Kamu saat ini sedang membaca Kyō mo iki tete erai! ~ Amaama kanpeki bishōjo to sugosu 3 LDK dōsei seikatsu ~ volume 1, chapter 2. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
HAL YANG BISA AKU BANTU
Aku terbangun, merasakan silau yang menusuk mata ku.
Langit-langit kamar yang tak kukenal.
Di saat itulah, aku teringat kalo aku menginap di rumah Tojo-san.
"Mmm..."
Aku bangun dan dan meregangkan tubuhku.
Kondisi tubuhku terasa sangat baik.
Aku merasa segar kembali, seolah semua kelelahan yang kurasakan hingga kemarin telah lenyap.
"Tojo-san...?"
Aku menengok ke sekeliling dan memanggilnya, tapi aku tidak melihat tanda-tanda keberadaannya di dalam kamar.
Merasa sedikit kecewa, aku menggaruk kepalaku sambil mengambil Hp-ku di samping bantal.
Itu adalah model murah yang aku beli sejak lama, Hp ini sudah cukup usang, tapi masih cukup untuk sekadar menerima pesan atau melihat waktu.
Layar hitam menyala, menampilkan waktu saat ini, pukul 10.30.
Pukul 10.30 pada hari kerja.
"Bahaya!"
Seandainya hari ini, hari libur nasional, sehingga sekolah libur meski bukan akhir pekan───tentu saja keajaiban seperti itu tidak mungkin terjadi.
Hari ini jelas hari biasa, dan aku harus berangkat ke sekolah.
Kalo begitu, bagaimana dengan Tojo-san?
Apa dia pergi ke sekolah sendirian?
Aku sempat berpikir, "Kenapa dia tidak membangunkanku?" tapi aku segera menegur diriku sendiri.
Ini salahku yang tidak bangun.
Dia tidak punya kewajiban untuk membangunkanku.
Lagipula, kemungkinan terbesarnya adalah aku tidak bangun meski dipanggil berkali-kali.
Aku sulit percaya kalo Tojo-san pergi tanpa mengucapkan apa-apa───
(Sudahlah, yang penting aku harus segera bersiap...)
Aku bangkit dari tempat tidur dan menuju ruang tamu.
Tojo-san juga tidak ada di sana, dan dan dilihat dari fakta kalo Hp yang katanya untuk teman sekolahnya sudah tidak ada, sepertinya dia memang sudah berangkat.
Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada meja tempat kami makan udon kemarin.
Di sana, menggantikan kehadiran seseorang, tergeletak sepucuk surat.
Sepertinya ini yang disebut pesan singkat.
『Untuk Inamori-kun───Selamat pagi. Aku sudah mencoba membangunkanmu berkali-kali, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kau akan bangun, jadi kupikir kau masih lelah dan memutuskan untuk membiarkanmu tidur. Aku akan memberi tahu sekolah kalo kau tidak enak badan, jadi bagaimana kalo hari ini kau beristirahat saja untuk memulihkan diri? Aku meninggalkan asistenku di rumah, jadi kau bisa mengambil seragam atau keperluan lain kalo diperlukan. Oh ya, aku juga menyiapkan bento di atas meja. Aku akan senang kalo kau memakannya saat makan siang. Sampai jumpa.───Dari Tojo Fuyuki.』
Surat yang ditinggalkan itu ditulis dengan tulisan tangan yang sangat indah.
Bahkan huruf-huruf yang tergores terasa begitu anggun.
Ketika aku kembali melihat ke meja, aku melihat kotak bento putih yang tertumpuk, persis seperti yang disebutkan dalam surat.
Sepertinya inilah bento yang tertulis di surat itu yang harus kumakan saat makan siang.
"Beristirahat untuk memulihkan diri, kah..."
Kalo dipikir-pikir lagi, meski ada hari libur sekolah, hampir tidak ada hari di mana aku benar-benar bisa libur dan beristirahat.
Aku selalu berpikir kalo aku akan baik-baik saja, dan memang hingga kemarin tidak ada masalah.
Tapi kalo dipikirkan sekarang, aku sangat mudah membayangkan kalo tubuhku bisa saja tiba-tiba ambruk kalo aku terus menjalani kehidupan seperti itu.
Aku sebisa mungkin ingin menghindari bolos sekolah───tapi...
"Meskipun Anda berangkat sekarang, pihak sekolah mungkin sudah mencatat Anda sebagai tidak hadir."
"Wah!?"
Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara selain suaraku sendiri sehingga membuatku terkejut hingga hampir berteriak.
Ketika aku menoleh ada seorang wanita berbaju jas berdiri di sana.
Posturnya yang tinggi dan ramping terlihat sangat menawan, dengan setelan jas hitam yang sangat cocok untuknya.
Fitur wajahnya pun sangat simetris, dan rambut hitamnya yang diikat rapi di belakang menunjukkan perawatan yang sangat baik.
"Senang bertemu dengan Anda. Saya Hino Asahi, asisten pribadi Tojo Fuyuki-sama."
"A-ah, senang bertemu denganmu."
Aku secara refleks menundukkan kepalaku ketika dia membungkuk padaku.
Inilah asisten yang dimaksud Tojo-san.
Entah karena dia selalu berada di sisinya, tapi aku merasa───atau mungkin hanya khayalanku───kalo aura 'bukan orang biasa' juga terpancar darinya.
"Hari ini, atas perintah Fuyuki-sama, saya akan melayani Anda. Jika ada keperluan, silakan beri tahu saya."
"Terima kasih."
Keperluan, kah.
Seperti yang tertulis dalam surat, mengambil barang-barangku dari rumah adalah hal yang harus segera aku lakukan.
Aku ingin pergi kesekolah besok, setidaknya seragam sangat kubutuhkan.
"Kalo begitu, aku ingin kembali ke rumahku untuk mengambil beberapa barang."
"Baik. Saya akan menyiapkan mobil di depan apartemen. Mohon tunggu sebentar."
Dengan ekspresi tenang yang tak berubah, Hino-san segera keluar dari ruangan.
Ada sedikit kesenjangan antara namanya, 'Hino Asahi', yang terdengar hangat, dengan sikapnya yang dingin.
───Ah, memikirkan hal seperti ini mungkin tidak sopan terhadap Hino-san.
Beberapa saat kemudian, bel interkom di ruangan berbunyi.
Di layar monitor terlihat Hino-san, rupanya ini adalah tanda kalo mobil sudah siap.
Aku keluar dari kamar, menuju pintu masuk, dan begitu melangkah keluar dari apartemen, sebuah mobil hitam bersih tanpa noda terparkir tepat di hadapanku.
Mobil itu terlihat sangat mewah, meski aku tidak terlalu paham dengan merek-merek mobil sehingga aku tidak bisa menyebutkan namanya secara spesifik. Keberadaannya saja sudah memancarkan kesan kelas tinggi.
"Kami akan langsung menuju apartemen Inamori-sama, apakah tidak masalah?"
