena tadi Airi yang sampai duluan, jadi Airi yang mandi pertama ya! Airi pergi dulu."
Seperti biasa, Airi yang penuh semangat berlari menuju kamar mandi sambil menggoyangkan oppai besarnya.
"Maaf ya, Airi selalu seperti itu."
"Ti-tidak, tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa."
Karena Airi sudah pergi, aku pun otomatis tinggal berdua dengan BB, dan sambil makan malam kami berbincang.
"Aku tidak menyangka ada anak laki-laki yang begitu dekat dengan Airi."
"A-apa kami terlihat begitu dekat ya?"
Sejak datang ke sini, aku selalu bersama Airi, jadi ketika hanya berdua dengan neneknya seperti ini, rasanya agak canggung.
Sebagai orang yang pendiam dan tertutup, situasi seperti ini cukup berat.
A-apa yang sebaiknya aku bicarakan?
"Saat Airi masih belum mengerti banyak hal, dia sudah kehilangan ayahnya. Untuk sementara waktu dia tinggal di sini, tapi ketika ibunya akhirnya mendapatkan pekerjaan, mereka langsung pindah ke kota."
"Begitu... ya?"
"Benar sekali. Sungguh! Ibu anak itu memang bodoh. Aku dan kakeknya dengan susah payah membiayainya masuk universitas di kota, tapi baru satu tahun kuliah dia malah berhenti dan mulai bekerja sebagai gravure idol atau apalah itu. Lalu tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba saja dia sudah punya anak. Sebagai orang tua, rasanya sungguh memalukan~"
[TL\n: wah pasti Airi hasil tembak dalam supaya bisa tanda tangan kontrak Gravure idol. Btw Gravure idol (ジャパニーズ: グラビアアイドル, gurabia aidoru), disingkat gradol, adalah istilah bagi model wanita Jepang—umumnya remaja hingga awal dua puluhan—yang melakukan sesi pemotretan untuk majalah pria, photobook, atau DVD. Mereka tampil dengan gaya semi-provokatif, biasanya mengenakan bikini, lingerie, kostum sekolah, kimono, hingga street style, tetapi tidak pernah telanjang penuh .]
"He-heh..."
BB mulai menjelek-jelekkan putrinya, dan aku yang jelas bukan bagian dari keluarga ini hanya bisa bingung.
Tunggu, gravure? Jadi ibu Airi itu mantan gravure idol?
Sepertinya nanti aku harus tanya ke Airi soal nama ibunya...
"Tapi ya, sekalipun anak itu sebodoh itu, sejak suaminya meninggal, dia bekerja mati-matian demi Airi. Meski hidup miskin, dia membesarkan Airi jadi anak yang jujur dan lurus..."
Di mata BB yang berkata seperti itu, terlihat air mata menggenang di matanya.
"A-ano. Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa. Tapi tetap saja, aku senang Airi bisa membawa pemuda sebaik ini."
"Pe-pemuda baik? Aku, maksudnya?"
"Iya. Kau sangat mirip dengan almarhum kakeknya."
"He-heh..."
Mirip denganku, katanya.
Padahal aku ini cuma otaku yinkya perjaka.
"Tolong bahagiakan Airi, ya."
"Eh, ah... baik."
Padahal kami tidak sedang berpacaran, tapi aku tidak punya pilihan selain menjawab begitu demi membaca situasi.
★★★
Setelah makan malam, aku menunggu Airi keluar dari kamar mandi di kamar loteng.
Sebenarnya aku bisa saja tetap berada di ruang tamu, tapi karena kalo aku terus berdua dengan BB, aku mungkin akan kembali disuguhi topik pembicaraan yang membuatku canggung, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar loteng.
"Haa... meskipun begitu, Airi lama sekali mandinya."
Kupikir agak menjijikkan membayangkan esensi Airi ada di bak mandi... tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Kesempatan untuk mandi setelah teman sekelas perempuan, kalo dalam kehidupan biasa jelas situasi itu tidak akan pernah terjadi.
Air sisa mandi Airi... ga-gawat, kalo aku terus memikirkan hal seperti itu, bagian bawah tubuhku akan...!
"Ryota! Aku sudah selesai mandi~"
Airi muncul dengan memperlihatkan wajahnya ke kamar loteng setelah menaiki tangga.
Karena bagian bawah tubuhku sedang menegang, aku seketika membayangkan wajah ibuku, dan dalam sekejap aku berhasil menenangkan aliran darah di bawah.
[TL\n: apapun masalahnya ibu solusinya.]
Inilah teknik penenang bagian bawah secara instan yang telah aku sempurnakan sebagai hasil kehidupanku.
Berkat seringnya mengalami gangguan orang tua, level pengalamanku sudah jauh berbeda dari laki-laki lain.
"Ryota? Ayo cepat ke kamar mandi."
"O-oh! Baiklah, aku juga akan mandi sekarang."
