Kamu saat ini sedang membaca Kyō mo iki tete erai! ~ Amaama kanpeki bishōjo to sugosu 3 LDK dōsei seikatsu ~ volume 1, chapter 3. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw
Saat ini, aku sedang mandi dengan mengenakan celana renang sekolah khusus pria yang kubawa dari rumah tadi siang.
Di hadapanku, Fuyuki berdiri dengan bikini putihnya.
"Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat imut?"
Fuyuki bertanya dengan wajah sedikit malu, sambil menatapku penuh harap.
Kalo aku harus menggambarkan penampilannya dalam satu kata, pastilah kata itu adalah 'ideal pria'.
Kemarin aku bahkan tidak sempat melihatnya dengan jelas, tapi sekarang gambaran ideal itu langsung menyergap mataku.
Payudaranya yang berisi, semakin terpoles oleh desain bikininya.
Pinggang rampingnya tanpa sedikit pun kegemukan.
Pinggulnya yang tak kalah memesona dari bagian atasnya.
Seandainya kalo dia dia merilis buku foto, mungkin itu akan habis terjual dari toko buku dan minimarket dalam sekejap.
Bahkan mungkin sudah ada pencari bakat yang mendekatinya.
"...Aku ingin mendengar pendapatmu, kalo boleh."
"A-ah! Maaf...itu, lebih dari yang aku bayangkan. Aku sampai kehilangan kata-kata."
"Maksudmu apa itu artinya aku sebegitu mempesona?"
Tentu saja────
Aku ingin langsung menjawabnya, tapi rasa malu yang tersisa menghalangiku, membuatku hanya bisa mengangguk dengan cepat.
Tapi, Fuyuki sendiri tampak puas dengan reaksiku dan dia memamerkan senyum seperti bunga yang perlahan-lahan mulai terbiasa aku lihat darinya.
"Fufu, begitu ya, begitu ya. Aku senang kalo sampai membuatmu terpana seperti itu. Usahaku selama ini untuk merawat diri tidak sia-sia, rupanya."
Dalam kata-katanya yang diucapkan dengan tenang itu, terasa sebuah bobot yang mendalam.
Tojo Fuyuki adalah gadis yang tak pernah berkompromi pada dirinya sendiri.
Ketika dia berkata kalo dia tidak pernah mengabaikan perawatan diri, sungguh itulah yang dilakukannya───dan caranya merawat diri pasti bukanlah hal yang biasa-biasa saja.
"Hmm, sudah lama kupikirkan, tubuh Haruyuki juga cukup bagus ya..."
"...Benarkah?"
Aku menunduk melihat tubuhku setelah dia mengatakan itu, tapi karena aku sudah terlalu terbiasa, aku tidak bisa benar-benar mengetahuinya.
Aku tidak gemuk, dan menurutku aku juga tidak kurus.
"Dari balik pakaian memang sulit menilainya, tapi kau cukup tegap sehingga kupikir kau anggota klub olahraga... Seingatku, waktu SMP dulu kau belajar kendo, kan?"
"Kau benar-benar tahu banyak hal tentangku..."
"Maaf, tapi aku sudah menyelidiki segala hal tentang Haruyuki-kun sampai ke detail terkecil."
Lebih baik aku tidak menanyakan bagaimana caranya menyelidik.
Mungkin lebih baik kalo kau tidak mengetahuinya.
"Selain kendo, belakangan ini aku juga sering melakukan pekerjaan fisik. Di hari libur kadang aku mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai tukang pindahan."
Bahkan meski aku sudah berhenti kendo, pekerjaan paruh waktu itu secara alami menggantikan latihan fisikku.
Berkat itu, aku tidak pernah benar-benar merasa kekurangan olahraga.
Tapi karena asupan makananku yang tidak teratur, selama ini seringkali aku mengalami hari-hari yang kurang sehat.
"Hmm, begitu ya. Kalo begitu, dengan aku yang akan mengatur pola makanmu ke depan, kita bisa membentuk tubuh Haruyuki-kun lebih baik lagi."
"Ya, kalo pola makanku membaik, pasti akan banyak perubahan pada tubuhku."
