> CHAPTER 4

CHAPTER 4

 Kamu saat ini sedang membaca   Inkya no ore ga Sekigae de Skyubishojo ni kakomaretara Himitsu no kankei ga hajimatta    volume 2,  chapter 4. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw

MUSIM PANAS, KOLAM RENANG, MENGGODA GADIS, DAN BAJU RENANG



Perjalanan menyenangkan selama 1 malam 2 hari untuk menangkap serangga di pedesaan telah usai, dan sepulangnya aku langsung mandi lalu kembali ke kamar dan tidur.


Itu benar-benar 2 hari yang menyenangkan.


Aku sempat menyelam ke oppai besar milik Airi, mengintip oppai besar milik Airi yang sedang tidur di sebelahku, dan melihat bra milik oppai besar Airi saat pulang... 


Sambil mengenang kembali kenangan penuh pai kanji itu, aku pun terlelap sepenuhnya.


Dan kemudian──aku bangun keesokan paginya.


"Nngh? Entah kenapa, rasanya panas sekali..."


Saat aku bagun, terjadi sesuatu yang aneh di kamarku.


A...aneh.


AC-nya menyala, tapi tidak terasa sejuk sama sekali.


Kemarin aku terlalu lelah dan tertidur sambil menyalakan kipas angin tanpa mengatur timer, tapi entah kenapa sekarang kipas itu mati.


Kupikir aku tertidur tanpa mengisi daya Hp-ku, tapi entah kenapa kabel charger sudah terpasang di Hp-ku.


Ada yang aneh di sini...kalo ini seperti pintu keluar 8●, aku pasti langsung berbalik arah...


Saat aku masih bingung dan membuka mataku perlahan, seseorang dari samping mengusap dahiku yang berkeringat dengan sapu tangan putih karena panas...eh!?


"Ah, selamat pagi, Ryota-kun?"


Tidak──itu bukan 'seseorang'. Itu adalah Kuroki Rui.


Rui mengenakan pakaian kasual yang bersih dan manis seperti biasanya, tapi entah kenapa...dia juga mengenakan celemek berbentuk hati.


"Apa! Rui!? Kenapa kau ada di sini!"


Karena terlalu terkejut, aku melompat dari tempat tidur dan mundur ke arah dinding.


"Kenapa, ya karena hari ini klub atletik sedang libur?"


"Bukan itu! Kenapa kau ada di kamarku pagi-pagi begini padahal ini libur musim panas?"


Rui berbicara seolah itu hal yang wajar, jadi aku pun tidak bisa menahan diri untuk menanggapinya.


Sebelumnya dia juga pernah ada di kamarku sebelum aku bangun, tapi aku tidak menyangka itu akan terjadi bahkan saat libur musim panas.


"Jangan-jangan kau...datang untuk melaksanakan hukuman itu?"


"Mou, 'hukuman' terdengar buruk sekali."


"Kau sendiri yang bilang begitu sebelumnya!"


"Tenang, tenang. Ayo, Ryota-kun, tenang dulu."


Rui mencoba menenangkanku dengan kata-kata lembutnya.


Kenapa aku harus ditenangkan oleh teman sekelas yang masuk tanpa izin ke kamarku.


"Hukuman itu untuk lain kali kok♡"


"Apa yang kau rencanakan? Cambuk? Atau menindihku?"


"Aku tidak akan melakukan hal sekejam itu, tahu? Karena kalo kau dihukum secara fisik, Ryota-kun malah akan senang, kan?"


Kuh...sepertinya dia benar-benar memahami diriku dengan baik.


Tapi di akhir tadi dia dengan santai melontarkan kata-kata yang sangat berbahaya.


"Yah, wajar sih kalau kau belum bisa memahami situasinya sekarang. Karena hanya Ryota-kun yang belum membaca pesannya."


"Me-membaca pesan?"


"Kemarin Airi membuat grup LINE yang baru. Kau belum tahu?"


"Grup...?"

 

Tidak, aku sama sekali tidak tahu.


Setelah Rui memberi tahuku, aku mengambil Hp-ku yang sedang diisi daya.


Kemudian, muncul banyak sekali notifikasi dari LINE.


"A-apa ini..."


"Airi membuatnya karena dia pikir kita bisa bermain bersama selama liburan musim panas. Sebenarnya grup kami bertiga sudah ada sejak dulu, tapi Ryota-kun dan Tanaka-san belum ada di dalamnya."


"Yah, kalo aku sih tidak masalah, tapi Tanaka...ya sudahlah."


Tanaka, syukurlah kau akhirnya punya teman.


Sambil berpikir begitu, aku mengecek percakapan dalam grup LINE tersebut.


Nama grup LINE itu 'Lima Sahabat'...ku pikir entah bagaimana itu sangat mencerminkan Airi.


『Tanaka: aku sangat terharu bisa dimasukkan ke dalam grup LINE meski aku seorang inkyā!! Mohon bantuannya!!』


U-uwah... Tanaka benar-benar mengirim pesan yang sangat inkyā.


Ngomong-ngomong, setelah pesan itu Tanaka tidak mengirim pesan apa pun lagi. Inilah yang disebut inkyā sejati.


『Yuria: Ngomong-ngomong Rui, besok klubmu libur kan? Bagaimana kalo kita pergi ke suatu tempat bersama-sama?』


『Rui: Ya. Aku terserah sih, tapi bagaimana kalo kolam renang?』


『Airi: Kolam renang! Setuju! Airi juga mau ikut! Tanaka-chan bagaimana?』


『Tanaka: Ya, aku juga tidak masalah』


『Airi: Syukurlah! Terus, Ryota kayaknya dia lagi tidur, tapi selama libur musim panas dia tidak punya hak veto, jadi Ryota juga ikut, sudah diputuskan───!』


Haa? Serius, apa-apaan ini. Aku baru saja pulang kemarin, dan sekarang dia sudah mengajakku ke kolam renang, Airi apa kau tidak tahu arti kata 'lelah'...hm?


"Ty-tunggu!!! Oi!? P-pu-pu, kolam renang, katamu!!!? Baju renang!?!?"


"Ryota-kun, bawah, bawah."


"Ha! Kau salah paham! Ini karena pagi. Ini reaksi alami tubuh seorang pria saja."


"Fufu. Kau membayangkan baju renangku..., kan?"


Tidak, yang lebih tepatnya aku membayangkan pakaian renang sekolah Airi dengan oppai-nya yang besar itu... 


"Jadi, hari ini kita semua akan pergi ke kolam renang. Tempat kumpulnya diputuskan jam 9 di rumah Ryota-kun."


"Be-begitu...tapi setidaknya berhentilah menjadikan rumah orang lain sebagai tempat kumpul sesuka hati kalian."


"Nee, Ryou-ta-kun. Apa kau mau melihat baju renangku...duluan?"


Rui menyentuh bagian leher bajunya dengan jarinya, lalu memperlihatkan sedikit bagian dadanya padaku.


Uuh...menggoda sekali.


"Ya, te-tentu saja aku mau lihat"


"Fufu...kamu masih jujur ​​seperti biasa, tapi kita tunda dulu baju renangnya sampai kita sampai di kolam renang, oke?"


Gadis ini...mempermainkan hati polos seorang perjaka...!


Begitulah, aku akhirnya harus pergi ke kolam renang bersama tiga gadis cantik ini dan Tanaka.


"Ta-tapi, soal kita pergi ke kolam renang aku sudah paham...tapi kenapa kau memakai apron berbentuk hati yang mencolok begitu?"


"Eh? Soalnya, aku yang membuat sarapan untuk keluarga Izumiya hari ini♡"


".....Ha?"


Aku benar-benar tidak mengerti maksudnya... 


"Sa-sa, Ryota-kun, cepatlah."


Yah, bagaimanapun juga, satu hari tidak akan dimulai tanpa sarapan untuk mengisi perut.

 

Tapi entah kenapa, aku masih tidak bisa memahami kenapa Kuroki Rui bisa sedekat itu dengan keluargaku sampai-sampai dia bisa memasakkan sarapan... Tapi mengingat dia bisa menyelinap masuk ke kamarku saat aku tidur, semuanya memang sudah penuh tanda tanya sejak awal, jadi lebih baik tidak kupikirkan lebih jauh lagi.


Lagipula, sarapanku yang biasanya selalu dimakan oleh kakakku, kalo dibuat oleh Rui, seharusnya tidak ada masalah dalam hal itu, jadi cukup patut disyukuri.


"Ryota-kun, baju gantimi sudah aku letakkan di atas meja, jadi cuci muka dulu lalu ganti bajumu oke?"


Rui membimbingku untuk bersiap di pagi hari seperti seorang maid.


Dilayani oleh gadis cantik seperti ini, bisa dibilang adalah sebuah anugerah... Tapi dalam kasus Rui, ada semacam maksud tersembunyi atau niat lain di balik itu yang membuat hal ini menjadi sedikit bermasalah... 


"Oh ya, buku-buku cabul yang Ryota-kun sukai yang ada di sela-sela rak buku dan barang-barang yang berkaitan, sudah aku pindahkan ke dalam lemari agar tidak ditemukan siapa pun."


A-a-a-apa yang kau lakukan tanpa izin? Apa yang kau pikir kau lakukan dengan harta orang lain!"


"Juga, sebagian koleksi akun rahasia bertema gyaru dan yang super pai kanji aku sita karena itu tidak baik untuk pendidikanmu. Jumlah uangnya nanti akan aku transfer ke rekening bank Ryota-kun."


[TL\n: pai kanji tu kata slang oppai/payudara besar, sebenarnya kata ini sering author gunakan buat ngilustrasiin oppai-nya Airi, tapi gua ganti jadi oppai besar biar lebih mudah di pahami.]


"Ka-kauuuu! Keluar kau! Dasar iblis!"


Dia bukan hanya sekadar teman sekelas yang masuk tanpa izin, Rui bahkan sampai jadi ketua penyitaan bahan buat coli... Kalau tidak aku tetapkan larangan masuk untuk Rui, mungkin hal-hal itu akan dia kendalikan juga.


★★★


Saat aku turun ke lantai 1 untuk sarapan, waktu sudah lewat pukul 8, jadi di rumah ini tidak ada siapa pun selain aku dan Rui.


Ayahku pergi kerja, ibuku latihan sepak takraw 8 kali seminggu, dan entah kenapa juga tidak ada di rumah.


Pagi hari selama liburan musim panas memang selalu seperti ini, dan seperti biasa, ada selembar memo di atas meja makan.


Kemungkinan besar memo ini berisi jadwal kegiatan keluarga hari ini...tapi.


『Pastikan kau pakai kondom. By Ane』


"Sial. Mana mungkin aku ngelakuin itu, dasar kakak bodoh."


"Ryota-kun, kau tidak mau pakai pelindung ya?"


"Bukan begitu! Maksudku aku tidak akan melakukannya!"


"Cuma bercanda kok. Akan aku siapkan sarapannya."


Rui tersenyum kecil sambil berjalan ke arah dapur.


Kalo yang bilang itu kau, semuanya jadi terdengar bukan bercanda.


"Aku sudah memikirkan ini dari dulu...Rui, ternyata kau cukup tahan dengan lelucon jorok ya, bahkan kau bisa melontarkannya sendiri juga."


"Hmm? Aku rasa tidak seperti itu."


Pasti seperti itu. Tidak diragukan lagi.


"Tapi kalo harus dibilang, karena aku terbiasa menjadi siswi teladan setiap hari, mungkin sebagai pelampiasannya mulutku jadi agak longgar di depan Ryota-kun. Soalnya kalo bersama Ryota-kun, aku merasa tidak masalah bicara jorok."


"A-apa maksudmu?"


"Artinya...aku bisa menunjukkan sisi diriku yang tidak sempurna di depan Ryota-kun, begitu?"


Rui berkata begitu sambil mengedipkan matanya, lalu membawa sarapan hangat ke meja makan.


Jadi...apa maksudnya itu, sebenarnya.

 

"Aku juga seorang perempuan...jadi kadang-kadang aku juga ingin membicarakan hal-hal seperti itu, tahu?"


Ngomong-ngomong, Yuria juga pernah bilang sebelumnya kalo para perempuan juga punya nafsu yang kuat...apa memang seperti itu kenyataannya?


Mungkin karena sedang membicarakan hal seperti itu, bahkan sajian sosis dan tomat ceri yang disajikan sekarang terlihat seperti sesuatu yang berkonotasi jorok...tidak, tidak boleh begitu.


[TL\n: the real ni mc otaknya mesum terus aying, ngakak gua jir.]


"Airi dan yang lainnya akan datang jam 9, jadi Ryota-kun cepat habiskan makanannya ya?"


"A-ah..."


Aku mengikuti apa yang dikatakannya dan mulai menyantap sarapan yang disiapkan oleh Rui.


Menu sarapan terdiri dari nasi putih, sup miso, sosis, telur orak-arik, serta sayuran berupa tomat ceri dan selada.


Aku pikir karena Rui yang membuatnya, akan disiapkan makanan dengan bahan-bahan mewah atau tampilan mencolok...tapi ternyata itu cukup sederhana.


Mungkin memang karena 'sederhana itu yang terbaik'...tidak, sepertinya lebih karena isi kulkas di rumah ini memang menyedihkan.


"Kalau ada yang tidak kamu suka, akan aku makan untukmu ya?"


'Akan aku makan untukmu'....kah.


Aku ingin meninju diriku sendiri yang bahkan sesaat hampir mengucapkan 'sosis'.


"Ngomong-ngomong, apa kalian bersenang-senang menangkap serangga kemarin?"


Tiba-tiba ditanya soal kegiatan menangkap serangga kemarin, aku sampai menjatuhkan sosis yang sedang kugenggam dengan sumpit.


"Ru-Rui...apa kau tidak marah?"


"Marah? Kenapa?"


"Karena dari percakapan kita di LINE kemarin, kupikir Rui sedang marah."


"Kenapa?"


"Maksudku, karena..."