Meskipun aku berjalan dengan kaki agak merapat, aku tetap menanggapinya dengan wajah tenang.
"A-ano, Ryota."
"Ya?"
"Itu, tadi waktu kau berbicara dengan Obaa-chan... soal Airi, maksudku..."
"Dengan Obaa-chan? Ah, memang kenapa, Airi? Kau menguping, ya?"
"Ti-tidak! Pengait bra yang Airi bawa untuk ganti ternyata rusak, jadi waktu Airi mau mengambil bra yang lain, Airi kebetulan mendengar apa yang kalian bicarakan!!"
Airi mengatakan itu dengan nada yang sangat panik.
Jadi, Airi mendengar pembicaraan antara aku dan BB... eh, tunggu sebentar!
B-bra... kait bra-nya rusak, katanya!?
A-apa memang kalo ukuran payudara terlalu besar, kejadian seperti itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi?
"Hey, Ryota? Kau dengar tidak sih?"
"Eh? A-apa?"
"Makanya! Soal Airi, bahw—uhh...ya sudahlah! Lupakan saja! Dasar Ryota baka!"
"Eeeeh!?"
Padahal aku tidak mengatakan apa-apa, tapi entah kenapa aku dimarahi.
Jangan-jangan, aku ketahuan sedang memikirkan soal bra tadi?
"Cepat pergi mandi sana!"
"O-oke."
Aku pergi ke kamar mandi sambil sedikit merasa sedikit bersalah, tapi dalam hati aku merasa seperti melompat kegirangan, dan begitu aku sampai di sana, aku perlahan melangkahkan kaki masuk ke dalam uap air tersebut.
Masuk ke kamar mandi... kapan terakhir kali aku merasa begitu berdebar hanya untuk melakukan hal ini?
Tidak, tidak───ini pertama kalinya.
Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun hidupku, aku merasakan semangat seperti ini hanya karena akan mandi.
Saat perjalanan studytour di SMP, teman-teman laki-laki sekelasku pernah berkata kalo air dari pemandian perempuan mengalir ke pemandian laki-laki, jadi pada dasarnya kami mandi bersama para perempuan───teori konyol seperti itu dulu hanya kutertawakan dengan pikiran dewasa dan sinis...tapi sekarang, semuanya berbeda.
"Ini... bak mandi yang Airi pakai..."
Setelah membersihkan seluruh tubuhku dengan shower hingga menjadi suci, aku berdiri telanjang bulat di depan bak mandi kecil.
Di hadapanku ada sisa air mandi tempat seorang teman perempuan sekelasku telah berendam.
Hal seperti ini, untuk anak laki-laki yang sedang dalam masa pubertas, pasti akan membuat mereka senang dan menyelam langsung dengan wajah mereka lebih dahulu.
Eh? Katamu laki-laki normal pasti akan malu dan tidak akan masuk?
Hmph, maaf, tapi aku akan masuk. Tentu saja, sebagai pria mesum.
"Kalo begitu... sudah waktunya."
Sambil menahan keinginan untuk melompat masuk seperti Lupin, aku perlahan memasukkan kakiku ke dalam bak mandi.
"Ah, hangat... Rasanya seperti tubuhku sedang dipeluk dari belakang oleh Airi."
Inilah kekuatan imajinasi luar biasa di masa pubertas.
Tapi karena ini sisa air mandi Airi, maka tidak sepenuhnya salah untuk mengatakan kalo aku sedang dipeluk oleh Airi.
"Tempat ini... sudah menjadi segalanya milik Airi."
★★★
Sekitar 1 jam menikmati mandi, aku kembali ke kamar loteng dengan senyum puas di wajahku.
"Aah. Aku sudah selesai mandi... eh, apa ini."
Di kamar loteng, dua set futon berjejer berdampingan.
Sepertinya saat aku tidak ada, Airi telah menyiapkan dua set futon untuk kami.
"Ma-maaf, Airi. Kau bahkan sampai repot-repot mengeluarkan futon-nya."
"Sudahlah, jangan bahas itu. Karena kita sudah sedekat itu."
Airi menepuk bahuku dan berkata sambil tersenyum.
"A-ah. Terima kasih, Airi."
"Yah, soalnya malam ini Airi yang memaksa untuk menginap, jadi setidaknya ini harus Airi lakukan. Lebih penting lagi, bagaimana mandinya?"
"Mandi? Luar biasa... Di antara semua mandi yang pernah kualami, ini jelas peringkat 1 tanpa tanding."
"Mou, cuma karena mandi saja kau berlebihan, Ryota. Tapi airnya tidak terlalu panas kan? Airi tidak masuk ke airnya, jadi Airi kurang tahu suhunya."
"...Eh?"
Begitu aku mendengar ucapan Airi yang terucap begitu saja, aku menjatuhkan pakaian yang sedang kupegang.
Ma-ma-ma...!