"Ya, silakan."
"Baik. Kalo begitu, mohon duduk di kursi belakang."
Hino-san membukakan pintu untukku, jadi aku pun masuk ke dalam.
Inikah yang disebut perlakuan VIP?
Untuk seseorang seperti aku yang hidup sederhana sepanjang hidupku, ini terasa sangat aneh.
Setelah memastikan kalo aku sudah masuk, Hino-san juga duduk di kursi pengemudi.
Mesin menyala, dan mobil mulai bergerak perlahan.
Jarak antara apartemen Tojo-san dan rumahku sebenarnya tidak terlalu jauh.
Kira-kira sekitar 15 menit dengan mobil. Jarak yang cukup melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki.
"────Inamori-sama, maaf mengganggu di dalam mobil, tetapi ada satu hal yang perlu saya sampaikan."
"Eh? Ah, ya. Apa itu?"
"Apartemen tempat Inamori-sama tinggal saat ini telah dibeli oleh Fuyuki-sama, mulai hari ini."
"...Hah?"
"Oleh karena itu, mulai sekarang, jika Inamori-sama memutuskan untuk meninggalkan Fuyuki-sama dan kembali ke apartemen, tidak akan ada biaya sewa. Silakan gunakan selamanya."
"Tu-tunggu sebentar, aku belum benar-benar memahami maksudnya..."
"Saya minta maaf jika penjelasannya kurang jelas."
"Bukan, ini bukan salah Hino-san..."
Ini lebih karena perbedaan persepsi. Terutama dalam hal nilai uang.
"Emm, boleh aku bertanya? Kenapa Tojo-san sampai repot-repot membeli tempat tinggalku?"
"Atas nama Fuyuki-sama, izinkan saya menyampaikan: 'Kalo aku gagal memikat hati Inamori-kun, aku akan menyia-nyiakan satu bulan waktu berharganya. Jadi, aku harus membayar kompensasinya di muka.' ───Begitu kurang lebih."
Tidak, kurasa ini bukan kompensasi yang sepadan.
Seumur hidupku, satu bulanku tidak sebanding dengan nilai satu apartemen.
Lebih bisa aku mengerti kalo dia memberiku uang sewa satu bulan sebagai gantinya.
Omong-omong, aku terkejut betapa miripnya Hino-san menirukan gaya bicara Tojo-san. Tapi itu tidak penting untuk sekarang.
"Sayangnya, saya dilarang menyebutkan harganya. Namun, bagi Fuyuki-sama jumlah itu bukan masalah besar. Jadi, Inamori-sama tidak perlu merasa terbebani. ...Begitulah kira-kira yang beliau katakan."
"Begitu, ya..."
Memang, dunia kami terlalu berbeda.
Ini di luar pemahamanku, dan jujur saja aku mulai bingung.
"Eto...boleh aku bertanya sesuatu?"
"Jika pertanyaan tersebut masih dalam kapasitas yang dapat saya jawab, dengan senang hati akan saya tanggapi."
"...Aku bertanya-tanya apa orang sepertiku pantas berada di sisi Tojo-san."
Mendengar kata-kataku Hino-san terdiam sejenak.
Apa pertanyaanku terlalu sulit untuk dijawab?
Tapi, beberapa saat kemudian, saat mobil berhenti di lampu merah, dia akhirnya berbicara.
"Fuyuki-sama memiliki 'mata' yang luar biasa."
"Mata?"
"Dia mampu melihat esensi seseorang hanya dengan sekali pandang───siapa mereka, kemampuan apa yang dimiliki, apakah mereka berbohong, bahkan potensi mereka di masa depan. Semua itu dapat Fuyuki-sama tangkap dalam sekejap."
Aku hampir saja membantah kalo hal itu mustahil.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin saja itu benar.
Aku hampir tidak mengenal Tojo-san.
Aku kadang-kadang mendengar rumor tentangnya dari teman-teman, tetapi semuanya tidak berdasar jadi aku membiarkannya begitu saja.
Seperti rumah pribadinya di kawasan elit luar negeri,
Kalo dia kenal dengan anggota parlemen.
Atau kemampuannya memanggil artis terkenal dunia ke rumahnya hanya dengan satu telepon.
Kalo semua rumor itu benar...
"Dan Fuyuki-sama telah memilih Inamori-sama sebagai orang yang paling pantas berada di dekatnya. Kami yang mengenal betapa tajamnya penglihatan itu tidak punya alasan untuk meragukannya."
"...Aku mengerti."
Meski aku tidak bisa melihat wajahnya, nada suaranya menunjukkan keyakinan yang kuat.
Dia tidak mempercayaiku.
Dia hanya memiliki keyakinan mutlak pada Tojo-san.
Hubungan mereka dibangun atas kepercayaan yang tak tergoyahkan───itu bukan sesuatu yang bisa tercipta dalam satu atau 2 malam.
Aku merasa sedikit iri.
"...Dan jika boleh saya menyampaikan pendapat pribadi,"
Aku pikir percakapan sudah selesai, tapi Hino-san melanjutkan.
"Fuyuki-sama akan mengambil alih perusahaan orang tuanya di masa depan. Itu artinya kesibukan yang tiada henti, hidup yang hanya diisi pekerjaan. Namun, dengan mengetahui bahwa Inamori-sama akan selalu menunggu di rumah..."
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, untuk pertama kalinya, ekspresi datarnya retak───senyum tipis mengembang di bibirnya.
"...Saya yakin, kehadiran Inamori-sama sangat dibutuhkan oleh Fuyuki-sama."
Sejak itu hingga kami tiba di apartemen, Hino-san tidak berbicara lagi.
★★★
Setelah kembali ke rumahku dan mengemas seragam serta beberapa pakaian sehari-hari ke dalam koper yang disiapkan Hino-san, lalu aku kembali ke rumah Tojo-san dengan mobilnya.
Hino-san akan menunggu di ruang tamu hingga Tojo-san pulang.
Saat itu, aku diantar ke salah satu dari 3 kamar tidur di apartemen ini───dan di sanalah aku dibuat terkejut oleh sebuah fakta mengejutkan.
"Ini adalah kamar yang telah disiapkan untuk Inamori-sama."
"...Eh?"
Di dalam kamar itu, hanya ada lemari pakaian besar, meja, dan kursi sederhana.
Ruangan seluas 5 tatami mati yang hanya diisi barang seadanya itu menciptakan kesan mirip sel tahanan.
"Sebenarnya ini kamar tamu, tapi Fuyuki-sama jarang mengundang orang ke rumahnya, jadi ruangan ini praktis tidak terpakai. Karena itu, silakan gunakan sesuka hati───begitu katanya."
"Segalanya sudah diatur sedemikian rupa ya..."
"Jika Anda membutuhkan furnitur atau barang lainnya, jangan ragu untuk memberi tahukanya. Saya akan mengurus pengadaannya."