Satu kekhawatiranku adalah kemungkinan penumpukan lemak akibat berkurangnya aktivitas fisik setelah mengurangi pekerjaan paruh waktuku.
Aku berharap metabolisme tubuhku yang masih muda bisa mengimbanginya, tapi dengan masakan Fuyuki yang sangat lezat setiap hari, aku tidak yakin bisa tetap langsing.
"Untuk mengatasi kurangnya olahraga, bagaimana kalo kita membeli alat fitness? Atau lari bersama setiap hari... Aku bisa menemanimu melakukan itu."
"Kedua pilihan itu menarik... Tunggu."
Ada satu hal yang mengganjal sejak tadi.
"Fuyuki, apa kau bisa membaca pikiranku sejak tadi?"
"Fufu, mana mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu. Hanya saja ekspresi Haruyuki-kun sangat mudah terbaca."
"Eh... Sesederhana itu?"
"Ya, sangat mudah. Sejujurnya, sampai kemarin ekspresi mu masih terlihat keras dan lelah, tapi sejak kita makan Haagen-Dazs berdua, ekspresimu jadi mudah berubah-ubah... Itu sangat menggemaskan."
Aku yang tidak terbiasa dipanggil menggemaskan langsung merasa malu dengan polosnya, pipiku terasa panas.
Begitu, jadi ini kenapa dia bilang aku gampang ditebak.
Meskipun pikiran dapat menganalisis dengan tenang, sepertinya emosi tidak semudah itu untuk dikendalikan.
"Sebenarnya aku juga ingin melihat Haruyuki-kun yang gemuk... Tapi tentu saja itu tidak sehat, jadi ayo kita luangkan waktu untuk berolahraga secara teratur."
"Ya, aku akan sangat terbantu dengan itu."
"Fufu, bisa menentukan pola hidup bersama Haruyuki-kun seperti ini benar-benar seperti mimpi."
Fuyuki kembali menunjukkan senyuman bahagianya yang memepesona.
Aku sudah memikirkan ini berkali-kali sebelumnya, senyumannya itu sungguh tidak adil.
Aku merasakan pesona yang luar biasa, seolah-olah semua racun sedang dimurnikan.
Bahkan bisa aku katakan sebagai senyuman dewi.
────Sepertinya tanpa sadar aku pun mulai terpengaruh olehnya, hingga bahasaku menjadi semakin berlebihan.
Setelah itu, kami saling membelakangi dan membasuh tubuh kami, lalu memutuskan untuk berendam di bak mandi.
Fuyuki sempat ingin memandikanku, tapi aku punya firasat buruk, jadi aku menolaknya.
"Jadi kita tetap akan berendam bersama?"
"Tentu saja. Airnya juga akan dingin kalo ditunda."
Sebenarnya kita bisa saja menghangatkannya kembali, tapi pasti usul itu akan langsung ditolak.
"Baiklah, ayo kita berendam."
"Sikap bersahaja mu sungguh mengagumkan. Bisakah kau masuk duluan, Haruyuki-kun?"
"Eh? Baiklah, tidak apa-apa."
Aku punya firasat buruk tentang ini.
Tapi, aku merasa agak enggan untuk memasukkan kakiku ke dalam bak mandi tempat Fuyuki sudah berada, jadi aku akan menerima tawarannya.
"Kalo begitu, permisi."
Aku perlahan memasukkan tubuhku ke dalam air, dimulai dari jari-jari kakiku.
Suhu airnya tidak terlalu panas, cukup ideal, dan begitu seluruh tubuh terendam, kehangatan yang nyaman perlahan menyebar ke inti tubuhku.
"Haaah..."
"Terlihat sangat nyaman. Kalo begitu, aku juga akan masuk."
Sambil berkata begitu, Fuyuki pun turut masuk ke bak mandi.
────Entah kenapa, dia menyandarkan punggungnya padaku.
"Umm, Fuyuki?"
"Ada apa?"
"Ini... Bukankah kita terlalu dekat?"
"Ah, maaf. Bak mandi di rumahku memang sempit."
Tidak, bak mandinya justru sangat luas.
Bahkan masih ada ruang kosong untuk satu orang lagi di sisi seberang.