[TL\n: yahahha kecewa berat tu pasti si mc.]
"Hm? Ada apa, Ryota? Mulutmu terbuka lebar begitu?"
"Tu-tunggu! Barusan kau bilang apa? Tidak masuk ke dalam bak mandi?"
"Ya. Aku hanya menggunakan shower dan tidak masuk ke dalam baknya, kok?"
"A-apa!? Kenapa kau tidak masuk?"
"Karena aku pikir, Ryota mungkin akan merasa tidak nyaman kalo harus masuk ke bak mandi setelah aku menggunakannya."
"Ngh!"
A-apa...!? Jadi, Airi tidak masuk ke dalam bak mandi!?
Kalo begitu, pelukan hangat dari Airi yang kurasakan di dalam bak mandi tadi...apakah hanya khayalan!?
"Lagi pula, kalo rambut panjangku mengambang di air, Ryota mungkin akan terkejut, dan aku agak malu. Ehehe..."
Airi tersenyum malu-malu dengan manis.
Meskipun dia biasanya terlihat tidak terlalu memikirkan hal-hal secara mendalam, ternyata Airi sangat memperdulikan ku...
Kuh! Dibandingkan dengan itu, aku ini apa!?
Tersenyum sendiri karena bekas air Airi (yang ternyata hanya air biasa) sambil memikirkan hal-hal yang tidak pantas! Apa kau tidak malu? Sebagai manusia!
Aku diliputi rasa malu dan perasaan bersalah terhadap Airi.
"Ryota? Kenapa kau menggigit bibirmu?"
"Ti-tidak ada apa-apa, Airi. Hanya saja...aku merasa telah gagal sebagai laki-laki."
"Gagal? Airi tidak terlalu mengerti, tapi... Ryota, ayo duduk di futon...kita bersama..."
Hah? Di atas futon...bersama...?
Tubuh bagian bawahku langsung bereaksi seketika.
"Jangan-jangan maksudmu, se──"
"Jajaaaang! Airi membawa kartu remi dan Ba●ru●mu! Ayo main bersama───?"
Mendengar itu, gairah di tubuh bagian bawahku langsung mereda dalam sekejap.
Airi, dengan senyum lebar di wajahnya, mengeluarkan sebuah Ba●ru●mu yang ukurannya tidak masuk akal dari dalam koper.
Dia benar-benar membawa benteng sebesar ini hanya untuk mainan dan memasukkannya ke koper... Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan komentar sarkastik karena terlalu kecewa.
"Haa...seperti yang kuduga, Airi tetaplah Airi."
"Apa maksudmu? Ayo, sekarang kita bermain yang super exciting, oke?"
"Iya, iya."
Aku yang sempat sedikit berharap akan kemungkinan hubungan antara laki-laki dan perempuan, akhirnya hanya menemani Airi bermain Ba●ru●mu sampai dia puas.
★★★
Tengah malam pukul 00.00.
Aku dan Airi berbaring di atas futon yang dibentangkan berdampingan.
Tentu saja tidak ada AC di sini, tapi karena malam di pedesaan cukup sejuk, dengan menggantung lonceng angin di dekat jendela dan menyalakan kipas angin pada mode 'kuat', panasnya masih bisa sedikit teratasi.
Tapi, karena beberapa baling-baling kipas angin itu patah, suara 'bun-bun' yang dihasilkannya sangat berisik.
Nyaris sebanding dengan suara dengung lebah yang telah membawaku ke dalam keberuntungan mesum.
"Mau aku matikan lampunya?"
"O-ooh."
Saat Airi mematikan lampu loteng, cahaya bulan yang masuk dari jendela sedikit menerangi ruangan.
Yah...hari ini melelahkan dalam banyak hal, jadi aku juga akan tidur.
"Nee, Ryota, apa kau masih bangun?"
"Tentu saja masih. Lampunya bahkan belum dimatikan selama 2 menit."
"Ka-kan, iya juga ya───"
Suara Airi terdengar dari futon di sebelah kiriku.
"Rasanya ini seperti studytour, ya."
"....Ya, kau benar. Tapi biasanya, kalo studytour, laki-laki dan perempuan akan tidur terpisah, dan jujur saja, aku pikir aku tidur berdampingan begini dengan Airi itu cukup bermasalah, tahu?"
"Tidak apa-apa kok. Soalnya Ryota itu bukan pria yang akan menyakiti Airi."
Sambil mengatakan itu, Airi perlahan memiringkan tubuhnya ke arahku dan menatap ke sini dalam posisi berbaring.
Airi mengenakan pakaian yang sulit disebut piyama, berupa kaus dan hot pants, dan gambar sapi yang tercetak di bagian depan kausnya tampak memanjang seperti tubuh dachshund karena bagian dada kausnya menegang sangat ketat.
E-e-e-ero.
"A-ano, Ryota."