 

"Ryota-kun, apa kau melakukan sesuatu yang mencurigakan bersama Airi sampai-sampai harus dimarahi olehku?"


"Ti-tidak! Sama sekali tidak!"


"Kalau begitu, bukankah itu tidak masalah? Atau... Ryota-kun ingin dimarahi olehku?"


Rui terus berbicara sambil tersenyum, tapi rasanya itu bukan senyum yang hangat.


Gawat, keringat dingin mulai keluar... 


"Fufu... Ryota-kun yang ketakutan juga menggemaskan."


"Ka-kau ini, sadis sekali."


"Sebaliknya, Ryota-kun masokis, kan? Soalnya banyak sekali buku-buku yang berhubungan dengan itu."


"Ja-jangan melihatnya tanpa izinku!"


"Fufu, tapi kalau begitu, berarti kita cocok kan?"


Dengan kata-kata seperti itu, dia mencoba mempermainkan aku si perjaka... 


Aku benar-benar sedang menari di telapak tangannya Rui, tapi sebagai pria yang tidak populer dan bahkan merasa digoda oleh perempuan saja sudah menjadi semacam hadiah, aku jadi merasa ini tidak terlalu buruk.


Lagipula, bisa digoda oleh gadis secantik Rui yang luar biasa ini dan cuma bisa berkata 'ya ampun', mungkin hanya tokoh utama light novel yang bisa begitu.


Se-sebaliknya, Rui sendiri...bagaimana perasaannya terhadapku ya.


".....Ano, Rui."


"Permisiii!! Ah! Sepatunya Rui-chan sudah ada di sini!!"

 

Dari arah pintu masuk terdengar suara seperti anak kecil disertai kehadiran oppai besar, dan saat aku menoleh, terlihat Airi berjalan masuk dengan membawa pelampung dan tas kolamnya.


"Selamat pagi Ryota! Ah, kau lagi sarapan ya! Enaknya───"


"Selamat pagi, Airi. Dimana 2 lainya?"


"Semuanya sudah datang, lho! Lihat."


Saat Airi berkata begitu, Yuria dan Tanaka masuk perlahan dari belakang.


"Selamat pagi, Ryota, Rui."


"Yuria. Juga Tanaka-san."


"A-a-ano! Terima kasih banyak sudah mengundangku hari ini!"


Tanaka benar-benar kaku... 


Tapi itu wajar. Mungkin ini pertama kalinya dia pergi bermain bersama teman seperti ini.


"Ryota, cepat habiskan sarapannya! Kita akan ke kolam, lho!"


"I-iya, aku tahu, jadi jangan buru-buru."


Saat aku sedang makan sarapan, tiba-tiba tiga orang gadis cantik+Tanaka berkumpul di ruang tamu rumahku.


Waktu masih menunjukkan pukul 08:20.


Padahal Rui bilang waktu kumpulnya jam 9...haah, mereka ini memang ceroboh atau bagaimana.


"Beri aku sosis Ryota!"


"Ah."


Saat aku sedang melamun, Airi tiba-tiba mengambil sosis dari piringku.


"Mufuu〜, enak sekali〜"


Sosisku dimakan dalam sekali lahap... 


Melihat Airi yang menggigit sosis itu, pikiran jahat mulai memenuhi kepalaku.


"Kora Airi. Itu tidak sopan."


"Yuria apa kau juga mau? Masih ada satu lagi, lho?"


[TL\n: gua ke inget temen gua yg laki, kelakuanya kaya si Airi gak bisa liat makan jir.] 


"Tidak, aku tidak perlu. Nanti sarapan Ryota akan habis, kan?"


Yuria berkata dengan wajah keheranan sambil melirik sarapan milikku.


"Eh, ini Rui yang memasak? Dan apa itu apronnya."


"Apronnya imut kan? Hari ini ibunya Ryota sepertinya sedang ada kegiatan sepak takraw, jadi aku yang menyiapkan sarapan untuk keluarga Izumiya."


"Serius? Rui, sedekat itu dengan keluarganya Ryota."


"Eh───? Karena kami berteman, menurutku itu hal yang wajar."


Dalam situasi normal, seseorang tidak akan memasakkan sarapan untuk keluarga temannya.


"Lebih penting lagi, Ryota! Cepat habiskan sarapannya dan ayo kita ke kolam!"


"Y-ya, ya, aku mengerti."


Didesak oleh Airi, aku segera menyantap sarapanku dan berniat bersiap untuk pergi ke kolam...tapi.


"Tunggu sebentar, Ryota-kun."


"Hmm?"


"Baju renang dan handuk milik Ryota-kun sudah aku masukkan ke dalam tas ini. Silakan."


Rui mengeluarkan sebuah tas entah dari mana dan menyerahkannya kepadaku.


Sepertinya Rui sudah menyiapkannya sejak awal.


Rui benar-benar terlalu sigap sampai terasa menakutkan...atau lebih tepatnya, aku ini seorang inkyā, jadi seharusnya aku tidak memiliki baju renang selain untuk pelajaran... 


Saat aku memeriksa isi tasnya, di dalamnya terdapat celana renang bermotif modis seperti stete-ko.


"Karena kupikir Ryota-kun pasti tidak memiliki baju renang, jadi aku membelikannya. Biayanya sudah aku potong dari uang yang tadi itu."


O-oi...gadis ini jauh lebih andal dari yang aku bayangkan.


Aah, ini tidak baik. Kalo terus seperti ini, aku bisa saja mengalami ketergantungan pada Rui.


"Fufu..."


Rui tersenyum ke arahku seolah mengatakan kalo semuanya berjalan sesuai rencananya.


★★★


Persiapan pun selesai, dan kami memutuskan untuk pergi ke kolam renang. 


Begitu keluar rumah, entah kenapa Rui yang mengunci pintu rumahku, tapi aku merasa memikirkannya hanya akan membuang-buang waktu, jadi aku langsung berjalan menuju kolam renang. 


"Lalu, sebenarnya kita akan pergi ke kolam renang yang mana?"


"Ke kolam renang rekreasi besar di kota sebelah!"


"Haa...? Bukankah tempat itu mahal? Bukankah kolam renang kota sudah cukup?"


"Ryota, kau serius mengatakan itu? Tidak ada perosotan air itu membosankan."


"Benar, benar! Airi ingin meluncur di perosotan air bersama Ryota!"


"Aku...bersama Airi...di perosotan air."


Mendapatkan kesempatan secara sah untuk merasakan langsung oppai besar Airi yang menempel di punggungku...betapa keberuntungan yang luar biasa (tapi merupakan tindakan yang direncanakan).


Aku membayangkan oppai besar Airi yang baru saja aku rasakan 2 hari lalu kembali menempel di punggungku, dan larut dalam kenikmatan. 


"Baiklah, pilihannya hanya satu, perosotan air di kolam renang rekreasi."


Begitu aku mengatakan itu, kedua lenganku dicubit dengan kuat oleh Yuria dan Rui. 


"Ryota, niat kotormu sangat terlihat."


"Ryota-kun kenapa kau tidak naik bersamaku? Bersamaku yang tidak memiliki oppai."


Kuh...mereka ini...sepenuhnya memahami isi pikiranku... 


Lagipula, di tempat seperti kolam renang───yang merupakan tempat berkumpul para you-kyā───seorang inkyā sepertiku tidak memiliki pilihan selain menatap pusar Rui, menatap oppai besar Airi, atau menatap paha besar Yuria. 


Pada akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke kolam renang rekreasi besar di kota sebelah, dan pertama-tama menuju ke stasiun. 


Meskipun begitu... 

 

Tiga gadis cantik itu berjalan di depanku sambil membicarakan rute menuju kolam renang rekreasi besar, dan sementara itu aku menoleh ke belakang.


"Oi, Tanaka yang sejak tadi seperti menghilang dari udara, boleh kita bicara sebentar?"


"Apa maksudmu, 'seperti menghilang dari udara'! Aku ada di sini, tahu! Tepat di belakang kalian semua!"


"Kenapa sejak tadi kau diam saja. Itu bukan seperti dirimu."


"Ka-karena...gadis inkyā sepertiku punya kecenderungan menjadi canggung kalo bertemu orang yang sudah lebih dari seminggu tidak diajak bicara, atau semacamnya."


Sifat inkyā-nya sudah terlalu ekstrim...bahkan aku tidak sampai seperti itu.


Yah, aku memang sudah menduga Tanaka akan seperti ini, jadi aku harus sedikit memberinya dukungan.


"Hari ini kau sedikit berdandan, ya? Gaun putih seperti itu, waktu SMP kau sama sekali tidak pernah memakainya."


"Di-diam! Meskipun aku ini inkyā, masa-masaku memakai jaket olahraga sebagai pakaian biasa sudah berakhir!"


Ya...waktu SMP, setiap kali Tanaka datang ke rumahku, dia selalu memakai jaket olahraga.


Karena aku juga selama SMP biasanya memakai jaket olahraga sebagai pakaian kasual, aku tidak terlalu memperdulikannya waktu itu.


"Aku juga...mulai sadar kalo jaket olahraga sebagai pakaian biasa itu tidak pantas, jadi aku mulai berusaha. Meskipun, aku tidak punya selera fesyen seperti ketiga orang yang berjalan di depan sana, dan bentuk tubuhku juga tidak ada yang menonjol..."


Tanaka melirik ke arah ketiganya, lalu meletakkan tangannya di dadanya yang rata.


Hari ini Tanaka terlihat agak murung.


Memang kalau dilihat dari sudut pandang sesama perempuan, mungkin wajar merasa seperti itu kalo bersama ketiga orang tersebut.


"Jangan terlalu dipikirkan, Tanaka. Bukankah kau selalu bilang, 'pasti masih ada yang menginginkan gadis berkacamata dan seorang lolo seperti aku'?"


"A-a-aku tidak pernah bilang begitu! Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu! Lagipula, apa itu 'aliran penggemar gadis berkacamata hasuhasu'!"


[TL\n:Hasuhasu (はすはす) adalah onomatope dalam bahasa Jepang yang digunakan dalam konteks tertentu, biasanya di internet atau dalam budaya otaku, untuk mengekspresikan perasaan tergoda, terengah-engah, atau napas yang memburu karena gairah atau rasa gemas, terutama terhadap sesuatu yang dianggap imut, seksi, atau menggoda.]


Begitu aku berkata sambil setengah bercanda, seperti yang kuduga Tanaka langsung meledak marah.


"Yoshiyoshi. Itu baru Tanaka yang biasanya."


"Di-diam! Lagipula, bagiku sudah kalo aku hanya mendapat pujian dari Ryota-kun...itu saja sudah cukup."


"Aku? Ah. Yah, memang begitu sih."


"Eh...?"


"Kalo sudah sampai level inkyā sepertiku, aku jadi punya mata yang terlatih dalam menilai gadis cantik. Kalo aku memuji, gadis lain pasti akan langsung jatuh cinta."


"......Haa."


Entah kenapa Tanaka menghela napas panjang.


"A-ada apa dengan desahan nafas panjang!?"


"Iya iya, tentu saja begitu ya, Ryota-kun si perjaka."


"Ka-kau juga kan tidak punya pengalaman romantis!"


"Aku...bagaimana ya───? Setidaknya aku pernah jatuh cinta lebih banyak dari Ryota-kun───"


"Eh...bukannya kau cuma penyuka BL!? Oi, jelaskan!"


"Tidak, terima kasih."


[TL\n: BL: Boy's Lover's ❌ BL : Berak Lancar ✔]


★★★


Untuk menuju ke kolam renang rekreasi, kami berlima berjalan ke stasiun terdekat dan melanjutkan dengan naik kereta.


Setelah menunggu kereta beberapa saat, kami naik ke dalam gerbong dan mendapati 3 kursi kosong, serta 2 kursi kosong tepat di seberangnya.


Kami harus membagi menjadi 2 dan 3 orang.


Baiklah, di saat seperti ini aku akan duduk di tengah kursi bertiga, lalu menikmati dikelilingi bunga di kedua sisiku...


"Sebentar Ryota, kita berdua akan duduk di sini."


"Eh, Yuria?"


"Airi, Rui, dan Tanaka bisa duduk bertiga."


"Oi, kenapa tiba-tiba begitu."


Yu-ria menarik tanganku dan tanpa memberiku kesempatan untuk membantah, dia memaksaku duduk di sebelahnya.


Sementara itu, di kursi seberang, entah kenapa Tanaka duduk di tengah, dengan Airi dan Rui duduk di kanan kirinya.


Karena ruangnya sempit, Airi memiringkan tubuhnya ke arah Tanaka, membuat oppai besarnya menempel erat pada tubuh mungil Tanaka.


Tw-Tanaka...oppai Airi...! Dalam posisi sandwich gadis cantik, itu terlalu membuat iri! Tukar tempat denganku!


"Kuh, Yuria. Kenapa kau lakukan ini?"


"Bukan apa-apa...kau dari tadi pagi terus menatap oppai Airi. Sudah cukup, hentikan itu."


Yuria menghela napas pelan dan berkata dengan suara rendah, sambil sedikit membetulkan celana hot pants-nya yang menekan pahanya.


"A-apa? Kau mau melarangku melihat oppai Airi? Itu namanya pelanggaran hak melihat oppai."


"Kau tidak punya hak itu. Berhentilah menggunakan kata-kata menjijikkan yang dibuat-buat itu."


"Ta-tapi dengar dulu. Kalau aku tidak melihat oppai besar Airi, mataku akan membusuk."


"Makanya, seperti yang kubilang sebelumnya, kalau kau tidak bisa lihat oppai Airi yang besar... setidaknya lihat pahaku."


Airi bilang padaku untuk cuma melihat oppainya, dan Yuria bilang padaku untuk cuma lihat pahanya...kenapa mereka berdua sampai sejauh itu mengorbankan diri mereka sendiri?


Sambil merasa heran, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan percakapan kecil ini dengan suara pelan.