Tapi, melihat senyumannya yang seolah tidak ingin memberiku pilihan, aku pun menyadari kalo tidak ada gunanya melawan.
Sebenarnya aku tidak keberatan, tapi efek air panas ini membuat wajahku terasa semakin memanas.
"Haruyuki-kun, ada sedikit keluhan yang ingin kusampaikan. Boleh?"
"Eh... Keluhan? Kalo kau merasa nyaman mengatakannya padaku, silakan."
Jujur saja, sulit membayangkan Fuyuki mengeluh.
Kira-kira tentang apa?
Aku tidak bisa membayangkan dia mengeluh, mengingat dia terkenal sebagai manusia super yang sempurna.
"Sebenarnya... Aku membeli baju renang ini di tahun pertamaku.”
"...Hmm?"
Arah pembicaraannya mulai terasa mencurigakan.
"Setelah sekian lama tidak aku pakai, ketika aku memakainya hari ini, bagian dadanya terasa agak sempit..."
Sambil berkata begitu, Fuyuki menarik tali pegikat di bahunya.
Ucapannya tentang bagian dada yang sempit disertai gerakan itu membuatku tak sengaja membayangkan apa yang ada di balik punggungnya.
"Ah? Aku merasakan sesuatu yang keras di punggungku..."
"Hah!?"
"Haha, maaf, hanya bercanda. Tapi Haruyuki-kun kai benar-benar menggemaskan."
"Ja-jangan terlalu banyak menggodaku..."
"Maaf, tapi aku benar-benar ingin melihat reaksimu."
"Kumohon... Kau tidak akan melakukan ini di sekolah, kan?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak ingin memperlihatkan Haruyuki-kun yang begitu menggemaskan ini kepada orang lain."
Aku hanya merasa malu dan ingin dia berhenti, tapi sepertinya untuk Fuyuki ada alasan yang lebih kompleks di balik ini.
Pokoknya, kalo dia tidak akan melakukan itu di sekolah, itu cukup membuatku lega.
"Omong-omong, haruskah kita merahasiakan hubungan kita di sekolah?"
"Hmm... Apa yang kau inginkan, Haruyuki-kun? Aku tidak keberatan dengan pilihan apapun."
Sejujurnya, menurutku akan aneh untuk memberi tahu orang lain saat kami bahkan belum resmi berpacaran.
Bahkan meskipun diizinkan untuk memberitahu orang lain, aku mungkin tetap tidak akan menyebarkannya.
Kalo begitu, lebih baik memutuskan untuk merahasiakannya dari awal agar tidak menimbulkan kebingungan.
Ah! Tapi hubungan rahasia antara kita berdua juga bagus. Di sekolah, kita bertingkah seperti teman sekelas, lalu begitu kita pulang hubungan kita berubah menjadi hubungan yang istimewa... Agak nakal, ya?"
"Kita belum memiliki hubungan seperti itu..."
"Benar, kita 'belum' memiliki hubungan seperti itu."
"Ugh..."
Aku baru saja menggali kuburanku sendiri.
"Kalo dipikir secara rasional, demi tidak merepotkan Haruyuki-kun, sepertinya lebih baik tidak memberitahu siapa pun. Meski agak aneh mengatakannya sendiri, aku ini cukup populer di sekolah."
"Kau mengatakannya sendiri?"
"Karena ini fakta. Sejak SMP, aku sudah menerima lamaran dari lebih dari satu kelas anak laki-laki. Dan di SMA ini, dalam waktu setahun lebih sudah ada jumlah yang sama."
"Aku merasa seperti pernah mendengar rumor seperti itu, tapi ternyata itu benar..."
"Kebanyakan dari mereka hanya membuat kenangan. Beberapa dari mereka menyatakan cinta padaku karena mereka benar-benar ingin berkencan denganku, tapi sungguh menakutkan bagaimana mereka bisa begitu percaya diri padahal mereka hampir tidak pernah berbicara denganku."
"Begitukah?"
"Begitulah. Aku memiliki kemampuan untuk melihat seperti apa orang lain, jadi kupikir aku relatif lebih baik dari mereka. Kurasa itu akan lebih menakutkan bagi orang normal. Meski ada juga orang-orang berani yang menerima lamaran hanya untuk 'mencoba' pacaran."