"A-ada apa? Kok tiba-tiba kau begitu serius?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Ryota. Ini sesuatu yang tidak bisa aku katakan saat festival budaya waktu itu."
"E-eh...?"
Tidak bisa dikatakan saat festival budaya...?
Jangan-jangan ini... pe-pengakuan!?
"Airi merasa... anak laki-laki yang pernah memberikan wafer pada Airi waktu kecil itu mungkin adalah Ryota."
Yang Airi katakan merupakan sesuatu yang cukup mengejutkan.
"...Hah? Wafer?"
"Kau ingat kan? Itu pernah kuceritakan sebelumnya. Saat Airi masih kecil dan miskin, Airi duduk di bangku depan toko permen, lalu ada anak laki-laki yang memberi Airi wafer."
Ah, iya, sekarang aku ingat... Airi pernah bercerita tentang itu di toko permen.
"Jadi, maksudmu anak itu adalah aku?"
"Iya. Kantong biru yang dibawa anak itu sepertinya sama dengan yang ada di rumah Ryota, dan katanya Ryota sering membeli wafer yang sama sejak dulu, kan? Waktu kita pergi ke toko permen berdua beberapa waktu lalu, Airi sempat merasa anak itu dan Ryota mirip."
"Be-benarkah begitu?"
"Ya, meskipun ini tidak bisa dijadikan bukti. Dan sebenarnya Ryota juga tidak ingat, kan?"
"Itu... ma-maaf."
Sama seperti kenangan dengan Rui, aku tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian di masa kecilku.
Lagi pula, kalo aku berada di pihak yang ditolong, mungkin aku masih bisa mengingatnya.
Tapi kalo hanya sekadar menolong, kenangannya bisa saja sudah memudar.
Tapi ini bukan cerita light novel di mana tokohnya bisa tiba-tiba mengingat sesuatu dengan dramatis seperti 'Saat itu!'. Kenyataannya tidak semanis itu.
"Tapi ya, meskipun ternyata itu bukan Ryota, itu tidak masalah! Airi ingin anak laki-laki yang memberi wafer saat itu adalah Ryota. Airi berharap itu Ryota, dan Airi ingin percaya itu."
Dengan pipi yang sedikit memerah, Airi mengatakan itu dengan wajah serius, lalu dia membalikkan tubuhnya membelakangi ku.
"A-Airi?"
"E-ehehe... barusan itu, terdengar seperti pengakuan ya?"
"E-eh! A-aah, iya, ya!"
"Ah, cuma bercanda. Maaf jadi cerita panjang. Besok kita juga harus bangun pagi, jadi ayo tidur sekarang, Ryota."
"Y-ya!”
Karena Airi tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berdebar kencang, dan aku benar-benar menjadi sangat gugup.
Apa maksudnya 'terdengar seperti pengakuan'! Ini seperti adegan manis dari shoujo manga!
A-apa jangan-jangan Airi benar-benar menyatakan perasaannya padaku...?
Semakin aku memikirkannya, semakin banyak pikiran tentang Airi yang memenuhi kepalaku.
Saat aku memegangi kepalaku karena terlalu bersemangat, tiba-tiba muncul notifikasi LINE di Hp-ku... eh, tunggu.
Begitu melihat isi pesannya, mataku hampir meloncat keluar.
『Kuroki: Hei Ryota-kun? Tadi setelah latihan klub atletik, aku mampir ke rumahmu, tapi ibumu bilang kau tidak pulang hari ini. Apa kau baik-baik saja? Apa kau menginap di rumah keluarganya Airi?』
I-ini... benar-benar gawat.
Padahal aku baru saja selesai mandi, tapi keringat dinginku tidak berhenti mengalir.
Masalah menginap ini diketahui oleh orang yang paling tidak boleh tahu!?
Sementara Airi mulai mengeluarkan suara napas tidur 'suu, pii' di futon sebelah, aku menggenggam Hp-ku dengan tanganku yang gemetar dan mata terbuka lebar.
Di loteng yang kini benar-benar diselimuti keheningan, jantungku berdegup sangat kencang.
Ini jelas bukan suara detak jantung manis ala shoujo manga 'jantungku terdengar olehnya~' tapi lebih seperti 'zawazawa' dari manga perjudian tertentu.
Dari semua orang, kenapa harus Rui yang tahu aku menginap...
Rui memiliki ketertarikan aneh terhadapku, yang pernah 2 kali menyelamatkan dirinya dari situasi sulit.
Dia mencoba melunakkanku sebagai manusia dengan mengirim selfie-nya, dan kenyataannya gara-gara selfie itu, aku sekarang berada dalam situasi di mana aku tidak bisa menolak menjadi wakil ketuanya.
Kalo sampai Rui tahu aku menginap bersama Airi, siapa tahu apa yang akan terjadi setelah ini... tidak, aku pun tidak tahu.
Tapi bagaimanapun juga, meskipun sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa, akan jadi kesalahpahaman besar kalo aku dianggap sudah melakukan sesuatu.