"Untuk saat ini, aku mengakui kesalahanku karena dari pagi aku terus-terusan melihat oppai besar Airi. Tapi, kalo kalian mengajakku ke kolam renang, sudah jelas aku hanya akan terus melihat oppai Airi dan paha Yuria, kan?"


"Meski begitu, semua orang tetap merasa lebih menyenangkan kalau Ryota ikut."


"Eh? Be-benarkah begitu....?"


"Tapi kalo kau terus-terusan menatap oppai Airi, aku akan menghajarmu, tanpa mengatakan apa-apa. Mengerti?”


Yuria berkata sambil membunyikan jari-jarinya dan menusukkan telunjuknya ke pipiku.


"Ba-baik. Aku akan melihat tidak hanya oppai Airi, tapi juga paha Yuria dengan saksama."


"....Iya iya. Itu saja cukup."


Dia mengerucutkan bibirnya, dia terlihat sangat tidak puas, tapi dia tetap mengangguk dengan sedikit rasa puas, dan Yuria menarik kembali jarinya dari pipiku.


Sejujurnya, kalo menyangkut dilihat olehku, Yuria memang terlalu toleran... 


"Yuria, kau kan orang yang sangat memahamiku, jadi mungkin kau tidak keberatan kalo aku melihat pahamu. tapi kalau dipikir-pikir, bukankah kau benci dilihat dengan tatapan mesum?"


"Apa kau akan mengatakan itu?"


"Bukan begitu, aku cuma iseng penasaran saja."


"Haa...aku sudah bilang berkali-kali, Ryota itu spesial. Orang lain bahkan tidak akan aku biarkan mendekat."


"He-heeh..."

 

Aku tidak tahu apakah Yuria punya penjaga yang kuat atau lemah.


"Ngomong-ngomong, aku juga ingin menanyakan sesuatu pada mu."


"Hmm?"

 

"Apa kau sudah melakukannya dengan Airi kemarin?"


Yuria bertanya dengan suara pelan sambil mengalihkan pandangannya dari Airi.


La-lagi-lagi itu...! Sama seperti Rui, kenapa bisa sampai muncul kesalahpahaman seperti ini?


"Mana mungkin aku melakukannya? Kalo dipikir secara logis. Lagipula kondomnya juga sudah disita olehmu."


"Kalo ada kondom, kau akan melakukannya?"


"...Kurasa kami mungkin akan melakukannya. Mungkin."


"Seperti biasa, itu terdengar sangat perjaka. Kurasa Ryota memang tidak bisa melakukan hal itu."


"A-apa maksudmu itu!?"


"Soalnya kau tidak punya keberanian. Yah, sejak aku mendengar cerita soal menginap dari Airi, aku sudah merasa tenang karena aku tahu kalo itu tidak akan terjadi kalo Ryota yang melakukannya."


Yuria menyeringai sambil mengolok-olokku.


Kuh...menyakitkan sekali tidak bisa membantah sebagai seorang perjaka penyendiri.


"Te-terserah. Aku memang pengecut dan akan tetap jadi perjaka seumur hidup. Memangnya kenapa?"


"Sudahlah, jangan bersikap seperti sedang merajuk. Tapi ya...kalo memang tidak ada perempuan yang mau padamu seumur hidupmu, ya mau bagaimana lagi, aku bisa saja menerimamu."


[TL\n: uwah, padahal udah kode keras tu.]


"Kau...kau selalu menggodaku seperti itu. Tapi karena sudah kau katakan, anggap saja itu janji. Kalo pun nanti kau sudah jadi istri orang, kau akan tetap harus bertanggung jawab menerimaku."


"Itu jelas melanggar norma. Jangan terlalu banyak membaca doujin yang tidak senonoh."


Walaupun dia sering mengolok-olok perjakaku, Yuria tetap membawa kembali ke logika dan norma umum. 


NTR, tidak, sungguh itu tidak boleh.


[TL\n: setuju, NTR tidak boleh ada.]


"Maksudku, Ryota, yang ingin aku bicarakan bukan hal seperti itu."


"Eh? Bukan itu, apa maksudmu?"


"...Yah, lupakan saja. Ngomong-ngomong kita akan turun di stasiun berikutnya."


"O-oh."


Yuria tidak lagi memiliki energi yang sama seperti sebelumnya dan dia terlihat agak canggung.


★★★


Kolam renang rekreasi yang besar itu, bahkan dari luar terlihat jelas fasilitasnya sangat lengkap. 


Begitu sampai di kolam renang, kami langsung membeli tiket dan masuk ke dalam.


"Kalau begitu, Ryota? Setelah kau selesai ganti baju, tunggu kami di luar."


"O-oke."


Aku mengantar kepergian Airi dan yang lainya yang menuju ruang ganti perempuan, lalu aku pun masuk ke ruang ganti laki-laki untuk berganti pakaian.


Melihat pakaian renang ketiga gadis cantik itu lebih cepat adalah hal yang pasti aku inginkan.


Cepat, cepatlah!


Aku melepas pakaianku dengan gaya stylish dan mengenakan pakaian renang yang dibelikan oleh Rui, lalu keluar.


Kemudian──


".....Ah, Ryota-kun. Kau epat juga ya."


Tanaka berdiri sendirian di luar.


Ta-Tanaka...dan, pakaian renang itu... 


"Ada apa dengan raut wajah kecewamu itu?! Itu sangat tidak sopan tahu!"


"Tidak, maksudku...soalnya kau memakai pakaian renang sekolah."


Ya, pakaian renang Tanaka ternyata adalah pakaian renang sekolah.


Dan karena tubuh Tanaka tidak berubah sejak SMP, kemungkinan besar itu pakaian renang lama yang sudah sering dia pakai sejak SMP... 


"Ma-mau bagaimana lagi! Soalnya keputusan pergi ke kolam renang ini baru dibuat kemarin! Dan manamungkin anak yinkya sepertiku punya pakaian renang imut!"


Mungkin karena hari ini dia memakai lensa kontak, Tanaka tidak memakai kacamata, dan wajahnya yang merah padam itu terlihat seperti sedang marah.


Itu memang benar. Aku sendiri hanya bisa punya pakaian renang karena dibelikan Rui.


Meskipun begitu, Tanaka...selain karena memakai pakaian renang sekolah...kalo dilihat begini dia memang terlalu mungil.


"Ja-jangan terlalu menatapku seperti itu, Ryota-kun."


".........."


"Mo-mou... Ryota-kun."


Paha Tanaka hanya sekitar setengah dari milik Yuria, lingkar pinggangnya juga terlihat begitu ramping sampai rasanya bisa patah kalo disentuh...dan yang paling mencolok, payudara Tanaka itu!


"Makanlah yang banyak, ya, Tanaka."


"I-utu bukan urusanmu!!"


"Maaf sudah membuat kalian berdua menunggu───!"


"Hah?"


Saat aku menoleh ke arah suara itu...pemandangan luar biasa mengguncang penglihatanku.


Ketiga gadis cantik yang baru saja selesai berganti pakaian keluar dari ruang ganti.


"Ryo-Ryota-kun...i-ini, sungguh luar buasa..." 


"Ah...dalam banyak hal, ini sangat gawat."


Aku sudah membayangkan akan melihat mereka bermain dengan pakaian renang karena ini kolam renang, tapi...aku tidak menyangka penampilan mereka bertiga dalam pakaian renang akan seindah dan semencolok ini.


"Fufu... Ryota-kun, bagaimana menurutmu?"


Rui mengenakan bikini hitam dengan garis silang dipadukan dengan penutup bikini berwarna putih transparan, dan rambut panjangnya yang biasanya terurai, kali ini diikat satu dan dibiarkan terjuntai di bahu kanannya.


Dalam balutan pakaian renang, tubuh Rui tampak jauh lebih ramping dari biasanya. 


Lengan dan kakinya tidak menunjukkan cela sedikit pun, tanpa ada daging berlebih. 


Dia benar-benar memperlihatkan bentuk tubuh yang sempurna, bahkan melebihi model profesional.


Dan pusar asli milik Rui itu...jauh lebih erotis daripada ratusan foto yang biasa aku lihat, hanya dengan kenyataan kalo itu ada tepat di depanku saja sudah cukup membuatku ingin mengusapnya perlahan ke bawah. 


Meski pada akhirnya keinginan itu berhasil aku tahan.


"Maaf menunggu, Ryouta...e-ehm, bagaimana dengan pakaian renangku?"


Yuria mengenakan kacamata hitam yang disematkan di atas kepalanya dan bikini off-shoulder berwarna merah terang.


Tak perlu dikatakan lagi, paha montok di tubuh bagian bawah Yuria begitu menarik sehingga aku ingin memeluknya seperti koala, dan itulah yang pertama kali menarik perhatianku, tapi berbeda dengan pahanya, lingkar pinggangnya tampak ramping dan kencang, perbedaan mencolok itu justru semakin menonjolkan betapa idealnya bentuk tubuh Yuuriya.


Meskipun tidak sebesar milik Airi, oppai Yuria juga terlihat cukup besar.


Karena dia mengenakan pakaian renang, ukuran dan bentuk indah oppai-nya terlihat jauh lebih jelas daripada saat dia berseragam, dan aku jadi semakin yakin kalo oppai Yuria termasuk kategori 'oppai indah'.


"Ryota Ryota! Bagaimana menurutmu Airi dengan pakaian renang ini! Imut, kan───?"


Dan...seperti yang aku duga, yang paling mencolok tetaplah pakaian renang Airi.


Airi mengenakan bikini berwarna pink cerah, rapi kulit di sekitar oppai besarnya terlihat jauh lebih mendominasi daripada kain bikini itu sendiri, sampai-sampai pandanganku ini tidak terarah pada bikini-nya sama sekali.


I-ini rupanya yang disebut eksistensi oppai besar yang mengalahkan daya tarik pakaian renang itu sendiri....


Pepatah bilang, 'seniman andal tidak memilih kuasnya'...atau dalam hal ini, 'oppai besar tidak memilih bikininya'.


Pada dasarnya, pakaian renang itu dipakai untuk menutupi bagian-bagian sensitif, tapi dalam kasus Airi, karena ukuran oppai-nya yang terlalu besar, fungsi dari bikini itu seakan tidak bekerja sama sekali.


Kalo anak kecil melihat ini, bisa-bisa mereka tidak bisa tidur malam...dalam banyak arti.

 

"Hey, Ryota, aku sedang menanyakan pendapatmu tentang pakaian renangku, tahu?"


"Benar, Ryota-kun? Kenapa kau tiba-tiba terdiam?"


Saat aku membuka mataku lebar-lebar dan tenggelam dalam pikiranku, Rui dan Yuria langsung mendesakku.


"A-aku hanya...kalian semua sangat cantik, jadi aku tanpa sadar terpesona...atau mungkin, karena daya tariknya terlalu kuat..."


"Daya tariknya terlalu kuat."


"Fufu... Ryota-kun."


Meskipun penampilan mereka bertiga sangat luar biasa, bukan berarti aku boleh terus menatap mereka seperti itu. Aku harus menjaga sikap.


"A-Airi-tan. Kalo kau tidak keberatan, lain kali maukah kau datang ke rumahku?Aku ingin kau memakai bikini motif sapi kalo memungkinkan."


Tanaka mendekati Airi dan memohon seperti otaku yang menyeramkan.

 

O-orang ini... kenapa dia tiba-tiba bersikap begitu berani di saat seperti ini!


Saat Tanaka memasuki mode tanpa kendali, dia memang tidak bisa dihentikan.


"Motif sapi? Hmm, baiklah! Airi sangat menyukai sapi."


"Berhasil───!"


Su-sungguh... Tanaka benar-benar melakukannya!


Tadi aku sempat berpikir kalo pakaian renang tidak berpengaruh untuk Airi (dan ukuran oppai-nya), tapi...kalo motifnya sapi, maka itu berbeda.


Motif sapi X ukuran oppai besar adalah impian, harapan, dan masa depan seluruh otaku.


Terlebih lagi kalo ada foto Airi mengenakan bikini bermotif sapi dengan ukuran oppai yang seperti itu...su-sudah pasti aku menginginkannya.


"O-oi Tanaka...berapa harga foto itu?"


"Fuh...bagaimana dengan 4?"


"Baik, kesepakatan tercapai."


"Hei, kalian jangan melakukan transaksi aneh seperti itu. Airi, jangan turuti mereka, mereka sedang memikirkan hal-hal buruk."


"Eh? Hal buruk? Benarkah itu, Tanaka-chan?"


"Eh, itu...yah..."


"Tanaka, katakan yang sebenarnya."


"E-eh───?"

 

Yuria dan Airi terus mendesak Tanaka.


Tanaka...kau harus bisa mengelak dengan baik. Demi bikin motif sapi kita.


"Ryota boleh aku bicara denganmu sebentar?"


"Eh! A-ada apa, Rui?"


Saat aku memperhatikan Tanaka dan ketiganya seolah itu tidak ada hubungannya denganku, tanpa aku sadari Rui sudah ada di sebelahku.


"Apa pakaian renangku...imut?"


"Sangat, sangat Imut...."


"Eeh? Bisa jelaskan pendapatmu lebih rinci?"


Apa-apaan itu...itu bukan seperti Rui sekali. Dia seperti pacar yang sangat merepotkan.


"Ehm, Rui, kau punya postur tubuh yang luar biasa, pakaian renang hitam itu sangat cocok untuk mu, tangan dan kakimu juga ramping, lalu..."


"Fufu... Ryota kau pembohong."


"Eh? Bo-bohong?"


"Padahal yang sebenarnya kau sukai itu bagian ini, kan?"


Rui meletakkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya di sisi kanan dan kiri pusarnya sendiri, lalu dia sedikit membuka pusar andalannya dan menunjukkannya padaku.


A-apa!? Pu-pusar Rui...!


"Fufu...itu terlihat jelas di wajahmu, Ryota."


"Eh!?"


"Sudah kuduga... fufu, semuanya berjalan sesuai rencana."


Rui menyipitkan mata dan tersenyum.


