Kamu saat ini sedang membaca Inkya no ore ga Sekigae de Skyubishojo ni kakomaretara Himitsu no kankei ga hajimatta volume 2, chapter 5. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
TEKAD DAN MIMPI
Sekolah tempatku bersekolah, SMA Negeri Natsuhama Chūō, berbeda dengan sekolah swasta yang penuh dengan uang, sejak dulu memang menonjol dalam hal akademik, tetapi tidak bisa dibilang memiliki fasilitas yang memadai.
Tapi, sejak Kuroki Rui masuk, semua perlengkapan sekolah yang sudah usang disingkirkan, renovasi terhadap gedung olahraga yang sudah rusak juga dilakukan, bahkan sampai ke penanaman rumput di lapangan pun dilaksanakan.
Alasannya sederhana───karena Kuroki Rui, gadis cantik mutlak yang punya tingkat pengenalan sangat tinggi di dalam prefektur ini, datang ke sekolah ini, maka berbagai sumbangan mulai mengalir dari berbagai pihak.
Dan dukungan besar-besaran dari sekolah terhadap klub atletik untuk turnamen nasional ini pun merupakan salah satu contohnya.
Sebelum Kuroki datang, kegiatan dukungan untuk klub dilakukan dengan menyewa bus tua milik perusahaan bus lokal, yang AC-nya saja sudah tidak dingin dan nyaris jadi rongsokan, lalu para murid pergi memberikan dukungan.
Tapi sejak Kuroki masuk, setiap kali ada dukungan massal untuk klub, kami bisa menyewa bus besar yang baru dan nyaman.
Sungguh, Kuroki Rui-sama terlalu luar biasa...
Dunia ini ditentukan oleh kharisma dan uang.
Yang membuat orang biasa seperti kami menyadarinya hanyalah dua orang, Ōtani-san dan Kuroki Rui.
"Ryota-kun? Ayo cepat naik ke bus."
"Eh, ah, iya."
Saat aku sedang memandangi bus dan merasa bersyukur (setengah kaget) atas pengaruh besar yang dimiliki Kuroki Rui, aku dipanggil oleh Tanaka yang sudah naik ke bus.
Di dalam bus yang AC-nya sangat dingin itu, ada 2 baris kursi berpasangan, dan kami berempat duduk di bagian belakang, terbagi berpasangan.
Yuria dan Airi duduk di depan, sedangkan aku dan Tanaka duduk di belakang mereka.
"Airi bawa camilan, lho. Tadinya mau dimakan di dalam bus. Yuria, mau makan bersama?"
"Tidak, aku baru saja sarapan, jadi aku tidak sedang ingin makan camilan... Ryota, apa kau punya permen karet?"
Yuria yang duduk di depan menoleh dari balik sandaran kursi dan berbicara padaku.
"Permen karet? Ma-maaf, aku tidak membawanya."
"Begitukah? Kalo begitu, mungkin aku akan mengambil camilan milik Airi saja."
Sebenarnya aku membawa kondom, bukan permen karet... tapi kalo aku mengatakan itu, Yuria pasti akan marah, jadi lebih baik aku diam.
Beberapa waktu lalu, ketika Rui mengatakan 'Sebagai hukuman', aku sempat berpikir kalo tanggal 30 Juli akan menjadi hari peringatan kelulusanku dari keperjakaan...karena itu aku sempat membawa kondom...tapi ternyata ini hanya menjadi acara biasa seperti ini.
"Haa... sungguh mengecewakan."
"Yota-hyun, apha yahang mehmbuahtmuh kehchewa? (Ryota-kun, apa yang membuatmu kecewa?)"
Tanaka yang duduk di sebelahku berbicara sambil mengunyah lembaran cumi kering.
Kalo sesuai harapanku, seharusnya aku bisa melakukan permainan S&M mesum dengan Rui hanya berdua di ruang kelas... Tapi, kenyataannya, yang duduk di sampingku di bus adalah Tanaka───seorang sahabatku, berkacamata, bertubuh mungil, dan menyukai anime───yang sedang memakan cumi kering berbau menyengat.
"Sial... dasar perempuan bau cumi..."
"Eh? Kenapa kau terlihat sangat kesal? Kita duduk bersebelahan seperti ini adalah pertama kalinya sejak SMP, jadi aku pikir kau seharusnya merasa senang."
Tanaka mengatakan itu dengan sedikit malu, lalu dia memasukkan lagi lembaran cumi ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
"Dengarkan, Tanaka. Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku datang ke sini hari ini dengan harapan akan terjadi sesuatu yang sangat mesum. Aku menganggap ini sebagai kesempatan terbesar dalam hidupku untuk akhirnya lulus dari status perjaka. Tapi, aku justru harus mengikuti kegiatan seperti ini... tentu saja semangatku jadi hilang, kan?"
"Astaga, Ryota-kun kau memang tidak berubah. Tapi biar aku beri tahu kau, tahukah kau kenapa Kuroki-san sampai melakukan hal seperti menipumu, Ryota-kun?"
"Eh? Itu...ke-kenapa memangnya?"
"Sederhananya, secara kesan, Ryota-kun terlihat seperti tipe yang tidak suka acara seperti ini, jadi mungkin dia pikir kalo tidak seperti ini, si do-sukebe tarou Ryota-kun tidak akan datang."
Kalo tidak seperti ini...dasar Kuroki, seberapa besar sih prasangka buruknya padaku?
Padahal kalo dia mengatakan secara jujur, aku pasti tetap akan datang.
"Tapi ya, ini hanya dugaanku saja, mungkin karena sifat Kuroki-san juga, dia merasa malu untuk bilang 'aku ingin kau datang mendukungku di perlombaan'."
"Hah? Kenapa memangnya?"
"Astaga, kau tidak paham juga? Dasar nibunibu dōtei inkya otaku."
[TL\n:n nibunibu dōtei adalah istilah slang Perjaka yang super tidak peka (terutama terhadap perasaan lawan jenis). Jelasnya, Nibunibu (にぶにぶ): bentuk pengulangan dari kata 'nibui' (鈍い), yang berarti 'tumpul', 'kurang peka', atau 'lambat menangkap sesuatu (terutama perasaan orang lain)'. Dan Dōtei (童貞): istilah yang berarti 'perjaka', atau pria yang belum pernah berhubungan seksual.]
"Hah!? Kau masih berani bilang aku perjaka!? Apa kau mau kubuat aku lulus sekarang juga denganmu!?"
"Eh? De-denganku...? A-aku, sa-sangat tidak mau! Ta-tapi...yah? Kalo Ryota-kun memang ingin lulus denganku sampai rela bersujud sambil memohon, mungkin akan aku pertimbangkan?"
"Siapa juga yang mau bersujud padamu!"
"Hei, kalian berdua. Kalian berisik. Sepertinya bus sudah mau berangkat, jadi diamlah."
" "M-maaf..." "
Setelah ditegur oleh Yuria, aku dan Tanaka langsung menunduk dan meminta maaf.
"Haa. Untuk sementara, Tanaka tukar tempat duduk. Airi mau memberimu camilan katanya."
"Benarkah!? Yatta!"
Tanaka yang tadi duduk di sisi lorong menukar tempat duduk dengan Yuria, dan kali ini Yuria duduk di sampingku.
Yu-Yuria....
"Baiklah, Ryota...? Soal pembicaraan tadi pagi, tentang permainan do-sukebe bersama Rui, bisa kau jelaskan lebih rinci?"
Yuria berkata sambil mengerutkan alisnya.
Se-sepertnya Yuria sedang sangat marah!?
"E-ehm, Yuria-san? Apa mungkin... Kau sedang marah?"
"Ha? Tidak, aku tidak marah kok."
Tidak tidak...jelas-jelas kau sedang marah,ukan!?
"Po-pokoknya! Aku hanya ingin tahu, bagaimana percakapanmu dengan Rui sampai bisa mengarah ke pembicaraan soal permainan S&M seperti itu."
Ah, begitu rupanya. Itu memang wajar kalo dipertanyakan.
Rui memang selalu menjaga citranya sebagai gadis baik di depan Airi maupun Yuria.
Padahal kenyataannya, Rui adalah seseorang yang setiap hari mengirimkan foto selfie bagian pusarnya, dan berusaha menyuapku dengan foto selfie erotis miliknya...
Sambil memikirkan hal itu, dalam benakku muncul bayangan Kuroki Rui versi do-sukebe, yang tanpa ampun memukulku dengan cambuk yang dia pegang.
Ugh...