Demi menjaga nama baikku, aku harus bicara jujur.
Kalo aku bicara jujur, semuanya akan selesai... kan? Mungkin.
Aku membuka layar obrolan LINE yang tadi aku lihat tanpa memberi tanda baca.
Baiklah, sekarang, dari mana aku harus mulai...?
『Kuroki: Fufu. Ryota-kun, akhirnya kamu menandai pesanku sebagai sudah dibaca♡』
Sesaat setelah aku membuka obrolan, pesan itu dikirim oleh Rui.
A-apa dia, jangan-jangan selama ini terus memantau layar obrolan sampai muncul tanda sudah dibaca dariku...?
Ini sudah hampir seperti cerita horor.
Tapi kalo memang dia terus mengawasi, aku harus segera berkata jujur.
Kalo tidak, dia akan mengira aku sedang mencari-cari alasan.
Aku langsung mengetik pesan dengan segenap kekuatanku.
『Sebenarnya begini! Katanya menangkap kabutomushi lebih baik dilakukan pagi-pagi sekali, tapi karena di pedesaan tidak ada bus, aku jadi menginap di rumah neneknya Airi! Lagipula, sebagai tambahan saja, kamar tidurnya terpisah ya? Jadi jangan berpikiran aneh.』
O-oke. Selesai. Sempurna.
Meski di bagian akhir aku menyisipkan kebohongan kecil, itu demi menunjukkan kalo aku tidak melakukan apa-apa.
Sekitar 90 % isinya adalah kebenaran. Jadi tidak salah.
Kalo begini, Rui akan paham kalo menginap itu hanya demi mencari serangga, dan tidak ada maksud lain, jadi seharusnya aman... tapi.
『Kuroki: Hmm begitu ya~. Tapi, bagian terakhir itu bohong, kan?』
Entah kenapa kebohongan itu langsung ketahuan.
Eh, kenapa bisa... a-apa dia cuma menggertak?
『Kenapa kau bisa tahu begitu?』
『Kuroki: Sebenarnya tadi aku memang bertanya seolah-olah belum tahu soal kau yang menginap, tapi sebenarnya aku sudah lebih dulu berkomunikasi lewat LINE dengan Airi, dan setelah mendengar situasinya, aku dikirimi foto seperti ini, tahu?』
Foto seperti ini? ...Haah!?
Foto yang dikirim oleh Rui memperlihatkan aku dan Airi sedang bermain B●ttle●oom di tengah dua buah futon.
Hanya Airi yang menatap ke arah kamera sambil berpose damai, jadi kemungkinan besar dia diam-diam melakukan selfie saat aku sedang membereskan B●ttle●oom.
『Kuroki: Dua futon yang disusun berdampingan. Di salah satu futon terdapat pakaian yang sepertinya dilepas oleh Ryota kun saat mandi. Di sudut ruangan ada barang-barang bawaan milik dua orang. Apa kau masih akan bersikeras kalo kalian berada di kamar yang berbeda?』
Aku benar-benar melakukan kesalahan fatal.
Aku meremehkan daya pengamatan orang super sempurna yang tidak pernah lengah.
『Kuroki: Semuanya sudah ketahuan kok? Ryota-kun?』
A-AIRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!
Aku memelototi Airi yang tertidur lelap di sebelahku.
Memang seharusnya aku tidak pernah mencoba berbohong pada Rui.
『Kuroki: Karena kau sudah berbohong, begitu pulang nanti, aku harus menghukummu dengan benar saat kau kembali, oke? Selamat tidur, Ryota kun.』
Rui sama sekali tidak memberi kesempatan untukku menjelaskan, dan dia langsung mengakhiri percakapan setelah mengatakan semua yang ingin dia sampaikan.
Hukuman...kah.
Kalo cuma dipukul di bokong, aku sih malah senang, tapi kalo itu dari Rui, jelas itu bukan hal yang bisa dianggap sepele.
Padahal selama liburan musim panas ini saja aku sudah jadi bawahan tiga gadis cantik...dan sekarang aku masih harus dihukum...
"Haa...sudahlah, tidur saja."
Sambil memikirkan kemungkinan untuk menetap di pedesaan ini, aku perlahan memejamkan mataku.
★★★
──Pagi berikutnya, pukul 05.30.
"Ryota! Bangun!"
Aku dibangunkan oleh suara yang keras di pagi hari.
Saat aku perlahan membuka mataku dari tidur lelapku, dalam pandanganku yang masih samar, terlihat langit-langit yang tidak aku kenal dan seorang gadis cantik ber-oppai besar dengan gaya rambut two-side up.
"Eh? Langit-langit yang tidak aku kenal dan gadis cantik ber-oppai besar... jangan-jangan aku bereinkarnasi ke isekai? Kalo begitu, mungkinkah kau ibuku, dan setelah ini akan───"
"Ini bukan isekai! Dan Airi juga bukan ibumu! Sudah, jangan mengigau. Cepat bangun, kita akan pergi menangkap kabutomushi!"
