> KEHIDUPAN BERSAMA YANG MIRIP TINGGAL SERUMAH...?

KEHIDUPAN BERSAMA YANG MIRIP TINGGAL SERUMAH...?

 Kamu saat ini sedang membaca Ossananajimi no Imouto no Kateikyoushi wo Hajimetara volume 4 chapter 17. Kalo kamu menyukai karya ini silahkan tinggalkan jejak komentar. Dan juga jangan lupa dukung mimin dengan cara donet se iklasnya di Trkateer mimin buat mimin makin semagat+buat dana untuk beli raw


 

"Jadi, selanjutnya aku serahkan padamu, ya?"


"Eh...serius?"


"Awalnya aku khawatir meninggalkanmu sendirian, tapi kalo ada Aisha-chan, maka tidak masalah."


"Ah..."


"Kalo begitu, jaga diri kalian baik-baik, ya. Jangan terlalu merepotkan Aisha-chan."


Aku melepas kedua orang tuaku yang menarik koper mereka di depan pintu masuk.


Entah kenapa terlalu banyak hal terjadi sehingga aku agak kesulitan mengikutinya, tapi kalo disimpulkan, sepertinya aku akan tinggal berdua dengan Aisha untuk sementara waktu di rumah keluarga Takanishi tanpa orang tua kami.


Aku memutuskan untuk mengingat kembali bagaimana semua ini bisa terjadi.



Saat libur panjang, Aisha dan keluarganya kembali ke kampung halaman yang mereka kunjungi saat liburan musim panas, katanya untuk menghadiri pertemuan keluarga.


Biasanya aku akan pergi bermain bersama Akihito, tapi karena Akihito juga sedang sibuk dengan berbagai hal, rencananya aku hanya akan menghabiskan waktu di rumah tanpa melakukan apa-apa... 


"Umm, hari ini aku datang membantu di ladang, tapi tomat segar yang baru saja aku dapatkan tadi rasanya sangat enak! Nanti akan dikirimkan, jadi Kouki juga akan kuberikan sebagian, ya."


Aisha, yang mengenakan pakaian kerja dan sedikit berlumuran tanah, terlihat di layar Hp.


"Itu terdengar menyenangkan."


"Iya!"


Sebenarnya, karena kami berencana untuk berkencan selama liburan ini, Aisha berangkat dengan wajah yang jelas-jelas terlihat sedih, dan bahkan sampai dia tiba di sana, kami terus saling berkirim pesan, dan setiap ada kesempatan dia akan menghubungi lewat video call seperti ini.


Sementara itu, aku sendiri tidak punya kegiatan selama liburan, sampai-sampai menghabiskan waktu untuk mempersiapkan bahan pelajaran les privat Manami, atau bahkan melakukan belajar tambahan yang biasanya tidak kulakukan, jadi telepon dari Aisa seperti ini benar-benar sangat kusyukuri.


Dengan begitu, meskipun jarak kami terpisah karena Aisha sedang pulang kampung, justru terasa seperti kesempatan berbicara kami semakin banyak selama liburan panjang ini.


Lalu, kepada kami yang sedang menjalani hari-hari seperti itu, datanglah kabar tak terduga dari orang tuaku.


"Kami akan pergi berlibur, jadi kalian berdua bisa mengurus diri kalian sendiri untuk sementara waktu, kan?"

 

Sepertinya orang tuaku dan orang tua keluarga Takanishi yang sedang pulang kampung juga saling berkomunikasi, dan entah bagaimana, tiba-tiba saja diputuskan kalo keempat orang tua kami akan pergi berlibur bersama.


Sebagai tambahan, Manami bergabung dengan klub yang sedang menjalani latihan bersama di dekat kampung halamannya sejak libur panjang ini, dan dia langsung ikut mendampingi mereka untuk pertandingan, sehingga pada akhirnya, yang tinggal di daerah ini hanyalah aku dan Aisha.


Kekhawatiran orang tuaku kalk aku tinggal sendiri, serta kekhawatiran orang tua keluarga Takanishi kalo Aisha tinggal sendiri terkait keamanan, saling bertemu pada satu pemikiran yang sama, dan hasilnya...


"Serius..."


Aku dan Aisha pun akan tinggal berdua selama beberapa hari di rumah keluarga Takanishi yang tidak ada penghuninya selanin kami.


 

Begitulah, aku pun datang ke rumah Takanishi yang sekarang hanya ada Aisa di dalamnya.


Jujur saja, ada perasaan ragu apa ini benar-benar boleh, tapi di sisi lain, mengingat perjalanan ini pun tidak ditentang, mungkin saja memang tidak masalah.


Yang jelas, selama orang tua kami tidak ada, aku harus benar-benar berusaha memastikan agar tidak terjadi apa-apa pada Aisha.


Dengan itu di benakku, dimulailah kehidupan pseudo tinggal bersama kami.


"Umm...katanya aku boleh memakai kamar Manami..."


"Ah..."


"Lalu, ada pesan dari Manami───"


Sebelum Aisha selesai bicara, Hp kami berdua berbunyi, menandakan pesan masuk.