Karena tidak terjadi di dunia nyata, aku hanya bisa menahan diri dengan memutar ulangnya dalam pikiranku... inikah kelemahan seorang perjaka.
"Hei, Ryota. Kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak berguna lagi, kan."
"Apa? A-apa sih?! Itu tuduhan yang tidak berdasar!"
"Soalnya, kalo Ryota sedang memikirkan hal yang mesum, ekspresimu selalu langsung berubah jadi senyum aneh yang menjijikkan."
Sial... tanpa aku sadari, ternyata itu terpancar dari wajahku.
Wajah Yuria terlihat semakin keras sejak tadi.
Po-pokoknya, untuk sekarang... lupakan soal diriku, aku harus melindungi kehormatan Rui.
Kasihan dia kalo aku tidak melakukannya.
"A-aku cuma ingin bilang. Soal kesalahpahaman tentang permainan S&M pagi ini, itu karena aku datang ke sekolah hari Rabu pagi tanpa diberi tahu akan melakukan apa oleh Rui, jadi aku hanya salah paham saja..."
"Hanya karena itu saja, orang biasa tidak akan langsung mengira akan melakukan permainan S&M dengan Rui."
Jawaban yang terlalu masuk akal itu membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
Y-ya sih, memang benar...
"Hei, Ryota. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu antara kau dan Rui dari kami?"
"Guh..."
Selama ini aku lumayan berhasil menyembunyikan hal-hal seperti rahasia... tapi ini, bukankah ini krisis terbesarku?
Kalo dibiarkan terus begini, akan ketahuan kalo Rui adalah manusia perfect sionis yang sedikit berkepribadian buruk dan dikuasai oleh hasrat untuk menaklukkanku dengan memperlihatkan pusarnya sendiri!
A-apa yang harus aku lakukan...
"───Hmph, Ichinose-san masih jauh dari kata matang, ya."
Saat aku terus-menerus memikirkan alasan, suara Tanaka terdengar dari kursi depan.
Ta-Tanaka?
"Sebagai orang yang cukup dekat dengan Ryota-kun, aku bisa mengetahui semua yang sedang dia pikirkan."
"Hah? Apa maksudmu itu. Kalo begitu, Tanaka saja yang jelaskan."
Jangan-jangan Tanaka tahu kalo Rui adalah manusia perfectionist yang sedikit berwatak buruk dan sedang diliputi keinginan untuk menaklukkan aku dengan menunjukkan pusarnya?
"Fufu...kalo begitu akan aku jelaskan secara singkat."
Kalau begitu, ini gawat!
"Berhenti! Tana──"
Aku mencoba menghentikan Tanaka sebelum penjelasan super panjang Tanaka alias 'Tanapedia' diaktifkan, tapi──
"Ryota-kun itu pada dasarnya seorang yinkya otaku perjaka yang selalu berpikir kalo dia diajak oleh gadis cantik, pasti dia bisa melakukan hal-hal mesum!"
" "Hah?" "
...Ah, seperti yang kuduga, dia memang hanya orang bodoh.
"Jadi, sebaiknya jangan terlalu mengharapkan hal normal dari Ryota kun, oke?"
".....Be-begitukah?"
Tanaka menjelaskan dengan wajah puas, sementara Yuria melihat ke arahku dengan ekspresi terkejut, sedangkan Airi sibuk dengan coklat bat yang dibelinya dalam jumlah banyak.
"Ya-yaah...begitulah. Jangan remehkan otak remaja perjaka, Yuria."
Aku tidak bisa melakukan apa pun selain berpura-pura menjadi perjaka menyedihkan demi Rui.
Aku tidak pernah berpikir bisa melakukan semuanya hanya karena diajak, kok! Mungkin...pasti.
Tapi yah, pada akhirnya, aku terbantu oleh kesalahpahaman Tanaka yang entah dari mana datangnya...tidak, aku tidak akan pernah memaafkan dia.
"Ja-jadi...Ryota, jangan-jangan...waktu aku mengajakmu nonton film dulu..."
"Eh?"
"A-apa waktu itu kau juga berpikir...ada kemungkinan dengan ku?"
Yuria bertanya dengan suara pelan, sambil berusaha menutupi pipinya yang memerah dengan tangannya, dan bibirnya sedikit bergetar.
"Eh? Aa, tidak, itu...ya, ya begitulah."
"H-hmm."
"..........."
"..........."
Ah, ya. Aku tetap tidak akan memaafkan Tanaka.
Meski dalam suasana seperti ini, bus tetap melaju menuju arena Inter-High.
Kuh, Tanaka...! Kenapa kau harus bicara macam-macam!
Aku memang memiliki kebiasaan buruk, itu sudah tidak perlu dijelaskan lagi, tapi menurutku kali ini, prasangka Tanaka terhadapku juga cukup keterlaluan.
Yah...bagaimanapun juga, aku harus mengubah suasana.
"Ah! Ngomong-ngomong, Rui sekarang ada di mana ya?"
Karena kami datang untuk menonton pertandingan Rui, membicarakan tentang Rui setidaknya bukan hal yang aneh.
"Rui? Kalo Rui sudah berada di tempat pertandingan. Dia tidak bersama rombongan klub atletik. Serius apa kau tidak menerima informasi apa pun dari Rui?"
"Serius. Sama sekali tidak ada."
"Mou, Rui itu memang..."
Yuria terlihat sedikit heran, tapi senyumnya perlahan kembali.
"Apa mungkin Rui juga begitu?"
"Apa maksudmu?"
"......Ah, bukan apa-apa. Lebih penting lagi, Ryota, jangan sampai melakukan hal seperti mengambil foto diam-diam anggota perempuan klub atletik."
"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu!"
"Fufu, aku tahu kok. Aku hanya menggodamu saja."
"Kau ini ya..."
Tadi memang suasananya sempat sedikit canggung karena hal yang agak memalukan, tapi Yuria perlahan kembali seperti biasanya.
"Nee, Yuria~ Airi juga ingin bermain dengan Ryota, jadi bisakah kita bertukar tempat?"
"Iya, iya. Tapi kita bertukar tempat nanti saja, setelah tiba di rest area."
"Yatta~"
Yuria telah berjanji untuk bertukar tempat duduk dengan Airi.
Awalnya yang duduk di sampingku adalah Tanaka... tapi yah, Tanaka biasanya diam kalo sedang makan camilan, jadi tidak masalah.
Tapi bus ini... meskipun baru, rasanya sedikit sempit, dan kalo Airi duduk di sampingku... gokuri.
Sekarang saja paha besar milik Yuria sedikit menyentuh kakiku... ada kemungkinan aku bisa menyentuh oppai milik Airi juga.
"Ngomong-ngomong, Ryota."
"....! A-ada apa?"
Saat aku sedang memikirkan hal-hal cabul seperti sensasi paha milik Yuriya dan kemungkinan menyentuh oppai besar milik Airi, tiba-tiba Yuria mengajakku bicara dan aku jadi gugup.
Gawat, apa gerakan kakiku yang sedikit mencoba menyentuh pahanya tadi ketahuan!?
"Ryota itu, disukai Rui, didekati Airi... terus, kita juga dekat, kan?"
"Eh? Y-ya."
Ada apa nih, Yuria tiba-tiba begini?
"Kalo begitu... kau pasti sadar kan, pada salah satu dari kami?"
"Eh?"
Maksudnya aku sadar perasaanku pada Rui, Yuriya, atau Airi?
"Terus terang saja... Ryota itu suka siapa di antara kami?"
"I-itu..."
Pertanyaan yang tiba-tiba itu terlalu berat.
A-aku harus memilih siapa yang aku sukai di antara 3 gadis cantik itu?
Mana mungkin aku bisa memilih hanya satu orang!
Aku ingin melihat pusar milik Rui setiap hari, dan kalo bisa, aku ingin menyentuhnya dengan jariku juga.
Aku juga merasa punya kewajiban untuk melihat sampai sejauh mana bakunyuu milik Airi akan tumbuh di masa depan, dan mati lemas di antara paha milik Yuria juga merupakan impianku.
Memilih salah satu dari mereka...tetap saja itu hal yang mustahil.
Lagipula, meskipun aku cukup dekat dengan ketiga gadis cantik itu, bukan berarti mereka juga menginginkan hubungan seperti itu denganku.
Tentu saja, karena Yuria adalah orang yang paling mengerti diriku, kalo aku bersujud sambil memohon, mungkin pada akhirnya dia akan menjepit wajahku dengan pahanya...
"Oi Ryota, jangan diam saja."