"Hm...ah, benar...aku menginap di rumah Airi."
Saat pikiranku yang masih setengah sadar mulai kembali jernih, aku menyadari situasinya───Airi mengenakan topi jerami, baju lengan panjang, dan celana panjang.
Benar juga, aku datang ke sini untuk menangkap serangga...
Semakin aku mengingat keadaan sekarang, aku juga kembali teringat kalo Rui mengetahui soal aku yang menginap, dan perasaanku menjadi agak suram.
Dihukum saat pulang nanti...itu sungguh membuatku khawatir.
"Ayo cepat ganti pakaian dan periksa perangkapnya!」
"A-Aku mengerti, jadi jangan terburu-buru begitu."
Setelah didesak oleh Airi, aku segera bersiap, lalu kami berdua keluar rumah.
Meskipun matahari sudah terbit, karena jalan setapak di pegunungan cukup sulit dilalui, kami berjalan sambil menyalakan senter.
"Aku menantikannya...kabutomushi..."
Airi mendaki jalan pegunungan dengan ringan dan penuh semangat, persis seperti anak kecil di malam Natal.
Tapi, melihatnya seperti ini, kalo ternyata tidak ada kabutomushi di sana, rasa kecewanya pasti akan sangat besar.
Apalagi kalo yang terkumpul justru serangga seperti kanabun atau G, itu akan menjadi pemandangan yang lebih menyedihkan lagi.
[TL\n: G tu kecoa ye.]
"Ryota, sebentar lagi kita sampai di pohon tempat kita memasang madu, lho."
"A-ah..."
"Ada apa, Ryota? Kau terlihat tidak bersemangat? Apa kau tidak suka pagi hari?"
"Bukan begitu, tapi...maksudku, Airi sudah menantikannya seperti ini, jadi aku khawatir kalau-kalau tidak ada kabutomushi di sana."
Airi pasti akan kecewa, dan karena sifatnya yang kekanak-kanakan, bisa jadi dia akan merajuk.
Aku jujur menyampaikan kekhawatiran itu pada Airi.
"Ryota kau itu, di saat-saat seperti ini bisa sangat perhatian dan sangat baik, ya? Padahal biasanya isi pikiran cuma hal-hal mesum~"
"Da-dasar. Itu tidak ada hubungannya sekarang."
"Ahaha! Tapi ya, Airi menyukai Ryota yang baik dan juga Ryota yang mesum. Seperti yang pernah Airi bilang, dua-duanya adalah bagian dari Ryota."
"A-Airi..."
"Dan lagi, meski kita tidak berhasil menangkap kabutomushi pun, Airi sudah senang hanya dengan punya kenangan bisa menghabiskan waktu berdua dengan Ryota. Karena waktu berdua tadi...menyenangkan sekali, lho!"
Begitu rupanya. Kupikir Airi sangat bersemangat sejak pagi hanya karena menantikan kabutomushi...tapi ternyata dia menikmati waktu bermain berdua denganku.
Mengetahui itu, aku merasa benar-benar senang dari lubuk hatiku.
Awalnya aku sempat khawatir kalau-kalau Airi akan merasa bosan karena hanya berdua denganku.
Kalo begitu...aku juga harus menikmatinya.
"Baiklah, kalo begitu ayo kita pergi, Airi. Tapi kalau nanti ada banyak Gokib●ri di sekitar perangkap pisang, jangan kaget ya?"
[TL\n: maksudnya kecoa.]
"Airi tidak akan kaget kok? Airi sudah terbiasa menangani Gokib●ri."
"Itu bohong, kan...A-Airi! Ada Gokib●ri di pundakmu."
"Eh? Bo-bohong! Jangan-jangan-jangan!"
Airi jelas terlihat pucat dan dia buru-buru memeriksa pundaknya sendiri.
"Tuh, nggak ada! Dasar Ryota pembohong!"
"Tapi kan tadi kau bilang kalo kau sudah terbiasa."
"Mou!"
Airi memukul-mukul pundakku tanpa ampun. Rasanya cukup sakit.
"Jangan marah dong. Lihat pohonnya sudah di depan kita."
"Hmm...kalau begitu, kalo tidak ada kabutomushi, mungkin Ryota yang akan Airi jadikan peliharaan pengganti〜"
"Aku sih tidak masalah."
"Sudah Airi duga kau akan bilang begitu. Tapi Airi tidak butuh peliharaan yang mesum, tahu〜"
Airi menjulurkan lidahnya sambil mengejekku.
Kuh...tidak kusangka akan ada hari di mana aku merasa iri pada kabutomushi yang bisa jadi hewan peliharaan Airi...
"Ryota, kita harus mendekat perlahan supaya kabutomushi tidak kabur, ya?"