"Selama 1 bulan ini, kau sering melihatnya, kan? Pusarku."


"Ja-jangan bilang... foto-foto selfiemu yang biasanya banyak memperlihatkan pusar itu karena..."


"Itu s-e-n-g-a-j-a, tahu, Ryota?"


Rui menyipitkan matanya dengan ekspresi penuh percaya diri.


Sial! Jadi bahkan sampai ke preferensi pribadiku pun sudah dikendalikan oleh Rui!?


Pusar yang pertama kali aku lihat dalam foto Rui, yang langsung mencengkeram hatiku...semuanya hanyalah umpan yang Rui pasang untuk mengendalikan diriku!?


"Bagaimana? Kau senang, kan, Ryota-kun?"


"....Ah...ya, tentu saja."


"Eh?"


"Aku sangat menyukai pusarmu, aku selalu memperbesarnya di Hp-ku, dan aku bahkan sampai membuat folder khusus untuk itu, jadi tentu saja aku suka! Pusarmu!"


"......!"


Karena panasnya musim panas, kebingungan, dan kegembiraan yang berlebihan, emosiku benar-benar kacau dan aku tanpa sadar membuat pengakuan yang sangat keterlaluan.


"Sebegitu sukanya kau...pada pusarku, ya."


"Tentu saja!"


"Hmm..."


Mendengar pengakuanku, Rui yang tadinya percaya diri tiba-tiba kehilangan kata-kata, matanya berkedip dan pipinya sedikit memerah.


Ah, gawat...mungkin sekarang Rui berpikir kalo aku menjijikkan?


"Maaf, Ryota-kun. Aku...mungkin ingin ke toilet dulu sebelum berenang."


"Eh? O-oh..."


"Ah! Rui-chan apa kau mau ke toilet? Kalo begitu aku juga~"


Mengikuti Rui, Airi pergi sambil menggoyangkan oppai-nya ke atas dan ke bawah.


Rui...sepertinya sikapnya tadi agak aneh.


Yah, karena ini Rui, mungkin nanti setelah kembali dia akan kembali seperti biasa.

 

"Sungguh, Rui dan Airi itu. Padahal aku sudah bilang untuk ke toilet sebelum berganti pakaian."


Yuria menatap ke arah 2 orang yang pergi ke toilet dengan pandangan jengkel.


"Tapi aku khawatir dengan mereka...mereka mungkin akan didekati pria."


"Begitukah? Kalo ada Rui, aku rasa itu tidak masalah."


Sebaliknya, justru karena kecantikan Rui mereka bisa menarik perhatian pria, dan Airi sudah tidak perlu dijelaskan lagi.


Apa mereka tidak sadar seberapa mencoloknya diri mereka sendiri?


"Kalo begitu, biar aku saja yang mengikuti mereka, oke? Kalo pun ada pria yang mencoba menggoda mereka, serahkan padaku. Aku ini pernah belajar karate, meski hanya sekitar 2 minggu."


"Itu aku tidak tahu...ya sudahlah, aku serahkan padamu, Tanaka."


"Kalo begitu, penjaga pribadi Ichinose-san aku serahkan pada Ryota-kun."


"O-ou."


Dengan begitu, aku menjadi penjaga pribadi Yuuria.


"Ryota, kau akan melindungiku kan?"


"Eh, ya...yah, begitulah. Kalo ada laki-laki di sampingmu, pasti mereka mengira aku pacarmu. Jadi setidaknya aku bisa jadi penghalang."


"Hmm... Kalo begitu kurasa aku akan meminta Ryota, pacarku, untuk melindungiku."


Yuuria mengatakan ini sambil menyeringai, membuatku kewalahan.


Yu-Yuria...dasar... 


"Kalau kita terlalu banyak bergerak nanti kita malah terpisah, jadi kenapa kita tidak masuk ke kolam renang di sana dan menunggu di sana saja?”


"Y-ya."


Karena sekarang Yuria dan aku sendirian, kami memutuskan menunggu yang lain kembali sambil mencelupkan kaki kami di kolam renang terdekat.


Aku dan Yuria duduk di tepi kolam sambil mencelupkan kaki kami ke dalam air.


Saat kami duduk di tepi kolam, paha Yuria yang montok melebar ke samping, dan hanya dengan melihatnya aku tergoda ingin menyandarkan wajahku di sana.


A-apa ini...paha yang seperti zabuton ini. I-itu keterlaluan!


"Ryota, tatapanmu mesum."


"Biar saja! Lagipula yang menyuruh melihat juga Yuria sendiri!"


"Meskipun begitu, seharusnya ada batasannya."


"Tidak ada! Untuk hal ini, tidak ada! Kalo boleh dilihat sepuasnya, aku akan melihat sampai matahari terbenam!"


"Haa...Ryota kau benar-benar tidak berubah. Yah, karena itu kau, aku akan memaafkanmu. Tapi jangan terlalu bernafsu kalau itu Airi atau Rui."


Aku pikir dia akan benar-benar jengkel, tapi Yuria meskipun terlihat kesal, dia tetap tersenyum lembut.


"Ryota, apa kau sangat suka pahaku sampai sebegitunya?"


"Tentu saja. Tidak ada paha seindah milik Yuria di tempat lain."


"A-ah, begitu. Terima kasih."


Mungkin karena aku memujinya, pipi Yuria sedikit memerah.


Memerah ketika seseorang memuji pahanya, ternyata Yuria juga punya sisi feminim.


Kuharap ini jadi kesempatan agar dia lebih sering memperlihatkan pahanya.


Tapi, apa kau tahu, waktu SMP dulu, laki-laki suka menggodaku dan memanggilku 'gendut dari pinggang ke atas'. Tapi sahabatku selalu melindungiku."


"....Sahabat?"


"Teman gyaru-ku sewaktu SMP. Tapi setelah dia tahu aku seorang otaku, kami jadi bertengkar, dan akhirnya aku di tingalkan sendirian."

 

"Ah, sekarang aku ingat, kau pernah menceritakan soal itu sebelumnya."


".....Waktu kami masih sahabat, kami selalu melakukan hal-hal konyol bersama, kami benar-benar pasangan terbaik."


Sambil mendengarkan kisah yang mendadak menjadi melankolis itu, aku mengalihkan pandanganku dari paha Yuria ke wajahnya.


Kemudian, Yuria menatap ke kejauhan dengan seolah mengenang masa lalu.


Seperti sebelumnya, Yuria terlihat agak sedih ketika membicarakan masa lalunya.

 

Apa itu penyesalan atau sesuatu yang lain...aku tidak tahu. Tapi.


"A-aku rasa, Yuria yang gyaru maupun Yuria yang otaku, dua-duanya sangat bersinar, dan Yuria saat bersama Rui dan Airi juga sangat bisa diandalkan dan luar biasa, lalu, aku tidak akan pernah meremehkan paha Yuria, dan juga."


Saat aku merangkai kata-kata untuk menghiburnya, Yuria menyentuh pipiku dengan telunjuknya dan menekannya dengan pelan.


"Tenanglah, Ryota. Ada apa? Apa karena aku membicarakan sahabatku di masa lalu jadi kau cemburu?"


"Ha? Ti-tidak! A-aku cuma...bagaimana ya. Aku cuma ingin bilang kalo aku tidak akan membiarkan Yuria merasa sedi!"


"Ryota..."


Aku mengatakan itu begitu saja, tapi aku baru menyadari mungkin aku sudah mengatakan sesuatu yang sangat memalukan.


Karena Yuria terlihat sedih saat bicara soal temannya di masa lalu, aku malah berusaha menghibur dengan mengatakan kalo aku tidak akan mengejeknya...aah! 


Itu terlalu gaya otaku yang norak!


"Padahal biasanya kau sangat mesum, tapi kadang kau bisa mengucapkan hal yang keren juga, Ryota."


"Eh? Tapi aku memang mengatakan apa yang aku pikirkan secara jujur."


"Kalo itu jujur, justru itu semakin keren.”

 

Tanpa aku sadari, senyum telah kembali ke wajah Yuria.


Yuria yang biasanya bersikap tenang dan dingin, saat tersenyum berubah menjadi sangat manis hingga itu terasa tidak adil.


"Aku orang yang paling memahami Ryota, tapi aku juga merasa Ryota adalah orang yang paling memahami diriku. Aku merasa kita ini benar-benar saling bergantung satu sama lain. Sampai-sampai rasanya aku ingin tertawa."


"Ke-kenapa kau ingin tertawa?"


"Tentu saja karena aku merasa senang."


Setelah mengatakan itu, Yuria tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam kolam.


"Eh! Tu-tunggu!"


Yuria menarik tanganku ke dalam air, aku ikut terseret masuk ke dalam air, dan kami saling berhadapan di bawah permukaan air sambil menghembuskan napas dalam gelembung.


Suhu air yang hangat membuat pandanganku menjadi kabur. 


Tapi, entah kenapa...tangan kami yang saling menggenggam terasa hangat.


Perasaan kalo aku benar-benar terhubung dengan Yuria... terasa semakin kuat.


...Ti-tidak, aku tidak bisa menahan napas lagi!


Saat aku hendak mengangkat wajahku ke permukaan karena tidak tahan, Yuria juga ikut muncul dari dalam air.


"Haa───menyegarkan sekali."


"Buhaa! Apa yang kau lakukan tiba-tiba, Yuria!"


"Tidak apa-apa, kan. Hei, lebih penting dari itu, Ryota, sekarang aku sedang sangat senang, jadi sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah mengatakan hal yang membuatku bahagia tadi, Ryota, aku akan melakukan apa pun yang kau minta."


"Hah? A-apa pun!?"


Hei, bolehkah hal seperti ini terjadi begitu saja!?


Aku hanya jujur ingin agar Yuuria tidak menunjukkan wajah sedihnya...tapi ohh~ ternyata kalo hidup dengan jujur, kejadian beruntung yang mesum bisa terjadi sesuka hati! Sempurna!


"Ehem... ka-kalo begitu, karena kau bilang akan melakukan apa pun, boleh aku memasukkan wajahku ke paha Yuria-san, dan menikmati sensasi daging pahamu yang empuk sebagai bantal?"


"Ah─── itu tidak boleh."


"Apa!? Kenapa!? Tolong lakukan! Aku mohon!"


Aku mencipratkan air di kolam dengan kakiku sambil merengek seperti anak kecil.


"Sudah kubilang, hal yang berbau mesum tidak boleh. Lagipula kita bahkan belum berpacaran."


"Jangan begitu... eh? 'Belum'?"


"Ah...! Maaf, barusan itu bukan maksudku."


Saat Yuria tiba-tiba panik, terdengar efek suara 'tayun tayun' dari arah belakang yang semakin mendekat.


Su-suara oppai ini... Airi!?


"Ryota!! Yuria!! Gawat, gawat! Tanaka-chan sedang digoda pria asing───!"


" "Apa!?" "


★★★


Airi memberi tahu kami di LINE kalo 'Tanaka sedang digoda', meskipun kebenarannya cukup meragukan, kami segera bergegas ke tempat kejadian...


"Nee nee, kau dari SD mana〜?"


"Kami dari Higashi-shou〜"


"U-umm, aku..."


Yang sedang menggoda Tanaka adalah... sungguh tidak disangka, sekelompok anak SD berjumlah tiga orang.


...Hah?


"O-oi, Airi? Memang benar Tanaka seperti sedang digoda, tapi yang menggoda itu anak-anak SD, kan?"


"Iya. Waktu kami berdua sedang menunggu Rui-chan keluar dari toilet, mereka tiba-tiba datang."


"T-tapi kalo cuma anak SD, bukannya tidak perlu memanggil kami?"


"Tentu saja Airi ingin menghentikan mereka, tahu? Tapi anak-anak itu bilang, 'Si gemuk ber-oppai besar, enyah sana!'... jadi Airi terpaksa."


Anak-anak ini... bukan hanya menggoda Tanaka, mereka juga memanggil Airi dengan sebutan 'Si gemuk ber-oppai besar'...beberapa tahun lagi mereka akan menyesalinya setengah mati.


Gadis dengan oppai sebesar itu dan wajah secantik itu, bisa dibilang hanya muncul sekali dalam 100 tahun.


"Sungguh, mereka tidak tahu kehebatan (oppai besar) Airi itu, mereka sebodoh apa sih?"


"Eh? Mo...mou, Ryou-ta! Kau terlalu memuji Airi."


"Itu tidak berlebihan tahu? Dengan tubuh sebagus itu, mengatakan hal seperti itu kepada Airi benar-benar menunjukkan betapa tidak peka mereka."


"Ehehe, Ryota memang pandai memuji ya. Airi adi malu... eh, bukan itu! Sekarang soal Tanaka-chan! Kita harus cepat menolongnya!"

 

"Tapi, anak SD menggoda seorang gadis? Akhir-akhir ini anak SD sekarang terlalu dewasa sebelum waktunya ya? Atau cuma aku saja yang tidak tahu?"


"Tidak, memang mereka yang dewasa sebelum waktunya."


Tingkah mereka terlalu kekanak-kanakan meski bersikap dewasa.


Sepertinya mereka menggoda Tanaka karena mereka mengira dia anak SD yang sedikit tinggi.


Meskipun Tanaka bertubuh kecil, aku rasa dia tetap tidak terlihat seperti anak SD...apa mereka salah paham karena dia memakai baju renang sekolah?


Yah, dunia anak SD memang masih menilai orang dari seberapa cepat mereka berlari.


Begitu masuk SMP atau SMA, bukan lagi kecepatan lari atau tinggi badan yang penting, tapi nilai tampan dan bentuk tubuh───itu pun mereka belum tahu.


"Oh, aku tidak punya pilihan. Aku akan membantu Tanaka, kalian tunggu di sini."


"Maaf sudah menunggu... eh, Tanaka-san di mana?"


Saat aku hendak menolong Tanaka, tepat pada saat itu Rui keluar dari toilet wanita.


"Ah, Rui. Sebenarnya Tanaka sedang digoda di sana. Dan yang menggoda itu anak SD."