"Eh, eto, ano...a-aku..."
"Haa...dasar Ryota, pasti yang ada di kepalamu cuma mikirin 'kalo aku mau berbuat itu, pilih yang mana ya' atau semacamnya, kan?"
"Ti-tidak! Aku tidak berpikir sejauh itu!"
Aku memang tidak sampai membayangkan sejauh itu, tapi karena yang kupikirkan juga cukup fetish, aku tidak bisa menyangkal sepenuhnya.
"Yang kutanyakan itu, kalo harus pacaran, kau akan memilih siapa. Jangan salah paham, ini bukan soal hubungan untuk melakukan hal-hal cabul, paham?"
"Y-ya...itu benar juga."
"Apa? Jadi kau memang memikirkan hal-hal cabul tentang kami?"
"Yah...iya sih. Kalo aku bisa mati lemas dijepit paha milik Yuria, kupikir mungkin aku akan memilih Yuria..."
"......!"
Karena aku bisa bicara terus terang pada Yuria, jadi aku mengatakan apa yang aku pikiran dengan jujur.
Meskipun dia adalah orang yang paling mengerti diriku, apa mungkin dia tetap menganggapku menjijikkan...
"Kalo Ryota dijepit dengan pahaku...apa Ryota akan memilih ku?"
"Ha?"
"Apa? Bukan 'ha?' maksudku! A-aku tanya, kalo aku menjepit Ryota di sini, apa kau akan memilihku..."
Yuria menunjuk selangkangannya dengan kuku panjangnya, lalu menekan paha montoknya untuk memperlihatkannya.
Jari Yuria perlahan tenggelam ke dalam paha yang tebal dan tampak lembut itu.
Terlalu erotis (tidak perlu penjelasan).
"A-akan kau jepit...untukku?"
"....Ya. Tapi, sebagai gantinya, kalo aku menjepitmu...kau harus memilihku."
Yuria menggenggam tangan kananku, lalu menariknya ke arah pahanya yang montok.
A-akhirnya...aku bisa menyentuh paha Yuria yang kuimpikan.
Dalam 1 minggu terakhir ini, bukan hanya payudara Yuria, tapi sekarang sampai ke pahanya...a-aku!
"Ryota..."
"Yu-Yuria..."
Begitu aku menyentuh paha Yuria yang panas dan tebal...di saat itu juga.
"Baik, semuanya! Kita akan istirahat selama 10 menit di rest area! Kembali ke bus sebelum jam 11───!"
Entah sejak kapan...bus telah berhenti.
Su-sungguh penyiksaan...
"Ryota───! Ayo beli oleh-oleh di rest area───!"
Ketika Airi menoleh dari kursi depan, aku dan Yuria dengan cepat saling menjauh.
"Hm? Ada apa dengan kalian berdua? Wajah kalian merah, tahu?"
"A-ah! I-itu!"
"Ryo-Ryota! Dia begitu bersemangat ingin cepat-cepat beli oleh-oleh! Makanya, cepatlah pergi."
"U-um. Kalo begitu, ayo pergi? Ryota."
Aku berdiri untuk turun dari bus karena didorong oleh Airi, tapi Yuria mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Hei, kelanjutan yang tadi...akan kulanjutkan lain kali. Jadi...kau paham, kan?」
"Eh? O-ou..."
Apa maksudnya dengan 'kau paham, kan?' aku sendiri kurang mengerti, tapi kelanjutan yang tadi...ya.
Itu terlalu erotis.
Aku telah membuat janji mesum dengan Yuria.
"Wah! Tempat parkir rest area ini luas sekali."
Mungkin karena merasa bebas setelah keluar dari bus, Airi melompat-lompat kecil di pintu keluar bus.
Tentu saja, oppai besarnya ikut berguncang hebat.
Oh...ini juga terlalu erotis.
"Ryota-kun...wajahmu terlihat seperti orang mesum, tahu."
"Tanaka...aku sekarang sedang merasa bahagia."
"Ha-haa?"
Sekali lagi, Tanaka, yang tidak tahu apa-apa, terlihat benar-benar kehabisan kata-kata.
★★★
Aku boleh terjepit sepuasnya di antara paha Yuria.
Apalagi kalo kelanjutannya nanti...mungkin kali ini dia akan menjepit sesuatu yang lebih mesum lagi.
"Nee Ryota, apa kau mendengar Airi───?"
"Eh, ah, ma-maaf."
Saat aku sedang larut memikirkan hal-hal mesum dengan paha Yuria, Airi yang berada di sebelahku sedang memilih barang dan memanggilku, membuatku tersadar kembali.
Aku dan Airi sedang melihat-lihat bagian oleh-oleh di rest area.
"Mou, karena Tanaka-chan memakan semua camilannya, Airi harus beli tambahan. Ryota juga bantu pikirin yang serius!"
"Se-serius...ini cuma camilan, kan?"
"Justru karena ini camilan! Ah, ini dia!"
Airi tiba-tiba melihat sesuatu dan langsung menyambarnya.
"Lihat! Di rest area ini, ada juga puding bentuk oppai loh!"
Airi tertawa sambil memegang puding berbentuk oppai itu, dan puding oppai yang ada di dadanya juga ikut bergoyang-goyang.
"Wah, lumayan berani juga ya───? Kira-kira kalo ini dikasih ke Tanaka-chan apa dia akan tertawa tidak ya."
Membayangkan Tanaka menerima puding berbentuk oppai dari Airi, si gadis cantik ber-oppai besar, membuatku hampir menangis.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari hinaan tak disengaja...atau dalam kasus Airi, mungkin 'padat daging'.
"Oke deh, pasti Tanaka-chan pasti senang, aku beli aja."
"Tu-tu...tunggu. Tanaka yang sudah seusia itu, kalau dikasih puding bentuk oppai dan malah senang, itu juga masalah, tahu."
Karena merasa kasihan pada Tanaka (yang datar), aku berusaha mencegah tragedi ini sebelum terjadi.
"Sungguh, heboh sendiri gara-gara puding bentuk oppai. Justru kau yang paling tidak serius memikirkan camilannya."
"A-A-Airi serius kok! La-lagipula, Ryota juga pasti tadi sempat terangsang melihat puding bentuk oppai itu, kan~? Soalnya kau orang mesum~"
Airi mengejekku sambil mencibir seperti anak perempuan nakal.
Dasar...bocah ber-oppai besar ini!
Tapi, aku bukan lagi lelaki yang akan terpancing dengan provokasi murahan seperti ini.
Aku ini bukan perjaka biasa lagi (tidak masuk akal).
Aku pernah membenamkan wajahku di oppai Airi dan merasakan sendiri sensasi dari oppai-nya, merasakan oppai telanjang milik Yuria dari belakang di kolam renang, dan menerima selfie mesum berkeringat dari Rui setiap selesai latihan...aku ini perjaka elit.
Dengan kata lain...sekarang aku tidak terkalahkan.
"Hmph...mana mungkin aku terangsang hanya karena oppai palsu seperti itu?"
"Be-benarkah? Aku kira Ryota akan terangsang asal itu oppai."
"Hmph...aku ini setiap hari melihat oppai-mu, Airi. Sekarang mana bisa aku terangsang hanya karena yang palsu."
"Eh...?"
Saat aku mulai terlalu terbawa suasana dan bicara sesuka hati, Airi tiba-tiba menunjukkan ekspresi terkejut.
"Oppai milik Airi...me-memang Airi pernah bilang kalo tak apa dilihat, tapi...Ryota ternyata sampai sebegitunya."
Oh, gawat...karena sebelumnya aku nyaris melakukan hal yang seperti adegan SE● dengan Yuria, aku jadi terbawa suasana dan tanpa sadar mengucapkan kalimat yang biasanya hanya ada di kepalaku.
"Ma-maaf, Airi. Yang barusan itu bukan maksudku."
"O-oppai milik Airi juga..."
"Eh?"
"Oppai milik Airi juga...suatu saat nanti, akan dimakan oleh Ryota, ya?"
Dengan pipi yang memerah dan nada malu-malu, Airi berbisik dengan suara pelan.
Begitu aku mendengar itu, berbagai skenario mesum tanpa batas langsung bermunculan di dalam kepalaku.
Terlalu e-e-e-e-ecchi, sampai-sampai tidak bisa dihentikan!
Begitu aku mencari kata kunci 'oppai Airi dimakan' di perpustakaan otakku, tumpukan buku tipis langsung berhamburan dari rak.
".....Ryo-Ryota no baka! Itu masih...belum boleh."
"Eh?"