『Kouki-nii! Tolong jaga Onee-chan, ya! Lagipula, ini mungkin kamar yang paling sering kau datangi, dan kalo Kouki-nii sih aku yakin aman, jadi kau bebas saja pakai kamarku!

Oh iya, di laci kedua dalam lemari pakaian itu isinya pakaian dalam, lho!』


".....Kouki?"


"Jangan melotot begitu! Lagipula aku tidak akan membuka lemarinya!"


".....Malah mungkin lebih baik kalo kau yang pakai kamarku, dan aku tidur di kamar Manami..."


"Tidak, tidak..."


"Ngomong-ngomong...etto...pakaian dalamku ada di atas lemari───"


"Tidak usah bilang! Tidak usah bilang!"


Kenapa sih, kakak-beradik ini sama-sama mau kasih tahu tempat nyimpen pakaian dalamnya.

Tolonglah.... 


Pokoknya, begitulah. Dengan menyisakan berbagai kekhawatiran, kehidupan kami pun dimulai.



 ◇【POV AISHA】


"Uuuuuuh... Yes!"


Aku kembali ke kamar, membuat pose kemenangan kecil seorang diri. 


Tentu saja, aku memastikan supaya Kouki tidak mendengarnya.


"Tidak apa-apa, kan? Wajahku tadi tidak terlihat terlalu sumringah, kan...?"


Perjalanan orang tua kami kali ini adalah ide dari Manami.


Beberapa waktu lalu, Manami pernah mengusulkan beberapa rencana untuk membuat hubunganku dengan Kouki lebih maju. 


Tidak kusangka salah satunya akan berjalan secepat ini dan begitu mulus, tapi karena ini Manami, pasti dia melakukannya dengan baik.


"Selanjutnya, aku tinggal berusaha...!"


Daftar hal-hal seperti pasangan yang dibuat berdasarkan ide Manami.


Sudah kulakukan hampir semuanya dengan cepat.


Tapi, ada satu hal yang dulu kutulis lalu kuhapus karena aku yang tidak punya keberanian untuk melakukannya...sesuatu yang sudah lama aku idamkan.


"Berciuman..."


Bahkan Aiko dan yang lainnya, yang mulai berpacaran setelah kami, mungkin sudah melakukannya melihat kecepatan hubungan mereka.


Tidak ada alasan kenapa kami tidak boleh melakukannya.


"Apa yang Kouki pikirkan ya..."


Kouki jarang menunjukkan sisi seperti itu.


Di majalah, tertulis kalo pria biasanya agresif atau kalo tidak seharusnya membuat mereka menahan diri, tapi kalo melihat Kouki, sepertinya kalo aku yang mengambil langkah duluan, dia malah akan terlihat tenang dan mungkin mundur.


"Tapi."


Kurasa, untuk sekadar ciuman, Kouki pun... 


"Kalo cuma aku yang ingin, rasanya aku tidak enak..."


Semoga saja Kouki juga ingin maju satu langkah bersamaku... 


"Aku akan berusaha...!"


Kepada boneka beruang pemberian Kouki, aku menyatakan tekadku.


Lalu, pertama-tama adalah pekerjaan rumah. 


Aku tahu kalo Kouki sebenarnya bisa melakukan banyak hal kalo dia mau, tapi sepertinya dia tidak akan sampai mengambil inisiatif mengerjakan pekerjaan rumah di rumah orang lain.


Aku akan mengerjakannya semua. Aku ingin melakukannya.


"....Ini, rasanya kami seperti sudah menikah───"


Begitu menyadarinya, wajahku jadi tersenyum sendiri.


Tidak boleh.


Soalnya, hanya dengan membayangkan menjemur dan melipat pakaian Kōki saja... 


Memang perjalanan ini hanya 3 hari tanpa keluarga di rumah, tapi masakan yang ingin kubuat ada untuk beberapa hari. 


Hanya memikirkan menu saja sudah membuatku bahagia.


"......Aku juga ingin memakai bahan yang ada di rumah, tapi aku juga ingin pergi berbelanja bersama...uuuuuuh."


Dengan kondisi seperti ini, bisakah aku benar-benar melakukannya...?



"Aku merasa tidak tenang..."


Aku masuk ke tempat tidur di kamar Manami.


Tadi siang aku melihat Aisha bersemangat menjemur futon dan mengganti semua sarungnya, tapi entah kenapa, masih terasa seperti ada aroma Manami yang tersisa, membuatku sulit tenang.


Hari pertama hidup bersama terasa panjang, tapi tanpa kusadari malam sudah tiba.


Selain mengadakan turnamen janken yang panjang hanya untuk menentukan siapa yang mandi dulu, tidak ada hal lain yang terjadi dan malam pun datang begitu saja.


Setelah mengantar kedua orang tuaku, aku bertemu Aisha, lalu hanya mengamati dia memasak dan mencuci pakaian. 


Aku sendiri hampir tidak melakukan apa pun selain menonton TV hingga hari berakhir.


"Yah, walaupun wajar kalo aku tidak bisa membantu mencuci...tapi Aisha juga sama sekali tidak mau membiarkanku memasak, ya."