"Hmm... anak SD, ya. Kalo begitu, Ryota-kun, kau kan laki-laki, jadi tolong urus itu ya?"


Rui terlihat sangat acuh tak acuh dan menyerahkan semua padaku begitu saja.


Ada apa dengan Rui? Setidaknya bilanglah, 'Biar aku yang pergi, ya?' atau semacamnya...


Aku sebenarnya kurang suka anak SD.


Meski begitu, aku melangkah maju untuk menolong Tanaka.


"A-ano───. Boleh aku bicara sebentar?"


Saat aku memangil mereka, anak-anak SD itu serempak menatap ke arahku.


"Ada apa, Onii-san. Kami lagi menjemput anak perempuan, tahu."


"Jangan ganggu. Lagian kau siapa?"


Anak-anak ini... benar-benar kelewatan.

 

"E-eto... anak perempuan itu, bisa dibilang temanku..."


"Apa?"


Begitu aku datang untuk menolong, Tanaka segera berlari kecil dan bersembunyi di belakangku.


"Tu-tunggu! Onii-san, sebenarnya kau punya hubungan apa dengan anak ini!?"


"Eh? Aku ini orang tu───"


Tidak, tunggu dulu.


Dalam situasi seperti ini, akan lebih efektif kalo aku mengaku kalo dia adalah 'pacarku', meskipun itu hanya bohong.


"Se-sebenarnya dia ini, pacarku. Jadi, bisakah kalian berhenti menggoda dia?"


"Ryo-Ryota-kun!? Aku, pa-pacarmu!?"


Tanaka langsung memerah dan menggigil karena gugup.


Apa. Apa kau benar-benar benci menjadi pacarku, meskipun itu bohong?


"Ja-jadi begitu. Ternyata sudah dia punya pacar."


"Lagi pula, Onii-san kelihatannya anak SMA, kan? Dasar loli● mesum."


A-apa...


Anak-anak ini...tidak tahu apa-apa, tapi mereka masih saja mengoceh.


"Dengar ya, kalian yang masih SD...nanti kalo kalian sudah pulang, coba cari di internet 'gravure idol'. Kalian terlalu tidak tahu dunia."


"Hah? Tidak mau! Sudah ah, ayo pergi!"


3 anak SD itu lari menyusuri pinggir kolam seperti melarikan diri.


Mereka tidak tertarik pada Airi, mereka mengira Tanaka anak SD, mereka memanggilku lolicon... mereka hanya anak-anak yang tidak sopan.


Aku penasaran, apa dunia ini mungkin memang dipenuhi oleh anak-anak seperti itu sekarang.


"Ryota kun, terima kasih banyak."


Tanaka mengucapkan terima kasih sambil memeluk punggungku.


Sensasi baju renang sekolah terasa di punggungku, dan tanpa sadar tubuh bagian bawahku bereaksi.


Se-sensasi... sensasi dari oppai kecil Tanaka... kuhh!


Merasa terangsang terhadap Tanaka... sebagai sahabat, itu tidak boleh, kan? 


"O-oi, Tanaka! Ja-jangan peluk aku!"


"A-ah... maaf, Ryota kun! Aku tadi hanya, heheha."


Tanaka perlahan menjauh dari punggungku.


Kenapa dia jadi malu begitu.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau panik begitu? Lawannya cuma anak SD, kan?"


"A-anu... seperti yang mungkin sudah kau ketahui, aku ini tidak pernah sekali pun disukai oleh laki-laki sepanjang hidupku, jadi tadi aku merasa sedikit senang, atau semacamnya."


Seorang siswi kelas 2 SMA yang tersanjung karena disukai anak SD...


Tanaka, itu terlalu...


"Tanaka-chan, apa kau tidak apa-apa!?"


Dengan wajah cemas, Airi langsung berlari menghampiri Tanaka.


"Maaf, Airi. Airi tidak bisa membantumu"


"Itu tidak benar! Pertama-tama, justru akulah yang salah karena merasa terangsang karena diperlakukan dengan baik oleh anak-anak SD!"


" " "Haa?" " "


Ketiga gadis cantik itu langsung menunjukkan ekspresi jijik.


Tidak, Tanaka! Jangan sengaja mengatakannya begitu!!


Bagian seperti itulah yang benar-benar mengecewakan darimu!


"Tanaka-chan...apa itu, serius?"


"Ta-Tanaka, kau ini..."


"Fufu, Tanaka-san, mungkin kau itu seorang shota●, ya?"


"Sh-sho-shota● bukan, kok! Memang benar sih aku punya beberapa buku harem onee-shota dengan tema shota uke!"


I-itu benar-benar seorang shota● beneran!


Tolong, polisi! Segera datang ke sini... 


"U-um, karena Tanaka-chan juga sudah selamat, bagaimana kalau kita pergi ke seluncur sekarang?"


"Y-ya... benar juga."


Karena Tanaka, suasana jadi agak canggung, dan kami pun berpindah ke wahana seluncuran air.


★★★


"Lihat, lihat, Ryota! Seluncuran ini bisa dipakai untuk 2 orang di tabung kembar, dan kita bisa menuruni arus deras bersama-sama!"


"He-hei."


Airi yang terlihat bersemangat membuat oppai yang besar berguncang naik turun, dan aku sempat menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandanganku ke arah seluncuran air.


Di kolam renang ini, ada tiga seluncuran terkenal.


Seluncuran super cepat, seluncuran air super panjang, dan river ride slider.


Di antara ketiganya, river ride slider yang memungkinkan pengunjung merasakan arus deras dengan tabung khusus adalah yang paling populer, dan disana sudah terbentuk antrian yang sangat panjang.


"Karena itu sangat populer, antrian menjadi sangat panjang dan mengganggu lalu lintas, maka untuk pengunjung dalam kelompok berjumlah 4 orang atau lebih, staf akan memeriksa jumlah orang dan memberikan kupon bertuliskan jumlah tersebut kepada perwakilan kelompok. Harap maklum dan tolong kerjasamanya〜"


Dengan megafon di tangannya, staf itu terus mengulangi pengumuman yang sama.


"E-ehm, jumlah rombongan Anda berapa orang?"


"5 orang."


Aku menerima kupon bertuliskan '5' dari staf tersebut.


"Karena waktu tunggu cukup lama, selain perwakilan yang mengantri, anggota lain dipersilakan menikmati wahana lainnya terlebih dahulu."


Setelah membungkuk ringan, staf itu melanjutkan ke kelompok berikutnya di belakang kami.


Kalo begitu, cukup aku saja yang mengantri.


"Kalian, biar aku saja yang mengantri di sini. Kalian berempat bisa pergi ke seluncuran lain dulu. Kalo kalian tetap bersama, tidak akan ada yang mencoba menggoda kalian atau semacamnya."


"Eh! Itu tidak boleh!"


"Benar, dan lagi, karena ini Ryota, kalo kau sendirian kau pasti akan menatap pakaian renang perempuan lain dengan mata mesummu, kan?"


"Eh! Benarkah!? Ryota mesum!"


"Fufu... Ryota-kun, menurutku mencoba menandai selain kami juga, itu perilaku yang sangat tidak sopan."


Padahal aku mengatakan hal itu demi mereka semua, aku berinisiatif dengan niat baik, tapi entah kenapa aku malah mendapat serangan bertubi-tubi dari ketiga gadis cantik itu.


Kenapa aku harus dianggap seolah-olah ingin sendirian hanya untuk bisa menatap pakaian renang gadis lain. Itu benar-benar tidak adil.


...Meskipun dalam hati harus aku akui, aku sempat terpesona oleh dua gyaru berkulit gelap yang tampak nakal di antrean depan, dan sebenarnya aku ingin sedikit waktu sendiri───tapi itu rahasia.


"Kalo begitu, untuk sementara aku dan Ryota yang akan mengantri, jadi kalian bertiga..."


"Fufu, nee, Yuriya?"


"A-ada apa, Rui?"


"Entah kenapa...sejak tadi pagi, aku merasa Yuria seperti berusaha menciptakan situasi agar bisa berdua saja dengan Ryota-kun...apa itu hanya perasaanku saja?」


"Haa!? Bu-bukan begitu! Hanya saja, kupikir sudah tugasku untuk mengawasi Ryota yang matanya selalu mesum setiap waktu."


Tu-tugas macam apa itu! Ucapanmu bisa menimbulkan kesalahpahaman!


"Kalo begitu tidak masalah. Tugas itu, aku juga akan melakukannya."


"Ru-Rui juga?"


"Ya. Jadi yang akan mengantri di sini hanya aku dan Ryota-kun, oke? Yuria, tolong temani Airi dan Tanaka-san untuk bersenang-senang. Aku tidak enak kalo terus-menerus menyerahkan tanggung jawab atas Ryota-kun hanya pada Yuria."


Rui berkata pada Yuria dengan senyum yang penuh kasih sayang, seperti seorang ibu yang menasehati sang kakak yang sedang menahan diri.


Padahal sejak kapan aku menjadi anak bermasalah yang butuh pengawas?


Akhir-akhir ini aku memang sedang terbawa suasana, itu benar... Tapi meskipun begitu, yang aku lakukan hanya sebatas hal seperti terjatuh ke oppai besar milik Airi saat di kampung halamannya, fetish pusarku terbongkar sepenuhnya oleh Rui, atau aku mengatakan langsung pada Yuria kalo aku ingin membenamkan wajahku di paha miliknya.


"Tapi, tetap saja, kalo menyerahkan Ryota ke Rui sepenuhnya, aku merasa tidak enak."


"Yuria juga, sejak di kereta kau sudah mengawasinya, jadi aku rasa itu tidak adil. Tidak apa-apa, aku yang akan mengawasi Ryota-kun kali ini."


"Ta-tapi..."


Saat Yuria dan Rui sedang berdiskusi dengan serius seperti orang tua yang sedang memperebutkan hak asuh anak mereka.... 


"Kalo begitu!"


Suara nyaring tiba-tiba memotong perdebatan itu.


A-Airi...?


"Ano! Airi yang akan melakukannya! Jadi pengawas Ryota!"


Airi dengan tegas mengangkat tangan dan menyatakan diri sebagai pengawas Ryota.


Saat dia mengangkat tangan, seperti biasa, oppai-nya yang besar ikut berguncang...eh, bukan itu intinya sekarang!


Lagipula, kenapa harus ada yang jadi pengawasku?


"A-Airi, kau mau mengantri bersama Ryota menggantikan kami?"


"Ya! Yuria dan yang lainnya tidak apa-apa bermain duluan! Nanti pas giliran kita, Ari akan memanggil kalian pakai Hp!"


Usulan mendadak dari Airi membuat kami semua bingung.


Airi yang biasanya manja dan sangat suka bermain, sekarang malah mau menunggu antrian bersama denganku...?


"Airi, kau tidak sedang memaksakan diri demi kami, kan? Lagipula, aku yakin kau akan dilecehkan secara seksual kalo kau berduaan dengan Ryota-kun."


"Oi, Rui. Apa-apaan itu, itu bisa membuat orang lain salah paham."


"Seperti yang dikatakan Kuroki-san, Airi-tan! Kalo kai berdua dengan orang mesum luar biasa seperti Ryota-kun, tidak akan hal baik yang terjadi!"


"Tanaka, kau...! Seenaknya saja kau berbicara."


Si brengsek Tanaka itu, dia diam saja dari tadi, tapi kalo soal mengolok-olokku, dia langsung saja membuka mulutnya.


"Mou, kalian terlalu khawatir. Ryota tidak akan melakukan hal aneh pada Airi kok! Jadi, ayo, tenang saja dan pergi habiskan waktu kalian dulu sana."


Sambil mendorong punggung ketiganya, Airi tidak mundur sedikit pun.


Yuria, Tanaka, dan Rui tetap terlihat khawatir, tapi akhirnya mereka pergi begitu saja.


Yang lebih kupikirkan sebenarnya, apakah Tanaka bisa berbicara dengan lancar saat diapit oleh Rui dan Yuria...


"Mou, mereka semua. Mereka salah paham soal Ryota."


Airi mengangkat bahu seolah berkata 'ya ampun', sambil menggoyangkan oppai-nya yang besar ke kiri dan kanan.


"Ti-tidak, ini bukan salah paham... Kurasa apa yang dikatakan semua orang ada benarnya."


"Eh~? Kenapa?"


"Yah... Soalnya, Airi juga tahu kan, kalo aku ini otaku mesum yang menjijikkan? Jadi mereka semua khawatir aku akan menatap terus ke arah oppai Airi."


"Tapi kan antara Airi dan Ryota ada sebuah janji, kalo Ryota boleh melihat sepuasnya oppai Airi? Sebagai gantinya, Ryota harus memanggil Airi dengan 'Airi'."


Memang, waktu itu di kamarku, kami sempat berjanji seperti itu... 

 

"Selain itu, Ryota. Meskipun kau bilang begitu, sekarang pun matamu terus melihat oppai Airi."


"I-itu!"


"Ehehe, mungkin karena baju renang Airi kelihatan imut?"


Arah pandangan mataku yang sejajar dengan Airi saat kami mengobrol, benar-benar tertuju pada oppai yang ukurannya jauh melampaui proporsi baju renangnya, dan hal itu ditegur langsung oleh Airi.


Yah, kalo ada oppai sebesar ini di sebelahku, tidak mungkin ada laki-laki yang tidak melihat!


"Ryota mesum~"


"Apa sih! Ka-kalo kau terus menggodaku seperti itu, mungkin aku akan mulai melihat paha Yuuria saja terus!"


"Eh? I-itu tidak boleh! Bukankah kita sudah berjanji waktu di rumah Obaa-chan? Ryota boleh melihat oppai milik Airi, tapi Ryota tidak boleh melihat milik gadis lain!"


Sepertinya kami memang pernah berjanji begitu, atau mungkin tidak.


Lagipula, aku sudah sering melihat paha Yuria, dan juga aku menatap pusar Rui dengan sangat serius, jadi aku benar-benar telah melanggar janji itu berkali-kali.