"Melihat boleh...tapi dimakan, belum, ya."
"O-ooh."
Airi yang biasanya tidak tahu-menahu soal istilah mesum dan bertubuh montok itu, justru paham arti dari 'dimakan', membuatnya terasa semakin cabul.
Akhirnya, setelah mendapat perintah 'tunggu' dari Airi agar tidak memakan oppai besar miliknya, aku pun berakhir membeli puding bentuk oppai dan akan memakannya bersama Tanaka.
Setelah kembali ke bus, aku menempelkan separuh dari puding bentuk oppai dan sendok ke wajah Tanaka yang sedang duduk di kursinya sambil membaca buku BL dengan tenang.
"Ini dia, Tanaka. Aku membeli puding berbentuk oppai kesukaanmu."
"I-ini sindiran ya! Tapi, akan aku terima."
Ucap Tanaka sambil menerima puding dariku, lalu mengelus bagian ujung puting puding itu dengan jari-jarinya secara erotis sebelum mulai memakannya.
Seperti biasa, Tanaka ini benar-benar mesum tingkat tinggi.
Sambil melirik Tanaka sekilas, aku kembali ke kursiku.
Saat kami kembali, entah sejak kapan Tanaka dan Yuria sudah duduk berdampingan di kursi depan, jadi aku duduk di kursi belakang mereka bersama Airi.
Tadi Yuria bilang akan bertukar tempat duduk dengan Airi di rest area, jadi mungkin dia pindah ke kursi depan.
Sebenarnya aku ingin bersama Yuria sampai akhir (dalam berbagai arti), tapi...ya sudahlah.
Lain kali, aku akan manjakan lagi paha besar itu...(senyum mesum).
"Guhehehe...membaca BL sambil makan puding bentuk oppai itu benar-benar nikmat, Ryota-kun."
Saat aku sedang tenggelam dalam dunia khayalanku, suara menjijikkan dari Tanaka terdengar dari kursi depan.
"Jangan baca BL di dalam bus. Kalau itu R18, bisa jadi masalah, tahu."
"Bukan! Ini BL sehat dengan rating R15! Aah, jangan ganggu aku, padahal ini adegan waktu ●●●-nya dimasukkan ke dalam ●●● dan aku lagi sangat bersemangat."
[TL\n: yah ngarti aja lah, gua geli bayanginya, pengen muntah.]
Sekarang ini R15 seperti apa, sih...
Yah, zaman sekarang bahkan manga shoujo pun banyak adegan begitu, jadi mungkin itu hal yang wajar saja.
"Nee, Ryota, ●●● itu apa?"
"Jangan tanya soal ●●● ke aku. Kalo kau mau tahu, tanya saja ke Yuria."
"Eh, kenapa harus aku? Kan kau yang laki-laki, Ryota, jadi kau saja yang jawab."
"Mou! Ya sudah, Airi cari sendiri saja, ah."
" "Jangan lakukan itu, serius!!" "
Aku dan Yuria menghentikannya sekuat tenaga dari depan dan samping.
Kalo Airi mencari hal begitu, dia bisa-bisa menjadi gila.
"Ahaha, entah kenapa, rasanya menyenangkan kalo kita semua naik bus bersama seperti ini───?"
Menurutku ini cuma kekacauan yang cukup gila
"Rui-chan juga, kalo bersama pasti menyenangkan."
Airi berkata begitu dengan nada sedikit sedih.
".....Semoga Rui bisa menang di kejuaraan hari ini."
"Pasti bisa! Soalnya kalo Rui-chan menang di dua nomor lari jarak pendek individu yang dia ikuti di Inter-High kali ini, itu berarti dia 5 kali juara berturut-turut sejak SMP untuk kedua nomor itu!"
"Eh? 5 kali berturut-turut? Serius?"
Meski dia memang perfect sionis... ternyata Rui sehebat itu, ya.
Aku memang tahu dia pernah tampil di Mirai Mo●star sebagai calon atlet Olimpiade masa depan, tapi ternyata sampai sejauh itu.
"Ryota kan satu SMP dengan dia, tapi apa kau tidak tahu? Biasanya dia mendapat penghargaan atau semacamnya kan?"
"Aku tahu Rui itu cukup hebat, tapi..."
"Yaaah, mana mungkin Ryota-kun tahu soal itu~"
Tanaka dari kursi depan langsung menyela dengan komentar yang tidak perlu.
"Ryota-kun itu, dari zaman SMP sudah punya nomor absen di depan, jadi waktu upacara pagi dan pengumuman penghargaan, dia cuma sibuk mengarahkan perhatian ke rok para gadis yang naik ke panggung. Aku, yang nomornya di belakang Ryota-kun, tahu itu dengan baik."
"Oi! Tanaka! Lagi-lagi kau mengatakan hal yang sembarangan!"
"Uwah, Ryota, terus terang saja itu menjijikkan...maksudku...perilakumu seperti pria tua."
"Ryota...menjijikkan."
Bahkan Airi dan Yuria yang biasanya selalu mendukungku terlihat benar-benar terkejut dan jijik.
Tidak, yang satu ini benar-benar tidak pernah aku lakukan!
"Itu hanya Tanaka yang bicara sembarangan! Saat upacara pagi, aku selalu mengantuk karena datang pagi-pagi, jadi aku tidak tahu apa-apa!"
Benar...! Kalo sudah begini, aku harus membalas.
"La-lagipula Tanaka juga! Dia memanfaatkan kenyataan kalo dirinya seorang perempuan, lalu sering membanggakan hal-hal seperti 'aku mencium rambut teman sekelas saat pelajaran olahraga~' atau 'aku berhasil mengetahui merek parfum gadis itu~', dan semacamnya kepadaku!"
"U-uwah, Tanaka...itu sungguh menjijikkan."
"Tanaka-chan...menakutkan."
"Tunggu! Kenapa semuanya tiba-tiba diarahkan padaku!?"
Tatapan terkejut Airi dan Yuria kini beralih kepada Tanaka.
"Dan juga, Tanaka pernah mengambil celana dalamku──"
"Sudah cukup! Jangan lanjutkan pengungkapan aib tentang diriku! Aku mengakui tadi aku bicara sembarangan, jadi tolong hentikan!"
Tanaka meminta maaf dengan wajah merah padam dan hampir menangis.
Setelah bertingkah terlalu bebas sejak tadi, akhirnya aku berhasil menundukkan Tanapedia si tukang fitnah.
"Tapi ya? Tentang Ryota yang mengintip rok, sebagai orang yang paling memahami Ryota, aku tahu sejak awal itu tidak benar."
"Ah, Airi juga! Karena Airi sudah pernah menghabiskan malam bersama Ryota, Airi tahu itu bohong!"
Kenapa mereka berdua juga sampai berusaha membelaku dengan sepenuh hati?
Aku benar-benar tidak mengerti...
"Ngomong-ngomong, Ryota? Soal yang sempat kau sebutkan, tentang Tanaka dan pakaian dalammu, maksudnya apa?"
"Hmm? Ah, itu sebenarnya bukan hal besar."
"Itu saja jangan diceritakan!"
"Tanaka, diamlah. Ayo, Ryota, lanjutkan."
Tanaka yang mulutnya ditutup oleh Yuria yang duduk di sebelahnya, menggumamkan sesuatu seolah-olah memohon padaku, tapi karena aku masih merasa kesal akibat tuduhan anehnya sebelumnya, aku memutuskan untuk menceritakannya.
"Itu kejadian waktu liburan musim panas saat kami kelas 2 SMP, ketika aku dan Tanaka menonton film romantis di rumahku."
" "Berdua menonton film romantis!?" "
Airi dan Yuria berseru dengan ekspresi terkejut.
"Eh, apa ada yang aneh dari yang barusan kukatakan?"
".....Bukan apa-apa. Lanjutkan saja."
"O-oke."
Entah kenapa, sikap mereka berdua tampak aneh...
"Ja-jadi, saat kami sedang menonton, tiba-tiba dia menyandarkan tubuhnya ke arahku. Aku yang terkejut, tanpa sengaja menumpahkan jus yang sedang diminum ke pakaian Tanaka."
"Tunggu, Ryota-kun! Jangan lanjut──"
"Lalu karena tidak ada pilihan lain, aku mengambil pakaian dari kamar kakakku dan meminjamkannya pada Tanaka. Tapi Tanaka berkata, 『Kalo aku meminjam celana dalam kakakmu tanpa izin, nanti aku dimarahi. Jadi pakai milik Ryota-kun saja』, dan akhirnya dia malah memakai celana dalam milikku! Padahal kalo dipikir secara logis, lebih baik dimarahi oleh kakakku daripada memakai celana dalamku, kan!?"