"O-oke."
Aku dan Airi mendekati pohon tempat kami memasang perangkap pisang dan madu dengan langkah hati-hati...dan kemudian.
".....!A-ada! Ada 2 ekor!"
Airi, meskipun dengan suara pelan, dia sepertinya tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya saat mengguncang pundakku.
Memang benar, pada stocking perangkap pisang yang kami pasang di pohon, terdapat 2 ekor kabutomushi.
Tapi...ada satu masalah.
"Ryou-ta? Kenapa kau tidak terlihat senang?"
"Ti-tidak, soalnya..."
Kabutomushi yang terperangkap itu adalah sepasang jantan dan betina.
Dan yang lebih parah lagi...kedua kabutomushi itu sejak pagi-pagi buta sudah melakukan perkawinan tanpa peduli siapa pun yang melihat mereka.
Kabutomushi jantan menindih betina dari atas, dan bagian tubuh jantannya yang menjulang itu terlihat begitu...penuh nafsu.
Ini sih, peliharaan yang jauh lebih mesum daripada aku!
"Anak-anak ini kok tenang sekali ya? Baiklah, mumpung begini...dapat〜"
Airi yang kurang paham soal pengetahuan seksual, menangkap kedua kabutomushi itu dengan jaring tepat saat mereka sedang merasa enak, lalu memasukkannya ke dalam kotak serangga.
Itu adalah pagi musim panas di mana aku benar-benar menyadari bahwa anak-anak bisa sangat kejam.
★★★
Setelah menangkap kedua kabutomushi itu, kami memeriksa perangkap lainnya, tapi pada bagian pohon yang diolesi madu hanya menarik serangga kecil saja, dan tidak ada kabutomushi yang datang.
Hasilnya, perangkap pisang yang dibuat dengan stocking tadi adalah yang paling efektif.
"Yang berhasil kita tangkap, hanya 2 ekor kabutomushi jantan dan betina! Kerja bagus, Ryou-ta!"
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Airi berkata dengan riang sambil terus mengintip ke dalam kotak serangga.
Bagaimanapun juga, aku lega karena Airi terlihat senang.
Tadinya khawatir apa yang akan terjadi kalo tidak kabutomushi, tapi ternyata ada juga (meskipun sempat terkejut karena mereka sedang 'beraktivitas').
"Tapi cuma 2 ekor. Biasanya bukankah bisa dapat lebih banyak?"
"Hmm. Mungkin saja bisa dapat lebih banyak sih, tapi Airi sudah sangat puas, kok."
Sambil berkata begitu, Airi menunjuk ke dalam kotak serangga.
"Yang jantan namanya Ryota, dan yang betina namanya Airi!"
"Eh? Nama kita diberikan ke kabuto?"
"Soalnya bahkan sebelum ditangkap, mereka sudah menempel erat begini dan mereka terlihat dekat sekali, kan? Kalo mereka sudah sedekat itu, nama Airi dan Ryota yang paling cocok, kan?"
Tu-tunggu dulu, kalo begitu artinya aku dan Airi sudah berada dalam hubungan yang melakukan hal-hal semacam itu...
"Boleh ya, Ryota?"
"Eh, y-ya. Aku sih tidak keberatan."
"Kalo begitu sudah diputuskan. Mulai sekarang kalian adalah Ryota dan Airi!"
Aku tidak keberatan nama kami diberikan, tapi...umur kabutomushi tidak panjang.
Aku ingin kedua kabutomushi itu bisa hidup sedikit lebih lama.
Karena yang jantan dinamai Ryota, entah bagaimana aku juga ingin dianggap sudah lulus dari status perjaka.
Bahkan kabutomushi saja sudah kehilangan keperjakaannya, sedangkan aku...tapi kalau aku terus begini, kurasa aku tidak akan pernah lulus.
Padahal tadi malam, aku tidur satu kamar dengan Airi, tapi tidak ada hal mesum yang terjadi sama sekali...haa.
Tapi kalau menyangkut Airi, bermain seperti anak-anak begini justru lebih menyenangkan untuknya.
"Ha! Ryota naik lagi di atas Airi───! Mereka benar-benar dekat, ya───"
Tubuhnya seperti gravure idol, tapi pengetahuan seksualnya setara anak SD, meskipun begitu, Airi suatu hari nanti pasti akan belajar tentang 'permainan orang dewasa' dengan seseorang.
Dengan oppai sebesar itu dan wajah yang cantik, kalau dia masuk universitas di kota besar, dia pasti akan...
Kalo dipikirkan seperti itu, entah kenapa hatiku jadi terasa tidak enak.
"Ryota, Ryota! Aku ingin kirim foto kabutomushi pada Yuuri dan Rui-chan, jadi tolong fotokan Airi dengan kabutomushi───"
"........"
"Hmm? Ryouta?"
Saat aku melangkah sambil merasa gelisah, Airi yang berjalan di sampingku menarik bajuku sedikit.