"Dan juga! Yuria pasti tidak ingin dipandang dengan tatapan mesum seperti itu!"


Padahal Yuuria sendiri pernah bilang, 'Lihat punyaku saja',... i-ini yang disebut situasi harem di tengah kebingungan, kan?


"Jadi kau mengerti, kan? Kalau kau melirik Yuria atau Rui-chan dengan pandangan seperti itu, Airi akan marah!"


"Tapi kalo ke Airi, tidak apa-apa kan?"

「Eh, itu...iya. Karena itu Ryota, Airi akan mengizinkannya secara khusus."


Airi mengatakan itu dengan bibirnya yang bergetar, pipinya sedikit memerah, dan keringat aneh muncul di wajahnya.


Ada sedikit keringat yang membasahi bagian atas oppai-nya yang besar.


Sungguh menggoda.

 

"Mo, mou! Ayo akhiri saja pembicaraan ini! Obaa-chan bilang, pembicaraan seperti ini tidak boleh dilakukan saat siang hari! Ayo bicarakan hal lain!"


Airi, entah karena ingin menutupi rasa malunya, dia menggelengkan kepala dan oppai-nya ke kiri dan kanan sambil menyampaikan keberatannya kepadaku.


Yah, antrian masih panjang, dan terus membicarakan hal-hal semacam ini mungkin akan membuat rasa malu Airi, yang masih kekanak-kanakan, menjadi-jadi.


"Kalo begitu... Airi, saat musim panas, apa kau memang sering pergi ke kolam renang? Soalnya, melihat persiapanmu sejak kemarin, itu terlihat seolah kau sudah terbiasa."


"Ya, Air cukup sering pergi ke kolam renang. Soalnya AC di rumah Airi sudah tua dan tidak begitu dingin, jadi kalo Airi terus di kamar itu aka terasa sangat panas. Lagipula, sejak Airi masih SD, ibu sering mengajak Airi ke kolam renang saat hari panas."


Ibunya, ya... Ngomong-ngomong, aku pernah dengar kalo ibu Airi dulu adalah seorang gravure idol.


Aku mendengarnya dari neneknya saat di kampung, dan sejak saat itu aku jadi penasaran siapa namanya, tapi aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk menanyakan langsung.


...A-aku sangat ingin tahu.


"Ngomong-ngomong, Airi bukankah ibumu dulu seorang gravure idol?"


"Eh!? Kenapa kau tahu itu!?"


"Aku mendengarnya dari Obaa-chan-mu."


"Begitu, ya! Mou, Obaa-chan memang suka begitu. Padahal dia sering mengeluh tentang ibu, tapi dia tetap saja suka membanggakannya."


Airi mengatakan itu sambil menunjukkan ekspresi yang sangat bahagia.


"Ibu Airi itu, katanya menjadi gravure idol saat dia masih kuliah. Sekarang memang dia hanya ibu rumah tangga biasa yang bekerja di supermarket, tapi waktu dia masih aktif, dia adalah gravure idol yang cukup terkenal! Sekarang dia sudah lebih kurus, tapi katanya dulu tubuhnya lebih besar dari Airi!"


Airi menjelaskan itu dengan mata yang bersinar.


Le-lebih besar dari Airi...?


Berarti...bisa jadi dulunya dia adalah seorang gravure idol dengan ukuran oppai sekitar K-cup...?

 

Baiklah, kalo begini, aku akan mencoba menggali nama panggung ibunya, lalu nanti setelah pulang aku akan memcarinya habis-habisan.


"Jadi, eh... apa nama ibumu saat menjadi gravure idol dulu?"


"Namanya? Umm... eh, tunggu sebentar."


Airi tiba-tiba mengernyitkan alisnya dan menatapku dengan ekspresi curiga.


"Kau tanya namanya... jangan-jangan, Ryota...kau ingin melihat foto gravure ibu? Kau mau apa setelah melihat foto gravure ibu Airi?"


"Ugh..."


Sial, Airi tiba-tiba jadi sangat tajam saat seperti ini. 


Tidak mungkin aku bisa bilang langsung di depan anaknya kalo aku ingin melakukan hal aneh dengan melihat ibunya Airi.


"A-ah, bukan, maksudku...kalo aku melihat foto ibumu saat masih jadi gravure idol, mungkin aku bisa membayangkan seperti apa Airi di masa depan..."


"Masa depan Airi?"


"Ka-kalo ibumu dulu punya tubuh seindah itu, kupikir mungkin Airi juga akan jadi seperti itu nantinya..."


"Begitu, ya..."


Tatapan curiga dari Airi pun menghilang, dan aku berhasil mengelak dengan cukup baik.


"Tapi, kalo begitu───"


"Hmm?"


"Kalo Ryota terus ada di samping Airi sampai Airi tumbuh besar... bukankah itu bagus?"


Airi mengatakan itu sambil menatapku dari bawah.


"Se-selamanya? Aku?"


"I-iya..."

 

"Yah, kalo itu sesuatu yang bisa terus kulihat, tentu aku ingin terus melihatnya."


"Be-benarkah!?"


Kalo bisa, aku ingin terus mengamati bagaimana oppai besar ini akan tumbuh. 


Bahkan rasanya aku ingin mulai membuat catatan pengamatan mulai sekarang.


"Kalau begitu, ayo kita tambah satu janji baru lagi! Mulai sekarang, sampai nanti kita kuliah pun, kita harus tetap bersama!"


"E-eh... itu sih agak..."


"Janji ya! Kalo Ryota melanggarnya, Ryota tidak boleh melihat oppai Airi lagi!"


"Itu masalah hidup dan mati... ba-baiklah, aku mengerti."


"Yatta! Airi harus berusaha keras agar bisa masuk universitas yang sama dengan Ryota!"


Aku lagi-lagi membuat janji baru dengan mudah... tapi untuk terus bersama, kah.


Yah, ini Airi, jadi mungkin dia hanya bicara mengikuti suasana, sepertinya itu bukan janji yang terlalu berat.


"Hehehe~ aku tidak sabar."


"A-ah."


Kita sedang membicarakan... seluncuran, kan?


★★★


Setelah itu, saat aku terus berbicara berdua dengan Airi, perlahan-lahan giliran kami untuk menaiki seluncuran semakin mendekat.


"....Oh, sepertinya sebentar lagi giliran kita. Sesuai dengan popularitasnya, kita cukup lama menunggu giliran kita."


"Begitukah? Tapi Airi merasa waktu berjalan cepat karena sedang bicara dengan Ryota."


Cepat berlalu, katanya... 


Setelah membuat janji aneh dengan Airi tadi, sebagian besar waktu dihabiskan dengan Airi yang bicara sendiri tentang rencana masa depan-nya untuk pelatihan kabutomushi, dan aku hanya mengangguk-angguk saja.


"Kalo begitu, sebaiknya kita panggil Rui dan yang lainnya sekarang."


"Roger~"


Kemudian Airi, entah kenapa, menundukkan pandangannya ke arah oppai-nya, lalu dengan perlahan dia menyelipkan tangannya ke dalam belahan oppai besarnya, dan mengeluarkan sebuah Hp yang dimasukkan ke dalam casing tahan air dari sana...nnnnnggggg!?!?


"O-oi! Kenapa kau bisa mengeluarkan Hp-mu dari situ!?"


"Eh? Soalnya repot kalo harus bawa-bawa di tas."


"Itu bukan masalah repot atau tidak!"


Ini pertama kalinya aku melihat seseorang melakukan sesuatu seperti Mine Fu●iko...atau lebih tepatnya, itu tidak mungkin dilakukan dengan ukuran oppai biasa.


Itu benar-benar kantung oppai yang hanya dimiliki oleh mereka yang terpilih.


"Ehm...ehem. Eto...ano, bolehkah aku pinjam Hp-mu itu sebentar?"


"Eh? tidak apa-apa sih...ah, apa Ryou-ta mau menghubungi yang lain menggantikan Airi?"


"Y-ya! Benar sekali! Biar aku saja yang menghubungi mereka!"


"Mou~ hanya karena kita sudah berjanji untuk selalu bersama, bukan berarti Ryota harus sebaik itu pada Airi...tapi, makasih ya, Ryota."


Airi menyerahkan ponselnya padaku tanpa sedikit pun rasa curiga, sambil menunjukkan ekspresi malu-malu yang tidak biasa.


[TL\n: the real ni mc cabul bet aying, mana si Airi polos bet lagi.]


Entah bagaimana, sepertinya dia menafsirkan semuanya secara positif, dan itu menyelamatkanku.


Maafkan aku, Airi. Ini bukan karena aku bersikap baik.


Keinginan khas seorang perjaka, yakni menyentuh Hp yang baru saja terselip di antara oppai-mu itu, tidak bisa aku tahan.


Sambil merasakan (sedikit) rasa bersalah, aku mengulurkan tanganku dan menerima Hp itu dari Airi...hmmmm!!


Na-nani!? Hangat...hangat lembab!?


Karena terus-menerus terjepit di antara oppai Airi, Hp itu menjadi hangat, dan sepertinya karena tertahan lama di dalam belahan dadanya, Hp itu sedikit lembab oleh keringat dada Airi.


Meski telah terkena tekanan oppai dan basah oleh keringat dari lembah oppai, Hp ini masih berfungsi, masih menyala dengan baik.


"Tunggu, kenapa Ryota yang memegang Hp Airi?"


Saat aku sedang menikmati sensasi dari Hp oppai Airi, tiba-tiba Yuria dan yang lainnya kembali.


Si-sial, bahaya!!


"Karena kupikir waktunya sudah dekat, jadi kami kembali...tunggu, Airi. Kenapa kau memberikan Hp-mu pada Ryota?"


"Eh? Soalnya Ryota bilang dia yang akan menghubungi semuanya menggantikan Airi."


"Hah?"


Tatapan tajam Yuuria tertuju padaku.


"E-ehm, anu, itu 100% karena niat baik."


"Niat baik?"


Meskipun cuacanya sangat panas, tapi aku tidak bisa berhenti berkeringat.  


Aku benar-benar seperti tersudut di akhir-akhir permainan Gyakuten Saib● sebagai tersangka.


"Aneh, Ryota-kun. Kalo soal menghubungi kami, bukankah lebih cepat kalo Airi yang melakukannya? Jadi itu tidak masuk akal kan?"


Rui, sambil tersenyum menyeramkan, perlahan mendekatiku.


"Lagi pula, kalo aku tidak salah...saat kami sedang ganti baju di ruang ganti, Airi sempat bilang kalo dia membawa Hp-nya dengan cara diselipkan di oppai-nya..."


Rui mendekat ke telingaku dan berbisik pelan.


"Bukankah teoriku sempurna?"


"Y-ya."


Fakta kalo dia tidak mengucapkan teori sempurnanya di depan semua orang, rasanya menjadi satu-satunya penyelamat.


"Ryota-kun. Segera kembalikan Hp itu pada Airi."


"Y-yaaa!!"


Rui menegurku sambil berbisik di telingaku, jadi aku langsung mengembalikan Hp itu pada Airi.


"Fufu... Ryota-kun kau memang benar-benar baik ya? Karena jari Airi basah oleh keringat, jadi kau bersedia menghubungi yang lain untuk menggantikan Airi~"


"Eh?"


Suasana langsung berubah drastis dari yang sebelumnya, dan sekarang Rui malah membelaku, membuatku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.


"Ah! Jadi begitu, makanya Ryota ingin mengetikkan pesannya menggantikan Airi?"


"Hee, begitu ya Ryota?"


Airi dan Yuria bertanya padaku sambil menatap.


Aku tidak percaya Rui...benar-benar menyelamatkanku. 

 

"Ryota-kun, kau baik sekali. Awalnya aku kira kau merasa terangsang karena menyentuh Hp yang biasa Airi-tan gunakan sehari-hari."


"Tidak, hanya Tanaka yang akan berpikir seperti itu."


"Eh! Ichinose-san, itu kejam sekali!"


Pada akhirnya, situasi tersebut dapat diredakan karena Tanaka yang dijadikan bahan ejekan.


Memang benar aku tertolong, tapi...sebenarnya, apa yang Rui pikirkan.


Ketika aku melirik ke arah Rui, Rui juga sedang menatap ke arahku.


"Ano, terima kasih, Rui. Aku tertolong."


"Sama-sama. Tapi, Ryota-kun? Kalo sudah begini, sebaiknya kau mulai menahan sedikit nafsumu."


"A-aku mengerti...aku benar-benar menyesalinya."


"Fufu...tapi, kalo kau benar-benar tidak bisa menahan keinginan yang tidak senonoh itu...kalo terhadapku, kau tidak perlu menahan diri, ya?"


"A-apa maksudmu..."


Rui mengedipkan sebelah matanya, lalu dia kembali bergabung ke dalam percakapan bersama dua orang lainnya.


Airi, Yuuria, dan Rui...semua berkata bahwa jika terhadap diri mereka sendiri tidak masalah, sampai sejauh mana pengorbanan mereka sebenarnya.


Aku hampir menitikkan air mata karena terharu.


Jika Rui mengatakan kalo aku tidak perlu menahan diri, mungkin aku bisa memintanya untuk menambah jumlah foto selfie-nya.


"Ryota-kun, Ryota-kun. Kalo kau tidak keberatan, di seluncuran ini bisa dinaiki berdua dalam satu ban. Apa kau ingin meluncur bersamaku?"


"Eh, aku akan meluncur bersama Tanaka...?"


"A-apa maksudmu? Apa kau ingin mengatakan kalk meluncur bersama gadis bertubuh kurus sepertiku tidak akan menyenangkan!?"


Padahal aku tidak mengatakan hal seperti itu...imajinasi negatif Tanaka ini sungguh berlebihan.


"Hee, Ryota-kun ternyata memikirkan hal seperti itu ya. Ryota-kun, hari ini kau ingin membuatku marah berapa kali sampai kau merasa puas, hmm?"