Lalu───
Dengan ucapan itu, Hino-san meninggalkan kamar.
Aku yang tertinggal mulai memandangi sekeliling ruangan yang kini menjadi kamarku.
Ruangan bersih tanpa debu ini terasa lebih luas daripada apartemen 1K yang kutinggali sebelumnya.
"...Lebih baik aku simpan pakaianku dulu."
Aku membuka lemari, aku lalu menyusun kaos dan pakaian dalam di rak yang sudah tersedia.
Jujur saja, pakaian lusuhku terasa tidak pantas di kamar seperti ini, hingga membuatku merasa bersalah.
Setelah aku selesai, waktu menunjukkan pukul 13.00.
Menyadari perutku keroncongan, aku memutuskan kembali ke ruang tamu.
Ngomong-ngomong, apa Hino-san sudah makan siang?
Aku punya bento buatan Tojo-san, tapi seingatku tidak ada makanan untuk Hino-san di atas meja.
Dengan pikiran itu, aku membuka pintu ruang tamu───dan melihat Hino-san sedang membaca buku.
"Umm... Hino-san."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Aku memanggilnya tanpa berpikir, dia menyelipkan pembatas buku dan mengangkat wajahnya.
"Aku hanya penasaran...apa Hino-san sudah makan siang?"
"Kalau soal itu, Inamori-sama bisa menyantap bento yang dibuat Fuyuki-sama."
"Ah, bukan itu... Maksudku, bagaimana dengan bagian Hino-san?"
Ekspresi Hino-san berubah seolah tidak mengerti, diikuti oleh keheningan singkat.
Suasana canggung pun tercipta.
Setelah 'merestart' dirinya, Hino-san berdehem sebelum akhirnya berbicara.
"Selama bertugas, saya hanya mengonsumsi air putih. Jadi tidak Anda perlu khawatir."
"Eh, apa tidak apa-apa seperti itu?"
"Saya telah menjalani pelatihan khusus untuk memastikan kondisi saya tubuh selalu prima."
Apakah dia bukan sekadar asisten biasa?
"Ada yang terlupa saya sampaikan, jabatan resmi saya adalah asisten sekaligus pengawal pribadi Fuyuki-sama. Untuk menghindari perubahan kondisi tubuh di saat genting, saya selalu makan makanan tertentu pada waktu yang telah ditentukan."
"Pengawal pribadi... Kalo begitu, bukankah seharusnya saat Tojo-san di sekolah, bahkan sekarang pun, kau harus berada di sisinya───"
"Secara ideal memang begitu, tapi Fuyuki-sama tidak menyukai perlakuan khusus di lingkungan sekolah. Karena itu, saya biasanya menunggu hingga waktu menjemput tiba."
Meski hubunganku dengan Tojo-san masih terbilang baru, ini terdengar sangat seperti dirinya.
Dia paham kalo dia berkeliling sekolah dengan pengawal pribadi hanya akan memicu prasangka yang tidak perlu.
"Tentu saja, kami telah menyiapkan langkah-langkah darurat jika terjadi sesuatu saat saya tidak ada. Jadi tidak perlu khawatir."
Setelah itu, Hino-san kembali tenggelam dalam bukunya.
Aku membandingkannya dengan bento di atas meja sebentar, lalu akhirnya mengambil bento itu dan duduk di sebelahnya.
"Baiklah kalo begitu, aku akan makan dulu."
"Silakan, jangan sungkan."
Meski dia bilang begitu, wajar saja kalo aku tetap merasa tidak enak.
Tapi makan di kamar sendirian juga terasa aneh, jadi akhirnya aku membawanya ke ruang tamu.
"Wah..."
Saat aku membuka kotak bento, terlihat lauk-pauk yang tersusun rapi dan nasi putih yang masih hangat.
Sayuran dan lauk utama seimbang dengan sempurna, nasinya pun tidak lembek maupun keras───pas sekali.
Dari segi apa pun, ini terlihat lezat.
Aku mulai menyantap lauk pauk di depanku───telur dadar gulung.
"...Enak!"
Tanpa sadar, kata itu meluncur begitu saja dari mulutku setelah gigitan pertama.
Rasa manis telur yang lembut memenuhi mulutku, diikuti aroma kaldu yang menggugah selera.
Seperti waktu makan udon daging kemarin, rasanya sangat cocok dengan seleraku───bahkan bisa dibilang sempurna.
Telur dadar biasanya ada yang asin atau manis, dan versi Tojo-san jelas yang manis.
Kebetulan aku lebih suka yang manis, jadi ini benar-benar kabar baik.
Apa mungkin dia sudah menyelidiki seleraku sampai sedetail itu? ...Ah, lebih baik aku tidak memikirkannya. Yang penting rasanya cocok, dan itu membuatku senang.
Selain telur dadar, ada juga asparagus yang dibungkus daging, chikuzenni dengan bumbu meresap sempurna───semuanya luar biasa lezat.
Bahkan untuk sayuran yang tidak perlu dimasak, seperti tomat ceri dan brokoli yang sudah dipotong kecil-kecil, perhatian terhadap detail seperti ini sangat aku hargai.
"...Apakah itu enak?"
Saat aku asyik menyantap bento pemberian Tojo-san, suara Hino-san terdengar dari samping.
Ketika aku mendongak, mataku bertemu dengan tatapan Hino-san yang serius.
"A-ah, iya. Sangat enak."
"Begitu ya... Syukurlah."
Senyum yang mengembang di wajahnya kali ini lebih hangat dibandingkan di mobil tadi, sebelum dia kembali fokus pada bukunya.
Sejenak kupikir dia juga ingin mencicipi bento-nya, tapi mungkin bukan itu masalahnya. Bisa jadi dia senang karena masakan Tojo-san dipuji.
Di balik tugas profesionalnya, Hino-san jelas sangat menyayangi Tojo-san.
"...Maaf, Hino-san."
"Kenapa Anda tiba-tiba minta maaf?"
"Aku sempat mengira... Hino-san adalah orang yang menakutkan."
"Menakutkan?"
"Tapi ternyata aku salah. Hino-san sebenarnya orang yang baik dan sangat peduli pada Tojo-san."
Aku merasa malu karena sempat menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya.
Permintaan maaf tadi juga merupakan bentuk penyesalan atas sikapku itu.
"Sa-Saya...terima kasih...?"
Dia terlihat kebingungan, seolah tidak memahami maksud perkataanku.
[TL\n: makanya bre jangan melihat org dari penampilan luarnya doang, jujur aja guru gua juga pernah salah paham dengan gua pas pertama kali kami ketemu, dia kira gua org nya nakal, eh pas dia tau sifat asli gua, gua selalu di puji ama dia dan kalo ada apa apa dia mangil gua.]
Apa ucapanku tiba-tiba dan tidak jelas?
Kalo begitu, aku kembali melakukan kesalahan.
"A... Sepertinya sudah waktunya menjemput Fuyuki-sama."