Aku pikir itu hanya cerita lucu biasa, tapi Yuria yang duduk di depan dan Airi yang berada di sebelahku menunjukkan ekspresi serius saat mendengarnya.
"Eh? Kenapa reaksi kalian begitu?"
"Ah—sungguh menggelikan. Tanaka...nanti kita perlu berbicara."
"Airi juga ingin ikut bicara, tidak masalah, kan?"
"A-ah..."
Aku tidak begitu mengerti, tapi wajah Tanaka terlihat sangat pucat, seolah sedang mengalami mabuk perjalanan.
★★★
Kejuaraan nasional atletik antar SMA diadakan bergiliran setiap tahunnya di berbagai wilayah, dan kabarnya pernah diselenggarakan di Hokkaido maupun Okinawa...tapi tahun ini diadakan di wilayah Kanto.
Yah, bahkan kalo itu diadakan di Hokkaido atau Okinawa sekalipun, kalo Rui mengatakan 'Datanglah ke bandara, karena aku akan memberimu hukuman', kurasa aku tetap akan berangkat tanpa ragu.
Itu karena aku salah paham, mengira akan melakukan permainan SM yang mesum dengan Rui.
Untuk sementara, ayo kesampingkan dulu kenyataan kalo aku ini seorang otaku yang mudah salah paham.
Karena tahun ini diadakan di wilayah Kanto, maka dari SMA Negeri Natsuhama Chuuou tempat kami bersekolah, bisa langsung ditempuh dengan jalan tol, sehingga cukup banyak siswa yang datang untuk mendukung Rui.
Setelah bus tiba di area parkir stadion, kami turun dan mengikuti guru pendamping dengan berjalan dua baris menuju tribun stadion.
"Kau pasti datang karena ingin melihat Rui-senpai, kan?"
"Di-diam. Kau juga suka dengan Kuroki-san, kan?"
"Yah, memang."
2 siswa laki-laki tahun pertama yang memakai dasi merah berbicara seperti sedang membuka lembaran masa remaja.
Mereka memakai parfum dan rambutnya diatur dengan rapi dengan wax, dia terlihat benar-benar seperti anak-anak populer.
Sayang sekali, wahai para kouhai tampan.
Rui sudah menjalin hubungan denganku yang melibatkan berbagai macam hal (hukuman).
Sehebat apa pun kalian sebagai anak-anak populer, level yang aku tempati sudah berbeda dengan kalian.
"Fuh...aku menang."
"Ryota-kun. Kenapa tampangmu seperti pacar yang melihat dari belakang begitu."
Tanaka yang berjalan di sebelahku mengatakan itu sambil menatapku dengan ekspresi heran.
"Yah, begitulah? Di antara banyak orang yang datang demi melihat Rui, hanya aku satu-satunya yang sudah melakukan hal-hal seperti ini dan itu bersama Rui."
"Hal-hal seperti ini dan itu, benar-benar menunjukkan betapa kau tetap saja otaku yang selalu salah paham. Suatu saat kau pasti akan kena batunya...atau lebih tepatnya, sekarang pun sudah."
"Diam. Aku sungguh-sungguh mengira akan melakukan permainan SM."
Tanaka langsung mengungkit kesalah pahamanku.
Sungguh, menyebalkan...
"Eh, eeh! Ryota-kun!"
"Apa? Ada apa, Tanaka? Kau menemukan pasangan BL favoritmu lagi?"
"Jangan langsung menganggapku fujoshi! Yang lebih penting dari itu!"
Tanaka menunjuk ke arah bagian depan barisan dan mencoba memberitahuku sesuatu.
Ada apa?
Aku mengarahkan pandanganku ke arah yang ditunjuk Tanaka.
Dan di sana──ada seorang siswi berambut panjang kemerahan yang mengenakan seragam sekolah kami.
Wah, siapa dia...dia sangat cantik...
"Itu, bukankah itu Himesaki Nozomi-chan! Dia juga datang untuk mendukung Kuroki-san ya."
"Hi-Himesaki? Na-namanya luar biasa juga ya."
"Jangan berkata sembarangan! Dia itu luar biasa, tahu!"
Siswi bernama Himesaki yang disebut Tanaka itu memang memiliki penampilan yang sangat menonjol, cukup untuk membuat Tanaka begitu heboh untuk membicarakannya.
Tubuhnya memang ramping, tapi dengan batang hidung yang tinggi dan mata besar yang tidak terlihat seperti orang Jepang.
Rambutnya yang agak kemerahan juga ditata manis dengan gaya half-up, benar-benar seperti putri bangsawan sesuai nama keluarganya.
[TL\n: Himesaki, kata Hime dapat diartikan 'putri'.]
"Dia imut... tapi siapa gadis itu?"
"Itu Himesaki-chan! Apa kau belum pernah mendengar tentangnya?"
"Ah, ah, maaf. Aku hanya tertarik pada dunia dua dimensi."
"Itu bohong, kan. Astaga."
Tanaka menyelanya dengan nada mencela, lalu melanjutkan pembicaraan.
"Himesaki-chan itu murid kelas 1. Sampai tahun lalu dia tinggal di luar negeri karena pekerjaan orang tuanya, tapi sekarang dia pindah ke Jepang dan masuk ke sekolah kita sebagai murid yang baru kembali dari luar negeri! Dia murid dengan nilai terbaik di angkatan 1, dan katanya dia adalah gadis cantik super tingkat dewa yang sejajar dengan Kuroki-san!"
Julukan itu tidak jelas apakah dia monster atau gadis cantik...mungkin itu hanya istilah asal yang dibuat Tanaka sekarang.
Tapi memang, tubuhnya bagus, tidak berpenampilan mencolok, tetapi wajahnya sangat teratur, ada kesan yang mirip dengan Rui.
Sama seperti Rui, kalo dikatakan dia seorang idola atau model, aku akan mempercayainya tanpa ragu.
"Eh───. Jadi ada anak seperti itu di kelas 1 ya───. Tanaka-chan tahu banyak ya."
Airi yang berjalan di belakang kami memuji Tanaka.
Kalo dia terlalu dipuji, dia akan jadi besar kepala, lho───.
"Yah! Aku memang lemah terhadap informasi tentang gadis-gadis imut! Tentu saja Airi-tan juga sangat imut, lho!"
"A-ah, terima kasih...ahaha."
Airi terlihat merasa risih.
Tanaka, kau lagi... Aku mulai ragu apakah aku masih bisa menyebut orang ini sebagai sahabat atau tidak, saking menjijikkannya dia.
"Apa kau tahu soal gadis itu, Yuria?"
"Aku pernah mendengar dia dari Rui sebelumnya... Tapi mungkin ini pertama kalinya aku melihatnya langsung."
"Eh, dari Rui-chan? Kenapa?"
"Katanya, gadis itu mungkin akan jadi rival-nya di pemilihan ketua OSIS musim gugur nanti..."
"Rival di pemilihan OSIS? Padahal dia masih kelas 1? Apa maksudmu?"
"Begini, di sekolah kita kan biasanya ketua OSIS dipilih dari siswa kelas 2, tapi sesuai aturan, kalo tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler, siswa kelas 1 juga bisa mencalonkan diri, kan? Dan mereka juga bisa bergabung dengan OSIS."
Rival Rui...di pemilihan ketua OSIS...
Aku teringat kalo Rui sempat menawarkan posisi wakil ketua padaku.
Aku belum memberi jawaban soal itu...
Kalau ada kouhai yang secantik dan sepopuler itu sebagai calon ketua OSIS, apa aku pantas jadi wakil ketua...
"Ada apa, Ryota-kun? Wajahmu terlihat muram."
"Eh?"
Saat aku tenggelam dalam pikiranku, Tanaka menatapku sambil bertanya.
"Ti-tidak! Tidak ada apa-apa! A-aku hanya sedang membayangkan betapa aku ingin melakukan hal mesum dengan Rui."
" " "Ryou-ta (kun)!" " "
3 arah pandangan marah tertuju padaku.
Kuh...karena aku mengeluarkan alasan aneh soal Ruki, jadinya begini!
Semua ini salah Rui!
Kalau soal tindakan mesum dikesampingkan, aku juga harus mulai memikirkan soal wakil ketua...
"........."
"Hmm? Ada apa, Yuria? Kenapa kau melihatku terus."
"......Tidak, bukan apa-apa kok."