Sikapnya yang bersemangat itu benar-benar meninggalkan kesan.


Yah, mungkin ada berbagai hal yang membuatnya begitu, termasuk rasa gugup... 


"Besok sekolah, jadi aku harus tidur dengan baik..."


Saat aku mulai berusaha tidur meski belum mengantuk──


".....Kouki, apa kau masih bangun?"


Ketukan pelan disertai panggilan.


"Ah, Aisha ya."


"Ya...boleh aku masuk?"


"Boleh."


Pajama-nya sudah kulihat tadi, jadi bukan itu masalahnya... 


"Bantal...?"


"Etto...ano...begini! Dari Manami, umm...katanya akan lebih baik kalo kita tidur bersama...umm..."


Ini... 


Aku mengerti maksud dari dia membawa bantal itu.


Aku memahaminya, tapi mungkin sia tidak sempat memikirkan alasan yang tepat untuk hal tersebut. 


Meskipun berbicara dengan terbata-bata, Aisha menyampaikan dengan seluruh tubuhnya kalo dia ingin... 


──tidur bersama.


"Kalau di ranjang Manami, itu akan terasa sempit, kan...?"


"Etto...um..."


Sial. Aisha langsung terlihat murung.


"Etto...ano..."


Aku memberanikan diri.


Aisha sudah berusaha sejauh ini. 


Kalo aku mundur sekarang, aku bukanlah seorang pacar yang pantas untuknya.


"Bagaimana kalo kita tidur di kamarmu saja?"


".....! Baik!"


Wajah Aisha seketika berbinar, lalu dia berlari kecil menuju kamarnya.


Syukurlah. Berkat dia menuju kamarnya terlebih dahulu, aku mendapatkan sedikit waktu untuk menenangkan diri... 


"Apa aku mampu tidur...malam ini...?"


Aku menarik napas panjang beberapa kali demi meredakan detak jantungku yang masih berdebar karena gugup, lalu membawa bantal itu dan berjalan menuju kamar Aisha.



"Sempi...tidak...?"


"Tidak apa-apa."


"Begitu ya..."


Sial.


Aisha sedang berbaring di sebelahku.


Sejak awal, tempat tidur untuk satu orang tentu saja tidak memiliki banyak ruang, sehingga bahu kami saling bersentuhan.


Aku bisa merasakan tubuhku mulai memanas. 


Dari arah Aisha yang di sampingku tercium aroma wangi yang sama seperti setelah mandi, dan hanya dengan sedikit berguling saja, aku merasa akan menyentuh berbagai bagian tubuhnya, sehingga aku sama sekali tidak bisa bergerak.


"Etto...lihat, tidur bersama juga termasuk hal yang dilakukan pasangan, kan..."


Mungkin Aisha juga merasa gugup. 


Dia berusaha menghubungkan percakapan seperti ini agar ketegangan bisa sedikit mereda.

Karena itu... 


"...Kouki?"


Aku menggenggam tangan Aisha yang berbaring di sebelahku.


"Fufu. Kouki juga gugup."


"Tentu saja."


Hanya dengan saling menggenggam tangan, detak jantung terasa hingga ke sebelah.


"Maaf ya? Membuatmu memaksakan diri."


"Tidak..."


Kalo dibilang aku memaksakan diri, memang itu benar...tapi bukan seperti itu.


Itu saja yang ingin kusampaikan pada Aisha.


"Aku juga...kalo bisa, ingin seperti ini."


"........!?"


Detak jantung Aisha bertambah cepat.


Kami berdua sama-sama sudah di ambang batas, tapi setidaknya hal itu bisa kusampaikan dengan jelas.


"Mungkin aku tidak bisa tidur..."


"Aku juga begitu."


"Fufu."


Genggaman tangan yang erat itu terasa semakin kuat.


Hanya dengan berbagi perasaan yang sama, entah kenapa aku merasa jauh lebih tenang.


Ketika aku terus memusatkan perhatian pada detak jantung yang tak kunjung tenang itu, tanpa kusadari aku pun terlelap.



"Selamat pagi. Sarapan sudah siap."


"Oh..."


Keesokan paginya.


Di ranjang yang masih terasa asing, Aisa dengan mengenakan celemek datang membangunkanku.


Aroma sedap tercium dari ruang tamu.


"Setelah cuci muka, kita makan bersama lalu...itu...pergi ke sekolah bersama juga..."


"Terima kasih."


"Kalo begitu, datanglah kesini kalo kau sudah siap!"


Hanya dengan mengucapkannya saja sepertinya sudah membuatnya mencapai batasnya, Aisah yang wajahnya memerah berlari menuruni tangga seolah melarikan diri.


Melihat Aisha yang tampak kehilangan ketenangan membuatku merasa sedikit lebih tenang...


Meski begitu, memikirkan kalo kehidupan seperti ini akan terus berlanjut, wajahku ikut memanas hingga aku sendiri merasa khawatir apakah semuanya akan baik-baik saja.




Sebelumnya    Daftar isi    Selanjutnya

1 Komentar

نموذج الاتصال