"O-oi, Tanaka! Gara-gara kau, Rui jadi marah!"


"Eh! Jangan salahkan aku! Memang benar Kuroki-san itu...yah, kalau tidak menghitung otot perut dan tinggi badannya, mungkin tidak jauh berbeda denganku! Tapi gadis cantik sempurna seperti Kuroki-san tidak mungkin merasa terpukul hanya karena hal seperti itu, kan!?"


Sial, dia ini! Memancing kemarahan Rui dengan santainya!


"Fufu... Tanaka-san, selama ini karena kau selalu menjadi satu-satunya yang bisa mendekati nilai ujianku, aku sudah menganggapmu sebagi orang yang menyebalkan, tapi ternyata aku tidak menyangka kau bisa semenyebalkan ini."


"A-ahaha...suara jari berderak... I-Ichinose-san! Tolong aku!"


"Kenapa kau malah menyeretku juga! Tanaka, kau sendiri yang membuat Rui marah!"


"Mou! Semuanya harus akur, tahu!"


Semuanya menjadi kacau ketika Tanaka, yang sejak tadi melampiaskan kecemasan sosialnya, bergabung dalam percakapan.


Tanaka...memang benar-benar berbahaya.


"Pokoknya Rui, tenang dulu. A-aku pikir Rui itu ramping dan cantik, dan aku sama sekali tidak menganggapmu remeh."


"Fufuhn...lalu, bagaimana dengan Tanaka-san?"


"Tanaka sih...dia masih anak SD."


"Haaahhhhh!?"


Kali ini Tanaka marah dan memukul punggungku, tapi karena itu Tanaka, itu sama sekali tidak terasa sakit.


"Kalau begitu kita kembali ke topik, seluncuran ini bisa dinaiki berdua, tapi dari jumlah orang, kalo dibagi 2–2, tap akan ada satu yang tersisa, kan? Aku yang akan meluncur sendirian, jadi kalian berempat saja yang berpasangan."

 

Tentu saja keinginanku yang sebenarnya adalah bisa duduk di belakang Airi dan berharap bisa melihat oppi besarnya tergelincir keluar, atau duduk di depan Yuria dan berharap terjadi insiden di mana pahanya yang terulur menjepitku. 


Tapi, tidak mungkin aku mengucapkan keinginan itu di sini.


"Eeh! Tapi kalo begitu malah kasihan Ryota!"


"Ka-kasihan apanya?"


"Aku juga setuju dengan Airi. Aku tidak masalah kalo dengan Ryota, Rui juga begitu kan?"


"Ya, aku tidak keberatan kok?"


Saat mengatakan itu, Rui menatapku dengan tajam dan membara.


A-apa maksud dari tatapan itu...aku ini tetap seorang laki-laki, lho.


"Kalo begitu, bagaimana kalo kita bagi dengan jan-ken? Kita terus ulang sampai dapat pembagian 2─2─1"


"Iya. Aku juga tidak apa-apa dengan itu."


"Airi juga setuju!"


"Tu-tunggu, oi."


Serius nih...berarti, ada kemungkinan aku akan...bersama salah satu dari ketiga orang ini+Tanaka... 


Ketika dua orang menaiki seluncuran arus deras, mereka akan duduk berurutan di tabung khusus, jadi sentuhan fisik pasti akan terjadi.


Dan takdir itu akan ditentukan lewat jan-ken.


Kalo bisa memilih...tentu saja, aku ingin meluncur bersama Airi dan Yuria, si duo oppai besar & paha montok, adalah yang terbaik.


Tapi kalaupun aku bersama Rui, kalo aku duduk di depannya, aku bisa bersentuhan dengan kaki telanjang Kuroki Rui sang atlet papan atas.


Kaki indah milik Kuroki Rui yang biasanya tersembunyi di balik tights hitam...jelas punya pesona berbeda dibandingkan paha besar milik Yuria.


Singkatnya, yang ingin aku katakan adalah...tapi Tanaka, kau tidak boleh.


Naik seluncuran bersama sesama anak introvert itu terlalu menyedihkan.


" " " " "Ayo tentukan dengan jan-ken!" " " " "

 

Untuk sementara aku asal mengeluarkan telapak tangan, tapi karena Rui dan Airi juga mengeluarkan telapak tangan, maka harus diulang dari awal.


" " " " "Kita bagi lagi!" " " " "


Kali ini aku mengeluarkan gunting, tapi karena Rui dan Tanaka juga mengeluarkan gunting, lagi-lagi harus diulang.


" " " " "Kita bagi lagi!" " " " "


Kali ini pun aku mengeluarkan gunting, tapi Rui dan Yuria juga...tu-tunggu dulu.


Se-sepertinya...persentase kecocokan tanganku dengan Rui sangat tinggi...apa itu hanya perasaanku saja?


Saat aku melirik wajah Rui secara diam-diam, dia membuka matanya sangat lebar, seolah bola matanya hampir keluar, dan menatap tajam ke arah tanganku.


O-oi oi Rui...kau... 


Yang lain masih fokus dengan jan-ken, jadi tidak ada yang menyadarinya, tapi tatapan Rui benar-benar mencurigakan... 


Rui...dia berniat menggangguku agar aku tidak bisa bermain mesra dengan duo oppai besar dan paha montok itu di seluncuran, ya.


Baiklah, kalo begitu...kali ini aku akan melakukan tipuan.


" " " " "Kita bagi lagi!" " " " "


Kali ini aku berpura-pura akan mengeluarkan gunting sampai detik terakhir, lalu dengan cepat membuka jari-jariku menjadi telapak tangan.


Lalu... 


"Eh, mungkin ini...sudah ketahuan hasilnya. .?"


Airi dan Rui mengeluarkan gunting, Tanaka batu.


Dan...aku dan Yuuria sama-sama telapak tangan.

 

"Ah! Airi bersama dengan Rui-chan!"


"Ya... benar, Airi."


Rui membalas Airi dengan senyuman, tapi sesaat kemudian dia mengarahkan tatapan tajamnya ke arahku.


Ugh... menyeramkan sekali.


Sepertinya Rui tahu kalo aku sengaja mengganti suitku menjadi 'kertas' di detik terakhir.


"Haa... pada akhirnya aku tetap sendiri. Mulai sekarang, panggil saja aku Tanaka Hitori. Sebagai tambahan, aku tidak bisa bermain gitar."


"Dari tadi kau mengatakan apa sih, Tanaka. Jangan terlalu depresi hanya karena ini."


"Ah... aku, bersama Ryota..."


"Hmm?"


Saat aku sedang mencoba menenangkan Tanaka, Yuria menatap tangan kanannya yang tadi memperlihatkan 'kertas' sambil berkedip pelan.


"Yuria?"


"Ugh, a-aku sial sekali! Dengar ya, Ryota, waktu meluncur nanti, jangan dekat-dekat denganku!"


Yuria berkata seperti itu sambil terlihat cemberut dan bersikap dingin.


Ah, begitu. Karena sedang di depan semua orang, jadi dia berusaha bersikap seperti itu.


Ya? Kalaupun Yuria benar-benar tidak menyukaiku, aku tetap tidak akan menjauh darinya.


Dengan begitu, pasangan-pasangan yang akan meluncur telah ditentukan, dan giliran kami pun tiba.


Karena akan meluncur menggunakan pelampung khusus berbentuk angka 8 yang digunakan berdua, aku langsung duduk di bagian depan untuk mengamankan posisi, lalu Yuria duduk di belakangku.


"He-hey, Ryota... punggungmu terlalu bersandar ke belakang..."


"Begitukah? Menurutku ini sudah pas untukku~"


"Tujuanmu terlihat sangat jelas. Tapi..."


Yuria lalu mengulurkan kedua kakinya dari samping tubuhku yang duduk di depannya.


Paha besar Yuria menyentuh sisi tubuhku... Apa ini... lembut sekali...


"Kalo Ryota memang berniat seperti itu... hari ini akan aku berikan layanan khusus."

 

Yuria mendekatkan tubuhnya ke arahku yang duduk di depannya, lalu dia berbisik pelan di telingaku dari belakang.


Seketika itu juga, seluruh darah dalam di tubuhku meluncur turun ke bagian bawah dan berkumpul di satu titik.


[TL\n: yah tau lah, maksudnya tu komtol.]


Apa-apaan itu!? Ah, itu terlalu erotis...


Setelah menerima layanan (bermakna dalam) dari Yuria, aliran darahku telah lebih dulu meluncur ke bawah, padahal seluncuran air yang sesungguhnya baru akan dimulai.


"Tapi untung Ryota duduk di depan. Kalo Ryota duduk di belakang, pasti dari belakang kau akan terus menatap tubuhku."


"...Yah, aku tidak bisa menyangkal itu."


"Tuh kan. Soalnya baju renang off-shoulder ini sering melorot, dan nanti oppai-ku bisa langsung kelihatan semua, jadi aku sangat khawatir. Sayang sekali ya, Ryota."


Sambil berkata begitu, Yuria menjepit punggungku yang duduk di depannya dengan paha besarnya yang dibanggakan.


Kelembutan dan tekanan dari daging itu sama luar biasanya seperti ketika aku merasakan payudara Airi waktu itu.


Sial... seandainya saja tubuh manusia punya wajah di punggung, aku bisa terjepit di antara paha Yuria sepuasnya (tidak masuk akal).


"Grup berikutnya, bersiap───"


Ketika staf kolam renang melepas papan yang menahan tabung kami di titik awal, kami langsung meluncur mengikuti arus air.


Akhirnya, acara 'berseluncur bersama gadis'───sebuah hal yang seharusnya paling tidak ada hubungannya dengan seorang inkyā───telah dimulai.


Di awal, lintasan menurun terasa cukup landai, tapi ketika aku melihat ke arah dalam, terlihat jalur turunan yang terlihat sangat curam.


Sudutnya ternyata cukup tajam, dan kemungkinan besar dari titik itulah kecepatan kami akan meningkat drastis.


"Uwah! Kita semakin cepat ya, Ryota."


"Y-ya...kau benar."

 

"Hm? Ada apa? Apa kau takut?"


"A-aku tidak takut!"


Karena Yuria mengejekku dari belakang dengan suara keras, aku yang kesal menoleh sambil membantah.


Sial, dasar Yuria... berani-beraninya dia mengejekku.


Yuria bukan hanya mengejek dengan kata-kata, tapi sejak tadi dia juga mengulurkan paha panjang dan besarnya dari bawah ketiakku, lalu menekankannya ke tubuhku.


Ah...karena sensasi dari paha besar yang montok ini, rasa kesalku perlahan menjalar sampai ke bagian bawah tubuhku.


Saat aku berusaha keras menahan aliran darah yang mengarah ke bawah, tanpa aku sadari kami telah memasuki area arum jeram yang paling deras!!


Begitu memasuki area jeram, rambutku langsung berdiri karena kecepatan, dan cipratan air yang menghantamku terasa agak menyakitkan.


"...! Tu-tunggu, Yu-Yuria! Ini sangat cepat! Yu-Yuria! Kau tidak apa-apa!?"


"Hyaa! Ini benar-benar menyegarkan!"


"Ba-bagian mana yang menyegarkan!? Ini terlalu cepat! Yu-Yuria!"


"Sungguh, Ryota. Dalam situasi seperti ini pun kau masih memanggil namaku...sungguh, Ryota kau memang tidak bisa apa-apa tanpaku, ya."


Yuria terlihat sangat tenang dan seolah dia sedang berbicara sendiri, tapi aku hampir menggigit lidahku karena kecepatan ekstrem di area jeram ini, bahkan aku tidak punya kesempatan untuk membuka mulutku.


"Yah, tidak masalah sih. Karena memang tugasku menjaga Ryota. Tapi, kalk aku memang sepenting itu, maka sudah saatnya───"


"Oi! Kenapa kau dari tadi bisa tetap tenang berbicara sendiri dalam kecepatan seperti ini!?"

 

T-tunggu! Ini bukan saatnya untuk menanggapinya dengan tenang! 


Kolam terakhir dari seluncuran yang ada di depan mata kami sudah semakin mendekat...!


Bubuoohhh! Se-seluncuran ini cepat sekali! Terbawa arus! Bubuoohhh! 


Tolong aku, Yuria! Bufuh! Rui! Airi! Tanakaaa!!


Saat aku sedang berteriak dalam hati penuh kepanikan, akhirnya kami menerobos masuk ke kolam di ujung seluncuran, dan cipratan air yang sangat besar pun tercipta.


"...A-apa-apaan seluncuran itu."


Saking cepatnya, aku sampai mengeluarkan suara aneh.


Aku benar-benar lupa karena terlalu fokus pada paha Yuuriya, tapi tipe seluncuran seperti ini akan langsung terkena angin dari depan kalo duduk di posisi depan, jadi sebenarnya itu cukup menakutkan.


Setelah selesai meluncur, kami mengikuti aliran air yang tenang menuju tempat pengumpulan tabung dengan perlahan.


"Haa... semuanya baik-baik saja, kan? Yuri... eh?"


Hm? Apa ini... yang aku rasakan di punggungku ini?


Barusan, yang ada di bawah ketiakku adalah kaki Yuriya... tapi entah sejak kapan itu berubah menjadi lengan yang indah.


Posisi ini... jangan-jangan... Yuria sedang memelukku...?


Saat aku mencoba menoleh, Yuria menghentikanku hanya dengan satu kata, "Jangan."


"Ma-maaf, Ryota. Sekarang, jangan lihat ke sini dulu."


"Eh? Ba-baiklah, tapi...kenapa kau memelukku?"


"........"


"Ja-jangan-jangan ini efek jembatan gantung!? Yuria, apa kau jatuh cinta padaku!?"


[TL\n: Efek jembatan gantung adalah ilusi ketertarikan yang terjadi karena tubuh merespons ketegangan atau bahaya, namun otak salah menafsirkannya sebagai emosi cinta atau suka.]


"Salah! Perasaanku pada Ryota itu urusan lain! Se-sekarang bukan karena itu!"


"Hah?"