Menutup bukunya, Hinata-san segera beranjak pergi dari ruangan.
Setelah memeriksa Hp, ternyata waktu masih menunjukkan jam pelajaran berlangsung.
Jelas aku telah mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Aku akan tinggal bersama Tojo-san setidaknya selama sebulan ke depan───kako orang terdekatnya sudah memandangku aneh sejak awal, tentu akan sangat merepotkan.
"...Aku akan minta maaf lagi nanti."
Aku mengubah fokusku sejenak dan aku membawa kotak bentō kosong ke wastafel dapur.
★★★
"Aku pulang! Inamori-kun!"
"Se-selamat datang kembali..."
Sekitar 1 hingga 2 jam setelah Hino-san pergi menjemputnya, Tojo-san akhirnya tiba di rumah.
Melihat wajahku yang tanpa sadar sudah menunggu di pintu masuk, dia langsung menunjukkan senyuman paling cerah yang pernah kulihat.
"Rasanya sangat membahagiakan bisa pulang ke rumah dan langsung disambut Inamori-kun... Apa aku boleh seberuntung ini?!"
"Itu berlebihan sekali..."
"Itu sama sekali tidak berlebihan! Bahkan kata-kataku masih kurang untuk menggambarkannya!"
Dia terlihat sangat bersemangat sambil melangkah masuk.
Tanpa basa-basi, tas sekolahnya langsung dilempar ke sofa di ruang tamu, dan blazer seragamnya segera ditanggalkan.
"Ah, aku sudah mencatat semua materi pelajaran hari ini khusus untukmu. Biasanya aku jarang mencatat, tapi hari ini istimewa."
"Terima kasih... Eh, jadi biasanya kau tidak mencatat?"
"Aku cukup mendengarkan penjelasan sekali saja untuk mengingat semuanya. Kecuali untuk mata pelajaran yang mewajibkan pengumpulan catatan, itu sih aku tulis seperlunya. Tanganku biasanya aku bebaskan untuk mengerjakan... 'tugas sampingan'. Seperti merancang ide proyek yang diberikan ayahku, atau menyelesaikan pekerjaan lain yang bisa aku kerjakan di sekolah."
Itu jelas jauh dari definisi 'tugas sampingan' ala pelajar biasa...
Untukku saja mustahil membayangkan bisa memikirkan satu hal sambil melakukan hal lain secara bersamaan.
Aku tidak berani mengatakannya karena khawatir akan menyakiti hatinya, tapi mungkin struktur otaknya memang sudah berbeda sejak lahir.
"Aku juga merekam semua materi pelajaran teori dengan voice recorder. Apa kau mau mendengarkannya?"
"Te-tentu!"
Tojo-san mengeluarkan perangkat kecil dari tasnya dan menyerahkannya padaku.
Segalanya benar-benar disiapkan dengan sempurna.
Aku yakin aku tidak akan pernah terbiasa dengan kemewahan perlakuan seperti ini.
"Kalo saja Inamori-kun mau bertunangan denganku, kau tidak perlu repot-repot belajar lagi, lho~"
Dia melirikku dengan pandangan menggoda, membuatku reflex menoleh ke arah lain.
...Tidak, aku belum bisa mempertimbangkan sampai sejauh itu.
"Ah."
Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang harus segera aku sampaikan.
"Terima kasih untuk bento-nya. Rasanya sangat enak."
"Be-beneran?!"
"Eh? I-iya... Itu sangat lezat."
Di depan mataku, Tojo-san tiba-tiba melakukan pose kemenangan yang sama sekali tidak sesuai dengan citra perfect beauty-nya yang anggun.
"Aku lega... Soalnya masakanku jarang dicoba orang lain. Aku sangat senang kau menyukainya."
"Begitukah? Untuk mencicipi, bukankah orang tuamu atau Hino bisa melakukannya..."
"Ayah dan Ibu-ku kemungkinan besar akan tetap mengatakan enak, meski aku menyajikan makanan aneh, jadi pendapat mereka tidak bisa dijadikan acuan. Sementara Asahi, dia bahkan tidak akan menyentuh makanan buatan ku. Jadi, untuk saat ini belum ada orang yang bisa aku mintai pendapat. Sebenarnya, aku ingin sekali dia mencicipinya, tapi yah...aku juga tidak bisa menyalahkan dedikasi profesionalnya yang tinggi. Suatu hari nanti, kalo benar-benar ada waktu pribadi yang sepenuhnya milik kami, saat itulah aku ingin dia mencicipinya."
Aku baru bertemu dengan Hino-san hari ini dan belum tahu banyak tentang dirinya, tapi aku bisa merasakan kalo dia sangat memedulikan Tojo-san, lebih dari sekadar rekan kerja.
Aku yakin, dia juga pasti ingin mencicipi masakan itu.
Meskipun aku bukan siapa-siapa, aku tetap berharap suatu hari nanti keinginan Tojo-san bisa terwujud.
"Meskipun begitu, kau benar-benar mengesankan, Inamori, karena membuat Asahi───yang dikenal sebagi 'topeng baja'—merasa malu."
"Topeng besi?"
"Dia hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi di hadapan orang lain, kecuali aku. Tapi ketika dia menjemputku tadi, sikapnya agak aneh, jadi aku menanyakan lebih lanjut... Dan ternyata, katanya dia dibuat bingung karena kau berkata kalo dia itu baik. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya yang semalu itu."
Topeng besi, kah. Itu julukan yang sangat tepatnya untuknya, entah bagaimana.
Tapi itu hanya kesan luar saja, bukan berarti dia tidak punya perasaan.
Justru aku merasa Tojo-san adalah seseorang yang sangat lembut dan penuh perhatian.
"....Ngomong-ngomong. Maaf, boleh aku meminta waktu hingga sekitar pukul 7 malam? Aku harus bekerja mulai sekarang."
Tojo-san melirik ke arah kamarnya sekilas.
"Aku tidak keberatan sama sekali, tapi apa jadwal seperti ini tidak terlalu berat untukmu, Tojo-san...?"
"Berat bagaimana, maksudmu?"
"Maksudku, tidakkah kau pernah merasa ingin beristirahat?"
"Hmm...sepertinya tidak. Karena aku melakukan ini karena aku memang ingin melakukannya."
Melihat Tojo-san yang menjawab begitu ringan, aku merasa terintimidasi.
Tidak ada sedikit pun kebohongan dalam kata-katanya, sampai-sampai terasa menakutkan.
"Soalnya, semakin banyak aku bekerja, mungkin semakin sedikit beban yang harus ditanggung oleh Inamori-kun, kan? Kali begitu, menurut mu, apa aku masih bisa memilih untuk tidak melakukannya?"
Yah...menurut saya, kebanyakan orang tetap akan mempertimbangkan pilihan itu.