Yuria terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia mengelak.
Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin dia marah karena aku tadi menatap gadis cantik berambut merah itu dengan tatapan menjijikkan.
Hm? Tapi tunggu dulu...?
Soal apakah aku pantas menjadi wakil ketua bisa dikesampingkan dulu, kalo gadis cantik berambut merah itu juga masuk OSIS, maka sebagai wakil ketua aku bisa lebih dekat dengannya...
"....Itu juga bukan ide yang buruk. Meskipun tidak realistis."
"Ryota-kun, dari tadi kau seperti sedang adu tatap sama diri sendiri ya? Kadang kau terlihat muram, lalu berubah jadi wajah mesum, ekspresimu berubah-ubah sekali lho."
Tanaka menatapku dengan wajah benar-benar kehabisan kata.
Begitulah, meski pikiran-pikiran tidak murni terus melintas dalam benakku, akhirnya kami berhasil masuk ke dalam stadion.
Tempat duduk kami berada di sisi pojok tribun utama lantai 1.
Tempat yang teduh ini sangat cocok untuk orang seperti ku (dan Tanaka) yang termasuk tipe inkyā.
Dari kanan tempat duduknya Tanaka, aku, Airi, dan Yuria, lalu kami mengamati para atlet yang berlari di trek dari tribun.
Aku tidak terlalu sering datang ke stadion, tapi memang stadion besar di wilayah Kanto ini luar biasa. Luas sekali...
"Hari ini, Kuroki-san akan turun di nomor 100 meter dan estafet 4×100 meter. Katanya nomor 200 meter akan diadakan lusa."
Sepertinya sekolah sengaja memilih hari di mana Ruki paling banyak tampil.
Ini sudah bukan lagi sekadar dukungan untuk klub atletik, tapi lebih tepatnya dukungan untuk Kuroki Rui.
"Tapi maksudku, estafet itu kan tidak bisa mengandalkan kemampuan Rui saja...bagaimana menurut kalian?"
"Yah, SMA Natsuhama Chūō memang sekolah negeri, tapi untuk atletik dan bisbol ada jalur rekomendasi khusus, jadi mungkin memang kuat."
"Eh! Ternyata ada jalur rekomendasi!? Airi juga mau masuk lewat rekomendasi───"
"Justru mendapat rekomendasi itu lebih susah. Mending belajar biasa saja lebih gampang."
"Muu〜"
Airi terlihat sedikit cemberut.
Yah, kalo seandainya ada 'ujian masuk jalur oppai besar', Airi pasti sudah lolos dengan mudah karena dia termasuk bakunyuu tingkat top di seluruh prefektur.
Kalo itu terjadi, maka akan lahirlah Umiyama Airi si penerima beasiswa khusus bakunyuu.
"Ah, sepertinya sebentar lagi final 100 meter dimulai."
Nomor 100 meter diadakan di lintasan lurus tepat di depan tribun utama, dan para peserta final putri yang berhasil lolos mulai menyelesaikan pemanasan dan berdiri di posisi start.
"Itu Rui-chan."
Kuroki Rui yang mengenakan seragam Natsuhama Chūō.
Hari ini, Rui tampil dengan penampilan yang sama seperti saat dia mengirimkan selfie penuh keringat seusai latihan kepadaku.
Rambut hitam panjang yang diikat ke belakang dalam bentuk ekor kuda, serta bagian pusarnya yang sesekali terlihat.
Hari ini adalah pertama kalinya aku melihat pusar asli Rui dalam balutan seragam.
Oh, ini benar-benar pemandangan yang indah...
"Oh, aku juga harus memotret saat dia mencapai garis finis. Tentu saja fotonya Rui-chan yang sedang melesat di posisi pertama."
Tempat duduk kami berada di sudut tribun yang menghadap garis finis, jadi seharusnya aku bisa melihat dengan jelas momen ketika Rui mencapai garis akhir.
"Lihatlah, Ryota-kun. Para gadis yang berjejer di sana itu mempertaruhkan hidup mereka yang disebut masa muda hanya untuk lintasan sepanjang 100 meter itu, dan berhasil mencapai tingkat nasional!"
"Kenapa kau sampai sebersemangat itu, Tanaka. Bukankah kau hanya seorang inkyā?"
"Rui-chan, semangat!"
100 meter hanya berlangsung dalam sekejap.
Tapi tetap saja, Rui ingin memperlihatkan pemandangan ini kepadaku, dan setelah membuatku berharap pada permainan S&M yang mesum, dia memancingku untuk datang ke sini...
Pasti itu maksud Rui. Dia ingin aku melihatnya melewati garis finis dengan mudah dan menerima wawancara kemenangan dengan senyuman.
Memang dia benar-benar gadis perfect sionis...haa.
"On Your Marks..."
[TL\n: btw ini emang di tulis bahasa Inggris dari raw-nya.]
Semua peserta, termasuk Rui, menempatkan kaki mereka dengan mantap pada starting block, lalu menundukkan badan.
Aku memang tidak begitu paham, tapi sepertinya ini yang disebut crouching start.
"Set...!"
Mendengar aba-aba itu, para peserta bereaksi dengan seketika, dan begitu suara pistol terdengar──semuanya langsung melesat bersamaan.
Rukmi mulai berlari dengan kecepatan yang sulit dipercaya, mengingat tubuhnya yang ramping.
Dia membelah angin yang bahkan tak terlihat, langkah-langkah kakinya yang menghentak dan lari penuh tenaga itu menyemarakkan seluruh stadion.
Dengan formasi yang indah, dia menggerakkan kakinya, dan seluruh otot tubuhnya terlihat bekerja dengan jelas.
Ekspresinya benar-benar bersungguh-sungguh.
Wajah Ruki yang terlihat sekarang bukanlah wajah dinginnya yang biasa, bukan tatapan lembut di saat tenang, atau pandangan dingin ketika marah.
Dia menggertakkan gigi sekuat tenaga, mengernyitkan wajahnya, membuka matanya lebar-lebar, dan terus melangkah maju, selangkah demi selangkah.
Tekad untuk menang, tantangan menuju kesempurnaan, semua itu tergambar jelas dalam wajahnya yang sungguh-sungguh.
Hal yang ingin Rui tunjukkan kepadaku...bukanlah dirinya yang menang dengan mudah...
Yang ingin Rui tunjukkan kepadaku adalah sosok dirinya yang mengerahkan segalanya, seorang gadis bernama Kuroki Rui yang mengejar kesempurnaan dalam dirinya sendiri.
Pertarungan ini hanya 100 meter──tidak, bahkan terasa seperti lebih dari 100 meter karena begitu ketatnya persaingan, dan seperti yang tadi dikatakan Tanaka, para peserta lainnya juga tidak kalah, layaknya mereka yang benar-benar telah mencapai tingkat nasional.
Sinar matahari musim panas terasa membakar, dan sangat menyilaukan.
Meski begitu, aku sampai lupa akan hal itu karena pandanganku benar-benar terpaku.
Dalam persaingan sengit yang begitu mendebarkan, Rui dan 2 orang lainnya menjadi yang pertama melewati pita garis akhir.
Kami memang berada di sisi yang dekat dengan garis finis, tapi karena melihatnya dari sudut yang agak menyerong, jadi agak sulit memastikan siapa yang menang.
Tapi...kemungkinan besar ini adalah...
Angka '11,59 Detik' terpampang di papan skor digital.
Dan hampir bersamaan──nama 『SMA Natsuhama Chūō・Kuroki Ruki』 muncul.
" " " " "Uwooooooo!!" " " " "
Tepuk tangan meriah dan sorakan menggema dari seluruh penjuru stadion.
Menyambut itu, Kuroki melambai ke arah tribun sambil mengatur napas.
Ketika dia melepaskan ikatan rambutnya, rambut panjang hitamnya yang halus pun tertiup angin yang seolah merayakan kemenangannya di atas lapangan.
Sejak kelas 1 SMP, ini adalah kemenangan kelima berturut-turutnya dalam lomba 100 meter tingkat nasional musim panas.
Se-sempurna sekali, sampai terasa berlebihan... Ruki.
Rui yang disambut oleh sorakan penonton, membungkukkan badannya dengan dalam ke arah tribun.
Lalu setelah selesai membungkuk, dia menunjukkan senyum segar di wajahnya.
Yang ada di sana bukan lagi Ruki yang biasa menggoda-goda aku.
Itu adalah wajah kuat dari Kuroki Ruki yang telah meraih kemenangan, memenangkan persaingan, dan membuktikan kesempurnaan dirinya.