'Mencoba' pacaran...
Sejujurnya, sulit bagiku memahami konsep seperti itu.
Yah, aku tidak pernah punya pengalaman ditembak oleh seorang gadis sejak awal────
"Bagaimanapun, untuk menghindari Haruyuki-kun dari tatapan penuh kebencian dari para pria di sekolah, ayo kita rahasiakan hubungan kita ini. Kelompok perempuan tempatku berada juga───kalo sampai terbongkar, akan sangat merepotkan."
"Kelompok teman?"
"...Benar-benar, Haruyuki-kun sama sekali tidak punya waktu untuk memperhatikan teman sekelasmu ya."
"A-aku minta maaf..."
"Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, ini mengingatkanku untuk lebih memanjakanmu."
Apakah benar-benar ada 'kebutuhan untuk memanjakan' dalam pikirannya...?
"Aku hanya menyebut teman-teman sekelas yang biasa makan siang bersamaku sebagai 'kelompok perempuan'. Untuk menjalani kehidupan SMA dengan nyaman, kau perlu memiliki orang-orang yang pandai bersosialisasi di sekitarmu... Meski cukup melelahkan harus terus berpura-pura, tapi ini latihan yang baik untuk seseorang yang ingin menjadi pemimpin."
"Eh, jadi mereka... temanmu?"
"────Ya, tentu saja mereka teman-temanku."
"...Tadi ada jeda yang agak mencurigakan?"
"Kita memang bisa disebut berteman...tapi hubungannya tidak begitu tulus... Semua orang berusaha untuk tidak saling menyinggung perasaan, jujur saja itu cukup tidak nyaman."
Berteman, tapi merasa tidak nyaman.
Perasaan seperti itu sepertinya belum pernah aku alami.
"Maaf, itu kedengarannya seperti aku menjelek-jelekkan teman sekelasku."
"Eh? Tidak juga, kurasa."
"Maksudmu...?"
"Memang cara berpikir Fuyuki berbeda dengan yang aku ketahui, tapi mengingat pengalaman buruk mu di SMP, wajar kalo kau lebih berhati-hati dalam memilih orang untuk kau dekati."
Memang mungkin terdapat tidak sopan dalam cara Fuyuki menggambarkan kelompok pertemanannya.
Tapi kalo dia sendiri menyadari kalo hubungan mereka hanya berisi saling mengawasi suasana hati satu sama lain, tentu penilaiannya cukup akurat.
Dari apa yang kudengar,, hubungan mereka terasa tidak tulus dan seolah bisa hancur oleh hal sepele.
Siapa pun akan merasa tertekan ketika berada di landasan yang tidak stabil.
Meski aku tidak sepenuhnya memahami perasaan Fuyuki, setidaknya hal itu aku mengerti berdasarkan pengalaman.
"......"
"Lagipula, meski sekarang hubungan kalian seperti itu, mungkin suatu saat itu bisa berubah menjadi lebih tulus... Eh, ada apa?"
"...Haruyuki-kun kau pandai sekali dalam menerima orang apa adanya."
"Begitukah?"
"Ya, aku bisa merasakan kebaikanmu."
"Dipuji seperti itu malah membuatku malu..."
"Tapi tolong jangan mengatakan hal seperti itu pada orang lain oke? Kalo lawan bicaramu perempuan mudah tersentuh sepertiku, dia langsung bisa langsung jatuh cinta padamu lho."
Meski sejujurnya, aku hanya mudah tersentuh di hadapan Haruyuki-kun saja────
Dengan meninggalkan kata-kata tersebut, dia pun bangkit dari bak mandi.
"Bagaimana kalau kita keluar sekarang? Aku sudah menyiapkan es krim lagi, ayo kita nikmati bersama."
"A-ah."
Dia selalu imut, tetapi saat dia malu, dia terlihat beberapa kali lebih imut.
Sejujurnya, itu terlalu merusak..
Kalo meminjam kata-kat Fuyuki, akulah yang 'mudah tersentuh' karena jantungku yang berdebar-debar.