"Tentu saja, aku juga menikmati pekerjaanku. Akhir-akhir ini, Ayahku mempercayakan aku tugas untuk merekrut talenta-talenta unggul, bahkan dari perusahaan lain. Banyak dari mereka yang cukup unik, jadi dari sisi pengamatan manusia pun cukup menyenangkan."
"...Luar biasa. Pekerjaan seperti itu pasti hanya diberikan kalo seseorang benar-benar dipercaya, kan?"
"Aku rasa memang begitu. Ayah dan Ibu-ku mempercayai 'mata'-ku. Mereka sering memberikan ku tugas-tugas yang membutuhkan kemampuan itu."
Sambil berkata begitu, Tojo-san menatap lurus ke arahku.
Warna matanya, seindah cahaya bulan, seolah menarik siapa pun yang menatapnya, hingga sulit untuk memalingkan pandangan.
"Fufu, karena Inamori-kun juga adalah orang yang aku pilih dengan mata ini, Ayah dan Ibuku pun tidak berkata apa pun."
Jadi inilah yang dimaksud Hino-san dengan 'mata yang bisa melihat seseorang dengan jeli'.
Kalo begitu, apa aku sudah dianggap pantas di mata Tojo-san?
───Aku tidak punya dasar apa pun untuk berpikir seperti itu.
Tapi...andai saja memang begitu.
"Kalo begitu, aku akan mulai bekerja sekarang. Hari ini ada rapat jarak jauh, jadi mungkin suaraku akan terdengar... Mohon maaf sebelumnya kalo itu mengganggu."
"Ah, kau tidak perlu khawatir soal itu. Justru aku yang akan berusaha lebih tenang."
"Hmm, padahal aku sempat membayangkan saat sedang rapat, ada suara laki-laki yang masuk dan aku berkata, 'Ah, maaf! Itu suara pacarku!' sambil minta maaf. Aku ingin merasakan momen seperti itu...."
Aku harap dia tidak terlalu mengidolakan hal seperti itu.
"Untuk makan malam, kemungkinan akan disajikan sekitar pukul 8 malam. Hari ini aku berencana membuat sesuatu yang agak mewah, jadi harap dinanti, ya?"
"...Baiklah."
Dengan anggukan puas, Tojo-san kembali masuk ke kamarnya.
Aku lalu duduk bersandar di sofa dan menatap kosong ke arah layar Tv yang belum dinyalakan.
Kehidupan bersama Tojo-san ternyata sudah mulai menunjukkan tantangannya tersendiri.
(...Aku bosan.)
Karena aku tidak terbiasa menonton Tv, waktu seperti ini terasa cukup menyiksa.
Aku coba menyalakan Tv menggunakan remote, tapi di waktu seperti ini yang muncul hanya program berita sore yang terlalu serius.
Berita tentang perselingkuhan artis, taman hiburan baru yang sedang ramai pengunjung, atau panda yang baru datang ke kebun binatang.
Semua informasi yang dibacakan oleh pembawa berita dari balik layar itu terasa begitu jauh dan tidak relevan dengan hidupku.
Tidak satu pun yang mampu mengusir rasa bosanku ini.
(Benar juga, belajar... Ya, aku sudah diberi buku catatan. Harusnya aku mulai menyalin isi catatan itu.)
Apa yang aku lakukan dengan mengeluh soal kebosanan?
Hal yang paling penting justru belum aku kerjakan.
Meski Tojo-san mengatakan kalo aku tidak perlu belajar, aku tidak boleh terbawa oleh perkataan itu begitu saja.
Masih ada kemungkinan dia akan kecewa dalam sebulan ini, dan kalo dia benar-benar pergi, aku setidaknya harus memiliki jaminan untuk bisa bertahan hidup sendiri.
Kalo begitu, pekerjaan paruh waktuku pun sebaiknya tidak aku tinggalkan.
Jadwal kerja ku berikutnya adalah hari Senin.
Karena hari ini adalah Jumat, maka aku masih punya akhir pekan sebelum masuk kembali.
Baru sekarang aku menyadarinya, kira-kira bagaimana reaksi Tojo-san kalo aku mengatakan kalo aku akan pergi bekerja paruh waktu?
Dia memang bilang akan mendukung apa yang ingin aku lakukan, termasuk soal kuliah, tapi entah kenapa aku merasa dia tidak akan senang mendengarnya soal aku yang ingin bekerja.
Yah, ini mungkin hal yang bisa aku bicarakan nanti───
★★★
"Hmm! Hari ini juga pekerjaan selesai dengan lancar!"
Saat acara berita mulai berganti menjadi acara varietas waktu tayang utama, Tojo-san keluar dari kamarnya sambil meregangkan tubuh.
Padahal seharusnya dia sudah bekerja di depan meja lebih dari 2 jam, tapi wajahnya masih terlihat senang dan sama sekali tidak terlihat lelah.
Seperti yang dia katakan sendiri, sepertinya dia memang menikmati pekerjaannya.
"Kerja bagus, Tojo-san. Ini, kalo kau mau."
"Eh?"
Aku menyodorkan kopi kaleng yang aku beli di waktu luangku setelah selesai menyalin catatan, ke arah Tojo-san.
Karena aku ragu apakah dia menyukai kopi hitam atau tidak, aku memutuskan memilih yang tengah-tengah───kopi manis ringan.
Sebenarnya, akan lebih baik kalo aku bisa menyeduh minuman langsung di tempat ini, tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya di dapur orang lain tanpa izin.
"Untuk ku?"
"Ya, kalo kau tidak keberatan dengan yang manis ringan..."
Tojo-san menerima kopi itu dengan sangat hati-hati, lalu memegangnya erat dengan kedua tangan.
"Menyelesaikan pekerjaan dengan semangat...dan Inamori-kun muncul membawa kopi untuk menghargainya... Bukankah ini terlalu membahagiakan?"
"A-aku senang kamu bilang begitu... tapi kupikir itu agak berlebihan."
“Ini tidak berlebihan! Coba kau bayangkan baik-baik. Momen ketika orang yang kau sukai menunggumu sambil membawa minuman kesukaanmu, setelah kau belajar keras, olahraga berat, atau menyelesaikan pekerjaan sulit."
Aku membayangkannya, seperti yang dia katakan.
Karena aku tidak memiliki seseorang yang bisa aku sebut orang yang kusukai, maafkan aku, tapi aku membayangkan Tojo-san dalam peran itu────
"...Ya, mungkin itu memang membahagiakan."
"Benar, kan? Hanya dengan itu saja, rasa lelah langsung hilang."
Sosok Tojo-san yang membusungkan dada dengan bangga terlihat sangat menggemaskan dan sulit untuk dijelaskan.
Meski aku terus mengatakan kalo itu berlebihan, entah sejak kapan aku mulai menerima dan mempercayai kata-katanya.
"Kalo begitu, sekarang aku akan mulai memasak makan malam. Maaf, tapi Inamori-kun, tolong tunggu sebentar────"
"Tidak, kalo bisa aku ingin membantu...boleh?"