"Ada apa? Kau kelihatan cemberut."
"Ah...bukan, hanya daja, entah kenapa...aku ingin Airi tetap seperti sekarang."
"Airi, tetap seperti sekarang?"
Tanpa benar-benar memahami apa yang aku katakan, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, hingga membuat Airi bertanya balik.
Apa yang tiba-tiba aku katakan!?
Mengatakan kalo aku ingin dia tetap seperti sekarang───padahal aku bukan siapa-siapanya Airi, aku terdengar seolah-olah aku berhak berkata begitu padanya!
"Aneh ya yang barusan! Ma-maaf!"
"Tidak kok. Sama sekali tidak aneh? Meskipun Airi tidak terlalu mengerti maksud 'Airi yang seperti sekarang', tapi Airi akan tetap menjadi Airi seperti biasa, dan Airi akan bersama Ryota juga...selalu."
Berbanding terbalik dengan aku yang merasa gelisah tanpa alasan, Airi menjawab dengan senyum lebar yang tulus.
Selalu, kah...
"Terima kasih, Airi. Aku hanya...karena aku merasa Airi yang kekanak-kanakan seperti biasa itu yang terbaik, jadi kupikir aku akan merasa sedikit tidak senang kalo suatu hari Airi berubah menjadi dewasa..."
"Mou! Airi itu bukan anak kecil!"
"Bukan, maksudku itu hanya kiasan saja."
"Tapi kalo Ryota mengatakan Airi yang sekarang itu baik, maka Airi mungkin akan tetap menjadi seperti sekarang? Lagipula, Airi sendiri tidak tahu apa definisi dari 'dewasa' itu!"
Airi tersenyum cerah sambil menunjukkan gigi putihnya.
Senyuman 100 poin, dengan oppai besarnya yang bergoyang pelan.
Mungkin ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang begitu manis.
Dengan daya tarik sebesar ini, andai Airi tidak sepolos sekarang, mungkin sejak lama dia sudah berhasil mengendalikan seluruh laki-laki di sekolah...aku bahkan sampai berpikiran seperti itu.
"Tapi yang lebih penting dari itu, fotonya! Ambil foto Airi bersama kabutomushi!"
"Fo-foto?"
"Kita harus mengirimkannya ke Yuuri dan Rui-chan!"
"Mereka berdua tidak menyukai serangga, jadi aku pikir sebaiknya tidak usah dikirim..."
"Tidak apa-apa! Terutama Rui-chan, dia sangat cerewet dan bilang harus segera melapor kalo terjadi sesuatu!"
Meskipun aku yakin 'kalk terjadi sesuatu' yang dimaksud itu adalah hal yang berbeda...
Aku tetap mengambil foto Airi yang tersenyum sambil memegang kotak serangga, meski dengan wajah masam.
★★★
Perjalanan menangkap serangga selama 2 hari akhirnya selesai, dan kami memutuskan untuk pulang dengan bus pukul 10 pagi.
Setelah selesai berkemas, kami pun pindah ke depan pintu masuk.
Airi memeluk erat kotak serangga yang berisi Ryota dan Airi seolah itu adalah benda yang sangat berharga, dan sebagai gantinya aku membawa barang-barang milik Airi...meski sejujurnya, kuharap B●su●u●mu itu ditinggalkan saja.
"Kalau begitu, Obaa-chan, kami pergi dulu ya?"
"Te-terima kasih atas segalanya. Makanannya sangat enak."
"Ohohoh, tidak perlu berterima kasih. Tapi yang lebih penting..."
BB lalu mengeluarkan sesuatu yang berwarna merah dari dalam saku bajunya, dengan gerakan hati-hati.
"Ini Airi. Obaa-chan sudah memperbaiki bra-mu."
BB mengeluarkan bra ukuran super besar berwarna merah menyala dengan renda mawar...tu-tu-tu-tunggu, i-itu...!
I-itu kan bra milik oppai besar Airi!!!
"Tunggu! Obaa-chan, jangan keluarkan itu di depan Ryota!"
"Ara, maaf ya. Sepertinya pikun mulai menyerang."
Meskipun berkata begitu, BB masih sempat mengedipkan sebelah matanya padaku.
Sebagai mantan wanita ber-oppai besar, beliau tahu betul bagaimana membuat pria senang...memang luar biasa, BB.
"Ryota, apa kau melihatnya?"
"A-aku melihat...tapi ternyata, itu bra yang cukup dewasa?"
"Muuu! Karena ukurannya cuma itu yang cocok! Sudah, lupakan saja!"
"Y-ya!"
Begitulah, perjalanan menangkap serangga yang penuh kejutan ini pun berakhir dengan damai.
Sekarang...sepertinya ada hukuman yang menanti dari seseorang setelah kami pulang nanti.


Ditunggu lanjutannya min🙋
BalasHapus