"Kuroki-san! Tolong lihat ke sini juga untuk fotonya!"
"Sini juga! Tolong berpose!"
Ruki dikerumuni oleh awak media di lapangan.
Ah. Ini, seperti yang kurasakan saat festival budaya...jarak ini.
Kenapa ya...aku tetap merasa, apa aku benar-benar bisa mendukung Rui itu...
"Rui-chan menang! Menang───!"
"Kuroki-san memang luar biasa!"
"Rui benar-benar hebat!"
Semua orang benar-benar senang atas kemenangan Rui, dan tentu saja aku juga senang.
Biasanya aku akan memasang wajah seperti pacar dari belakang sambil berkata, 'Memang Rui-ku luar biasa ya', lalu ditimpali oleh Tanaka seperti biasa...tapi entahlah.
Semakin aku melihat langsung betapa besarnya sosok Kuroki Rui, semakin aku tidak mengerti kenapa dia masih terpaku padaku.
Saat festival budaya, Rui pernah berkata kalo dulu dia pernah diselamatkan olehku dari 'kesempurnaan'-nya, dan dia ingin aku terus mendukungnya.
Tapi, entah kenapa...di dalam hatiku, aku tetap merasa ada jarak antara aku dan Rui.
Rui...mungkin dia bisa mewujudkan kesempurnaannya itu seorang diri.
Tanpa aku menjadi wakil ketua pun...Rui akan tetap...
Saat aku berpikir seperti itu, dan secara refleks kembali melihat ke arah Rui──
"......Eh."
Rui menemukan tempatku dalam sekejap dari antara ratusan orang di tribun, lalu menatap tajam ke arahku sambil menengadah.
Kenapa...dia bisa tahu tempatku...
Lalu Rui mengedipkan matanya dan mengangkat tangannya ke arah telinganya.
Gerakan apa itu? Telepon...? Mungkin maksudnya, Hp?
Setelah membuat gerakan itu, Rui langsung keluar dari lapangan.
Aku mengeluarkan Hp-ku dari saku-ku dan menatap layar sejenak.
Lalu...
『Rui:Ryota-kun. Aku akan menunggu di luar Gerbang A.』
Rui, memanggilku...
Meski sebelumnya aku merasa ada jarak dengan Rui, tapi setelah melihat kesungguhan Rui barusan, membuat hatiku berdebar-debar karena gembira jadi tidak bisa diam saja.
Sekarang aku juga ingin bicara dengan Rui.
Kenapa Rui membutuhkanku...aku ingin menanyakannya sekali lagi.
"Ryota-kun? Ada apa?"
"Aku mau ke toilet, buang air besar!"
"Mo-mou Ryota!Kau bukan anak SD lagi."
"Itu benar!"
Kepalaku dipenuhi kegelisahan saat aku meninggalkan tempat duduk untuk berbicara dengan Rui.
Rui...
Aku menaiki tangga untuk menuju Gerbang A stadion, lalu dia melangkah cepat di sepanjang lorong.
Stadion ini terlalu luas... Gerbang A lewat sini kan?
Aku sempat memperlambat langkahku dan berniat mencari peta stadion di Hp-ku...dan saat itulah.
"Kya!"
"Uo!"
Karena aku sedang melihat ke Hp-ku, aku menabrak seseorang di tikungan pintu masuk.
"Ma- maaf, a...eh."
Orang yang kutabrak itu...adalah.
"Mou...berjalan sambil bermain Hp itu sangat berbahaya, tahu?"
Rambut panjangnya setengah diikat berwarna kemerahan.
Postur tubuhnya yang ideal dan penampilan elegan membuatnya tampak seperti model, dan meskipun sedang kesal, senyum manisnya membuat matanya yang besar sangat memikat.
Ada aroma citrus segar yang menggelitik hidung.
Ya, yang ada di depanku sekarang...adalah kouhai gadis cantik yang tadi dipuji habis-habisan oleh Tanaka, Himesaki Nozomi.
Hi-Himesaki...
Kalo dilihat dari dekat seperti ini, dia benar-benar luar biasa cantiknya...
"Ano───, senpai?"
"Ah, ya, maaf!"
"Lain kali hati-hati ya? Ryota-senpai."
"A-ah...eh, Ryota?"
"Ara ara, sudah hampir waktunya...temanku ikut nomor lompat galah, jadi aku permisi dulu. Sampai jumpa lagi."
Himesaki membungkuk, lalu pergi begitu saja.
Entah kenapa, Himesaki tahu namaku?
Apa aku jadi terkenal karena terlalu sering bersama tiga gadis cantik itu?
"Ya, ya sudahlah...sekarang bukan waktunya memikirkan itu."
Aku harus cepat ke tempat Rui...
★★★
Aku keluar dari stadion melalui Gerbang A, tapi aku belum melihat sosok Rui.
Aku pikir dia akan berada di dekat pintu keluar gerbang...
Karena sangat panas seperti meleleh kalo terkena sinar matahari, aku menunggu Rui di tempat teduh yang berada di antara gerbang dan pintu masuk stadion.
"Fufu... Ryota-kun?"
"O-oh, Riu."
Aku terkejut saat disapa dari belakang, tapi merasa lega setelah menyadari kalo itu adalah Rui.
Rui yang mengenakan seragam memperlihatkan pusarnya itu, sama seperti saat berada di lintasan, rambutnya diikat menjadi ekor kuda.
"Se-selamat Rui! Kudengar tadi kau berhasil meraih 5 kemenangan berturut-turut, itu benar-benar hebat."
"Fufu, terima kasih. Meskipun tadi sempat jadi pertandingan yang cukup ketat."
"Bagaimana dengan waktu dan sebagainya? Apa tidak masalah kau berbicara denganku di tengah-tengah kompetisi seperti ini, takutnya kau jadi terlambat mempersiapkan diri."
"Tidak apa-apa kok. Nomor lari estafet berikutnya baru ada lewat tengah hari, lagipula...berbicara dengan Ryota-kun seperti ini juga termasuk bagian dari persiapan."
"Be-berbicara denganku...?"
Tidak mungkin berbicara denganku bisa dianggap sebagai persiapan oleh Ruki.
Sejujurnya, itulah yang kupikirkan.
"Karena aku tidak bilang kalo hari ini adalah hari pertandinganku, kau jadi terkejut, kan?"
"Te-tentu saja! Karena Rui bilang itu sebagai hukuman waktu itu, aku pergi ke sekolah dengan semangat...kupikir itu akan jadi sesuatu yang lebih erotis dan menyenangkan."
Tapi ketika semuanya terungkap...pada akhirnya, seperti biasa, aku hanya diperlihatkan betapa hebatnya Ruki secara langsung, dan kembali diingatkan akan betapa kecilnya diriku.
Rui memang, hidup di dimensi yang berbeda denganku...
"Ada apa Ryota-kun? Wajahmu jadi murung...ah, apa mungkin aku bau keringat?"
"Rui! Tidak mungkin Ruki bau! Rui seperti biasa, wangi seperti gadis yang manis! Ma-malah bau keringatmu justru membuatku semakin sange, sih!"
"....Fufud, Ryota-kun kau ini."
Meski aku mengucapkan hal serendah itu, Ruki tetap tersenyum dan menanggapinya dengan lembut.
Ya, seperti biasanya, Rui adalah...
"Rui yang ada di sini sekarang, adalah Rui yang seperti biasanya...kan?"
"Kenapa tiba-tiba begitu, Ryota-kun?"
"...Aku baru sadar kalo aku bukan tipe orang yang pantas bersama orang sehebat Rui."
"...Hah?"
"Rui itu luar biasa, baik dalam olahraga maupun pelajaran, peringkat 1 nasional, cantik...terlalu sempurna. Orang seperti ku yang cuma seorang inkyā rasanya benar-benar tidak pantas berada di sampingmu."
Aku mengepalkan tanganku erat-erat, lalu mengungkapkan isi hatiku dengan jujur.
Semakin aku bicara, semakin aku merasa kalo aku ini memang cuma seorang inkyā otaku biasa.
Belakangan ini aku jadi besar kepala, melompat ke oppai-nya Airi yang besar, menyentuh paha Yuria, lalu merasa seolah-olah bisa melakukan hal do-sukebe dengan Rui...padahal sebenarnya aku bukanlah orang yang pantas untuk bisa dekat dengan ketiga orang itu.
"Nee, Ryota-kun. Menurutmu, penting tidak apak kau pantas untukku atau tidak?"
"Penting atau...tidak?"