"Eh...? Inamori-kun kau cukup duduk saja, kau tidak perlu repot-repot."
"Kalo begitu, justru aku yang merasa tidak enak. Menjalani hidup di mana semuanya dilakukan oleh Tojo-san tanpa aku melakukan apa pun, terus terang agak menyakitkan."
Itu sebuah kehidupan yang akan diidamkan siapa pun.
Aku memahami hal itu dengan baik.
Tapi, untuk diriku yang selama ini menjalani kehidupan yang sibuk dan penuh kesibukan, aku baru menyadari kali waktu luang tanpa perlu melakukan apa-apa, kalo berlebihan, justru bisa terasa menyiksa.
Selain rasa bosan, fakta kalo aku tidak melakukan apa pun menjadi semacam rasa bersalah yang menekan batinku.
Mencoba mengurangi rasa bersalah itu hanya dengan sekadar membantu pun sebenarnya sudah cukup membuatku merasa tidak enak, tapi kalo...aku tidak diizinkan melakukan setidaknya hal itu, mungkin pikiranku tidak akan sanggup menahannya.
"Kumohon, Tojo-san."
"...Benar juga, sepertinya aku agak kehilangan ketenangan tadi."
Tojo-san menundukkan kepalanya, tampak sangat menyesal.
"Aku merasa sudah memahami dirimu, Inamori-kun, padahal mungkin sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali. Padahal aku seharusnya bisa memperkirakan kalo kau, yang begitu baik hingga membuatku jatuh hati, bisa merasa tertekan dalam lingkungan ini..."
"Ti-tidak perlu terlalu menyalahkan dirimu sendiri..."
"Tidak, kalo aku tidak benar-benar menyesali hal-hal yang harus disesali, maka aku tidak akan bisa memperbaikinya ke depannya."
Tojo-san kembali menunjukkan ekspresi biasanya, menarik napas panjang sekali, lalu menundukkan kepala.
"Inamori-kun... Aku akan mulai memasak makan malam, boleh aku meminta bantuanmu?"
"...Tentu, dengan senang hati."
Kami saling menatap dan tertawa kecil atas percakapan yang terasa aneh ini.
Tapi, setidaknya dengan ini, kehidupan bersama dengannya akan menjadi sedikit lebih ringan secara emosional.
────Tapi.
Itu pun hanya sebatas 'sedikit lebih baik'.
Rasa ganjil terhadap kehidupan yang begitu serba terlayani ini, masih belum benar-benar hilang.
"Ah, tapi ada satu hal lagi... Aku ingin meminta sesuatu darimu, bolehkah aku menyampaikannya?"
Permintaan mendadak itu membuatku sedikit tertegun, tapi aku segera kembali fokus.
Aku baru saja yang meminta sesuatu darinya.
Kalo permintaannya masih dalam batas kemampuanku, tentu sudah sepatutnya aku mendengarkannya.
"Boleh aku tahu permintaanmu?"
"U-Um, itu..."
Melihat ekspresi Tojo-san yang entah kenapa terlihat kesulitan untuk bicara, aku merasa sedikit bingung.
Apa permintaannya sesuatu yang sulit?
Kalo begitu, aku mungkin tidak aoan bisa mengabulkannya, dan itu membuatku agak khawatir.
"...Bo-bolehkah aku memanggilmu Haruyuki-kun?"
"...Eh?"
"Se-selama ini aku selalu membayangkan betapa menyenangkannya bisa memanggil orang yang kusukai dengan nama depan...! Kalo Inamori-kun tidak keberatan, aku akan sangat senang kalo diizinkan memanggilmu seperti itu..."
Semakin merah wajahnya, semakin lirih pula suaranya.
Kepercayaan diri yang dia tunjukkan pada hari pertama kami bertemu, seakan lenyap entah ke mana.
Yang ada di hadapanku kini hanyalah seorang gadis biasa yang sedang malu.
"Kalo hanya itu, tentu tentu tidak masalah. Kalo yang memanggil adalah Tojo-san, bukan hanya tidak keberatan───aku justru merasa senang."
"Benarkah? Ka-Kalo begitu...mulai sekarang aku akan memanggilmu Haruyuki-kun."
Tojo-san tersenyum manis, jauh dari kesan anggun yang biasa dia tunjukkan.
Senyuman itu begitu memikat, hingga membuat jantungku berdetak kencang.
"Ada apa, Haruyuki-kun?"
"Ti-tidak... Bukan apa-apa."
Aku memalingkan wajahku untuk menyembunyikan rona merah di wajahku.
Tojo-san mencoba mengintip wajahku dari depan, dan aku kembali memalingkan wajahku ke arah lain.
Tapi dia terus mengikutinya, hingga akhirnya kami berdua terus berputar-putar.
Pada akhirnya, kami berdua menjadi pusing, lalu tertawa bersama karena hal itu terasa begitu konyol.
"Fufu, Haruyuki-kun yang malu pun sangat manis."
"Ku-kumohon, jangan begitu... Tōjō-san. Lagipula, tidak ada perempuan yang pernah memanggilku dengan nama depanku, jadi wajar saja kalo aku malu."
"Oh begitu. Jadi, kalo di sekolah, akulah satu-satunya yang memanggilmu dengan nama depanmu?"
"Kalau tidak menghitung teman laki-laki ku, ya, begitulah."
Tojo-san menampilkan senyum cerah seperti bunga yang merekah, lalu dia meletakkan tangannya di pipinya, seolah berusaha menahan semangatnya yang hampir membuatnya melompat kegirangan.
"Fufu, fufufu! Ini luar biasa...! Hari sebahagia ini jarang sekali terjadi! Aku benar-benar orang yang beruntung!"
Aku hampir saja mengomentari betapa berlebihan reaksinya, tapi aku buru-buru menutup mulutku.
Kalo aku satu-satunya laki-laki yang diizinkan memanggil Tojo-san dengan nama depannya, maka tentu saja itu akan menjadi sumber kebanggaan yang tiada banding.
Tentu saja, posisi antara aku dan Tojo-san sangat berbeda, jadi bayangan itu pun sejak awal terasa janggal.
Tapi, bukan berarti aku tak bisa membayangkannya dengan cukup jelas.
"Akan terasa agak aneh kalo hanya aku yang memanggil dengan nama depan, jadi kalo kau tidak keberatan, aku ingin Haruyuki-kun juga memanggilku dengan nama depanku. Kau bisa langsung memanggilku Fuyuki, atau Fuyu-chan, atau bahkan Fuyucchi───aku akan senang dengan sebutan apa pun selama itu darimu."
"Itu...masih terasa sulit untukku."
"...Apa kau tidak mau?"
"Ugh."
Dengan mata yang tampak basah, Tojo-san menatapku dari bawah dengan pandangan memohon.
Orang ini benar-benar curang.