 

"Pa-pakaian renang-ku! Karena dorongan saat kita menerobos masuk ke kolam, bajunya terlepas dan hanyut ke belakang!"


Ha? Ha?


Bajunya terlepas...begitu!?


...Berarti, dua sesuatu yang terasa lembut di punggungku ini...adalah oppai milik Yuria...!?


"Uoooohhh!! Oppai telanjang Yuria menempel di punggungku!"


"Diamlah, Baka!"


Yuria memelukku dan menyundul punggungku.


"A-Aku tidak bisa menyembunyikannya dengan lenganku, oppai-ku bisa-bisa kelihatan, dan kurasa sebentar lagi bajunya juga akan terbawa arus ke sini, jadi...pinjamkan punggungmu dulu."


"Eh, a-aah, ya."


Oppai Yuria...menempel...di punggungku...!?


Aku bersorak gembira karena kejadian khas manga komedi romantis───sebuah momen keberuntungan yang erotis───sedang terjadi dalam kenyataan.


Apalagi ini oppai telanjang...berarti, benda yang terasa di punggungku ini adalah...oppai milik Yuria, kan?


"Tu-tunggu, Ryota...jangan terlalu banyak bergesekan."


"O-oke..."


Sungguh keberuntungan yang cabul...tidak, ini keberuntungan yang sangat cabul.


Andai saja bajunya tidak pernah kembali seumur hidupku... 


"Ah, itu dia."


Baju renangnya kembali dengan normal sebelum mencapai tempat pengumpulan tabung, jadi Yuria segera mengambilnya dan memakainya lagi.


Aku tidak bisa melihatnya secara langsung momen pakaian yang melorot itu, tapi aku sudah merasakan kegembiraan yang lebih dari cukup... 

 

Setelah itu, di tengah suasana yang agak canggung, kami tiba di tempat pengumpulan tabung, jadi aku turun di sana dan memutuskan untuk menunggu ketiga orang lainnya meluncur dan menyusul.


"Eh, ya ampun, seluncurannya menyenangkan, ya!"


Aku mencoba mengubah suasana canggung dengan mengatakan sesuatu yang terdengar wajar, tapi pikiranku hanya dipenuhi oleh sensa

 oppai telanjang Yuria.


Tidak kusangka aku bisa menyadari hal lain dari Yuuriya selain pahanya...sentuhan dari oppai langsung benar-benar luar biasa.


"Daripada itu, Ryota, soal oppai-ku...setelah kau merasakannya di punggungmu, apa kau tidak merasa kecewa?"


"Kecewa? Tidak, justru aku sangat terangsang. Memang oppai-mu tidak sebesar milik Airi, tapi ternyata itu cukup terasa."


Saat aku menyampaikan pendapatku secara jujur, Yuria tersenyum kecil.


"Ya? Tapi kalo hubungan kita seperti ini, rahasia seperti itu tidak buruk juga, kan? Rahasia yang agak nakal."


Berbagi rahasia yang erotis...hubungan macam apa ini, sungguh luar biasa.



Setelah seluncuran air yang penuh godaan bersama Yuria berakhir, kami melanjutkan bermain di seluncuran lainnya, atau membiarkan tubuh kami hanyut di kolam arus, kami menikmati waktu yang menyenangkan dan bebas.


...Tapi, karena aku telah merasakan secara langsung oppai Yuria, pikiranku terus-menerus dipenuhi oleh hal itu dan aku terus merasa berdebar.


Oppai telanjang Yuuriya...itu terlalu luar biasa.


Sensasi oppai perempuan seorang teman sekelasku, terlebih lagi seorang gyaru papan atas dan siswi populer seperti Ichinose Yuuriya.


Hal seperti itu tidak akan bisa dialami dalam kehidupan biasa.


Apalagi aku masih perjaka.


Sentuhan pertama pada oppai secara langsung terasa terlalu nyata dan begitu mengguncang.

 

"Oi, Ryou-ta〜! Selanjutnya kita ke papan loncat, ya."


".........."


"Eh? Ryota───?"


"....Ah, a-ada apa, Airi?"


"Mou, kau melamun lagi. Sejak selesai main seluncuran, Ryota bertingkah aneh. Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Karena Airi menebak dengan tepat, tubuhku langsung tersentak.


Gawat...Kurasa dia tahu ada yang salah.


Yuria juga, mungkin karena dia sudah tahu apa yang terjadi padaku, dan dia tampak agak canggung saat mengalihkan pandangannya. 

 

".....Fufu. Mungkin Ryota-kun sedang kelelahan?"


"Eh? Benarkah, Ryota?"


Setelah Rui megatakan itu, Airi menoleh dan bertanya padaku.


"A-ah, tidak, tidak juga..."


Bukannya aku lelah...tapi lebih tepatnya... 


Sensasi oppai telanjang Yuria masih terngiang-ngiang di kepalaku (dan di punggungku)... 


"Kalo begitu kita akan naik seluncuran lagi setelah ini!"


"Ah, ya."


Setelah itu, aku terus-terusan dibawa berkeliling kolam oleh Airi dan yang lain seolah mereka mau menaklukkan semuanya, hingga akhirnya selesai menjelang sore.


Karena Yuria dan Airi bersenang-senang sampai akhir, mereka tertidur di kereta pulang, dan Tanaka yang memang bertipe anak rumahan juga kelelahan dan sudah terlelap sepenuhnya.


"Fufu...semuanya tertidur, ya?"

 

"Ah, ya."


Dengan begitu, secara otomatis hanya aku dan Rui yang tersisa berdua saja


"Nee, Ryou-ta-kun. Karena kebetulan hanya kita berdua, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


"Sesuatu yang ingin kau sampaikan?"


"Un. Tentang isi hukuman yang sempat kita bicarakan tempo hari."


Suasana yang tenang langsung hancur seketika saat topik hukuman kembali diangkat.


Hu-hukuman... 


Aku menelan ludah dan mengarahkan pandanganku ke arah Rui.


Karena perasaan tegang dan harapan saat mendengar hal itu, aku merasakan seolah-olah kereta yang bergoyang tiba-tiba berhenti sesaat.


Awalnya hukuman ini diberikan oleh Rui sebagai balasan karena aku berusaha menutupi soal menginap bersama Airi kemarin.


Hu-hukuman apa jenis yang menantiku... 


"Fufu...nee, Ryota-kun, apa kau sanggup duduk diam selama setengah hari?"


Se-setengah hari duduk terus!?


Ja-jangan-jangan, hukuman dari Rui itu semacam penyiksaan berat!?


Tapi di sisi lain, 'Ryota sang Do-M' dalam diriku sangat antusias.


[TL\n: sisi masokisnya.]


"Sebenarnya...(meskipun harus duduk seiza selama setengah hari pun) aku tetap bisa, kok."


"Benarkah? Kalo begitu〜, sepertinya aku akan pilih hukuman itu saja, ya."


I-itu yang mana!?


Rui sengaja membuatku penasaran dengan gaya bicaranya.


"Hmm. Untuk isi hukumannya, lebih baik jadi kejutan saat harinya tiba, ya."


Sekali lagi Rui membuatku semakin penasaran.


Pe-permainan menggantung seperti ini...tidak buruk...bahkan itu sangat bagus... 


"Kalau begitu Ryota-kun? Rabu depan, datang ke sekolah pukul 7 pagi dengan mengenakan seragam, ya? Janji, lho?"


"Se-seragam!? Dan ke sekolah!?"


"Ya. Harus begitu soalnya."


Setengah hari di sekolah dengan seragam...ini gawat.


Jangan-jangan Rui ingin menggunakan ruang kelas yang kosong saat libur musim panas untuk melakukan permainan Do-M super mesum denganku!?


Sungguh luar biasa...aku sangat ingin melakukannya.


"Baiklah! Su-sudah jelas, aku akan datang."


Meskipun aku menjawab seolah terpaksa, sebenarnya aku sangat menantikannya.


"Fufu...syukurlah."


Rui tersenyum dengan wajah polos yang tampak menyembunyikan sesuatu.


Tapi dengan ini...aku akan lulus dari status perjaka... 


★★★


──4 hari kemudian, tepatnya hari Rabu di minggu berikutnya.


Sesuai janjiku dengan Rui, aku mengenakan seragam sejak pagi dan tiba di sekolah, tempat pelaksanaan Do-M play.


Tentu saja aku membawa kondom itu, yang sempat hampir disita oleh Yuria.


Hari ini, aku seharusnya akan menikmati Do-M play yang bernama 'hukuman' dari Rui.


Begitu aku melewati gerbang sekolah...hmm?


Padahal ini libur musim panas...kenapa orang-orang di sini begitu banyak.


Entah kenapa, di sekolah hari ini ada banyak siswa dari berbagai tingkatan kelas yang berkeliaran dengan megenakan seragam mereka.


"Ah! Ryou-ta〜! selamat pagi!"


Aku menoleh mendengar suara Airi dari belakangku, dan ternyata bukan hanya Airi, tapi juga Yuria dan Tanaka ada di sana.


Se-semua memakai seragam...?


Ja-jangan-jangan hukuman yang disebut Do-M play ini...dilakukan secara beramai-ramai!?


"Ryota benar-benar datang. Rui pasti senang."


"Te-tentu saja aku datang!"


"Eh, kau antusias sekali ya. Ryota-kun ternyata kau menyukai hal seperti ini, ya? Kukira kau tidak tertarik pada jenis acara seperti ini."


"Apa!? Kau bodoh Tanaka! Tidak mungkin aku tidak tertarik! Do-sukebe Do-M play dengan teman perempuan sekelasku itu cuma bisa terjadi sekali seumur hidup, tahu!"


" " "Ha?" " "


Tanaka, Airi, dan Yuuri menatapku dengan ekspresi seperti habis menelan sesuatu yang sangat pahit.


"Nee Tanaka-chan? Airi kira-kira megerti maksudnya, tapi bisa jelasin lebih detail apa itu Do-sukebe na Do-M play?"


"Y-ya. Umm... Do-sukebe na Do-M play adalah sejenis tindakan ● di mana seseorang memperoleh kenikmatan dari rasa sakit, seperti dipukul dengan cambuk sambil dimaki oleh wanita berpenampilan cantik, diikat, atau tubuhnya diinjak dengan sepatu hak tinggi. Ini biasanya dialami oleh pria yang tidak populer, yang merasa nikmat secara menyimpang saat dihina oleh wanita cantik yang biasanya hanya bisa mereka kagumi dari kejauhan. Hal ini kemudian berkembang menjadi permainan yang ● secara seksual."


[TL\n: sumpah gua kagak ngarti juga karena kebanyakan sensor dari si Author-nya.]


"Hee〜"


Penjelasan Tanaka terlalu detail sampai rasanya dia telah memusuhi semua pria di dunia ini... tapi lebih dari itu, tunggu dulu!


"H-hai! Bukankah hari ini adalah hari untuk melakukan Do-sukebe Do-M play!?"


"Eh, serius Ryota kau ini megatakan apa sih...? Jangan-jangan, waktu itu kau terlalu banyak melihat kami pakai baju renang sampai saklar nafsumu rusak ya?"


"Tida rusak! Nafsu itu malah terus update tiap hari! Bukan itu! Harusnya, kalian semua juga...datang ke sini untuk melihat Do-M play antara aku dan Rui, kan!?"


"Ryota...apa kau baik-baik saja? Bagaimana kalo sekarang kita langsung ke dokter deket rumah Airi?"


"Kenapa jadi begitu!?"


Ga-gawat...kalo Tanaka masih mending, tapi dua orang lainnya bener-bener kelihatan jijik.


Melihat reaksi mereka, aku akhirnya sadar...kemungkinan besar ini adalah...jebakan dari Rui.


Pasti waktu di dalam kereta itu dia sengaja berbicara dengan nada menggoda, padahal hari ini sebenarnya ada acara yang sama sekali berbeda!


Padahal aku tahu sifat asli Rui yang (sedikit usil), tapi tetap saja aku bisa terpancing oleh perangkap do-sukebe tingkat dasar seperti ini...aku memang masih belum matang.


"Haa...semuanya tidak apa-apa. Karena ini Ryota, aku rasa dia hanya salah paham dan mengira kalo dia diajak oleh Rui ke sini hari ini untuk melakukan hal-hal mesum berdua dengannya."


Kuh...memang benar, Yuuria yang paling memahami diriku, dia benar-benar memahami segalanya.


"Aah〜 jadi seperti itu ya〜. Astaga, Ryota memang tidak oernah berubah. Padahal Airi sudah berkali-kali mengatakan kalo Ryota tidak boleh menatap Rui-chan dengan tatapan aneh."


"Sungguh, Ryota-kun, kau ini orang bodoh yang hidup hanya dengan dorongan nafsu."


"Kalo ini bukan Ryota, aku mungkin akan merasa jijik. Tapi meskipun begitu, tetap saja kau tidak boleh berpikir ingin melakukan hal seperti itu dengan Rui. Mulai sekarang, kau harus lebih berhati-hati, ya?"


"A-ah...aku, menyesal..."


Aku benar-benar tidak terima ini. Selain mendapat kecaman dari semua orang, aku juga diperlakukan seperti simbol nafsu semata, dan yang lebih menyebalkan lagi, semuanya seolah menyetujui hal itu.


"Tapi, kalo itu bukan untuk do-sukebe Do-M play, lalu kenapa kita semua berkumpul di sini hari ini?”


"Eh, jadi kau benar-benar belum diberi tahu oleh Rui? Aku akan memberi tahu mu saja ya, hari ini kita semua berkumpul untuk mendukung Rui di pertandingan Inter-High. Tahun lalu juga, bagi yang ingin ikut, berkumpul dulu di sekolah lalu naik bus bersama."


".....Hah? I-i-Inter-High!?"


Ya, yang dimaksud dengan 'hukuman' oleh Rui ternyata...adalah mendukungnya di Inter-High.


Sebelumnya   Daftar isi     Selanjutnya     

1 Komentar

نموذج الاتصال