"Kalo Ryota-kun yang seorang inkyā, itu sudah fakta yang diketahui semua orang, kelebihanmu paling cuma sedikit pintar belajar, tidak suka menonjol, dan isi kepalamu penuh dengan fantasi mesum, lebih mesum dari siapa pun."
"So-soal itu memang benar sih, tapi kau tidak perlu mengatakannya se-blak-blakan itu juga..."
"Meskipun begitu...kau tetap bisa membuatku tersenyum."
Rui tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya, lalu dengan telapak tangannya yang indah, dia membingkai kedua pipiku.
Ru-Ru-Rui...?
Pipiku yang sedikit berkeringat karena panas musim panas menjadi semakin panas.
"Selalu mengatakan hal-hal bodoh, tidak tahu malu, dan langsung membuatku kesal... tapi semua itu adalah bagian dari dirimu, Izumiya Ryota. Penilaian orang lain tidak penting. Kaulah satu-satunya laki-laki di dunia ini yang bisa membuatku tersenyum."
"Akulah... satu-satunya?"
"Fakta kalo kau bisa membuatku tersenyum berarti kau menuntunku menuju kesempurnaan. Kesempurnaan yang bernama kebahagiaan."
Dengan senyum lembut, Rui berkata begitu lalu melepaskan tangannya dari pipiku.
Tanpa kusadari, aku ternyata telah... menjadi pendukung dari kesempurnaan Rui.
"Jadi, kemenangan hari ini juga berkat mu yang datang menonton, Ryota-kun. Hanya dengan tahu kau ada di sana, aku bisa tersenyum."
Lagi-lagi. Lagi-lagi aku membuat Rui terselamatkan tanpa melakukan apa-apa.
Selalu seperti itu. Setiap kali aku membantu Rui, itu selalu terjadi di tempat yang tidak aku sadari...dan tanpa sengaja aku telah menolongnya.
Bukan karena kehendakku sendiri, tapi semuanya terjadi secara kebetulan.
Memang benar, aku senang karena itu membuat Rui sangat membutuhkanku.
Tapi... aku tidak mau terus membantunya tanpa sadar. Aku ingin membuat Rui tersenyum karena keinginanku sendiri.
"Kau sudah mengerti, kan? Ryota-kun. Kalo begitu, aku akan kembali───"
"Aku ingin! Terus berbicara dengan Rui seperti ini dan menjadi seseorang yang bisa selalu membuat Rui yang sempurna tetap tersenyum!"
"...."
Aku menahan Rui dengan kata-kataku sendiri.
Kalo Rui yang sempurna dalam segala hal sampai membutuhkan orang seperti ku yang seorang yinkya, maka aku merasa ingin membalasnya dengan kehendakku sendiri.
Kalo memang aku satu-satunya laki-laki yang bisa membuat Rui tersenyum, aku ingin terus membuat Rui tersenyum mulai sekarang.
Lalu...sekalian, aku juga masih ingin mendapatkan swafoto Rui, dan aku juga tidak bisa menyerah untuk hal-hal mesum!
Karena itulah, aku akhirnya mengambil keputusan.
"Aku ingin mendukung Rui yang membutuhkanku, dengan kehendakku sendiri."
"Ryota kun..."
"Jadi tolong izinkan aku menjadi wakil ketua OSIS!"
Aku membungkuk dalam-dalam dan memohon.
Itu adalah tekad dari lubuk hatiku untuk mendukung Rui dengan kehendakku sendiri.
Rui yang sehebat itu mengatakan dengan sungguh-sungguh kalo dia membutuhkanku, itu membuatku merasa senang.
Aku memang sempat ragu, tapi kalo aku bisa menjadi kekuatan untuk Rui...maka aku memang harus melakukannya.
"Ya. Ryota kun...terima kasih."
"Eh? Boleh?"
"Boleh bagaimana maksudmu...soal wakil ketua itu memang aku yang memintanya, kan?"
"A-ah, iya juga kalo dipikir-pikir."
"Fufu...aku menyukai sikapmu yang agak aneh tapi serius itu, Ryota kun."
Eh...a-apa...dia menyukaiku!?
"Eh, Rui menyukaiku!? Apa ini sebuah pengakuan!?"
"....! Ka-kau salah paham, oke? Maksudku aku hanya mengatakan kalo aku menyukai sikapmu yang aneh tapi serius, itu saja."
A-apaan itu...
Na-nani, apa itu...
Karena terlalu bersemangat, aku justru menafsirkan sendiri secara sepihak dan membuat kesalahan sebagai seorang otaku yang menyedihkan.
".....Fufu."
"Kenapa kau tertawa di situ! Tidak masalah meskipun aku salah paham sebagai otaku! Orang yang mengatakan kalo dirinya menerima aku yang seperti ini adalah dirimu sendiri!"
"Itu memang benar, kan? Aku menyukai Ryota-kun yang sampai salah paham dan mengira dirinya disukai olehku."
"Ka-kau lagi-lagi menggunakan cara membuatku salah paham. Aku tidak akan tertipu lagi!"
Ketika aku mengatakan hal itu, Lui menunjukkan senyum yang lebih cerah dari biasanya.
Senyuman Rui biasanya selalu terasa agak kaku, tapi senyumnya kali ini...tampak lembut.
Senyuman Rui ini...terasa seperti sesuatu yang istimewa.
"Kenapa kau menatap wajahku seperti itu, Ryota kun? Apa mungkin kau jatuh cinta padaku?"
"Ti-tidak! Jangan salah paham!"
"Fufu... Ryota-kun benar-benar seorang tsundere, ya?"
Bukan seperti itu.
Aku hanya melihatnya karena senyuman itu terlihat sangat alami.
"Po-pokoknya! Kalo Rui terpilih dalam pemilihan ketua OSIS, kau akan memilihku sebagai wakil ketua, kan?"
"Ya. Ryota-kun akan menjadi tangan kananku."
Tangan kanan Rui...ya.
Aku memandangi lengan indah Rui yang terlihat dari seragam tanpa lengannya.
"Sebenarnya, aku lebih menyukai lengan yang sedikit lebih berisi."
"Fufu...Ryota-kun apa kau ingin dibun●h?"
"Ma-maaf, aku terlalu lancang."
Ini berbahaya, sebaiknya aku tidak mengatakan hal-hal seperti itu.
"Oh, dan satu hal lagi."
"Eh? Satu hal lagi?"
"Kalo tujuan sebenarnya kau menjadi wakil ketua bukan untuk mendukungku, tapi demi Himesaki Nozomi-san...aku mungkin tidak akan memaafkanmu♡"
Rui menusukkan jari telunjuknya tanpa ampun ke bagian paling sensitif dari hatiku.
Ti-tidak bagus...saat pertama kali melihat Himesaki aku memang sempat terpikir seperti itu.
"Ugh...ti-tidak, tidak! Tidak mungkin aku mengincar Himesaki Nozomi kalo tujuanku adalah mendukung seorang gadis sempurna seperti Rui, kan? Memang benar Himesaki itu lembut, manis, dan harum seperti aroma citrus, tapi itu bukan tujuanku."
"Ryota-kun tahu banyak tentang Himesaki-san, ya. Jadi sebenarnya yang kau incar itu Himesaki-san, ya?"
Ti-tidak...meskipun hari ini sangat panas, kenapa kelembapannya semakin parah...
"La-lagipula, karena panas, bagaimana kalo kita beli minuman? Aku yang traktir."
"Fufu... Ryota-kun kau payah dalam membuat orang senang, ya?”
"Ka-karena Rui yang──"
"Ah, itu Ryota! Rui-chan juga!"
Ketika aku sedang panik, aku mendengar suara memanggil kami terdengar dari kejauhan.
Suara ini...ya ampun, Airi.
Saat aku menoleh, Tanaka, Airi, dan Yuria bertiga berjalan mendekati kami setelah menemukan kami.
"Karena Ryota terlambat, Tanaka jadi khawatir dan mencarimu, lho."
"A-aku bukan karena khawatir pada Ryota kun, ya!"
Yuria dan Tanaka juga mendekat sambil bicara tidak jelas.
"Semuanya~! Ryota-kun mau mentraktir kita minuman, lho~!"
"Eh, oi! Kau──!"
Begitulah, aku pun akhirnya ditetapkan menjadi wakil ketua OSIS yang akan mendukung Rui kalo dia terpilih.
Dan meskipun ini sudah masa liburan musim panas yang membuat kantongku kering, sisa uang recehku kembali menghilang.




Thanks ya min,lanjutkan😁
BalasHapus