Saat memimpin orang lain, dia terlihat sangat cocok sebagai seorang ratu, tapi saat meminta sesuatu, dia bisa berubah menjadi gadis lemah lembut seperti ini.
Perbedaan ekstrem inilah yang membuat hatiku begitu mudah digoyahkan.
"Ba-Baiklah... Mulai sekarang a-aku akan memanggilmu F-Fuyuki..."
"~~~~! Aku sangat senang! Dipanggil dengan nama oleh orang yang aku sukai itu benar-benar luar biasa...! Badanku sampai terasa panas."
Tubuhnya sempat bergetar sejenak, lalu Fuyuki, bukan lagi sekadar Tojo-san, menampilkan senyum penuh kebahagiaan.
Sementara aku merasa malu luar biasa, tapi...kalo aku bisa melihat senyum itu, rasanya rasa malu ini tidak penting lagi.
"Baiklah, sudah waktunya kita mulai memasak makan malam. Meski mengobrol dengan Haruyuki-kun sangat menyenangkan, kalo waktunya terlalu malam nanti, makan malamnya bisa jadi terlalu larut dan mudah menyebabkan kenaikan berat badan."
"Baik. Ngomong-ngomong, tadi kau bilang ingin memasak apa?"
"Fufufu, karena kau akan membantu, aku akan tunjukkan dulu.
Fuyuki berjalan ke arah kulkas modern, lalu mengambil 2 benda berwarna merah muda dari dalamnya.
"...Jadi, tonkatsu ya."
"Ya! Aku membeli daging babi dari peternakan terkenal yang memproduksi sangen-ton! Dengan ini kita akan membuat tonkatsu yang tebal dan juicy!"
Daging merah yang cerah dan lemak putih yang bersih.
Porsi kedua elemen itu yang seimbang menjadikan daging babi ini terlihat begitu menggoda bahkan sebelum dimasak.
"Ayo, kita mulai menggorengnya."
Aku menerima celemek cadangan dari Fuyuki, lalu langsung menuju dapur.
"Aku akan menyiapkan tonkatsu-nya, jadi bisakah aku meminta tolong menyiapkan sup miso dan salad?"
"Baik, itu tidak masalah."
Di sebelah Fuyuki yang mulai mempersiapkan adonan dan minyak, aku mengambil bahan-bahan yang disebutkannya dan berdiri di depan talenan.
Tugasku adalah memotong kol tipis untuk tonkatsu, serta menyiapkan sup miso dengan rumput laut dan tahu.
Dengan pengalaman masak sederhana yang aku miliki, pekerjaan sebanyak ini terasa cukup pas dan tidak memberatkan.
"Hari ini aku membeli bahan seadanya, jadi kita akan memakai rumput laut dan tahu. Tapi, Haruyuki-kun, kau suka bahan apa untuk sup miso?"
"Pada dasarnya aku bisa makan apa saja, jadi tidak ada favorit khusus... Aku senang kalo itu sesuatu yang lezat dan sedang musim, seperti terong di musim panas atau lobak di musim dingin."
"Itu seperti mencocokkannya dengan musim, begitu, begitu."
Fuyuki mengetuk pelipisnya dengan jari, seolah ingin mengatakan kalo dia telah menyimpannya di ingatan.
Seperti yang aku duga dari seseorang yang bisa mengingat isi pelajaran hanya dengan mendengarnya sekali.
Pasti dia tidak akan melupakan hal yang sudah dia simpan.
"Kalo begitu sebaliknya, a-apa bahan favoritmu, Fuyuki?"
"Fufu, aku suka kerang shijimi. Memang agak repot karena harus direndam pasir dulu, tapi rasa umami dari kerang memang berbeda."
"Ah, aku mengerti maksudmu."
Aku juga menyukai sup miso dengan kerang shijimi.
Sup miso memang sedikit berubah rasa tergantung pada isinya, tapi saat memakai shijimi, perubahan rasanya terasa sangat jelas.
Mungkin karena lidahku kurang peka, jadi justru rasa yang menonjol itu terasa istimewa.
"Dalam waktu dekat, ayo kita buat sup miso shijimi juga. Sekalian, kita siapkan satu set makanan khas Jepang."
"Kedengarannya sangat menarik."
Berikut adalah terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan gaya yang tidak terlalu informal dan mengikuti format asli tanpa penambahan.
"Fufu, saat masih kecil aku tinggal di Rusia, negara asal ibuku, jadi sebagai akibatnya aku jadi sangat menyukai masakan Jepang. Karena itu aku banyak berlatih, dan aku akan pastikan kamu merasa puas."
Sejak mencicipi niku udon kemarin, aku sudah merasa demikian, tapi sepertinya Fuyuki memang sangat mahir dalam menggunakan dashi.
Pernyataan kalo dia percaya diri dalam masakan Jepang kemungkinan besar berakar dari keahliannya dalam hal-hal semacam itu.
"Aku akan memotong kol, bagaimana denganmu?"
"Minyaknya sudah cukup panas, jadi sekarang akan mulai menggoreng."
Fuyuki mengangkat potongan daging babi tebal yang telah dibaluri tepung roti, lalu memasukkannya ke dalam minyak panas.
Terdengar bunyi mendesis yang renyah, dan daging babi pun mulai matang dalam minyak panas tersebut.
"Masakan yang digoreng memang agak merepotkan karena urusan minyak dan lain-lain, jadi tidak bisa dibuat sembarangan...tapi sesekali memasak seperti ini terasa menyenangkan juga."
Selain itu, Haruyuki-kun sedang membantu di sebelah────
Sambil tidak melepaskan pandangan dari api, dia menggumamkan itu dengan nada senang.
Ketika dia mengatakannya dengan penuh perasaan seperti itu, rasa malu yang berbeda dari sebelumnya pun muncul dalam diriku.
"Mulai sekarang, kalo ada waktu...boleh aku tetap membantumu?"
"Tentu, justru aku ingin kau melakukannya."
Wajah Fuyuki yang semula terlihat agak tegang ketika meminta bantuan padaku, kini berubah menjadi senyum cerah bagaikan bunga yang merekah.
Senyuman itu sudah beberapa kali kutemui hari ini, tapi setiap kali aku melihatnya, jantungku tetap saja berdegup kencang.
Memang, dia lebih menggemaskan dari siapa pun yang pernah aku kenal.
Kalo orang seperti dia menyukaiku, adalah kebahagiaan yang seharusnya tidak pernah ada dalam hidupku.
Dan untuk benar-benar menerima kenyataan itu dengan tulus────
"Kalo ada hal lain yang bisa kubantu, aku ingin kamu lebih mengandalkanku. Kalo Fuyuki mengandalkanku, aku merasa aku punya tempat di sini."
".....? Tapi Haruyuki-kun tidak perlu melakukan apa pun pun tetap boleh berada di sini, kok?"
"Aku senang kau berkata begitu, tapi...yah, anggap saja itu karena alasan pribadiku."
Aku belum bisa mengatakannya langsung pada dirinya, tapi aku masih belum sepenuhnya percaya pada lingkungan yang terlalu baik ini.
Kalo suatu saat Fuyuki berubah pikiran dan mengusirku, kemungkinan itu tetap ada.
Kenyataan bisa dengan mudah mengkhianati manusia.
Karena aku sendiri sudah mengalaminya.
★★★
Di atas piring yang ada di hadapan kami, terhidang tonkatsu tebal berwarna cokelat keemasan yang indah.
Di bawahnya terdapat kol yang telah kuiris halus, dan di sampingnya terdapat mangkuk nasi putih yang baru saja matang, serta sup miso berisi wakame dan tahu.
Uap panas yang mengepul dari makanan-makanan tersebut benar-benar menggugah selera, membuat air liur menetes hanya dengan melihatnya.
"Menurutku, aku berhasil memasaknya dengan baik tanpa gosong. Bagian dalamnya juga tidak mentah, semuanya sempurna."
Bersama Fuyuki yang mengangguk puas, aku menyatukan kedua tangan dan mengucapkan, "Itadakimasu."
Pertama-tama, aku mencicipi sup miso.
Karena Fuyuki yang melakukan penyesuaian akhir terhadap miso dan dashi-nya, rasa asin dan aromanya pun sangat pas.
Rasa miso putih yang menenangkan itu meresap ke seluruh tubuh.
Selanjutnya, aku mengambil tonkatsu, hidangan utama.
Aku menambahkan saus dan mustard, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Lapisan tepungnya renyah, dan dagingnya begitu empuk hingga mudah dikunyah.
Minyak yang kaya rasa perlahan mengalir di mulut, memberikan sensasi bahagia seakan-akan mengandung zat berbahaya saking nikmatnya.
"Fufu, ternyata ada alasan ilmiah kenapa orang merasa bahagia saat makan daging."
"Eh, benarkah?"
"Aku tidak akan menjelaskan dengan istilah teknis, tapi sebagian nutrisi dalam daging akan berubah menjadi zat kebahagiaan di dalam otak, yang kemudian menjadi penyebab rasa bahagia. Menarik ya, kalo ada dasar ilmiahnya."
"Heh...jadi bukan sekadar karena enak saja."
"Tentu saja, rasa enak itu sudah menjadi dasar utamanya."
Memang benar, meskipun daging mengandung zat-zat tersebut, kalo rasanya tidak enak, semuanya akan menjadi sia-sia.
Bahkan, kemungkinan besar malah akan jadi pengalaman yang buruk.
Setelah menghabiskan makanan dalam sekejap, kami kembali menyatukan tangan, lalu membawa piring kosong ke wastafel.
Saat kami mencuci piring kotor bersama, satu hal terlintas dalam pikiranku.
"Ngomong-ngomong, meskipun tubuhmu kurus begitu, ternyata Fuyuki cukup banyak makan juga ya."
"Setelah bekerja atau belajar, aku jadi sangat lapar... Untungnya, aku punya kecenderungan menyimpan lemak di bagian dada."
Karena dia mengatakan hal seperti itu, sejenak───benar-benar hanya sejenak───mataku terarah ke dadanya.
Mereka bilang perempuan peka terhadap pandangan semacam ini, dan sepertinya Fuyuki pun tidak terkecuali.
Menangkap tatapanku, dia tersenyum seolah ingin menggodaku.
"Tidak perlu merasa bersalah. Justru, aku senang karena itu berarti kau memperhatikanku."
"Ta-tapi...menurutku itu tetap tidak sopan."
"Kalo dengan orang yang tidak dikenal baik atau hanya sebatas teman, tentu saja itu tidak sopan. Tapi kalo itu dari orang yang aku sukai, aku tidak keberatan. Malah, aku lebih tenang begitu daripada jika kamu sama sekali tidak menunjukkan minat.
Itu kalo dariku, katanya────
Setelah mengatakan hal itu, Fuyuki mulai memainkan ujung rambutnya dengan malu-malu.
"Meski aku yakin Haruyuki-kun tidak akan seperti itu, tapi jangan sampai kau melihat perempuan lain dengan pandangan aneh, oke? Bisa saja mereka merasa tidak nyaman, dan aku juga akan sangat cemburu."
"Fuyuki... apa kau tipe yang mudah cemburu?"
"Ya, sangat."
Ekspresi Fuyuki yang sejak tadi terlihat begitu manis, tiba-tiba berubah menjadi senyum yang dingin.
Aku segera menyadari kalo wajah itu sama sekali bukanlah ekspresi bercanda.
Meski aku tidak mungkin tertarik pada perempuan lain dalam situasi seperti ini, setidaknya selama masa percobaan ini, aku harus berusaha agar tidak membuat Fuyuki merasa sedih.
Mungkin saja, konsekuensinya akan sangat menakutkan.
Setelah kami selesai mencuci piring dan kembali ke area sofa di ruang tamu, aku teringat pada sesuatu yang perlu kusampaikan padanya.
"Ngomong-ngomong, hari Senin nanti, bolehkah aku pergi kerja paruh waktu?"
"Eh... kerja paruh waktu?"
"Pekerjaan sebagai petugas pengatur lalu lintas memang sudah berakhir, tapi aku masih bekerja di minimarket sebagai siswa SMA, jadi aku tidak bisa begitu saja berhenti datang."
"Hmm... itu memang masuk akal. Tapi, kalo boleh tahu, apa jadwal kerjamu ke depannya sudah ditentukan?"
"Belum, kebetulan hari Senin adalah hari pengumpulan jadwal kerja."
"Kalo begitu...bisakah kau libur untuk sementara waktu? Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Apa itu sulit dilakukan?"
Berbeda dari saat ia dengan nada menggoda memintaku memanggil namanya, kali ini ia benar-benar tampak menyesal dan bersungguh-sungguh.
Fuyuki sepertinya menyadari kalo permintaan ini cukup memaksa.
"...Maaf. Setidaknya untuk satu bulan ke depan, aku ingin kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama."
"Ugh..."
Adakah pria yang sanggup menolak kalo diberi kata-kata semanis ini?
Ya, mungkin ada. Tapi kurasa aku tidak akan bisa bersahabat dekat dengan orang seperti itu.
Memang, mengambil cuti kerja selama satu bulan adalah hal yang sangat sulit dilakukan.
Memang sulit, tapi────
"A-akan kuusahakan... Hari Senin nanti manajer ada di toko, jadi mungkin tidak masalah kalo aku sekadar bertanya."
"Benarkah!? Tolong ya, aku sangat berharap!"
Fuyuki segera memeluk lenganku dengan semangat.
Aku pikir dia perlu lebih sadar akan kelembutan dua 'senjata' yang dimilikinya itu.
...Atau mungkin, justru karena dia sadar makanya bertindak seperti ini.
Sungguh, perempuan ini adalah seseorang yang sangat berbahaya dalam berbagai hal.


